Thursday, 31 December 2015

WELCOME 2016!!

Tak pernah terpikirkanku bagaimana aku dan Josua akan menjalani tahun pertama anak kami dipanggilNya. Di penghujung tahun ini, memoriku tentang tahun pertama pernikahan yang sekaligus tahun pertama anak kami dipanggilNya kembali menari-nari di pikiranku. Belum kering air mata setelah kepergian anak kami, kehidupan rumah tangga kami kembali diterpa dengan kondisi perekonimian kami yang selalu nyaris di ujung tanduk. Komitmen kami yang selalu berusaha untuk hidup sederhana dan bersih, menjadi tantangan yang cukup membayar harga.

Aku dan Josua, sebagaimana pasangan muda lainnya di Indonesia ini, memulai kehidupan pernikahan kami dengan perjuangan. Bagi mereka yang tidak memiliki orang tua kaya, pasti memahami betul, perjuangan yang kumaksud. Tidak ada jalan yang mudah ketika engkau memiliki impian. Itu adalah harga mati bagi orang-orang yang memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri! Di tengah-tengah perjuangan kami untuk membangun rumah tangga dalam kesederhanaan, Tuhan memberikan kami kesempatan untuk memiliki anak. Sungguh keajaiban menurutku secara personal, mengingat hubunganku dengan Tuhan selama ini, dimana biasanya keajaiban hanya akan diberikan jikalau aku berdoa, berpuasa, dan menangis kepadaNya. Akan tetapi, kali ini untuk pertama kalinya selama aku mengingat hubunganku denganNya, Dia memberikan kami kesempatan untuk memiliki anak tanpa aku melakukan hal-hal di atas. 

Eforiaku sungguh berlebihan di kala itu. Aki shock dengan keajaiban yang diberikan Tuhan pada kami. Ini sungguh tidak biasa bagi hubunganku dengan Tuhan. Nyaris aku tidak percaya bahwa itu terjadi. Tidak mungkin Tuhan sebaik itu padaku, memberikan sesuatu keajaiban tanpa aku melakukan hal-hal yang telah kusebutkan di atas. Bahkan di dalam berbagai kesempatan, ketika aku sudah melakukan hal-hal di atas, Tuhan sering sekali berkata tidak untuk apa yang kuinginkan. Kebingunganku di tengah-tengah kebahagianku itu, terpaparkan di 28 minggu usia kandunganku. Tuhan mengambil kembali anak kami. Anak kami kalau aku boleh menyebutnya, milik kami hanya diizinkan untuk mampir di dalam rahimku, tanpa aku berkesempatan untuk menyentuh apalagi memeluknya.

Tahun 2015, adalah tahun pergumulan kami dengan Tuhan. Aku dan Josua berusaha memaknai hubungan kami dengan Tuhan. Berusaha mencari kehendak Tuhan bagi kehidupan pernikahan kami, khususnya bagi kami secara pribadi. Banyak pertanyaan yang kuajukan kepada Tuhan, dimana pertanyaan yang paling banyak kuajikan adalah mengenai hubungan kami, hubunganku dengan Tuhan. Moment kepergian anak kami, menjadi momentum bagiku secara personal untuk tahu dan semakin memaknai jenis hubungan seperti apa sesungguhnya yang kumiliki dengan Tuhan. Memaknai posisi Tuhan di dalam hidupku dan posisiku di mataNya.

Setahun berlalu, dari sekian banyak pertanyaan yang kuajukan kepadaNya, Tuhan menjawabnya dengan penuh kasih. Walau tidak semua bisa kuterima. Sisi kemanusiaanku berulang kali untuk bernegosiasi dengan semua jawaban-jawaban Tuhan. Mencoba untuk bersikap membenarkan egoku, bahkan di hadapan Tuhan yang aku tahu pemilik kehidupanku. Secara keseluruhan, aku sangat menikmati sesi-sesi dialogku denganNya. Berulang kali dengan kekeraskepalaanku yang selalu mencoba untuk mencari celah di setiap argumen yang diberikan olehNya, aku tetap menyadari bahwa akan selalu ada kekuatan untukku, untuk Josua untuk menemukan Dia dan merasakan kasihNya.

Dan kali ini, setelah aku berdoa, berpuasa, dan menangis, Tuhan memberikan kesempatan kedua untukku bisa merasakan kehamilan. Keajaiban itu datang kembali. Kali ini, aku berusaha untuk tidak bernegosiasi dengan Tuhan. Aku mengizinkan diriku untuk mengalir, menikmati setiap proses, memahami setiap jawaban Tuhan untuk setiap pertanyaan-pertanyaanku, yang aku imani, bahwa aku akan bermuara ke rencana Tuhan. 

Welcome 2016! 
Aku membuka tanganku, mataku, dan seluruh tubuhku untuk setiap apapun yang akan terjadi di depanku karena kutahu, Dia tidak akan pernah membiarkanku sampai jatuh tergeletak. Akan selalu ada harapan untuk hati yang hancur, akan selalu ada senyuman untuk setiap air mata, akan selalu ada hal baik untuk setiap musibah, dan akan selalu ada Tuhan untuk setiap moment kehidupan, kalau aku mengizinkanNya ikut serta.

Kondisi keuangan kami bukan lagi masalah besar untukku. Ini bukan kondisi baru lagi bagiku. Sejak aku pertama kali ke luar dari rumah orang tuaku, aku pernah merasakan yang lebih kritis dari semua ini. Apalagi sekarang, aku tidak sendirian lagi, ada partner hidup yang Tuhan berikan untukku. Aku juga memiliki keahlian yang bisa membantuku untuk bertahan hidup.

Terima kasih Tuhan, untuk kesabaranMu di dalam menjawab seluruh pertanyaanku di tahun 2015. Terima kasih untuk setiap negosiasi yang terjadi di antara kita. 
Terima kasih telah menjadi pribadi yang bisa kuandalkan. Walau aku akui, sampai detik ini aku belum benar-benar bisa menerima bentuk dari hubungan kita, aku akan terus berharap bahwa hubungan ini akan bisa aku maknai sebagaimana seharusnya. Dan yang pasti, adalah kehormatan bagiku untuk memperkenalkanMu nantinya kepada anak-anak dan cucuku. Akan kuceritakan semua perkembangan dan pertumbuhan hubungan yang terjalin di antara kita.

Tetaplah bersamaku, bersama Josua, dan bersama dengan orang kucintai dan yang membuatku sedih. SELAMANYA.



Thursday, 24 December 2015

Kehamilan keduaku

Di usia 15 minggu kehamilanku, rasa mual dan keinginan untuk muntah sudah berkurang. Aku juga sudah mulai bisa makan dengan banyak, bahkan beberapa kali tambah. Walaupun untuk beberapa jenis makanan aku masih harus bermusuhan. Sementara untuk aroma bawang-bawangan, hubungan kami masih belum bisa dikatakan baik. Saat ini, aku berada di tahap memilih-milih makanan. Tidak semua jenis makanan yang bisa aku makan dan ada beberapa jenis makanan yang aku makan dengan baik, misalnya bangsa mie-mie. Hampir semua jenis mie, bisa masuk ke mulutku. Mie goreng, mie rebus, mie kuah, mie ayam, mie gomak, dan berbagai jenis mie lainnya.

Untuk berat badan, saat ini berat badanku di angka 55,5 kilo gram, naik 3,5 kilo dari sebelum aku hamil.

Keluhan yang saat ini aku rasakan adalah susahnya aku buang air besar, kemungkinan disebabkan aku yang masih mual memakan sayuran. Tidak semua sayuran, aku sangat suka makan sayuran khas Batak, ingkau rata dan ikan teri sambal. Akan tetapi karena kami jauh dari kampung halaman, jenis makanan ini tidak bisa aku konsumsi setiap hari. Terkadang, dan dalam banyak hal aku memaksakan diri untuk memakan sayuran yang ada, misalnya wortel, kacang panjang, buncis, bayam, bunga kol, terong, sawi putih, kailan.

DI kehamilan keduaku ini, satu hal yang paling aku syukuri adalah bahwa saat ini jarak tempuh antara kantor dan rumah tidak sejauh dan tidak semacet kantor ketika di kehamilan pertamaku. Selain itu, jam kerja yang dimiliki kantor yang sekarang lebih singkat, dimana jam empat sore, kami sudah pulang. Alhasil, setiap hari aku sudah ada di rumah jam 5 sore. Dimana bila dibandingkan dengan kantor yang lama, jam lima adalah jam pulang kantor dan aku akan baru tiba di rumah paling cepat jam 9 malam.

Kondisi ini sangat membantuku secara psikis dan fisik. Aku memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Selain itu, tekanan kerja yang aku terima di kantor yang sekarang tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan tekanan kerja di kantor sebelumnya, Tentu saja, kantor yang lama berorientasi terhadap profit sementara kantor yang sekarang non profit alias berfokus terhadap pengembangan kaum marginal, sebuah jenis pekerjaan yang sangat sesuai dengan idealismeku.

Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menikmati kehamilanku dengan suka cita. Tuhan telah memberikan kemudahan bagiku di dalam segala hal. Walau sisi kemanusiaanku di dalam banyak hal masih mengeluhkan hal-hal yang tidak kumiliki. Saat ini, di kehamilan keduaku ini, aku mau hanya fokus dengan berkat yang Tuhan berikan kepadaku. Aku tidak ingin memikirkan hal-hal lain yang tidak kumiliki. Tuhan sudah begitu banyak memberi kepadaku. Aku mau menikmati semua yang Tuhan berikan ini dan tidak ingin dipusingkan dengan segala sesuatu yang belum Tuhan berikan kepada kami.

Satu hal lagi yang membuatku tidak bisa tidak bagahia menjalani kehamilanku adalah aku memiliki suami yang begitu sangat mencintaiku melebihi cintaku pada diriku sendiriku. Sebuah hadiah yang paling berharga yang kuterima dari Tuhan. 

Betapa aku tidak bersyukur Tuhan untuk berkat yang begitu indah yang Tuhan berikan di dalam hidupku. Aku mau terus memujiMu dan memanggilMu, ABBA, nama terindah di dalam hidupku.



