Sunday, 10 November 2013

SMAN 2 Balige Soposurung "TO BE NUMBER ONE"


Beberapa kali, aku sering ditanya masa sekolah yang paling menyenangkan buatku itu apa? TK, SD, SMP, SMA, atau kuliah. Ini adalah pertanyaan yang sedikit sulit untuk kujawab karena setiap jenjang masa sekolah itu memberikan kesan unik yang tidak bisa kubandingkan. Semuanya menyenangkan sesuai dengan musimnya. Dan setiap tahap sekolah selalu menyediakan bekal untukku melangkah ke tahap sekolah selanjutnya. Hanya saja, masa dimana aku paling gampang untuk melakukan pengaksesan adalah masa SMA. Dan ini tentu saja bukan menjadi indikasi bahwa masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan untukku. Aku mencintai semua masa yang pernah kualami, tentunya karena aku sangat suka pergi ke sekolah. Aku sangat suka belajar.

Lalu, mengapa masa SMA menjadi masa yang dimana aksesnya lebih gampang untuk kuraih? Jawabannya adalah  karena masa SMA merupakan jembatan terakhir yang menghubungkanku dengan kampung halaman. Masa SMA adalah masa terakhir aku disebut anak sekolahan. Dan pada umumnya kenangan terakhir biasanya paling gampang dijangkau di dalam memori otak kita. Masa sekolah semenjak TK sampai SMA aku habiskan di kota kecil di provinsi Sumatera Utara,  Balige yang lebih dikenal dengan Soposurung. Setelah masa SMA usai, aku pun mengikuti jejak senior-seniorku pada umumnya, untuk merantau, mengecap ilmu di kampung orang.

Kembali ke masa SMA. Aku mengakhiri masa sekolahku di SMA N2 Soposurung - Balige dimana sekolah ini memiliki  motto "TO BE NUMBER ONE". Menurutku, sekolah ini sangat unik yang menjadikannya berbeda dengan SMA pada umumnya. (Mungkin) SMA N2 Soposurung inilah satu-satunya SMA Negeri di Indonesia yang memiliki keunikan itu. Apakah keunikan sekolah ini?
Keunikan sekolah ini adalah adanya kerja sama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta dalam hal ini pihak swasta lebih dikenal dengan Yayasan Soposurung.  Yang sejujurnya aku sendiri tidak tahu isi dari perjanjian  kerja sama  itu, hanya bisa melakukan hipotesa saja. Dulu di masaku, ( hipotesa#1) salah satu isi dari kerja sama antara pemerintah dan Yayasan Soposurung, siswa-siswi di SMA ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu anak non asrama dan anak asrama. Anak non asrama maksudnya mereka yang pulang dan pergi sekolah berangkat dari rumah orang tuanya atau dari kostan. Sementara anak asrama adalah mereka yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal di asrama dan dibina dengan semi militer dimana biaya hidup mereka selama di asrama ditanggung oleh pihak swasta, Yayasan Soposurung. Walaupun berbeda dalam keberangkatan dan kepulangan, di dalam sekolah sendiri kami adalah sama, tidak ada perbedaan dalam hal administrasi, sama-sama menggunakan emblem yang sama yaitu SMA N2 Soposurung- Balige, membayar uang sekolah, kurikulum yang sama dengan pengajar yang sama, dan peraturan sekolah yang sama. Dalam beberapa hal anak-anak yang dibiayai oleh pihak swasta mendapatkan fasilitas yang tidak kami dapatkan, misalnya mereka diwajibkan untuk mengikuti kelas tambahan setelah jam sekolah berakhir dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Keunikan lain dari sekolah ini adalah bahwa guru-guru yang mengajar disana didatangkan dari luar Balige dan mayoritas bukan orang Batak, yang katanya didatangkan oleh pihak Yayasan Soposurung untuk kurun waktu tertentu. Mungkin ini juga menjadi salah satu isi  dari kerja sama antara pemerintah dan pihak Yayasan Soposurung bahwa mereka boleh "menitipkan" siswa-siswi mereka di SMA N2 Soposurung- Balige, dan memiliki emblem dan akredibilitas administrasi SMA N2 Soposurung- Balige asalkan guru-guru pilihan yang didatangkan dari luar Balige itu, harus mengajar juga untuk siswa-siswi yang non asrama (hipotesa#2). Tak bisa aku ingkari bahwa dengan adanya perjanjian kerja sama ini, maka pengklasifikasian pun terbentuk yang pada akhirya sangat berdampak signifikant dengan self belonging kami terhadap sekolah ini. Dan bagi beberapa orang, khususnya alumni sekolah ini, pengklasifikasian ini masih menjadi topik pembahasan yang sangat sensitif yang tidak memiliki ujung.

Bila merujuk dari hipotesa di atas, siswa asrama dan non memang telah dikondisikan menjadi beda. Akan tetapi bagi banyak orang adalah sesuatu yang sulit untuk menerima pembedaan itu, apalagi tolak ukur yang dilakukan dalam pembedaan itu tidak berdasarkan standar yang sama. Hal inilah yang memicu lahirnya "PERSAINGAN". Di dalam sekolah ini persaingan sangat tumbuh subur. Di sekolah inilah secara langsung dan tidak langsung, aku disosialisasikan untuk bersaing, bersaing dalam melakukan yang terbaik tentunya.  Awalnya persaingan itu disosialisasikan secara tidak langsung melalui identitas kami di sekolah itu, anak asrama atau bukan. Anak asrama dan anak non asrama sama-sama bersaing untuk mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah yang paling berprestasi di akademik, di ekstrakulikuler dan di seluruh bidang kalau perlu. Anak asrama yang dibiayai oleh Yasayan Soposurung memiliki tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa mereka layak untuk mendapatkan dukungan dana dari Yayasan dengan harus selalu unggul dalam akedemik dan kegiatan ekstrakurikuler. Dan menciptakan image yang membedakan mereka dari siswa-siswi yang tidak mendapatkan dukungan dana dari Yayasan. Sementara, anak-anak non yang tidak mendapatkan dukungan dana dari Yayasan, secara tidak langsung juga akhirnya mendapat tanggung jawab moral demi keseimbangan ego untuk membuktikan bahwa mereka pun bisa unggul. Akhirnya, kami siswi-siswi SMA N2 Soposurung- Balige baik anak asrama dan anak non asrama pun bersama-sama bersaing menjadi yang terbaik, seperti motto sekolah ini "TO BE NUMBER ONE".

Rasa persaingan yang ada di antara kedua kelompok ini (asrama dan non asrama) seiring berjalannya waktu ternyata  merambah juga ke pribadi lepas pribadi. Masing-masing dari kami disadari atau tidak, pada akhirnya juga bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi persaingan itu pun terjadi di antara sesama anak asrama dan di antara sesama anak non.  Masih menjadi salah satu isi dari perjanjian kerja sama antara pemerintah dan Yayasan. Dimana, siswa-siswi yang dibiayai Yayasan, apabila tidak memenuhi standar akan dikeluarkan dari asrama dan menjadi siswa di SMA N2 Soposurung-Balige dengan identitas sebagai anak non. Sementara anak non yang adalah tidak dibiayai Yayasan, apabila tidak memenuhi standar sekolah maka akan tinggal kelas (hipotesa #3).

Aku pribadi, awalnya tidak nyaman dengan rasa persaingan yang ada di antara kedua kelompok yang ada di sekolah ini. Belum lagi dengan persaingan yang ada di dalam masing-masing kelompok. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari budaya kita orang timur, yang menganggap bahwa persaingan itu adalah hal yang buruk. Mengapa buruk? Karena dengan adanya persaingan maka hubungan kekerabatan berpeluang besar menjadi rusak. Sementara dalam budaya Timur, khususnya Indonesia, apalagi di masyarakat Batak, hubungan kekerabatan adalah sesuatu yang sangat penting, bertolak belakang dengan budaya Barat yang sangat individual dan tidak terlalu menghiraukan hubungan kekerabatan. Dalam hukum pertemanan Batak pun terdapat prinsip, hancur demi kawan akan dilakoni saking pentingnya hubungan kekerabatan itu. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berpeluang untuk merusak hubungan kekerabatan seperti persaingan menjadi sesuatu yang "tabu" di masyarakat kita. Tidak boleh terjadi persaingan di antara mereka yang memiliki hubungan kekerabatan. Dan itulah yang terjadi di mana aku SMA. Kami tidak bisa menerima sosialisasi persaingan yang didoktrin di dalam perilaku kami, karena kami telah didoktrin di lingkungan rumah untuk selalu mengutamakan hubungan kekerabatan. Akan tetapi kami tidak memiliki pilihan, kami harus bersaing, yang mengakibatkan kami meresponnya dengan lahirnya hubungan yang tidak sehat dalam pertemanan dan emosi-emosi negatif yang tidak bisa kami kontrol.

Setelah meninggalkan kampung halaman, aku semakin diajari oleh pengalaman bahwa persaingan itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dilalui oleh mereka yang memiliki potensi untuk maju. Mungkin dahulu kala para leluhur kita tidak mensosialisasikan persaingan itu karena jika kita tidak cerdas dalam melakoninya maka akan mendatangkan kerusakan di dalam hubungan. Dan untuk menghindari hal itu, maka di kebudayaan kita, persaingan itu menjadi sesuatu yang buruk. Padahal, jikalau kita analisa lebih dalam lagi, persaingan itu bukanlah sesuatu yang buruk. Di kehidupan sehari-hari, setiap saat kita diperhadapkan dengan persaingan. Bahkan di awal kehidupan kita pun, terjadi persaingan antara jutaan sperma untuk membuahi satu ovum. Dan disinilah akar permasalahan kita, para orang dewasa sebelum kita kurang menyadari perlunya sosialisasi dini mengenai soft skills, contohnya sosialisasi persaingan, sehingga pengenalan yang sejak dini, bisa membantu anak-anak untuk lebih mampu  mengatasinya tanpa harus merusak hubungan kekerabatan melainkan menjadi momentum untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Seperti musim-musim sebelumnya, aku sangat excited untuk menyelesaikan setiap tahap masa sekolahku, karena aku yakin aku telah memiliki bekal yang cukup untuk persediaanku di dalam tahap selanjutnya. Jadi, bukan hal yang basi lagi kalau di sekolahku setiap siswa-siswi yang duduk di kelas tiga, diwajibkan oleh persaingan untuk mengisi bekal sebanyak mungkin yang akan dipakai nantinya  untuk mendapatkan satu kursi di bangku Perguruan Tinggi Negeri. Mendapatkan bangu di Perguruan Tinggi Negeri menjadi tolak ukur resmi yang dipakai di sekolah ini dalam menentukan kualitas persaingan yang selama tiga tahun ini telah disosialisasikan. Hasilnya, mereka yang tidak mendapatkan bangku di Perguruan Tinggi Negeri tidak akan mampu untuk menegakkan kepala mereka. Sementara mereka yang mendapatkan bangku di Perguruan Tinggi Negeri melangkah elegant dalam setiap jalannya. Inilah yang terjadi apabila persaingan itu tidak disosialisasikan sejak dini di lingkungan masyarakat kita.

Kebiasaan yang berkembang, aku dapatkan ketika aku kuliah. Mungkin karena disiplin ilmu yang aku tekuni adalah salah satu disiplin ilmu yang awal berkembangnya di budaya barat, yaitu psikologi, apalagi hampir semua dosen pernah menikmati kebudayaan barat, sehingga terjadi akulturasi antara budaya timur dan budaya barat, yang mensakralkan adanya persaingan, konflik, perbedaan pendapat/prinsip, gaya hidup, dan sebagainya. Selama kuliah, aku sendiri sering sekali mengalami persaingan dengan teman-teman kuliah yang notabene adalah teman terdekatku di kala kuliah. Persaingan pertama yang kuhadapi sebelum kuliah dimulai adalah persaingan untuk mendapatkan kamar asrama di kampus, berlanjut dengan persaingan untuk mendapatkan beasiswa, dan persaingan untuk mendapatkan mata kuliah. Bagi mereka yang kuliah di Universitas Indonesia, pasti merasakannya juga dimana setiap awal semester selalu terjadi persaingan untuk mendapatkan kelas yang sesuai dengan kebutuhan kita. Biasanya bagi mereka yang tidak memiliki akses internet di kamar kostan atau di rumah, sejak jam 10 malam sudah nongkrong di internet karena pengisian mata kuliah akan dimulai jam 00.00. Setelah ke luar dari dunia kampus, persaingan pun semakin nyata. Bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, dan setelah mendapatkan pekerjaan, bersaing dengan rekan sekantor atau bersaing dengan perusahaan lain yang memiliki line bisnis yang sama dengan tempat kita bekerja.

Seperti yang aku sebutkan di atas, aku sangat mencintai semua yang kualami dalam masa sekolah. Masa TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah semuanya memberikan bekal yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. William Shakespeare mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang baik atau buruk, hanya pemikiran kitalah yang membuat itu terlihat buruk atau baik. Demikian halnya dengan persaingan, pemikiran kitalah yang menentukan apakah persaingan itu baik atau buruk. Dan pemikiranku mengatakan persaingan itu baik. Aku bisa sampai kepada pemikiran ini melalui tahap penerimaan, aku menerima bahwa dengan siapapun di dunia ini aku melakukan persaingan. Aku bersaing dengan sahabatku, aku bersaing dengan saudara kandungku, aku bersaing dengan orang tuaku, aku bersaing dengan mereka yang kucintai, dan aku menerimanya. Itulah hidup. Dengan belajar menerima bahwa kita memang harus bersaing, maka akan membantu kita untuk meresponnya dengan lebih baik tanpa melahirkan adanya emosi negatif.

Di SMA N2 Soposurung- Balige, aku dan siswa-siswi yang lain dikondisikan untuk bersaing. Pembagian siswa-siswi ke dalam dua kelompok yang tujuan utamanya untuk membina siswa-siswi yang telah lulus seleksi sesuai dengan standar Yayasan Soposurung,  telah memberikan dampak yang sangat positif dalam memicu perkembangan anak-anak non untuk tetap berkontribursi memberikan yang terbaik tanpa dukungan fasilitas yang mungkin tidak sama dengan yang dimiliki oleh mereka yang dibiayai oleh Yayasan Soposurung.
Dari sini aku belajar karena ada persainganlah maka kami siswa-siswi SMA N2 Soposurung - Balige berusaha memberikan yang terbaik, melahirkan berbagai jenis kreativitas, dan pengaktualisasian bakat dan talenta wakaupun dengan motivasi yang berbeda. Yang pada akhirnya menjadikan nama SMA N2 Soposurung - Balige dikenal oleh banyak orang dan menjadikannya salah satu sekolah favorit di Sumatera Utara.

Jadi intinya adalah penerimaan. Ketika kita menerima apa yang telah terjadi dalam kehidupan kita, maka kita pun akan dimampukan untuk mencintainya. Persaingan dan konflik termasuk ke dalam hal ini. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, sejauh mana kita bisa menerima persaingan dan konflik itu? Manusia dewasa yang berkarakter pada umumnya mampu menerima persaingan, konflik dan perbedaan pendapat tepat seperti mereka menerima keberhasilan dan rejeki. Dan inilah PR perkembangan psikologis kita sebagai dewasa muda.

Jalan-Jalan Santai (JJS) - salah satu kegiatan rutin OSIS SMA N2 Soposurung, Balige.
Foto ini diambil di Tarabunga - Balige
Kelas III IPA 2 (Tahun Ajaran 2004/2005)


Saturday, 2 November 2013

oktober kelabu

Inilah yang kurasakan saat ini. Hampa. Tak ada semangat. Bukan karena ada masalah, segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aku menemukan teman-teman kerja yang mendukungku untuk maju. Kantorku dekat dengan kostanku. Aku memiliki upah yang cukup untuk kebutuhanku. Aku memiliki pacar, teman sekostan yang akan selalu ada setiap kali aku membutuhkannya. Aku menikmati kelas yogaku. Yup, aku memang tidak memiiki hubungan yang harmonis dengan keluargaku. Terus kenapa? Aku bukan satu-satunnya orang di dunia ini yang mengalaminya. Dan itu bukan berita baru lagi. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Apakah itu cerita yang menyedihkan dan membahagiakan, intinya setiap orang punya cerita. Tapi mereka tetap bisa bangun pagi dan bangkit dari kasurnya.

Dan aku?
Hari ini aku mulai dengan berjuang untuk bangkit dari kasurku dan hasilnya, aku gagal. Aku tidak bisa bangun dari kasurku, bukan karena aku penyakitan, tapi karena aku tidak ingin. Sangat sulit bagiku untuk menyambut matahari pagi. Walau aku tahu, matahari pagi itu sangat menyenangkan, tetapi sesuatu yang ada dalam diriku lebih memilih untuk tetap dalam kasurku dibandingkan harus bangun dan menyambut sang surya.

Tak tahu, apa sesungguhnya yang sedang menimpaku. Sepertinya dari semua rutinitas yang kulakukan, 90% semuanya terpaksa. Hampir dari semua yang kulakukan hanya karena aturan yang mengikatku. Aku harus bangun pagi untuk memasak karena jika aku tidak memasak maka aku tidak bisa menabung untuk kebutuhan pernikahanku. Aku harus ke kantor dan merasakan macet yang menyesakkan karena aku membutuhkan uang. Aku harus ikut kelas yoga karena aku telah terikat kontrak dan aku akan mengalami kerugian jika tidak mengikutinya. Dan bahkan aku harus terus bernafas karena berpantang mati sebelum aja menjemput.

Hari ini aku berbohong kepada atasanku mengatakan bahwa aku diserang serangga yang menyebabkan badanku gatal-gatal. Memang benar badanku gatal-gatal, tapi bukan karena serangga, menurutku itu jauh lebih disebabkan respon tubuhku terhadap otakku yang tidak bisa diam. Hari ini, aku kembali tidak masuk ke kantor hanya karena aku gagal bangun dari kasur. Aku sudah bangun jam lima pagi. Dan memilih untuk tidur kembali. Sangat sulit menemukan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan saat ini, dan apa yang menyebabkan otakku tak bisa diam. Bahkan aku sendiri tidak yakin apakah ada hubungannya dengan pernikahanku yang akan berlangsung tiga bulan lagi?

Aku mau jujur, sesungguhnya aku mulai menyukai pekerjaanku yang sekarang. Akan tetapi, aku tidak yakin pada diriku sendiri apakah ini yang sungguh-sungguh ingin kulakukan dalam hidupku? Aku sangat bersyukur dengan rekan-rekan sekerjaku yang ada di kantor, walau aku merasa bahwa aku belum benar-benar bisa klik dengan mereka. Entah mengapa, menjadi satu-satunya yang belum menikah, Kristen, dan orang batak, anak kost, membuatku semakin minder. Hanya perasaanku saja, tapi aku merasa, mereka selalu mengawasi setiap tingkah lakuku yang membuatku merasa dimata-matai.

Terkadang, aku juga merasa jenuh dengan pekerjaanku. Duduk diam di depan komputer, melakukan wawancara pekerjaan lewat telepon membuatku seperti telemarketing yang membuatku tidak nyaman. Apalagi ketika bertemu dengan orang-orang yang blagu, yang tidak bisa sopan santun ketika diwawancara.

Mungkin, masalah utamanya adalah, aku tidak pernah memiliki kekuatan untuk menjadi diriku sendiri, aku tidak pernah memiliki kebebasan untuk melakukan yang kuinginkan karena kemampuanku yang terbatas. Sesungguhnya, yang ingin kulakukan saat ini adalah aku ingin melanjutkan studyku, tapi aku tidak memiliki biaya untuk itu. Aku tidak mau menjadi beban dari salah satu dosenku yang lainnya. Dan sampai sekarang aku masih belum menemukan jalan untuk dapat melanjutkan studyku. satu-satunya yang membuatku semangat saat ini adalah, melanjutkan studyku. aku sangat ingin menjadi seorang psikolog. Sangat ingin.


Ritual agama

Dalam berbagai kesempatan, aku lebih memilih menjadi seorang observer dibandingkan memberikan respon dalam bentuk tindakan maupun perkataan. Mungkin bagi orang-orang di sekitarku, bahkan bagi mereka yang sudah menghabiskan banyak waktu denganku, akan merasa tidak dianggap dengan pilihanku ini. Tak banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak melibatkanku pada akhirnya, karena biar bagaimanapun mereka mengharapkan sebuah respon yang konkrit dariku bukan hanya kediaman dengan seribu bahasa. Apalagi dengan latar belakang pendidikanku dari psikologi, mereka berharap aku akan memberikan komentar psikologis. Dan aku sangat tidak keberatan dengan respon mereka terhadap perilakuku ini. Karena dengan bersikap demikian, semakin memberiku ruang untuk melanjutkan peranku, yaitu sebagai observer. Biasanya setelah atau bahkan di saat yang bersamaan ketika aku melakukan observasi, aku pun mulai melakukan analisa. Yang tentu saja membuat otakku lebih fokus untuk berkutat sendiri tanpa harus menuangkannya dalam respon verbal.

Kali ini, yang paling sering menggangguku adalah mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Aku tahu ini adalah sebuah hubungan yang sangat pribadi dimana akan sangat sulit untuk melakukan pengukuran bahkan penilaian. Dan membuatku bingung yang terkadang membuatku cukp frustasi juga. Tentunya kebingungan yang kumaksud bukanlah mengenai ada tidaknya Tuhan. Saat ini dengan sangat yakin aku mengakui bahwa Tuhan itu benar-benar hadir dalam kehidupanku. Yang kumaksudku disini adalah  HUBUNGAN antara manusia dan Tuhan itu sendiri.
Mungkin aku salah memahaminya selama ini, tapi aku ingin jujur dan mengakui pemahamanku selama ini bahwa ajaran kekristenan yang aku terima selama ini memberikan kesan yang sangat abosulut dalam pelaksanaannya, bak ilmu eksakta yang membutukan logika dan penalaran. Padahal, sebuah hubungan adalah hal yang dinamis, bukan sesuatu yang kaku dan atau absolut. Dan ini juga berlaku dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Manusia dan Tuhan adalah dua pribadi yang memiliki emosi dan perkembangan. Oleh karena itu, menurutku hubungan manusia dengan Tuhan itu sebaiknya tidak dikakukan dengan berbagai ajaran yang membuat hubungan itu menjadi tidak sehat. Mungkin inilah ranah yang belum berhasil disentuh oleh mereka yang memperdalam teologia. Dan yang membuat orang-orang pada akahirnya meninggalkan kekristenannya.

Layaknya sebuah hubungan, dibutuhkan komunikasi dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Khusus untuk hubungan antara manusia dengan Tuhan, komunikasi yang diimani paling mujarab adalah melalui doa dan ritual agama. Bagi banyak orang yang melestarikan tradisi, komunikasi dengan Tuhan harus dilakukan dalam keadaan suci, khusuk, dan melalui berbagai ritual. Aku tidak mengatakan itu salah, karena aku juga mengakui bahwa Tuhan itu adalah pribadi yang kudus. Karena Dia kudus, maka kita pun perlu melakukan pengudusan untuk dapat layak dihadapannya. Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan antar manusia. Aku sendiri pasti mempersiapkan diriku agar layak bergaul dengan seseorang, apalagi dengan Tuhanku. Akan tetapi, seiring dengan perkembanganku sekarang aku mulai mempertanyakan, kalau Tuhan adalah sahabatku, kalau Tuhan adalah Bapaku, kalau Tuhan adalah segalanya bagiku, memaksimalkan hubunganku dengan Tuhanku berarti tidak harus melulu dengan ritual, bukan?

Aku tahu, ritual keagamaan itu sangat membantu dalam mengintimkan hubungan dengan Tuhan. Akan tetapi hasil observasiku selama ini, justru dalam ritual itulah iblis semakin giat bekerja, dan membuat ritual itu mengalami pergeseran fungsi dimana semakin banyak manusia-manusia yang memberikan tempat untuk si iblis berkuasa, hal ini juga terjadi padaku. Ritual keagamaan bukan lagi jalan untuk mengintimkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi menghalalkan manusia mewujudnyatakan obsesinya menjadi sama dengan Tuhan seperti yang pernah dilakukan oleh manusia  pertama.

Mungkin, semuanya diawali dengan kecintaan kita manusia kepada uang. Sebagai contoh, (aku berbicara menurut keyakinanku) di dalam Filipi 1:21 menyebutkan : "Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Bagiku sendiri ayat ini adalah ayat yang paling sulit untuk kulakukan. Dan bukan hanya aku, manusia-manusia di sekitarku pun mengalami kegagalan yang sama denganku dalam mengimani ayat ini. Aku akan sangat berjuang dengan sekuat tenaga, pikiran, dan akal sehatku untuk dapat bertahan hidup, dengan kata lain aku tidak mau mati. Aku ingin terus hidup dan berjuang untuk mewujudkan obsesiku yang aku sendiri tidak yakin untuk tujuan apa. Masih sangat sulit untuk kuimani bahwa hidupku adalah Kristus. Aku masih kuatir dengan masa depanku, dengan apa yang akan kumakan, kupakai, kurasakan, dan kunikmati. Dan aku belum siap mati.

Setiap kali aku membuka facebook, banyak orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku membagi sebagian dari pengalaman hidupnya dengan doa-doa agar mendapatkan hari yang baik, keberuntungan, dijauhkan dari penyakit, tidak merasakan kepahitan, dan hal-hal negatif lainnya. Dan aku pun acap kali melakukan hal yang sama. Hal ini membuatku semakin dilema dalam perkembanganku, yang akhirnya membuatku semakin menyadari bahwa hubunganku dengan Tuhan adalah hubungan yang dinamis. Hubungan yang dinamis yang aku maksudkan disini adalah hubungan yang tidak kaku dan absolut. Seperti hubunganku dengan manusia yang lainnya, ada kalanya aku memberikan kekecewaan kepada mereka, demikian halnya dengan hubunganku dengan Tuhan, bahwa ada kalanya aku pun akan mengecewakan Dia. Dan dalam tahap kehidupanku, Tuhan pun akan melakukan yang sama, mengecewakanku ketika rencanaku tidak sesuai dengan rencanaNya.
Hanya saja, Tuhan mengecewakanku karena Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, Dia mengecewakanku karena Dia menyediakan yang lebih baik untuk kujulani sesuai dengan kemampuanku.

Jujur saja, apa yang kusaksikan dalam usaha manusia di sekitarku melalui ritual agama semakin membuatku mencaci maki yang berakibat meningkatnya dosa-dosaku. Aku benar-benar tidak bisa menjadikan bahwa hidupku adalah Kristus dan kematianku adalah keberuntunganku. Aku masih tertekan dengan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan harapanku. Kalau hidupku memang Kristus, seharusnya aku tidak akan merasa frustasi untuk itu. Aku terlalu fokus dengan hal-hal yang sudah aku tahu pasti tidak akan kubawa mati. Aku terobsesi untuk menjadikan hidup yang hanya sekali ini untuk melakukan yang kumau. Sementara mulutku berkata bahwa hidupku adalah Kristus.
Aku berusaha mencari kekuatan dengan melakukan ritual agama, yaitu pergi ke gereja. Akan tetapi yang kudapatkan bukanlah kekuatan, aku bahkan nyaris tidak merasakan adanya Tuhan disana. Aku semakin sesak nafas melihat orang-orang yang ada di dalam gereja yang sama sekali tidak bisa menjadi garam dan terang. Alhasil yang ada adalah, setiap kali pulang dari ibadah aku tidak mendapatkan kekuatan.

Saat ini, aku lebih sering berbicara sendirian kepada Tuhan. Aku sering bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pernah merasakan kehadirannya di dalam gereja lagi? Padahal aku sangat ingin bersekutu dengan orang-orang seimanku untuk tetap bisa mempertahankan nyalanya terangku dan rasa dari garamku. Aku sudah tahu jawabannya, dan aku masih berjuang untuk meminta kepada Tuhan agar Dia mengirimkan Roh Kudus untuk membantuku merasakan kehadirannya di gereja.
Secara pribadi, aku lebih merasakan Yesus di luar gereja. Dan aku pun semakin terpanggil untuk tetap berada di luar gereja. Mungkin, ini jugalah yang dialami oleh masyarakat di Eropa, bahwa mereka tidak merasakan Tuhan lagi di dalam gereja.

Sekali lagi aku klarifikasikan, aku bukannya ingin menjadi orang yang sok kebarat-baratan karena aku sendiri sangat bangga terlahir menjadi Putri Indonesia.

Insight dari menonton film Barat

Beberapa tahun terakhir ini aku sangat suka menonton film hollywood. Hal yang paling aku suka dari film itu, selain alur ceritanya, juga karakter dari setiap tokoh. Film-film hollywood memiliki karakter tokoh yang sangat kuat dan bisa diterima logika. Dalam banyak hal, akhirnya aku belajar untuk memiliki karakter dari beberapa tokoh yang ada di film hollywood. Biasanya karakter yang ingin aku adapatasi adalah satu atau dua karakter dari beberapa tokoh. Misalnya dalam film GLEE, aku suka dengan beberapa karakter dari tiap tokoh yang ada di dalam film itu. Aku suka dengan karakter Rachel yang diusia masih muda sudah tahu apa yang dia inginkan dan fokus akan itu. Aku suka dengan konsistensinya dalam mewujudkan impiannya. Aku suka dengan semangat Finn dalam memotivasi dan mengajak teman-temannya untuk menunjukkan bakat dan talentanya. Aku suka dengan kebaranian Marcedes, Brytney, Santana, Kurt, Arthhie untuk menjadi diri mereka sendiri. Terlahir dengan keadaan yang tidak umum di lingkungan, tentunya membutuhkan perjuangan yang sangat gigih untuk tetap bisa menegakkan kepala. Mercedes dengan ukuran tubuh yang melebihi ukuran normal, Britney, Santana dan Kurt yang memiliki kecenderungan homoseksual, dan Arthie yang duduk di kursi roda. Mereka adalah anak-anak SMA yang memiliki karakter yang luar biasa yang nyaris tidak pernah kutemukan dalam lingkaran kehidupanku.

Selain itu, aku juga suka dengan dinamika pertemanan yang terjadi di antara mereka, dimana mereka tidak pernah merasa takut untuk berkonflik. Mereka bisa dengan sangat mudahnya untuk menyesuaikan diri dengan konflik itu. Mereka menerimanya seperti mana mereka menerima pujian. Dan memang seperti itulah kehidupan pertemanan, akan selalu ada konflik dan canda tawa. Satu hal lagi, mereka sangat terbuka dengan persaingan. Dua hal terakhir ini adalah hal yang masih sangat sulit untuk kulakukan di dalam hubungan pertemanan yang sedang kujalani. Walau aku sudah terbiasa dengan konflik, tapi konflik yang sering kuhadapi adalah konflik yang tidak terbuka, konflik yang ditutupi dengan senyuman bahwa semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Dengan kata lain kemunafikan, sangat tumbuh subur di lingkunganku. Dan persaingan adalah sesuatu yang buruk yang tidak selayaknya dilakukan.

Dari berbagai karakter yang ada di film barat, aku menyadari bahwa setiap tempat memang memiliki budaya masing-masing. Karakter yang diterapkan diterapkan dalam film barat mungkin baik adanya di lingkungan mereka, tetapi tidak untuk lingkunganku. Oleh karena itulah, terkadang aku mengalami kekacauan dalam bertingkah laku. Dimana, aku ingin sekali meniru karakter mereka yang sangat  terbuka dengan konflik, akan tetapi ternyata aku belum siap. Jantungku masih bergerak dengan kencang karena aku merasa bersalah ketika aku harus mengakui bahwa konflik itu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tidak pada mereka yang menjadi temanku, yang berakhir dengan aku mengalah dan merasa menjadi korban.

Over all, aku bukan orang yang fanatik dengan budaya barat. Aku cukup bangga dengan budaya timur, khususnya dengan budaya Indonesia, dan Batak. Hanya saja dalam banyak kejadian, khususnya dalam menyikapi kehidupan ini, sepertinya karakter budaya barat sangat dewasa sekali. Jauh berbeda dengan budaya Indonesia, dimana orang-orang seusiaku rata-rata sangat manja dan cengeng, yang membuatku tidak betah untuk melanjutkan hubungan dengan mereka. Aku juga cukup cemburu dengan kehidupan yang ditampilkan dalam film-film hollywood, yaitu dalam hal materi. Mereka sangat bebas dalam mengekspresikan diri mereka karena mereka memiliki kehidupan yang nyaman. Semiskin-miskinnya tokoh dalam banyak film hollywood, mereka masih memiliki rumah yang sangat nyaman untuk ditinggali dan lingkungan yang cukup nyaman. Terkadang, pikiran negatif datang menyerangku, inilah akibat dari mereka yang menjajah negaraku secara ekonomi. Mereka yang lebih banyak menikmatinya. Sementara kami disini, masih sangat berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Bahkan untuk kebutuhan primer pun, kami harus berjuang sangat keras untuk mewujudkannya. Apalagi untuk membeli model pakaian yang modis dan nyaman untuk dipakai seperti yang ada dalam film-film hollywood.

Mungkin itu jugalah salah satu yang membuatku terkadang muak dengan orang-orang di sekitarku yang hanya memikirkan perut dan perut. Akhirnya kami lupa untuk menikmati hidup kami dengan menghargai hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kami. Hidup di lingkunganku saat ini memiliki tekanan ekonomi yang sangat luar biasa, yang dipikirkan hanya uang, uang, dan uang. Bukannya aku mengatakan bahwa kehidupan Barat juga demikian, hanya saja mereka melakukan sesuatu itu sangat profesioal sehingga tujuan utama (mendapatkan uang) terlihat kabur.

Kesimpulannya, aku masih yakin bahwa melalui film, karakter orang bisa diubahkan. Sayangnya, film di Indonesia mayoritas tidak memiliki makna kehidupan yang bisa dipedomani dalam kehidupan nyata. Mengapa? Karena kami tidak disosialisasikan untuk berpikir.