Saturday, 3 October 2015

AMSAL GINTING - YANG TELAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI




Salah satu profesi yang paling membuat saya tidak nyaman adalah profesi dokter. Bagi saya, dokter itu adalah sebuah profesi yang menunjukkan kesombongan, tidak ada empati, bekerja berdasarkan jumlah uang yang dimiliki pasien, dan memiliki gaya hidup yang mahal. Pengalaman-pengalaman saya dengan dokter yang tidak menyenangkan, membuat saya membatasi dan bahkan cenderung untuk tidak bertemu dengan dokter. Ketika rasa sakit menyerang, saya memilih untuk menganalisanya sendiri dengan menggunakan berbagai informasi di internet, buku-buku, dan berbagai sumber yang lain sebagai rujukanku. Bukan berarti saya takut pada dokter, hanya saja saya sudah pesimis duluan bahwa saya tidak akan mendapatkan kesembuhan dengan mengunjungi dokter. Dari pengalaman yang sudah-sudah, yang ada bukan kesembuhan yang saya dapatkan melainkan luka batin. 

Akan tetapi setelah saya bergabung dengan Wahana Visi Indonesia, organisasi kemanusiaan Kristen yang bekerja membawa perubahan berkelanjutan pada kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan saya bertemu dengan beberapa dokter yang sangat bertolak belakang dengan para dokter yang pernah saya temui. Di tempat saya bekerja ini, saya tidak harus memanggil para dokter dengan sebutan dokter, kami bisa memanggil dengan kakak/abang. Dan yang pasti, ketika ada keluhan fisik, mereka akan dengan sangat senang hati mendengarkan keluhan dan memberikan solusi untuk semua keluhan kami, kapanpun dan dimanapun. Salah satunya dokter yang cukup fenomenal di kantor saya adalah, almarhum bang Amsal Ginting. 

Sesungguhnya bisa dibilang, saya tidak mengenal siapa itu bang Amsal Ginting secara personal. Kami hanya beberapa kali berkomunikasi mengenai pekerjaan kantor, itupun lewat telepon dimana saat itu beliau sedang persiapan untuk menjalani operasi pengangkatan empedu (di dua minggu terkahir hidupnya di dunia ini). Informasi tentang beliau saya peroleh dari cerita-cerita rekan sekantor dan juga dari buku biografi beliau yang saat ini telah dijual secara umum. Informasi yang saya tahu, dia adalah dokter lulusan dari FK UI (yang kebenaran satu almamater dengan saya, tapi beda fakultas, hehehe). Setelah menyelesaikan study dari FK UI, beliau memutuskan untuk bergabung dengan Wahana Visi Indonesia, menjadi dokter di daerah terpencil di provinsi Nusa Tenggara Timur, Waingapu. Kisah bang Amsal Ginting persis seperti cerita-cerita di dalam sinetron Indonesia atau pun di film-film. Bedanya kalau di dalam cerita-cerita sinetron Indonesia ataupun di film-film, seorang dokter yang memutuskan untuk mengabdikan diri di pedesaan pada umumnya berasal dari keluarga yang kaya raya, yang sudah bosan hidup berkecukupan. Sementara bang Amsal Ginting, adalah anak seorang guru di salah satu kampung di provinsi Sumatera Utara, Brastagi.

Anak laki-laki tunggal, datang dari keluarga yang pas-pasan, lahir dan besar di kampung, dan lulus di FK UI, pastinya ini adalah momentum yang besar untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Orang tua mana di Indonesia ini yang tidak mengharapkan anak semata wayangnya menjadi dokter yang bisa hidup mewah seperti mana dokter-dokter di Indonesia pada umumnya. Apalagi dengan kondisi orang tuanya yang bukanlah memiliki materi yang banyak, tentunya besar harapan orang tua agar bang Amsal bisa menghasilkan uang sebanyak mungkin, setidaknya hidup mapanlah. Akan tetapi, bang Amsal memilih untuk hidup di dalam kesederhanaan dengan mengabdi di desa orang lain, Waingapu, NTT. Untuk sikap yang diambil oleh orang tua bang Amsal, sungguh saya berikan appresiasi terbesar saya. Ini kali pertama saya tahu ada orang tua Batak yang merestui anak laki-laki tunggalnya, yang adalah lulusan kedokteran dari universitas paling bergengsi di Indonesia ini, yaitu UI untuk mengabdikan dirinya di desa orang lain. Yang banyak terjadi adalah para orang tua selalu menuntut anak-anaknya untuk bisa menghasilkan banyak uang, hidup dalam kemewahan, tinggal di kota besar, bukannya di desa miskin dengan kehidupan yang sangat sederhana. Apalagi, orang tua bang Amsal bukanlah orang tua yang memiliki harta yang banyak, seharusnya mereka bisa saja mengambil sikap seperti yang dilakukan oleh para orang tua di Indonesia, yaitu mendoktrin anak untuk membahagiakan orang tua dengan cara memfasilitasi orang tua untuk menikmati kemewahan duniawi.
Akan tetapi yang saya lihat adalah orang tua bang Amsal mendidiknya bukan untuk membahagiakan orang tua, melainkan untuk membahagiakan Tuhan sang Pencipta dengan cara mengabdi kepada kaum marginal. Walaupun, momentum ini lebih banyak dikarenakan sebuah tragedi yang menimpa bang Amsal di masa perkuliahannya di UI, yang mengakibatkan beliau bernazar untuk menjadi dokter bagi orang miskin.