Friday, 11 December 2015

Ucapan syukur

Di penghujung tahun 2015 ini, aku begitu bersyukur kepada Tuhan karena sampai saat ini aku masih bisa bernafas dan segala kebutuhan primerku tercukupi. Aku juga bersyukur karena Tuhan kembali memberikan kesempatan kepadaku dan Josua untuk memiliki anak kembali. Walaupun hal ini membuatku dalam kondisi harap-harap cemas. Satu hal yang kuimani, jikalau Tuhan memang menginzinkan anak ini lahir dan tumbuh bersama aku dan Josua, maka hal itu pun akan terjadi. Dan jikalau memang Tuhan menginginkan anak ini hanya numpang lewat saja seperti anak pertama kami di dalam kehidupan kami, maka itulah yang akan terjadi. Tuhan yang memiliki kehidupan, aku berserah penuh kepadaNya.
Kekuatiranku yang paling besar sesungguhnya saat ini adalah dengan kondisi keuangan kami. Penghasilanku hanya cukup untuk membiayai kebutuhan primer kami. Sementara untuk tagihan rumah dan kebutuhan sekunder lainnya, misalnya untuk pakaian dan hiburan, nyaris tidak bisa kami penuhi. Bahkan untuk biaya melahirkankan pun nantinya aku hanya bisa mengandalkan tabungan dari asuransiku saja. Dua tahun terakhir ini, kondisi keuangan kami memang cukup di ujung tanduk. Kami hanya bisa memenuhi kebutuhan primer kami. Setiap kali mengingat hal ini, aku selalu merasa kasihan pada diriku sendiri. Seandainya dulu, kami cukup memiliki uang, mungkin aku tidak akan terlalu lelah selama hamil pertama dan kami tidak akan kehilangan anak pertama kami. Tapi semuanya telah terjadi, akupun harus bisa melanjutkan hidup.
Mungkin ini adalah kepedihan yang belum bisa lenyap dari kehidupanku. Aku mengasihani diriku sendiri yang tidak memiliki siapa-siapa yang bisa kujadikan tempatku bersandar. Hanya aku dan Josua. Kami melewatinya berdua saja. Walaupun kami masing-masing memiliki orang tua dan saudara, akan tetapi dalam menjalani kesusahan hanya ada aku dan Josua. Terkadang aku sangat iri hati dengan mereka yang memiliki orang tua yang begitu sangat memperhatikan mereka. Aku juga memiliki orang tua, akan tetapi aku tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Mereka hanya menginginkan uang saja. Ada uang, maka kami disayang. Tak ada uang maka kami pun ditendang.
Saat ini, aku hamil kembali. Keadaan ekonomi kami masih belum berubah. Kami masih berjuang untuk bisa bertahan hidup. Aku mensyukuri setiap momen ini. Di dalam kondisi seperti inilah, cinta kami (aku dan Josua) semakin dikuatkan. Kami semakin saling mencintai, saling memperhatikan satu sama lain. Walaupun uang kami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, kami bersyukur. Kami tidak memiliki uang untuk membeli baju-baju baru padahal hampir semua baju-baju kami sudah tidak muat lagi bahkan sudah terlihat usang karena sudah bertahun-tahun dipakai, kami tetap bahagia. Kami masih dengan tangan terbuka menerima saudara-saudara kami untuk berkunjung ke rumah, walaupun pengeluaran terhadap makanan meningkat. Semua pengeluaran hanya kami fokuskan untuk membeli kebutuhan primer saja karena memang hanya sampai disanalah kekuatan penghasilan kami sanggup.
Orang-orang tidak akan pernah percaya dengan kondisi keuangan kami. Karena selama ini memang kami tidak pernah mau bersikap pelit kepada mereka yang membutuhkan. Kami selalu memberikan pelayanan yang terbaik khususnya bagi setiap orang yang datang ke rumah kami. Hal ini terkadang memberikan penilaian yang berbeda, karena memang sudah lumrah seseorang memberi itu karena dia berlebih. Padahal, dalam kondisi kami, kami memberi karena demikianlah Tuhan mengajari kami, memberi dari kekurangan.  Kebiasan aku dan Josua dalam member, membuat mereka merasa bahwa kami memiliki banyak uang. Padahal yang benar adalah, di dalam ketidakmampuan kami, disitulah kami semakin giat memberi.  Selain itu, aku dan Josua memang bukanlah pasangan yang pelit. Sedikit apapun uang yang kami miliki, kami akan tetap berbagi dengan mereka yang membutuhkan, khsusunya mereka yang datang ke rumah kami. Kami rela tidak menikmati kehidupan ini dengan sangat sederhana sekali, asalkan setiap orang yang datang ke rumah kami tidak kelaparan. Kami sangat senang berbagi, bahkan di saat kami sesungguhnya membutuhkan bantuan. Dan aku bahagia, semakin kami banyak memberi, semakin kami merasakan penyertaan Tuhan. Bahkan ketika uang di ATM kami sudah mendekati angka nol, dengan berkat yang dari Tuhan, ketika kami butuh uang untuk beli beras, Tuhan sediakan.
Inilah ucapan syukurku yang begitu luar biasa kepada Tuhan. Bahwa Dialah Tuhan yang bersamaku melewati masa-masa sulit ketika aku sebatang kara, kelaparan di masa-masa kuliah, Tuhan yang bersamaku ketika aku bergumul untuk mendapatkan pekerjaan yang bukan hanya memeras otak dan tenagaku saja, Tuhan yang bersamaku ketika Dia mengambil kembali anak kami, dan aku percaya Tuhan yang sama jugalah yang akan membantu aku dan Josua melewati perjalanan rumah tangga kami dengan anak yang ada di dalam rahimku.

Terima kasih Tuhan untuk setiap kehadiranMu di dalam masa-masa sulitku, terima kasih untuk setiap kekuatan yang Tuhan berikan bagiku dan Josua untuk menjalani kehidupan kami, terima kasih Tuhan untuk kasihMu yang begitu nyata di antara aku dan Josua.

Desember 2015