Thursday, 31 December 2015

WELCOME 2016!!

Tak pernah terpikirkanku bagaimana aku dan Josua akan menjalani tahun pertama anak kami dipanggilNya. Di penghujung tahun ini, memoriku tentang tahun pertama pernikahan yang sekaligus tahun pertama anak kami dipanggilNya kembali menari-nari di pikiranku. Belum kering air mata setelah kepergian anak kami, kehidupan rumah tangga kami kembali diterpa dengan kondisi perekonimian kami yang selalu nyaris di ujung tanduk. Komitmen kami yang selalu berusaha untuk hidup sederhana dan bersih, menjadi tantangan yang cukup membayar harga.

Aku dan Josua, sebagaimana pasangan muda lainnya di Indonesia ini, memulai kehidupan pernikahan kami dengan perjuangan. Bagi mereka yang tidak memiliki orang tua kaya, pasti memahami betul, perjuangan yang kumaksud. Tidak ada jalan yang mudah ketika engkau memiliki impian. Itu adalah harga mati bagi orang-orang yang memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri! Di tengah-tengah perjuangan kami untuk membangun rumah tangga dalam kesederhanaan, Tuhan memberikan kami kesempatan untuk memiliki anak. Sungguh keajaiban menurutku secara personal, mengingat hubunganku dengan Tuhan selama ini, dimana biasanya keajaiban hanya akan diberikan jikalau aku berdoa, berpuasa, dan menangis kepadaNya. Akan tetapi, kali ini untuk pertama kalinya selama aku mengingat hubunganku denganNya, Dia memberikan kami kesempatan untuk memiliki anak tanpa aku melakukan hal-hal di atas. 

Eforiaku sungguh berlebihan di kala itu. Aki shock dengan keajaiban yang diberikan Tuhan pada kami. Ini sungguh tidak biasa bagi hubunganku dengan Tuhan. Nyaris aku tidak percaya bahwa itu terjadi. Tidak mungkin Tuhan sebaik itu padaku, memberikan sesuatu keajaiban tanpa aku melakukan hal-hal yang telah kusebutkan di atas. Bahkan di dalam berbagai kesempatan, ketika aku sudah melakukan hal-hal di atas, Tuhan sering sekali berkata tidak untuk apa yang kuinginkan. Kebingunganku di tengah-tengah kebahagianku itu, terpaparkan di 28 minggu usia kandunganku. Tuhan mengambil kembali anak kami. Anak kami kalau aku boleh menyebutnya, milik kami hanya diizinkan untuk mampir di dalam rahimku, tanpa aku berkesempatan untuk menyentuh apalagi memeluknya.

Tahun 2015, adalah tahun pergumulan kami dengan Tuhan. Aku dan Josua berusaha memaknai hubungan kami dengan Tuhan. Berusaha mencari kehendak Tuhan bagi kehidupan pernikahan kami, khususnya bagi kami secara pribadi. Banyak pertanyaan yang kuajukan kepada Tuhan, dimana pertanyaan yang paling banyak kuajikan adalah mengenai hubungan kami, hubunganku dengan Tuhan. Moment kepergian anak kami, menjadi momentum bagiku secara personal untuk tahu dan semakin memaknai jenis hubungan seperti apa sesungguhnya yang kumiliki dengan Tuhan. Memaknai posisi Tuhan di dalam hidupku dan posisiku di mataNya.

Setahun berlalu, dari sekian banyak pertanyaan yang kuajukan kepadaNya, Tuhan menjawabnya dengan penuh kasih. Walau tidak semua bisa kuterima. Sisi kemanusiaanku berulang kali untuk bernegosiasi dengan semua jawaban-jawaban Tuhan. Mencoba untuk bersikap membenarkan egoku, bahkan di hadapan Tuhan yang aku tahu pemilik kehidupanku. Secara keseluruhan, aku sangat menikmati sesi-sesi dialogku denganNya. Berulang kali dengan kekeraskepalaanku yang selalu mencoba untuk mencari celah di setiap argumen yang diberikan olehNya, aku tetap menyadari bahwa akan selalu ada kekuatan untukku, untuk Josua untuk menemukan Dia dan merasakan kasihNya.

