Tuesday, 2 June 2015

What I have learned from MT Recruitment Batch 16


Pertama kali bergabung di World Vision Indonesia di bulan Januari 2015, aku diberikan peran sebagai Recruitment Coordinator di unit Work Force Planning (departement People and Culture). Tanggung jawab pertamaku adalah melakukan perekrutan untuk posisi MT sebanyak 35 orang. Dimana pada bulan Februari 2015 aku diberitahu bahwa jumlah orang yang harus direkrut untuk posisi MT bertambah, menjadi 55 orang. Dan waktu yang kami miliki adalah 3 bulan, karena mereka akan mengikuti kelas magang di awal bulan Mei 2015. Mendapatkan tanggung jawab ini adalah suatu kehormatan besar. Hal pertama yang kulakukan adalah menganalisa tujuan utama dari perekrutan ini. Aku juga banyak dibantu oleh teman-teman di HR, khususnya di unitku (Work Force Planning) di dalam setiap proses seleksi yang berlaku di World Vision Indonesia (mengingat aku adalah orang baru di World Vision). Secara umum, proses perekrutan memang bukan hal yang baru lagi untukku karena aku sudah memiliki pengalaman di organisasi lain dimana aku pernah melayani sebelum di World Vision Indonesia.

Lain lubuk, lain belalang. Itulah hal pertama yang aku tanamkan di dalam benakku ketika menjalani tanggung jawab baru di World Vision. Walaupun aku sudah memiliki pengalaman di bagian perekrutan, aku masih tetap harus belajar dan belajar lagi. Ada banyak hal baru yang kudapatkan khususnya dalam proses perekrutan di Wolrd Vision Indonesia yang sangat unik dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain pada umumnya. Hal yang paling membuatku terkesan adalah cara melakukan interview kandidat. Tidak seperti di organisasi-organisasi sebelumnya dimana aku pernah melayani, di organisasi ini proses interview diwajibkan berjalan dengan senyaman mungkin dan penuh dengan kekeluargaan. Tidak ada tekanan, penghakiman dan tentu saja investigasi. Setiap kandidat yang diputuskan untuk mengikuti proses interview wajib untuk diterima dengan sebaik mungkin dan diberikan kesan yang menyenangkan, walaupun yang bersangkutan pada akhirnya tidak sesuai dengan standar organisasi. Intinya, di organisasi ini, perekrutan dilakukan bukan untuk menghakimi kandidat melainkan untuk melihat kesesuaian kandidat dengan kebutuhan organisasi dimana itu semua dikemas dalam balutan kasih Yesus.

Di organisasi ini aku semakin mendapatkan dukungan untuk menjadi seorang HR yang bekerja bukan untuk meyenangkan hati pemilik organisasi, atasan, atau rekan-rekan kerja melainkan semata-mata untuk Tuhan. Walaupun sebenarnya selama ini aku selalu berusaha melakukan itu, yaitu bekerja untuk Tuhan di setiap organisasi dimana aku pernah bergabung. Akan tetapi aku tidak pernah mendapatkan dukungan untuk bekerja kepada Tuhan itu dari setiap organisasi dimana aku dulu bergabung. Aku hanya mendapatkannya di organisasi ini. Dukungan itu sangat tegas dikumandangkan bahwa kita semua yang bekerja di organisasi ini adalah pekerja Tuhan. Sementara di organisasi lain, bekerja itu adalah untuk memperkaya si pemilik organisasi, dengan kata lain tujuan utamanya adalah menghasilkan uang sebanyak mungkin. Keberhasilan diukur dari seberapa banyak uang yang bisa kita berikan kepada pemilik organisasi. Jadi, apapun yang kita lakukan muaranya adalah uang.

Sangat berbeda dengan apa yang aku alami di organiasi ini. Aku diberikan tanggung jawab untuk melakukan perekrutan kepada setiap orang yang diproses di World Vision Indonesia untuk melihat adanya kesesuaian  kandidat dengan kebutuhan organisasi. Dimana standar kesesuain itu adalah panggilan hidup mereka untuk melayani Tuhan melalui kaum marginal yang ada di sekitar kita. Yang tentunya diintegrasikan dengan value dari organisasi World Vision. Tentu saja variabel ini bukanla satu-satunya penentu di dalam proses perekrutan, melainkan tetap menjadi proses select out.


Kembali ke proses perekrutan MT, Puji Tuhan atas dukungan organisasi, rekan-rekan sepelayanan dari seluruh ADP, dan teman-teman di HR, di bulan April 2015 dari 1399 resume yang aku screening, akhirnya Tuhan mengirimkan 58 orang untuk posisi MT. Aku tidak akan pernah bisa melakukan setiap proses perekrutan ini jikalau bukan karena campur tangan Tuhan dan dukungan dari organisasi. Walaupun sekarang, ada dua orang dari 58 orang itu yang mengundurkan diri, aku masih tetap percaya bahwa mereka telah mendapatkan inspirasi dari proses perekrutan yang dilakukan di organisasi ini. Untuk ke depannya, aku pribadi terus berdoa untuk setiap orang yang Tuhan izinkan untuk mengenal World Vision melalaui Work Force Planning dapat menemukan panggilan hidupnya dan mengimaninya sampai tiba akhirnya Tuhan meminta kita semua untuk menghadapNya.

No comments: