Saturday, 21 February 2015

Panggilan hidup

Oprah Winfrey adalah tokoh idolaku. Aku mengidolakannya karena dia telah menjadi inspirasiku untuk berjuang dan mengejar impianku. Pengalamannya ketika dia diproses untuk menjadi seperti yang sekarang ini, membuatku semakin memahami bahwa di dalam hidup ini, mereka yang mau diproseslah yang akan bisa menikmati hidup. Salah satu perkataannya yang paling menyentuhku adalah bahwa setiap manusia memiliki panggilan di dalam hidupnya. Ada yang terpanggil menjadi ibu rumah tangga, ada yang terpanggil menikah, ada yang terpanggil menjadi karyawan swasta, ada yang terpanggil menjadi pegawai negeri sipili alias PNS, ada yang terpanggil untuk berwiraswasta alias menjadi enterpreneurship, dan bahkan ada yang terpanggil untuk menjadi pendeta atau mereka yang berkarya di rumah-rumah ibadah. Intinya setiap manusia memiliki panggilan untuk menghasilkan.

Pernyataannya ini aku artikan sebagai aplikasi dari apa yang telah Yesus katakan di dalam 1 Korintus 12;12-27. Kita adalah anggota-anggota tubuh Yesus, dimana Yesus yang menjadi kepalanya. Layaknya seperti anggota-anggota dalam satu tubuh, setiap manusia memenuhi panggilan itu sesuai dengan fungsinya. Ada yang berperan sebagai tangan, kaki, kulit, mata, dan sebagainya.
Jadi, bagaimana mungkin mata berkata kepada tangan, "Aku tidak membutuhkan engkau?" Atau sebaliknya, tangan mengatakan bahwa keberadaan mata tidak dibutuhkan.

Ironisnya itulah yang terjadi saat ini di lingkungan kita. Satu anggota tubuh merasa dirinyalah yang paling dibutuhkan dan anggota tubuh yang lainnya tidak dibutuhkan. Adanya strata yang demikian membuat mereka yang terpanggil menjadi anggota tubuh yang  terlihat kecil menjadi minder dan tidak percaya diri. Sebaliknya anggota tubuh yang terlihat besar menjadi sombong dan gila hormat. 
Di dunia bisnis atau perkantoran, mereka yang memiliki jabatan sebagai Supervisor sampai ke jabatan Direktur akan lebih diagungkan dibandingan dengan mereka yang hanya seorang staf biasa atau sekelas dengan office boy. Padahal apabila kita merujuk kepada apa yang dikatakan Yesus bahwa kita semua adalah anggota tubuh Yesus dimana tidak ada satupun dari setiap anggota yang lebih baik dibandingkan dengan anggota tubuh yang lainnya.

Adanya pengkotak-kotakan ini menjadikan manusia semakin serakah. Hal ini dianggap manusiawi karena tidak ada manusia yang tidak ingin disanjung dan dihormati. Posisi dan jenis pekerjaan seseorang menjadi indikator apakah seseorang itu layak untuk dihormati atau tidak. Tentu saja posisi dan jenis pekerjaan ini ujung-ujungnya akan berakhir dengan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan.
Aku yang bergelut di bidang Human Resource (HR) juga melakukan hal yang sama. Kami para HR selalu melakukan pengklarifikasian posisi dan jabatan atau istilah kerennya disebut dengan job analysis,job description, and job evaluation. Seperti yang sudah aku sebutkan di atas, tujuannya adalah satu untuk dapat menetukan upah yang akan didapatkan oleh seseorang. Bersyukurnya aku, di tempatku bekerja sekarang, adanya pengklarifikasian posisi dan jabatan ini murni hanya untuk membantu kami di dalam memberikan apresiasi terhadap seseorang dimana besarnya apresiasi ini ditentukan oleh beban kerja yang dimiliki. Selebihnya, budaya kerja di kantor kami adalah memperlakukan seluruh staff dengan sama. Tidak diperkenankan untuk merendahkan posisi dan jabatan yang lain. Jadi bisa dipastikan bahwa budaya menjilat atasan, asal atasan senang, dan saling sikut dengan rekan di kantor nyaris tidak ditemukan di kantorku yang sekarang ini. Karena kami semua, yang bekerja di kantor itu selalu diingatkan melalui kebaktian-kebaktian yang kami adakan bahwa kami semua adalah anggota tubuh Yesus dimana Yesus adalah kepalanya. Atasan kami adalah Tuhan Yesus, kalaupun saat ini pengklasifikasian posisi dan jabatan masih diterapkan,hal ini bertujuan agar kami melakukan fungsi kami masing-masing dengan lebih sistematis.