Dan kali ini, setelah aku berdoa, berpuasa, dan menangis, Tuhan memberikan kesempatan kedua untukku bisa merasakan kehamilan. Keajaiban itu datang kembali. Kali ini, aku berusaha untuk tidak bernegosiasi dengan Tuhan. Aku mengizinkan diriku untuk mengalir, menikmati setiap proses, memahami setiap jawaban Tuhan untuk setiap pertanyaan-pertanyaanku, yang aku imani, bahwa aku akan bermuara ke rencana Tuhan. 

Welcome 2016! 
Aku membuka tanganku, mataku, dan seluruh tubuhku untuk setiap apapun yang akan terjadi di depanku karena kutahu, Dia tidak akan pernah membiarkanku sampai jatuh tergeletak. Akan selalu ada harapan untuk hati yang hancur, akan selalu ada senyuman untuk setiap air mata, akan selalu ada hal baik untuk setiap musibah, dan akan selalu ada Tuhan untuk setiap moment kehidupan, kalau aku mengizinkanNya ikut serta.

Kondisi keuangan kami bukan lagi masalah besar untukku. Ini bukan kondisi baru lagi bagiku. Sejak aku pertama kali ke luar dari rumah orang tuaku, aku pernah merasakan yang lebih kritis dari semua ini. Apalagi sekarang, aku tidak sendirian lagi, ada partner hidup yang Tuhan berikan untukku. Aku juga memiliki keahlian yang bisa membantuku untuk bertahan hidup.

Terima kasih Tuhan, untuk kesabaranMu di dalam menjawab seluruh pertanyaanku di tahun 2015. Terima kasih untuk setiap negosiasi yang terjadi di antara kita. 
Terima kasih telah menjadi pribadi yang bisa kuandalkan. Walau aku akui, sampai detik ini aku belum benar-benar bisa menerima bentuk dari hubungan kita, aku akan terus berharap bahwa hubungan ini akan bisa aku maknai sebagaimana seharusnya. Dan yang pasti, adalah kehormatan bagiku untuk memperkenalkanMu nantinya kepada anak-anak dan cucuku. Akan kuceritakan semua perkembangan dan pertumbuhan hubungan yang terjalin di antara kita.

Tetaplah bersamaku, bersama Josua, dan bersama dengan orang kucintai dan yang membuatku sedih. SELAMANYA.



Thursday, 24 December 2015

Kehamilan keduaku

Di usia 15 minggu kehamilanku, rasa mual dan keinginan untuk muntah sudah berkurang. Aku juga sudah mulai bisa makan dengan banyak, bahkan beberapa kali tambah. Walaupun untuk beberapa jenis makanan aku masih harus bermusuhan. Sementara untuk aroma bawang-bawangan, hubungan kami masih belum bisa dikatakan baik. Saat ini, aku berada di tahap memilih-milih makanan. Tidak semua jenis makanan yang bisa aku makan dan ada beberapa jenis makanan yang aku makan dengan baik, misalnya bangsa mie-mie. Hampir semua jenis mie, bisa masuk ke mulutku. Mie goreng, mie rebus, mie kuah, mie ayam, mie gomak, dan berbagai jenis mie lainnya.

Untuk berat badan, saat ini berat badanku di angka 55,5 kilo gram, naik 3,5 kilo dari sebelum aku hamil.

Keluhan yang saat ini aku rasakan adalah susahnya aku buang air besar, kemungkinan disebabkan aku yang masih mual memakan sayuran. Tidak semua sayuran, aku sangat suka makan sayuran khas Batak, ingkau rata dan ikan teri sambal. Akan tetapi karena kami jauh dari kampung halaman, jenis makanan ini tidak bisa aku konsumsi setiap hari. Terkadang, dan dalam banyak hal aku memaksakan diri untuk memakan sayuran yang ada, misalnya wortel, kacang panjang, buncis, bayam, bunga kol, terong, sawi putih, kailan.

DI kehamilan keduaku ini, satu hal yang paling aku syukuri adalah bahwa saat ini jarak tempuh antara kantor dan rumah tidak sejauh dan tidak semacet kantor ketika di kehamilan pertamaku. Selain itu, jam kerja yang dimiliki kantor yang sekarang lebih singkat, dimana jam empat sore, kami sudah pulang. Alhasil, setiap hari aku sudah ada di rumah jam 5 sore. Dimana bila dibandingkan dengan kantor yang lama, jam lima adalah jam pulang kantor dan aku akan baru tiba di rumah paling cepat jam 9 malam.

Kondisi ini sangat membantuku secara psikis dan fisik. Aku memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Selain itu, tekanan kerja yang aku terima di kantor yang sekarang tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan tekanan kerja di kantor sebelumnya, Tentu saja, kantor yang lama berorientasi terhadap profit sementara kantor yang sekarang non profit alias berfokus terhadap pengembangan kaum marginal, sebuah jenis pekerjaan yang sangat sesuai dengan idealismeku.

Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menikmati kehamilanku dengan suka cita. Tuhan telah memberikan kemudahan bagiku di dalam segala hal. Walau sisi kemanusiaanku di dalam banyak hal masih mengeluhkan hal-hal yang tidak kumiliki. Saat ini, di kehamilan keduaku ini, aku mau hanya fokus dengan berkat yang Tuhan berikan kepadaku. Aku tidak ingin memikirkan hal-hal lain yang tidak kumiliki. Tuhan sudah begitu banyak memberi kepadaku. Aku mau menikmati semua yang Tuhan berikan ini dan tidak ingin dipusingkan dengan segala sesuatu yang belum Tuhan berikan kepada kami.

Satu hal lagi yang membuatku tidak bisa tidak bagahia menjalani kehamilanku adalah aku memiliki suami yang begitu sangat mencintaiku melebihi cintaku pada diriku sendiriku. Sebuah hadiah yang paling berharga yang kuterima dari Tuhan. 

Betapa aku tidak bersyukur Tuhan untuk berkat yang begitu indah yang Tuhan berikan di dalam hidupku. Aku mau terus memujiMu dan memanggilMu, ABBA, nama terindah di dalam hidupku.



Friday, 11 December 2015

Ucapan syukur

Di penghujung tahun 2015 ini, aku begitu bersyukur kepada Tuhan karena sampai saat ini aku masih bisa bernafas dan segala kebutuhan primerku tercukupi. Aku juga bersyukur karena Tuhan kembali memberikan kesempatan kepadaku dan Josua untuk memiliki anak kembali. Walaupun hal ini membuatku dalam kondisi harap-harap cemas. Satu hal yang kuimani, jikalau Tuhan memang menginzinkan anak ini lahir dan tumbuh bersama aku dan Josua, maka hal itu pun akan terjadi. Dan jikalau memang Tuhan menginginkan anak ini hanya numpang lewat saja seperti anak pertama kami di dalam kehidupan kami, maka itulah yang akan terjadi. Tuhan yang memiliki kehidupan, aku berserah penuh kepadaNya.
Kekuatiranku yang paling besar sesungguhnya saat ini adalah dengan kondisi keuangan kami. Penghasilanku hanya cukup untuk membiayai kebutuhan primer kami. Sementara untuk tagihan rumah dan kebutuhan sekunder lainnya, misalnya untuk pakaian dan hiburan, nyaris tidak bisa kami penuhi. Bahkan untuk biaya melahirkankan pun nantinya aku hanya bisa mengandalkan tabungan dari asuransiku saja. Dua tahun terakhir ini, kondisi keuangan kami memang cukup di ujung tanduk. Kami hanya bisa memenuhi kebutuhan primer kami. Setiap kali mengingat hal ini, aku selalu merasa kasihan pada diriku sendiri. Seandainya dulu, kami cukup memiliki uang, mungkin aku tidak akan terlalu lelah selama hamil pertama dan kami tidak akan kehilangan anak pertama kami. Tapi semuanya telah terjadi, akupun harus bisa melanjutkan hidup.
Mungkin ini adalah kepedihan yang belum bisa lenyap dari kehidupanku. Aku mengasihani diriku sendiri yang tidak memiliki siapa-siapa yang bisa kujadikan tempatku bersandar. Hanya aku dan Josua. Kami melewatinya berdua saja. Walaupun kami masing-masing memiliki orang tua dan saudara, akan tetapi dalam menjalani kesusahan hanya ada aku dan Josua. Terkadang aku sangat iri hati dengan mereka yang memiliki orang tua yang begitu sangat memperhatikan mereka. Aku juga memiliki orang tua, akan tetapi aku tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Mereka hanya menginginkan uang saja. Ada uang, maka kami disayang. Tak ada uang maka kami pun ditendang.
Saat ini, aku hamil kembali. Keadaan ekonomi kami masih belum berubah. Kami masih berjuang untuk bisa bertahan hidup. Aku mensyukuri setiap momen ini. Di dalam kondisi seperti inilah, cinta kami (aku dan Josua) semakin dikuatkan. Kami semakin saling mencintai, saling memperhatikan satu sama lain. Walaupun uang kami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, kami bersyukur. Kami tidak memiliki uang untuk membeli baju-baju baru padahal hampir semua baju-baju kami sudah tidak muat lagi bahkan sudah terlihat usang karena sudah bertahun-tahun dipakai, kami tetap bahagia. Kami masih dengan tangan terbuka menerima saudara-saudara kami untuk berkunjung ke rumah, walaupun pengeluaran terhadap makanan meningkat. Semua pengeluaran hanya kami fokuskan untuk membeli kebutuhan primer saja karena memang hanya sampai disanalah kekuatan penghasilan kami sanggup.
Orang-orang tidak akan pernah percaya dengan kondisi keuangan kami. Karena selama ini memang kami tidak pernah mau bersikap pelit kepada mereka yang membutuhkan. Kami selalu memberikan pelayanan yang terbaik khususnya bagi setiap orang yang datang ke rumah kami. Hal ini terkadang memberikan penilaian yang berbeda, karena memang sudah lumrah seseorang memberi itu karena dia berlebih. Padahal, dalam kondisi kami, kami memberi karena demikianlah Tuhan mengajari kami, memberi dari kekurangan.  Kebiasan aku dan Josua dalam member, membuat mereka merasa bahwa kami memiliki banyak uang. Padahal yang benar adalah, di dalam ketidakmampuan kami, disitulah kami semakin giat memberi.  Selain itu, aku dan Josua memang bukanlah pasangan yang pelit. Sedikit apapun uang yang kami miliki, kami akan tetap berbagi dengan mereka yang membutuhkan, khsusunya mereka yang datang ke rumah kami. Kami rela tidak menikmati kehidupan ini dengan sangat sederhana sekali, asalkan setiap orang yang datang ke rumah kami tidak kelaparan. Kami sangat senang berbagi, bahkan di saat kami sesungguhnya membutuhkan bantuan. Dan aku bahagia, semakin kami banyak memberi, semakin kami merasakan penyertaan Tuhan. Bahkan ketika uang di ATM kami sudah mendekati angka nol, dengan berkat yang dari Tuhan, ketika kami butuh uang untuk beli beras, Tuhan sediakan.
Inilah ucapan syukurku yang begitu luar biasa kepada Tuhan. Bahwa Dialah Tuhan yang bersamaku melewati masa-masa sulit ketika aku sebatang kara, kelaparan di masa-masa kuliah, Tuhan yang bersamaku ketika aku bergumul untuk mendapatkan pekerjaan yang bukan hanya memeras otak dan tenagaku saja, Tuhan yang bersamaku ketika Dia mengambil kembali anak kami, dan aku percaya Tuhan yang sama jugalah yang akan membantu aku dan Josua melewati perjalanan rumah tangga kami dengan anak yang ada di dalam rahimku.

