Friday, 11 December 2015

Ucapan syukur

Di penghujung tahun 2015 ini, aku begitu bersyukur kepada Tuhan karena sampai saat ini aku masih bisa bernafas dan segala kebutuhan primerku tercukupi. Aku juga bersyukur karena Tuhan kembali memberikan kesempatan kepadaku dan Josua untuk memiliki anak kembali. Walaupun hal ini membuatku dalam kondisi harap-harap cemas. Satu hal yang kuimani, jikalau Tuhan memang menginzinkan anak ini lahir dan tumbuh bersama aku dan Josua, maka hal itu pun akan terjadi. Dan jikalau memang Tuhan menginginkan anak ini hanya numpang lewat saja seperti anak pertama kami di dalam kehidupan kami, maka itulah yang akan terjadi. Tuhan yang memiliki kehidupan, aku berserah penuh kepadaNya.
Kekuatiranku yang paling besar sesungguhnya saat ini adalah dengan kondisi keuangan kami. Penghasilanku hanya cukup untuk membiayai kebutuhan primer kami. Sementara untuk tagihan rumah dan kebutuhan sekunder lainnya, misalnya untuk pakaian dan hiburan, nyaris tidak bisa kami penuhi. Bahkan untuk biaya melahirkankan pun nantinya aku hanya bisa mengandalkan tabungan dari asuransiku saja. Dua tahun terakhir ini, kondisi keuangan kami memang cukup di ujung tanduk. Kami hanya bisa memenuhi kebutuhan primer kami. Setiap kali mengingat hal ini, aku selalu merasa kasihan pada diriku sendiri. Seandainya dulu, kami cukup memiliki uang, mungkin aku tidak akan terlalu lelah selama hamil pertama dan kami tidak akan kehilangan anak pertama kami. Tapi semuanya telah terjadi, akupun harus bisa melanjutkan hidup.
Mungkin ini adalah kepedihan yang belum bisa lenyap dari kehidupanku. Aku mengasihani diriku sendiri yang tidak memiliki siapa-siapa yang bisa kujadikan tempatku bersandar. Hanya aku dan Josua. Kami melewatinya berdua saja. Walaupun kami masing-masing memiliki orang tua dan saudara, akan tetapi dalam menjalani kesusahan hanya ada aku dan Josua. Terkadang aku sangat iri hati dengan mereka yang memiliki orang tua yang begitu sangat memperhatikan mereka. Aku juga memiliki orang tua, akan tetapi aku tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Mereka hanya menginginkan uang saja. Ada uang, maka kami disayang. Tak ada uang maka kami pun ditendang.
Saat ini, aku hamil kembali. Keadaan ekonomi kami masih belum berubah. Kami masih berjuang untuk bisa bertahan hidup. Aku mensyukuri setiap momen ini. Di dalam kondisi seperti inilah, cinta kami (aku dan Josua) semakin dikuatkan. Kami semakin saling mencintai, saling memperhatikan satu sama lain. Walaupun uang kami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, kami bersyukur. Kami tidak memiliki uang untuk membeli baju-baju baru padahal hampir semua baju-baju kami sudah tidak muat lagi bahkan sudah terlihat usang karena sudah bertahun-tahun dipakai, kami tetap bahagia. Kami masih dengan tangan terbuka menerima saudara-saudara kami untuk berkunjung ke rumah, walaupun pengeluaran terhadap makanan meningkat. Semua pengeluaran hanya kami fokuskan untuk membeli kebutuhan primer saja karena memang hanya sampai disanalah kekuatan penghasilan kami sanggup.
Orang-orang tidak akan pernah percaya dengan kondisi keuangan kami. Karena selama ini memang kami tidak pernah mau bersikap pelit kepada mereka yang membutuhkan. Kami selalu memberikan pelayanan yang terbaik khususnya bagi setiap orang yang datang ke rumah kami. Hal ini terkadang memberikan penilaian yang berbeda, karena memang sudah lumrah seseorang memberi itu karena dia berlebih. Padahal, dalam kondisi kami, kami memberi karena demikianlah Tuhan mengajari kami, memberi dari kekurangan.  Kebiasan aku dan Josua dalam member, membuat mereka merasa bahwa kami memiliki banyak uang. Padahal yang benar adalah, di dalam ketidakmampuan kami, disitulah kami semakin giat memberi.  Selain itu, aku dan Josua memang bukanlah pasangan yang pelit. Sedikit apapun uang yang kami miliki, kami akan tetap berbagi dengan mereka yang membutuhkan, khsusunya mereka yang datang ke rumah kami. Kami rela tidak menikmati kehidupan ini dengan sangat sederhana sekali, asalkan setiap orang yang datang ke rumah kami tidak kelaparan. Kami sangat senang berbagi, bahkan di saat kami sesungguhnya membutuhkan bantuan. Dan aku bahagia, semakin kami banyak memberi, semakin kami merasakan penyertaan Tuhan. Bahkan ketika uang di ATM kami sudah mendekati angka nol, dengan berkat yang dari Tuhan, ketika kami butuh uang untuk beli beras, Tuhan sediakan.
Inilah ucapan syukurku yang begitu luar biasa kepada Tuhan. Bahwa Dialah Tuhan yang bersamaku melewati masa-masa sulit ketika aku sebatang kara, kelaparan di masa-masa kuliah, Tuhan yang bersamaku ketika aku bergumul untuk mendapatkan pekerjaan yang bukan hanya memeras otak dan tenagaku saja, Tuhan yang bersamaku ketika Dia mengambil kembali anak kami, dan aku percaya Tuhan yang sama jugalah yang akan membantu aku dan Josua melewati perjalanan rumah tangga kami dengan anak yang ada di dalam rahimku.

Terima kasih Tuhan untuk setiap kehadiranMu di dalam masa-masa sulitku, terima kasih untuk setiap kekuatan yang Tuhan berikan bagiku dan Josua untuk menjalani kehidupan kami, terima kasih Tuhan untuk kasihMu yang begitu nyata di antara aku dan Josua.

Desember 2015

No comments: