Wednesday, 13 August 2014

perjalanan anakku (3)

Sekarang anakku sudah berumur 24 minggu 6 hari dalam kandunganku. Menurut hasil USG, jenis kelaminmu adalah laki-laki. Tumbuh dan berkembanglah engkau anakku dalam kandunganku hingga nanti kita bisa saling bertatap satu sama lain. Aku bersyukur sejauh ini, kau sangat bekerja sama dengan baik denganku. Kau mengerti betul kondisi ibumu yang tidak ada tempat bermanja dan cengeng sehingga kita harus kuat dalam menjalani hari-hari kita.
Walaupun papamu adalah tipikal orang yang selalu memanjakan ibumu ini, dalam banyak kasus ibumu merasa tidak enak untuk selalu merepotkan papamu. Mungkin karena memang demikianlah ibumu dibentuk untuk berdiri dengan kaki sendiri dan selalu mengucap syukur untuk apa yang ada.

Sekarang berat badanku sudah 62 kilo dari sebelum hamil 46 kilo. Aku sangat mensyukurinya, aku sudah puas bertubuh langsing selama ini. Menurutku setiap perubahan fisik yang kualami saat ini bukanlah pengorbananku untukmu, anakku. Tapi itu adalah proses normal yang harus aku lalui jikalau aku menginginkan seorang anak dalam kehidupan pernikahan kami. Jadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap bahwa apapun yang telah kualami selama mengandungmu, khususnya hal-hal yang negatif, itu bukan pengorbananku. Itu adalah upah dosa yang aku wariskan dari semenjak manusia pertama dijadiakan oleh Tuhan dimana setiap perempuan akan mengalami kesakitan dalam proses persalinan.

Sekarang ini, punggungku sudah mulai tidak bersahabat, demikian halnya dengan pinggulku. Aku sudah mulai sangat gampang sekali merasa kelelahan, dan semakin sering buang air kecil.
Sampai sekarang aku belum merasakan seperti apa yang dikatakan orang-orang dengan ngidam. Napsu makanku masih normal, aku memakan segala sesuatunya yang sehat dan bersih.

Mungkin  satu-satunya yang tidak bisa aku kontrol adalah tekanan yang kualami di kantor. Target-target yang harus aku selalu penuhi yang membuatku sering sekali lupa bahwa kau ada dalam kandunganku anakku. Hanya itu yang paling membuatku sangat tertekan saat ini. Selebihnya, aku menjalaninya dengan penuh sukacita. Menghadapi kemacetan Jakarta, harus menemani papamu lembur walau aku sudah sangat ingin tidur, melawan ngantuk, dan bahkan nanti kondisi dimana papamu akan melanjutkan sekolahnya di Bandung dimana nantinya tinggal kita berdua saja anakku, sama sekali tidak membuatku kuatir. Untuk yang satu ini aku sangat percaya dan beriman kalau Tuhan akan  membantu kita.
Dan anehnya, entah mengapa untuk pekerjaan, aku merasa Tuhan tidak memberkatiku. Sepertinya berkat yang Tuhan berikan sudah cukup dalam kehidupanku. Jadi, Dia pun mengizinkan aku merasakan tekanan yang luar biasa dalam pekerjaanku di kantor.

Kalau ada pilihan lain, mungkin aku akan ke luar dari pekerajaan ini, anakku. Tapi, aku tidak mau menjadi pecundang di samping kita membutuhkan uang demi kebetuhan hidup kita, anakku.
Maafkan aku, kalau selama kau dalam kandungan, tekanan yang kualami dalam pekerjaanku membuatku kadang melupakanmu. Aku menjadi sangat jarang berkomunikasi denganmu, aku nyaris tidak mengajakkmu terlibat dalam aktivitasku.
Yang kuat ya, anakku. Kita pasti bisa melalui ini semua.