Wednesday, 2 April 2025

Kesiasiaan

Di Alkitab, ada satu kitab yakni kitab Pengkhotbah yang membuat saya banyak merenung. Di kitab ini banyak dikatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah kesia-siaan. Manusia bekerja keras tapi itupun sia-sia.

Sudah 15 tahun saya berkarir di bagian human resource, saya pun sering mempertanyakan diri untuk apa saya melakukan hal ini semua. Jika sudah tiba waktu saya, semua ini akan saya tinggalkan. Tidak ada yang abadi dan tidak akan ada satu pencapaian apapun yang telah saya raih akan saya bawa nantinya.

Pemikiran seperti ini membantu saya untuk tidak terlalu lama-lama di dalam setiap emosi yang saya rasakan. Terkhusus ketika emosi-emosi negatif datang. Karena itupun sia-sia. Demikian halnya ketika emosi positif datang. Saya pun berusaha untuk menikmati ala kadarnya saja. Walaupun godaan untuk menikmatinya lebih lama selalu ada. Dan harus saya akui, saya sering jatuh di bagian ini. Ingin selamanya merasakan emosi positif; membuat saya memilih untuk mengambil jalan memaksakan diri harus bisa mencapai keberhasilan. Dengan demikian  emosi positif itu bisa bertahan lebih lama atau bahkan selamanya. Itulah saya si manusia berdosa. Ketika emosi negatif datang ingin cepat-cepat melepasnya sebaliknya ketika emosi positif datang ingin menahannya lebih lama. Dimana cara-cara yang dipergunakan untuk menahan dan menggenggam emosi positif ini, acap kali menimbulkan emosi negatif pada orang lain.

Di dalam perenungan saya setelah membaca kitab Pengkhotbah, saya semakin memahami bahwa dunia ini dan segala hal yang terjadi di dunia ini ada di bawah kontrolnya Tuhan. Manusia tidak akan pernah menyelaminya karena dia adalah Tuhan. Jika manusia bisa menyelami sebagian dari maksud Tuhan, itu karena Tuhan mengizinkannya dan membukakannya kepada manusia. Semakin manusia dibukakan oleh Tuhan, semakin manusia tidak tahu. Karena Dia adalah Tuhan. Kalau manusia bisa mendalami semua rencana dan keinginanNya, berarti dia bukanlah Tuhan. Justru karena Dia adalah Tuhan, Dia Maha Besar.

Banyak hal yang tidak bisa saya mengerti, terkhusus untuk segala hal yang terjadi di dalam kehidupan saya secara pribadi. Semakin saya tidak mengerti, semakin saya menyadari betapa besar dan luar biasanya Tuhan itu. Semakin saya mengenal diri saya sendiri di hadapanNya.

Kitab Pengkhotbah semakin membawa saya ke dimensi dimana yang terutama dan yang paling utama yang harus saya lakukan adalah memuliakan nama Tuhan. Bukan agar saya diberkati dan mendapatkan hal-hal yang nyaman di dunia ini. Tapi karena Dia adalah Tuhan, Tuhan Yang Maha Tinggi pemilik dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk saya.

Hal ini membuat saya lebih tenang dan rileks. Walalupun saya tidak kaya raya secara materi, walaupun setiap hal yang saya inginkan tidak selalu saya dapatkan, tapi saya tahu ada Yesus yang harus selalu yang sembah dan puji. Dia sudah menebus saya dari kuasa maut. Saya memang akan mati pada waktunya, tetapi saya akan dihidupkan kembali ketika Yesus datang kedua kalinya. Saya akan duduk bersama-sama dengan Dia menikmatiNya seumur hidupku.

Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk terus mengarahkan hati dan pikiran saya kepada Tuhan. Karena hati dan pikiran saya sering sekali dibajak oleh pikiran-pikiran yang membuat saya ingin menikmati hal-hal yang tidak sejalan dengan rencanaNya. Dan dunia ini akan selalu terus bergerak ke hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana Tuhan. Disinilah peperangan iman terjadi. Semoga saya tetap bisa setia berjuang bersama-sama dengan Yesus sampai akhirnya kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Monday, 31 March 2025

Untuk direnungkan

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan, respon yang dilakukan manusia pada umumnya adalah menyalahkan orang lain/ kondisi atau mengasihani diri sendiri. Tidak salah dan juga tidak benar. Itulah keunggulan manusia dari mahluk lain. Manusia diberikan free will. Dan ini adalah salah satu contoh dari bagaimana manusia mempergunakan kebebasan itu. 

Akan tetapi manusia yang berhikmat tidak berhenti di level menyalahkan orang lain/situasi atau mengasihani diri sendiri. Manusia yang berhikmat akan mengupayakan segala hal yang dimiliki, yakni semua alat indra, talent, bakat, skill dan knowledgenya untuk bisa mewujudkan kenyataan sesuai dengan yang diharapkannya.  Jika memang segala hal telah diupayakan, manusia berhikmat akan mengetahui batasannya untuk berhenti berusaha. Selanjutnya menerima bahwa sesuatu yang diharapkan itu memang mungkin bukan untuk harus diwujudkan. Pada akhirnya, manusia akan menyadari bahwa free will yang dimiliki juga ada batasannya. Dan pada akhirnya manusia secara suka rela atau akan dipaksa untuk mengakui bahwa Tuhan masih dan akan terus memegang kendali terhadap dunia ini.

Saat ini media sosial menyuguhkan informasi dimana masyarakat Indonesia merasa kecewa dengan keputusan pemerintah, terkhusus dalam hal efisiensi anggaran dan kenaikan pajak. Janji-janji ketika belum terpilih sebagai pemimpin ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini menimbulkan reaksi menyalahkan atau mengasihani diri sendiri. Di satu sisi, harus diakui juga bahwa setiap keputusan yang diambil memang tidak akan bisa memuaskan hati semua orang  dan apapun keputusan yang diambil pastinya akan menimbulkan pro dan kontra.

Sebagai seorang Kristen, saya diajarkan oleh Yesus untuk taat terhadap pemerintah dan berdoa kepada pemerintah agar setiap keputusan yang diambil sesuai dengan kehendak Yesus. Hal ini bukan berarti sebagai rakyat, tidak bisa memberikan feedback. Rakyat bisa memberikan feedback dengan syarat feedback tersebut adalah feedback yang konstruktif, bukan menyalahkan atau bersikap seperti korban. Motivasinya harus tetap untuk kemajuan dan kebaikan Indonesia. Sangat ironis kalau kontribusi yang bisa dilakukan oleh rakyat hanyalah protes.

Terhadap keputusan pemerintah mengenai efisiensi anggaran dan kenaikan pajak, saya belum bisa menyimpulkan apakah ini adalah keputusan yang baik atau tidak. Akan tetapi karena saya sudah diajarkan untuk taat terhadap pemerintah, jadi langkah yang saya ambil adalah memberikan ruang kepada pemerintah untuk menjalankannya. Kita jalani dulu keputusan ini dengan tetap mengkawal dampak dari keputusan ini. Sembari mengkawal, saya juga berbenah diri dengan cara mengasah setiap potensi yang saya miliki untuk bisa semakin memberikan kontribusi kepada Indonesia. 

Ada juga seruan untuk kabur dulu saja. Untuk hal ini, kalaupun pada akhirnya rakyat memilih untuk bekerja ke luar negeri, tidak apa-apa. Itu adalah pilihan yang baik juga, menjadi ambasador bagi Indonesia di luar negeri. Bekerjalah dengan baik di sana dan jagalah nama baik Indonesia. Jika banyak orang Indonesia bekerja di luar negeri dengan baik, itu akan membuka peluang juga kepada para investor untuk melirik Indonesia, yang pada akhirnya akan mendatangkan benefit kepada Indonesia juga.

Mengenai anjuran untuk tidak bayar pajak karena banyaknya kasus korupsi, menurut saya itu adalah hal yang berbeda walaupun berhubungan. Memang benar, korupsi adalah PR terbesar bagi bangsa ini. Sejujurnya, ini bukan hanya tugas pemerintah saja tapi juga tugas semua masyarakat Indonesia. PR ini tidak bisa kita berikan hanya kepada Presiden. Sangat mustahil sekali semua kasus korupsi di Indonesia ini bisa diselesaikan oleh Presiden terpilih saat ini. Di satu sisi kita juga tahu bahwa kalau rakyat tidak membayar pajak bagaimana pemerintah ini bisa menjalankan fungsinya? Memang benar kalau banyak pejabat yang korupsi. Dan memang benar juga bahwa banyak rakyat yang belum taat membayar pajak. Jadi ikut serta menyerukan untuk tidak membayar pajak adalah keputusan yang tidak bijak. Jikalau kita memang cinta dengan Indonesia, kejahatan sebaiknya tidak dibalas dengan kejahatan. Sangat tidak bijak ketika kita menyampaikan bahwa koruptor harus dibasmi sementara yang berkoar-koar menyerukan para koruptor juga adalah mereka yang tidak membayar pajak.

Kembali ke ajaran Yesus, yang saya terima. Yang namanya dosa adalah dosa. Tidak ada dosa kecil dan dosa besar. Korupsi adalah dosa, tidak membayar pajak juga adalah dosa. Apa yang harus dibayarkan kepada pemerintah harus dibayarkan. Terlepas apakah pemerintah mengelolanya dengan tidak baik atau dengan baik, itu adalah tanggung jawab mereka kepada Yesus kelak. Lagi, sebagai warga negara harus terus mendoakan pemerintah agar mereka takut akan Tuhan. Dan tentu saja, belajar dengan lebih baik lagi, bekerja dengan lebih keras lagi untuk tidak serupa dengan seperti mereka.

 Alih-alih protes dengan tidak mau bayar pajak, rakyat juga bisa bantu Pemerintah menagih pajak dari masyarakat yang belum bayar pajak.  Langkah konkrit yang bisa dilakukan, semisal jikalau kita memiliki talenta dalam membuat konten-konten di media sosial, mengapa tidak membuat konten yang bertujuan untuk menggerakkan rakyat yang belum bayar pajak untuk bayar pajak. Kekuatan media akan membantu pemerintah di dalam meningkatkan kinerja mereka. Ini salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengkawal pemerintah di dalam melakukan perannya. Kita juga bisa mendorong agar para pejabat juga melaporkan semua hartanya, dan mendesak mereka untuk membuktikan pelaporan pajak mereka melalui konten-konten yang dibuat di dalam media sosial. Jadi, bukan buat konten untuk tidak bayar pajak. Kalau begitu apa bedanya kita dengan para koruptor? Kita sama-sama membawa Indonesia ke arah yang tidak baik.

Kalau kita selalu protes dengan setiap keputusan dari Pemerintah, bagaimana negara ini bisa maju? Dunia ini sudah rusak oleh dosa sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Adalah hukum dosa, bahwa manusia akan mengalami kesusahan di dalam mencari nafkah. Jadi, bukan rahasia lagi kalau mencari uang itu sangatlah susah. Memberikan beban kepada pemerintah untuk bisa menafkahi kita adalah lebih tidak mungkin lagi. Bukan ingin memihak pemerintah. Memimpin negara ini tidaklah mudah. Mari posisikan diri kita di posisi para pemimpin yang telah terpilih. Kita sendiri sebagai masyarakat pun belum tentu bisa menyenangkan setiap orang yang ada di sekitar kita. Apalagi pemimpin di Indonesia, tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang yang ada di Indonesia. Kita juga ga bisa bilang, saya tidak memilihnya; jadi untuk apa saya mengikuti arahannya? Prinsip demokrasi tidak seperti itu, siapa pun pemimpin terpilih, masyarakat harus tunduk dan taat, walaupun itu bukan pemimpin pilihannya. Ingat lagi, mereka adalah pemimpin yang sudah mengambil sumpah berdasarkan kepercayaan mereka masing-masing. Jadi mereka yang berwenang mengambil keputusan. Kita masyarakat ya harus tunduk. Memberikan saran dan feedback boleh, tapi harus konstruktif. Saya yakin jika rakyat memberikan saran yang konstruktif, pemerintah pun akan mempertimbangkannya. Faktanya kecenderungan rakyat bukanlah memberikan feedback yang konstruktif, tapi hanya protes saja.

Kalau tidak puas dengan setiap hal yang dikerjakan oleh pemerintah, belajar dan bekerjalah lebih keras lagi agar tidak menjadi seperti mereka. Asa dan tingkatkan kemampuan untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bulatkan tekad untuk tidak menjadi serupa dengan pemerintah yang dirasa tidak sesuai dengan harapan. Jangan hanya menjadi rakyat yang pasif dan berharap semua-muanya harus difasilitasi oleh pemerintah. Kita juga harus bercermin, apakah kita sudah menjadi rakyat Indonesia yang memiliki kompetensi untuk membangun bangsa ini? Jangan-jangan setelah kita diberikan tugas itu, kita pun akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari mereka. Memang benar, mereka sudah diberikan tugas untuk memimpin Indonesia ini, tapi mereka tidak akan pernah bisa memimpin kalau kita tidak mau dipimpin. Jika memang masih mencintai Indonesia ini, mari sama-sama menjalankan peran masing-masinng, menjadi rakyat yang memiliki kompetensi untuk dipimpin.

Jika saat ini pemerintah belum bisa memfasilitasi kepintaran, keahlihan, dan pengetahuan yang kita miliki, mengapa tidak mencipatakan kesempatan itu sendiri tanpa harus selalu bergantung pada pemerintah? Pepatah kuno mengatakan dimana ada kemauan disana ada jalan. Nah, saat ini apa yang menjadi kemauan kita? Apakah kemauan kita untuk terus mendapatkan fasilitas yang nyaman dari pemerintah dengan gratis tapi tidak mau membayar pajak? Kalau pemerintah gagal mengelola pajak, dimana pajak banyak dikorupsikan bukan tugas kita untuk memberikan hukuman. Di dalam keyakinan yang saya pegang, Yesus akan datang kedua kalinya untuk menghakimi manusia. Jangan sampai ketika Yesus datang, saya pun akan ikut terhakimi karena saya tidak bayar pajak. Kejahatan harus dilawan dengan kebaikan. Para koruptor yang mencuri uang rakyat bukan tugas kita untuk menghukumnya dengan tidak membayar pajak. Kalau kita tidak membayar pajak, itu berarti kita sama saja dengan koruptor yang tidak mencintai Indonesia ini.

Memang sangat berat dan beban kita rakyat menengah ke bawah ini akan bertambah. Seperti yang saya sampaikan di atas, bukankah ini sudah tertulis di Alkitab bahwa manusia akan bersusah payah dalam mencari nafkah? Tapi bagi orang yang percaya Yesus, akan selalu ada suka cita dan kekuatan di dalam melewati ini semua. Oleh karena itu, bagi rakyat menengah ke bawah harus lebih bekerja keras lagi, kerahkan semua potensi dan pengetahuan yang dimiliki. Tingkatkan talenta dan bakat, tidak ada waktu untuk berleha-leha dan bersantai. Para pekerja keras yang bekerja dengan smart tidak akan pernah kelaparan karena ada Yesus yang akan selalu menyertai.

Masalahnya masih banyak rakyat Indonesia yang malas, tidak mau berusaha dan mengembangkan bakat/talenta yang dimiliki. Maunya hanya mendapatkan hal-hal yang gratis dari pemerintah. That's why gampang dihasut dan langsung reaktif dengan setiap perubahan atau keputusan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Monday, 8 February 2016

TIPS MEMILIH JURUSAN KULIAH







Pertanyaan yang selalu datang kepada adik-adik yang duduk di bangku sekolah, khususnya di SMA dan sederajat adalah jurusan apa yang akan dipilih setelah menyelesaikan masa sekolahnya. Beruntung bagi mereka yang sekolah di perkotaan, mendapatkan keputusan dengan adanya bantuan psikotest yang sering sekali diadakan di sekolah masing-masing. Atau  adanya orang tua yang mampu memfasilitasi mereka bertemu dengan para psikolog untuk mengetahui bakat dan minat mereka.

Lalu bagaimana dengan adik-adik yang kerap sekali tidak mendapatkan refrensi di dalam mengambil keputusan ini?

Adik-adik tidak sendirian. Saya juga pernah ada di posisi itu sekitar 10 tahun yang lalu. Kebingungan dan nyaris tersesat di dalam memutuskan pilihan jurusan. Berikut adalah beberapa tips berdasarkan pengalaman saya yang semoga bisa membantu adik-adik semua di dalam memilih  jurusan yang akan dipilih untuk didalami nantinya setelah menyelesaikan masa SMA sederajat.

  • Kenali kondisi perekenomian keluarga, dalam hal ini pada umumnya perekonomian ayah dan ibu. Atau siapa saja yang berperan aktif di dalam pembiayaan hidupmu. 
Mengapa? 

      Di dalam fenomena yang ada di kehidupan masyarakat kita, mari berpikir realistis. Tujuan setiap orang tua menyekolahkan anak-anaknya adalah agar anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Pendidikan adalah satu cara paling efektif untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, di dalam pemilihan jurusan perkuliahan, sangat penting untuk mengenal kondisi perekonomian keluarga. 
    Apabila kamu memiliki orang tua dengan perekonimian  di tahap menengah ke bawah, pada umumnya harapan mereka setelah kamu kuliah adalah menghasilkan uang secepat mungkin dan kalau bisa dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu pilihlah jurusan yang berpeluang dalam menghasilkan uang dengan cepat dan dalam jumlah yang besar.
    Saat ini jurusan yang paling banyak mendapatkan apresiasi dari perusahaan-perusahaan adalah jurusan teknik, seperti teknik informatika, teknik industri, teknik elektro, teknik sipil, teknik perkapalan, teknik pertambangan, teknik kelautan, dan berbagai jenis jurusan teknik lainnya. Tentu saja, dengan syarat harus bekerja di perusahaan yang sesuai dengan jurusan kamu nantinya. Misal, teknik informatika baiknya bekerja di perusahaan IT, bukannya sebagai teller di bank.
    Faktor lainnya yang akan menjadi penentu besarnya gaji yang akan kamu terima ketika selesai kuliah adalah universitas yang kamu pilih. Saat ini Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) masih menjadi tiga universitas negeri yang memiliki peluang digaji lebih besar. Apabila perekonomian keluargamu berada di level menengah ke bawah, kuliah di Universtitas Negeri tentu saja menjadi pilihan utama, mengingat biaya kuliah yang jauh lebih murah dibandingkan dengan kuliah di universitas swasta. Akan lebih baik lagi apabila kamu bisa diterima di salah satu tiga universitas yang saya sebutkan di atas karena peluang untuk mendapatkan beasiswa akan lebih besar.
    Sementara, jika orang tuamu memiliki cukup harta dalam hal ini mereka tidak terlalu pusing dengan apa yang akan mereka makan besok hari, yang terutama adalah anak-anaknya memiliki titel dan kalau bisa kuliah di universitas ternama, maka SELAMAT, hidupmu akan jauh lebih ringan. Kamu bisa bebas memilih jurusan apa saja yang kamu suka. Yang penting adalah komitmen kamu untuk menyelesaikan studymu demi orang tuamu.
  • Kenali dirimu sendiri
    Saya tahu ini adalah pekerjaan yang paling berat untuk adik-adik SMA sederajat. Jangankan kalian yang masih berusia 18 tahun, bahkan yang sudah berusia 40 tahun pun belum tentu mengenal dirinya sendiri! Kalau kamu tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti psikotest, untuk mengetahui bakat dan minatmu, kamu bisa mempertanyakan beberapa pertanyaan kepada dirimu sendiri. Pertanyaan dasar pertama yang bisa kamu tanyakan kepada dirimu sendiri adalah apa yang kamu inginkan?
Mayoritas anak-anak SMA sederat akan menjawab membahagiakan orang tua. Selanjutnya, kamu bisa mengajukan pertanyaan lanjutan kepada orang tuamu, bagaimana cara yang memungkinkan untuk kamu lakukan agar bisa membahagiakan mereka. Hal ini dibutuhkan agar baik kamu dan orang tua memiliki tujuan yang sama. Akan lebih baik lagi apabila nantinya orang tua mengatakan bahwa kebahagiaanmu adalah kebahagiaan mereka. 
    Setelah kamu mengetahui apa yang menjadi harapan dari orang tuamu, langkah selanjutnya adalah kenali kemampuan dirimu sendiri. Seberapa pintar dirimu nantinya untuk menyelesaikan setiap soal-soal yang diberikan oleh universitas yang akan kamu pilih. Kalau kamu memilih tiga universitas yang saya sebutkan di atas, maka salah satu syarat utama agar kamu diterima adalah kamu harus bisa menyelesaikan seluruh soal-soal MM dengan benar. Syarat kedua, apabila pilihanmu di universitas itu adalah jurusan IPA, maka selain soal MM, soal Fisika, Kimia, dan Biologi sebaiknya juga harus benar semua. Kalau tidak bisa benar semua, setidaknya perbandingan yang benar harus jauh lebih besar dibandingkan dengan perbandingan yang salah.

Itulah dua tips besar yang mungkin bisa membantu adik-adik di dalam mengambil keputusan untuk memilih jurusan yang nantinya akan dijalani. Dimana kedua tips ini tentu saja masih membutuhkan operasional yang lebih mendetail tergantung dengan gaya adaptasi dari adik-adik.

Saya sendiri karena berasal dari keluarga yang miskin harta, lulus kuliah di Perguruan Negeri adalah syarat mutlak untuk bisa kuliah. Dan saat itu, saya membidik universitas terbaik yang ada di Indonesia, alasannya hanya satu yaitu jurusan apapun di universitas terbaik di negeri ini pastinya akan jauh lebih dihargai sepanjang masih di Indonesia. Dan tentu saja untuk mengincar beasiswa. Saya berpikir realistis untuk tidak terlalu bersikap sok idealisme memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat saya. Bagi saya dulu yang terpenting adalah bisa kuliah dulu, dan kuliah di Universitas terbaik di Indonesia tentunya. Yang lain-lainnya, akan saya jalani selanjutnya. Dimana semua disiplin ilmu itu baik adanya, jurusan apapun yang akan saya pilih pastinya semuanya akan sangat bermanfaat jikalau kita sendiri komit untuk menyelesaikannya.

Saya memilih jurusan psikologi di Universitas Indonesia. Jujur, saya tidak mengetahui apapun mengenai jurusan ini. Pengetahuan saya benar-benar kosong mengenai jurusan ini. Apa yang dialami oleh Harry Potter ketika pertama sekali dia mengetahui bahwa dia adalah penyihir, ketidaktahuan dia tentang dunia sihir bisa saya rasakan karena saya juga merasakannya ketika pertama kali saya si gadis kampung pertama kali tiba di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Tekad saya untuk bisa kuliah di universitas terbaik di Indonesia dan menyelesaikannya dengan tepat waktu adalah motivasi saya untuk bisa tetap bertahan dan memperjuangkan mimpi saya. Dan saya beruntung sekali karena saya tidak salah memilih, tepat seperti dugaan saya ketika saya masih duduk di bangku SMA bahwa alumni dari universitas terbaik di negeri ini akan selalu mendapatkan penghargaan lebih dari pengusaha-pengusaha dalam hal gaji. Tentu saja ini bukan melulu karena almamater saya, melainkan dari segi para alumni pun ada beban mental untuk memberikan yang terbaik setelah meninggalkan perkuliahan. 

Jadi, adik-adik jangan terlalu ribet di dalam memilih jurusan. Semua jurusan itu baik adanya. Sekarang apa yang menjadi kebutuhanmu, kebutuhan orang tuamu. Dan selaraskanlah itu dengan otakmu. Apabila kamu punya punya orang tua yang kaya raya, keberadaan otakmu sih bisa dinomortigakan, karena sekarang banyak universitas yang bisa memberikan jurusan apapun yang kau inginkan sesuai dengan kekayaan orang tuamu. Bagi adik-adik yang memiliki orang tua seperti saya, tidak memiliki harta, daripada ribet memilih jurusan, mending sekarang asah otakmu dulu karena jurusan apapun yang akan kau pilih akan tersedia selama kapasitas otakmu mampu.

Sunday, 17 January 2016

KALAU BISA GRATIS, MENGAPA HARUS BAYAR?

Beberapa kali dalam berbagai kesempatan aku bertemu dengan banyak orang yang sangat senang menikmati hal-hal yang berbau gratis. Bukan karena tidak mampu secara materi, melainkan telah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri apabila mampu mendapatkan sesuatu yang gratis. Kalau ada yang gratis, mengapa harus bayar? Pola pikir seperti ini, masih terukir indah di masyarakt kita. Aku sendiri tidak mau menjadi manusia yang naïf, aku akui mendapatkan sesuatu yang gratis itu adalah anugrah, akan tetapi kalau sampai memfokuskan diri untuk melulu mendapatkan yang gratis, menurutku itu bukanlah sikap yang harus dipertahankan apalagi disosialisasikan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita.
Salah satu pengalamanku yang paling fenomenal mengenai kegratisan ini adalah ketika aku kuliah di Universitas Indonesia dimana ada begitu banyak mahasiswa yang mengajukan surat tidak mampu untuk bisa kuliah gratis. Memalsukan dokumen pendukung yang dibutuhkan bahkan sampai acting berpura-pura menjadi orang tidak mampu. Setelah permohonan dikabulkan, maka yang bersangkutan akan bangga mengatakan betapa dia telah berhasil mendapatkan kegratisan itu.
Hal yang sama juga aku temukan di dalam lingkunganku bekerja. Untuk setiap karyawan yang melakukan perjalanan dinas diberikan biaya maksimal sejumlah X, dimana apabila biaya sejumlah X ini tidak habis wajib dikembalikan kepada organisasi. Akan tetapi kenyataannya banyak karyawan yang mempergunakan biaya perjalanan dinas itu secara maksimal, nyaris tidak pernah ada sisa. Lagi-lagi sebuah sikap dimana kegratisan itu sangat menyenangkan.
Budaya menikmati kegratisan inilah yang bertumbuh sangat subur di Indonesia, di masyarakat kita. Kita semua pasti tahu dengan program kesehatan yang saat ini sedang berlaku di Indonesia, yang lebih dikenal dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Program ini sesungguhnya merupakan program yang sangat menakjubkan, dimana setiap orang di Indonesia khususnya mereka yang penghasilannya di bawah UMR atau bahkan yang tidak memiliki penghasilan memiliki kesempatan untuk memperoleh layanan kesehatan dengan harga yang terjangkau atau bahkan gratis. Prakteknya? Mari kita lihat, BPJS ini lebih banyak dinikmati oleh mereka yang sangat suka dengan kegratisan.
Beberapa waktu yang lalu, seorang kerabat sangat bangga menceritakan kepada kami, bagaimana dia berhasil mendapatkan layanan gratis ini. Padahal kerabat ini memiliki rumah sendiri dimana-mana, kendaraan pribadi tiga, dan masih banyak lagi harta yang dimiliki. Akan tetapi masih tetap saja mencari  layanan yang gratis.

Banyak orang yang mengeluhkan bahwa layanan BPJS yang diberikan oleh pemerintah saat ini masih jauh dari sempurna dan bahkan sangat mengecewakan. Pemerintah, para petugas medis, dan staf BPJS tidak jarang mendapatkan makian dari masyarakat yang dikecewakan oleh layanan ini. Akan tetapi, mari kita kritisi kembali sikap hati kita terhadap program ini. Dana BPJS diambil dari APBN dan biaya APBN ini tentu saja membutuhkan persetujuan DPR. Kita lihat sendiri bagaimana sikap kerja DPR kita. Aku tidak perlu membahasnya di sini. Dari segi masyarakat, peserta BPJS, dipungut biaya untuk program ini. Akan tetapi, secara logika dengan sejumlah dana yang kita keluarkan untuk BPJS, tidak akan mencukupi untuk mendanai kesehatan untuk seluruh masyarakat yang ingin gratis. Yang terjadi adalah antrian layanan BPJS yang sangat panjang.

          Aku  berasal dari keluarga yang tidak kaya. Bapakku seorang tukang becak dan ibuku pedagang kaki lima. Aku kuliah dengan gratis di Universitas Indonesia, tetapi untuk kebutuhanku sehari-hari aku tetap harus bekerja. Sesungguhnya aku bisa saja memanfaatkan kondisi kemiskinan ini, akan tetapi aku malu mendapatkan sesuatu yang gratis. Sejujurnya, aku juga malu kuliah gratis di Universitas Indonesia, akan tetapi aku tidak ada pilihan lain, karena aku ingin kuliah. Ketika di kehamilan pertamaku, seharusnya aku bisa menikmati layanan BPJS dari program pemerintah ini, karena suamiku adalah Pegawai Negeri Sipil, dimana secara otomotis  aku berhak mendapatkan layanan BPJS ini. Di smaping itu, aku juga wanita bekerja dimana sebagian dari gajiku sudah dipotong untuk biaya BPJS. Akan tetapi, kami memilih untuk menggunakan gaji kami sendiri untuk biaya konsultasi dan bahkan untuk biaya operasi melahirkanku. Bukan karna kami sekarang sudah kaya dan tidak membutuhkan program BPJS lagi, melainkan kalau memang kami masih bisa membayar, mengapa harus memilih yang gratis?

Aku dan suami berjanji bahwa kami hanya akan menggunakan BPJS, apabila kami benar-benar sudah tidak mampu lagi di dalam membayar biaya kesehatan kami. Karena BPJS itu memang ditujukan bagi yang tidak mampu. Kalau kita masih mampu memiliki rumah sendiri lebih dari satu, memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu, memiliki penghasilan berlipat-lipat kali ganda dari nilai UMR, bukankah kita seharusnya malu bila masih tetap antri untuk menggunakan BPJS? Kalau kita bisa beli gadget yang harganya jutaan rupiah, bisa makan di mall hampir tiap hari, berlibur ke luar negeri, masakan untuk beli obat dan periksa ke dokter yang harganya tidak lebih dari 500 ribu harus menggunakan BPJS?

Sementara saudara-saudara kita yang makan saja susah, ketika mereka berobat menggunakan BPJS akhirnya tidak bisa dilayani dengan cepat dikarenakan kita telah “mencuri” haknya. Memang benar, adalah kewajiban negara untuk menjamin kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, akan tetapi kita yang memiliki moral sudah seharusnya membantu program pemerintah ini dengan cara mengutamakan yang lebih berhak untuk mendapatkannya. Percayalah, kita tidak akan miskin hanya dengan memberi kesempatan itu kepada yang lebih membutuhkan dibandingkan dengan kita. Di samping itu, para tenaga medis pun tidak akan selalu kewalahan dengan panjangnya antrian yang membuat mereka akhirnya bisa memberikan pelayanan secara maksimal. Tenaga medis pun manusia, mereka pun akan kelelahan apabila setiap hari dikerumuni oleh masyarakat yang selalu ingin gratis.

Seharusnya kita bangga menikmati kegratisan karena kita berprestasi, bukan karena kita miskin materi. Dan, yang terutama, bijaksanalah menggunakan hak kita.

Friday, 17 July 2015

HEALER - drama korea

    Weekend terakhir sebelum lebaran tahun 2015 ini, aku habiskan dengan menonton film serial drama Korea, yang berjudul HEALER. Film ini menceritakan mengenai kehidupan lima sekawan yang memiliki hobby sebagai reporter ilegal. Dimana pada zaman mereka, kebebasan pers sangat dikontrol oleh pemerintah. Oleh karena itu, lima sekawan ini melakukan penyiaran secara sembunyi-sembunyi melalui radio dimana radio itupun hasil rekatan mereka sendiri. Karena nyali mereka yang begitu luar biasa di dalam memberitakan kebenaran, akhirnya mereka selalu menjadi "buronan" polisi. Akan tetapi mereka selalu berhasil dari kejaran polisi dikarenakan adanya team work yang sukup baik di antara mereka berlima. Adapun pembagian peran yang ada dalam lima sekawan ini (empat orang laki-laki dan satu orang perempuan) adalah satu orang menjadi supir yang akan membawa mereka ke perbukitan tempat dimana mereka menyiarkan berita, satu orang bertugas menjadi seksi keamanan yang akan mengecoh polisi atau siapapun yang akan "menggangu" mereka di dalam melakukan penyiaran. Sementara satu orang bertugas sebagai camera man sekaligus sebagai teknisi, dan sepasang lagi sebagai penyiar dimana sepasang penyiar ini pada akhirnya menikah dan punya anak. Hubungan persahabatan mereka pada akhirnya rusak dikarenakan satu-satunya perempuan yanga ada dalam lima sekawan ini, dicintai oleh dua orang. Sementara rutinitas mereka di dalam menyiarkan kebenaran secara ilegal berakhir, ketika salah satu dari mereka akhirnya tertangkap oleh polisi dan dipenjara selama 11 tahun karena dituduh menginformasikan berita tidak benar.

    Aku tidak akan menceritakan mengenai alur film ini secara mendetail. Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk kubahas mengenai film ini. 
  1. Keberanian yang dimiliki oleh lima sekawan ini dalam memberitakan kebenaran. Aku membandingkannya dengan yang terjadi di Indonesia, dimana menyuarakan kebenaran itu pun pernah terjadi. Dan tentu saja hasilnya adalah sama dengan yang di film tersebut, siapa yang memiliki uang dan berkuasa itulah yang menang. Walalupun saat ini, media denganSela begitu bebasnya memproklamirkan sebuah informasi, tapi keakuratan informasi tersebut telah dibumbui dengan berbagai kepentingan dari mereka yang memiliki uang dan para penguasa.
  2. Lima sekawan tersebut digambarkan sebagai anak yang biasa-biasa saja, bukan berasal dari orang tua yang kaya. Akan tetapi pada akhirnya mereka menjadi orang kaya. Menariknya mereka menjadi kaya bukan karena menjadi karyawan dari perusahaan multi nasional, melainkan mereka sendiri membuka perusahaan baru alias menjadi pemilik dari perusahaan tersebut. Hal ini cukup membuatku menarik karena di masyarakat kita yang sekarang ini, atau di sekitarku sekarang, generasiku banyak yang menjadi kaya, termasuk diriku sendiri adalah karena aku menjadi "budak" dari orang lain. Atau ada juga yang menjadi kaya karena warisan dari orang tuanya atau ada juga yang menjadi kaya karena korupsi. Sangat sedikit orang di Indonesia yang menjadi kaya dengan membuka perusahaan sendiri, walaupun orang-orang seperti itu memang ada.
  3. Kecintaan mereka akan budaya mereka. Misalnya mereka memperkenalkan makanan khas mereka melalui menu makanan yang mereka makan di adegan film itu. Mereka juga menikmati lagu-lagu berbahasa Korea yang sering didendangkan oleh para tokoh film tersebut. Untuk yang satu ini, aku memang sangat kagum kepada mereka di dalam memperkenalkan kebudayaan mereka. Aku sangat rindu, para generasiku pun melakukan hal yang sama, yaitu mencintai kebudayaan suku mereka. Tidak apa-apa mengenal budaya luar, asal jangan sampai melupakan bahkan tidak mau tahu dengan kebudayaan sendiri. Budaya kita pun memiliki keunikan yang bisa dieksplor oleh kita para generasi muda. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengekplornya? Masakan kita harus menunggu negara lain yang mengeksplor budaya kita? Sangat menyedihkan, bukan bila hal itu harus terjadi?
Selain ketiga hal tersebut, aku akui kalau aku memang orang yang suka menonton, dimana ketika aku menyukai sebuah film, aku cenderung untuk menganalisa setiap karakter yang ada di film itu. Dan tentu saja setiap karakter tokoh yang di dalam film itu menjadi refrensi bagiku untuk mengembangkan karakter yang aku miliki. Misalnya, aku suka menonton drama Korea karena karakter yang ditampilkan adalah karakter pekerja keras, mendapatkan sesuatu berdasarkan proses, kehangatan, dan juga perhatian yang mendetail secara emotional. Variabel-variabel ini menjadi ciri khas drama film Korea. Hampir seluruh drama film Korea menyuguhkan hal ini.

Berbeda dengan film-film Holywood yang menyuguhkan teknologi yang canggih, persaingan untuk berprestasi atau menonjol, dan dominansi untuk menguasai. Dimana ketiga hal ini pada umumnya memang selalu dibalut dengan pesan moral yang sangat menyentuh moral. Satu hal yang paling menggangguku ketika menonton film-film Holywood adalah minimnya pertahanan dan pengendalian para tokoh di film di dalam memenuhi kebutuhan akan seks. Bagiku secara pribadi ini adalah sebuah conoth kegagalan di dalam mengontrol hasrat diri.

Tapi, terlepas dari semua itu, aku suka menonton. Dan aku sceangat mengaprisiasi para penulis naskah hingga cerita-cerita itu bisa divisualisasikan.

Saturday, 13 June 2015

ITU BUKAN URUSANMU

Di hari Sabtu pagi ini, aku dan suami melakukan saat teduh bersama. Tuhan menyapa kami di pagi hari ini melalui Yohanes 21 : 15 - 22. Dalam perikop ini, Yohanes menuliskan mengenai penampakkan Yesus untuk ketiga kalinya setelah Dia bangkit dari kematian. Bukan hanya menampakkan diri, kali ini Yesus melakukan interaksi personal dengan Petrus. Yesus menanyakan sampai tiga kali kepada Petrus apakah Petrus mencintaiNya? 

Dialog selanjutnya antara Petrus dan Yesus adalah mengenai keingintahuan Petrus terhadap murid yang dikasih Yesus, dalam hal ini aku dan suami menduga bahwa murid yang dimaksud adalah Yohanes. Dimana pertanyaan Petrus adalah, "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?' Jawaban Yesus adalah : "Jikalau Aku menghendaki supaya Ia tinggal sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutlah Aku." (Yoh 21 : 22)

Jawaban Yesus ini sangat menokok aku dan suami. Khususnya dalam kalimat, ITU BUKAN URUSANMU. Tetapi engkau, ikutlah Aku.

Dalam keseharian kami menjadi sepasang suami istri (ini tahun kedua pernikahan kami), kami banyak menemukan ketidakadilan. Kami sering membandingkan kehidupan kami dengan kehidupan pernikahan orang lain, khususnya mereka yang diizinkan oleh Tuhan untuk memiliki anak. Kami, khususnya aku juga sering sekali merasa iri hati dengan mereka yang begitu mudah mendapatkan sesuatu sementara aku harus melakukan perjuangan terlebih dahulu. Di perjalananku tidak ada yang mudah. Segala sesuatu yang kudapatkan saat ini semuanya melalui penantian dan perjuangan yang panjang. Sementara orang-orang di sekitarku mendapatkannya dengan begitu sangat mudah.

Dan pada pagi hari ini, Yesus menjawab kami bahwa ITU BUKAN URUSANKU. Bukan urusanku ketika orang-orang di sekitarku mendapatkan rejeki yang lebih banyak dariku. Bukan urusanku ketika mereka bisa mendapatkan apa yang kuperjuangkan dengan sangat sulit sementara mereka mendapatkannya dengan begitu mudah. Bagianku adalah mengikuti Yesus. Mengelola segala yang telah Tuhan berikan kepadaku saat ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Untuk yang tidak kumiliki, aku harus berhenti untuk memfokuskan pikiranku ke sana. Yang penting sekarang adalah mnegikuti Tuhan, seperti yang telah Dia minta. Membandingkan diri dengan orang lain tidak akan memberikan sukacita kepadaku, akan tetapi ketika aku memfokuskan diri untuk mengikuti Tuhan maka akan ada kepuasan hati.

Hal yang sama juga terjadi dengan kehidupan kami di dalam bermasyarakat. Dimana masyarakat dimana kami tinggal saat ini adalah mayoritas Islam. Pagi hari ini juga Tuhan menjawab kegalauan hati kami. "Jikalau Aku menghendaki supaya Ia tinggal sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutlah Aku." (Yoh 21 : 22).
Jikalau sampai hari ini Tuhan menghendaki mereka yang tidak percaya kepada Yesus masih tinggal sampai Dia datang kedua kalinya, itu bukan urusanku. Urusanku adalah mengikut Yesus sampai selama-lamanya.

Perbincangan kami (aku dan suami) di pagi hari ini, membuat kami semakin dikuatkan di dalam menjalani peran kami masing-masing. Kami kembali diingatkan bahwa tujuan kami di dunia ini adalah menjadi pengikut Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami. Tidak menjadi masalah apabila saat ini mereka memiliki apa yang tidak kami miliki. Yang pasti, selama ada Tuhan di antara kami, maka itu sudah menjadi kepuasan hati kami.