Terima kasih Tuhan untuk setiap kehadiranMu di dalam masa-masa sulitku, terima kasih untuk setiap kekuatan yang Tuhan berikan bagiku dan Josua untuk menjalani kehidupan kami, terima kasih Tuhan untuk kasihMu yang begitu nyata di antara aku dan Josua.

Desember 2015

Friday, 13 November 2015

Besar pasak dari tiang

Salah satu yang paling kukagumi dari para pemimpin rohani umat Katolik adalah KESEDERHANAAN. Para pastor dan suster diharuskan memakai pakaian sehariannya dengan model yang sama dan merupakan hasil jahitan sendiri. Mereka tidak mengikuti mode pakaian yang terbaru. Jenis pakaian mereka hanya satu dan sangat khas. Mereka juga jarang dan nyaris tidak memiliki barang-barang mewah, misalnya perhiasan, transportasi pribadi, dan bahkan smart phone. Bagiku seperti itulah seharusnya seluruh pemimpin rohani dari setiap agama khususnya pemimpin rohani di gereja. Menjadi teladan dalam kesederhanaan, menaklukhan hasrat untuk menikmati kemewahan duniawi. Melihat dan menyaksikan hal inilah membuat pola pikirku terbentuk bahwa pemimpin agama itu adalah orang-orang yang sederhana. Itulah yang membedakan mereka dengan orang-orang yang bekerja di luar lingkungan kerohanian. KESEDERHANAAN.

Akan tetapi, pola pikirku sejak kecil itu sudah rusak oleh kehidupan  para pemimpin rohani saat ini. Aku sudah tidak pernah menemukan pemimpin rohani yang bersedia untuk hidup sederhana di zaman sekarang ini. Semuanya berlomba untuk hidup dalam kemewahan. Semuanya sudah sama dengan orang-orang yang tidak terpanggil di dalam kerohanian, KONSUMTIF! Bahkan, dalam banyak kondisi, pemimpin rohani yang tidak memiliki bisnis apapun memiliki gaya hidup yang lebih mewah dibandingkan dengan jemaatnya yang adalah pebisnis.

Hal ini membuatku sampai kepada pengertian bahwa di zaman ini, pemimpin rohani adalah sebuah profesi sama seperti profesi yang sudah ada di dunia ini, seperti guru, supir, buruh atau karyawan swasta, PNS, dan yang lainnya. Sama-sama bekerja untuk mendapatkan uang demi menikmati kemewahan duniawi. Bedanya, para pemimpin rohani bekerja dengan mengharapkan uang dari jemaat sedangkan yang bukan pemimpin rohani bekerja dengan mengharapkan uang dari pemilik-pemilik bisnis.

Hidup sederhana yang aku maksud disini bukanlah hidup miskin. Aku juga tidak setuju melihat para pemimpin rohani yang hidup dalam kemiskinan. Hidup sederhana itu adalah hidup dengan bersahaja. Hidup dengan apa adanya. Hidup dengan selesai pada diri sendiri, tidak memiliki kepentingan apalagi politik. Menurutku kemewahan bukanlah menjadi milik mereka lagi. Mereka sudah selesai dengan kemewahan itu dan tidak ada hasrat untuk itu lagi.

Bila ditarik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hasrat untuk hidup mewah ini memang sudah mewabah. Meneyerang semua lapisan masyarakat di Indonesia. Setiap kali aku naik angkutan kota, aku sering sekali menyaksikan mereka yang bekerja di swalayan kecil, memiliki smart phone dimana harga dari smart phone yang mereka miliki  dua kali gajinya sebulan. Dan bila ditelusuri lebih jauh, ternyata smart phone itu hanya digunakan untuk media sosial dimana aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah dengan benda itu adalah untuk menggosip, pamer, update status-status galau, dan bahkan menjadi provokator. Aku bukan orang yang anti dengan mereka yang memiliki smart phone. Hanya saja, menurutku smart phone itu seperti namanya, fungsinya adalah untuk melakukan hal-hal cerdas, misalnya mendapatkan informasi yang bisa menambah wawasan dan memberikan pencerahan pemikiran. Aku juga tidak setuju dengan mereka yang tidak memiliki penghasilan mempunyai smart phone. Terlepas apakah itu karena orang tuanya mampu membeli atau tidak, bagiku mereka yang belum memiliki penghasilan belum layak untuk memiliki smart phone.

Baru-baru ini, para buruh kembali ke jalan untuk melakukan aksi demo terhadap keputusan Presiden Jokowi mengenai UU Pengupahan Buruh yang telah disahkan. Intinya mereka tidak setuju dengan proses kenaikan upah yang akan bergantung dengan nilai inflasi dan pendapatan nasional. Aku tidak ingin mengkomentari mengenai fenomena ini. Yang ingin aku komentari adalah seberapa banyak pun gaji yang kita peroleh tidak akan pernah cukup untuk memuaskan hasrat kita untuk hidup konsumtif.

Dimanakah gaya hidup kesederhanaan itu? 




Saturday, 7 November 2015

My second pregnancy

For the second time, God gives the chance to Josua and I to be a real parent again. After He had taken our first baby boy, Josua and I thought that we will never get a chance to be a real parent. But now, at this moment, we are so happy for this chance. I realized that God is not cruel to us; right now He gives us the second chance. Although, it will be tense moments for seventh months ahead, Josua and I are very grateful for God’s mercy.

I really surrender to God, for everything! I don’t want to visualize too much. Only because of Him, I am pregnant again. Can I finish my pregnancy, give the birth well, and take care of him/her? I surrender to God. I don’t want to spend my time to worry about the next. I believe, if God decided to give the baby for Josua and I, it will be happened. Nothing can change it. So, if one day, God says that the baby is not ours again, I surrender. I just ask to God, please give us the strength to face it all with gratefulness.

During my second pregnancy, Josua and I try so hard to not to repeat our mistakes in my first pregnancy. Our big enemy is STRESS! There is always situation out there that contain a negative emotion, that possibly stresses us. We agree not think too much about the people around us. We learn to not involve many people in our marriage life, for this moment we do not think the others, just think both of us, and our second baby. The most important thing for us is to love each other.

Talking about my second pregnancy, it’s totally different than the first one. This time, I have morning sickness a whole day, not only in the morning! I can not eat oily foods, spicy food, warmed food, and coconut milk. Just the same with the first pregnancy, I don’t like eat vegetables too. In my first pregnancy, I gained 4 kg in just 4 weeks, but now in 8 weeks, I only gained ½ kg.

Due to my morning sickness, doctor gave me medicines. But I don’t want to consume them. I want to enjoy my pregnancy without medicines. I think, it is not good for my pregnancy to consume medicines although it with doctor prescription. I know, it’s not comfortable to face morning sickness a whole day, but I pay it. I also do not consume milk. I really want to enjoy the all process. I don’t want to be spoiled with my pregnancy. Because, I am not woman spoiled.

Some my friend said that in their pregnancy they have their mother to take care of her. And they said it’s so helpful. I knew, it will be helpful if I have too. But in my condition, God changes my mother with my husband. In my pregnancy, my husband becomes everything to me. He can be a mother, father, brother, sister, friend, and of course be MY LOVELY HUSBAND! So, I don’t need anyone else because I have Josua, all I need in every my single  time.

