Friday, 29 July 2016

Tongam Timothy Sihotang

Ketika mengetahui bahwa aku hamil lagi, ada perasaan cemas apakah kehamilan kali ini akan berakhir dengan melahirkan pada waktunya dan anak yang kulahirkan dalam keadaan sehat, sempurna, dan normal? Atau akankah kejadian dua tahun lalu terulang kembali?

Tidak ingin berandai-andai, memimpikan hal-hal yang baik. Kali ini aku memilih untuk bersikap pasrah. Dulu, aku pernah berharap bahwa semuanya akan berakhir dengan indah, aku akan menjadi ibu dan membesarkan bayiku. Untuk menjaga keseimbangan jiwaku atau mungkin untuk mengurangi keteganganku, ada banyak hari-hari dimana aku bersikap apatis dengan tidak terlalu mengharapkan hal-hal yang baik karena tidak ingin tersakiti dua kali. 

Aku pernah di kondisi itu. Kehamilan pertamaku awalnya semuanya tampak baik-baik saja dan aku pun membayangkan hal-hal baik yang akan terjadi. Akan tetapi yang terjadi justru di luar bayanganku bahkan tidak pernah terpikirkanku, benar-benar menyakitkan. Aku harus menyelesaikan kehamilanku di minggu ke-28 diakhiri dengan meninggalnya bayiku. Tak seorang pun tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu, yang membuatku menjalani masa kehamilan keduaku dengan tidak terlalu mengharapkan dan berimajinasi bahwa semuanya akan berakhir baik-baik saja.

Minggu demi minggu pun terlewati dengan tidak ada kendala yang mengkuatirkan. Kecuali kecemasanku yang semakin bertambah.  Ketika memasuki minggu ke-28 kehamilan keduaku ini aku memutuskan untuk bekerja dari rumah. Aku membutuhkan waktu dan ruang untuk bisa berdamai dengan masa laluku. Puji Tuhan, atasanku mendukungku dan memberikan aku izin untuk bekerja dari rumah selama seminggu. Dan setelah minggu ke-28 terlewati, kecemasanku pun mulai berkurang dan titik harapan yang ada di dalam lubuk hatiku pun semakin besar. Peluangku untuk menjadi ibu semakin besar. Demikian harapanku di dalam hati ini. Seiring dengan perjalananku menuju proses melahirkan, aku pun semakin tamak. Bukan hanya menjadi seorang ibu saja yang kuharapkan, aku juga berkeinginan untuk melahirkan tanpa harus melalui meja operasi lagi dan melahirkan bayi yang sehat, normal, dan sempurna.

Ternyata, kerakusanku tidak mendapatkan restu dariNya. Aku harus melewati meja operasi untuk kedua kalinya. Butuh beberapa hari untukku menerima kenyataan ini, dimana dokter kandungan yang rutin memeriksaku mengatakan bahwa aku tidak bisa melahirkan tanpa operasi karena operasiku yang pertama belum pulih benar, resikonya bekas jahitan yang pertama rusak mengakibatkan rahimku mengalami masalah. Jadi, ternyata setelah operasi caesar apabila ingin melahirkan normal hanya bisa dilakukan apabila bekas jahitan sebelumnya sudah tertutupi kulit dengan ketebalan minial 3mm. Saat itu, bekas jahitanku masih di angka 1,6 mm. 

Alasan kedua adalah aku pernah mengalami operasi mata. Menurut beliau, apabila dipaksakan untuk melahirkan secara normal beresiko mengakibatkan kebutaan. Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa perempuan yang pernah mengalami jahitan di kepala dan di jantung sudah pasti tidak akan bisa melahirkan secara normal. 

Sangat berat bagiku berada di meja operasi untuk kedua kalinya. Aku bukannya takut dengan suntikan atau peralatan medis lainnya. Aku percaya, teknologi kedokteran sekarang sudah begitu hebat, tidak ada yang perlu aku kuatirkan. Satu-satunya yang membuatku merasa cemas dan tegang adalah  operasi caesar pertamaku, aku kehilangan bayiku. Aku takut, aku harus menghadapinya lagi.

Saat berada di meja operasi untuk kedua kalinya, aku berusaha menenangkan diri sendiri. Kehidupan ada di tanganNya. Jikalau Dia berkehendak untuk memberikanku kesempatan menjadi ibu, maka akan terjadi. Akan tetapi jikalau tidak, itu adalah keputusanNya yang harus aku terima bahwa itulah yang terbaik untukku. Berulang kali aku meredam khayalan dan imajinasiku untuk menggendong, membesarkan bayiku ini. Aku tidak mau terlalu jauh masuk ke dunia menjadi seorang ibu karena jikalau tidak terjadi demikian, aku tidak yakin akan kuat untuk bangkit lagi. 

Puji Tuhan, bayi kami lahir dengan berat badan 3,4 kg panjang 50 cm pada tanggal 6 Juni 2016 jam 08.30 pagi. Kami beri nama Tongam Timothy Sihotang. Tongam pemberian dari ayahnya yang diambil dari Bahasa Batak Toba artinya majestic, mighty, very strong, great dimana nama ini kami pilih karena bayi kedua kami ini sungguh tangguh bisa melewati 38 minggu di dalam rahimku. Kami berharap melalui nama ini, dia akan menjadi anak yang Tongam seperti namanya. Sementara nama Timothy adalah pemberian dari ibu mertuaku. Tidak ada filosofi khusus mengapa nama ini diberikan oleh mertua. Yang jelas, mertua sengaja memilih dalam Bahasa Inggris untuk mengingat bahwa beliau adalah pensiunan guru Bahasa Inggris.

Hari-hari awal kehidupan Tongam, bayi laki-lakiku:

Masih ingat bahwa ketika aku hamil tua, aku berharap agar aku bisa melahirkan tanpa harus operasi dan berharap anak yang kulahirkan dalam keadaan sehat?

Kali ini, Tuhan tidak mengabulkan permintaanku. Cukup sudah karunia Tuhan dengan menghadirkan Tongam di dalam keluargaku. Sementara permintaanku untuk melahirkan normal dan Tongam dalam keadaan sehat, sepertinya Tuhan menolaknya. Tapi hal ini tidak membuatku patah arang, aku masih tetap memohon agar Tongam tumbuh menjadi anak yang sehat, normal, dan tidak kekurangan apapun dari seharusnya seorang manusia pada umumnya.

Beberapa jam setelah aku melahirkan Tongam, aku menerima kunjungan dokter umum. Dia menyelutuk bahwa anakku ada kuningnya. Saat ini, aku yang masih belum percaya bahwa aku telah menjadi seorang ibu, tidak langsung merespon celoteh si dokter umum. Selain itu, karena dia hanya dokter umum, bukan dokte anak. Walaupun dalam hati sempat terlintas di dalam pikiranku, mengapa justru dokter umum yang datang berkunjung, mengapa bukan dokter anak? Aku hanya bertanya, apakah bayiku sehat? Dan dia menjawab, iya dia sehat. Aku pun langsung puas dengan jawaban itu, tak menghiraukan celotehnya yang mengatakan bahwa bayiku kuning. Dan dia pun tidak menawarkan solusi apapun. Aku pun berencana untuk menanyakannya nanti apabila dokter anak datang berkunjung dimana hal itu sudah ada dalam paketan proses operasi rumah sakit.

Setelah dokter umum berkunjung, aku didatangi oleh dokter laktasi. Dia menjelaskan segala sesuatu mengenai ASI dimana informasi yang dia berikan sudah basi bagiku. Siapa sih yang ga tau kalau ASI itu baik untuk bayi! Ketika dia memeriksa bayiku, dia bilang bahwa bayiku memiliki tongue tie. Dia terkejut ketika aku memotong penjelasannya dengan mengatakan bahwa aku sudah mengetahui apa itu tongue tie. Yang aku butuhkan sekarang, apa tindakan selanjutnya kalau memang bayiku memiliki tongue tie. Dia bilang, tunggu kunjungan dari dokter anak dulu, diobservasi dulu seminggu ini.

Hari pertama dan hari kedua pun berlalu. Aku mulai bertanya-tanya mengapa dokter anak tak kunjung datang untuk memeriksa bayiku. Ketika proses operasi caesar pun, tidak ada kehadiran dokter anak. Aku sudah mulai tidak tenang. Hari kedua, aku memanggil perawat untuk mengukur suhu tubuhnya, karena menurutku dia sudah mulai demam. Saat itu suhu tubuhnya 37,3. Kata perawatnya masih normal. Tapi hatiku sudah mulai agak kuatir, mungkin disanalah naluriku sebagai ibu sudah mulai muncul. Sementara dokter laktasi, yang hanya memberikan kuliah umum, yang informasinya sudah sangat basi, itulah yang rutin datang mengunjungi di hari pertama dan hari kedua. Di hari ketiga, aku memutuskan untuk melakukan komplain ke pihak rumah sakit. Dimana di dalam tagihan yang mereka berikan ke kami (tagihan itu wajib dibayar, walaupun sesungguhnya kita belum akan check out) ada biaya dokter anak dan juga biaya kunjungan dokter laktasi, serta dokter umum. Aku protes karena kami disuruh membayar biaya dokter anak yang tak kunjung datang memeriksa bayiku dan ketiadaannya di ruangan operasi. Sementara untuk dokter umum langsung saya stop kunjungannya, kehadiran  tidak dibutuhkan. Aku juga minta ganti dokter laktasi. Aku butuh dokter laktasi yang memberikanku penyuluhan bagaimana caranya menyusui, bukan hanya memberikan informasi basi kepadaku.

Karena rumah sakit ini masih sangat baru, mereka sangat cepat di dalam merespon keluhanku. Hari itu juga dokter laktasi diganti. Aku menjelaskan keluhanku bahwa bayiku memiliki tongue tie. Akibatnya bayiku tidak bisa mengisap dan perekatannya tidak sempurna di putingku. Hal ini membuat bayiku tidak bisa menyusu dengan maksimal dan putingku pun menjadi lecet. Dan yang paling fatal adalah, bilirubin bayiku ada di angka yang cukup mengkuatirkan yaitu di angka 26, normalnya adalah di bawah 10. 

Hal ini tidak akan terjadi seandainya ada dokter anak sejak bayiku dilahirkan. Karena adanya kuning di bayiku sesungguhnya sidah terdeteksi sejak beberapa jam setelah dia lahir. Dia bisa merekomendasikan agar dokter laktasi membantuku di dalam menyusui, sehingga bilirubin bayiku tidak akan setinggi itu.

Dokter laktasi yang baru menanyakan kalau saya sudah tahu bayi saya ada tongue tie mengapa tidak langsung diambil tindakan? Aku pun memberikan jawaban karena rekomendasi dari dokter laktasi sebelumnya tunggu observasi dulu selama seminggu. bingung mengapa tidak sejak pertama diketahui adanya tongue tie langsung diambil tindakan?

Besoknya di hari ketiga ketika aku sudah menyiapkan hatiku untuk membawa bayiku pulang ke rumah, aku diperhadapkan dengan kenyataan bahwa bayiku memiliki biilirubin yang tinggi yaitu di angka 26. Jam itu juga, bayiku langsung disinar dengan dua blue light. Lagi-lagi, dokter anak belum juga datang untuk memeriksa bayiku, hanya melalui sambungan telepon saja. Besoknya di hari keempat, sore harinya, si dokter anak pun datang tanpa memberikan penjelasan kepadaku. Padahal dia melihatku ada di ruangan itu. Dia hanya berbicara para bidan dan langsung berlalu. Hatiku hancur menyaksikan itu. Aku melihat betapa dia menghargai kehadiranku sebagai manusia. Dia berlalu dengan begitu sombongnya di hadapanku. Saat itu juga, aku bersumpah tidak akan pernah memakai jasanya lagi. Walaupun para bidan di rumah sakit itu mengatakan bahwa dia adalah dokter anak senior. Melihat attitude dia, membuatku kecewa dan ingin segera mencari dokter anak lainnya.

Seharusnya aku dan bayiku tidak perlu menghabiskan waktu yang cukup lama di rumah sakit. Akan tetapi karena kekurangan managemen pihak rumah sakit, aku dan bayiku akhirnya menginap sampai hari sabtu, 11 juni 2016 di rumah sakit itu. Setelah kami diperbolehkan pulang kami disuruh untuk kontrol lagi tanggal 13 Juni 2016, ke dokter anak yang sama. Namun dalam hati, aku sudah bertekad untuk mencari dokter anak yang lain.

Tanggal 13 Juni 2016, kami kontrol kembali ke rumah sakit yang sama. Walaupun sebenarnya kami sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit ini, kami masih memberikan kesempatan kepada rumah sakit ini untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Kami maklum rumah sakit ini belum ada tiga tahun dan setiap kali kami komplain, mereka langsung cepat tanggap walau hasilnya tetap atau terkadang tidak memuaskan. Selain itu, karena hanya rumah sakit ini yang paling terjangkau jaraknya dari rumah kami.

Setelah kami kontrol dengan dokter anak yang baru, ternyata biliribun bayiku naik kembali. Dua hari sebelumnya, yaitu hari dimana kami membawa dia pulang ke rumah bilirubinnya di angka 12 naik menjadi 25. Sang dokter anak akhirnya merujuk kami ke rumah sakit lain, yang cukup jauh dari rumah kami dengan alasan dia bukan dokter anak yang khusus menangani bayi baru lahir. Di rumah sakit yang dia rujuk, ada koleganya yang khusus menangani bayi baru lahir dan rumah sakit itu juga memiliki fasilitas yang lebih memadai dibandingkan rumah sakit dimana aku melahirkan bayi kami.

Hari itu juga kami membawa bayi kami. Tongam harus di infus dan disinar kembali dengan tiga blue light sekaligus. Kali ini dia sudah dimasukkan ke NICU.  Tanggal 16 Juni 2016, bilirubin Tongam masih di angka 13,9. Akan tetapi, dokter sudah mengizinkan kami membawanya pulang. Menurut dokter, masalah bilirubin akibat perbedaan golongan darah diantara kami (aku golongan darah O dan Tongam golongan darah A) sudah berakhir. Kalau sekarang bilirubinnya masih tinggi kemungkinan itu disebabkan adanya infeksi saluran kemih atau breastmilk jaundice. Selama seminggu setelah kami membawa Tongam pulang ke rumah, dia menjalani terapi antibiotik. Dua minggu selanjutnya ketika kami akan periksa ke rumah sakit sekalian untuk jadwal imunisasi, kami periksa bilirubin Tongam di angka 16.

Dua minggu kemudian, kami periksa lagi ke dokter. Aku memutuskan untuk tidak mencek bilirubin Tongam, cukup sudah selama satu bulan pertama hidupnya di dunia ini, jarum selalu menyentuh tubuhnya. Aku beriman saja bahwa bilirubinnya sudah turun. Sampai hari ini, Tongam sudah hampir berusia 2 bulan, aku tetap beriman bahwa dia akan sehat.

Menjalani dua bulan hari-hari ini dengan, walau aku kurang tidur, aku sangat bersuka cita. Dan tentu saja masih ada kekuatiran mengenai bilirubin bayiku. Dari berbagai pengalamanku, aku belajar bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik yang mampu untuk kutanggung. Dan tentu saja, aku masih tetap berharap, bayiku akan tumbuh menjadi manusia yang sehat dan normal.


Sunday, 15 May 2016

Berpengharapan Yang BENAR

Ini adalah minggu kedua aku menjalani masa cuti melahirkanku. Beruntung dari tempat di mana aku bekerja sekarang, aku mendapatkan cuti melahirkan selama 4 bulan, dimana satu bulan aku ambil sebelum melahirkan dan tiga bulan setelah melahirkan. Sesungguhnya, peraturan kantor adalah bahwa cuti melahirkan itu diambil 1,5 bulan sebelum dan 2,5 setelah melahirkan. Akan tetapi karena kami belum menemukan orang yang akan menjaga anak kami setelah dia lahir nanti, aku memilih untuk mengambil lebih lama di masa setelah melahirkan. Selain itu pekerjaan di kantor yang belum bisa aku tinggalkan waktu itu.

Seminggu pertama masa cutiku, aku menjalaninya dengan bersenang-senang sendiri. Bangun tidur lebih lama, menonton, membaca, dan berjalan-jalan santai di sekitar perumahan. Saat ini, di minggu kedua, aku sengaja meminta kepada Josua, suamiku untuk menemaniku di rumah. Aku merasa kesepian tidak ada dia di rumah. Dan aku menyebutnya bulan madu.  Dalam seminggu ini, aku dan Josua menikmati kebersamaan kami berdua di rumah saja. Bermain game puzzle, memasak, belanja, mandi bersama-sama, menonton, dan saling bercerita. Bercerita tentang apa yang kami rasakan dan apa yanga ada di dalam pikiran kami masing-masing.

Josua, adalah satu-satunya yang membuat masa-masa kehamilan keduaku kali ini sangat jauh lebih menyenangkan. Dia adalah satu-satunya orang yang aku butuhkan di dalam menjalani kehamilanku ini. Aku begitu merasa nyaman, damai dan bahagia oleh karena semua perhatian, pengertian, kepedulian, dan rasa cintanya kepadaku. Dia yang selalu memperhatikan setiap detail kebutuhanku, mengutamakan kenyamananku, dan selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang kuinginkan. Walau aku tahu terkadang dari sekian banyaknya permintaanku, dia sebenarnya keberatan untuk melakukan itu. Misalnya untuk menemaniku selama seminggu ini di rumah. Dimana seharusnya dia berangkat ke Bandung untuk mengerjakan tesisnya yang sudah di batas waktu di akhir bulan ini.

Aku tahu, apa yang terjadi pada kami dua tahun yang lalu, dimana kami kehilangan anak pertama kami, menyisakan trauma yang belum bisa kami tangani dengan baik. Rasa takut dan cemas masih terus menemani kami. Dan karena kejadian itu juga, aku tahu bahwa Josua semakin berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadi suami yang selalu ada untukku. Apalagi setelah dia tahu, bahwa hanya dialah seorang yang bisa membuatku merasa nyaman dan bahagia. Di satu sisi, hal ini membuat dia bingung karena selama kehamilanku ini aku menjadi orang yang sangat bergantung sekali padanya, menjadi orang yang manja kalau ada dia. Aku pun tak tahu apakah ini bawaan bayi atau memang karena pada akhirnya aku menemukan orang yang bisa aku handalankan, tempatku bersandar, dan tempatku bermanja ria tentunya. Tak bisa kupungkiri kalau aku juga terkadang memiliki rasa jenuh menjadi pribadi yang mandiri. Adanya Josua membuatku menyadari bahwa aku juga memiliki kebutuhan untuk dimanja, seperti perempuan pada umumnya.

Secara umum, aku sangat bahagia dengan kehamilan kali ini dibandingkan dengan kehamilanku sebelumnya. Aku lebih memiliki banyak waktu untuk beristirahat dan tekanan yang kuhadapi pun jauh lebih ringan, karena adanya dukungan yang positif dari tempat dimana aku bekerja. Selain itu, perjalana ke kantor dan pulang ke rumah pun jauh lebih ramah dengan kemacetan yang lebih bisa ditoleransi.Terbukti di kehamilanku kali ini, usia kehamilanku sudah menjalani 36 minggu. Kalau kehamilan pertamaku hanya sampai di usia 28 minggu dimana diakhiri dengan meninggalnya anak kami, saat ini semuanya sepertinya berjalan dengan baik. Berharap aku memiliki kesempatan untuk melahirkan dan membesarkan anak ini.

Satu hal yang kupelajari adalah bahwa memang sangat betul sekali bahwa adalah sangat penting untuk selalu bahagia, khususnya saat sedang hamil. Aku sudah membuktikannya walaupun belum sampai tamat karena aku belum melahirkan. Setidaknya, kehamilanku yang kedua ini bertahan lebih lama dibandingkan dengan kehamilanku yang pertama. Aku akui selama masa kehamilan pertama, aku sangat stres, dengan tekanan di kantor, perjalanan dari rumah, dan juga tekanan dari orang-orang terdekat yang begitu sangat memancarkan aura negatif. Di kehamilan keduaku, tekanan dari orang-orang terdekat itu masih tetap ada, akan tetapi waktu telah mendewasakanku untuk tidak terlalu memikirkan orang lain. Waktunya untuk memikirkan diri sendiri dan berhenti untuk mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain. Aku pun berhak untuk bahagia dan menikmati hidup ini, adalah sebuah kalimat yang selalu aku tanamkan di dalam diriku sendiri.

Apakah kehamilan keduaku ini berjalan dengan mulus?

Tentu saja tidak. Aku masih tetap menjalani kehamilanku dengan kesendirianku. Dimana seperti yang aku bilang tadi, bahwa Josua masih tetap harus selalu ke Bandung untuk menyelesaikan tesisnya. Aku masih harus tetap mandiri untuk bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Apalagi selama tiga bulan pertama, aku mengalami mual dan pusing, aku harus tetap bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri jika Josua sedang ada di Bandung. Tantangan kedua yang kami alami adalah kondisi keuangan kami. Josua yang saat ini masih sedang kuliah, pengeluaran harian kami menjadi double sementara penghasilan berkurang drastis. Selain itu dalam 9 bulan terakhir ini, dua orang abangku menikah dimana itu membutuhkan uang yang tidak sedikit dan cukup menguras tabungan kami juga.

Di dalam kondisi keuangan kami yang sudah di ujung tanduk ini, aku berharap sekali bahwa aku akan bisa melahirkan secara normal, dengan alasan biaya yang lebih murah. Maklumlah karena kantor dimana aku bekerja tidak akan memberikan fasilitas biaya melahirkan mengingat bahwa aku belum dua tahun bekerja di sana. Akan tetapi, dokter kandungan dimana aku selalu konsultasi mengatakan bahwa aku tidak mungkin bisa untuk lahir normal karena aku pernah mengalami operasi mata yang mengakibatkan adanya jahitan di mata kiriku. Dokter tersebut mengatakan bahwa akan sangat beresiko sekali kalau aku tetap memilih untuk lahir normal, yaitu menyebabkan kebutaan kepadaku.

Aku cukup kecewa dengan vonis dokter ini. Sampai detik ini, aku masih berharap dapat melahirkan secara normal. Selain karena kondisi keuangan kami, aku juga ingin bisa langsung mengasuh anak kami kelak. Aku sudah pernah mengalami operasi caesar sebelumnya dan itu rasanya sangat sakit sekali. Bagaimana aku bisa mengasuh anak kami nantinya jikalau aku pun perlu mendapatkan perawatan setelah operasi?

Memikirkan ini semua membuatku sulit untuk memejamkan mata di malam hari. Sudah seminggu ini aku tidak bisa tidur di malam hari. Selain itu dikarenakan cuaca juga. Aku selalu merasa kepanasan sampai rambut dan bajuku basah kuyup. Hal ini membuatku mual mencium keringatku sendiri yang menurutku sangat bau. Selain itu, sakit punggung yang begitu sangat menyiksa membuatku susah untuk menentukan posisi yang tepat untuk tidur. Dan, seringnya keinginan untuk buang air kecil di malam hari dimana hal ini bisa sampai 4 kali diantara jam satu dini hari sampi jam 4 dini hari.

Beberapa minggu menjalang kelahiran anak kedua kami ini, ada begitu banyak doa yang selalu aku naikkan kepada Tuhan, khususnya doa untuk mendapatkan hikmah dan kekuatan untuk menerima apapun yang akan Tuhan berikan kepada kami. Hari-hari ini, aku lalui dengan menenangkan hatiku untuk tidak mengatur Tuhan, apalagi memaksa Tuhan untuk melakukan seperti yang kupinta. Dan harus kuakui itu sangat sulit untuk kulakukan. Mengingat aku merasa berhak untuk berpengharapan. Walau sampai detik ini aku pun belum bisa memahami bagaimana seharusnya berpengharapan yang benar itu. Karena pengharapan yang sering sekali kumiliki saat ini adalah pengharapan yang sesuai dengan rencanaku dan tentu saja sangat bertolak belakang dengan rencana Tuhan. Jadi, yang bisa kulakukan saat ini adalah berserah.


Tuesday, 22 March 2016

28 minggu dan 29 tahun

Pagi ini, jam 03.34 aku terbangun dikarenakan suamiku yang sedang di Makasar menghubungiku untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Adanya perbedaan waktu antara Makasar dan Depok, membuat hasianhu salah di dalam memperkirakan waktu. Dia salah membuat alarm, seharusnya dia berencana untuk menghubungiku di jam 06.30 waktu Makasar dimana di Depok iu berarti jam 05.30, sehingga aku tidak perlu bangun terlalu pagi seperti saat ini. Sebenarnya suami sudah mengatakan bahwa jikalau aku tidak bisa tidur kembali, aku diperbolehkan untunk menghubunginya kembali. Akan tetapi, aku tidak mau membuat dia semakin merasa bersalah, dia telah merasa bersalah karena tidak bisa bersama-sama denganku di hari ulang tahunku, dan saat ini dia pun merasa bersalah karena membangunkanku terlalu cepat yang membuatku tidak bisa tidur dan akan berdampak aku akan kekurangan tidur.

Mencoba untuk tidur kembali, mata dan pikiranku sudah enggan untuk bersama-sama dengan kasur dan bantal. Setelah setengah jam kulewati dengan mencoba untuk mendamaikan mataku dengan bantal, dimana hasilnya adalah kegagalan, maka aku pun membuka laptopku dan menulis. Dan disinilah aku, menulis untuk bisa membunuh kesendirianku di hari ulang tahunku.

Aku paling tidak suka dengan kondisi kesendirian. Akan tetapi entah mengapa, Tuhan selalu memberikan kondisi ini kepadaku. Berulang kali aku mengatur untuk tidak mengalami kesendirian ini, berulang kali juga Tuhan menyatakan rencanaNya. Seperti saat ini, ketika suamiku ke Makasar, aku sebenarnya tidak nyaman bila harus sendirian. Aku pun mengatur agar aku memiliki teman di rumah. Aku meminta Winda, Kak Sophia, dan Debora untuk menemaniku di rumah. Mereka sudah setuju awalnya, aku pun senang bahwa aku tidak akan menghadapi kesendirian ini. Akan tetapi Tuhan berencana lain, ketiga teman yang kuharapkan datang untuk menemaniku tidak jadi datang ke rumahku. 

Kecewa iya. Kondisi ini meningatkanku ke kejadian-kejadian lain di dalam hidupku bahwa aku bukanlah menjadi prioritas bagi orang lain. Aku selalu menjadi cadangan dan diwajibkan untuk mengerti kondisi orang-orang di sekitarku. Ini menjadi pelajaran buatku bahwa ketika aku sudah berjanji kepada orang lain dan ketika ternyata ketika ada janji lain yang lebih menarik, maka aku bisa untuk membatalkan janji yang pertama itu.Tidak perlu merasa bersalah. Hidup ini adalah pilihan. Aku tidak harus selalu mnyenangkan hati setiap orang. Yang terutaama adalah apa yang kuinginkan dan apa yang tertarik untuk kulakukan.

Semakin bertambahnya usiaku, aku belajar untuk semakin mengutamakan kepentinganku dan kenyamanan hatiku. Kalau dulu aku selalu mengalah dan mengorbankan hatiku demi orang-orang di sekitarku, sekarang aku sudah membatasi diri untuk tidak mengalah dan berkorban lagi. Aku pun mulai merasa bahwa hatiku juga berhak untuk dibuat nyaman. Walaupun aku harus membayar harga dari keputusan yang kuambil ini, aku semakin tidak memiliki teman. Satu-persatu mereka yang dulu yang membuatku selalu mengalah dan berkorban untuk mereka, setelah aku membatasi diri untuk tidak melakukan itu lagi, mereka pun mundur teratur dari kehidupanku.

Aku merasa kehilangan tentunya. Akan tetapi aku juga tidak boleh menjadi tamak. Sebagai gantinya Tuhan telah memberikan kepadaku seorang suami yang bisa menjadi segalanya bagiku. Dan sebentar lagi pun, Tuhan akan menghadirkan anak kedua kepadaku dan suami. Aku sudah memiliki kehidupan baru yang membuatku akhirnya bisa menerima rasa kehilanganku.

Untuk kehamilan keduaku ini, aku benar-benar berserah kepada Tuhan dan membuka diriku untuk menerima rencanaNya. Apapun itu, aku percaya Dia akan memberikanku kekuatan. Demikian halnya kepada suamiku. Aku percaya kepada Tuhan dan mensyukuri untuk setiap pekerjaan tanganNya kepadaku dan suami.

Terima kasih Tuhan, masih teringat jelas, dulu ketika usia kehamilanku menjelang 28 minggu tepat seperti kondisi saat ini, aku berbaring di rumah sakit. Saat ini, aku bisa duduk disini menikmati hari baru, hari ulang tahunku, dalam keadaaan sehat. Di usia kandunganku 28 minggu, aku berusia 29 tahun. 
Terima kasih Tuhan, ketika orang-orang masih bergumul unutuk mendapatkan pasangan, Tuhan memberikanku suami yang begitu mencintaiku. 
Terima kasih Tuhan, ketika orang bergumul untuk mendapatkan keturunan, Tuhan menginjikanku untuk merasakan kehamilan kedua dimana sampai detik ini, aku dan bayiku dalam keadaaan sehat. Kondisi kehamilanku baik-bai saja.
Terima kasih Tuhan, ketika orang bergumul untuk mendapatkan pekerjaan Tuhan memberikanku berkat pekerjaan yang membuatku semakin dekat kepadaMu.
Terima kasih untuk ketenangan pikiran, untuk kedamaian hati yang selalu Tuhan berikan kepadaku. Berkaryalah Engkau Tuhan di dalam hidupku, jadilah rencanaMu dan berikan aku kekuatan untuk menerima setiap rencanaMu.

Kata orang, berdoa ituh harus spesifik. Aku tidak percaya karena sesungguuhnya Engkau jauh lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hidupku dan untuk suamiku. Kalaupun nanti apa yang Kau berikan tidak sesuai dengan apa yang kami harapan, kami tahu bhwa Kau akan memberikan kekuatan untuk kami bisa menerima itu dengan sebuah keyakinan bahwa itulah yang terbaik untuk kami.

Aku dan suami percaya kepadaMu Tuhan dan menyerahkan kehidupan kami, kehidupan anak kami kepadaMu.



.

Sunday, 21 February 2016

ARTI SEBUAH KEBANGGAAN


Akhir-akhir ini, begitu banyak pro dan kontra mengenai Rio Haryanto, yang akan mengikuti kompetisi di Formula One 2016/2017. Pro karena untuk pertama kalinya orang Indonesia bisa mengikuti kompetisi olah raga mahal ini. Kontra karena ternyata Rio Haryanto membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit, dimana PERTAMINA (perusahaan minyak Indonesia) dan juga Pemerintah Indonesia mendukung sang olahragawan dengan menyumbangakan dana yang katanya seharusnya lebih baik digunakan untuk hal lain, misalnya untuk kesehatan dan pendidikan rakyat Indonesia dibandingkan untuk mendukung seorang Rio Haryanto.

Fenomena ini membuat saya teringat dengan fenomena yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu contohnya adalah ketika akan melangsungkan pernikahan. Mari kita cermati, ketika kita memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, berapa biaya yang dibutuhkan? Mulai dari biaya gedung, biaya makanan, souvenir, pakaian pernikahan, dan biaya-biaya lainnya. Bukankah sebaiknya uang sebanyak itu lebih baik dipergunakan untuk modal usaha pengantin baru? Mengapa tidak cukup hanya menikah di catatan sipil saja, tidak perlu melakukan resepsi  dan atau melakukan acara adat di hotel atau gedung pernikahan?

Tentu saja alasan utamanya adalah karena adanya rasa suka cita, adanya rasa bangga. Pengantin dan keluarga pengantin merasa bersuka cita dan memiliki kebanggaan sehingga perasaaan ini dituangkan ke dalam perayaan dengan resiko mengeluarkan banyak uang. Bahkan tidak sedikit yang memilih untuk berutang! Melangsungkan resepsi dan upacara pernikahan adat di kota besar di Indonesia, MINIMAL membutuhkan dana sebesar Rp 30.000.000,00. Uang sebanyak ini seharusnya bisa dipergunakan untuk modal usaha, mengkredit rumah baru, atau untuk yang lainnya. Akan tetapi, di masyarakat kita, hal ini adalah tindakan yang lumrah. Walaupun biaya resepsi dan acara adat pernikahan mahal, masyarakat kita tidak pernah jera untuk melangsungkan pernikahan di hotel maupun gedung-gedung pernikahan. Buktinya, saat ini bisnis pernikahan berkembang dengan sangat subur. Dan setiap sabtu telah dinobatkan menjadi hari kondangan di kota-kota besar di Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi di komunitas di mana aku dibesarkan. Di dalam komunitasku, pendidikan adalah hal yang terutama. Hanya agar semua anak-anak mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, banyak keluarga-keluarga menengah ke bawah di komunitasku memilih untuk tidak makan tiga kali sehari, rumah hampir roboh, kalau sakit tidak dibawa ke rumah sakit, semua dana diutamakan untuk biaya sekolah anak-anaknya. Mengapa?

Lagi-lagi alasannya adalah karena sebuah kebanggaan bagi para orang tua di komunitasku apabila anak-anaknya mampu memperoleh gelar pendidikan. Sekali lagi, intinya adalah KEBANGGAAN.

Kembali ke Rio Haryanto. Kalau saat ini PERTAMINA dan Pemerintah Indonesia mendukung sang olahragawan ini, menurutku adalah sah-sah saja. Memang benar, biaya yang dibutuhkan sangat besar. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah KEBANGGAAN.
Kalau ditanya apa yang akan didapatkan oleh Indonesia dari dukungan yang diberikan oleh PERTAMINA dan Pemerintah Indonesia? Jawabannya, banyak bangat.
  1. Indonesia akan lebih dikenal di dunia Internasional. Orang-orang di luar sana tidak lagi berkata, Indonesia itu dimananya BALI?
  2. Rasa bangga ketika logo PERTAMINA terpapar di dunia Internasional. Orang-orang di luar sana akan bertanya, apa itu PERTAMINA, dan mereka akan tahu bahwa itu adalah perusahaan minyak di Indonesia. Selama ini, dunia Internasional hanya mengenal SHELL, PETRONAS, dll. Di tengah-tengah gejolak harga minyak sekarang, PERTAMINA, perusahaan minyak Indonesia mampu mendukung seorang olahragawan di ajang olah raga bergengsi ini. Saatnya mengangkat harga diri bangsa Indonesia. Selama ini Indonesia lebih banyak dikenal dengan hal-hal yang negatif, inilah momentum yang tepat untuk menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia itu adalah negara yang besar. Jangan pandang remeh lagi dengan bangsa kita ini.
  3. Langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mendukung Rio Haryanto adalah untuk membangun image dan brand Indonesia yang baru. Untuk membangun brand, tentu saja membutuhkan dana yang besar. Kata siapa biaya branding itu murah? Dan masih bertanya lagi, apa yang akan didapat kalau  Indonesia memiliki branding yang oke di mata dunia? Tidak pernah beli barang branded ya?
  4. Kalau kita jeli mengamati kondisi masyarakat Indonesia, salah satu cara untuk memupuk rasa nasionalisme adalah melalui olahraga. Masih ingat ketika tim sepakbola Indonesia melawan tim sepakbola Malayasia? Betapa nasionalisme kita terpapar jelas di sana, tidak peduli agama apa yang kita yakini, dari suku mana kita berasal, merk gadget yang kita pakai (samsung, apple, BB,etc), semuanya sepakat mendukung timnas. Moment-momen seperti inilah yang dibutuhkan rakyat Indonesia, agar rasa persatuan dan kesatuan itu tetap berkobar. Dan masih bertanya untuk apa rasa persatuan dan kesatuan itu perlu dikobarkan? Ketika pelajaran PPKn di sekolah tidak tidur, kan?

Aku adalah pengikut Yesus. Ketika seorang perempuan bernama Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang sangat mahal, para murid-murid Yesus pun mengkritisi tindakan perempuan itu. Mengapa minyak semahal itu dipergunakan untuk meminyaki kaki Yesus, bukankah minyak itu sebaiknya dijual dan uangnya diberikan kepada fakir miskin?
Jawaban Yesus adalah, "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang miskin akan selalu ada padamu, tetapi aku tidak akan selalu ada bersama-sama kamu ( Mat 26 : 10 - 11).

Lihat saja, sudah 2016 tahun sejak zamannya Yesus, orang miskin ternyata memang masih selalu ada di antara kita. Memodifikasi jawaban Yesus, akan tetapi orang yang berprestasi yang bisa menjadi salah satu peserta kompetisi F1 dari Indonesia tidak akan selalu ada. Buktinya, sudah berapa kali diadakannya kompetisi F1 di dunia ini, baru kali ini Indonesia mencetak seseorang yang bisa mengikuti kompetisi ini.

Dan kalau ada yang bilang bahwa F1 itu bukan olah raga, setidaknya sampai detik ini aku belum pernah melihat pembalap F1 yang memiliki berat badan over weight atau obesitas, melainkan memiliki tubuh yang ideal. Sekilas dapat disimpulkan bahwa mereka pun melakukan olahraga, minimal agar berat badan dan bentuk tubuhnya tetap ideal.

Jadi, sama seperti pemerintah Indonesia dan PERTAMINA, aku pun akan mendukung Rio Haryanto dalam kompetisi F1 2016/2017. Sekali lagi, memang harus dibayar dengan mahal, karena itulah ARTI DARI SEBUAH KEBANGGAAN.

23 menjelang 24 minggu

Saat ini kehamilanku memasuki minggu ke 24, nyaris 6 bulan. Puji Tuhan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aku bahagia dan tekanan yang kualami baik dari pekerjaan maupun dari lingkungan sekitar berkurang drastis dibandingkan dengan kehamilan pertamaku.

Keluhanku saat ini adalah sakit punggung dan sakit pinggang. Dua hari terakhir ini menjadi sakit punggung dan sakit pinggang terparah yang pernah kurasakan sepanjang hidupku. Aku tidak bisa tidur, tidak nyaman duduk, tidak leluasa di dalam melakukan aktivitasku.

Dari beberapa informasi yang kubaca, sakit punggung dan sakit pinggang itu biasa dirasakan oleh ibu hamil. Dan aku juga sudah mencoba beberapa tips yang disarankan seperti meletakkan handuk hangat ke tempat yang sakit, berbaring miring ke arah kiri, banyak minum, dan memakai salep hangat. Tapi, rasa sakit masih belum juga hilang.

Katanya sakit punggung dan sakit pnggang pada ibu hamil juga mungkin disebabkan karena stres. Aku pun bertanya-tanya kepada diriku, apakah saat ini aku stres?
Sepertinya tidak. Tapi mungkin juga iya. Hari gini siapa sih yang tidak stres? Tapi masa iya hal ini membuatku menjadi semakin sakit punggung dan sakit pinggang?

Oh iya, dibandingkan dengan kehamilanku yang pertama, gerakan janin yang ada di dalam kandunganku di kehamilan yang kedua ini,  begitu sangat aktif. Aku sangat senang sekali bisa merasakan gerakan-gerakannya yang sangat aktif itu. Hal ini membantuku melewati rasa kesepianku ketika aku sendirian di rumah, saat suamiku pergi ke luar kota.

Video ini adalah salah satu moment aku merasakan gerakan anakku di dalam rahimku.
video




Monday, 8 February 2016

TIPS MEMILIH JURUSAN KULIAH







Pertanyaan yang selalu datang kepada adik-adik yang duduk di bangku sekolah, khususnya di SMA dan sederajat adalah jurusan apa yang akan dipilih setelah menyelesaikan masa sekolahnya. Beruntung bagi mereka yang sekolah di perkotaan, mendapatkan keputusan dengan adanya bantuan psikotest yang sering sekali diadakan di sekolah masing-masing. Atau  adanya orang tua yang mampu memfasilitasi mereka bertemu dengan para psikolog untuk mengetahui bakat dan minat mereka.

Lalu bagaimana dengan adik-adik yang kerap sekali tidak mendapatkan refrensi di dalam mengambil keputusan ini?

Adik-adik tidak sendirian. Saya juga pernah ada di posisi itu sekitar 10 tahun yang lalu. Kebingungan dan nyaris tersesat di dalam memutuskan pilihan jurusan. Berikut adalah beberapa tips berdasarkan pengalaman saya yang semoga bisa membantu adik-adik semua di dalam memilih  jurusan yang akan dipilih untuk didalami nantinya setelah menyelesaikan masa SMA sederajat.

  • Kenali kondisi perekenomian keluarga, dalam hal ini pada umumnya perekonomian ayah dan ibu. Atau siapa saja yang berperan aktif di dalam pembiayaan hidupmu. 
Mengapa? 

      Di dalam fenomena yang ada di kehidupan masyarakat kita, mari berpikir realistis. Tujuan setiap orang tua menyekolahkan anak-anaknya adalah agar anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Pendidikan adalah satu cara paling efektif untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, di dalam pemilihan jurusan perkuliahan, sangat penting untuk mengenal kondisi perekonomian keluarga. 
    Apabila kamu memiliki orang tua dengan perekonimian  di tahap menengah ke bawah, pada umumnya harapan mereka setelah kamu kuliah adalah menghasilkan uang secepat mungkin dan kalau bisa dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu pilihlah jurusan yang berpeluang dalam menghasilkan uang dengan cepat dan dalam jumlah yang besar.
    Saat ini jurusan yang paling banyak mendapatkan apresiasi dari perusahaan-perusahaan adalah jurusan teknik, seperti teknik informatika, teknik industri, teknik elektro, teknik sipil, teknik perkapalan, teknik pertambangan, teknik kelautan, dan berbagai jenis jurusan teknik lainnya. Tentu saja, dengan syarat harus bekerja di perusahaan yang sesuai dengan jurusan kamu nantinya. Misal, teknik informatika baiknya bekerja di perusahaan IT, bukannya sebagai teller di bank.
    Faktor lainnya yang akan menjadi penentu besarnya gaji yang akan kamu terima ketika selesai kuliah adalah universitas yang kamu pilih. Saat ini Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) masih menjadi tiga universitas negeri yang memiliki peluang digaji lebih besar. Apabila perekonomian keluargamu berada di level menengah ke bawah, kuliah di Universtitas Negeri tentu saja menjadi pilihan utama, mengingat biaya kuliah yang jauh lebih murah dibandingkan dengan kuliah di universitas swasta. Akan lebih baik lagi apabila kamu bisa diterima di salah satu tiga universitas yang saya sebutkan di atas karena peluang untuk mendapatkan beasiswa akan lebih besar.
    Sementara, jika orang tuamu memiliki cukup harta dalam hal ini mereka tidak terlalu pusing dengan apa yang akan mereka makan besok hari, yang terutama adalah anak-anaknya memiliki titel dan kalau bisa kuliah di universitas ternama, maka SELAMAT, hidupmu akan jauh lebih ringan. Kamu bisa bebas memilih jurusan apa saja yang kamu suka. Yang penting adalah komitmen kamu untuk menyelesaikan studymu demi orang tuamu.
  • Kenali dirimu sendiri
    Saya tahu ini adalah pekerjaan yang paling berat untuk adik-adik SMA sederajat. Jangankan kalian yang masih berusia 18 tahun, bahkan yang sudah berusia 40 tahun pun belum tentu mengenal dirinya sendiri! Kalau kamu tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti psikotest, untuk mengetahui bakat dan minatmu, kamu bisa mempertanyakan beberapa pertanyaan kepada dirimu sendiri. Pertanyaan dasar pertama yang bisa kamu tanyakan kepada dirimu sendiri adalah apa yang kamu inginkan?
Mayoritas anak-anak SMA sederat akan menjawab membahagiakan orang tua. Selanjutnya, kamu bisa mengajukan pertanyaan lanjutan kepada orang tuamu, bagaimana cara yang memungkinkan untuk kamu lakukan agar bisa membahagiakan mereka. Hal ini dibutuhkan agar baik kamu dan orang tua memiliki tujuan yang sama. Akan lebih baik lagi apabila nantinya orang tua mengatakan bahwa kebahagiaanmu adalah kebahagiaan mereka. 
    Setelah kamu mengetahui apa yang menjadi harapan dari orang tuamu, langkah selanjutnya adalah kenali kemampuan dirimu sendiri. Seberapa pintar dirimu nantinya untuk menyelesaikan setiap soal-soal yang diberikan oleh universitas yang akan kamu pilih. Kalau kamu memilih tiga universitas yang saya sebutkan di atas, maka salah satu syarat utama agar kamu diterima adalah kamu harus bisa menyelesaikan seluruh soal-soal MM dengan benar. Syarat kedua, apabila pilihanmu di universitas itu adalah jurusan IPA, maka selain soal MM, soal Fisika, Kimia, dan Biologi sebaiknya juga harus benar semua. Kalau tidak bisa benar semua, setidaknya perbandingan yang benar harus jauh lebih besar dibandingkan dengan perbandingan yang salah.

Itulah dua tips besar yang mungkin bisa membantu adik-adik di dalam mengambil keputusan untuk memilih jurusan yang nantinya akan dijalani. Dimana kedua tips ini tentu saja masih membutuhkan operasional yang lebih mendetail tergantung dengan gaya adaptasi dari adik-adik.

