Saturday, 9 April 2016

rani berani mimpi untuk anak-anak Sumba Barat Daya


Ada apa dengan manusia zaman sekarang? 

Manusia zaman sekarang  sangat aktif di dunia maya, di media sosial yang dikenal dengan facebook, instagram, path, dan twitter.. Ada juga WhatsApp, LINE, BBM, dan telegram. Semua media ini diciptakan tentunya dengan tujuan yang mulia, yaitu untuk mempermudah kehidupan manusia. Dan memang bagi sebagian orang, keberadaan media-media sosial ini sangat menguntungkan dan bermanfaat.

Bagi mereka yang hidup jauh dari keluarga, dengan adanya media sosial akan sangat membantu untuk selalu terkoneksi dengan mereka yang dicintai. Dalam dunia marketing, media ini pun menjadi alat yang sangat efektif untuk mendapatkan laba yang besar. Hampir di semua lapisan kehidupan manusia sangat diuntungkan dengan keberadaan media-media sosial ini. Yakni dengan penyebaran informasi yang begitu cepat, membuat manusia yang dulunya hanya menyadari tentang kehidupan di sekitarnya, sekarang semua hal yang terjadi di berbagai tempat bisa diketahui dalam waktu yang sangat cepat dan terkini.

Kalau dulu, manusia membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengetahui apa yang tejadi di dunia bagian lain, saat ini dalam hitungan detik, informasi itu bisa menyebar ke seluruh dunia. Bahkan suatu informasi bisa dinikmati secara langsung, tidak perlu menunggu beberapa detik lagi. 

Di atas semua keuntungan dan kemudahan yang tercipta, ada begitu banyak dampak negatif dari kehadiran media-media sosial ini. Salah satu dampak negatif yang paling menonjol adalah dimana manusia zaman sekarang lebih fasih dan luwes berinteraksi melalui media-media sosial dibandingkan dengan berinteraksi secara tatap muka. Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan ini seandainya mereka yang lebih fasih dan luwes dalam berinteraksi di media sosial, menggunakan kemampuan mereka untuk memberikan motivasi kepada setiap orang yang terkoneksi dengannya. Menyebarkan informasi-informasi yang membangun aura positif untuk saling mendukung dan menyebarkan kebaikan. 

Fenomena yang terjadi adalah mereka yang sangat fasih dan luwes berinteraksi di dunia maya, memiliki kecenderungan untuk menghakami apa yang terjadi di sekitarnya, menyebarkan informasi-informasi yang mematahkan semangat, informasi yang tidak memdidik, memecah belah kerukunan, ajang untuk pamer mengenai sesuatu hal yang tujuannya untuk membuat orang lain iri hati, mengeluhkan tentang kehidupan dengan cara meluapkan amarah tanpa batas-batas etika.

Sebagai seorang yang pernah belajar psikologi, aku bisa memahami bagaimana masyarakatku saat ini berada di ambang batas emosi mereka. Adanya tekanan ekonomi, masalah sosial (misalnya jomblo akut, kehidupan pernikahan, dan keluarga yang tidak bahagia), dan masalah psikologis membuat media sosial menjadi tempat yang tepat untuk bisa mneyeimbangkan kondisi kejiwaan. Setiap kali ada informasi mengenai hal yang negatif, menjadi kesempatan untuk mereka yang sedang berada di ambang batas emosi jiwa langsung terkontaminasi untuk berkontribursi menyemarakkan informasi-informasi ini.

Beberapa kali aku mengobservasi aktivitas manusia di media sosial. Hampir semua informasi negatif bisa tersebar dalam hitungan menit ke seluruh pelosok negeri ini. Jutaaan orang akan membagikan informasi itu kembali ke seluruh relasi yang dimilikinya dengan cara sukarela. Berapa banyak diantara kita yang menerima informasi negatif langsung menhapusnya dan melupakannya? Nyaris tidak ada. Mayoritas dari kita langsung dengan kecepatan dan semangat yang entah darimana langsung membagikannya kembali ke seluruh relasi yang kita miliki di media soial. Pertanyaannya : APAKAH KITA JUGA MELAKUKAN HAL YANG SAMA KETIKA KITA MENDAPATKAN INFORMASI YANG POSITIF? 

Sudah hampir dua minggu, aku memberikan waktuku untuk berbagi informasi mengenai pelayanan yang kami lakukan untuk anak-anak di Sumba Barat Daya. Aku membagikan informasi ini ke seluruh relasi yang kumiliki di media social dengan tujuan akan mendapatkan dukungan berupa donasi dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kondisi anak-anak di Sumba Barat Daya yang membutuhkan dukungan banyak pihak, bukan hanya dari kami maupun pemerintah. Kami membutuhkan banyak tangan di dalam pelayanan ini demi terciptanya hidup anak seutuhnya, lingkungan yang ramah anak. Sejauh ini, aku cukup bersyukur jikalau ada beberapa berapa orang yang meresponnya dan tergugah untuk berkontribusi di dalam pelayanan kami ini. Walau jumlahnya masih di bawah 20 orang. https://kitabisa.com/raniberanimimpi. Sangat berbalik terbalik dengan apa yang dialami oleh siswa SMA di Medan yang kena tilang oleh polisi beberapa hari lalu. Informasi ini dalam hitungan jam langsung mendapatkan respon yang begitu banyak dari masyarakat Indonesia.

Mengapa hal ini bias terjadi? Aku mencoba menganalisanya dan merangkup kesimpulanku sebagai berikut :
Masyarakat kita saat ini banyak yang berada di ambang batas pertahanan emosi yang minim. Hanya satu pemicu negatif saja, pertahanan emosi itu langsung jebol, dan terjadilah kebakaran dasyat. Contoh kasus bisa dilihat dari kasus siswa SMA di Medan yang ditilang oleh polisi wanita. Dan masih banyak contoh lainnya. Mengapa masyarakat banyak yang berada di ambang batas pertahanan emosi yang minim? Seperti yang telah aku sampaikan di atas, hal ini merupakan dampak negatif dari kehebatan yang dimiliki di dalam berinterkasi di dunia maya yang tidak diimbangi dengan kehebatan di dalam berinteraksi di dunia yang sesungguhnya.
Aku pernah membaca sebuah artikel (lupa sumbernya), mengatakan bahwa yang membuat manusia itu bahagia adalah kualitas yang dimiliki dalam berelasi dengan keluarga, teman, dan komunitas. Tentu saja untuk membuat relasi dengan keluarga, teman, dan komunitas berkualitas bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kemampuan untuk bisa menerima, berbagi dan memahami satu sama lain. Jadi, bukan uang, pekerjaan, kepintaran, jabatan, tampang kece, gaya hidup, ataupun network yang membuat kita bahagia.

Hidupku tidak sempurna, aku pun tidak sempurna. Akan tetapi aku mau berproses di dalam kehidupan ini. Salah satu cara yang kulakukan dalam berproses adalah dengan selalu berusaha menyebarkan aura positif ke setiap mereka yang ada di sekitarku dan mereka yang terkoneksi denganku di dalam media sosial. Aku tahu, masing-masing kita memiliki salibnya masing-masing. Karena itu, mari kita saling menguatkan satu sama lain, agar salib yang kita pikul ini terasa lebih mudah untuk dijalani. Tidak jadi masalah apabila kita sangat aktif di dunia media sosial, akan tetapi akan jauh lebih bijaksana jikalau keaktifan kita di media sosial itu untuk menyebarkan kebaikan, menyebarkan informasi-informasi positif dan edukatif.






No comments: