Monday, 23 December 2013

josua dan rani

setiap dari kita memiliki panggilan, demikian halnya dengan pernikahan
ketika panggilan itu telah tiba, pilihan pun akan menyusul
saat ini, kau dan aku mendengar panggilan itu dan kiita memilih untuk hidup dalam pernikahan

dengan kesadaran penuh, kau dan aku  berkomitmen, 
untuk tetap bersama-sama dalam setiap musim, dalam setiap emosi, dan dalam setiap perubahan
dengan kekuatan cinta kasih, kau dan aku  berkomitmen,
untuk saling mendahului dalam memberikan maaf, memberikan perhatian dan kepedulian
dengan kekuatan doa dari mereka yang mengasihi kita, kau dan aku berkomitmen,
untuk tetap saling mendukung, saling memotivasi, dan saling menghargai

kau dan aku tahu bahwa pernikahan ini tidaklah mudah
kau dan aku tahu bahwa pernikahan ini bukanlah melulu tentang cinta
kau dan aku tahu bahwa pernikahan ini panggilan yang akan kita pertanggungjawabkan 
kepada Dia Si Pemilik Cinta Sejati
DAN
kita sama-sama menyadari bahwa segala sesuatunya akan jauh lebih mudah dan menyenangkan
jika kau dan aku menjadi satu dalam ikatan PERNIKAHAN
karena DIA akan menjadikannya indah, 
seindah ketika DIA menanamkan panggilan ini di antara kau dan aku


Sunday, 10 November 2013

SMAN 2 Balige Soposurung "TO BE NUMBER ONE"


Beberapa kali, aku sering ditanya masa sekolah yang paling menyenangkan buatku itu apa? TK, SD, SMP, SMA, atau kuliah. Ini adalah pertanyaan yang sedikit sulit untuk kujawab karena setiap jenjang masa sekolah itu memberikan kesan unik yang tidak bisa kubandingkan. Semuanya menyenangkan sesuai dengan musimnya. Dan setiap tahap sekolah selalu menyediakan bekal untukku melangkah ke tahap sekolah selanjutnya. Hanya saja, masa dimana aku paling gampang untuk melakukan pengaksesan adalah masa SMA. Dan ini tentu saja bukan menjadi indikasi bahwa masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan untukku. Aku mencintai semua masa yang pernah kualami, tentunya karena aku sangat suka pergi ke sekolah. Aku sangat suka belajar.

Lalu, mengapa masa SMA menjadi masa yang dimana aksesnya lebih gampang untuk kuraih? Jawabannya adalah  karena masa SMA merupakan jembatan terakhir yang menghubungkanku dengan kampung halaman. Masa SMA adalah masa terakhir aku disebut anak sekolahan. Dan pada umumnya kenangan terakhir biasanya paling gampang dijangkau di dalam memori otak kita. Masa sekolah semenjak TK sampai SMA aku habiskan di kota kecil di provinsi Sumatera Utara,  Balige yang lebih dikenal dengan Soposurung. Setelah masa SMA usai, aku pun mengikuti jejak senior-seniorku pada umumnya, untuk merantau, mengecap ilmu di kampung orang.

Kembali ke masa SMA. Aku mengakhiri masa sekolahku di SMA N2 Soposurung - Balige dimana sekolah ini memiliki  motto "TO BE NUMBER ONE". Menurutku, sekolah ini sangat unik yang menjadikannya berbeda dengan SMA pada umumnya. (Mungkin) SMA N2 Soposurung inilah satu-satunya SMA Negeri di Indonesia yang memiliki keunikan itu. Apakah keunikan sekolah ini?
Keunikan sekolah ini adalah adanya kerja sama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta dalam hal ini pihak swasta lebih dikenal dengan Yayasan Soposurung.  Yang sejujurnya aku sendiri tidak tahu isi dari perjanjian  kerja sama  itu, hanya bisa melakukan hipotesa saja. Dulu di masaku, ( hipotesa#1) salah satu isi dari kerja sama antara pemerintah dan Yayasan Soposurung, siswa-siswi di SMA ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu anak non asrama dan anak asrama. Anak non asrama maksudnya mereka yang pulang dan pergi sekolah berangkat dari rumah orang tuanya atau dari kostan. Sementara anak asrama adalah mereka yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal di asrama dan dibina dengan semi militer dimana biaya hidup mereka selama di asrama ditanggung oleh pihak swasta, Yayasan Soposurung. Walaupun berbeda dalam keberangkatan dan kepulangan, di dalam sekolah sendiri kami adalah sama, tidak ada perbedaan dalam hal administrasi, sama-sama menggunakan emblem yang sama yaitu SMA N2 Soposurung- Balige, membayar uang sekolah, kurikulum yang sama dengan pengajar yang sama, dan peraturan sekolah yang sama. Dalam beberapa hal anak-anak yang dibiayai oleh pihak swasta mendapatkan fasilitas yang tidak kami dapatkan, misalnya mereka diwajibkan untuk mengikuti kelas tambahan setelah jam sekolah berakhir dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Keunikan lain dari sekolah ini adalah bahwa guru-guru yang mengajar disana didatangkan dari luar Balige dan mayoritas bukan orang Batak, yang katanya didatangkan oleh pihak Yayasan Soposurung untuk kurun waktu tertentu. Mungkin ini juga menjadi salah satu isi  dari kerja sama antara pemerintah dan pihak Yayasan Soposurung bahwa mereka boleh "menitipkan" siswa-siswi mereka di SMA N2 Soposurung- Balige, dan memiliki emblem dan akredibilitas administrasi SMA N2 Soposurung- Balige asalkan guru-guru pilihan yang didatangkan dari luar Balige itu, harus mengajar juga untuk siswa-siswi yang non asrama (hipotesa#2). Tak bisa aku ingkari bahwa dengan adanya perjanjian kerja sama ini, maka pengklasifikasian pun terbentuk yang pada akhirya sangat berdampak signifikant dengan self belonging kami terhadap sekolah ini. Dan bagi beberapa orang, khususnya alumni sekolah ini, pengklasifikasian ini masih menjadi topik pembahasan yang sangat sensitif yang tidak memiliki ujung.

Bila merujuk dari hipotesa di atas, siswa asrama dan non memang telah dikondisikan menjadi beda. Akan tetapi bagi banyak orang adalah sesuatu yang sulit untuk menerima pembedaan itu, apalagi tolak ukur yang dilakukan dalam pembedaan itu tidak berdasarkan standar yang sama. Hal inilah yang memicu lahirnya "PERSAINGAN". Di dalam sekolah ini persaingan sangat tumbuh subur. Di sekolah inilah secara langsung dan tidak langsung, aku disosialisasikan untuk bersaing, bersaing dalam melakukan yang terbaik tentunya.  Awalnya persaingan itu disosialisasikan secara tidak langsung melalui identitas kami di sekolah itu, anak asrama atau bukan. Anak asrama dan anak non asrama sama-sama bersaing untuk mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah yang paling berprestasi di akademik, di ekstrakulikuler dan di seluruh bidang kalau perlu. Anak asrama yang dibiayai oleh Yasayan Soposurung memiliki tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa mereka layak untuk mendapatkan dukungan dana dari Yayasan dengan harus selalu unggul dalam akedemik dan kegiatan ekstrakurikuler. Dan menciptakan image yang membedakan mereka dari siswa-siswi yang tidak mendapatkan dukungan dana dari Yayasan. Sementara, anak-anak non yang tidak mendapatkan dukungan dana dari Yayasan, secara tidak langsung juga akhirnya mendapat tanggung jawab moral demi keseimbangan ego untuk membuktikan bahwa mereka pun bisa unggul. Akhirnya, kami siswi-siswi SMA N2 Soposurung- Balige baik anak asrama dan anak non asrama pun bersama-sama bersaing menjadi yang terbaik, seperti motto sekolah ini "TO BE NUMBER ONE".

Rasa persaingan yang ada di antara kedua kelompok ini (asrama dan non asrama) seiring berjalannya waktu ternyata  merambah juga ke pribadi lepas pribadi. Masing-masing dari kami disadari atau tidak, pada akhirnya juga bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi persaingan itu pun terjadi di antara sesama anak asrama dan di antara sesama anak non.  Masih menjadi salah satu isi dari perjanjian kerja sama antara pemerintah dan Yayasan. Dimana, siswa-siswi yang dibiayai Yayasan, apabila tidak memenuhi standar akan dikeluarkan dari asrama dan menjadi siswa di SMA N2 Soposurung-Balige dengan identitas sebagai anak non. Sementara anak non yang adalah tidak dibiayai Yayasan, apabila tidak memenuhi standar sekolah maka akan tinggal kelas (hipotesa #3).

Aku pribadi, awalnya tidak nyaman dengan rasa persaingan yang ada di antara kedua kelompok yang ada di sekolah ini. Belum lagi dengan persaingan yang ada di dalam masing-masing kelompok. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari budaya kita orang timur, yang menganggap bahwa persaingan itu adalah hal yang buruk. Mengapa buruk? Karena dengan adanya persaingan maka hubungan kekerabatan berpeluang besar menjadi rusak. Sementara dalam budaya Timur, khususnya Indonesia, apalagi di masyarakat Batak, hubungan kekerabatan adalah sesuatu yang sangat penting, bertolak belakang dengan budaya Barat yang sangat individual dan tidak terlalu menghiraukan hubungan kekerabatan. Dalam hukum pertemanan Batak pun terdapat prinsip, hancur demi kawan akan dilakoni saking pentingnya hubungan kekerabatan itu. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berpeluang untuk merusak hubungan kekerabatan seperti persaingan menjadi sesuatu yang "tabu" di masyarakat kita. Tidak boleh terjadi persaingan di antara mereka yang memiliki hubungan kekerabatan. Dan itulah yang terjadi di mana aku SMA. Kami tidak bisa menerima sosialisasi persaingan yang didoktrin di dalam perilaku kami, karena kami telah didoktrin di lingkungan rumah untuk selalu mengutamakan hubungan kekerabatan. Akan tetapi kami tidak memiliki pilihan, kami harus bersaing, yang mengakibatkan kami meresponnya dengan lahirnya hubungan yang tidak sehat dalam pertemanan dan emosi-emosi negatif yang tidak bisa kami kontrol.

Setelah meninggalkan kampung halaman, aku semakin diajari oleh pengalaman bahwa persaingan itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dilalui oleh mereka yang memiliki potensi untuk maju. Mungkin dahulu kala para leluhur kita tidak mensosialisasikan persaingan itu karena jika kita tidak cerdas dalam melakoninya maka akan mendatangkan kerusakan di dalam hubungan. Dan untuk menghindari hal itu, maka di kebudayaan kita, persaingan itu menjadi sesuatu yang buruk. Padahal, jikalau kita analisa lebih dalam lagi, persaingan itu bukanlah sesuatu yang buruk. Di kehidupan sehari-hari, setiap saat kita diperhadapkan dengan persaingan. Bahkan di awal kehidupan kita pun, terjadi persaingan antara jutaan sperma untuk membuahi satu ovum. Dan disinilah akar permasalahan kita, para orang dewasa sebelum kita kurang menyadari perlunya sosialisasi dini mengenai soft skills, contohnya sosialisasi persaingan, sehingga pengenalan yang sejak dini, bisa membantu anak-anak untuk lebih mampu  mengatasinya tanpa harus merusak hubungan kekerabatan melainkan menjadi momentum untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Seperti musim-musim sebelumnya, aku sangat excited untuk menyelesaikan setiap tahap masa sekolahku, karena aku yakin aku telah memiliki bekal yang cukup untuk persediaanku di dalam tahap selanjutnya. Jadi, bukan hal yang basi lagi kalau di sekolahku setiap siswa-siswi yang duduk di kelas tiga, diwajibkan oleh persaingan untuk mengisi bekal sebanyak mungkin yang akan dipakai nantinya  untuk mendapatkan satu kursi di bangku Perguruan Tinggi Negeri. Mendapatkan bangu di Perguruan Tinggi Negeri menjadi tolak ukur resmi yang dipakai di sekolah ini dalam menentukan kualitas persaingan yang selama tiga tahun ini telah disosialisasikan. Hasilnya, mereka yang tidak mendapatkan bangku di Perguruan Tinggi Negeri tidak akan mampu untuk menegakkan kepala mereka. Sementara mereka yang mendapatkan bangku di Perguruan Tinggi Negeri melangkah elegant dalam setiap jalannya. Inilah yang terjadi apabila persaingan itu tidak disosialisasikan sejak dini di lingkungan masyarakat kita.

Kebiasaan yang berkembang, aku dapatkan ketika aku kuliah. Mungkin karena disiplin ilmu yang aku tekuni adalah salah satu disiplin ilmu yang awal berkembangnya di budaya barat, yaitu psikologi, apalagi hampir semua dosen pernah menikmati kebudayaan barat, sehingga terjadi akulturasi antara budaya timur dan budaya barat, yang mensakralkan adanya persaingan, konflik, perbedaan pendapat/prinsip, gaya hidup, dan sebagainya. Selama kuliah, aku sendiri sering sekali mengalami persaingan dengan teman-teman kuliah yang notabene adalah teman terdekatku di kala kuliah. Persaingan pertama yang kuhadapi sebelum kuliah dimulai adalah persaingan untuk mendapatkan kamar asrama di kampus, berlanjut dengan persaingan untuk mendapatkan beasiswa, dan persaingan untuk mendapatkan mata kuliah. Bagi mereka yang kuliah di Universitas Indonesia, pasti merasakannya juga dimana setiap awal semester selalu terjadi persaingan untuk mendapatkan kelas yang sesuai dengan kebutuhan kita. Biasanya bagi mereka yang tidak memiliki akses internet di kamar kostan atau di rumah, sejak jam 10 malam sudah nongkrong di internet karena pengisian mata kuliah akan dimulai jam 00.00. Setelah ke luar dari dunia kampus, persaingan pun semakin nyata. Bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, dan setelah mendapatkan pekerjaan, bersaing dengan rekan sekantor atau bersaing dengan perusahaan lain yang memiliki line bisnis yang sama dengan tempat kita bekerja.

Seperti yang aku sebutkan di atas, aku sangat mencintai semua yang kualami dalam masa sekolah. Masa TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah semuanya memberikan bekal yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. William Shakespeare mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang baik atau buruk, hanya pemikiran kitalah yang membuat itu terlihat buruk atau baik. Demikian halnya dengan persaingan, pemikiran kitalah yang menentukan apakah persaingan itu baik atau buruk. Dan pemikiranku mengatakan persaingan itu baik. Aku bisa sampai kepada pemikiran ini melalui tahap penerimaan, aku menerima bahwa dengan siapapun di dunia ini aku melakukan persaingan. Aku bersaing dengan sahabatku, aku bersaing dengan saudara kandungku, aku bersaing dengan orang tuaku, aku bersaing dengan mereka yang kucintai, dan aku menerimanya. Itulah hidup. Dengan belajar menerima bahwa kita memang harus bersaing, maka akan membantu kita untuk meresponnya dengan lebih baik tanpa melahirkan adanya emosi negatif.

Di SMA N2 Soposurung- Balige, aku dan siswa-siswi yang lain dikondisikan untuk bersaing. Pembagian siswa-siswi ke dalam dua kelompok yang tujuan utamanya untuk membina siswa-siswi yang telah lulus seleksi sesuai dengan standar Yayasan Soposurung,  telah memberikan dampak yang sangat positif dalam memicu perkembangan anak-anak non untuk tetap berkontribursi memberikan yang terbaik tanpa dukungan fasilitas yang mungkin tidak sama dengan yang dimiliki oleh mereka yang dibiayai oleh Yayasan Soposurung.
Dari sini aku belajar karena ada persainganlah maka kami siswa-siswi SMA N2 Soposurung - Balige berusaha memberikan yang terbaik, melahirkan berbagai jenis kreativitas, dan pengaktualisasian bakat dan talenta wakaupun dengan motivasi yang berbeda. Yang pada akhirnya menjadikan nama SMA N2 Soposurung - Balige dikenal oleh banyak orang dan menjadikannya salah satu sekolah favorit di Sumatera Utara.

Jadi intinya adalah penerimaan. Ketika kita menerima apa yang telah terjadi dalam kehidupan kita, maka kita pun akan dimampukan untuk mencintainya. Persaingan dan konflik termasuk ke dalam hal ini. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, sejauh mana kita bisa menerima persaingan dan konflik itu? Manusia dewasa yang berkarakter pada umumnya mampu menerima persaingan, konflik dan perbedaan pendapat tepat seperti mereka menerima keberhasilan dan rejeki. Dan inilah PR perkembangan psikologis kita sebagai dewasa muda.

Jalan-Jalan Santai (JJS) - salah satu kegiatan rutin OSIS SMA N2 Soposurung, Balige.
Foto ini diambil di Tarabunga - Balige
Kelas III IPA 2 (Tahun Ajaran 2004/2005)


Saturday, 2 November 2013

oktober kelabu

Inilah yang kurasakan saat ini. Hampa. Tak ada semangat. Bukan karena ada masalah, segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aku menemukan teman-teman kerja yang mendukungku untuk maju. Kantorku dekat dengan kostanku. Aku memiliki upah yang cukup untuk kebutuhanku. Aku memiliki pacar, teman sekostan yang akan selalu ada setiap kali aku membutuhkannya. Aku menikmati kelas yogaku. Yup, aku memang tidak memiiki hubungan yang harmonis dengan keluargaku. Terus kenapa? Aku bukan satu-satunnya orang di dunia ini yang mengalaminya. Dan itu bukan berita baru lagi. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Apakah itu cerita yang menyedihkan dan membahagiakan, intinya setiap orang punya cerita. Tapi mereka tetap bisa bangun pagi dan bangkit dari kasurnya.

Dan aku?
Hari ini aku mulai dengan berjuang untuk bangkit dari kasurku dan hasilnya, aku gagal. Aku tidak bisa bangun dari kasurku, bukan karena aku penyakitan, tapi karena aku tidak ingin. Sangat sulit bagiku untuk menyambut matahari pagi. Walau aku tahu, matahari pagi itu sangat menyenangkan, tetapi sesuatu yang ada dalam diriku lebih memilih untuk tetap dalam kasurku dibandingkan harus bangun dan menyambut sang surya.

Tak tahu, apa sesungguhnya yang sedang menimpaku. Sepertinya dari semua rutinitas yang kulakukan, 90% semuanya terpaksa. Hampir dari semua yang kulakukan hanya karena aturan yang mengikatku. Aku harus bangun pagi untuk memasak karena jika aku tidak memasak maka aku tidak bisa menabung untuk kebutuhan pernikahanku. Aku harus ke kantor dan merasakan macet yang menyesakkan karena aku membutuhkan uang. Aku harus ikut kelas yoga karena aku telah terikat kontrak dan aku akan mengalami kerugian jika tidak mengikutinya. Dan bahkan aku harus terus bernafas karena berpantang mati sebelum aja menjemput.

Hari ini aku berbohong kepada atasanku mengatakan bahwa aku diserang serangga yang menyebabkan badanku gatal-gatal. Memang benar badanku gatal-gatal, tapi bukan karena serangga, menurutku itu jauh lebih disebabkan respon tubuhku terhadap otakku yang tidak bisa diam. Hari ini, aku kembali tidak masuk ke kantor hanya karena aku gagal bangun dari kasur. Aku sudah bangun jam lima pagi. Dan memilih untuk tidur kembali. Sangat sulit menemukan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan saat ini, dan apa yang menyebabkan otakku tak bisa diam. Bahkan aku sendiri tidak yakin apakah ada hubungannya dengan pernikahanku yang akan berlangsung tiga bulan lagi?

Aku mau jujur, sesungguhnya aku mulai menyukai pekerjaanku yang sekarang. Akan tetapi, aku tidak yakin pada diriku sendiri apakah ini yang sungguh-sungguh ingin kulakukan dalam hidupku? Aku sangat bersyukur dengan rekan-rekan sekerjaku yang ada di kantor, walau aku merasa bahwa aku belum benar-benar bisa klik dengan mereka. Entah mengapa, menjadi satu-satunya yang belum menikah, Kristen, dan orang batak, anak kost, membuatku semakin minder. Hanya perasaanku saja, tapi aku merasa, mereka selalu mengawasi setiap tingkah lakuku yang membuatku merasa dimata-matai.

Terkadang, aku juga merasa jenuh dengan pekerjaanku. Duduk diam di depan komputer, melakukan wawancara pekerjaan lewat telepon membuatku seperti telemarketing yang membuatku tidak nyaman. Apalagi ketika bertemu dengan orang-orang yang blagu, yang tidak bisa sopan santun ketika diwawancara.

Mungkin, masalah utamanya adalah, aku tidak pernah memiliki kekuatan untuk menjadi diriku sendiri, aku tidak pernah memiliki kebebasan untuk melakukan yang kuinginkan karena kemampuanku yang terbatas. Sesungguhnya, yang ingin kulakukan saat ini adalah aku ingin melanjutkan studyku, tapi aku tidak memiliki biaya untuk itu. Aku tidak mau menjadi beban dari salah satu dosenku yang lainnya. Dan sampai sekarang aku masih belum menemukan jalan untuk dapat melanjutkan studyku. satu-satunya yang membuatku semangat saat ini adalah, melanjutkan studyku. aku sangat ingin menjadi seorang psikolog. Sangat ingin.


Ritual agama

Dalam berbagai kesempatan, aku lebih memilih menjadi seorang observer dibandingkan memberikan respon dalam bentuk tindakan maupun perkataan. Mungkin bagi orang-orang di sekitarku, bahkan bagi mereka yang sudah menghabiskan banyak waktu denganku, akan merasa tidak dianggap dengan pilihanku ini. Tak banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak melibatkanku pada akhirnya, karena biar bagaimanapun mereka mengharapkan sebuah respon yang konkrit dariku bukan hanya kediaman dengan seribu bahasa. Apalagi dengan latar belakang pendidikanku dari psikologi, mereka berharap aku akan memberikan komentar psikologis. Dan aku sangat tidak keberatan dengan respon mereka terhadap perilakuku ini. Karena dengan bersikap demikian, semakin memberiku ruang untuk melanjutkan peranku, yaitu sebagai observer. Biasanya setelah atau bahkan di saat yang bersamaan ketika aku melakukan observasi, aku pun mulai melakukan analisa. Yang tentu saja membuat otakku lebih fokus untuk berkutat sendiri tanpa harus menuangkannya dalam respon verbal.

Kali ini, yang paling sering menggangguku adalah mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Aku tahu ini adalah sebuah hubungan yang sangat pribadi dimana akan sangat sulit untuk melakukan pengukuran bahkan penilaian. Dan membuatku bingung yang terkadang membuatku cukp frustasi juga. Tentunya kebingungan yang kumaksud bukanlah mengenai ada tidaknya Tuhan. Saat ini dengan sangat yakin aku mengakui bahwa Tuhan itu benar-benar hadir dalam kehidupanku. Yang kumaksudku disini adalah  HUBUNGAN antara manusia dan Tuhan itu sendiri.
Mungkin aku salah memahaminya selama ini, tapi aku ingin jujur dan mengakui pemahamanku selama ini bahwa ajaran kekristenan yang aku terima selama ini memberikan kesan yang sangat abosulut dalam pelaksanaannya, bak ilmu eksakta yang membutukan logika dan penalaran. Padahal, sebuah hubungan adalah hal yang dinamis, bukan sesuatu yang kaku dan atau absolut. Dan ini juga berlaku dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Manusia dan Tuhan adalah dua pribadi yang memiliki emosi dan perkembangan. Oleh karena itu, menurutku hubungan manusia dengan Tuhan itu sebaiknya tidak dikakukan dengan berbagai ajaran yang membuat hubungan itu menjadi tidak sehat. Mungkin inilah ranah yang belum berhasil disentuh oleh mereka yang memperdalam teologia. Dan yang membuat orang-orang pada akahirnya meninggalkan kekristenannya.

Layaknya sebuah hubungan, dibutuhkan komunikasi dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Khusus untuk hubungan antara manusia dengan Tuhan, komunikasi yang diimani paling mujarab adalah melalui doa dan ritual agama. Bagi banyak orang yang melestarikan tradisi, komunikasi dengan Tuhan harus dilakukan dalam keadaan suci, khusuk, dan melalui berbagai ritual. Aku tidak mengatakan itu salah, karena aku juga mengakui bahwa Tuhan itu adalah pribadi yang kudus. Karena Dia kudus, maka kita pun perlu melakukan pengudusan untuk dapat layak dihadapannya. Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan antar manusia. Aku sendiri pasti mempersiapkan diriku agar layak bergaul dengan seseorang, apalagi dengan Tuhanku. Akan tetapi, seiring dengan perkembanganku sekarang aku mulai mempertanyakan, kalau Tuhan adalah sahabatku, kalau Tuhan adalah Bapaku, kalau Tuhan adalah segalanya bagiku, memaksimalkan hubunganku dengan Tuhanku berarti tidak harus melulu dengan ritual, bukan?

Aku tahu, ritual keagamaan itu sangat membantu dalam mengintimkan hubungan dengan Tuhan. Akan tetapi hasil observasiku selama ini, justru dalam ritual itulah iblis semakin giat bekerja, dan membuat ritual itu mengalami pergeseran fungsi dimana semakin banyak manusia-manusia yang memberikan tempat untuk si iblis berkuasa, hal ini juga terjadi padaku. Ritual keagamaan bukan lagi jalan untuk mengintimkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi menghalalkan manusia mewujudnyatakan obsesinya menjadi sama dengan Tuhan seperti yang pernah dilakukan oleh manusia  pertama.

Mungkin, semuanya diawali dengan kecintaan kita manusia kepada uang. Sebagai contoh, (aku berbicara menurut keyakinanku) di dalam Filipi 1:21 menyebutkan : "Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Bagiku sendiri ayat ini adalah ayat yang paling sulit untuk kulakukan. Dan bukan hanya aku, manusia-manusia di sekitarku pun mengalami kegagalan yang sama denganku dalam mengimani ayat ini. Aku akan sangat berjuang dengan sekuat tenaga, pikiran, dan akal sehatku untuk dapat bertahan hidup, dengan kata lain aku tidak mau mati. Aku ingin terus hidup dan berjuang untuk mewujudkan obsesiku yang aku sendiri tidak yakin untuk tujuan apa. Masih sangat sulit untuk kuimani bahwa hidupku adalah Kristus. Aku masih kuatir dengan masa depanku, dengan apa yang akan kumakan, kupakai, kurasakan, dan kunikmati. Dan aku belum siap mati.

Setiap kali aku membuka facebook, banyak orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku membagi sebagian dari pengalaman hidupnya dengan doa-doa agar mendapatkan hari yang baik, keberuntungan, dijauhkan dari penyakit, tidak merasakan kepahitan, dan hal-hal negatif lainnya. Dan aku pun acap kali melakukan hal yang sama. Hal ini membuatku semakin dilema dalam perkembanganku, yang akhirnya membuatku semakin menyadari bahwa hubunganku dengan Tuhan adalah hubungan yang dinamis. Hubungan yang dinamis yang aku maksudkan disini adalah hubungan yang tidak kaku dan absolut. Seperti hubunganku dengan manusia yang lainnya, ada kalanya aku memberikan kekecewaan kepada mereka, demikian halnya dengan hubunganku dengan Tuhan, bahwa ada kalanya aku pun akan mengecewakan Dia. Dan dalam tahap kehidupanku, Tuhan pun akan melakukan yang sama, mengecewakanku ketika rencanaku tidak sesuai dengan rencanaNya.
Hanya saja, Tuhan mengecewakanku karena Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, Dia mengecewakanku karena Dia menyediakan yang lebih baik untuk kujulani sesuai dengan kemampuanku.

Jujur saja, apa yang kusaksikan dalam usaha manusia di sekitarku melalui ritual agama semakin membuatku mencaci maki yang berakibat meningkatnya dosa-dosaku. Aku benar-benar tidak bisa menjadikan bahwa hidupku adalah Kristus dan kematianku adalah keberuntunganku. Aku masih tertekan dengan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan harapanku. Kalau hidupku memang Kristus, seharusnya aku tidak akan merasa frustasi untuk itu. Aku terlalu fokus dengan hal-hal yang sudah aku tahu pasti tidak akan kubawa mati. Aku terobsesi untuk menjadikan hidup yang hanya sekali ini untuk melakukan yang kumau. Sementara mulutku berkata bahwa hidupku adalah Kristus.
Aku berusaha mencari kekuatan dengan melakukan ritual agama, yaitu pergi ke gereja. Akan tetapi yang kudapatkan bukanlah kekuatan, aku bahkan nyaris tidak merasakan adanya Tuhan disana. Aku semakin sesak nafas melihat orang-orang yang ada di dalam gereja yang sama sekali tidak bisa menjadi garam dan terang. Alhasil yang ada adalah, setiap kali pulang dari ibadah aku tidak mendapatkan kekuatan.

Saat ini, aku lebih sering berbicara sendirian kepada Tuhan. Aku sering bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pernah merasakan kehadirannya di dalam gereja lagi? Padahal aku sangat ingin bersekutu dengan orang-orang seimanku untuk tetap bisa mempertahankan nyalanya terangku dan rasa dari garamku. Aku sudah tahu jawabannya, dan aku masih berjuang untuk meminta kepada Tuhan agar Dia mengirimkan Roh Kudus untuk membantuku merasakan kehadirannya di gereja.
Secara pribadi, aku lebih merasakan Yesus di luar gereja. Dan aku pun semakin terpanggil untuk tetap berada di luar gereja. Mungkin, ini jugalah yang dialami oleh masyarakat di Eropa, bahwa mereka tidak merasakan Tuhan lagi di dalam gereja.

Sekali lagi aku klarifikasikan, aku bukannya ingin menjadi orang yang sok kebarat-baratan karena aku sendiri sangat bangga terlahir menjadi Putri Indonesia.

Insight dari menonton film Barat

Beberapa tahun terakhir ini aku sangat suka menonton film hollywood. Hal yang paling aku suka dari film itu, selain alur ceritanya, juga karakter dari setiap tokoh. Film-film hollywood memiliki karakter tokoh yang sangat kuat dan bisa diterima logika. Dalam banyak hal, akhirnya aku belajar untuk memiliki karakter dari beberapa tokoh yang ada di film hollywood. Biasanya karakter yang ingin aku adapatasi adalah satu atau dua karakter dari beberapa tokoh. Misalnya dalam film GLEE, aku suka dengan beberapa karakter dari tiap tokoh yang ada di dalam film itu. Aku suka dengan karakter Rachel yang diusia masih muda sudah tahu apa yang dia inginkan dan fokus akan itu. Aku suka dengan konsistensinya dalam mewujudkan impiannya. Aku suka dengan semangat Finn dalam memotivasi dan mengajak teman-temannya untuk menunjukkan bakat dan talentanya. Aku suka dengan kebaranian Marcedes, Brytney, Santana, Kurt, Arthhie untuk menjadi diri mereka sendiri. Terlahir dengan keadaan yang tidak umum di lingkungan, tentunya membutuhkan perjuangan yang sangat gigih untuk tetap bisa menegakkan kepala. Mercedes dengan ukuran tubuh yang melebihi ukuran normal, Britney, Santana dan Kurt yang memiliki kecenderungan homoseksual, dan Arthie yang duduk di kursi roda. Mereka adalah anak-anak SMA yang memiliki karakter yang luar biasa yang nyaris tidak pernah kutemukan dalam lingkaran kehidupanku.

Selain itu, aku juga suka dengan dinamika pertemanan yang terjadi di antara mereka, dimana mereka tidak pernah merasa takut untuk berkonflik. Mereka bisa dengan sangat mudahnya untuk menyesuaikan diri dengan konflik itu. Mereka menerimanya seperti mana mereka menerima pujian. Dan memang seperti itulah kehidupan pertemanan, akan selalu ada konflik dan canda tawa. Satu hal lagi, mereka sangat terbuka dengan persaingan. Dua hal terakhir ini adalah hal yang masih sangat sulit untuk kulakukan di dalam hubungan pertemanan yang sedang kujalani. Walau aku sudah terbiasa dengan konflik, tapi konflik yang sering kuhadapi adalah konflik yang tidak terbuka, konflik yang ditutupi dengan senyuman bahwa semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Dengan kata lain kemunafikan, sangat tumbuh subur di lingkunganku. Dan persaingan adalah sesuatu yang buruk yang tidak selayaknya dilakukan.

Dari berbagai karakter yang ada di film barat, aku menyadari bahwa setiap tempat memang memiliki budaya masing-masing. Karakter yang diterapkan diterapkan dalam film barat mungkin baik adanya di lingkungan mereka, tetapi tidak untuk lingkunganku. Oleh karena itulah, terkadang aku mengalami kekacauan dalam bertingkah laku. Dimana, aku ingin sekali meniru karakter mereka yang sangat  terbuka dengan konflik, akan tetapi ternyata aku belum siap. Jantungku masih bergerak dengan kencang karena aku merasa bersalah ketika aku harus mengakui bahwa konflik itu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tidak pada mereka yang menjadi temanku, yang berakhir dengan aku mengalah dan merasa menjadi korban.

Over all, aku bukan orang yang fanatik dengan budaya barat. Aku cukup bangga dengan budaya timur, khususnya dengan budaya Indonesia, dan Batak. Hanya saja dalam banyak kejadian, khususnya dalam menyikapi kehidupan ini, sepertinya karakter budaya barat sangat dewasa sekali. Jauh berbeda dengan budaya Indonesia, dimana orang-orang seusiaku rata-rata sangat manja dan cengeng, yang membuatku tidak betah untuk melanjutkan hubungan dengan mereka. Aku juga cukup cemburu dengan kehidupan yang ditampilkan dalam film-film hollywood, yaitu dalam hal materi. Mereka sangat bebas dalam mengekspresikan diri mereka karena mereka memiliki kehidupan yang nyaman. Semiskin-miskinnya tokoh dalam banyak film hollywood, mereka masih memiliki rumah yang sangat nyaman untuk ditinggali dan lingkungan yang cukup nyaman. Terkadang, pikiran negatif datang menyerangku, inilah akibat dari mereka yang menjajah negaraku secara ekonomi. Mereka yang lebih banyak menikmatinya. Sementara kami disini, masih sangat berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Bahkan untuk kebutuhan primer pun, kami harus berjuang sangat keras untuk mewujudkannya. Apalagi untuk membeli model pakaian yang modis dan nyaman untuk dipakai seperti yang ada dalam film-film hollywood.

Mungkin itu jugalah salah satu yang membuatku terkadang muak dengan orang-orang di sekitarku yang hanya memikirkan perut dan perut. Akhirnya kami lupa untuk menikmati hidup kami dengan menghargai hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kami. Hidup di lingkunganku saat ini memiliki tekanan ekonomi yang sangat luar biasa, yang dipikirkan hanya uang, uang, dan uang. Bukannya aku mengatakan bahwa kehidupan Barat juga demikian, hanya saja mereka melakukan sesuatu itu sangat profesioal sehingga tujuan utama (mendapatkan uang) terlihat kabur.

Kesimpulannya, aku masih yakin bahwa melalui film, karakter orang bisa diubahkan. Sayangnya, film di Indonesia mayoritas tidak memiliki makna kehidupan yang bisa dipedomani dalam kehidupan nyata. Mengapa? Karena kami tidak disosialisasikan untuk berpikir.

Saturday, 26 October 2013

psikologi dalam ajaran yang kuyakini

Aku pernah mendengar bahwa psikologi adalah salah satu ilmu yang ditentang dalam ajaran yang kuyakini karena ada banyak teori psikologi menurut mereka menduakan keberadaan Tuhan, dan menjadikan manusia, Tuhan bagi dirinya sendiri. Ketika aku kuliah, aku juga nyaris menganggap bahwa pernyataan mereka itu adalah benar adanya, bahwa teori psikologi itu menitik beratkan pada manusia, yang pada akhirnya berkembang dengan penerapan dimana manusialah yang menjadi Tuhan untuk dirinya sendiri. Suatu pemahaman yang sangat bertolak belakang dengan ajaran yang kuyakini, tentunya. Dan memang itulah psikologi, ilmu yang berusaha memaparkan perilaku manusia dengan perkembangannya sangat dinamis seiring dengan perkembangan perilaku manusia.

Dengan berjalannya waktu, aku pun sampai ke tahap sekarang dimana  orang yang menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang menduakan Tuhan menurutku itu adalah dampak dari pemahaman mereka terhadap kedua hal itu tidak mendalam atau mungkin sama sekali tidak ada. Walau harus kuakui juga, bahwa aku juga belum berada di tahap yang paling tinggi akan kedua hal ini. Tapi satu hal yang ingin aku coba rangkum yang merupakan hasil dari pengamatan dan pengalamanku  bahwa PSIKOLOGI MERUPAKAN SEMACAM ALAT BAGI MANUSIA UNTUK MAMPU MEMAHAMI TUHAN YANG DITUANGKAN DALAM BENTUK ILMU.

Dalam ajaran yang kuyakini, aku mengimaninya sebagai ajaran Yesus. Aku beriman bahwa Yesus datang ke dunia ini untuk MENUNJUKKAN APA ITU KASIH yang Dia tunjukkan dengan menjadi manusia, tersalib, dan mati untukku. Masuk surga adalah salah satu dampak positif dari penerimaan kita terhadap kasih itu. Karena aku telah menerima dan merasakan kasih dari Yesus, maka secara tak kusadari, semacam sudah dikodratkan, aku pun memiliki kerinduan agar semua orang yang di sekitarku menerima dan merasakan kasih itu, tentu saja bukan dengan paksaan. Dan Yesus juga pernah mengatakan hal demikian ketika Dia masih hidup, agar aku yang telah merasakan dan menerima kasih itu, menunjukkannya juga ke orang lain karena tidak semua orang dan tidak semua bangsa yang akan menerima dan merasakan kasih itu. Hanya orang-orang yang mau membuka hatinya saja.Yang namanya kasih berarti bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Kasih itu tidak menuntut, hanya memberi tak harap kembali. Apakah manusia itu mau menerima dan merasakannya, itu bukan kapasitasku lagi. Intinya cuman satu, TUNJUKKAN KASIH itu.

Secara kasat mata, hal ini terlihat sangat gampang untuk dilakukan. Siapa pun bisa masuk surga asalkan dia membuka pintu hatinya untuk tempat Yesus si asal muasal kasih itu untuk tinggal. Karena tak ada standarisasi dari kasih itu, dimana hal ini bertolak belakang dengan karakter manusia yang membutuhkan standarisasi dalam bertingkah laku, maka manusia pun melahirkan berbagai aturan-aturan, dimana aturan-aturan ini pada akhirnya berkembang menjadi rutinitas yang tidak menunjukkan adanya kasih di dalamnya. Padahal manusia adalah makhluk yang memiliki karakter dinamis, sesuatu yang menjadi rutinitas akan membuatnya jenuh, karena itulah banyak manusia zaman sekarang akhirnya melepaskan diri dari peraturan itu. Dan ironisnya, tindakan manusia yang berusaha keluar dari tindakan rutinitas itu mendapat penilaian buruk.

Kasih itu sangat abstrak, hanya bisa dirasakan, dan diobservasi dalam bentuk tindakan dan perkataan. Disinilah tantangan terbesar bagiku dan mereka yang mempercayai ajaran Yesus. Dan banyak orang tidak menyadari hal ini, bahwa inti dari ajaran Yesus adalah kasih, keselamatan akan masuk surga ada hasil dari kasih itu. Bagi yang percaya kepada Yesus, melakukan tindakan baik bukan untuk menyuap Yesus agar suatu hari nanti masuk surga. Melakukan apa yang dilakukan Yesus, tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan pada dunia akan kasih yang telah kita terima dari Yesus, yaitu suka cita selama tinggal di dunia dan kehidupan yang kekal setelah kita meninggal. Itulah makanya Yesus mengatakan kepada mereka yang percaya kepadaNya, bahwa aku, kau, dan kita adalah garam dan terang. 

Proses perjalanan untuk tetap mempertahankan identitas "garam dan terang" inilah yang tidak mudah. Apalagi bagi mereka yang tidak memahami betul mengenai konsep ini. Disinilah, menurutku psikologi dibutuhkan. Para pendeta sebagai orang yang dianggap telah kitam dengan ALKITAB diwajibkan untuk memahami psikologi, mempelajari karakter manusia. Sepanjang yang aku alami, tidak ada satu pun teori psikologi yang bertolak belakang dengan ajaran Yesus, semuanya justru menjembatani manusia untuk tetap berada dalam proses pembentukan identitas menjadi "garam dan terang".

Aku masih ingat, pelajaran pertama yang aku dapatkan di psikologi adalah pengenalan akan diri sendiri. Pengenalan akan identitas kita. Disini aku semakin diingatkan kembali 'who am I'? Kalaupun dalam perkembangannya ada beberapa ahli psikologi yang pada akhirnya terlihat tidak mengikutsertakan Yesus dalam setiap pengakuannya akan identitasnya, yang adalah "garam dan terang",akan tetapi bagi mereka yang mendalami psikologi konsep kasih akan menjad fondasinya dalam bertingkah laku. Dan bukankah, ajaran Yesus adalah kasih?

Manusia membutuhkan hal yang konkrit dan nyata, dengan harapan melalui yang konkrit itu manusia bisa kompromi dengan Tuhan dalam penerapan akan KASIH. Kita lupa bahwa Tuhan tidak berkompromi dengan hal yang melenceng dari KASIH. Sejalan dengan perkembangan teknologi, lahirlah begitu banyak ajaran-ajaran yang mewajibkan manusia untuk melakukan ini dan itu agar masuk surga. Konsep kasih semakin pudar dan ditinggalkan. Manusia semakin fokus kepada ritual-ritual keagamaan, dan menjadikan itu menjadi alat ukur. Dan fakta mengatakan, bahwa tidak ada satu pun manusia yang berhasil melakukan ritual-ritual agama itu dengan sempurna, dan ternyata ritual-ritual yang telah distandarisasi itu, yang telah menjadi alat ukur itu, justru  menjadikan banyak manusia semakin tidak merasakan KASIH itu. Yang ada manusia semakin terbebani, tidak ada suka cita, apalagi KASIH.

Aku bukan orang yang anti dengan ritual-ritual agama. Aku pun sangat setuju bahwa ritual agama itu sangat penting dilakukan, akan tetapi bukan untuk menjadi alat ukur. Melainkan untuk tetap mempertahankan kasih yang pernah aku terima dan rasakan itu tetap bersinar dan memiliki rasa, tidak hambar. Dan dalam proses ini, pendekatan psikologislah yang paling akan mendapat pengaruh  signifikan seperti yang pernah dilakukan oleh Yesus. Disinilah ilmu psikologi sangat dibutuhkan, untuk membantu manusia menerima dan merasakan kasih itu. Tidak semua manusia bisa menerima dan merasakan kasih itu, walaupun dia terlahir di keluarga Kristen sekalipun. 

Dulu, murid-murid pertama Yesus berusaha memperkenalkan Kasih yang mereka terima dari Yesus melalui kesaksian dan menjangkau jiwa-jiwa, dikarenakan saat itu masih banyak yang tidak mengenal dan tidak tahu siapa Yesus itu. Manusia zaman sekarang sudah lebih memiliki informasi yang lebih banyak dari manusia zaman dimana Yesus masih hidup. Perkembangan teknologi telah membuat semua orang tahu siapa itu Yesus, tapi yang merasakan dan menerima Yesus itu tidak banyak, bahkan orang yang terlahir dalam Kristen (ajaran Yesus) sekalipun. 

Mengapa? Karena mereka tidak  merasakan kasih itu. Ritual-ritual agama menjadi beban bagi mereka, tida suka cita sama sekali. Belum lagi dengan berjuta-juta pertanyaan yang masih menjadi misteri, ditambah lagi dengan sekitar kita, ada banyak ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajaran Yesus. Begitu banyak informasi yang kita dapat, tapi kita tidak memiliki fondasi yang kuat untuk mempertahankan apa yang telah kita terima sebelumnya. Kita semakin bergejolak dengan diri sendiri, tidak ada tempat yang bisa kita jadikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, dan kita tumbuh dengan banyak  pergolakan yang terjadi di dalam pemikiran kita. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang bisa mensistematiskan pemikiran itu hanyalah dengan pendekatan psikologis dan tentu saja dengan berdoa juga meminta arahan roh kudus.

Sadar-tidak sadar, ritual-ritual keagamaan yang ada sekarang ini, bukan untuk menunjukkan kasih lagi, melainkan sudah mengalami pergeserakan makna. Berbagai komunitas keagamaan pun berkembang bukan untuk saling membantu agar tetap menjadi garam dan terang, melainkan menjadi komunitas untuk saling menghakimi mereka yang tidak masuk ke dalam komunitas itu atau menjadi tempat untuk pamer kekuasan, kekayaan, kepintaaran, dan sebagainya bagi mereka yang ada dalam komunitas. Dimana itu kasih?
Ketika kita jatuh, yang disarankan hanya dengan berdoa. Itu memang benar, kekuatan doa sangatlah dasyat. Akan tetapi, jikalau kita tidak melakukan sesuatu, Yesus pun tidak bisa membantu kita. Yesus juga membutuhkan manusia untuk bertindak, karena itulah psikologi ada untuk membantu manusia mengasah karakternya. Psikologi ada untuk membantu manusia mengenal dirinya sendiri, memahami manusia yang lain juga, dan pada akhirnya kita bisa memahami konsep kasih.

Di psikologi, perilaku manusia dikategorisasikan, tujuannya hanya satu untuk membantu kita mengenal bakat dan talenta kita, mengenal kekurangan atau kelemahan kita yang pada akhirnya bisa diasah untuk menjadikan kita manusia yang lebih hidup lagi dengan kata lain agar identitas kita sebagai garam dan terang adalah merupakan garam dan terang yang terbaik.
Kita lahir ke dunia, menjadi garam dan terang, psikologi ada untuk menjembatani kita untuk memahami identitas kita ini, dan akhirnya menjadikan kita menjadi manusia yang berkarakter. Itulah yang dipelajari di psikologi. Di psikologi tidak ada penghakiman, yang ada adalah keterbukaan dan penerimaan. Seperti yang Yesus lakukan, seberapa kotor pun dosa kita, Yesus  akan tetap menerima kita, asal kita terbuka dan mau menerima bahwa kita adalah manusia gagal. Dan mau dipulihkan serta dibenarkan oleh Dia. Hal yang sama juga terjadi di psikologi, ketika kita terbuka dan mau menerima keadaan kita, maka kita juga akan mengalami pemulihan.

Satu hal yang bisa aku simpulkan sekarang adalah bahwa Yesus adalah sumber kasih, tidak peduli kau berdiri di atas gereja mana, di atas ajaran manapun, sepanjang kau menerapkan konsep kasih itu, I am with you. Ritual-ritual keagamaan adalah budaya atau tradisi dari tahun ke tahun, dimana penerapannya tetap kembali ke orang yang bersangkutan. Selamat menunjukkan kasih.

Wednesday, 16 October 2013

terjebak di dunia

Akhir-akhir ini, aku berada dalam keadaan emosi yang sangat labil. Walaupun di permukaannya, aku selalu berusaha menampilkan pribadi yang tenang, akan tetapi otak dan emosiku bak ombak di samudra, yang berkecambuk. Satu-satunya alasan dari semua ini adalah aku yang tak bisa mengendalikan otakku untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil. Dalam banyak hal, aku sangat kritis, yang kadang-kala membuat otakku semakin melumet.

Aku merasa, setiap tempat yang aku singgahi beberapa tahun terakhir ini, terlalu sempit untuk otakku yang dinamis. Aku merasa jenuh, dan membutuhkan tantangan yang lebih. Se aku juga memiliki ketahanan dalam bertahan yang cukup kuat. Hal ini membuatku sering sekali galau untuk mencari tantangan lain.
Sampai saat ini, aku merasa bahwa apa yang telah kuraih seharusnya masih bisa lebih. Aku sering sekali merasa gagal dengan apa yang kujalani sekarang ini. Lebih tepatnya, aku merasa orang paling tak berguna setiap kali tidak melakukan apapun, seperti saat ini.
Sebenarnya hari ini adalah jadwalku untuk mengikuti kelas yoga. Dan aku sengaja memutuskan untuk mengikuti kelas yoga alasan kedua hanya karena tidak tahu mau melakukan kegiatan apa setelah pulang kerja. Daripada berdiri lama di antrian transjakarta dengan tumpukan manusia. Tapi, hari ini disinilah aku, tidak tahu mau melakukan apa, dan membuatku semakin tidak berguna. Aku melewatkan kelas yogaku hari ini karena aku merasa tersinggung dengan trainer yogaku, namanya Nenti. Ini kali kedua dia menegurku yang menurutku tidak seharusnya dia mengatakan itu.
Minggu pertama, dia menegurku karena aku tak sengaja menabrak botol minumku. Padahal, aku tidak sengaja melakukannya, dan jatuhnya botol minumanku disebabkan banyaknya peserta yoga yang tidak memadai dengan ruangan kelas, sehingga setiap harus disusun sangat berdekatan satu sama lain. Dia juga menegurku karena posisi alas yogaku terlalu maju ke depan, dimana menurutku dia seharusnya bisa mengatakannya dengan baik-baik, tanpa harus dengan intonasi suara yang ketus. Di hari yang sama dia juga menatapku dengan tatapan yang menginterogasi. Aku tidak suka dengan dia.
Di minggu kedua, dia menegurku, kalau duduk di depan harus bisa memberikan contoh yang benar kepada teman-teman yang lain, jangan selalu istirahat terus. Kalau begitu, tidak akan ada hasilnya ikut kelas yoga. Padahal aku bukannya sengaja untuk selalu melakukan istirahat dan bukan hanya aku yang melakukannya. Tapi mengapa hanya aku yang ditegur. Aku mengikuti kelas yoga bukan untuk menghasilkan bentuk tubuh yang seperti yang dia sebutkan itu. Aku ikut kelas yoga untuk merefreshkan otakku yang terlalu aktif dalam memikirkan segala sesuatunya.
Entah mengapa, aku sangat membencinya. Aku tidak suka dengan trainer perempuan. Aku lebih nyaman dengan trainer laki-laki, karena mereka lebih peduli dan pengertian. Trainer laki-laki berulang kali mengatakan bahwa setiap peserta boleh istirahat kalau merasa tidak sanggup lagi, tidak seperti trainer Nenti ini yang memaksa setiap peserta untuk melakukan gerakan. Dan membanding-bandingkan setiap peserta satu sama lain. Yoga ini bukan perlombaan. Yoga itu adalah olah tubuh. Dimana setiap tubuh memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Sikap trainer Nenty ini membuatku semakin merasa jatuh dalam menjali hariku ini. Semakin tidak semangat untuk menjalani hari-hari ini.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi denganku? Mengapa aku begitu gampang tersinggung?
Mengapa begitu sangat sulit bagiku untuk membangun semangat? Aku sampai merasa mau muntah setiap kali ada yang mengatakan semangat kepadaku. Jauh lebih membantu menurutku untuk tidak mendengat kata itu. Semakin membuatku jatuh sepertinya.

Otakku jenuh, otakku penat. Frustasi dengan lingkungan sekitar. Bukan seperti ini hidup yang kumau. Aku tahu apa yang kumau. Tapi, aku tidak bisa egois untuk mengejar apa yang kumau. Karena aku sudah dibentuk untuk selalu mengalah, mengorbankan keinginan pribadi demi kesenangan dan kenyamanan orang lain.
Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah aku ingin melanjutkan sekolahku. Aku tidak mau jadi salah satu dari dunia bisnis yang tidak sehat ini. Aku sudah terlalu jenuh menjadi salah satu penghuni kemacetan Jakarta ini. Ohhh, aku sungguh-sungguh ingin ke luar dari sistem ini. Tapi aku tak bisa. Sungguh tak bisa, karena aku tidak kuat untuk menanggung resikonya. Harga diriku menjadi taruhannya. Aku akan semakin hina di mata orang tuaku jikalau aku sampai mengorbankan apa yang kuraih sekarang ini demi mengejar apa yang kuinginkan. Hal yang masih belum bisa aku atasi, menerima hinaan dari orang tuaku.

Tuhan, tolong bantu aku menata tempo jalannya otakku. Akhir-akhir ini, otakku terlalu cepat melaju. Aku tidak bisa meremnya sendirian, aku membutuhkan bantuanmu Tuhan. Aku tidak mau otakku terlalu bekerja keras untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Bantu aku Tuhan untuk menyatupadukannya dengan ritme emosiku juga. Hal ini sangat menyesakkan Tuhan.
Begitu banyak hal yang seharusnya tidak terlalu aku pikirkan, begitu banyak hal yang seharusnya aku abaikan. Begitu banyak hal yang seharusnya, tidak aku tempatkan di otakku. Tetaplah Engkau bersamaku, Tuhan. Otakku, sangat dan sangat membutuhkanmu.

Aku frustasi dengan hidupku. Aku merasa staknasi dengan hari-hariku. Aku merasa jenuh dengan rutinitasku. Banyak kebencian yang menggunung di dalam jiwaku. Aku benci pada pemerintah, benci pada orang-orang di sekitarku, pada lingkunganku, pada kondisiku. Aku muak dengan dunia ini Tuhan. Masih adakah tempat yang bisa kujadikan untuk menjernihkan kembali otakku ini Tuhan? Dunia ini terasa sesak sekali. Sepanjang yang kulihat, yang ada adalah wasting time.

Terkadang aku bertanya, adakah ini disebabkan masa kecil yang tidak pernah kumiliki? Dimana sepertinya sepanjang yang kuingat, aku sudah dipaksa untuk langsung menjadi perempuan dewasa?

Saturday, 28 September 2013

Bekerja adalah panggilan

Berbagai macam cara yang dilakukan orang untuk mendapatkan uang, mulai dari yang halal sampai yang tidak halal. Walaupun untuk saat ini, bagiku sepertinya semua pekerjaan yang berhubungan dengan bisnis sudah menjadi tidak halal bagiku karena dalam banyak kondisi, pekerjaan itu sudah menyimpang dari etika maupun moral kemanusiaan (kebanyakan). Pekerjaan bukan semata-mata untuk mencukupi kebutuhan lagi melainkan sudah merambah untuk menguasai dan menjadi tamak. Walaupun semua jenis pekerjaan itu sebenarnya baik adanya hanya saja manusia-manusia yang ada di dalamnyalah yang menjadikan pekerjaan itu menjadi tidak bermoral dan beretika atau merongrong hak azasi.

Tiga perusahaan dengan jenis pekerjaan yang berbeda telah aku perankan dalam tiga tahun terahir ini. Walaupun ketiga pekerjaan ini dapat aku kategorisasikan menjadi jenis pekerjaan jasa, karena disitulah pendidikan terakhir yang kujalani dapat kukembangkan.
PT Star Performa adalah pekerjaan yang pertama kujajaki dalam karirku. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa, konsultan manajemen. Pengertian awamnya, membantu setiap perusahaan dalam menjalankan bisnisnya,  baik itu dalam bidang IT, manajemen, maupun ke-HRD-an. Setelah berkecimbung dalam perusahaan ini, aku mendapatkan pengetahuan bahwa tidak semua perusahaan dibangun dengan pengetahuan yang baik mengenai perusahaan tersebut. Dibalik kesuksesan sebuah perusahaan ternyata ada tangan-tangan para konsultan yang bertugas untuk mengkonsepkan visi misi, strategi pasar, nilai dari perusahaan, dan bahkan budaya kerja dalam perusahaan itu. Itu semua tidak datang dengan sendirinya, semuanya itu dikonsepkan dengan kerja sama yang baik antara pemilik perusahaan dan konsultan. Sebagai konsultan, kemampuan analisa tentunya sangat dibutuhkan, karena kita harus mampu memetakan akar permasalahan yang ada di perusahaan klien dimana klien kita itu belum tentu menyadari hal itu. Sebenarnya sistem kerja di perusahaan ini sangat mirip dengan sistem kerja yang ada di dunia konseling dalam psikologi. Sebagai psikolog, kita harus mampu menggali (baca. menganalisa) klien sehingga kita bisa membantunya untuk keluar dari permalasahan yang dihadapi. Hanya saja, bedanya, dalam dunia psikologi yang kita hadapi adalah manusia, dalam pekerjaan saya yang pertama ini yang dihadapi adalah sistem yang akan diperlakukan kepada manusia. Dengan kata lain, ilmu psikologi masih tetap dibutuhkan.
Selain kemampuan analisa, wawasan yang luas juga sangat dibutuhkan dalam jenis pekerjaan ini. Logikanya, seorang konsultan adalah orang yang membantu klien dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan perusahaannya. Karena kita yang membantu beranrti kita adalah orang yang memiliki kekutaan yang lebih dari klien tersebut. Dengan kata lain, wawasan kita seharusnya sudah lebih banyak dan lebih unggul dari setiap klien, sehingga kita bisa memberikan masukan kepadanya mengenai perusahaan yang dimiliki dia sekarang. Salah satu cara yang dilakukan untuk menambah waawasan adalah dengan membaca, tanggap dengan informasi yang berkembang dalam dunia bisnis, dan keinginan yang kuat untuk belajar.
Yang ketiga adalah kreatif. Dalam memberikan ide kepada klien, tentunya klien tidak melulu kita berikan ide yang sudah berlaku umum di dunia bisnis. Dibutuhkan solusi yanng kreatif yang menjadikan perusahaan klien kita menjadi perusahaan yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan perusahaan yang menjadi pesaingnya di dunia bisnis. Kekreatifitasan ini tentu saja tidak datang sendirinya.
Selain itu, seorang konsultan juga harus memiliki pemikiran yang visioner. Mampu memprediksi dan mengambil peluang di masa yang akan datang. Ide yang akan diberikan kepada klien adalah ide yang akan diterapkan dalam beberapa tahun yang akan datang dan hasilnya tentu saja baru dapat dinikmati setalah ide itu diterapkan. Oleh karena itu, kitalah orang-orang pertama yang mengetahui mau dibawa kemana perusahaan itu dan mau dijadikan seperti apa, tentu saja semua konsep yang kita berikan yang mengambil keputusan tetap klien kita.
Kelebihan bekerja di perusahaan seperti ini adalah kita akan belajar dari banyak perusahaan. Kita tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari perusahaan itu. Kita juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para pemilik perusahaan itu yang membuat kita semakin diasah dan kalau beruntung kita bisa "mencuri" ilmunya juga melalui diskusi-diskusi yang kita lakukan dengan mereka. Bukankah semakin banyak kita bertemu dengan para pemain dalam bisnis akan membantu kita juga untuk mendapatkan wawasan dan pengalaman? Berbeda dengan ketika kita bekerja di sebuah perusahaan retail, pharmasi, FMCG, chemical, manufaktur, tekstil, banking, dsb. Kita hanya mengetahui mengenai satu hal yaitu divisi kita,  kalau kita beruntung dan memiliki keinginan untuk megekplor paling-paling kita bisa menambah wawasan kita dengan pengetahun dasar mengenai perusahaan itu dan siapa saja pesaingnya. Di dunia konsultan kita akan selalu belajar mengenai hal-hal baru dari berbagai jenis perusahaan, tidak fokus dengan hanya satu divisi saja, akan tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan pengambil keputusan dallam sebuah perusahaan.

Pekerjaan kedua yang aku lalui adalah perusahaan pendidikan- BINUS University. Sebagai mantan konsultan, pemikiranku yang kritis mengenai sebuah perusahaan membuatku untuk menganalisa manajemen, strategi, budaya kerja, misi dan visi, dan nilai dari perusahaan ini. Kalau sebelumnya saya bekerja dengan, membantu perusahaan klien dalam menjalankan perusahaannya, di perusahaan ini saya menjadi orang yang melaksanakan apa yang dikonsepkan oleh konsultan. (dunia ini memang berputar,bukan?). Satu-satunya kelebihan yang dimilliki oleh perusahaan ini adalah perusahaan ini memiliki modal yang besar untuk membangun brand mereka. Seperti yang kita tahu, brand adalah salah satu ujung tombak dunia bisnis. Tak banyak yang bisa saya bagi mengenai perusahaan ini. Perusahaan ini membuat saya menyadari bahwa karakter saya yang visioner, kritis, yang selalu haus dengan pengetahuan, tidak cocok untuk posisi yang saya pernah saya handle di sana.

Yang ketiga dan semoga ini yang terakhir, pekerjaan saya masih tidak jauh-jauh dari bisnis jasa. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang bertujuan untuk membantu perusahaan lain dalam mencari kandidat yang nantinya dipekerjakan dalam perusahaan mereka untuk level manager ke atas. Pekerjaan ini juga tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang saya lakukan pertama kali. Membantu klien dari berbagai perusahaan. Bedanya kalau di perusahaan yang pertama saya bertemu klien untuk membantu mereka dalam menjalankan bisnis mereka, di perusahaan yang sekarang, lebih spesifik lagi, membantu divisi HRD dalam proses perekrutan. Dimana, banyak perusahaan, untuk level manager ke atas biasanya mereka tidak memiliki tim recruiter. Oleh karena itu, mereka membutukan koonsultan yang bergerak di bidang jasa untuk membantu mereka mencari kandidat untuk mengisi posisi yang masih kosong. Dalam dunia bisnis, perusahaan ini dikenal dengan head hunter. Kamilah orang-orang yang membantu para karyawan yang tidak memungkinkan atau memiliki peluang yang sedikit untuk dipromosikan menjadi manajer atau menjadi general manajer atau untuk posisi yang lebih tinggi lagi karena masalah-masalah internal di perusahaan mereka. Dengan kata lain, kami membajak para karyawan terbaik dari sebuah perusahaan dengan memberikan benefit yang lebih baik dari yang mereka dapatkan di perusahaan sebelumnya. Jadi, apabila di antara kalian ada yang sudah mulai jenuh dengan kondisi pekerjaan yang tidak membantu anda untuk berkembang lagi, silahkan kirimkan cv terbaru anda kepada kami, kami akan menganalisanya dan membantu anda mencarikan pekerjaan yang lebih baik kepada anda dan sesuai dengan pengalaman anda tentunya.

Di kota-kota besar di Pulau Jawa ini, keberadaan head hunter sudah sangat menjamur dan sudah sangat familier di telinga mereka yang adalah pemain di dunia bisnis. Akan tetapi di luar Jakarta, keberadaan head hunter ini masih sangat asing dan bahkan tidak diketahui keberadaannya. Seperti yang saya sebutkan di atas, head hunter adalah perusahaan yang bergerak di bidang perekrutan untuk level manager ke atas, dimana biayanya gratis bagi para kandidat. Tidak ada tagihan yang akan diberikan kepada para kandidat dalam mengikuti proses ini. Lalu darimana para head hunter mendapatkan keuntungan? Kami mendapatkan bayaran untuk setiap kandidat yang berhasil kami tempatkan di sebuah perusahaan yang notabene adalah klien kami. Oleh karena itu, silahhturahmi yang baik dengan para klien sangat penting bagi kami para head hunter demi keberlangsungan kerja sama bisnis ke depannya.
Lalu bagaimana sistem kerja kami?
Sesaat setelah kami mendapatkan kerja sama dengan perusahaan X dimana mereka membutuhkan Manager X, maka kami akan mencari kandidat tersebut di pasar bisnis. Melakukan interview dan mengirimkan hasilnya ke klien kami. Apabila klien kami merasa oke dengan pilihan kami, maka kami pun akan dibayar oleh klien tersebut.  Oleh karena itu, sangat penting bagi para kandidat untuk menjalin silahturahmi yang baik juga dengan para head hunter. Karena selama kita masih menggantungkan diri dengan pekerjaan, maka besar peluangnya suatu ketika kita membutuhkan bantuan head hunter. Di samping itu, banyak kesempatan pekerjaan yang biasanya tidak disebarluaskan lewat surat kabar, iklan lowongan pekerjaan on line, dan bahkan oleh perusahaan itu sendiri, melainkan dipercayaan hanya kepada head hunter.

Kesimpulan sementara yang saya dapatkan dari pengalaman saya bekerja adalah bahwa saya memiliki kecenderungan yang besar dalam membantu orang lain. Jadi, pekerjaan-pekerjaan jasa yang mewajibkan saya membantu orang lain sepertinya akan selalu memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup ini. Hanya saja, pemikiran saya yang masih idealis, membuat saya terkadang terbentur dengan realita yang ada. Bahwa dalam dunia bisnis tidak ada yang namanya bantuan yang tulus dan iklhas, profit adalah orientasi utama. Mungkin, salah satu cara yang saat ini masih sedang saya perjuangkan adalah belajar untuk menurunkan standar idealisme saya. Seandainya kalau saya boleh memilih, saya tidak ingin berurusan dengan dunia bisnis dan politik. Karena kedua jenis dunia ini saat ini sangat jauh dari apa yang disebut dengan kemanusiaan, etika, dan moral.
Masih terus berdoa, meminta Tuhan Yesus selalu membantuku menjalani peranku dalam market place.





Thursday, 15 August 2013

Dirgahayu Negeriku, Indonesia

Tadi pagi ketika aku akan berangkat ke kantor, aku disambut dengan berbagai warna dari bendera jalan yang dipasang oleh para tetangga kostanku di depan rumah mereka. Aku pun langsung terhenyak dan menyadari bahwa dua hari lagi adalah hari ulang tahun negaraku. Kenangan masa SMP di kampung, ketika menjelang ulang tahun negaraku ini pun menemaniku di sepanjang perjalananku ke kantor.

                                            ********

Ketika aku masih SMP di Budhi Dharma Balige adalah salah satu masa dimana aku menunjukkan "kejayaanku", dan perayaan ulang tahun negaraku ini adalah salah satu contoh dari masa “kejayaanku” itu. Tiga tahun berturut-turut aku selalu ikut menjadi salah satu siswa yang eksis dari sekolahku dalam menyambut perayaan ulang tahun negaraku ini.
Sekolah diliburkan tentu saja di tanggal 17 Agustus. Diliburkan bukan berarti kami tidak datang ke sekolah. Kami datang ke sekolah untuk melakukan pawai ke pusat kota diiringi dengan drum dan para mayoret, sepeda hias, dan pakaian adat dari berbagai daerah. Iringan pawai ini tentu saja dilombakan per kategori, yaitu untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di masaku  sekolah, perlombaan ini selalu dimenangkan oleh sekolahku. Mulai dari TK sampai SMP.

Tujuh belas Agustus menjadi hari yang menyenangkan bagiku karena persiapan untuk memenangkan lomba pawai ini telah dimulai di tahun ajaran baru (sebulan sebelum tanggal 17 agustus). Ketika suasana liburan masih belum pudar, aku tidak harus dipaksakan untuk mengikuti pelajaran di kelas, walaupun sebenarnya aku bukan tipe orang yang malas belajar, akan tetapi aku tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang lebih menikmati menghabiskan jam sekolah di luar kelas. Bahkan di tahun terakhirku di SMP, aku dan sahabat-sahabatku (setidaknya dulu bagiku mereka adalah sahabat : Dessy Hutapea, Riris Tampubolon, Eska Manullang, Dorta Pardede, dan Febrina Sipahutar) kerap sekali datang ke sekolah tapi tidak masuk kelas sama sekali karena latihan baris-berbaris yang akan dilombakan dalam rangka ulang tahun negaraku.

(Mungkin) aku sudah terlahir untuk aktif dan akan bosan apabila dihadapkan dengan situasi yang hanya menunggu atau do nothing. Padahal kalau dipikir-pikir, dengan kewajibanku yang harus membantu orang tuaku di rumah, sudah cukup menguras waktu belajarku apalagi ditambah dengan aku harus mengejar ketinggalanku selama aku tidak mengikuti kelas dikarenakan latihan drum untuk tahun pertama sampai ketiga dan latihan baris-berbaris di tahun ketiga. Dan itulah yang kualami selama persiapan penyambutan ulang tahun negaraku -eksis, kelelahan, tapi senang. Bisanya waktu latihan yang kami pergunakan dimulai dari jam 10 pagi sampai sore. Bahkan jam pelajaran sekolah telah selesai, terkadang kami masih tetap latihan. Dan di beberapa hari mendekati tanggal 17 Agustus, biasanya kami bahkan datang ke sekolah dan tidak masuk kelas sama sekali.

Pemilihan orang-orang yang akan tampil menjadi pemain drum maupun yang akan menjadi perwakilan dari sekolahku untuk diperlombakan pun lumayan unik. Guru pelatih drum kami yaitu Bapak M. Nadeak (+) memfokuskan memilih anak-anak yang juara di kelas dengan alasan, kami akan sering meninggalkan pelajaran di kelas sehingga dengan prestasi kami selama ini menjadi jaminan bahwa kami akan mampu untuk mengejar pelajaran yang kami tinggalkan selama kami mengikuti latihan. Walaupun di tahun pertamaku SMP, dimana prestasi belajarku tentu saja belum terbukti karena tahun ajaran masih baru dimulai tapi aku terpilih menjadi salah satu pemain drum. Itu adalah nepotisme, menurutku Bapak M. Nadeak (+) memilihku dikarenakan beliau kenal baik dengan orang tuaku kemungkinan beliau segan kalau aku tidak dilibatkan menjadi pemain drum. Aku sendiri merasa tidak layak dipilih saat itu karena kemampuanku dalam hal seni juga di bawah rata-rata, dan keadaan fisikku yang kecil mungil kurus tak bertenaga, membuat siapapun tidak akan tega membiarkanku menggendong drum untuk pawai sepanjang jalan besar kota Balige. Tapi aku terpilih, dan tentu saja abang keduaku, Ferry juga terpilih. Dia juga selalu menjadi pemain drum, alhasil dia yang bertanggung jawab untuk memberikan pelajaran tambahan kepadaku untuk membantuknku memahami irama drum tersebut. (kami semua anak-anak orang tuaku menghabiskan waktu di sekolah yang sama mulai dari TK sampai SMP, alasannya hanya satu, di kampung kami sekolah katolik dari TK-SMP adalah yang terbaik dan tentu saja mahal. Akan tetapi demi pendidikan, orang tuaku tak menghiraukannya). Hal yang sama juga terjadi ketika pemilihan peserta baris-berbaris. Kami para juara pasti akan mendapatkan prioritas utama, tak terkecuali padaku dan sahabat-sahabatku.
For your information : Di SMP, aku dan sahabat-sahabatku adalah “kaki tangan” kepala sekolah kami di tahun ketiga kami disana. Kami menggunakan seragam yang berbeda tiap hari dengan siswa-siswi yang lain. Kami benar-benar “menguasai” sekolah itu melalui keaktifan kami di OSIS, dan tentu saja di bidang akademis, kami adalah sang juara dari tiap kelas kami masing-masing. (aku dan sahabat-sahabatku itu berasal dari kelas yang berbeda, yaitu dari kelas A, B, C, dan D). Juara satu umum tidak pernah lepas dari salah satu dari kami, dan di akhir penerimaan rapor juara satu umum jatuh di tanganku.

Kembali ke lomba pawai di tanggal 17 Agustus. Biasanya, rutenya akan dimulai dari sekolah masing-masing. Hal ini menjadi keunikan tersendiri di kota Balige, dimana SMP dan SMA berpusat di satu lokasi, yaitu Soposurung. Jadi titik awalnya adalah dari Soposurung (sekolah masing-masing) dan berakhir di tanah lapang Sisingamarangaja (sekitar 8 km). Bunyi drum dari tiap sekolah yang melakukan pemanasan menunggu giliran ke luar dari area sekolah masing-masing untuk melakukan pawai ke pusat kota Balige menjadi kenangan tersendiri bagiku. Setiap sekolah biasanya akan mengutus perwakilan - seperti petugas di setiap persimpangan jalan di Jakarta ini, menjaga agar tidak bentrok di jalan raya ketika akan ke luar dari area sekolah masing-masing.

Sementara masyarakat Balige akan merapatkan barisan di depan rumah masing-masing untuk menyaksikan parade ini. Mereka akan mencari posisi yang nyaman di sepanjang jalan besar yang nantinya akan kami lewati dari Soposurung ke Tanah Lapang Sisingamangaraja untuk menyaksikan parade dari kami. Ketika aku menulis ini, aku merasa peristiwa ini menjadi moment yang mengharukan ketika para orang tua melihat anak-anak mereka pawai dari depan rumah mereka. Menurutku hal ini adalah pemandangan yang sangat langka terjadi di kota Jakarta ini, dimana orang tua nyaris tidak pernah melihat anak-anak mereka berjalan sepanjang 8 km bahkan lebih sambil menunjukkan aksi mereka seperti yang pernah kulakukan.
Bagiku sendiri, aku juga sangat menikmatinya ketika aku memukul drum dan lewat dari depan rumah orang tuaku. Kerap sekali aku melihat, dari sinar mata kedua orang tuaku bahwa mereka telah menunggu giliran sekolahku lewat dari depan rumah mereka. Dan ketika giliran sekolahku yang lewat, aku menyaksikan bahwa orang tuaku akan meninggalkan semua pekerjaannya demi menyaksikan aku dan abangku memukul drum. Padahal, orang tuaku seharusnya melayani para customer yang datang ke rumah kami (orang tuaku buka warung kopi di rumah). Teman-temanku baik sesama pemain drum maupun teman-teman sekampung akan menyorakiku dan mengatakan “do the best, Ran! Jangan permalukan orang tuamu.” Dan para customer yang ada di rumah orang tuaku pun akan menyoraki namaku.

Di tanah lapang Sisingamangaraja yang menjadi pusat pelaksanaan perayaan ulang tahun negaraku ini, adalah tempat dimana upacara bendera juga diadakan. Jadi setiap sekolah dipastikan sudah harus tiba sebelum jam 10 pagi. Setelah upacara selesai, kami akan melakukan pawai di jalan-jalan besar kota Balige dimana juri akan duduk di berbagai sudut jalan untuk memberikan penilaian terhadap aksi pawai setiap sekolah per kategori. Biasanya yang paling banyak dapat sorotan untuk dinilai adalah irama drum, gerakan pemain drum, dan keserasian dengan mayoret, serta kerapian siswa-siswa yang ikut pawai. Jadi urutan barisan pawainya per tiap sekolah biasanya adalah pemegang bendera merah putih, bendera atau atribut sekolah (untuk menunjukkan identitas sekolah), sepeda hias, mayoret, pemain drum, pakaian adat daerah, seluruh siswa-siswi dari sekolah itu, dan terakhir adalah para guru. Setelah berkeliing di sepanjang jalan besar kota Balige, pawai akan kembali ke Tanah Lapang Sisingamaraja lagi. Setelah itu akan dilanjutkan dengan lomba martumba (menari) untuk kategori TK dan SD. Dimana sambil menonton lomba martumba, masyarakat juga bisa mengikuti lomba panjat pinang yang diadakan di Tanah Lapang juga dan berbagai lomba lainnya, misalnya lomba solu (perahu kecil) di Danau Toba – masih dekat dengan Tanah Lapang Sisingamangaraja. Setelah semua lomba selesai diadakan, maka pengumuman lomba pawai dan berbagai lomba pun akan diumukan. Perayaan ulang tahun negaraku di Balige dinyatakan berakhir setelah prosesi penurunan bendera bendera selesai yaitu sekitar jam 7 malam. Bisa dipastikan setiap perayaan ulang tahun negaraku tiba adalah masa panen piala bagi setiap sekolah yang kesunggahi.

Dari segi kaca mata masyarakat Balige, parade ini juga menjadi salah satu hiburan tersendiri. Dimana pada umumnya semua orang akan datang ke pusat kota untuk melihat setiap parade dari setiap sekolah yang ada di Kabupaten Toba Samosir. Ini menjadi ajang show off bagi sekolah-sekolah favorit, termasuk sekolahku. Pusat kota Balige akan sangat ramai sekali, akan banyak orang yang menjual makanan, mainan, dan mengikuti berbagai lomba. Orang dari berbagai desa akan datang ke Kota untuk merayakan hari ulang tahun negaraku ini. Sangat semarak dan meriah sekali.

Malam sebelum tanggal 17 Agustus, juga diadakan pawai dimana setiap siswa membawa obor dan bendera merah putih yang terbuat dari kertas minyak dengan lidi sebagai tongkatnya. Malam ini dikenal dengan sebuatan malam taptuk. Biasanya malam ini dimanfaatkan para ABG untuk melakukan PEDEKATE dengan cowok atau cewek yang ditaksir, apalagi kalau bukan dari sekolah yang sama. Perayaan ulang tahun negaraku ini menjadi satu-satunya acara dimana semua sekolah yang ada di Kabupaten Toba Samosir dipertemukan dan saling menilai satu sama lain.

Intinya, sebulan sebelum tanggal 17 Agustus, di kalangan anak-anak sekolah sudah akan sibuk dengan berbagai persiapan lomba. Seperti yang sebutkan di atas, posisi sekolah-sekolah yang terpusat di Soposurung membuat hari-hari menjelang 17 Agustus sangat terasa karena dimana-mana akan terdengar suara drum dari berbagai sekolah yang sedang mengadakan latihan. Di samping itu, setiap rumah-rumah akan mulai memasang bendera merah putih di depan rumah mereka masing-masing.

Ketika aku menulis tulisan ini, tiba-tiba aku sangat rindu dengan masa-masa itu. Dimana setiap kali hari-hari besar di Indonesia ini, misalnya hari pahlawan, hari pendidikan, hari kesaktan Pancasila, hari Sumpah Pemuda, hari Guru, hari Kartini, tidak pernah terlewatkan begitu saja. Akan selalu ada kesan dari setiap hari-hari itu untuk memperingati moment itu. Di Jakarta ini, tujuh kali perayaan ulang tahun negaraku sangat tidak terasa. Aku sering kecewa dan berpikiran, mengapa ya penghargaan terhadap bangsa dan negara ini sepertinya lebih terasa di kampung dari pada di kota? Demikian halnya dengan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah, nama-nama provinsi dan berbagai julukan bagi beberapa provinsi di Indonesia ini, bahkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sepertinya kami anak-anak daerah lebih menguasainya? Ironisnya, Indonesia itu sendiri lebih dipresentasikan dengan kehidupan masyarakat di Jakarta.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 68 tahun.
Aku mencintaimu.

Aku bangga menjadi Putri Indonesia.

Friday, 9 August 2013

Seandainya aku, kamu, dan kita tidak serakah

       Apa yang dicari orang, uang
       Apa yang dicari orang, uang
       Apa yang dicari orang, siang malam pagi petang
       Uang, uang, uang
       Bukan Tuhan Yesus
      .................................


Bagi mereka yang pernah menjalani hari-hari sekolah minggu di gereja, lagu di atas pasti sudah tidak asing lagi di pendengaran. Lagu ini benar-benar sangat sesuai sekali dengan kehidupan manusia saat ini. Semua manusia di dunia ini, mayoritas tujuan utamanya adalah mencari uang, tidak terkecuali denganku. Aku belajar dengan displin, berusaha menyelesaikan setiap ujian akademis dengan baik, tujuan akhirku adalah untuk mendapatkan uang. Karena memang demikianlah aku dibentuk. Semua yang kulakukan tujuan akhirnya adalah seberapa banyak uang yang nantinya bisa kudapat. Dan aku tidak sendirian, ada milyaran manusia yang mendapatkan doktrin yang sama, mencari uang.

Mungkin aku masih terlalu berpikir idealis dengan apa yang ada di depan mataku. Atau mungkin karena aku masih belum menempati posisi yang strategis untuk mengatur kehidupan orang banyak sehingga setiap kali aku menyaksikan perilaku orang-orang di sekitarku membuatku muak dan tidak yakin pada diri sendiri bahwa aku adalah bagian dari sistem itu.

Setelah hampir tiga tahun masuk ke dalam dunia bisnis di dunia ini, aku semakin tidak tahu siapa aku?
Setiap hari kutemukan manusia yang serakah, tamak, tidak mau untung sedikit, dan egois. Inikah manusia itu? Aku semakin shock menyadari bahwa aku juga demikian, tidak ada kata puas.

Setiap pagi ketika berangkat ke kantor kumelihat  banyak orang yang berusaha melawan rasa ngantuk, wajah datar tanpa ekspresi, kelelahan, keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas dan ketengangan. Anak-anak dipaksa bangun subuh untuk tidak terlambat datang ke sekolah. Orang tua dan pembantu tergesa-gesa mempersiapkan kebutuhan anak-anak ke sekolah. Para supir berjuang menghadapi frustasi akibat macetnya kota Jakarta. Para karyawan dengan setengah hidup memaksakan diri untuk berangkat ke kantor. Demi apa? Demi sejengkal perut? Bukan, demi uang. Karena sejengkal perut tidak membutuhkan pengorbanan sebesar itu

Mungkin saya bisa memulai sistem itu dari  dari setiap perusahaan yang membuat jam kantor, dimana semua para pekerja wajib menjalankannya. Senin sampai Jumat, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore untuk sebagian besar karyawan kantoran. Akan banyak sanksi setiap kali karyawan melenceng dari peraturan jam kerja ini. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya dalam hati, menurutku perusahaan tidak akan jatuh miskin apabila hari kerja cukup 3-4 hari per minggu. Tapi, karena manusia itu adalah serakah, tidak ada kata cukup, sehingga jam kerja diadakan 5 kali dalam seminggu, bahkan di beberapa perusahaan masih juga tetap mengadakan lembur. Jadi, apakah memang kita hidup untuk bekerja (baca : uang)? Sejak kita menyadari bahwa kita memiliki akal budi, kita telah didoktrin untuk bekerja dan bekerja. Semuanya untuk uang. Sekolah, lulus dengan nilai yang memuaskan, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang besar. Bisakah kita tidak bekerja? Tentu saja tidak! Hanya anak-anak orang kaya, dimana orang tuanya memiliki triliunan rupiah yang bisa menikmati hidup dengan tidak bekerja. Sementara anak-anak tukang becak seperti aku, nyaris tidak mamiliki pilihan lain, selain untuk bekerja demi uang.

Manusia itu sangat serakah. Aku, kau, dan kita adalah manusia. Jadi kita sangat serakah. Aku sendiri juga mengakuinya. Aku tidak akan pernah puas dengan apa yang kudapatkan. Kalau waktu kuliah dengan lima ratus ribu perbulan cukup untukku, sekarang lima juta perbulan pun sudah membuatku sesak nafas. Masih kurang dan tetap kurang. Dan tentu saja bukan untuk sejengkal perut, tapi untuk sesuatu yang disebut dengan kemewahan dan gengsi.

Beberapa hari yang lalu aku dan pacarku memiliki kesempatan untuk mengikuti sebuah seminar. Awalnya aku tertarik mengikuti seminar ini dikarenakan temanya "Financial Planning". Berharap materi dari seminar ini akan menjadi bekal bagiku dan pacarku di dalam mengatur keuangan kami, makanya aku mengajak pacarku untuk ikut serta. Acara seminar ini sendiri dipungut biaya sebesar Rp 100.000,00 per orang, akan tetapi karena aku adalah nasabah dari salah satu perusahaan asuransi, jadi biaya masuk seminar ini dibayarkan oleh agent asuransiku.  Setelah beberapa menit mengikutinya, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa tema yang mereka maksud bukanlah seperti yang kuharapkan. Seminar ini lebih fokus untuk merekrut para calon agent untuk asuransi itu. Seminar ini bertujuaan untuk mendoktrin setiap peserta yang hadir untuk serakah, untuk berpenghasilan ratusan juta per bulan. Aku bertanya dalam hatiku, segitu banyaknyakah kebutuhan kita perbulan sampai kita membutuhkan penghasilan ratusan juta perbulan? Kita hanya memiliki sejengkal perut untuk diisi, sepasang kaki, satu badan, untuk apa penghasilan ratusan juta itu? Lima belas menit pertama dalam seminar tersebut, aku mulai gelisah, dan akhirnya aku tidak tahan lagi, aku memutuskan untuk meninggalkan seminar itu. Dan untungnya, pacarku juga mengalami hal yang sama, memiliki pikiran yang sama bahwa kami tidak terlahir untuk terobsesi memiliki penghasilan jutaan rupiah.

Aku shock dengan manusia-manusia sekarang, dengan pola pikir kami yang sekarang. Semuanya berlomba-lomba untuk memperoleh penghasilan ratusan juta perbulan. Dan untuk itu kami terpaksa mengesampingkan anak-anak, orang tua, atau orang-rang yang membutuhkan kehadiran kami. Demi penghasilan puluhan bahkan ratusan juta rupiah, kita menghabiskan lebih banyak waktu kami di luar rumah. Lalu, para orang tua akan mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa itu untuk anak-anak mereka. Dan apa yang kami dapatkan? Mungkin sebagian dari kita berhasil mendapatkannya, tapi apakah kita puas? Tentu saja tidak, kita tetap tidak puas, kita masih tetap ingin lebih dan ingin lebih lagi. Kita semakin candu mengejar sesuatu yang kita tahu tidak akan memberikan kepuasan kepada kita.

Dunia ini sudah tidak sehat lagi untuk dijalani. Setelah dari seminar itu, aku semakin menyadari posisiku selama ini. Memang benar sekali, kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan kebutuhan kita akan tercukupi tanpa kita harus terobsesi untuk menjadi serakah (jikalau kita memikirkannya lebih dalam lagi). Sampai saat ini aku masih beriman bahwa Tuhan akan mencukupi segala kebutuhanku. Aku tidak perlu terlalu terobsesi untuk hidup kaya, berpenghasilan ratusan juta untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupku. Aku tidak menentang adanya sistem kerja. Satu-satunya yang kusesali saat ini adalah lahirnya sesuatu alat tukar yang disebut dengan uang, atau apapun namanya di berbagai bahasa yang ada. Bekerja itu sehat dan baik untuk manusia. Tapi dengan adanya sistem uang di dalam bekerja, mengakibatkan bekerja bukan sesuatu yang menyenangkan lagi untuk dijalani (bagi banyak kasus). Bekerja itu menjadi sesuatu pengorbanan yang negatif, keterpaksaan, dan beban yang mengakibatkan banyak manusia menjadi depresi. Karena adanya uang, bekerja bisa dikategorikan menjadi kasta yang tinggi dibandingkan dengan mereka yang idak bekerja. Dengan adanya uang menjadi standarisasi, bekerja bisa dikategorikan ke dalam status sosial tinggi, menengah, dan rendah. Bahkan, karena ada sistem uang di dalamnya, bekerja menjadi salah satu syarat utama dalam melamar anak perempuan orang lain. Uang bukan hanya pelapis kehidupan manusia lagi, melainkan telah menjadi darah dan nadi kehidupan manusia.

Semakin ke sini, aku semakin menyimpulkan bahwa uang lebih membawa faktor negatif terhadap kehidupan manusia. Uang telah membuat manusia semakin terobsesi untuk menguasai manusia lainnya, yang mengaibatkan adanya perang, penjajahan terhadap negara lain, maupun perang politik. Uang telah membuat manusia untuk menghalalkan segala cara, yang mengakibatkan bumi dieskplor secara berlebihan, akhirnya global warming. Uang telah membuat manusia menjadi orang yang egois, yang mengakibatkan penimbunan uang di kalangan tertentu, menjual belikan barang-barang yang sangat tidak baik bagi manusia (berbagai macam perdangangan illegal), misalnya narkoba, makanan-makanan cepat saji, bahkan makanan-makanan busuk dan basi atau bercampur dengan borax, dan korupsi. Dan uang juga telah merusak hubungan silahturahmi dalam keluarga. Banyak keluarga yang tidak bisa hidup harmonis karena uang. Perceraian pasangan suami-istri, pertengkaran antara saudara kandung, persahabatan hancur karena uang. Lebih parahnya lagi, uang telah merusak pola pikir setiap manusia di dunia ini. Dan pola pikir itu disosialisasikan dan bahkan didoktrin kepada anak-anak mereka, untuk mencari uang.

Rantai ini harus diputuskan. Kita hidup bukan untuk uang. Kita hidup untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dan standarisasinya tentu saja bukan uang. Hal ini yang harus disosialisasikan kepada anak-anak kita. Ada banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus mengutamakan uang terlebih dahulu. Uang bukanlah standarisasi kehidupan. Kita harus bekerja, betul sekali. Tapi bukan untuk mendapatkan uang. Kita harus bekerja karena kita harus menyalurkan semua talenta yang diberikan kepada kita. Kita harus bekerja karena itu adalah kebutuhan fisik mental, dan psikologis kita. Apapun jenis pekerjaan itu adalah baik asalkan kita nyaman dan berkembang di dalamnya. Jangan pernah memikirkan uang ang akan didapatkan dengan bekerja. Mampukah kita para orang tua mendoktrin hal itu kepada anak-anak kita?

Masa depan dunia ini, kelangsungan manusia ke depannya ada di tangan kita para generasi sekarang. Apakah kita menginginkan dunia yang lebih baik, semuanya ada di tangan kita. Tergantung pilihan kita, yang jelas, mari kita hayati bahwa kita hanya memiliki perut sejengkal, kaki sepasang, tubuh satu, tidak perlu uang puluan juta atau bahkan ratusan juta untuk memenuhi kebutuhan itu. Mulailah dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan psikologis. Bekerja adalah kebutuhan kita, tapi bukan uang yang menjadi tolak ukurnya.




Friday, 2 August 2013

Selalu ada ruang untuk buah di dalam perutku

Dalam perjalanan hidupku, selama 26 tahun ini, aku adalah orang yang jauh dari keberuntungan. Setiap kali event door price, lotre, atau permainan yang mengandalkan keberuntungan, sudah sangat absolut aku tidak akan pernah memenangkannya. Jadi, untuk menghindari kekecewaan, suatu langkah yang elegant untuk menjauh dari acara-acara seperti itu atau dengan kata lain tidak mau melibatkan diri. Hingga pada suatu siang hari di kantor, ketika aku berjuang untuk melawan rasa ngantuk dan bosan, aku mendapatkan sebuah email. Email tersebut ternyata dari salah satu toko online, dimana karena faktor yang sama juga (melawan rasa ngantuk dan bosan di kantor) aku dulu mendaftarkan diri ke dalam group toko online ini. Isi email tersebut adalah diadakannya sebuah lomba dengan tema "Fun Days with Zespri® Kiwifruit". Yang paling membuatku tertantang untuk mengikuti lomba ini adalah bahwa adanya buah kiwi yang siap menanti untuk para finalis. Aku yang selalu kegirangan terhadap buah, langsung berbinar-binar dan semangat kembali di kantor. Yups, aku sangat dan sangat menyukai buah, buah adalah makanan favoritku di samping cake dan es krim. Sekenyang apapun aku, akan selalu ada ruang untuk buah di dalam perutku dan tidak ada pengecualian untuk buah apapun. Aku cinta semua buah, hanya saja ada beberapa buah yang masuk dalam top ten - ku.
Apa sajakah itu? Inilah sepuluh daftar buah yang paling sering aku konsumsi dalam keseharianku :
  1. Bengkuang
  2. Durian
  3. Mangga
  4. Strobery
  5. Lengkeng
  6. Pepaya
  7. Cempedak
  8. Melon
  9. Pisang
  10. Anggur
Alasan kesepuluh buah ini ada dalam pilihan menu buah yang sering kukomsusi tentu saja karena buah-buah itu paling sering diekspos dalam lingkunganku. Jadi, bukan berarti aku menganaktirikan buah-buah yang lain. Walaupun beberapa buah di atas ada di sana dikarenakan sejarah masa kecilku yang menyenangkan.

Kembali ke lomba "Fun Days with Zespri® Kiwifruit", aku seorang pecinta buah tentu saja langsung tergoda untuk mengikuti lomba ini, walau sebenarnya aku sudah pesimis tidak akan terpilih menjadi finalis. Dalam hatiku, aku telah mendoktrin diri sendiri untuk tidak terlalu berharap terhadap lomba ini mengingat hubunganku yang tidak terlalu harmonis dengan sang dewi keberuntungan.

Walaupun, aku akui, bahwa aku masih berharap untuk mendapatkan buah ini. Selain karena aku pecinta buah, aku merasa tertarik untuk menikmati buah kiwi ini. Seperti yang kita tahu bersama, buah kiwi adalah salah satu buah yang tumbuh di negara empat musim, jadi bisa dikatakan kalau keberadaan buah kiwi ini di negara tropis seperti negara kita tercinta ini adalah sebuah kelangkaan. Buah ini tentu saja akan sangat jarang ditemukan di general market, adanya pasti di modern market

Dan, tibalah hari bahagia itu. Seorang lelaki menghubungi dan mengatakan bahwa aku adalah salah satu finalis yang akan mendapatkan buah kiwi yang bisa dikomsusi selama dua minggu. Sedikit kaget, karena entah mengapa tiba-tiba dewi keberuntungan akhirnya bersedia memalingkan wajahnya kepadaku. Jadilah aku mendapatkan buah kiwi yang sudah tidak kuharapkan kehadirannya.

Rasanya sangat manis dan enak. Aku pun mulai tergoda untuk mengkonsumsinya lagi. Karena ini adalah peristiwa langka dalam hidupku, aku pun memiliki kerinduan untuk membagikan kebahagiaanku ini dengan orang-orang di sekitarku. Aku pun membagi-bagikan buah ini kepada teman-teman di kantor, teman kostan, dan juga pacarku. Aku senang dan semuanya pun senang menikmati buah kiwi yang katanya mengandung banyak nutrisi. 

Salah satu dampak positif yang kudapatkan dari buah kiwi ini adalah aku adalah orang yang memiliki masalah dengan pencernaan. Sangat sulit bagiku untuk melakukan buang air besar dengan teratur. Setelah aku memakan buah ini dua biji pada malam hari, besoknya aku langsung bisa buang air besar. Sangat menyenangkan dapat melakukan tugas ini di pagi hari itu. Sayang sekali, karena kebutuhanku untuk berbagi kebahagiaanku, buah kiwi yang seharusnya direncanakan untuk kumakan selama dua minggu sudah habis dalam hitungan jam. Tapi aku senang, aku dapat berbagi behagiaan dengan orang-orang di sekitarku. Apabila ada kesempatan, aku akan membeli buah ini lagi karena ternyata sangat membantuku dalam buang air besar.

Oh iya, dalam  "Fun Days with Zespri® Kiwifruit" yang dilombakan adalah foto kita yang menampilkan wajah sehat. Dan foto yang aku kirim adalah foto yang diambil oleh pacarku ketika kami melakukan photo session di pagi hari, yaitu di jembatan halte busway antara Bendungan Hilir dengan Plangi.





Melalui tulisan ini, aku berterima kasih kepada mamaku yang telah membuatku menyukai buah. Ketika masih tinggal di rumah orang tuaku, tiada hari tanpa makan buah, dan rumah orang tuaku tidak akan disebut rumah jikalau tiada buah di dalamnya, minimal satu jenis buah. Terima kasih, mamaku.
Terima kasih juga buat hasianhu, Josua Sihotang yang telah memberikan waktunya dalam pengambilan foto ini dan tentu saja dalam pengambilan hadiah lomba "Fun Days with Zespri® Kiwifruit". 
Yang terakhir, terima kasih  kepada @Fimela.com dan Zespri yang memberiku kesempatan untuk merasakan dan berbagi buah kiwi yang sangat manis dan enak.

Tetap sehat dan mari mengkonsumsi buah.




Wednesday, 10 July 2013

Selamat ulang tahun Jakarta

Beberapa minggu terakhir ini, aku semakin tidak bisa mentoleransi kemacetan dan ketidaknyamanan public transportation yang ada di kota Jakarta ini. Kemacetan yang sangat panjang dengan deretan mobil-mobil pribadi yang rata-rata berisi satu orang, deretan tukang ojek, angkutan umum yang berhenti untuk menaikkan penumpang dan menurunkan penumpang seenak hatinya, jalananan yang rusak dan genangan air bila hujan tiba, dan antrian bus transjakarta yang begitu panjang. Manusia sangat membludak setiap kali jam berangkat dan pulang kantor. Jalanan sesak dengan manusia dan kendaraan.
Tidak heran mengapa manusia-manusia yang ada di Jakata menjadi manusia yang sangat gampang marah dan kehilangan sisi kemanusiaannya. Untuk masyarakat menengah seperti saya, hal ini semakin sangat menyiksa. Begitu banyak waktu yang terbuang di jalan. Apalagi saya bukanlah tipe orang yang tidak bisa duduk diam dan menunggu. Saya memang selalu membawa bacaan kemana pun saya pergi untuk membunuh waktu ketika macet di jalan. Akan tetapi, dalam banyak hal saya sering sekali tidak bisa membaca karena ketidaknyamanan yang saya temui di jalan. Berdesak-desakan, panas, tidak ada lampu penerangan yang memadai di dalam angkutan umum, dan aroma berbagai orang yang membuatku mau muntah. Di samping itu belum tentu dapat tempat duduk.

Jakarta ini sudah kebanyakan manusia dan kebanyakan kendaraan. Dan sayangnya itu hanya terjadi di jam-jam kantor. Pagi hari dan sore hari. Tentu saja hal ini tidak bisa dilepaskan dari posisi Jakarta sebagai pusat untuk segala sesuatu di negara ini. Hal ini menyebabkan manusia setiap harinya semakin berlomba-lomba datang ke Jakarta. Sementara bila libur tiba, jalan-jalan di daerah perkantoran boleh dibilang sunyi sepi. Saya sangat senang setiap kali melewati Jalan Sudirman di hari Minggu pagi. Kendaraan yang menggunakan BBM dilarang lewat. Sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan. Sayangnya ini hanya berlangsung beberapa jam saja dan hanya setiap hari Minggu. Seandainya pemerintah lebih tegas lagi, saya sangat merindukan semua jalan-jalan di daerah perkantoran di Jakarta ini dibebaskan dari kendaraan yang menggunakan BBM.
Hal ini bukan hanya menghemat BBM, tapi juga menyehatkan para karyawan kantoran yang mengakibatkan kami banyak pergerakan, tidak melulu duduk di kantor berjam-jam memandangi komputer. Tidak perlu menggunakan kendaraan yang menggunakan BBM di sekitar perkantoran, tinggal menggunakan kaki saja. Satu-satunya yang bisa lewat hanya transjakarta saja. Jadi semua orang yang hendak ke kantor bisa menggunakan transjakarta atau jalan kaki. Atau ide sewaktu pergantian tahun 2012 ke 2013, dimana lokasi Sudirman dibebaskan dari kendaraan juga boleh diterapkan di jam kantor.

Menurut saya ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan kota Jakarta, yaitu :

  1. Memindahkan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Jakarta ke daerah lain di Indonesia ini. Bukan hanya perusahaan besar (misalnya perusahaan minyak, batu bara, perkebunan, dipindahkan ke Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi) tetapi juga sebagian kantor kementrian/pemerintah. Para karyawan dan keluarga pun ikut pindah, jumlah manusia di Jakarta pun berkurang.
  2. Adanya penetapan usia produktif, yaitu 23 tahun bagi yang melanjutkan study ke Perguruan Tinggi dan 18 tahun bagi yang tidak melanjutkan study ke Perguruan Tinggi. Atas dasar ini, maka setiap orang yang berada di usia produktif wajib memiliki pekerjaan. Apabila dalam waktu tiga bulan, yang bersangkutan tidak memiliki pekerjaan, yang bersangkutan harus bersedia meninggalkan Jakarta. Pekerjaan yang dimaksudkan adalah pekerjaan yang berkesinambungan dan halal.
  3. Setiap gedung untuk perkantoran dan bangunan komersil, seperti mall hanya diberikan kapasitas  200 mobil untuk tempat parkir dan 200 sepeda motor. Selebihnya apabila ditemukan lebih dari jumlah tersebut, mobil akan disita oleh pemerintah setempat dan menjadi milik pemerintah. Mobil ini bisa dilelang dan biayanya difungsikan sebagai modal untuk masyarakat yang aka ditransmigrasikan ke luar Jakarta.
  4. Setiap orang di usia non produktif dilarang memiliki SIM, dengan kata lain semua mahasiswa dan pelajar tidak diizinkan memiliki kendaraan, kecuali sepeda. Hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang tidak memiliki pekerjaan lebih dari tiga bulan, SIM akan ditarik dan wajib meninggalkan Jakarta.
  5. Melakukan pendataan kepada setiap pengemudi angkutan umum, mulai dari pengemudi bajaj, bemo, metro mini, tukang ojek, sampai ke bus-bus yang ada di Jakarta, sehingga setiap pengendara memiliki ID, seragam, dan wajib menempelkan hal tersebut setiap saat. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka yang bersangkutan wajib mendapatkan sanksi dari pemerintah. Mempermudah masyarakat untuk melakukan komplain terhadap pengemudi angkutan umum.
Demikianlah beberapa pendapat dari saya untuk kemajuan Jakarta ke depannya. Walaupun Jakarta bukanlah kota kelahiran saya tapi saya juga memiliki kerinduan agar kota ini menjadi kota yang layak untuk dihuni. Selamat ulang tahun Jakarta.