Saya sendiri karena berasal dari keluarga yang miskin harta, lulus kuliah di Perguruan Negeri adalah syarat mutlak untuk bisa kuliah. Dan saat itu, saya membidik universitas terbaik yang ada di Indonesia, alasannya hanya satu yaitu jurusan apapun di universitas terbaik di negeri ini pastinya akan jauh lebih dihargai sepanjang masih di Indonesia. Dan tentu saja untuk mengincar beasiswa. Saya berpikir realistis untuk tidak terlalu bersikap sok idealisme memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat saya. Bagi saya dulu yang terpenting adalah bisa kuliah dulu, dan kuliah di Universitas terbaik di Indonesia tentunya. Yang lain-lainnya, akan saya jalani selanjutnya. Dimana semua disiplin ilmu itu baik adanya, jurusan apapun yang akan saya pilih pastinya semuanya akan sangat bermanfaat jikalau kita sendiri komit untuk menyelesaikannya.

Saya memilih jurusan psikologi di Universitas Indonesia. Jujur, saya tidak mengetahui apapun mengenai jurusan ini. Pengetahuan saya benar-benar kosong mengenai jurusan ini. Apa yang dialami oleh Harry Potter ketika pertama sekali dia mengetahui bahwa dia adalah penyihir, ketidaktahuan dia tentang dunia sihir bisa saya rasakan karena saya juga merasakannya ketika pertama kali saya si gadis kampung pertama kali tiba di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Tekad saya untuk bisa kuliah di universitas terbaik di Indonesia dan menyelesaikannya dengan tepat waktu adalah motivasi saya untuk bisa tetap bertahan dan memperjuangkan mimpi saya. Dan saya beruntung sekali karena saya tidak salah memilih, tepat seperti dugaan saya ketika saya masih duduk di bangku SMA bahwa alumni dari universitas terbaik di negeri ini akan selalu mendapatkan penghargaan lebih dari pengusaha-pengusaha dalam hal gaji. Tentu saja ini bukan melulu karena almamater saya, melainkan dari segi para alumni pun ada beban mental untuk memberikan yang terbaik setelah meninggalkan perkuliahan. 

Jadi, adik-adik jangan terlalu ribet di dalam memilih jurusan. Semua jurusan itu baik adanya. Sekarang apa yang menjadi kebutuhanmu, kebutuhan orang tuamu. Dan selaraskanlah itu dengan otakmu. Apabila kamu punya punya orang tua yang kaya raya, keberadaan otakmu sih bisa dinomortigakan, karena sekarang banyak universitas yang bisa memberikan jurusan apapun yang kau inginkan sesuai dengan kekayaan orang tuamu. Bagi adik-adik yang memiliki orang tua seperti saya, tidak memiliki harta, daripada ribet memilih jurusan, mending sekarang asah otakmu dulu karena jurusan apapun yang akan kau pilih akan tersedia selama kapasitas otakmu mampu.

Sunday, 17 January 2016

KALAU BISA GRATIS, MENGAPA HARUS BAYAR?

Beberapa kali dalam berbagai kesempatan aku bertemu dengan banyak orang yang sangat senang menikmati hal-hal yang berbau gratis. Bukan karena tidak mampu secara materi, melainkan telah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri apabila mampu mendapatkan sesuatu yang gratis. Kalau ada yang gratis, mengapa harus bayar? Pola pikir seperti ini, masih terukir indah di masyarakt kita. Aku sendiri tidak mau menjadi manusia yang naïf, aku akui mendapatkan sesuatu yang gratis itu adalah anugrah, akan tetapi kalau sampai memfokuskan diri untuk melulu mendapatkan yang gratis, menurutku itu bukanlah sikap yang harus dipertahankan apalagi disosialisasikan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita.
Salah satu pengalamanku yang paling fenomenal mengenai kegratisan ini adalah ketika aku kuliah di Universitas Indonesia dimana ada begitu banyak mahasiswa yang mengajukan surat tidak mampu untuk bisa kuliah gratis. Memalsukan dokumen pendukung yang dibutuhkan bahkan sampai acting berpura-pura menjadi orang tidak mampu. Setelah permohonan dikabulkan, maka yang bersangkutan akan bangga mengatakan betapa dia telah berhasil mendapatkan kegratisan itu.
Hal yang sama juga aku temukan di dalam lingkunganku bekerja. Untuk setiap karyawan yang melakukan perjalanan dinas diberikan biaya maksimal sejumlah X, dimana apabila biaya sejumlah X ini tidak habis wajib dikembalikan kepada organisasi. Akan tetapi kenyataannya banyak karyawan yang mempergunakan biaya perjalanan dinas itu secara maksimal, nyaris tidak pernah ada sisa. Lagi-lagi sebuah sikap dimana kegratisan itu sangat menyenangkan.
Budaya menikmati kegratisan inilah yang bertumbuh sangat subur di Indonesia, di masyarakat kita. Kita semua pasti tahu dengan program kesehatan yang saat ini sedang berlaku di Indonesia, yang lebih dikenal dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Program ini sesungguhnya merupakan program yang sangat menakjubkan, dimana setiap orang di Indonesia khususnya mereka yang penghasilannya di bawah UMR atau bahkan yang tidak memiliki penghasilan memiliki kesempatan untuk memperoleh layanan kesehatan dengan harga yang terjangkau atau bahkan gratis. Prakteknya? Mari kita lihat, BPJS ini lebih banyak dinikmati oleh mereka yang sangat suka dengan kegratisan.
Beberapa waktu yang lalu, seorang kerabat sangat bangga menceritakan kepada kami, bagaimana dia berhasil mendapatkan layanan gratis ini. Padahal kerabat ini memiliki rumah sendiri dimana-mana, kendaraan pribadi tiga, dan masih banyak lagi harta yang dimiliki. Akan tetapi masih tetap saja mencari  layanan yang gratis.

Banyak orang yang mengeluhkan bahwa layanan BPJS yang diberikan oleh pemerintah saat ini masih jauh dari sempurna dan bahkan sangat mengecewakan. Pemerintah, para petugas medis, dan staf BPJS tidak jarang mendapatkan makian dari masyarakat yang dikecewakan oleh layanan ini. Akan tetapi, mari kita kritisi kembali sikap hati kita terhadap program ini. Dana BPJS diambil dari APBN dan biaya APBN ini tentu saja membutuhkan persetujuan DPR. Kita lihat sendiri bagaimana sikap kerja DPR kita. Aku tidak perlu membahasnya di sini. Dari segi masyarakat, peserta BPJS, dipungut biaya untuk program ini. Akan tetapi, secara logika dengan sejumlah dana yang kita keluarkan untuk BPJS, tidak akan mencukupi untuk mendanai kesehatan untuk seluruh masyarakat yang ingin gratis. Yang terjadi adalah antrian layanan BPJS yang sangat panjang.

          Aku  berasal dari keluarga yang tidak kaya. Bapakku seorang tukang becak dan ibuku pedagang kaki lima. Aku kuliah dengan gratis di Universitas Indonesia, tetapi untuk kebutuhanku sehari-hari aku tetap harus bekerja. Sesungguhnya aku bisa saja memanfaatkan kondisi kemiskinan ini, akan tetapi aku malu mendapatkan sesuatu yang gratis. Sejujurnya, aku juga malu kuliah gratis di Universitas Indonesia, akan tetapi aku tidak ada pilihan lain, karena aku ingin kuliah. Ketika di kehamilan pertamaku, seharusnya aku bisa menikmati layanan BPJS dari program pemerintah ini, karena suamiku adalah Pegawai Negeri Sipil, dimana secara otomotis  aku berhak mendapatkan layanan BPJS ini. Di smaping itu, aku juga wanita bekerja dimana sebagian dari gajiku sudah dipotong untuk biaya BPJS. Akan tetapi, kami memilih untuk menggunakan gaji kami sendiri untuk biaya konsultasi dan bahkan untuk biaya operasi melahirkanku. Bukan karna kami sekarang sudah kaya dan tidak membutuhkan program BPJS lagi, melainkan kalau memang kami masih bisa membayar, mengapa harus memilih yang gratis?

Aku dan suami berjanji bahwa kami hanya akan menggunakan BPJS, apabila kami benar-benar sudah tidak mampu lagi di dalam membayar biaya kesehatan kami. Karena BPJS itu memang ditujukan bagi yang tidak mampu. Kalau kita masih mampu memiliki rumah sendiri lebih dari satu, memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu, memiliki penghasilan berlipat-lipat kali ganda dari nilai UMR, bukankah kita seharusnya malu bila masih tetap antri untuk menggunakan BPJS? Kalau kita bisa beli gadget yang harganya jutaan rupiah, bisa makan di mall hampir tiap hari, berlibur ke luar negeri, masakan untuk beli obat dan periksa ke dokter yang harganya tidak lebih dari 500 ribu harus menggunakan BPJS?

Sementara saudara-saudara kita yang makan saja susah, ketika mereka berobat menggunakan BPJS akhirnya tidak bisa dilayani dengan cepat dikarenakan kita telah “mencuri” haknya. Memang benar, adalah kewajiban negara untuk menjamin kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, akan tetapi kita yang memiliki moral sudah seharusnya membantu program pemerintah ini dengan cara mengutamakan yang lebih berhak untuk mendapatkannya. Percayalah, kita tidak akan miskin hanya dengan memberi kesempatan itu kepada yang lebih membutuhkan dibandingkan dengan kita. Di samping itu, para tenaga medis pun tidak akan selalu kewalahan dengan panjangnya antrian yang membuat mereka akhirnya bisa memberikan pelayanan secara maksimal. Tenaga medis pun manusia, mereka pun akan kelelahan apabila setiap hari dikerumuni oleh masyarakat yang selalu ingin gratis.

Seharusnya kita bangga menikmati kegratisan karena kita berprestasi, bukan karena kita miskin materi. Dan, yang terutama, bijaksanalah menggunakan hak kita.

Saturday, 9 January 2016

Orang Indonesia

Beberapa kali aku berkesempatan mengamati orang - orang Indonesia, yang berasal dari berbagai daerah. Kebenaran aku kuliah di Universitas Indonesia, dimana sesuai namanya Universitas ini terdiri dari berbagai macam orang Indonesia, semua suku di Indonesia sepertinya ada di Universitas ini. Proses pengamatanku terhadap orang - orang Indonesia, terus berlanjut dimana aku bekerja di bagian penempatan orang - orang untuk posisi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan perusahaan.

Hasil pengamatanku terhadap orang - orang Indonesia yang memiliki banyak budaya, memberiku beberapa kesimpulan. Dimana dengan tegas aku katakan  bahwa kesimpulan yang aku ambil ini belum diteliti secara ilmiah hanya berdasarkan pengamatanku selama 10 tahun menjadi anak rantau yang telah bergaul dengan hampir seluruh suku yang ada di Indonesia. Untuk mempermudah kesimpulan ini, aku membagi dua pengelompokan orang Indonesia, yaitu orang - orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa (walaupun orang tua mereka berasal dari luar Pulau Jawa, akan tetapi apabila mereka telah lahir dan besar di Pulau Jawa, tetap aku masukkan ke dalam kategori ini) dan juga orang - orang yang lahir dan besar di luar Pulau Jawa. Durasi waktu lahir dan besar di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa adalah antara 15 - 18 tahun.

Berikut adalah beberapa kesimpulan yang bisa aku paparkan :
  1. Orang - orang yang berasal dari luar Pulau Jawa dalam menggunakan Bahasa Indonesia lebih baik dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, dibandingkan dengan mereka yang lahir dan dibesarkan di Pulau Jawa, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Orang - orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa, khususnya di Jakarta dan sekitarnya dalam kesehariannya dimana kebiasaan ini terbawa - bawa ke dalam perbincangan formal, menggunkan bahasa gaul. Dan fenomenanya, justru dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik inilah yang dianggap mencerminkan masyarakat "kota", sementara yang tidak, dinilai sebagai "kampungan". Dampaknya apa?
  2. Orang - orang yang berasal dari Pulau Jawa yang tidak bisa beradaptasi dengan cepat dalam penggunaan bahasa gaul tersebut sering sekali dan hampir selalu menjadi bahan candaan di dalam pergaulan sehari - hari, yang secara tidak disadari membuat konsep diri mereka menjadi menurun, akhirnya yang muncul ke permukaan adalah rasa minder. Apalagi dengan dialek daerah yang tidak bisa hilang begitu saja, akan menjadi lelucon bagi mereka yang lahir di Pulau Jawa. Hal ini mengakibatkan orang - orang yang berasal dari luar Pulau Jawa berusaha dengan keras untuk sama seperti orang - orang yang berasal dari Pulau Jawa, menggunakan bahasa gaul tersebut. Dimana tidak semua mereka bisa berhasil menggunkannya dengan baik dikarenakan dialek yang sudah lama terbentuk. Sebagai contoh, aku yang sudah menghabiskan 18 tahun awal kehidupanku di Balige, Sumatera Utara, dialek Batak sangat sulit untuk bisa aku sembunyikan di dalam menggunakan bahasa gaul. 
  3. Bukan hal yang baru lagi, bahwa selama ini Pemerintah selalu memfokuskan pembangunan di Pulau Jawa dibandingkan dengan pulau - pulau lainnya di Indonesia. Hal ini sangat berdampak terhadap gaya hidup orang - orang yang tinggal di dalamnya. Kemajuan teknologi, pusat ilmu, kesehatan, hiburan, dan pemerintah semuanya ada di Pulau Jawa. Orang - orang di Pulau Jawa menjadi individu yang lebih terpapar terhadap segala perkembangan zaman. Tak aneh apabila orang - orang yang berasal dari luar Pulau Jawa ini sering sekali mendapat julukan orang kampung. Secara fasilitas, kehidupan orang - orang di Pulau Jawa memang terlihat jauh lebih baik dibandingkan dengan orang - orang di luar Pulau Jawa. Dan hal ini juga berdampak tehadap pola pikir maupun IQ. Orang - orang di Pulau Jawa terlihat lebih cerdas, memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan dengan orang - orang dari luar Pulau Jawa. 
  4. Fasilitas yang kurang di luar Pulau Jawa, tidak selalu membawa hal negatif. Sebaliknya hal ini menjadi cambuk bagi banyak orang yang memiliki mimpi untuk kehidupan yang lebih baik, dengan berjuang dan bekerja keras. Dengan latar belakang ini, orang - orang dari luar Pulau Jawa, lebih tangguh, lebih terlihat sebagai pejuang, tidak manja apalagi cengeng, dibandingkan dengan mereka yang lahir dan besar di Pulau Jawa. Walaupun hal ini tidak berlaku untuk semua orang - orang di luar Pulau Jawa. Intinya, hanya mereka yang  mampu ditempa menjadi besi baja. Seleksi alam sangat jelas terjadi bagi orang - orang dari luar Pulau Jawa.


Inti dari kesimpulan ini adalah bahwa dimana pun kita dilahirkan dan dibesarkan, kita adalah orang Indonesia. Benar, kita memiliki latar belakang bahasa, gaya hidup, kebiasaan yang berbeda - beda, akan tetapi kita berada di negara yang sama dan berbendara yang sama, yaitu Indonesia. Karena kesamaan itulah sudah selayaknya kita berjuang bersama untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik, dimana hal ini bisa dimulai dengan mencintai tanah dimana kita saat ini, detik ini bernafas.