Sunday, 30 December 2012

Pelajaran selama menjadi "budak"

Bekerja selama setahun dua bulan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan di Jakarta ini memberikan banyak wawasan baru bagi saya. Khususnya mengenai betapa buruknya pengetahuan para orang tua di Indonesia dalam hal mengasuh anak. Bukannya saya ingin menghakimi mereka, karena saya sadar betul adalah pilihan yang sangat sulit untuk menjadi orang tua, apalagi menjadi orang tua yang ideal bagi setiap anak-anak yang mereka lahirkan di tengah-tengah perkembangan teknologi sekarang ini.

Ceritanya dimulai ketika dengan sedikit terpaksa saya akhirnya bersedia untuk bekerja di antara mahasiswa- mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.  Mereka yang masuk ke dalam asrama ini adalah mereka yang memiliki orang tua dengan level ekomoni ke atas karena biaya untuk satu kamar single di asrama ini sebesar Rp 1.750.000,00 per bulannya. Itu hanya untuk biaya kamar saja belum termasuk biaya makan dan biaya sekunder lainnya, seperti biaya hiburan, dan tentu saja belum termasuk biaya kuliah. Bisa disimpulkan, rata-rata mahasiswa yang tinggal di sini menghabiskan MINIMAL Rp 3.000.000,00 per bulannya.

*Sementara UMR di Jakarta sekarang masih di bawah Rp 2.000.000,00. Bisa dibayangkan, kan bagaimana gap itu bisa menganga begitu besar?

Kembali ke tujuan tulisan ini dibuat. Seperti kebiasaan orang pada umumnya, semakin besar uang yang dikeluarkan untuk sebuah pelayanan jasa, maka pelayanan yang diharapkan pun akan semakin tinggi bahkan terkadang tidak mau tahu dengan prosedur yang harus dilalui. Demikian pulalah karakteristik mahasiswa yang ada di sana. Walaupun secara kasat mata, yang membayar biaya mereka di asrama itu adalah orang tua mereka akan tetapi mereka merasa sangat berhak untuk melakukan apapun yang menurut mereka hak mereka. Mereka tidak mau tahu dan tidak ingin tahu dengan prosedur yang berlaku, intinya segala sesuatu yang mereka butuhkan harus terpenuhi hanya karena orang tua mereka telah membayar.

Dalam banyak hal, keluhan mereka itu sangat sering tidak bisa diterima logika. Dan malangnya, saya yang telah menerima pekerjaan itu harus siap sedia menerima setiap ocehan mereka yang tidak mendasar sama sekali. Entah dari mana mereka akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa mereka harus dilayani seperti pangeran dan putri. Mereka sama sekali tidak memiliki sopan santun dan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan benar dan tepat. Untuk semua perlakuan mereka kepada saya, saya tidak terlalu menyalahkan mereka karena orang tua mereka juga kurang lebih memiliki perlakuan yang kurang lebih sama. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, kan? Di samping itu, perusahaan yang mempekerjakan saya tidak pernah memberikan langkah yang konkrit untuk mengatasi hal ini karena bagi perusahaan, para mahasiswa itu adalah customer yang harus diperlakukan seperti raja. Jadi tidak heran kalau mahasiswa disana pada akhirnya menuntut untuk diperlakukan seperti raja.

Melallui tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini dibuat bukan untuk  menyalahkan perusahaan yang telah memperkerjakan saya dan para mahasiswa itu. Walaupun, saya tidak bisa menutup mata bahwa perilaku mahasiswa ini sedikit banyak karena "didukung" oleh perusahaan itu sendiri. Inti dari tulisan ini sendiri adalah saya ingin menyoroti  pola asuh yang telah diberikan orang tua para mahasiswa itu kepada mereka sehingga melahirkan karakter-karakter yang membuat saya nyaris sesak nafas dan menangis bombay.

Memiliki materi yang melimpah didukung dengan pengetahuan mendidik anak yang kurang membuat para orang tua mahasiswa tersebut mengandalkan barang-barang untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang mereka terhadap anak-anaknya. Para mahasiswa tersebut "dipaksa" untuk menghabiskan waktu mereka dengan bersentuhan pada barang-barang yang dibelikan oleh orang tua mereka. Barang-barang tersebut, misalnya handphone, laptop, kendaraan pribadi dan berbagai jenis alat elektronik yang lainnya. Di samping itu, adanya sosialiasi dari orang tua baik secara lisan maupun gestur tubuh yang mengklasifikan level mereka dibandingkan dengan level masyarakat lainnya di dalam taksonomi kehidupan bermasyarakat. Misalnya dengan mengatakan, kamu ini anak yang orang kaya, orang tuamu memiliki uang yang cukup untuk membiayai sekolahmu kemana pun kamu pilih. Bahkan banyak diantara mereka yang merasa terpaksa kuliah demi mendapatkan uang dari orang tuanya. Ada juga yang menganggap kuliah ini hanyalah formalitas saja. Daripada main game on line di kamar seharian  dan ketika para tetangga bertanya, kamu kuliah dimana - setidaknya mereka bisa memberikan nama universitas dimana nama mereka ada. Dan beruntungnya perusahaan tempat saya bekerja dulu, menangkap kebutuhan ini. Alhasil lahirlah perusahaan yang bertopengkan pendidikan.

Oops, kembali ke masalah pola asuh. Selama bekerja di sana saya banyak melakukan observasi dan analisa mengapa para mahasiswa disana sangat hobby dalam melakukan komplein. Dimana komplein yang mereka berikan itu tidak memiliki nilai argumentatif. Mereka hanya berani berkoar-koar di dunia maya, akan tetapi apabila diminta untuk bertemu, mereka jarang yang berani datang. Kalaupun datang mereka tidak seberani seperti di dunia maya dan kebanyakan pasti mengajak teman-temannya. Mereka mahasiswa, tapi sama sekali tidak memiliki dan tidak mau memiliki pemikiran yang kritis. Banyak diantara mereka menjadi anak TK yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.

Menurut analisa saya, hal ini disebabkan karena mereka tidak mendapatkan pola asuh yang benar. Orang tua mereka tetap mempertahankan mereka seperti bayi atau anak TK. Orang tua mereka tidak berusaha melakukan penolakan dalam diri mereka sendiri bahwa anak-anak mereka itu telah tumbuh menjadi manusia dewasa sama seperti mereka. Di mata dan pemikiran orang tua, para mahasiswa itu selamanya masih tetap menjadi putra-putri mereka seperti mereka dulu  dilahirkan ke dunia ini. Orang tua tersebut tidak mengajarkan kepada mereka bagaimana caranya untuk hidup mandiri, berperilaku sopan, menghargai dan mengasihi manusia, dan pastinya menerima kegagalan.

Minggu - minggu pertama saya bekerja disana, saya sangat shock dengan perilaku mahasiswa yang seperti anak SD. Berulang kali saya bertanya-tanya dalam hati, apakah saya tidak salah melihat, saya bekerja di universitas atau di sekolah dasar? Disana ada seribu lebih mahasiswa, bisa saya statistikakan bahwa, 80 % mahasiswa disana adalah mahasiswa yang sangat manja, pengeluh, dan tidak memiliki etika sama sekali. Kenakalan yang mereka tunjukkan itu bukan seperti kenakalan yang ditunjukkan oleh remaja pada umumnya yang masih mencari identitas diri, melainkan lebih ke kenalakan yang merendahkan orang lain. Mengganggap para karyawan yang bekerja disana adalah bawahan mereka atau pembantu mereka semuanya. Iya kalau mereka memiliki otak, masalahnya mereka hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya saja.

Kalau kenalakan hanya karena pencarian identitas mungkin masih ada kemungkinan berubah setelah mereka menemukan identitasnya suatu hari nanti. Akan tetapi, masalahnya ini adalah perilaku yang telah berakar di hati mereka yang bersumber dari bahwa mereka harus dilayani karena mereka sudah membayar mahal untuk tinggal di sana. Dan perusahaan yang tempat saya bekerja juga mendukung hal tersebut, saya karyawan harus menerima sikap mereka. Inilah sisi negatif ketika pendidikan itu dibisniskan! Saya tidak memiliki kekuatan yang penuh untuk melakukan pembinaan karena perusahaan takut dengan demikian mereka akan pindah dari asrama itu. Dengan kata lain pemasukan pun akan berkurang.

Yang saya pelajari dari pengalaman ini adalah bahwa hampir semua orang tua di Indonesia ini yang memiliki materi yang berlebih gagal dalam membina anak-anaknya. Akar dari permasalahan ini semua adalah uang. Jikalau kita telah mencintai uang sebegitu besarnya melebihi dari hal-hal lain maka percayalah yang akan terjadi adalah seperti yang saya alami selama bekerja di perusahaan itu. Akan banyak anak-anak yang lahir yang lebih tamak, lebih anarkis, lebih tidak bermoral lagi di dunia ini.

Jadi bagaimana solusinya?
Untuk sementara ini, beberapa solusi yang bisa saya tawarkan adalah :

  1. Jangan pernah memberitahukan baik secara langsung maupun tersirat mengenai kekayaan yang Anda miliki.
  2. Mulailah memperkenalkan kepada anak-anak Anda apa itu uang. Kalau anda tahu sejarah uang, akan lebih bagus dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak anda, bahwa uan itu bertujuan sebagai alat tukar. Apabila anak-anak anda sudah cukup bisa menerima penjelasan anda, anda bisa melanjutkannya dengan mengajari anak bagaimana caranya mendapatkan uang. Hal ini akan membantu anak anda untuk menghargai uang sebagaimana seharusnya.
  3. Kalau anda merasa tidak sanggup untuk membagi hidup anda dengan anak-anak anda, jangan pernah berniat untuk memiliki anak. Karena anak-anak itu bukan simbol kehormatan anda, melainkan anak ada untuk meminta komitmen anda dalam memperkenalkan dunia ini kepadanya. Tentunya tugas ini jatuh ke pundak anda, bukan ke pundak mertua anda atau baby sitter atau siapapun yang anda rencanakan untuk menjaga anak anda.
  4. Komunikasikan dan sepakati dengan pasangan anda, mengenai berbagai peraturan yang berlaku dalam rumah anda. Peraturan ini harus dilakukan secara konsisten dan tentu saja berlaku untuk semua penghuni rumah, bukan hanya kepada anak-anak anda saja, juga kepada anda.
  5. Berkaiatan dengan nomor tiga, sebisa mungkin jangan biarkan orang lain dalam hal ini di luar anda dan pasangan anda menggantikan posisi anda untuk memperkenalkan anak anda terhadap nilai agama, sosial, moral, dan etika. 
  6. Yang terakhir dan yang paling utama adalah semuanya itu hanya akan efektif dilakukan melalui tindakan bukan dengan ceramah apalagi dengan amarah. Manusia zaman sekarang akan lebih sensitif dan lebih gampang mengobservasi dan menirukan perilaku bukan perkataan.

Saya tahu, menjadi orang tua itu sangat sulit. Akan tetapi apabila anda telah memutuskan untuk memiliki anak, maka anda juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi yang nantinya akan anda dan pasangan anda hadapi. Mari bersama-sama untuk melahirkan generasi yang lebih baik untuk mengelola bumi ini menjadi lebih baik.
STOP untuk menyalahkan pemerintah yang tidak bisa mengatasi berbagai permasalahan di Indonesia ini. Karena setiap orang yang bekerja di pemerintah itu juga adalah seorang anak di dalam rumah mereka. Mereka memiliki karakter seperti itu karena pola asuh yang mereka terima dari orang tua mereka. Kalau anda merasa jenuh dengan keadaan negara ini yang tidak membawa kemajuan, maka kini saatnya anda dan pasangan anda harus berkontribursi untuk melahirkan generasi yang lebih berintegrasi dan layak untuk mengemban sebuah beban.

Kalau anda bisa menjadi seperti sekarang ini, masakan anda tidak mau anda juga akan mampu menjadi sama seperti anda tanpa harus mengharapkan warisan materi dari anda. Mari memanusiakan manusia. Jangan membiarkan anak anda tetap menjadi anak manusia, akan tetapi sudah saatnya dia bisa menjadi seorang
 manusia.



Gadis "JAKARTA"

Tidak pernah sekalipun terlintas di kepalaku untuk berkarier di Jakarta, di Ibukota Negara Indonesia ini. Bukan karena aku membenci kota ini melainkan karena aku sama sekali tidak mengenal kota ini selain dari lagu Iwan Fals yang menyuarakan betapa susahnya tinggal di Jakarta. Bahkan, selama empat tahun kuliah di Depok, yang merupakan tetangga dekat Jakarta tidak cukup untuk menanamkan ide di kepalaku berkarier di Jakarta ini. Mungkin, karena saat itu aku terlalu fokus dengan apa yang ada di depanku, yaitu menyelesaikan kuliah tepat waktu sebelum beasiswaku kedaluarsa alias diberhentikan seperti perjanjian yang sudah aku setujui sebelumnya bahwa aku hanya akan mendapatkan beasiswa selama 4 tahun saja. Oleh karena itu, saraf di otakku belum bisa melangkah lebih jauh lagi untuk memikirkan pintu mana nantinya yang akan aku masuki setelah melepaskan jaket kuning itu.

Singkat cerita ketika perlahan tapi pasti, masa kedaluarsa beasiswa sudah semakin mendekat, bak kebakaran jenggot aku pun mengirimkan lamaran sebanyak mungkin ke semua perusahaan yang aku tahu membutuhkan fresh graduate dengan latar belakang pendidikanku, yaitu psikologi. Dengan harap-harap cemas dan semangat untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup di Jakarta ini, aku mengirimkan surat lamaran dan CV sebanyak mungkin. Tak jarang, karena banyaknya perusahaan yang aku lamar, aku sering lupa dan tidak menyadari pernah melamar ke perusahaan itu ketika ada panggilan tes wawancara.

Puji Tuhan, sebelum aku wisuda, setelah memenuhi panggilan tes wawancara untuk kesekian kalinya dari perusahaan yang berbeda-beda, akhirnya ada perusahaan yang menerimaku. Aku memulai karierku di perusahaan konsultan bisnis dan manajemen. Aku ingat saat itu, aku dipanggil tes wawancara di hari Jumat dan diwawancara oleh tujuh orang sekaligus! Kaget, tentu saja! Karena ini menjadi pengalaman pertamaku ditest wawancara oleh tujuh orang sekaligus, dimana pertanyaannya tidak memiliki alur. Melompat-lompat seperti kutu di kepala yang menyebabkan gatal tidak menentu, kadang di bagian depan kepala, kadang di tengah, di belakang, dan kembali lagi ke tengah, kembali lagi ke depan, dan begitu seterusnya. Hal ini mengakibatkan durasi tes wawancara berjalan sampai lebih dari dua jam! Sidang skripsi saja, aku lalui hanya 15 menit dengan dua orang penguji! Belum lagi pengalamanku, sebelum sampai ke perusahaan ini dengan selamat aku melakukan kebiasaanku, yaitu NYASAR! Padahal alamat perusahaan yang aku datangi ini sangatlah strategis, Menara Karya, Jalan Rasuna Said, tetangga dengan keduataan Belanda dimana aku sudah sering ke sana!

Singkat cerita, sesampai di kostan (waktu itu masih di Depok), aku mendapat telepon dari perusahaan yang sama untuk tes wawancara kedua di keesokan harinya. Kali ini aku diwawancara oleh satu orang dengan durasi yang kurang lebih sama yaitu sekitar dua jam! Dan akhirnya aku pun diterima bekerja di sana dengan gaji Rp 3.500.000,00 di samping tunjangan dan bonus! Gaji yang cukup besar menurutku di kala itu, berhubung setelah tanya kesana-kemari ternyata teman-teman seangkatan banyak yang tidak mendapatkan gaji sebesar yang aku terima. Jadi, kesimpulannya, aku tidak ditipu dengan besarnya upah yang akan aku terima sebagai seorang fresh graduate.

Dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengaplikasikan ilmu dan ingin memberikan kesan yang baik terhadap almamater (pesan dari dosen masih menari-nari di kepala untuk tidak mempermalukan almamater, maklum fresh graduate), aku pun bekerja dengan sangat disiplin dengan berusaha memberikan yang terbaik, misalnya datang lebih pagi dan berusaha untuk pulang lebih lama dari waktu yang ada di surat perjanjian kerja. Di minggu - minggu pertama aku bekerja di sana, aku telah tiba di kantor sebelum MENARA KARYA dibuka (gedung tempat aku memulai karier). Terpaksa aku menunggu di luar bersama satpam dan OB gedung yang baru datang untuk melakukan tugas rutin mereka.

Akan tetapi, tsunami itu pun datang. Setelah satu tahun satu bulan bekerja disana, aku merasa tidak berjodoh dengan perusahaan itu. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dan tentunya yang lebih membuatku untuk nyaman mengaplikasikan ilmuku. Bisa dibilang, aku membawa kekecewaan dari perusahaan ini. Kekecewaan yang aku sendiri tidak bisa menjabarkannya karena tidak ada kalimat yang tepat untuk memaparkannya.

Setiap kali ada saja orang yang menanyakan mengapa aku meninggalkan perusahaan itu, apalagi dengan upah yang aku dapatkan (setelah enam bulan bekerja disana, aku diangkat jadi karyawan tetap dan tentunya diikuti dengan kenaikan upah) yang cukup besar untuk ukuran fresh graduate, menurut mereka! Tak banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa aku menjadi manusia yang cinta uang dan tidak puas dengan apa yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa. Ada pula diantara mereka yang mempertanyakan, apakah aku menyesal dengan keputusan yang aku ambil? Tentu saja dengan intonasi yang memaksaku untuk mengatakan, iya.

Kuakui, itu memang salah satu keputusan berat yang pernah aku ambil dari ratusan keputusan yang pernah kuambil sendiri -  Meninggalkan perusahaan itu sebelum mendapatkan pekerjaan lain. Untuk yang satu ini, aku sangat bersyukur sekali karena aku telah terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri sehingga prosesnya berjalan dengan cepat (sisi positifnya). Walaupun aku mendapatkan rem dari pacarku untuk mempersiapkan hatiku menghadapi konsekuensinya. Keputusan untuk pergi semakin sulit untuk aku ambil selama sepersekian menit ketika pihak perusahaan masih mencoba menunda kepergianku dengan mengatakan aku boleh pergi setelah menemukan pekerjaan baru. Dengan kata lain aku masih  dibutuhkan di perusahaan itu. Betapa baiknya perusahaan itu, yang saat itu nyaris membuatku ingin menangis. Menangis karena aku merasa  semakin terluka untuk tetap bertahan bahkan untuk sehari saja.

Orang-orang terdekatku yang paling ribut mempertanyakan keputusanku ini, khususnya dari pihak keluargaku. Tentu saja mereka mengkuatirkan bagaimana aku bisa bertahan hidup di Jakarta ini tanpa pekerjaan. Karena sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan membantuku!

Seperti yang aku katakan di awal, aku meninggalkan perusahaan itu bukan karena kesombonganku seperti respon beberapa orang (karena mereka melihat dari sisi upah yang telah aku terima). Dan aku tidak pernah menyalahkan mereka untuk memberikan respon itu. Karena aku juga terlalu lelah untuk memberikan pembelaan terhadap diriku dengan suasana hatiku yang terluka (jiaah..!!). Cukuplah sahabat dan pacarku yang tahu bagaimana asap itu akhirnya bisa muncul. Sekarang, mungkin apinya telah lama padam, dan asapnya juga sudah tidak ada lagi, akan tetapi bekas dari api itu masih belum hilang. Walau sudah lebih dari setahun berlalu, bekasnya masih sangat nyata (salah satu ciri-ciri orang yang belum move on).

Puji Tuhan, tepat sebulan setelah saldoku nyaris menuju angka nol, aku menerima tantangan untuk bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan. Cukup memiliki brand di Jakarta ini - walau aku sama sekali tidak peduli! Bagiku yang terpenting adalah aku bisa mengaplikasikan ilmu yang ada di otakku ini sebelum menjadi rusak karena tidak dipakai. Seperti kebiasaan  lamaku, bekerja dengan sangat antusias, inisiatif, bertanggung jawab, dan berusaha memberikan yang terbaik, aku pun melanjutkannya di tempat yang baru ini. Dari segi pekerjaan, sekilas, ilmuku terasa lebih diterapkan di perusahaan ini. Sialnya, mimpi buruk itu belum berlalu, di tempat yang baru ini, aku bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki karakter sangat berbeda denganku. Aku yang super duper mandiri, visioner, cekatan, dan tangkas, kelindas dengan tingkah laku teman sekerja yang berkebalikan denganku. Satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah  BERTAHAN kalau tidak, aku diwajibkan untuk membayar denda, dimana sudah bisa dipastikan aku tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya. Di samping itu, tujuan utamaku menerima tantangan bekerja di perusahaan ini adalah untuk mengaplikasikan ilmuku, bukan untuk MEMBAYAR DENDA! Jadilah selama setahun dua bulan aku lalui dengan helaan nafas yang sangat panjang, yang apabila diukur tidak akan ada meteran yang valid dan reliabel untuk menyatakan angkanya dan - mengeluarkan air mata. Singkat cerita, akhirnya aku menyadari kalau hatiku yang terbuat dari besi baja ini akhirnya karatan juga. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan perusahaan ini setelah satu tahun dua bulan memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan mentalku.

Pertanyaan yang sama juga kembali ditujukan kepadaku. Tidak menyesalkah meninggalkan pekerjaan ini dengan segala fasilitas yang aku dapatkan? Hampir dari setiap orang yang mengetahui keberadaanku bekerja di perusahaan ini menyayangkan keputusanku. Lagi - lagi, aku merasa tidak berkewajiban untuk mencari pembernaran atas penilaian yang mereka berikan kepadaku. Aku akui, aku telah gagal dua kali. Aku telah gagal dua kali bekerja sama dengan orang Cina. Alasan aku meninggalkan kedua perusahaan ini sama, yaitu karena sakit hati. Aku bahkan tidak tahu yang mana yang lebih sakit.

Dari pengalaman ini aku mulai bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang salah denganku? Apakah memang aku ditakdirkan untuk tidak bisa bekerja sama dengan suku Cina. Di perusahaan yang pertama dan kedua adalah mayoritas Cina dan Kristen. Seharusnya, jikalau memang benar kami mengenal Tuhan yang sama, yang mengajarkan kasih seharusnya kami bisa bekerja sama dan berkarya dengan lebih baik. Akan tetapi yang kudapatkan adalah sebaliknya. Mengapa aku begitu sulit bekerja sama dengan orang yang seagama denganku (kejadian yang serupa tapi tak sama juga terjadi ketika di kampus = tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan mahasiswa yang aktif di kegiatan agama Kristen).

 Mungkin pernyataanku yang selanjutnya ini  terlalu berlebihan, akan tetapi aku merasa karier pertama yang kulalui seperti masuk ke sarang singa keluar dari sana, masuk lagi ke sarang buaya yaitu di tempat kerjaku yang kedua. Dan pernyataan ini cukup membuatku puas dengan pertanyaanku di paragraf sebelumya. Ada tertulis, AKU MENGUTUS KAMU BUKAN KE PADANG BERUMPUT HIJAU, MELAINKAN KE SARANG SERIGALA. Atau mungkin, apabila sesama terang disatukan dalam suatu tempat, yang terjadi adalah SILAU, bukan terang lagi!

Untuk setiap helaan nafas dan air mata yang jatuh, aku tidak mau mengingkari, bahwa aku mendapatkan banyak pengetahuan dengan berkarier di kedua perusahaan itu. Banyak hal yang aku pelajari yang membuatku semakin terbentuk untuk menjadi manusia yang lebih hidup lagi. Hanya saja, mungkin aku harus mengakui bahwa aku kurang beruntung dengan dunia pekerjaan. Sama seperti Paulus, mungkin inilah "duri dalam dagingku", melalui pekerjaankulah maka kekuatan Tuhan akan nyata dalam hidupku. Sekarang, keputusan telah aku ambil dengan tegas bahwa aku katakan tidak akan ada penyesalan. Aku tidak tahu ke sarang mana lagi aku akan pergi, yang kuimani Tuhan adalah setia. Dia akan menguatkan hatiku dan memeliharaku terhadap yang jahat (2 Tesalonika 3:3).

Saat ini aku akan terus melangkah, berjalan, dan sesekali mungkin akan berlari untuk mengisi hidupku dengan Tuhan menjadi Rajaku. Aku sangat menyadari apa yang telah aku alami selama dua tahun belakang ini adalah tidak lepas dari setiap keputusan yang aku ambil. Dimana semua keputusan yang aku ambil adalah dalam keadaan sadar dan tentunya aku akan menjalani konsekuensinya dengan kekuatan yang Yesus berikan kepadaku. Karena setiap keputusan yang aku ambil, terlebih dahulu aku komunikasikan dengan Yesus. Mungkin aku tidak langsung mendapatkan jawabannya seperti kebanyakan orang yang mengkomunikasikannya dengan orang tua, saudara, atau yang lainnya. Yang kuimani akan selalu ada kekuatan dan pertolongan bagi yang membutuhkanNYA.

Seperti isi dari kebanyakan dialogku dengan Yesus, jadikan aku berkat bagi orang - orang di sekitarku. Jadi, mungkin ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk kedua kalinya meninggalkan perusahaan ini sebelum mendapatkan pekerjaan baru yaitu karena aku sudah tidak menjadi berkat lagi disana.

Kesimpulanku, hidup di Jakarta itu tidak susah kalau kamu tahu tujuan kamu dilahirkan! Tujuanku dilahirkan adalah UNTUK MENJADI BERKAT BAGI ORANG-ORANG DI SEKITARKU. Bagaimana denganmu, apakah tujuanmu untuk dilahirkan di dunia ini?

Friday, 28 December 2012

kebahagiaan di akhir tahun

Hari ini kugembira karena di usiaku yang sekarang telah begitu banyak warna yang aku torehkan dalam perjalanan hidupku. Bahkan lebih banyak dari warna yang aku tahu namanya. Aku gembira sekali ketika aku akhirnya menyadari bahwa aku akan terus melanjutkan kegiatan ini, menorehkan warna dalam kehidupanku.

Aku tahu di luar sana, banyak yang ingin memiliki kehidupan seperti yang kumiliki sekarang.
Hidup sendirian, tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri mulai dari mau makan apa sampai mau menikah dengan siapa. Keputusan ada di tanganku sendiri, dan tentunya resiko juga aku yang menanggung. Perlahan tapi pasti aku mulai memutuskan setiap ikatan yang membelungguku, bahkan itu ikatan dari orang tua maupun keluarga. Bagiku sekarang, hidupku adalah ya ini.
Aku memiliki banyak pilihan untuk menjadikannya lebih menarik seperti yang kumau. Aku benar-benar terbebas dari aturan dan kebiasaan konvensional. Aku bebas menjadi yang kumau.

Ini sungguh menyenangkan, ketika aku tidak harus terikat terhadap pemikiran dan peraturan yang konvensional.
Aku telah memiliki identitas sendiri, memiliki prinsip sendiri, memiliki karakter sendiri.

Aku sangat bahagia sekali menyadari bahwa aku tidak perlu meniru gaya siapapun. Aku tidak perlu memodifikasi diriku agar bisa sama seperti orang lain. Aku telah menemukan jati diriku.

Aku sangat bahagia sekali karena aku telah mengetahui untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa dalam hidupku,

Aku sangat bahagia sekali karena aku bisa menjadi sepreti apa yang ada dalam diriku.
Bahagia sekali rasanya, hidup ini serasa semakin nyaman untuk aku jalani. Tidak sabar rasanya untuk menoreh berbagai warna di dalam kehidupanku lagi.
Aku sangat bahagia sekali, bahagia, dan bahagia sekali.

Thursday, 27 December 2012

STOP

Dalam beberapa rentang perjalanan kehidupanku, banyak kutemukan pemikiran bahwa hidup ini tidak adil bagiku. Aku yang merasa memiliki hak akan sesuatu tapi hilang raup tertelan oleh mereka yang telah merampasnya. Aku yang mengeluarkan usaha maksimal dan terbaik dengan harapan mendapatkan yang terbaik, ternyata yang ada adalah luka dan sakit hati.

Adalah aku yang nyaris tiga tahun menjalani hidup sebagai wanita karier di Ibu Kota Negara ini.
Dengan jujur aku katakan, aku adalah pekerja yang setia dan yang siap sedia memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan. Akan tetapi jika semua yang kulakukan tidaklah menjadi bumerang yang menyenangkan bagiku, sebodoh itukah aku untuk bertahan? Tidakkah hal yang lumrah untuk menemukan yang lebih baik?

Aku akui, aku adalah perempuan yang memiliki impian besar. Sama sekali tidak pernah terlintas dipikiranku untuk menjatuhkan orang lain apalagi untuk menjadi seorang penjilat! Mohon maaf bagi mereka yang merasa terganggu dengan cara kerjaku yang selalu berusaha memberikan yang terbaik. Itu kulakukan bukan untuk mendapatkan pujian dari atasan atau dari siapapun, akan tetapi karena impianku adalah memberikan yang terbaik semampuku.
Bagiku, pekerjaan adalah sebagai sarana untuk membuatku semakin hidup dan mengaplikasikan ilmu yang telah aku dalami selama kurang lebih empat tahun. Tentu saja, aku masih belum puas dengan ilmu yang telah kumiliki ini. Aku masih ingin terus menggali dan menggalinya. Salahkah aku dengan semua hal ini?
Jika kalian mengatakan ini adalah sebuah kesalahan, maka aku akan merespon dengan "GOOD BYE".

Jadi, apakah tepatnya pengalaman yang membuatku sampai pada kesimpulan bahwa hidup ini tidak adil?

Menjadi alumnus dari salah satu universitas terbaik di negara ini, di samping mendapatkan banyak pujian juga akan diikuti dengan beban yang sama besar. Bagaimana tidak, semua orang akan menilaimu dari setiap hal yang mereka bisa lakukan untuk menjatuhkanmu. Salah satu contoh komentar mereka adalah, "Jadi begini kualitas anak UI?". Bisa dipastikan mereka yang memberikan komentar ini adalah mereka yang bukan dari UI tentunya. Dan tentu saja mereka yang tidak memiliki kaca di rumahnya untuk berkaca. Bukan hal yang baru lagi bagiku ketika di dunia pekerjaan, yang kudapatkan adalah tuntutan yang lebih besar hanya karena almamater yang kumiliki. Padahal seharusnya, upah akan berbanding lurus dengan beban tanggung jawab. Yang kualami adalah beban kerja berbanding lurus dengan almamater. Dan tidak memiliki hubungan apapun dengan upah.
Seolah-olah, almamaterku sudah ditakdirkan untuk mendapatkan tuntutan yang lebih besar dibandingkan dengan almamater lain di negara ini.

Pengalaman lain yang kudapatkan adalah ketika aku berusaha dengan setiap helaan nafasku untuk memberikan yang terbaik, untuk mengumpulkan setiap rupiah, di bagian lain negara ini hanya dengan duduk dan bermalas-malasan saja bisa mendapatkan berlipat kali dari upah yang kudapatkan.

Di belahan Ibu Kota Negara yang lain kutemukan mereka yang selalu dengan gampangnya menghabiskan setiap rupiah tanpa memikirkan apapun. Seolah-olah hidup ini hanya untuk sehari saja. Hanya memikirkan diri sendiri. Dan sialnya itu adalah hal yang sulit kulakukan. Memikirkan diri sendiri!

Ada lagi yang tidak memiliki rasa bersalah dengan menghabiskan waktu hanya dengan melakukan sesuka hati. Menonton, mengomentari orang lain, tidu-tiduran, bengong, dan sebagainya. Sementara aku harus berpacu dengan waktu untuk dapat bertahan hidup.

STOP!
Aku mau di hari-hari yang akan datang, aku ingin menutup semua pemikiran mengenai ketidakadilan dalam hidup ini. Aku mau membuka kembali setiap lembaran kisahku dengan ucapan syukur. Bersyukur buat setiap masalah, penderitaan, kesepian, keegoisan yang kuterima dari sesamaku manusia. Aku harus bersyukur untuk semua itu. Karena itulah cara yang paling mujarab untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku telah dibentuk.
Hidup ini memang tidak adil, lalu mengapa? Itu bukan menjadi alasan yang kuat untuk membenci kehidupan ini. Tidak jadi pilihan yang dewasa untuk mengakhiri natal tahun ini.

STOP!
dan STOP!

pesona dari alam bawah sadarku

Sudah menjadi peranku di dunia ini untuk menjadi orang yang dimanfaatkan, untuk menjadi tempat pelampiasan amarah, seseorang yang akan selalu ditindas dan dituntut! Itulah peran yang aku dapatkan di dunia ini. Tentu saja aku memiliki pilihan untuk tidak melaksanakan peran itu lagi, tapi sayangnya aku belum memiliki keberanian yang luar biasa untuk memainkan peran yang lain. Sudah terlalu banyak harga yang harus kubayar untuk hal-hal yang lain yang mengakibatkan saldo mentalku belum cukup untuk membayar harga  membeli peran yang lain.

Dalam banyak kesempatan, aku sering sekali bertanya-tanya kepada diriku sendiri, "apa yang salah denganku?" Mengapa aku begitu sangat mudah ditindas, dimanfaatkan, dan dituntut?
Dan jawabannya adalah KARENA AKU. AKU lah yang secara tidak langsung  membiarkan hal itu terjadi. Akulah yang membuat diriku diperlakukan demikian. Akulah yang memberikan mereka akses untuk membuatku menjadi tidak berdaya untuk berkata tidak. Otakkulah yang selalu berusaha mengingkari kenyataan dengan berkata bahwa pada dasarnya semua manusia itu adalah baik. Pemikirankulah yang  mengatakan bahwa semua manusia di dunia ini memiliki hati nurani yang kurang lebih sama dengan apa yang kumiliki. Aku berusaha menutup mata hatiku dengan semua ketidaknyamananku. Iya, akulah dia si penyebab utama sehingga peran ini menjadi identitasku.

Aku tidak bisa berharap orang lain untuk berhenti menindasku, berhenti memanfaatku, dan berhenti menuntutuku. Tidak akan pernah bisa.
Tidak seorang pun bisa melakukan apapun kepadaku jikalau aku tidak memberikan akses itu. Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa menguras mentalku bila seandainya aku dapat mengambil keputusan yang tepat untuk keutuhan jiwaku.

Sayangnya, aku masih balita. Kakiku masih terlalu rapuh untuk berjalan sendirian. Tanganku juga masih terlalu kecil untuk menggapainya. Aku belum cukup besar untuk menutupi pelindung aksesku.Aku belum memiliki saldo yang cukup untuk membangun brankas yang mutakhir.

Pilihan yang kumiliki sekarang adalah mengumpulkan pundi-pundi mentalku yang nantinya akan kuperlukan untuk membangun brankas yang super duper mutakhir dimana tak akan pernah ada akses lagi untuk menyakitinya atau tetap menjadi seperti sekarang ini dengan konsekuensi akan selalu terluka.

Persimpangan hidup ini begitu sangat mengganggu. Aku terbelenggu diantara mereka yang mengatakan mencintaiku.

Wednesday, 21 November 2012

Duniaku

Hari ini sepertinya aku semakin menyadari bahwa di dunia ini yang paling berperan itu adalah uang. Jadi, tidak heran kalau semua orang yang ada di sekitarku ujung-ujungnya akan kembali ke uang. Uang menjadi tujuan utama dalam hidup.
Masih adakah di dunia ini yang tidak mengutamakan uang di dalam hidupnya?
Kalau ada mungki itu karena dia sudah pernah menikmati kehidupan yang sangat kaya raya sekali atau mungkin dia telah mengalami lahir baru, seperti kehidupan orang-orang yang melakukan meditasi di gua dan meninggalkan kenyamanan dunia ini.

Mengapa uang menjadi yang terutama dan menjadi tujuan hidup bagi banyak orang?

Padahal kalau direnungkan kembali, kebutuhan kita akan tercukupi tanpa harus menjadi tamak, tanpa harus mengeksploitasi sesuatu, tanpa harus menimbun uang, emas, dan kawan-kawannya.

Kita hanya memiliki perut sejengkal. Beras satu periuk tidak akan muat di dalam perut kita untuk sekali makan. Lalu, mengapa kita harus mengeksploitasi tanah untuk menghasilkan beras secara berlebihan? Yang ujung-ujungnya akan terbuang ke tempat sampah.
Kaki hanya satu pasang, tapi kita menimbun banyak sepatu dan sandal di kamar kita yang mana nyaris tidak pernah kita pakai. Tahukah kita, dari mana itu semua bahan-bahan sepatu itu? Dari alam. Kita telah mengeksplor alam dengan sangat luar biasa hanya untuk memenuhi ketamakan kita.
Aku tidak perlu menjabarkan satu-persatu segala sesuatu yang menempel di badan kita, yang oleh karena itu menyebabkan kita untuk mengeksploitasi alam ini dengan sangat berlebihan.
Bukan hanya alam yang kita eksploitasi, tapi juga manusia.

Hanya untuk memenuhi ketamakan kita dalam berpakaian, pernahkah kita menyadari bahwa jutawaan buruh di belahan bumi sana, yang di bawah umur yang harus berdiri 12 jam sehari tanpa duduk hanya untuk menjahit setiap benang dari pakaian yang kita pakai dan tentu saja upah yang mereka dapatkan sangat tidak layak!
Lalu di belahan bumi yang lain, manusia berjuang agar mampu meningkatkan taraf hidupnya melalui pendidikan. Belajar dengan baik, untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar dan pada akhirnya  kembali melakukan eksploitasi, baik terhadap alam maupun terhadap manusia.

Mengapa kita menjadi sangat tamak?

Memang benar, ada pepatah yang mengatakan jangan gampang untuk berpuas diri. Tapi, bisakah ini dijadikan alasan untuk mengekspploitasi alam dan sesamamu manusia?

Berhentilah mencintai diri sendiri dan mencintai UANG!

Mungkin aku terlalu idealis dengan semua keadaan ini. Tapi apa yang kualami akhir-akhir ini membuatku sangat syok dan frustasi. Aku frustasi melihat sekelilingku ketika cinta terhadap alam, cinta terhadap lingkungan telah memudar.

Sangat jarang ditemukan saat ini orang yang memikirkan orang lain, membantu orang lain saat dia terpuruk secara materi. Semua perusahaan besar maupun orang kaya berlomba-lomba melakukan kegiatan sosial dan menilai dirinya dengan menyuarakan melalui perusahaan yang dia didirikan mereka telah berperan dalam mensejahterahkan orang banyak. Omong kosong besar. Apa yang mereka sumbangkan melalui  kegiatan sosial hanya sekian persen dari hasil eksploitasi mereka dari alam dan manusia.

Masih adakah di dunia ini yang mau belajar, murni untuk kesejahteraan hidup bersama dan demi keberlangsungan alam untuk selanjutnya?
Ataukah semuanya sudah menjadi bisnis?

Seperti sepasang orang tua yang berusaha memiliki dan membesarkan anak-anaknya agar suatu hari kelak, anaknya bisa memberikan sesuatu kepada mereka. Membalas setiap usaha yang telah mereka keluarkan dalam membesarkan anak-anak mereka.
Mungkin banyak orang tua yang melakukan penyangkalan terhadap pernyataan ini. Mereka biasanya akan mengatakan bahwa semua orang tua di dunia ini selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya tanpa berharap itu kembali. Omong kosong besar. Kalau memang benar orang tua ikhlas dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka, mereka tidak akan memberikan tuntutan yang berlebihan terhadap anak-anaknya, seperti harus pintar di sekolah, harus menguasai berbagai macam bahasa agar nanti bisa melanjutkan sekolah yang bergengsi, dan bisa dapat pekerjaan dengan gaji yang besar.

Adakah orang yang ihklas memberi tanpa berharap akan kembali?




Saturday, 10 November 2012

Mereka yang telah merajut kehidupanku


Saya merasa sangat beruntung sekali dapat menghabiskan masa sekolah di sebuah desa kecil di Sumatera Utara, namanya SOPOSURUNG. Soposurung berada di kecamatan Balige, dengan Toba Samosir sebagai Kabupatennya. Inilah kota kecil yang menjadi saksi bisu 18 tahun awal kehidupan saya.

Salah satu keunikan kota ini adalah ketika semua sekolah terpusat di sebuah kelurahan yaitu SOPOSURUNG (walaupun sekarang sudah berdiri beberapa sekolah yang tidak terletak di kelurahan ini). Jadi bisa dibayangkan jam masuk dan ke luar sekolah adalah jam-jam sibuk di kelurahan ini karena akan terlihat banyak anak sekolah yang berjalan kaki ke atau dari Soposurung. Sebuah pemandangan yang sangat langka terjadi di Ibukota Negeri ini.

Masa sekolah adalah masa yang paling indah dalam hidup saya. Masa dimana saya benar-benar mengalami transformasi dari tidak tahu menjadi tahu. Masa dimana saya bisa mengeksplor dunia luar tanpa harus menginjakkan kaki di tempat itu. Tentu saja ini semua tidak terlepas dari peran para guru yang telah ikut serta merajut masa depan saya.

Di setiap tahapan sekolah, saya memiliki guru favorit - tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap semua guru-guru saya yang lain tentunya. Di Sekolah Dasar, guru favorit saya adalah Ibu Siahaan yang telah mengari saya membaca dan menulis. Beliau adalah guru di tahun pertamaku di bangku Sekolah Dasar. Walaupun saya sering kena pukul karena kemampuan saya dalam bahasa sangat sulit, akan tetapi sekarang saya menyadari kalau bukan karena beliau mungkin saya tidak akan pernah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. (Adalah hal yang lumrah apabila guru memukul siswa di zaman saya dan bahkan orang tua saya sudah memberikan hak dengan mengatakan kepada guru-guru saya, untuk memukul saya kalau memang saya bodoh atau tidak bisa mengikuti pelajaran. Sebuah fenomena yang dilematik, karena di satu sisi menimbulkan trauma terhadap siswa untuk belajar, walaupun dengan jujur saya harus mengatakan tindakan ini sangat efektif untuk saya sehingga membuat saya tetap di jalan saya untuk belajar).

Satu lagi guru  di Sekolah Dasar yang mengajarkan saya tentang kedisiplinan adalah Bapak Tampubolon. Beliau adalah guru saya di kelas 4 Sekolah Dasar. Satu hal yang saya ingat dari beliau sampai sekarang adalah tidak boleh menguap di kelas yaitu selama proses belajar berlangsung. Bagi siapa yang ketahuan menguap akan kena pukulan. Jadi, apabila ingin menguap, saya dan teman-teman harus menahan kedua bibir jangan sampai terbuka apalagi mengeluarkan suara. Perilaku ini sampai sekarang masih terdoktrin di otak saya, sehingga sampai sekarang saya terbiasa untuk tidak menguap lebar-lebar ketika di depan umum atau saat kondisi formal. Dan menurut saya ini adalah didikan yang baik untuk berperilaku sopan.

Masih dengan guru bahasa Indonesia, di SLTP guru favorit saya, yaitu Ibu Pakpahan. Dedikasi beliau dalam mengajari anak didiknya sangat profesional, mungkin karena beliau telah puluhan tahun mengajar jadi sudah sangat berpengalaman dalam mendidik siswa-siswi. Saat beliau mengajar saya, usianya sudah mencapai 60 tahun. Akan tetapi di usia 60 tahun, beliau masih sangat energik, bersih, dan selalu duduk dengan sikap sempurna. Peraturan yang beliau terapkan selama mengikuti pelajaran beliau adalah kami harus menulis dengan tulisan bersambung. Bagi siswa yang ketahuan tidak menulis dengan tulisan bersambung maka akan mendapatkan hukuman. (Sebuah didikan yang sangat langka, mengingat saat ini nyaris tidak ada siswa-siswi yang tulisannya dalam bentuk bersambung!). Beliau juga suka memberikan ulangan harian secara tiba-tiba dimana hanya ada dua soal saja, jadi pilihan nilai hanya 3, dapat angka 10, 5, atau 0. Dan tentu saja soal ulangan itu membutuhkan penjelasan dengan bahasa kita sendiri. Tidak seperti ulangan sekarang yang cenderung daam bentuk pilihan ganda, sehingga pengukuran terhadap pemahaman siswa akan pelajaran tidak terukur dengan tepat. Oh iya, kami juga diwajibkan untuk duduk dengan sikap sempurna sama seperti beliau, yaitu punggung tegak, tidak berpangku tangan, apalagi tiduran. Posisi badan akan membentuk sudut 90 derajat dengan meja, itulah duduk sikap sempurna ala Ibu Pakpahan.


Di tingkat SMA, saya tersanjung dengan guru sejarah saya yang membuat saya menyadari bahwa pelajaran sejarah itu bukanlah hafalan. Walaupun banyak tahun, nama, tempat, dan kejadian yang harus diingat akan tetapi melalui Bapak Pangaribuan, belajar sejarah menjadi sesuatu yang menyenangkan karena beliau "memaksa" kita untuk bercerita dengan pemahaman dan versi kita mengenai sejarah. Metode mengajar beliau adalah dengan memanggil setiap siswa satu-satu ke depan untuk menjawab pertanyaan dari suatu peristiwa sejarah dengan contoh pertanyaan "Apakah latar belakang terjadinya jalan sutra di Indonesia?" Dan apa tujuannya? Gambarkan peta dari perjalan sutra itu sampai ke Indonesia!

Sesungguhnya semua guru di setiap tahapan sekolah saya, sangat berkontribursi besar dalam pembentukan pemahaman saya mengenai dunia ini. Walaupun dalam tulisan ini saya hanya menyebutkan beberapa guru dari sekian banyak guru, itu bukan berari saya menganaktirikan yang lain. Saya tidak akan pernah bisa menjadi alumnus Psikologi Universitas Indonesia, bersaing dengan ribuan siswa se-Indonesia dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB 2006) jikalau bukan tanpa guru-guru TK, SD, SLTP, dan SMA yang membangun fondasinya. Hal ini tidak mungkin saya dapatkan di rumah saya, karena ibu saya tamat Sekolah Dasar pun tidak. Saya tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melangkah ke luar dari desa dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, jikalau bukan karena mereka yang telah memperkenalkan dunia luar bagi saya melalui proses belajar-mengajar di kelas. Merekalah yang telah menanamkan mimpi di benak saya bahwa melalui pendidikan, hidup akan lebih baik.

Pendidikan yang saya terima di desa memang tidak secanggih dan se-update di kota. Akan tetapi dengan berbagai kreativitas guru di desalah yang membuat saya dan teman-teman yang lainnya bisa duduk sejajar dan bersaing dengan siswa-siswa kota yang diperlengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai, misalnya perpustakaan, komputer, lapangan olah raga, dan sebagainya.

Hari ini, 10 November 2012 diperingati sebagai hari Pahlawan, tulisan ini saya dedikasikan kepada setiap guru yang telah bersedia mengabdi di desa khususnya untuk semua guru-guru saya, karena kalian adalah Pahlawanku. Terima kasih telah memperkenalkanku pada dunia ini.

Wednesday, 7 November 2012

pemalas

Banyak orang di sekitarku yang menyalahkan pemerintah dan berbagai sistem di Indonesia yang sangat jauh dari kesejahteraan. Korupsi dimana-mana, bukan hanya di pemerintahan tapi di semua aspek kehidupan.
Memang benar, korupsi yang terjadi di pemerintahan terlihat lebih nyata karena banyak media yang meliputnya dan berdampak langsung dengan rakyat, akan tetapi kita sebagai rakyat juga berkontribursi di dalamnya. Justru kita jugalah yang paling ganas dalam melakukan korupsi dan sayangnya media tidak berhasil meliputnya.

Saya awali pengamatan saya dari rekan-rekan muda yang ada di sekitar saya.

Kebenaran sekarang saya tinggal di sekitar Jakarta Barat, dan saya sering sekali melakukan perjalanan ke bagian Jakarta lainnya di akhir minggu. Sepanjang jalan saya sering melakukan pengamatan terhadap orang-orang yang saya lihat. Terkadang saya suka iseng menghitung jumlah orang disepanjang perjalanan saya, yaitu mereka yang berdiri, duduk, mengurumpi, bengong - saya klasifikasikan tidak melakukan kegiatan yang berarti. Dan amazing sekali, jumlah mereka sekitar 500 - an orang. Jumlah yang sangat besar sekali, dan rata-rata mereka adalah usia produktif!
Lalu saya berpikir, kok bisa ya mereka nyaman dengan duduk seperti itu tanpa melakukan kegiatan apapun?
Segitu malasnyakah bangsaku ini untuk menggerakkan badannya?

Hal yang sama juga terjadi di tempat saya bekerja. Kebenaran situasi bekerja saya adalah di antara mahasiswa. Saya mengobservasi perilaku mereka dimana kemalasan sangat mendominasi mereka. Mereka bisa betah duduk, bersantai-santai, nongkrong selama berjam-jam.

Di Jakarta ini ada begitu banyak tempat nongkrong dan rata-rata itu selalu penuh.
Generasiku adalah generasi yang pemalas, tidak mau jalan kaki, sangat tergantung dengan kendaraan, dan tidak sadar diri dengan keadaannya.

lalu dari mulut kami, akan sangat kencang berteriak kalau pemerintah kami adalah pemalas dan koruptor!
Kami lupa kalau kami juga melakukan hal yang sama. Kami juga pemalas dan koruptor sama dengan para pemerintah. Bedanya cuman satu, pemerintah yang koruptor langsung diliput oleh media, sementara kami yang melakukan korupsi waktu tidak diliput oleh media.

Sangat mengerikan menjadi bagian dari masyarakat sekarang.
Sangat memuakkan untuk hidup di dunia yang sekarang.

Menyalahkan orang lain tanpa intropeksi diri.

Moral dan etika kami telah hancur.


Ada begitu banyak

Friday, 19 October 2012

U A N G

Aku bukan orang yang menentang pernikahan, bukan orang yang anti dengan kelahiran. Itu adalah moment yang sangat istimewa dan tak terlupakan. Karena itu adalah moment yang istimewa sudah sepatutnya kita pun menyambutnya dengan istimewa. Menyambut dengan istimewa tentu saja  bukan dengan berbagai ornamen yang mahal dan mewah, akan tetapi lebih ke persiapan mental dan pengetahuan mengenai kedua hal ini.

Aku tidak mau munafik, uang sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita, khususnya  bagi kami orang Batak! Semua orang membutuhkannya. Uang dan uang!

Ada satu hal penting yang terlupakan oleh kita di generasi sekarang, khususnya bagi mereka yang masih sangat konvensional. Bahwa ketika mempersiapkan pernikahan, mempersiapkan kelahiran, yang paling diutamakan adalah PENGETAHUAN! Dengan pengetahuan, tidaklah hal yang mustahil,  jika keberadaan uang pun nyaris tidak begitu utama. Bagaimana caranya? Ya, itu gunakan otak kita. Dari pengalaman pribadiku, semakin kita terjepit maka semakin kreatiflah otak kita untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari yang tentunya TANPA uang!
Ingat pelajaran di SD, uang hanyalah alat tukar untuk memenuhi kebutuhan. Logikanya, karena uang hanya alat tukar, berarti itu bukan kebutuhan kita. Lalu bagaimana kita bisa memenuhiku kebutuhan kita? Tentu saja dengan PENGETAHUAN. Makanya Tuhan memberikan kita otak untuk mengelola bumi ini, bukan uang!

Kembali dengan pernikahan dan kelahiran. Berapa banyak dari pasangan di Indonesia atau diantara kita yang memiliki pengetahuan sebelum melangkahkan kaki ke dunia baru (baca. pernikahan)? Seberapa banyak diantara kita yang  mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri/suami, menantu, dan ibu/ayah?
Jawabannya adalah tidak sebanyak jumlah anak yang lahir tiap hari!
Setiap pasangan yang akan menikah  membutuhkan waktu setahun dan bahkan lebih untuk mempersiapkan  keperluan pesta yang hanya berlangsung beberapa jam. Untuk apa? PENCITRAAN!
Berapa banyak dari pasangan di Indonesia atau diantara kita yang duduk tenang membaca buku mengenai kehidupan pernikahan, mengenai bagaimana cara mendidik anak, bagaimana cara menjadi seorang istri/suami, menjadi menantu atau mertua?
Majalah mengenai gaun pengantin, gedung atau hotel mewah, yang akan selalu menjadi sorotan utama dibandingkan dengan buku-buku atau artikel terbaru mengenai kehidupan pernikahan.

Menurut mayoritas orang di negara ini, dengan memiliki uang semuanya akan beres. INILAH KESALAHAN FATAL YANG MENGAKIBATKAN BANGSA KITA MENJADI SEPERTI SEKARANG INI.

Kita terlalu di atas angin dengan jumlah saldo yang kita miliki. Kita terlalu kaku dengan doktrin yang diberikan oleh orang tua kita yang mengatakan bahwa waktu akan mengajari kita. Itu salah! Kita dan orang tua kita berada di zaman yang berbeda. Orang tua kita lahir dan dibesarkan di zaman dimana mereka harus menerima kehidupan mereka dengan apa adanya. Tapi kita beda, kita lahir dan dibesarkan dengan pemikiran yang kritis. Walaupun pemikiran kita yang kritis lebih banyak kita pergunakan untuk protes dan berkomentar!

Di Indonesia, khususnya di Jakarta jumlah penduduk semakin bertambah banyak. Manusia bertambah, kebutuhan pasti juga bertambah. Kebutuhan akan oksigen, air, pangan, tempat tinggal, dan sebagainya. Belum lagi dengan kebutuhan sekunder lainnya. Alhasil, akan semakin banyak pohon yang ditebang, akan semakin banyak minyak yang ditambang, akan semakin banyak lahan yang dibangun.

Pernahkah kita berpikir dunia seperti apa yang akan kita tunjukkan kepada anak-anak kita?

Para orang tua sekarang, yang terpenting adalah anakku pintar, menguasai berbagai macam bahasa, les ini dan itu, cantik/ganteng, menguasai alat musik, tapi kepribadiannya? Egois, tidak memiliki empati, selalu ingin dimengerti dan diperhatikan tanpa mau memperhatikan dan mengerti orang lain, manja, mengklasifikasikan orang lain dari apa yang dia pakai, dan yang pasti MENCINTAI UANG dan DIRINYA SENDIRI!

Berapa banyak sih orang tua yang melahirkan dan membesarkan anak mereka untuk menjadi guru di pedalaman? Untuk menjadi dokter di desa?
Jawabannya tidak sebanyak pasangan yang menikah setiap harinya!

Yang ada adalah semua orang tua berlomba-lomba agar anaknya bisa sekolah ke luar negeri, memiliki uang yang banyak dengan cara apapun, terserah. Mau korupsikah, mau mencurikah, mau menipukah, mau berbuat curangkah, tidak jadi soal, yang penting anakku harus menjadi orang kaya, menjadi orang mapan.

Semuanya adalah tentang uang.

Inikah dunia yang akan kita perkenalkan kepada anak-anak kita? Inikah kehidupan yang kita inginkan untuk mereka jalani? Untuk itukah kita mengandungnya dan melahirkannya ke dunia? Untuk ituah kita menahan sakit dan berkorban nyawa?
Kalau bukan kita, generasi yang sekarang sedang menapaki tahap menuju pernikahan, siapa lagi yang akan memutuskan lingkaran cinta uang ini? Kita selalu berusaha untuk melestarikan lingkungan demi anak cucu kita kelak, lalu mengapa kita tidak berbuat yang sama, melahirkan dan membesarkan manusia yang bisa mengelola bumi ini dengan bijaksana?

Aku tahu ini terlalu idealis. Dan aku tahu ini akan mengakibatkan dilema. Di satu sisi kita sangat ingin memiliki anak dari darah kita sendiri. Aku tidak anti akan itu. Yang ingin aku tekankan melalui tulisan ini adalah kepekaan kita terhadap lingkungan kita. Dunia telah semakin sesak, sesak dengan orang-orang yang mencintai uang dan mencintai diri sendiri. Hanya kita yang bisa memutuskannya, salah satunya dengan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang mencintai sesamanya, mencintai lingkungannya, dan yang pasti mencintai TUHANnya.

Selamat memasuki dunia baru (baca pernikahan dan kelahiran) bagi  semua teman-temanku. Semoga menjadi istri/ayah, menantu, ibu/ayah yang menjadikan dunia ini layak untuk dihuni dan proaktif dalam mengurangi jumlah manusia yang cinta uang dan cinta diri sendiri!


Thursday, 18 October 2012

J A K A R T A

Ketika masih tinggal dengan orang tuaku, banyak masyarakat di daerahku sangat mengangungkan orang-orang yang merantau ke Jakarta. Beberapa teman sebaya juga sangat bangga sekali apabila mereka memiliki keluarga yang tinggal di Jakarta. Ketika keluarganya itu melakukan kunjungan ke kampung halaman dan membawa oleh-oleh, maka mereka akan melakukan tindakan pamer yang luar biasa. Aku nyaris tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti itu. Aku juga bingung, mengapa orang yang merantau ke Jakarta dianggap seperti hal yang sangat bergengsi.

Hipotesaku, (mencoba berpikiran positif) mungkin karena Jakarta sangat jauh dari kampung halamanhu (empat hari tiga malam dengan bis) dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bekal di perjalanan. Jadi, setiap orang yang berhasil melalui "perjuangan" itu dianggap orang yang hebat. Walaupun bisa dibilang, mayoritas orang yang menyombongkan diri itu adalah mereka yang sudah memiliki bibit sok jago dan kesombongan di kampung halaman. Jujur, aku sendiri tidak pernah menganggap bahwa orang yang merantau ke Jakarta itu adalah sesuatu yang harus disombongkan.

Aku pernah sangat marah sekali kepada almarhum Bouku (kakak perempuan papaku yang kebenaran tinggal dengan kami). Saat itu, saudara sepupuku yang dari Jakarta berkunjung ke rumah orang tuaku. Kebiasaan di kampung, makan siang maupun makan malam selalu dilakukan bersama-sama, apalagi kalau sedang kedatangan tamu. Dan di rumah orang tuaku, setiap anak gadis seharusnya  mempersiapkan kebutuhan untuk makan makan malam dan makan siang tersebut. Bouku pun menyuruhku untuk melakukan ini dan itu, dengan kata lain sebagai seksi repot. Saat itu, aku langsung protes ke Bouku, mengapa aku disuruh untuk melakukan ini dan itu sementara saudari sepupuku yang datang dari Jakarta dibiarkan saja duduk tenang seperti putri raja.
Lalu Bouku pun menjawab, "Dia kan anak Jakarta."
"Kenapa dengan dia sebagai anak Jakarta?", balasku.
Bouku pun balik membentakku,  "Tidak usah banyak tanya kerjakan saja apa yang kusuruh."
Aku yang saat itu masih berusia 8 tahun, terdiam - melakukan apa yang Bouku suruh. Sejak saat itu, aku mulai berprasangka negatif bahwa orang Jakarta itu adalah orang-orang manja yang tidak bisa melakukan hal-hal kecil untuk dirinya sendiri!

Penilaian negatifku kembali muncul ke permukaan menyaksikan beberapa orang yang aku kenal merantau ke Jakarta dan bertingkah laku super berlebihan ketika pulang ke kampung halaman. Misalnya, tidak mau memakai bahasa Batak alias selalu memakai bahasa Indonesia yang tentu saja dengan kosa kata "gue-lu" dan dengan dialek Batak! Hampir setiap kalimat yang muncul, "waktu gue di Jakarta", blablablabla. Rambut dicat, pakai make up super norak, gaya berbusana yang tidak pada tempatnya, dsb. Benar-benar sangat butuh pengakuan bahwa dia adalah anak Jakarta. Sangat ingin dianggap kota tapi pemikiran tetap kampungan terbukti dari topik pembicaraan yang diangkat hanya seputar dia di Jakarta yang tentu saja telah ditambah dengan berbagai "bumbu". Hal ini hampir terjadi kepada setiap orang Batak yang merantau ke Jakarta. Kesombongan yang berlebihan ketika pulang kampung, padahal di Jakarta, makan pun sangat susah! Tapi di kampung sudah berlagak seperti orang besar.

Beberapa pengalaman di atas membuatku bertanya-tanya segitu dasyatnyakah Jakarta mengubah karakter manusia?

Waktu SD, aku tergoda untuk ke Jakarta hanya karena satu alasan, yaitu untuk melihat tempat-tempat bersejerah, misalnya Lubang Buaya, berbagai macam museum, perpustakaan nasional, dan sejenisnya. Selebihnya tak pernah terlintas di pikiranku untuk tinggal di Jakarta ini.

Sampai sekarang aku masih suka bertanya-tanya dalam hati, mengapa merantau ke Jakarta menjadi sesuatu yang sangat disombongkan ketika pulang kampung? Apa yang mengakibatkan hal ini bisa terjadi? Aku tidak tahu dengan suku yang lain, akan tetapi di kampungku hal ini sangat terlihat jelas. Demikian halnya dengan mereka yang tinggal di kampung. Sikap yang mengagung-agungkan mereka yang merantau ke Jakarta super duper berlebihan dilakukan oleh masyarakat di kampung.

Satu hal lagi yang membuatku terkadang sampai harus menarik napas panjang adalah ketika banyak dari mereka yang kukenal sangat malu apabila diketahui bahwa dia berasal dari kampung. Apa salahnya memiliki kampung halaman? Menurutku memiliki kampung halaman adalah sebuah harta yang tak ternilai harganya. Jutaan orang di Jakarta ini tidak memiliki kampung halaman. Tentu saja, kampung halaman yang kumaksud adalah kampung dimana tempat hati dan pikiran kita berakar. Bukan hanya sekedar KTP saja! Atau menumpang lahir. Atau menumpang dari silsilah orang tua.

Kepada siapapun yang bertanya kepadaku, aku akan menjawab bahwa aku berasal dari kampung. Dan aku bangga serta bersyukur menghabiskan 18 tahun hidupku di kampung. Walaupun fisikku berkembang di kampung, akan tetapi otakku berkembang dengan global. Aku tidak perlu menyembunyikan identitasku dengan menampilkan yang bukan aku, misalnya menjadi orang lain, meniru orang lain, mengangagungkan orang lain, atau bahkan menggunakan berbagai macam "topeng" hanya untuk menutupi identitas diri. Jadilah menjadi diri sendiri.

Banyak orang yang aku kenal kehilangan identitas setelah tinggal di Jakarta. Ingin dianggap kota, ingin dianggap gaul, ingin dianggap keren, ingin dianggap rock, dan sebagainya tanpa melihat ke dalam diri sendiri, sesuaikah itu dengan jiwaku yang sesungguhnya? Itukah peran yang diberikan kepadaku? Untuk itukah aku diberikan kesempatan menghirup oksigen dengan gratis?

Sekarang aku paham, banyak orang mengatakan kejamnya ibu tiri tapi lebih kejam Ibu Kota Negara. Itu adalah idiom kuno dan ketinggalan zaman. Yang terbaru adalah  kejamnya manusia yang tinggal di Jakarta lebih kejam ketika kita berusaha "membunuh" identitas diri kita sendiri.

Jakarta tidak pernah melukai siapapun. Jakarta tidak pernah mengambil apapun. Jakarta tidak pernah merugikan siapapun. Yang ada adalah manusia yang ada di dalamnya melakukan "pembunuhan" terhadap identitas diri sendiri yang menjadikan kita berubah menjadi manusia yang bukan seharusnya. Menjadi egois, cuek, mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarga, tidak ada empati, tamak, serakah, arogan dan berbagai karakter negatif lainnya.

Kita semua yang merantau ke Jakarta memiliki identitas masing-masing, tapi kita "membunuhnya" demi obsesi negatif kita. Dan ketika obsesi itu belum atau tidak tercapai, kita mengutuk Jakarta, mempersalahkan pemerintah yang tidak proaktif memuluskan obsesi negatif kita. Hal ini mengakibatkan Jakarta menjadi kota yang paling sering mendapatkan kutukan dari setiap mulut yang tinggal di Jakarta ini.

Di minggu-minggu pertama pemerintahan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, adalah sesuatu yang positif jika kita sebagai manusia berbudaya, memberikan waktu untuk intropeksi diri,
JAKARTA SUDAH MEMBERIKAN BANYAK HAL KEPADA KITA, LALU APAKAH YANG BISA KITA BERIKAN KEPADA JAKARTA?

Wednesday, 19 September 2012

Yang telah aku pelajari ahir-akhir ini

Banyak hal yang aku pelajari akhir-akhir ini. Di bawah ini adalah kesimpulan yang aku peroleh dari hasil pembelajaranku.

  1. Sebaik-baiknya aku berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupku, pasti ada saja orang yang tidak menyukainya. Mengapa? Karena apa yang aku lakukan belum tentu dipersepsikan sama oleh orang lain. Dan biasanya, kecenderungan manusia adalah mempersepsikannya ke arah negatif!
  2. Ketika aku menanam padi belum tentu hasilnya adalah padi, adakalanya dia tidak mengalami pertumbuhan menjadi padi. Membusuk dengan tanah atau habis dimakan burung sebelum aku memanennya. Atau mungkin ada pencuri yang telah lebih dulu memanennya ketika aku lengah.
  3. Aku tidak terlahir untuk menyenangkan hati semua orang di sekitarku. Kenyamanan dan kebahagiaan manusia di sekitarku bukanlah tanggung jawabku. Mereka juga harus bisa menerima bahwa ada kalanya aku tidak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan.
  4. Ketika aku melakukan sesuatu, mulai dari hal kecil sampai hal yang besar, lakukanlah itu untuk Tuhan. Apabila aku melakukannya untuk manusia, maka aku akan mengharapkan penghargaan yang belum tentu ada. Sementara, Tuhan, Tuhan pasti memberikan penghargaan yang sangat luar biasa untuk setiap hal kecil yang kulakukan kepadaNya.
  5. Setiap orang memiliki peran di dunia ini, dan peranku adalah menjadi seseorang yang apabila mengharapkan sesuatu harus berjuang untuk mendapatkannya. Tentu saja dengan membayar harga, dan hanya bisa mengharapkan Yesus saja. Tidak ada orang tua, saudara, teman yang bisa dijadikan sandaran. Hanya Tuhan dan hanya Tuhan!
Terima kasih aku ucapkan kepada Dia yang telah memberiku akal untuk memahami arti dari hidup bersama Tuhan :D

Saturday, 25 August 2012

aku dan dia (2)

Pacaran adalah proses intim untuk mengenal orang lain secara personal, dimana proses pengenalan ini melibatkan cinta, komitmen, dan napsu. karena adanya ketiga hal inilah, menurutku mengapa kebanyakan orang tua  menyarankan untuk tidak pacaran sedini mungkin pada anak-anak mereka. Dan 100 % aku setuju dengan kebijakan ini. Tapi sayangnya, banyak orang tua tidak mampu memberikan alasan yang jelas kepada anak-anak mereka ketika memperlakukan kebijakan ini. Akhirnya, yang ada adalah anak memberontak dan pacaran sembunyi-sembunyi. Dari pada sembunyi-sembunyi, sebagian orang tua akhirnya memberikan izin bersyarat. Akibatnya, hasil observasiku sampai tulisan ini aku buat, mayoritas anak sekolah dari SMP- tahun kedua kedua perkuliahan, membuat status di jejaring sosialnya dengan topik kegalauan mereka terhadap hubungannya dengan pasangan. Tentu saja dangan bahasa-bahasa alay dan "rayuan pulau kelapa".
Cara pacaran mereka juga sangat "unik". Anak-anak sekolah sekarang pacarannya dewasa bangat sementara cara pacaran mereka yang berusia 30-40 tahun seperti anak-anak SMP. Yeah, walaupun aku sendiri juga tidak tahu, pacaran yang ideal itu seperti apa sih seharusnya.

Om Erik Erikson (tokoh psikologi perkembangan sosial)  mengatakan,  usia 20 - 30 tahun adalah tahapan perkembangan yang tepat untuk mengenal orang lain (baca pacaran). Mengapa? Karena pada tahapan perkembangan sebelumnya adalah waktu yang tepat untuk mengeksplor diri kita sendiri, mengetahui kelemahan dan kelebihan, menyadari kebiasaan kita, dan menemukan identitas, dan yang pasti kita tahu dulu manusia seperti apa kita. Barulah setelah semua tahapan itu selesai kita lalui, hati kita pun siap untuk mengenal orang lain (baca pacaran).

Itulah teori yang pernah aku pelajari di bangku kuliah. Untuk prakteknya kembali kepada setiap orang. Aku tidak mau bersikap seolah-olah sempurna dalam pelaksanaan tersebut. Aku tahu betapa sulitnya untuk mempraktekkan sebuah teori apalagi ketika itu sudah bersinggungan dengan yang namanya C.I.N.T.A. Dan sebelum aku mengenal teori ini, aku juga pernah berusaha untuk mengenal orang lain secara intim sebelum usia 20 tahun. Jadi, jangan terlalu berpatokan terhadap teori, sebisa mungkin mari berusaha merespon dengan dinamais asal tetap di jalurnya (mencari pembenaran).

Saat ini, usiaku 25 tahun. Waktu yang tepat untuk pacaran menurut Om Erik Erikson. Dan kebenaran sekali, sekarang aku sedang dalam proses mengenal seseorang dengan intim. Sebut saja namanya Josua (nama sebenarnya). Secara umum, aku sudah lama mengenalnya, apalagi kami dibesarkan di desa yang sama dan menghabiskan masa sekolah dengan seragam yang sama.

Seperti teori yang mengatakan, lupa namanya siapa semakin kita dekat dengan seseorang, maka peluang terjadinya konflik juga akan semakin besar. Demikian juga aku dengan Josua. Ada banyak hal yang menjadi perdebatan di antara kami. Dua topik menarik yang menjadi pemicu konflik di antara kami adalah masalah Short Message Service (SMS) dan SPACIAL.

Tentunya kedua pemicu ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakter di antara kami. Josua yang lebih bersikap konvensional dalam beberapa hal dibandingkan aku, misalnya perempuan tidak baik berjalan sendirian pada malam hari, apalagi di kota Jakarta. Pengikut aturan atau kebiasaan, sementara aku adalah orang yang cenderung membuat kebiasaan sendiri. Lebih mampu menciptakan keadaan yang bersih dan rapi dibandingkan dengan aku. Dia juga suka dengan sesuatu yang berbau rutinitas dan kesunyian sementara aku lebih cenderung tentatif dan suka keramaian.

Aku  dididik untuk mandiri dan berjuang  sehingga membuatku menjadi seorang pemimpi dan pengambil keputusan yang pada akhirnya membuatku terlihat lebih dominan. Dan inilah salah satu tantangan yang ada dalam hubungan kami, yaitu bilamana  warnaku menutupi warnanya. Syukur-syukur warna kami bisa melebur, tapi bagaimana jika warnaku yang menutupi warnanya? Biarkan waktu yang menjawabnya :D

Mungkin, bila ini yang disebut alasan mencinta, salah satu alasan mengapa aku masih betah mengenal Josua lebih dalam lagi adalah karena dia berbeda dari laki-laki Batak Toba pada umumnya. Dia mengakui adanya persamaan gender, dimana laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam rumah tangga, misalnya memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah. Sebuah karakter yang jarang aku temukan di laki-laki Batak Toba, apalagi kalau dalam posisi keluarga tersebut dia adalah anak laki-laki pertama dan memiliki adik-adik perempuan. Bisa dipastikan untuk urusan memasak, mencuci pakaian, menyetrika, dan bersih-bersih akan diberikan kepada adik-adik perempuannya.
Walaupun dalam beberapa hal, aku tahu Josua sering sekali melakukan pengeditan dalam meresponku. (mumpung masih pacaran).

