Friday, 13 November 2015

Besar pasak dari tiang

Salah satu yang paling kukagumi dari para pemimpin rohani umat Katolik adalah KESEDERHANAAN. Para pastor dan suster diharuskan memakai pakaian sehariannya dengan model yang sama dan merupakan hasil jahitan sendiri. Mereka tidak mengikuti mode pakaian yang terbaru. Jenis pakaian mereka hanya satu dan sangat khas. Mereka juga jarang dan nyaris tidak memiliki barang-barang mewah, misalnya perhiasan, transportasi pribadi, dan bahkan smart phone. Bagiku seperti itulah seharusnya seluruh pemimpin rohani dari setiap agama khususnya pemimpin rohani di gereja. Menjadi teladan dalam kesederhanaan, menaklukhan hasrat untuk menikmati kemewahan duniawi. Melihat dan menyaksikan hal inilah membuat pola pikirku terbentuk bahwa pemimpin agama itu adalah orang-orang yang sederhana. Itulah yang membedakan mereka dengan orang-orang yang bekerja di luar lingkungan kerohanian. KESEDERHANAAN.

Akan tetapi, pola pikirku sejak kecil itu sudah rusak oleh kehidupan  para pemimpin rohani saat ini. Aku sudah tidak pernah menemukan pemimpin rohani yang bersedia untuk hidup sederhana di zaman sekarang ini. Semuanya berlomba untuk hidup dalam kemewahan. Semuanya sudah sama dengan orang-orang yang tidak terpanggil di dalam kerohanian, KONSUMTIF! Bahkan, dalam banyak kondisi, pemimpin rohani yang tidak memiliki bisnis apapun memiliki gaya hidup yang lebih mewah dibandingkan dengan jemaatnya yang adalah pebisnis.

Hal ini membuatku sampai kepada pengertian bahwa di zaman ini, pemimpin rohani adalah sebuah profesi sama seperti profesi yang sudah ada di dunia ini, seperti guru, supir, buruh atau karyawan swasta, PNS, dan yang lainnya. Sama-sama bekerja untuk mendapatkan uang demi menikmati kemewahan duniawi. Bedanya, para pemimpin rohani bekerja dengan mengharapkan uang dari jemaat sedangkan yang bukan pemimpin rohani bekerja dengan mengharapkan uang dari pemilik-pemilik bisnis.

Hidup sederhana yang aku maksud disini bukanlah hidup miskin. Aku juga tidak setuju melihat para pemimpin rohani yang hidup dalam kemiskinan. Hidup sederhana itu adalah hidup dengan bersahaja. Hidup dengan apa adanya. Hidup dengan selesai pada diri sendiri, tidak memiliki kepentingan apalagi politik. Menurutku kemewahan bukanlah menjadi milik mereka lagi. Mereka sudah selesai dengan kemewahan itu dan tidak ada hasrat untuk itu lagi.

Bila ditarik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hasrat untuk hidup mewah ini memang sudah mewabah. Meneyerang semua lapisan masyarakat di Indonesia. Setiap kali aku naik angkutan kota, aku sering sekali menyaksikan mereka yang bekerja di swalayan kecil, memiliki smart phone dimana harga dari smart phone yang mereka miliki  dua kali gajinya sebulan. Dan bila ditelusuri lebih jauh, ternyata smart phone itu hanya digunakan untuk media sosial dimana aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah dengan benda itu adalah untuk menggosip, pamer, update status-status galau, dan bahkan menjadi provokator. Aku bukan orang yang anti dengan mereka yang memiliki smart phone. Hanya saja, menurutku smart phone itu seperti namanya, fungsinya adalah untuk melakukan hal-hal cerdas, misalnya mendapatkan informasi yang bisa menambah wawasan dan memberikan pencerahan pemikiran. Aku juga tidak setuju dengan mereka yang tidak memiliki penghasilan mempunyai smart phone. Terlepas apakah itu karena orang tuanya mampu membeli atau tidak, bagiku mereka yang belum memiliki penghasilan belum layak untuk memiliki smart phone.

Baru-baru ini, para buruh kembali ke jalan untuk melakukan aksi demo terhadap keputusan Presiden Jokowi mengenai UU Pengupahan Buruh yang telah disahkan. Intinya mereka tidak setuju dengan proses kenaikan upah yang akan bergantung dengan nilai inflasi dan pendapatan nasional. Aku tidak ingin mengkomentari mengenai fenomena ini. Yang ingin aku komentari adalah seberapa banyak pun gaji yang kita peroleh tidak akan pernah cukup untuk memuaskan hasrat kita untuk hidup konsumtif.

Dimanakah gaya hidup kesederhanaan itu? 




No comments: