Saturday, 26 October 2013

psikologi dalam ajaran yang kuyakini

Aku pernah mendengar bahwa psikologi adalah salah satu ilmu yang ditentang dalam ajaran yang kuyakini karena ada banyak teori psikologi menurut mereka menduakan keberadaan Tuhan, dan menjadikan manusia, Tuhan bagi dirinya sendiri. Ketika aku kuliah, aku juga nyaris menganggap bahwa pernyataan mereka itu adalah benar adanya, bahwa teori psikologi itu menitik beratkan pada manusia, yang pada akhirnya berkembang dengan penerapan dimana manusialah yang menjadi Tuhan untuk dirinya sendiri. Suatu pemahaman yang sangat bertolak belakang dengan ajaran yang kuyakini, tentunya. Dan memang itulah psikologi, ilmu yang berusaha memaparkan perilaku manusia dengan perkembangannya sangat dinamis seiring dengan perkembangan perilaku manusia.

Dengan berjalannya waktu, aku pun sampai ke tahap sekarang dimana  orang yang menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang menduakan Tuhan menurutku itu adalah dampak dari pemahaman mereka terhadap kedua hal itu tidak mendalam atau mungkin sama sekali tidak ada. Walau harus kuakui juga, bahwa aku juga belum berada di tahap yang paling tinggi akan kedua hal ini. Tapi satu hal yang ingin aku coba rangkum yang merupakan hasil dari pengamatan dan pengalamanku  bahwa PSIKOLOGI MERUPAKAN SEMACAM ALAT BAGI MANUSIA UNTUK MAMPU MEMAHAMI TUHAN YANG DITUANGKAN DALAM BENTUK ILMU.

Dalam ajaran yang kuyakini, aku mengimaninya sebagai ajaran Yesus. Aku beriman bahwa Yesus datang ke dunia ini untuk MENUNJUKKAN APA ITU KASIH yang Dia tunjukkan dengan menjadi manusia, tersalib, dan mati untukku. Masuk surga adalah salah satu dampak positif dari penerimaan kita terhadap kasih itu. Karena aku telah menerima dan merasakan kasih dari Yesus, maka secara tak kusadari, semacam sudah dikodratkan, aku pun memiliki kerinduan agar semua orang yang di sekitarku menerima dan merasakan kasih itu, tentu saja bukan dengan paksaan. Dan Yesus juga pernah mengatakan hal demikian ketika Dia masih hidup, agar aku yang telah merasakan dan menerima kasih itu, menunjukkannya juga ke orang lain karena tidak semua orang dan tidak semua bangsa yang akan menerima dan merasakan kasih itu. Hanya orang-orang yang mau membuka hatinya saja.Yang namanya kasih berarti bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Kasih itu tidak menuntut, hanya memberi tak harap kembali. Apakah manusia itu mau menerima dan merasakannya, itu bukan kapasitasku lagi. Intinya cuman satu, TUNJUKKAN KASIH itu.

Secara kasat mata, hal ini terlihat sangat gampang untuk dilakukan. Siapa pun bisa masuk surga asalkan dia membuka pintu hatinya untuk tempat Yesus si asal muasal kasih itu untuk tinggal. Karena tak ada standarisasi dari kasih itu, dimana hal ini bertolak belakang dengan karakter manusia yang membutuhkan standarisasi dalam bertingkah laku, maka manusia pun melahirkan berbagai aturan-aturan, dimana aturan-aturan ini pada akhirnya berkembang menjadi rutinitas yang tidak menunjukkan adanya kasih di dalamnya. Padahal manusia adalah makhluk yang memiliki karakter dinamis, sesuatu yang menjadi rutinitas akan membuatnya jenuh, karena itulah banyak manusia zaman sekarang akhirnya melepaskan diri dari peraturan itu. Dan ironisnya, tindakan manusia yang berusaha keluar dari tindakan rutinitas itu mendapat penilaian buruk.

Kasih itu sangat abstrak, hanya bisa dirasakan, dan diobservasi dalam bentuk tindakan dan perkataan. Disinilah tantangan terbesar bagiku dan mereka yang mempercayai ajaran Yesus. Dan banyak orang tidak menyadari hal ini, bahwa inti dari ajaran Yesus adalah kasih, keselamatan akan masuk surga ada hasil dari kasih itu. Bagi yang percaya kepada Yesus, melakukan tindakan baik bukan untuk menyuap Yesus agar suatu hari nanti masuk surga. Melakukan apa yang dilakukan Yesus, tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan pada dunia akan kasih yang telah kita terima dari Yesus, yaitu suka cita selama tinggal di dunia dan kehidupan yang kekal setelah kita meninggal. Itulah makanya Yesus mengatakan kepada mereka yang percaya kepadaNya, bahwa aku, kau, dan kita adalah garam dan terang. 

Proses perjalanan untuk tetap mempertahankan identitas "garam dan terang" inilah yang tidak mudah. Apalagi bagi mereka yang tidak memahami betul mengenai konsep ini. Disinilah, menurutku psikologi dibutuhkan. Para pendeta sebagai orang yang dianggap telah kitam dengan ALKITAB diwajibkan untuk memahami psikologi, mempelajari karakter manusia. Sepanjang yang aku alami, tidak ada satu pun teori psikologi yang bertolak belakang dengan ajaran Yesus, semuanya justru menjembatani manusia untuk tetap berada dalam proses pembentukan identitas menjadi "garam dan terang".

Aku masih ingat, pelajaran pertama yang aku dapatkan di psikologi adalah pengenalan akan diri sendiri. Pengenalan akan identitas kita. Disini aku semakin diingatkan kembali 'who am I'? Kalaupun dalam perkembangannya ada beberapa ahli psikologi yang pada akhirnya terlihat tidak mengikutsertakan Yesus dalam setiap pengakuannya akan identitasnya, yang adalah "garam dan terang",akan tetapi bagi mereka yang mendalami psikologi konsep kasih akan menjad fondasinya dalam bertingkah laku. Dan bukankah, ajaran Yesus adalah kasih?

Manusia membutuhkan hal yang konkrit dan nyata, dengan harapan melalui yang konkrit itu manusia bisa kompromi dengan Tuhan dalam penerapan akan KASIH. Kita lupa bahwa Tuhan tidak berkompromi dengan hal yang melenceng dari KASIH. Sejalan dengan perkembangan teknologi, lahirlah begitu banyak ajaran-ajaran yang mewajibkan manusia untuk melakukan ini dan itu agar masuk surga. Konsep kasih semakin pudar dan ditinggalkan. Manusia semakin fokus kepada ritual-ritual keagamaan, dan menjadikan itu menjadi alat ukur. Dan fakta mengatakan, bahwa tidak ada satu pun manusia yang berhasil melakukan ritual-ritual agama itu dengan sempurna, dan ternyata ritual-ritual yang telah distandarisasi itu, yang telah menjadi alat ukur itu, justru  menjadikan banyak manusia semakin tidak merasakan KASIH itu. Yang ada manusia semakin terbebani, tidak ada suka cita, apalagi KASIH.

Aku bukan orang yang anti dengan ritual-ritual agama. Aku pun sangat setuju bahwa ritual agama itu sangat penting dilakukan, akan tetapi bukan untuk menjadi alat ukur. Melainkan untuk tetap mempertahankan kasih yang pernah aku terima dan rasakan itu tetap bersinar dan memiliki rasa, tidak hambar. Dan dalam proses ini, pendekatan psikologislah yang paling akan mendapat pengaruh  signifikan seperti yang pernah dilakukan oleh Yesus. Disinilah ilmu psikologi sangat dibutuhkan, untuk membantu manusia menerima dan merasakan kasih itu. Tidak semua manusia bisa menerima dan merasakan kasih itu, walaupun dia terlahir di keluarga Kristen sekalipun. 

Dulu, murid-murid pertama Yesus berusaha memperkenalkan Kasih yang mereka terima dari Yesus melalui kesaksian dan menjangkau jiwa-jiwa, dikarenakan saat itu masih banyak yang tidak mengenal dan tidak tahu siapa Yesus itu. Manusia zaman sekarang sudah lebih memiliki informasi yang lebih banyak dari manusia zaman dimana Yesus masih hidup. Perkembangan teknologi telah membuat semua orang tahu siapa itu Yesus, tapi yang merasakan dan menerima Yesus itu tidak banyak, bahkan orang yang terlahir dalam Kristen (ajaran Yesus) sekalipun. 

Mengapa? Karena mereka tidak  merasakan kasih itu. Ritual-ritual agama menjadi beban bagi mereka, tida suka cita sama sekali. Belum lagi dengan berjuta-juta pertanyaan yang masih menjadi misteri, ditambah lagi dengan sekitar kita, ada banyak ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajaran Yesus. Begitu banyak informasi yang kita dapat, tapi kita tidak memiliki fondasi yang kuat untuk mempertahankan apa yang telah kita terima sebelumnya. Kita semakin bergejolak dengan diri sendiri, tidak ada tempat yang bisa kita jadikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, dan kita tumbuh dengan banyak  pergolakan yang terjadi di dalam pemikiran kita. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang bisa mensistematiskan pemikiran itu hanyalah dengan pendekatan psikologis dan tentu saja dengan berdoa juga meminta arahan roh kudus.

Sadar-tidak sadar, ritual-ritual keagamaan yang ada sekarang ini, bukan untuk menunjukkan kasih lagi, melainkan sudah mengalami pergeserakan makna. Berbagai komunitas keagamaan pun berkembang bukan untuk saling membantu agar tetap menjadi garam dan terang, melainkan menjadi komunitas untuk saling menghakimi mereka yang tidak masuk ke dalam komunitas itu atau menjadi tempat untuk pamer kekuasan, kekayaan, kepintaaran, dan sebagainya bagi mereka yang ada dalam komunitas. Dimana itu kasih?
Ketika kita jatuh, yang disarankan hanya dengan berdoa. Itu memang benar, kekuatan doa sangatlah dasyat. Akan tetapi, jikalau kita tidak melakukan sesuatu, Yesus pun tidak bisa membantu kita. Yesus juga membutuhkan manusia untuk bertindak, karena itulah psikologi ada untuk membantu manusia mengasah karakternya. Psikologi ada untuk membantu manusia mengenal dirinya sendiri, memahami manusia yang lain juga, dan pada akhirnya kita bisa memahami konsep kasih.

Di psikologi, perilaku manusia dikategorisasikan, tujuannya hanya satu untuk membantu kita mengenal bakat dan talenta kita, mengenal kekurangan atau kelemahan kita yang pada akhirnya bisa diasah untuk menjadikan kita manusia yang lebih hidup lagi dengan kata lain agar identitas kita sebagai garam dan terang adalah merupakan garam dan terang yang terbaik.
Kita lahir ke dunia, menjadi garam dan terang, psikologi ada untuk menjembatani kita untuk memahami identitas kita ini, dan akhirnya menjadikan kita menjadi manusia yang berkarakter. Itulah yang dipelajari di psikologi. Di psikologi tidak ada penghakiman, yang ada adalah keterbukaan dan penerimaan. Seperti yang Yesus lakukan, seberapa kotor pun dosa kita, Yesus  akan tetap menerima kita, asal kita terbuka dan mau menerima bahwa kita adalah manusia gagal. Dan mau dipulihkan serta dibenarkan oleh Dia. Hal yang sama juga terjadi di psikologi, ketika kita terbuka dan mau menerima keadaan kita, maka kita juga akan mengalami pemulihan.

Satu hal yang bisa aku simpulkan sekarang adalah bahwa Yesus adalah sumber kasih, tidak peduli kau berdiri di atas gereja mana, di atas ajaran manapun, sepanjang kau menerapkan konsep kasih itu, I am with you. Ritual-ritual keagamaan adalah budaya atau tradisi dari tahun ke tahun, dimana penerapannya tetap kembali ke orang yang bersangkutan. Selamat menunjukkan kasih.

Wednesday, 16 October 2013

terjebak di dunia

Akhir-akhir ini, aku berada dalam keadaan emosi yang sangat labil. Walaupun di permukaannya, aku selalu berusaha menampilkan pribadi yang tenang, akan tetapi otak dan emosiku bak ombak di samudra, yang berkecambuk. Satu-satunya alasan dari semua ini adalah aku yang tak bisa mengendalikan otakku untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil. Dalam banyak hal, aku sangat kritis, yang kadang-kala membuat otakku semakin melumet.

Aku merasa, setiap tempat yang aku singgahi beberapa tahun terakhir ini, terlalu sempit untuk otakku yang dinamis. Aku merasa jenuh, dan membutuhkan tantangan yang lebih. Se aku juga memiliki ketahanan dalam bertahan yang cukup kuat. Hal ini membuatku sering sekali galau untuk mencari tantangan lain.
Sampai saat ini, aku merasa bahwa apa yang telah kuraih seharusnya masih bisa lebih. Aku sering sekali merasa gagal dengan apa yang kujalani sekarang ini. Lebih tepatnya, aku merasa orang paling tak berguna setiap kali tidak melakukan apapun, seperti saat ini.
Sebenarnya hari ini adalah jadwalku untuk mengikuti kelas yoga. Dan aku sengaja memutuskan untuk mengikuti kelas yoga alasan kedua hanya karena tidak tahu mau melakukan kegiatan apa setelah pulang kerja. Daripada berdiri lama di antrian transjakarta dengan tumpukan manusia. Tapi, hari ini disinilah aku, tidak tahu mau melakukan apa, dan membuatku semakin tidak berguna. Aku melewatkan kelas yogaku hari ini karena aku merasa tersinggung dengan trainer yogaku, namanya Nenti. Ini kali kedua dia menegurku yang menurutku tidak seharusnya dia mengatakan itu.
Minggu pertama, dia menegurku karena aku tak sengaja menabrak botol minumku. Padahal, aku tidak sengaja melakukannya, dan jatuhnya botol minumanku disebabkan banyaknya peserta yoga yang tidak memadai dengan ruangan kelas, sehingga setiap harus disusun sangat berdekatan satu sama lain. Dia juga menegurku karena posisi alas yogaku terlalu maju ke depan, dimana menurutku dia seharusnya bisa mengatakannya dengan baik-baik, tanpa harus dengan intonasi suara yang ketus. Di hari yang sama dia juga menatapku dengan tatapan yang menginterogasi. Aku tidak suka dengan dia.
Di minggu kedua, dia menegurku, kalau duduk di depan harus bisa memberikan contoh yang benar kepada teman-teman yang lain, jangan selalu istirahat terus. Kalau begitu, tidak akan ada hasilnya ikut kelas yoga. Padahal aku bukannya sengaja untuk selalu melakukan istirahat dan bukan hanya aku yang melakukannya. Tapi mengapa hanya aku yang ditegur. Aku mengikuti kelas yoga bukan untuk menghasilkan bentuk tubuh yang seperti yang dia sebutkan itu. Aku ikut kelas yoga untuk merefreshkan otakku yang terlalu aktif dalam memikirkan segala sesuatunya.
Entah mengapa, aku sangat membencinya. Aku tidak suka dengan trainer perempuan. Aku lebih nyaman dengan trainer laki-laki, karena mereka lebih peduli dan pengertian. Trainer laki-laki berulang kali mengatakan bahwa setiap peserta boleh istirahat kalau merasa tidak sanggup lagi, tidak seperti trainer Nenti ini yang memaksa setiap peserta untuk melakukan gerakan. Dan membanding-bandingkan setiap peserta satu sama lain. Yoga ini bukan perlombaan. Yoga itu adalah olah tubuh. Dimana setiap tubuh memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Sikap trainer Nenty ini membuatku semakin merasa jatuh dalam menjali hariku ini. Semakin tidak semangat untuk menjalani hari-hari ini.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi denganku? Mengapa aku begitu gampang tersinggung?
Mengapa begitu sangat sulit bagiku untuk membangun semangat? Aku sampai merasa mau muntah setiap kali ada yang mengatakan semangat kepadaku. Jauh lebih membantu menurutku untuk tidak mendengat kata itu. Semakin membuatku jatuh sepertinya.

Otakku jenuh, otakku penat. Frustasi dengan lingkungan sekitar. Bukan seperti ini hidup yang kumau. Aku tahu apa yang kumau. Tapi, aku tidak bisa egois untuk mengejar apa yang kumau. Karena aku sudah dibentuk untuk selalu mengalah, mengorbankan keinginan pribadi demi kesenangan dan kenyamanan orang lain.
Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah aku ingin melanjutkan sekolahku. Aku tidak mau jadi salah satu dari dunia bisnis yang tidak sehat ini. Aku sudah terlalu jenuh menjadi salah satu penghuni kemacetan Jakarta ini. Ohhh, aku sungguh-sungguh ingin ke luar dari sistem ini. Tapi aku tak bisa. Sungguh tak bisa, karena aku tidak kuat untuk menanggung resikonya. Harga diriku menjadi taruhannya. Aku akan semakin hina di mata orang tuaku jikalau aku sampai mengorbankan apa yang kuraih sekarang ini demi mengejar apa yang kuinginkan. Hal yang masih belum bisa aku atasi, menerima hinaan dari orang tuaku.

Tuhan, tolong bantu aku menata tempo jalannya otakku. Akhir-akhir ini, otakku terlalu cepat melaju. Aku tidak bisa meremnya sendirian, aku membutuhkan bantuanmu Tuhan. Aku tidak mau otakku terlalu bekerja keras untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Bantu aku Tuhan untuk menyatupadukannya dengan ritme emosiku juga. Hal ini sangat menyesakkan Tuhan.
Begitu banyak hal yang seharusnya tidak terlalu aku pikirkan, begitu banyak hal yang seharusnya aku abaikan. Begitu banyak hal yang seharusnya, tidak aku tempatkan di otakku. Tetaplah Engkau bersamaku, Tuhan. Otakku, sangat dan sangat membutuhkanmu.

Aku frustasi dengan hidupku. Aku merasa staknasi dengan hari-hariku. Aku merasa jenuh dengan rutinitasku. Banyak kebencian yang menggunung di dalam jiwaku. Aku benci pada pemerintah, benci pada orang-orang di sekitarku, pada lingkunganku, pada kondisiku. Aku muak dengan dunia ini Tuhan. Masih adakah tempat yang bisa kujadikan untuk menjernihkan kembali otakku ini Tuhan? Dunia ini terasa sesak sekali. Sepanjang yang kulihat, yang ada adalah wasting time.

Terkadang aku bertanya, adakah ini disebabkan masa kecil yang tidak pernah kumiliki? Dimana sepertinya sepanjang yang kuingat, aku sudah dipaksa untuk langsung menjadi perempuan dewasa?