Tuesday, 22 March 2016

28 minggu dan 29 tahun

Pagi ini, jam 03.34 aku terbangun dikarenakan suamiku yang sedang di Makasar menghubungiku untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Adanya perbedaan waktu antara Makasar dan Depok, membuat hasianhu salah di dalam memperkirakan waktu. Dia salah membuat alarm, seharusnya dia berencana untuk menghubungiku di jam 06.30 waktu Makasar dimana di Depok iu berarti jam 05.30, sehingga aku tidak perlu bangun terlalu pagi seperti saat ini. Sebenarnya suami sudah mengatakan bahwa jikalau aku tidak bisa tidur kembali, aku diperbolehkan untunk menghubunginya kembali. Akan tetapi, aku tidak mau membuat dia semakin merasa bersalah, dia telah merasa bersalah karena tidak bisa bersama-sama denganku di hari ulang tahunku, dan saat ini dia pun merasa bersalah karena membangunkanku terlalu cepat yang membuatku tidak bisa tidur dan akan berdampak aku akan kekurangan tidur.

Mencoba untuk tidur kembali, mata dan pikiranku sudah enggan untuk bersama-sama dengan kasur dan bantal. Setelah setengah jam kulewati dengan mencoba untuk mendamaikan mataku dengan bantal, dimana hasilnya adalah kegagalan, maka aku pun membuka laptopku dan menulis. Dan disinilah aku, menulis untuk bisa membunuh kesendirianku di hari ulang tahunku.

Aku paling tidak suka dengan kondisi kesendirian. Akan tetapi entah mengapa, Tuhan selalu memberikan kondisi ini kepadaku. Berulang kali aku mengatur untuk tidak mengalami kesendirian ini, berulang kali juga Tuhan menyatakan rencanaNya. Seperti saat ini, ketika suamiku ke Makasar, aku sebenarnya tidak nyaman bila harus sendirian. Aku pun mengatur agar aku memiliki teman di rumah. Aku meminta Winda, Kak Sophia, dan Debora untuk menemaniku di rumah. Mereka sudah setuju awalnya, aku pun senang bahwa aku tidak akan menghadapi kesendirian ini. Akan tetapi Tuhan berencana lain, ketiga teman yang kuharapkan datang untuk menemaniku tidak jadi datang ke rumahku. 

Kecewa iya. Kondisi ini meningatkanku ke kejadian-kejadian lain di dalam hidupku bahwa aku bukanlah menjadi prioritas bagi orang lain. Aku selalu menjadi cadangan dan diwajibkan untuk mengerti kondisi orang-orang di sekitarku. Ini menjadi pelajaran buatku bahwa ketika aku sudah berjanji kepada orang lain dan ketika ternyata ketika ada janji lain yang lebih menarik, maka aku bisa untuk membatalkan janji yang pertama itu.Tidak perlu merasa bersalah. Hidup ini adalah pilihan. Aku tidak harus selalu mnyenangkan hati setiap orang. Yang terutaama adalah apa yang kuinginkan dan apa yang tertarik untuk kulakukan.

Semakin bertambahnya usiaku, aku belajar untuk semakin mengutamakan kepentinganku dan kenyamanan hatiku. Kalau dulu aku selalu mengalah dan mengorbankan hatiku demi orang-orang di sekitarku, sekarang aku sudah membatasi diri untuk tidak mengalah dan berkorban lagi. Aku pun mulai merasa bahwa hatiku juga berhak untuk dibuat nyaman. Walaupun aku harus membayar harga dari keputusan yang kuambil ini, aku semakin tidak memiliki teman. Satu-persatu mereka yang dulu yang membuatku selalu mengalah dan berkorban untuk mereka, setelah aku membatasi diri untuk tidak melakukan itu lagi, mereka pun mundur teratur dari kehidupanku.

Aku merasa kehilangan tentunya. Akan tetapi aku juga tidak boleh menjadi tamak. Sebagai gantinya Tuhan telah memberikan kepadaku seorang suami yang bisa menjadi segalanya bagiku. Dan sebentar lagi pun, Tuhan akan menghadirkan anak kedua kepadaku dan suami. Aku sudah memiliki kehidupan baru yang membuatku akhirnya bisa menerima rasa kehilanganku.

Untuk kehamilan keduaku ini, aku benar-benar berserah kepada Tuhan dan membuka diriku untuk menerima rencanaNya. Apapun itu, aku percaya Dia akan memberikanku kekuatan. Demikian halnya kepada suamiku. Aku percaya kepada Tuhan dan mensyukuri untuk setiap pekerjaan tanganNya kepadaku dan suami.

Terima kasih Tuhan, masih teringat jelas, dulu ketika usia kehamilanku menjelang 28 minggu tepat seperti kondisi saat ini, aku berbaring di rumah sakit. Saat ini, aku bisa duduk disini menikmati hari baru, hari ulang tahunku, dalam keadaaan sehat. Di usia kandunganku 28 minggu, aku berusia 29 tahun. 
Terima kasih Tuhan, ketika orang-orang masih bergumul unutuk mendapatkan pasangan, Tuhan memberikanku suami yang begitu mencintaiku. 
Terima kasih Tuhan, ketika orang bergumul untuk mendapatkan keturunan, Tuhan menginjikanku untuk merasakan kehamilan kedua dimana sampai detik ini, aku dan bayiku dalam keadaaan sehat. Kondisi kehamilanku baik-bai saja.
Terima kasih Tuhan, ketika orang bergumul untuk mendapatkan pekerjaan Tuhan memberikanku berkat pekerjaan yang membuatku semakin dekat kepadaMu.
Terima kasih untuk ketenangan pikiran, untuk kedamaian hati yang selalu Tuhan berikan kepadaku. Berkaryalah Engkau Tuhan di dalam hidupku, jadilah rencanaMu dan berikan aku kekuatan untuk menerima setiap rencanaMu.

Kata orang, berdoa ituh harus spesifik. Aku tidak percaya karena sesungguuhnya Engkau jauh lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hidupku dan untuk suamiku. Kalaupun nanti apa yang Kau berikan tidak sesuai dengan apa yang kami harapan, kami tahu bhwa Kau akan memberikan kekuatan untuk kami bisa menerima itu dengan sebuah keyakinan bahwa itulah yang terbaik untuk kami.

Aku dan suami percaya kepadaMu Tuhan dan menyerahkan kehidupan kami, kehidupan anak kami kepadaMu.



.

No comments: