Tuesday, 7 July 2015

BULE

Aku lahir dan dibesarkan di daerah pinggiran Danau Toba. Di masaku tinggal di sana, ada begitu banyak turis manca negara yang datang, walaupun tidak sebanyak tempat wisata lain di Indonesia, misalnya Bali. Apalagi temapt dimana aku lahir dan dibesarkan adalah tempat yang tidak terlalu diekspos keindahan Danau Toba-nya, tidak seperti Parapat. Akan tetapi beberapa turis kerap sekali melakukan perjalanan ke daerah dimana aku lahir dan menghabiskan 18 tahunpertama hidupku.

Fenomena yang kuamati saat itu adalah keramahan masyarakatku terhadap bule begitu sangat jauh dari keramahan yang mereka tampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari situasi ini, akhirnya menimbulkan pertanyaan di benakku. Sejak kecil aku selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang bule selalu dianggap lebih baik dibandingkan dengan orang Indonesia. Tidak hanya itu, aku juga memiliki banyak kenalan yang merasa sangat bangga bahkan sudah mengarah menjadi ke kesombongan apabila memiliki kenalan bule. Perlakuan kepada mereka pun jauh lebih ramah dibandingkan kepada kami yang notabene teman sebangsanya, yang bertumpah darah satu, yaitu darah Indonesia.

Aku akui dalam berbagai hal mereka lebih maju dari kita bangsa Indonesia. Teknologi, pola pikir, pendapatan per kapita, dan juga gaya hidup. Tapi bukan berarti itu bisa menjadikan mereka harus mendapatkan perlakuan yang lebih ramah dari orang Indonesia. Aku bukannya anti apabila ada orang Indonesia yang ingin beramah-tamah dengan orang bule, karena memang sudah seharusnya kita ramah kepada tamu kita. Akan tetapi kalau sampai orang tersebut hanya ramah kepada orang bule dan tidak melakukan hal yang sama kepada masyarakat di sekitarnya, apalagi itu adalah bangsanya sendiri, maka menurutku orang itu tidak layak untuk menikmati sumber daya Indonesia dengan gratis! Dan budaya seperti ini begitu menjamur di masyarakat kita. Terkadang, aku sampai bingung sendiri, katanya bangsa ini terkenal karena keramahannya. Akan tetapi keramahan itu hanya diberikan kepada bangsa lain, sementara bangsa sendiri "diabaikan".

Perilaku kita yang terlalu membanggakan bule dan mengabaikan bangsa sendiri sesungguhnya adalah tindakan yang menjual bangsa ini secara perlahan-lahan dan menyatakan diri siap untuk dijadikan budak oleh mereka. Beberapa bule yang aku kenal mengartikan pesan yang kita sampaikan dengan salah. Anggapan mereka, bahwa orang Indonesia itu adalah pemuja bule. Oleh karena itu, mereka tidak perlu mempersiapkan diri untuk belajar Bahasa Indonesia sebelum datang ke Indonesia. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk bisa beradaptasi dengan budaya kita. Karena mereka tahu, bahwa masyarakt Indonesia yang akan memfasilitasi hal tersebut. Hal yang sangat bertolak belakang dengan kondisi kita, ketika kita ke negara mereka, kita harus menguasai bahasa mereka, mempelajari sistem mereka. Dan apakah kita akan disambut dengan keramahan yang sama seperti yang kita lakukan kepada mereka? Anda sendiri bisa menjawabnya.

Fenome lainnya adalah orang Indonesia jauh lebih bangga menjelajahi  Eropa atau Amerika dibandingkan dengan Indonesia. Tidak jadi masalah, karena itu soal selera. Yang menjadi masalah adalah ketika kembali dari Eropa atau Amerika, bukannya semakin mencintai bangsa sendiri sebaliknya semakin merendahkan bangsanya, menyalahkan pemerintah, dan mengeluhkan kondisi bangsa ini.

Kalau bukan kita sendiri yang menghargai dan meletakkan bangsa kita di posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa lain, siapa lagi? Masakan di negeri kita sendiri pun, kita lebih ramah kepada bule dibandingkan kepada masyarakat kita sendiri? Apa yang kita dapatkan dengan perlakuan seperti ini? Ingin dianggap keren? Dengan tidak menghargai masyarakatmu sendiri?

Masakan selama hidup, kita menikmati sumber daya alam Indonesia, tumbuh bersama-sama dengan masyarakat Indonesia, akan tetapi yang mendapatkan penghargaan lebih adalah bangsa lain?
Adalah bagus memiliki banyak kenalan dan teman dari berbagai negara, akan tetapi adalah sikap yang sangat tidak bisa jadi inspirasi ketika perkenalan kita dengan orang dari berbagai negara menjadi senjata kita dalam menghujat bangsa kita ini.

Kalau kita tidak bisa mengurangi kemacetan di Jakarta, kalau kita tidak bisa membayar pajak dengan jujur, kalau kita tidak bisa mengolah sumber daya alam Indonesia, setidaknya mulailah dari hal kecil, mencintai negeri ini! Cintai budaya negeri ini! Cintai masyarakat Indonesia! Kalau itupun tidak bisa dilakukan, segeralah ganti kewarnegaraan Anda dan semoga bangsa bule yang Anda sanjung-sanjung itu bersedia menerima Anda menjadi warga negaranya!