Dear our second baby, thank you for your existing in my womb. Josua and I wish we can meet. You are 8 weeks old now. Can’t wait to see you, our second baby. You are our second baby, but you will be our first baby who is going to be taken care by Josua and I as our child. See you on June 2016! Pray and love always for you.

Saturday, 3 October 2015

AMSAL GINTING - YANG TELAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI




Salah satu profesi yang paling membuat saya tidak nyaman adalah profesi dokter. Bagi saya, dokter itu adalah sebuah profesi yang menunjukkan kesombongan, tidak ada empati, bekerja berdasarkan jumlah uang yang dimiliki pasien, dan memiliki gaya hidup yang mahal. Pengalaman-pengalaman saya dengan dokter yang tidak menyenangkan, membuat saya membatasi dan bahkan cenderung untuk tidak bertemu dengan dokter. Ketika rasa sakit menyerang, saya memilih untuk menganalisanya sendiri dengan menggunakan berbagai informasi di internet, buku-buku, dan berbagai sumber yang lain sebagai rujukanku. Bukan berarti saya takut pada dokter, hanya saja saya sudah pesimis duluan bahwa saya tidak akan mendapatkan kesembuhan dengan mengunjungi dokter. Dari pengalaman yang sudah-sudah, yang ada bukan kesembuhan yang saya dapatkan melainkan luka batin. 

Akan tetapi setelah saya bergabung dengan Wahana Visi Indonesia, organisasi kemanusiaan Kristen yang bekerja membawa perubahan berkelanjutan pada kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan saya bertemu dengan beberapa dokter yang sangat bertolak belakang dengan para dokter yang pernah saya temui. Di tempat saya bekerja ini, saya tidak harus memanggil para dokter dengan sebutan dokter, kami bisa memanggil dengan kakak/abang. Dan yang pasti, ketika ada keluhan fisik, mereka akan dengan sangat senang hati mendengarkan keluhan dan memberikan solusi untuk semua keluhan kami, kapanpun dan dimanapun. Salah satunya dokter yang cukup fenomenal di kantor saya adalah, almarhum bang Amsal Ginting. 

Sesungguhnya bisa dibilang, saya tidak mengenal siapa itu bang Amsal Ginting secara personal. Kami hanya beberapa kali berkomunikasi mengenai pekerjaan kantor, itupun lewat telepon dimana saat itu beliau sedang persiapan untuk menjalani operasi pengangkatan empedu (di dua minggu terkahir hidupnya di dunia ini). Informasi tentang beliau saya peroleh dari cerita-cerita rekan sekantor dan juga dari buku biografi beliau yang saat ini telah dijual secara umum. Informasi yang saya tahu, dia adalah dokter lulusan dari FK UI (yang kebenaran satu almamater dengan saya, tapi beda fakultas, hehehe). Setelah menyelesaikan study dari FK UI, beliau memutuskan untuk bergabung dengan Wahana Visi Indonesia, menjadi dokter di daerah terpencil di provinsi Nusa Tenggara Timur, Waingapu. Kisah bang Amsal Ginting persis seperti cerita-cerita di dalam sinetron Indonesia atau pun di film-film. Bedanya kalau di dalam cerita-cerita sinetron Indonesia ataupun di film-film, seorang dokter yang memutuskan untuk mengabdikan diri di pedesaan pada umumnya berasal dari keluarga yang kaya raya, yang sudah bosan hidup berkecukupan. Sementara bang Amsal Ginting, adalah anak seorang guru di salah satu kampung di provinsi Sumatera Utara, Brastagi.