Aku rindu, semua perusahaan yang ada di dunia ini melakukan hal sama. Aku rindu setiap lapisan masyarakat melakukan hal yang sama. Mengimani bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh Yesus dimana Yesus menjadi kepalanya. Sehingga tidak ada lagi yang bisa bermegah dengan profesi yang saat ini dijalaninya. Sehingga tidak ada lagi pengklarifikasian manusia berdasarkan jenis pekerjaan dan berapa banyak jumlah uang yang dihasilkan. Sekali lagi kita semua memiliki panggilan. Panggilan menjadi seorang ibu rumah tangga itu sama mulianya dengan panggilan menjadi seorang pendeta, menjadi seorang karyawan swasta, menjadi wiraswasta, menjadi guru, dan menjadi apapun profesi yang kita pilih itu adalah baik adanya. Setiap panggilan sama nilainya, bagaimana mungkin seorang pendeta berkata kepada ibu rumah tangga, panggilankulah yang lebih mulia? Atau pegawai negeri sipil alias PNS mengatakan bahwa panggilannya yang lebih mulia dibandingkan dengan karyawan swasta? Hanya Tuhan yang berhak menilai panggilan kita masing-masing. Oleh karena itu, apapun panggilan kita saat ini, apakah kita seorang tukang sampah, pekerja lepas dimana penghasilan tidak pasti ada tiap bulan, presiden direktur di sebuah perusahaan ternama, seorang pendeta, banggalah dengan semua itu. Jangan sekali-kali minder atau membanggakan diri. Karena kita adalah anggota-anggota tubuh Tuhan Yesus, Seperti kita menilai anggota-anggota tubuh kita, hanya kitalah yang menentukan anggota tubuh mana di antara anggota tubuh kita yang paling membutuhkan perhatian khusus dari kita. dDemikian juga Yesus hanya Dialah yang berhak menentukan panggilan hidup apa yang paling berkenan di hatiNya. Selebihnya, kita sesama anggota tubuh sungguh tidak layak untuk saling bermegah dan minta dihormati oleh anggota tubuh yang lainnya.


Sunday, 8 February 2015

our first anniversary



Hari ini, tepat satu tahun aku telah menunaikan janji kami (aku dan Josua) untuk menjadi satu di dalam sebuah ikatan pernikahan.
Menjadi satu di dalam kapal kehidupan kami, sampai tiba waktunya kami berlabuh di rumah Bapa yang kekal

Suka kami, memiliki rumah dari hasil keringat kami
Bahagia kami, mengisi rumah dengan ide kami
Tantangan menggembirakan, menulis kisah rumah tangga kami dengan aku dan Josua sebagai pemeran utama
Membuat batas dengan mereka yang ingin mengintervensi
Hanya kami, aku dan Josua, sementara keluarga, kenalan dan tetangga hanyalah pelengkap

Sangat indah ketika kami memiliki keleluasaan untuk menjadikan hubungan yang kami inginkan
Sangat melegakan ketika kami menjalaninya di atas kesadaran kami
Kendali penuh, keputusan, dan solusi ada di aku dan Josua tentu saja dengan restu Tuhan

Terkadang amarah menyapa
Terkadang kami menguraikan kelemahan masing-masing
Tapi dengan kekuatan yang dari Tuhan dan dengan pendidikan yang kami terima
kami berusaha mengatasinya dengan cara kami, tanpa pihak ketiga

Satu hal yang kunikmati, memulai hidup baru dengan keluar dari lingkaran keluarga, sahabat, dan lingkungan sesuku membuat kami semakin kuat dan belajar mengosongkan diri untuk bisa diisi dengan kebiasaan yang akan kami tuliskan.
Kami tidak menyesalinya dan sangat menikmatinya walau tidak segalanya tidak semudah seperti aku menuliskan kalimat-kalimat ini.
Menjadi anggota masyarakat tanpa ada satupun yang dikenal dengan lingkungan baru, suasana baru, dan status baru, hanya dengan beriman dan berharap bahwa Tuhan akan selalu memberi kekuatan.

Tahun 2014, menjadi tahun yang indah untuk dikenang.
Indah ketika Tuhan mengizinkan aku menerima Josua dariNya,
Indah ketika Tuhan mengambil kembali anak kami, Jordan..
Indah ketika Tuhan mengizinkanku untuk ke luar dari pekerjaanku
Tiga keindahan yang membuatku bisa mengatakan bahwa Tuhan begitu hebat berkarya di dalam kehidupanku.
Hanya karena Dia adalah Tuhanku, yang selalu ada untukku dan yang akan selalu menyediakan segala yang kubutuhkan.

Seperti ayat renunganku dan Josua di hari ulang tahun pernikahan kami,
Mazmur 23:5, "Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah."
Aku semakin percaya bahwa segala kekecewaan dan kehilangan yang menyakitkan yang terjadi padaku membuktikan bahwa Tuhan ada bersama-sama dengan aku dan Josua, di dalam ketakutan, kekecawaan, dan masa-masa kesepian. Tuhan memiliki kekuatan dan keinginan yang besar untuk memulihkan semua luka dan menggantikannya dengan sukacita, pengharapan dan kepercayaan.

Hanya karena Tuhan yang memberikan kekuatan dan hanya karena Tuhan yang telah memberikan Josua di dalam kehidupanku, membuatku bisa tersenyum walau mataku menangis.