Friday, 29 May 2015

Perkembangan psikososial manusia menurut teori Sigmund Freud

Lima tahapan perkembangan psikososial manusia menurut Sigmund Freud :
1. Fase oral
· Manusia mengenal dan merespon dunia luar melalui mulut. Bayi memasukkan segala sesuatu ke mulut dalam upaya pengenalannya akan benda-benda di sekitarnya. Ketika tidak nyaman, lapar, dsb mereka akan meresponnya dengan mulut, yaitu menangis. Untuk mencari putting susu ibu pun dilakukan oleh mulut. Oleh karena itu tugas perkembangan yang harus diselesaikan dalam tahap ini adalah proses penyapihan.
· Apabila gagal dalam tugas perkembangan di fase ini maka akan mengakibatkan :
o adanya ketergantungan kepada orang lain, misalnya :  tidak mandiri, cengeng, manja;
o adanya ketergantungan terhadap benda, misalnya rokok, obat-obatan, game, dsb.
· Sikap orang tua atau orang dewasa yang terlalu berlebihan mendampingi anak dalam fase ini juga bisa mengakibatkan anak menjadi orang yang pemilih, misalnya pemilih dalam hal makanan, pakaian, pekerjaan, jodoh, dsb.

2. Fase anal
- Pada fase ini, anak mulai diperkenalkan training toilet. Anak diminta untuk bisa mengendalikan kapan dan dimana bisa mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh. Oleh karena itu, tugas utama anak dalam proses ini adalah pengendalian diri.
- Anak yang berhasil melewati fase ini akan tumbuh menjadi manusia yang berprestasi, kompeten, produktif, dan kreatif.
- Anak yang mendapatkan pendampingan terlalu longgar dari orang dewasa atau orang tua di sekitarnya akan mengakibatkan si anak tumbuh menjadi manusia hidupnya berantakan, tamak, dan boros.
- Sementara apabila fase ini terlalu dini disosialisasikan, maka si anak akan tumbuh menjadi manusia yang kaku atau obsesif.
- Dan bila orang tua terlalu mem-push anak dengan tidak diberikan pengertian, anak bisa tumbuh menjadi manusia yang pelit. Hal ini disebabkan kontrol pengendalian anak tidak berkembang dengan baik, sehingga si anak terlalu mengendalikan diri dan merasa bersalah untuk membuang kotoran karena takut pada orang tua.

3. Fase phallic
ü Pada fase ini anak mulai mengenal adanya perbedaan jenis kelamin. Pada fase ini juga anak perempuan memiliki rasa cinta kepada ayahnya, sehingga menganggap ibunya adalah saingannya. Sementara anak laki-laki memiliki rasa cinta kepada ibunya dan menganggap ayahnya adalah saingannya. Apabila orang tua tidak mendampingi anak-anak pada fase ini, bisa mengakibatnya adanya ketidakcocokan antara ibu dengan anak perempuannya atau ayah dengan anak laki-lakinya.
ü Selain itu pada fase ini juga bisa mengakibatkan adanya Oedipus Complex, dimana anak perempuan mencintai laki-laki yang lebih tua darinya, atau anak laki-laki mencintai perempuan yang lebih tua darinya akibat tugas perkembangan psikologis yang belum selesai.
ü Tugas utama dari fase ini adalah pengelolaan rasa kecemasan. Menyadari siapa dirinya, mengenal tubuhnya, dan perbedaannya dengan orang lain adalah “shocking” tersendiri kepada manusia, yang mengakibatkan lahirnya emosi cemas.
ü Apabila fase ini tidak diselesaikan dengan baik, maka anak akan tumbuh menjadi manusia yang neurotic, mengalami PANIC DISORDER, pencemas, tidak percaya diri (minder, rendah diri), gampang gugup.

4. Fase latent
§ Setelah mengenal diri sendiri, mengenal orang tua, pada fase ini anak akan belajar mengenal saudara kandung, tetangga, anak-anak lain yang seumurannya, keluarga besar.
§ Pada fase ini tugas perkembangan anak adalah interaksi sosial, komunikasi dengan manusia lain, sikap mengalah, dan berkorban.
§ Pada usia ini, anak biasanya menampilkan sikap egois, meminta seluruh orang di sekitarnya untuk memperhatikan dia.
§ Apabila anak memiliki adik baru pada fase ini, maka anak membutuhkan pendamping double, bukan mengurangi karena pada fase ini adalah fase persiapan anak untuk melangkah mengenal dunia luar. Fase ini akan penentu apakah anak akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya atau malah menjadi sampah masyarakat.

5. Fase genital
Ø Setelah mengenal diri sendiri, orang tua, saudara kandung, lingkungan sosial, maka pada tahap ini anak akan belajar untuk mencari keseimbangan hidupnya. Jadi tugas utamanya adalah untuk mencari keseimbangan hidup.
Ø Apabila anak tidak berhasil pada fase ini maka anak tersebut akan tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki tujuan dan visi dalam hidupnya.

Demikianlah lima tahapan psikososial manusia. Semoga dengan mengetahui tahapan ini, kita semakin diberikan rasa empati kepada setiap orang di sekitar kita untuk tidak menghakimi mereka di dalam setiap kekurangan mereka. Semoga penjelasan di atas bisa membantu kita untuk bisa menerima orang-orang di sekitar kita seperti Yesus menerima kita apa adanya.
Terakhir, semoga kita bisa mempraktekkannya sehingga anak-anak yang dititipkan Tuhan kepada kita, bisa menemukan tujuan hidupnya di dunia ini.

Kesiasiaan

Di Alkitab, ada satu kitab yakni kitab Pengkhotbah yang membuat saya banyak merenung. Di kitab ini banyak dikatakan bahwa apapun yang ada di...