Dalam mengekspresikan emosi, Josua memang di bawah rata-rata. Bahkan untuk mengatakan apa yang ingin dia mau juga masih belum leluasa. Aku tidak tahu, apakah ini efek dari keeksisanku yang melebihi keeksisannya selama ini sehingga membuat dia memperlakukanku seperti gelas kaca belah. Padahal sebenarnya perempuan yang memberikan waktu untuk mengenal dia sekarang ini adalah besi baja. Dia berusaha membuatku sebahagia mungkin sampai dia melupakan bahwa dalam sebuah hubungan yang paling diutamakan adalah kebahagiaan bersama, bukan kebahagiaanku saja atau bukan kebahagiaan dia, melainkan kebahagiaan kami.

Aku sendiri bukanlah karakter perempuan yang terlalu menuntut kesempurnaan. Aku adalah perempuan bebas, mandiri, pejuang, dan hangat yang siap berkomitmen sepanjang itu sejalan dengan visiku di dunia ini. Aku bukan perempuan yang gila merk dan glamor secara fisik, tapi secara otak, pastinya iya!
Aku orang yang prinsipil dan terkadang sangat frontal dalam menyuarakan pendapat sehingga membuat orang menilainya bahwa aku adalah orang yang keras kepala yang sukar menerima pendapat orang lain apalagi pendapat yang asal bunyi, karena akan aku kritisi terlebih dahulu. Untuk semua ini, Josua berada di posisi yang bertolak belakang denganku.

Josua itu orang genius, dia mampu mengembangan otak kiri dan otak kanannya dengan baik. Sayangnya, kemalasan membuat dia berhenti untuk lebih bersinar lagi. Dia bisa bermain gitar dan drum tanpa ada yang mengajari dan dengan sarana yang terbatas. Alasan kedua mengapa aku mendambanya. Dia memiliki otak yang seksi!

Tak akan habis waktu untuk membicarakan orang yang kita damba. Tak akan ada kata atau kalimat yang bisa mendeskripsikan emosi kita kepada pasangan kita. Terkadang aku bertanya-tanya kepada mereka yang saat ini sedang dalam posisi yang sama denganku, adakah mereka juga melalui hal yang sama? Mengenal pasangan dengan cinta?
Adakah mereka mampu untuk melakukan tugas itu serentak? Mencari identitas diri dan mengenal pasangan (pacaran)? Karena, aku sendiri yang sudah cukup percaya diri mengatakan bahwa aku telah memiliki identitas masih kewalahan untuk mengenal Josua sebagai pasanganku, sebagai laki-laki yang menemaniku menghabiskan waktuku.

Beruntungnya aku memiliki latar belakang psikologi yang membantuku untuk mengenal Josua dengan bersikap terbuka. Dan semakin aku mengenalnya, semakin aku tahu betapa sangat berbedanya kami. Satu-satunya persamaan di antara kami yang membuat kami masih bersama hingga sekarang adalah bahwa kami sama-sama memilih untuk tetap bertahan dengan hubungan ini sampai Tuhan memberikan restu.

.


halak batak do ho? (2)

Aku adalah perempuan Batak Toba. Dibesarkan dengan adat Batak Toba. Jadi, tidak perlu heran kalau sedikit-banyak aku cukup familiar dengan segala sesuatu yang berbau Batak Toba. Khususnya mengenai marga-marga yang masih bersinggungan denganku ataupun dengan beberapa filosofi adat Batak Toba.Walaupun harus aku akui dengan sangat tegas proses pembelajaranku belum sempurna. Dengan kata lain, pengetahuan yang kumiliki mengenai adat Batak masih lebih sedikit dari apa yang belum aku ketahui. Oleh karena itulah, dalam berbagai kesempatan aku selalu berusaha untuk mempelajari adat Batak Toba tersebut, misalnya melakukan observasi di dalam setiap event Batak Toba, khususnya dalam pesta pernikahan atau adat dalam suasana kematian. (Sekilas info, cara cepat untuk mempelajari adat Batak Toba adalah dengan hadir dan menyimak pesta-pesta adat Batak Toba, jadi jangan malas mengikuti adat Batak Toba kalau memang ingin menambah wawasanmu tentang adat Batak Toba!)

Ada banyak prinsip kehidupan yang sangat filosofis dalam adat Batak Toba. Dimana hampir semua filosofi tersebut juga sangat sejalan dengan apa yang diajarkan dalam agama Kristen. Mungkin, hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa agama Kristen sangat berkembang di Tanah Batak Toba. Salah satu filosofi Batak Toba yang membuatku terkagum-kagum adalah adanya pembagian peran dalam adat Batak Toba. Dimana semua orang yang mengaku dirinya Batak Toba  memiliki tiga peran yang dua diantaranya adalah peran ekstrem, yaitu peran sebagai hula-hula (peran tertinggi dalam adat Batak Toba) dan sebagai boru (peran terendah dalam adat Batak Toba). Satu  lagi peran yang dimiliki oleh orang Batak Toba adalah sebagai dongan tubu (peran yang seimbang dengan orang lain). Ketiga hal ini dikenal dengan dalihan na tolu (baca http://id.wikipedia.org/wiki/Dalihan_Na_Tolu).

Dengan adanya ketiga peran ini dalam diri seorang Batak Toba idealnya sih seharusnya akan membuat manusia Batak Toba itu untuk bisa lebih memposisikan dirinya dengan lebih baik, karena akan ada saatnya dia menjadi raja, ada saatnya dia menjadi hamba, dan ada saatnya dia menjadi dongan tubu (aku tidak menemukan analogi yang tepat untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia). Karena filosofi dalihan na tolu  ini bukan hanya berlaku dalam adat tapi juga dalam kehidupan sehari-hari Batak Toba, khususnya dalam hal berpikir, bertutur kata, dan berperilaku.

Menurutku filosofi dalihan na tolu adalah sebuah maha karya yang sangat luar biasa dari para leluhur Batak Toba. Yang bisa dibilang salah satu yang menjadi keunikan dari suku ini dibandingkan dengan suku lain. Tidak ada kelas sosial yang berdampak pada gap atau diskriminasi karena sekaya apapun dia, setinggi apapun jabatannya di kantor/perusahaan, seberapa banyak pun titel pendidikan yang berhasil dia kumpulkan, dalam dirinya tetap ada peran sebagai boru  yang harus menghormati hula-hulanya. Sebaliknya semiskin apapun dia, dia juga berhak mendapatkan penghormatan dari boru  nya. Akan tetapi,  seiring dengan berjalannya waktu, maha karya ini telah mulai mengalami kepudaran. Maha karya itu pada umumnya hanya diketahui oleh para raja parhata selebihnya filosifi dalaihan na tolu hanya menjadi wacana saja atau kalaupun ada yang mengerti mereka lebih membuka mata terhadap perannya sebagai hula-hula dan menutup mata untuk kedua peran yang lainnya.
Cukup berbanding lurus dengan fenomena karakteristik manusia, lebih cenderung ingin dihormati. Mereka lupa kunci utama untuk dihormati adalah tentu saja dengan membuat kita layak untuk dihormati yaitu salah satu caranya adalah dengan menghargai orang lain.

Saat ini, khususnya generasiku sangat banyak yang mulai memilih untuk meninggalkan adat Batak Toba. Atau istilah kerennya melakukan modifikasi. Proses yang panjang dan banyaknya materi yang akan dikeluarkan dalam menjalankan adat itu, menjadi  alasan untuk tidak menerapkan adat Batak Toba seperti mana seharusnya. Tak dapat diingkari, hal ini disebabkan karena kami adalah generasi yang lahir di zaman instant. Tidak mau tahu dengan proses, kalau bisa gampang untuk apa dibuat susah, itulah prinsip hidup bagi hampir semua manusia di generasiku yang sekarang. Dan ini bukan hanya terjadi di dalam adat saja, tapi di hampir semua aspek kehidupan kami.
Padahal, seadainya kami mau meluangkan waktu  untuk mengenal dan mempelajari filosifi dalihan na tolu, mungkin segala konflik yang acap kali terjadi di kalangan Batak Toba, khususnya di saat-saat akan melakukan adat Batak Toba bisa diminimalisir.

Aku tahu, adat Batak Toba itu sangat mahal. Tak jarang orang Batak Toba akan melakukan utang ke sana ke mari hanya agar bisa mengikuti adat dengan sesempurna mungkin. Karna bagi Batak Toba, hidup itu adalah adat, dan adat membutuhkan proses dan materi yang tidak sedikit. Mulai dari lahir sampai meninggal, bahkan telah menjadi bangkai sekalipun, orang Batak Toba diselimuti oleh adat. Yang namanya selimut tentu saja menghangatkan, bukan?

Yang menjadi pertanyaan, apakah adat itu masih tetap bisa menghangatkan? Atau manusia di generasiku sekarang sudah tidak membutuhkan selimut lagi karena global warming yang membuat bumi tidak lagi sedingin seratus tahun yang lalu? Kalau memang demikian adanya, kata selimut seharusnya sudah ada dimuseum kamus sekarang, alias tidak perlu dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kedua pertanyaan ini, mari kita renungkan bersama-sama.

Dalam tulisan kali ini, dua hal yang ingin aku soroti mengenai pembenaran diri untuk tidak menjalankan adat Batak Toba sebagaimana seharusnya bagi sebagian orang di generasiku sekarang, yaitu PROSES dan MATERI. Kedua hal ini sudah sangat cukup menjawab mengapa adat Batak Toba tidak dapat dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya. Dimana kedua alasan ini muncul tentu saja karena ketidakpedulian kami untuk mengenal dan mempelajari adat Batak Toba sehingga kami fokus mempersepsikan bahwa adat itu sesuatu yang ribet, kami tidak tahu apa filosofi dan manfaatnya bagi kehidupan kami.

Dari berbagai fenomena yang saya observasi, adat Batak Toba akan menjadi sesuatu yang "dibenci" oleh mereka yang tidak mengenal dan memahami adat Batak Toba khususnya pada kondisi ingin memulai bahtera pernihakan bagi para generasi muda.(Untuk informasi tambahan, seseorang diakui keberadaannya dalam adat Batak Toba adalah ketika dia sudah menikah secara hukum adat, di usia berapapun!) Adat Batak Toba menjadi sesuatu yang sangat berat untuk mereka lakukan. Mereka akan mencari pembenaran diri untuk menyalahkan adat Batak Toba yang tidak lagi relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.

PROSES dan MATERI

Sejarah telah mencatat, hanya dengan melalui proseslah sesuatu yang sangat baik itu dapat tercapai. Sebaliknya, dalam banyak hal keinstanant akan membawa manusia ke generasi MANJA!

Aku tidak mau munafik, uang memang sangat penting! Apalagi dalam budaya Batak Toba yang sangat mahal, uang tentunya mengambil peran utama, di samping manusia tentunya. Justru inilah alasan mengapa aku sangat bersyukur bisa mengenal dan belajar adat Batak Toba. Disinilah letak kekagumanku terhadap adat Batak Toba, adat yang begitu sangat mahal dan wajib dijalankan oleh mereka yang ingin menjadi Batak Toba. Bukan hanya menjadi Batak Toba di KTP saja atau Batak Toba yang berkoar-koar bangga menjadi orang Batak Toba, tapi tidak mau menjalankan adat Batak Toba sebaik mungkin.

Satu hal yang menjadi hasil pembelajaranku selama ini adalah bahwa  untuk menjadi orang Batak Toba ada harga yang harus dibayar. Sama seperti ketika kita mengatakan bahwa kita adalah pengikut Yesus, ada harga yang harus kita bayar. Dimana harga itu tentunya sangat mahal dan tidak ada pembenaran untuk kedua hal tersebut.
Perlu aku garis bawahi juga disini, bahwa adat Batak Toba itu tidak selalu membutuhkan materi yang banyak apabila tercipta dos ni roha. Bagaimana cara untuk mendapatkan dos ni roha  adalah tentunya dengan adanya proses pengenalan yang baik satu sama lain. Untuk itulah Tuhan membekali kita dengan emosi yang disebut dengan berempati dan bersimpati. Tuhan memberikan kita hati nurani yang bisa menjadi radar untuk dapat merasakan dan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain sehingga dos ni roha pun tercapai dalam pelaksanaan adat. Tuhan juga membekali kita dengan akal budi yang bisa memahami filosfi dari adat Batak, sama seperti Yesus memberikan pengajaran melalui perumpamaan.

Kembali ke masalah PROSES. Mempelajari dan mengenal adat Batak Toba telah memperkenalkanku terhadap PROSES. Bahwa untuk segala sesuatu di dunia ini ada prosesnya, bahkan Tuhan bekerja bagi kehidupan setiap manusia juga melalui proses. Sebelum kita mengatakan bersedia untuk menikah, ada proses yang harus kita jalani, ada harga yang harus kita bayar. Dan itu semua terangkup dalam dalihan na tolu. Ada proses dimana kita harus mempelajari adat Batak Toba dulu sebelum kita memasukinya dan mengambil peran dalam adat tersebut. Dengan demikian, kita tidak menggampangkan segala cara demi terlaksananya tujuan kita. Bagi orang Batak Toba, yang terpenting adalah proses bukan hasil.

Misal dalam pesta pernikahan, bagi calon mempelai yang terpenting adalah hasil, yaitu menikah. Ini adalah persepsi yang salah. Apabila kamu menyebut dirimu orang Batak Toba, yang terpenting adalah proses yang akan kita jalani ketika kita mengatakan ya untuk menikah. Karena sekali kita mengatakan ya, komitmen kita untuk mempertanggungjawabkannya juga akan menyusul. Karena itulah adat itu membutuhkan biaya mahal, sebagai bukti dari komitmen kita untuk mengemban tiga peran sekaligus selama kita hidup. Jadi, pernyataan dari pada berbuat jinah mending menikah saja, itu tidak ada dalam kosa kata Batak Toba. Pernikahan bukan semata-mata untuk melegalkan hubungan seks! Pernikahan adalah bukti komitmen kita untuk menjadi orang Batak Toba dengan tiga peran yang telah saya sebutkan di atas.

Itulah kehidupan Batak Toba yang sesungguhnya. Dan nilai ini sama dengan kehidupan beragama, sekali kita mengatajan ya pada satu agama, maka komitmen kita untuk mempertanggungjawabkannya juga akan menyusul.

Jadi, apabila kau menyebut dirimu orang Batak Toba, kenal dan pelajarilah adat Batak Toba terlebih dahulu, karena adat Batak Toba adalah selimut bagimu! Jangan pernah berkata ya untuk mengambil peran dalam adat Batak Toba (baca menikah) jikalau belum mengenal dan mempelajari adat Batak Toba. Kecuali kalau pilihanmu adalah menjadi  manusia tidak beradat.

Wednesday, 15 August 2012

TO BE NUMBER ONE

Tadi malam setelah hampir empat tahun, aku berani bertanya pada diri sendiri, "Mengapa aku mau aktif di kegiatan alumni SMAku?" Sebuah pilihan yang telah aku ambil tanpa aku sadari bahkan tanpa pernah aku pikirkan. Malam itu, dengan ditemani suara detik jam weker di kamarku, aku mengingat kembali moment-moment awal aku bergabung.
Ketakutanku terhadap  gelap dan kesunyian,  sirna sudah untuk sesaat dengan adanya pertanyaan itu. Tapi, itu hanya bertahan beberapa menit saja. Di menit selanjutnya  aku menyerah, aku malas berpikir, malas menemukan jawabannya. Atau mungkin karena aku tidak mau tahu dengan jawabanku nantinya.

Dan aku pun akhirnya terlelap, membawa ketakutanku dan pertanyaanku ke dalam tidurku. Berharap mereka bisa aku tinggalkan di dalam tidurku nantinya. Ketika pagi datang, yang ada hanyalah aku tanpa mereka. Tapi ternyata, mereka tidak mau ditinggalkan atau mungkin aku yang tidak mau meninggalkan mereka.
Di pagi hari, aku masih bersama mereka untuk menjalani Rabu, 15 Agustus 2012 ini.

Sepanjang hari Rabu ini, pertanyaan itu masih menuntut untuk dijawab. Dan aku sendiri, tidak sedang dalam kondisi yang oke untuk berpikir, jawaban apa yang akan kuberikan. Tiba-tiba saja aku membenci kepada yang telah melahirkan pertanyaan ini di kepalaku.

TO BE NUMBER ONE
adalah motto sekolahku di SMA.
Salah satu sekolah terbaik di kampung halamanhu.

Pertanyaan selanjutnya timbul dalam hatiku, adakah motto ini berdampak terhadap keRANIanku, TO BE NUMBER ONE?
Apakah di alam bawah sadarku juga terukir motto ini untuk berperilaku dan berbicara sesuai dengan motto ini?

aku tak tahu, dan sepertinya aku belum siap untuk menemukan jawabannya.

Wednesday, 18 July 2012

KITA atau KAMI

 


Hari ini saya mengikuti acara bedah buku di kampus BINUS University dalam rangka ulang tahun jurusan Psikologi BINUS University yang kelima. Pertama kali membaca undangan ini, saya langsung tertarik karena Papua adalah tempat yang ingin saya kunjungi sejak saya masih di bangku SMA. Bukan hanya karena disana ada pantai yang sangat bagus (Raja Empat) akan tetapi lebih dikarenakan alasan kemanusiaan. Dulu, saya pernah bercita-cita menjadi misionaris ke sana (gini-gini saya orangnya memiliki empati yang luar biasa juga lho untuk sesama, yang mau muntah, muntahlah pada tematnya ya, dimana tempatnya itu yang jelas bukan di saya atau di sekitar saya, hehehe).

Kembali ke bedah buku ini. Saya sangat tertarik dengan judul yang diberikan dalam acara ini, yaitu  " Membingkai ke-kita-an di Ufuk Timur". Pernyataan pertama yang muncul sebelum saya hadir dalam acara ini adalah Mengapa ke-kita-an di Ufuk Timur harus dibingkai? Kurang terbingkai apalagi ke-kita-an yang telah ada di Papua sana? Kalaupun standar yang dipakai adalah banyaknya pertentangan yang terjadi sekarang disana, justru menurut saya itu ada karena mereka telah terbingkai dengan sangat baik sebagai bagian dari kita orang Indonesia, akan tetapi tidak mendapatkan pengakuan yang sama dari Indonesia itu sendiri. Menurutku pembingkaian ke-kita-an itu justru paling penting dilakukan di Pulau Jawa ini bukan di Ufuk Timur maupun di Ufuk Barat Indonesia. Apakah orang-orang yang tinggal di Pulau Jawa ini sudah benar-benar terbingkai dalam ke-kita-an Indonesia? Atau malah ke-kami-an Indonesia yang terbingkai dengan sangat baik disini?

Selama hampir delapan tahun saya tinggal di Pulau Jawa, saya tidak pernah merasakan bahwa masyarakat tempat saya tinggal disini merasa dan mencerminkan diri sebagai kita orang Indonesia. Salah satu contohnya adalah apabila kita pergi ke pelosok daerah di Pulau Jawa ini, ada banyak yang tidak tahu bahasa Indonesia, yang mereka tahu adalah bahasa Jawa, bahasa Betawi, atau bahasa Sunda. Sementara, kami anak-anak yang berasal dari luar Pulau Jawa diwajibkan untuk mengetahui bahasa Indonesia. Bahkan berdasarkan penuturan salah satu orang Papua yang juga hadir dalam acara bedah buku ini, beliau mengatakan bahwa apabila kita pergi ke pelosok Papua sana, setiap orang yang kita jumpai pasti  tahu bahasa Indonesia. Di sana sangat jarang sekali ditemukan masyarakat yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

Bukan hanya itu, mengenai sejarah Indonesia (walaupun kebenarannya masih dipertanyakan), pahlawan daerah dan lagu-lagu nasional, kami anak-anak yang lahir dan besar di luar Pulau Jawa diwajibkan untuk hafal di luar kepala. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa ini?

Demikian halnya dengan letak geografis, kami juga diwajibkan untuk menghafal nama-nama provinsi dan ibukotanya serta julukan yang diberikan untuk setiap kota di Pulau Jawa ini, misalnya Yogyakarta sebagai kota pendidikan, Bandung sebagai kota kembang, Surabaya sebagai kota pahlawan. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa, apakah mereka juga diwajibkan untuk melakukan hal yang sama?

JAWABANNYA ADALAH TIDAK!!!

Ini adalah pengalaman pribadi saya, dimana banyak orang-orang seusia saya yang menghabiskan seluruh hidupnya di Pulau Jawa ini tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai Indonesia!

Pemerataan pembangunan juga selalu difokuskan di Pulau Jawa ini. Pertama sekali datang ke Pulau Jawa ini, saya sangat iri sekali terhadap kemudahan sarana dan prasarana yang ada di Pulau Jawa ini, mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, dan hiburan. Dan sayangnya, semua sarana dan prasarana itu, khususnya di bidang pendidikan tidak berbanding lurus dengan pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat disini. Akhirnya banyak museum dan perpustakaan rusak bukan karena sering dikunjungi akan tetapi rusak karena tidak ada yang mengunjungi. Sementara kami anak-anak yang di luar Pulau Jawa kehausan akan sarana dan prasarana yang seperti ini.

Sebenarnya siapa sih bangsa Indonesia itu? Apakah benar, Pulau Jawa bisa dijadikan representatif dari Indonesia seperti yang telah terjadi selama ini?

Menurut saya, pembingkaian ke-kita-an itu sebaiknya disosialisasikan di Pulau Jawa ini. Hal ini sangat penting untuk menggugah para generasi baru yang lahir dan besar di Pulau Jawa ini untuk lebih mendalami peran mereka sebagai bangsa Indonesia yang memiliki berjuta-juta kebudayaan. Karena menurut saya, pemahaman mengenai perbedaan yang ada di Indonesia lebih minim ditemukan di Pulau Jawa ini. Alhasil, karena pemahaman yang kurang dan bahkan tidak ada terhadap perbedaan, yang terjadi adalah chauvinisme, yaitu menganggap suku sendiri paling  hebat dibandingkan dengan suku yang lain. Dengan adanya persepsi yang demikian, alhasil tujuan untuk bersatu juga akan sangat sulit untuk dilakukan.

Kita BUKAN kami - bangsa Indonesia, sebuah kata yang harus selalu dikumandangkan kembali di Pulau Jawa ini.

Karena kita bangsa Indonesia, jadi adalah hak setiap orang untuk memiliki kedudukan yang sama di negara ini. Tidak ada lagi streotype kesukuan, seperti Batak kali kau kawan! Kita memang berbeda budaya dan kebiasaan, akan tetapi kita pernah sama-sama mengalami penjajahan. Dan memory inilah yang membuat kita harus bersatu untuk tidak dijajah lagi, bukan untuk saling menjajah satu sama lain seperti yang telah terjadi sekarang ini. Itu yang harus dipahami betul oleh semua generasi muda sekarang. Jangan pernah menyamakan apa yang beda, dan membedakan apa yang sama!

Inilah hal mendasar yang dialami oleh saudara kita di Papua sana. Kita berusaha untuk menyamakan budaya mereka dengan budaya kita. Kalau memang mereka nyaman dengan kotekanya, tidaklah tindakan yang intelek ketika kita harus menilai buruk terhadap hal ini. Dan bukan tindakan manusia dewasa juga untuk membedakan warna kulit mereka serta kemampuan intelektual kita dengan mereka. Kalau kita merasa memiliki intelektual yang lebih unggul dari mereka, itu hanyalah dampak dari ketidakmerataan pembangunan dimana apabila mereka juga mendapatkan sarana dan prasarana yang sama seperti masyarakat yang ada di Pulau Jawa, menurutku kemampuan intelektual mereka juga tidak akan jauh beda dengan masyarakat yang ada di Pulau Jawa ini.

Jadi, mau memilih yang mana? KITA bangsa Indonesia atau KAMI bangsa Indonesia?