Saya sebagai orang Batak, yang lahir dan besar di kampung, dan juga lulusan dari UI sama seprti bang Amsal, tuntutan orang-orang di sekitar, khususnya keluarga untuk menjadi hidup kaya, sungguh sangat kuat. Alumni UI, akan tetapi hidup miskin akan menjadi pertanyaan besar di masyarakat kita. Dan tak jarang di dalam berbagai kesempatan akan menjadi bahan olokan. Keputusan untuk mengabdi di desa orang lain, sementara di kampung sendiri dan bahkan keluarga juga masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, mengambil sikap seperti yang dilakukan oleh bang Amsal adalah sebuah hal yang sangat fenomenal. Saya kagum dengan niat dan semangat yang dimiliki untuk menjalani pilihan hidupnya, mengabdi di desa orang lain dengan tidak menjadi hidup mewah seperti rekan-rekannya dokter pada umumnya. Untuk kali pertama, aku menyaksikan seorang dokter meninggal dengan menggunakan biaya pengobatan BPJS di RSCM. Saya sendiri pernah menjalani pengobatan dengan menggunakan BPJS di RSCM dan itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan, berharap pengalaman itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Setelah membaca buku biografi dari bang Amsal, saya tertantang untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang tua bang Amsal. Kalau tiba saatnya, Tuhan mengizinkan kami untuk memiliki anak lagi, saya memiliki kerinduan untuk mendidik mereka untuk menjadi anak yang hidup dan berkarya bagi sesama, bukan bagi kami orang tuanya. Saya akan membantunya untuk bisa menjadi manusia yang memaknai hidupnya dengan mengabdi kepada masyarakat, bukan untuk mencari uang sebanyak mungkin. Tidak apa-apa kalau nanti mereka tidak memiliki mobil pribadi, rumah sendiri, hidup mewah, yang terutama mereka harus menjadi manusia yang mandiri dan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. 

Saat ini, saya belum bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh bang Amsal, walaupun kami memiliki alasan yang sama untuk bergabung di Wahana Visi Indonesia adalah karena nazar. Saya belum bisa seutuhnya menjadi manusia yang telah selesai dengan diri saya sendiri. Ada begitu banyak kepentingan yang masih berakar di dalam diri saya, yang belum bisa saya cabut sempurna seperti yang saya sebutkan di atas. Setidaknya, sampai saat ini, saya masih terus berjuang untuk memberikan ilmu yang saya punya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kalau bang Amsal memberikan ilmunya dengan bersentuhan langsung dengan kaum marginal, memberikan pengobatan secara gratis, sampai saat ini saya juga melakukan hal yang sama, bekerja sebagai HRD dengan tidak mencari uang, melainkan menjadi HRD yang bisa diandalkan dan siap mensupoort kebutuhan staff maupun para kandidat yang saya interview sehari-hari.

Setelah selesai membaca buku biografi bang Amsal Ginting, saya berandai-andai bagaimana kalau di setiap satu profesi yang ada di dunia ini, ada satu orang, SATU ORANG SAJA memiliki gaya hidup "YANG TELAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI", mungkin tidak akan ada lagi perang politik, perang budaya, perang sosial, perang ekonomi, perang kekuasaan, perang identitas, dan perang ideologi. Dunia ini akan lebih nyaman untuk dihuni dimana kasih Kristus akan terlihat nyata.