Di Alkitab, ada satu kitab yakni kitab Pengkhotbah yang membuat saya banyak merenung. Di kitab ini banyak dikatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah kesia-siaan. Manusia bekerja keras tapi itupun sia-sia.
Sudah 15 tahun saya berkarir di bagian human resource, saya pun sering mempertanyakan diri untuk apa saya melakukan hal ini semua. Jika sudah tiba waktu saya, semua ini akan saya tinggalkan. Tidak ada yang abadi dan tidak akan ada satu pencapaian apapun yang telah saya raih akan saya bawa nantinya.
Pemikiran seperti ini membantu saya untuk tidak terlalu lama-lama di dalam setiap emosi yang saya rasakan. Terkhusus ketika emosi-emosi negatif datang. Karena itupun sia-sia. Demikian halnya ketika emosi positif datang. Saya pun berusaha untuk menikmati ala kadarnya saja. Walaupun godaan untuk menikmatinya lebih lama selalu ada. Dan harus saya akui, saya sering jatuh di bagian ini. Ingin selamanya merasakan emosi positif; membuat saya memilih untuk mengambil jalan memaksakan diri harus bisa mencapai keberhasilan. Dengan demikian emosi positif itu bisa bertahan lebih lama atau bahkan selamanya. Itulah saya si manusia berdosa. Ketika emosi negatif datang ingin cepat-cepat melepasnya sebaliknya ketika emosi positif datang ingin menahannya lebih lama. Dimana cara-cara yang dipergunakan untuk menahan dan menggenggam emosi positif ini, acap kali menimbulkan emosi negatif pada orang lain.
Di dalam perenungan saya setelah membaca kitab Pengkhotbah, saya semakin memahami bahwa dunia ini dan segala hal yang terjadi di dunia ini ada di bawah kontrolnya Tuhan. Manusia tidak akan pernah menyelaminya karena dia adalah Tuhan. Jika manusia bisa menyelami sebagian dari maksud Tuhan, itu karena Tuhan mengizinkannya dan membukakannya kepada manusia. Semakin manusia dibukakan oleh Tuhan, semakin manusia tidak tahu. Karena Dia adalah Tuhan. Kalau manusia bisa mendalami semua rencana dan keinginanNya, berarti dia bukanlah Tuhan. Justru karena Dia adalah Tuhan, Dia Maha Besar.
Banyak hal yang tidak bisa saya mengerti, terkhusus untuk segala hal yang terjadi di dalam kehidupan saya secara pribadi. Semakin saya tidak mengerti, semakin saya menyadari betapa besar dan luar biasanya Tuhan itu. Semakin saya mengenal diri saya sendiri di hadapanNya.
Kitab Pengkhotbah semakin membawa saya ke dimensi dimana yang terutama dan yang paling utama yang harus saya lakukan adalah memuliakan nama Tuhan. Bukan agar saya diberkati dan mendapatkan hal-hal yang nyaman di dunia ini. Tapi karena Dia adalah Tuhan, Tuhan Yang Maha Tinggi pemilik dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk saya.
Hal ini membuat saya lebih tenang dan rileks. Walalupun saya tidak kaya raya secara materi, walaupun setiap hal yang saya inginkan tidak selalu saya dapatkan, tapi saya tahu ada Yesus yang harus selalu yang sembah dan puji. Dia sudah menebus saya dari kuasa maut. Saya memang akan mati pada waktunya, tetapi saya akan dihidupkan kembali ketika Yesus datang kedua kalinya. Saya akan duduk bersama-sama dengan Dia menikmatiNya seumur hidupku.
Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk terus mengarahkan hati dan pikiran saya kepada Tuhan. Karena hati dan pikiran saya sering sekali dibajak oleh pikiran-pikiran yang membuat saya ingin menikmati hal-hal yang tidak sejalan dengan rencanaNya. Dan dunia ini akan selalu terus bergerak ke hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana Tuhan. Disinilah peperangan iman terjadi. Semoga saya tetap bisa setia berjuang bersama-sama dengan Yesus sampai akhirnya kemuliaan Tuhan dinyatakan.