Anak laki-laki tunggal, datang dari keluarga yang pas-pasan, lahir dan besar di kampung, dan lulus di FK UI, pastinya ini adalah momentum yang besar untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Orang tua mana di Indonesia ini yang tidak mengharapkan anak semata wayangnya menjadi dokter yang bisa hidup mewah seperti mana dokter-dokter di Indonesia pada umumnya. Apalagi dengan kondisi orang tuanya yang bukanlah memiliki materi yang banyak, tentunya besar harapan orang tua agar bang Amsal bisa menghasilkan uang sebanyak mungkin, setidaknya hidup mapanlah. Akan tetapi, bang Amsal memilih untuk hidup di dalam kesederhanaan dengan mengabdi di desa orang lain, Waingapu, NTT. Untuk sikap yang diambil oleh orang tua bang Amsal, sungguh saya berikan appresiasi terbesar saya. Ini kali pertama saya tahu ada orang tua Batak yang merestui anak laki-laki tunggalnya, yang adalah lulusan kedokteran dari universitas paling bergengsi di Indonesia ini, yaitu UI untuk mengabdikan dirinya di desa orang lain. Yang banyak terjadi adalah para orang tua selalu menuntut anak-anaknya untuk bisa menghasilkan banyak uang, hidup dalam kemewahan, tinggal di kota besar, bukannya di desa miskin dengan kehidupan yang sangat sederhana. Apalagi, orang tua bang Amsal bukanlah orang tua yang memiliki harta yang banyak, seharusnya mereka bisa saja mengambil sikap seperti yang dilakukan oleh para orang tua di Indonesia, yaitu mendoktrin anak untuk membahagiakan orang tua dengan cara memfasilitasi orang tua untuk menikmati kemewahan duniawi.
Akan tetapi yang saya lihat adalah orang tua bang Amsal mendidiknya bukan untuk membahagiakan orang tua, melainkan untuk membahagiakan Tuhan sang Pencipta dengan cara mengabdi kepada kaum marginal. Walaupun, momentum ini lebih banyak dikarenakan sebuah tragedi yang menimpa bang Amsal di masa perkuliahannya di UI, yang mengakibatkan beliau bernazar untuk menjadi dokter bagi orang miskin.

Saya sebagai orang Batak, yang lahir dan besar di kampung, dan juga lulusan dari UI sama seprti bang Amsal, tuntutan orang-orang di sekitar, khususnya keluarga untuk menjadi hidup kaya, sungguh sangat kuat. Alumni UI, akan tetapi hidup miskin akan menjadi pertanyaan besar di masyarakat kita. Dan tak jarang di dalam berbagai kesempatan akan menjadi bahan olokan. Keputusan untuk mengabdi di desa orang lain, sementara di kampung sendiri dan bahkan keluarga juga masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, mengambil sikap seperti yang dilakukan oleh bang Amsal adalah sebuah hal yang sangat fenomenal. Saya kagum dengan niat dan semangat yang dimiliki untuk menjalani pilihan hidupnya, mengabdi di desa orang lain dengan tidak menjadi hidup mewah seperti rekan-rekannya dokter pada umumnya. Untuk kali pertama, aku menyaksikan seorang dokter meninggal dengan menggunakan biaya pengobatan BPJS di RSCM. Saya sendiri pernah menjalani pengobatan dengan menggunakan BPJS di RSCM dan itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan, berharap pengalaman itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Setelah membaca buku biografi dari bang Amsal, saya tertantang untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang tua bang Amsal. Kalau tiba saatnya, Tuhan mengizinkan kami untuk memiliki anak lagi, saya memiliki kerinduan untuk mendidik mereka untuk menjadi anak yang hidup dan berkarya bagi sesama, bukan bagi kami orang tuanya. Saya akan membantunya untuk bisa menjadi manusia yang memaknai hidupnya dengan mengabdi kepada masyarakat, bukan untuk mencari uang sebanyak mungkin. Tidak apa-apa kalau nanti mereka tidak memiliki mobil pribadi, rumah sendiri, hidup mewah, yang terutama mereka harus menjadi manusia yang mandiri dan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. 

Saat ini, saya belum bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh bang Amsal, walaupun kami memiliki alasan yang sama untuk bergabung di Wahana Visi Indonesia adalah karena nazar. Saya belum bisa seutuhnya menjadi manusia yang telah selesai dengan diri saya sendiri. Ada begitu banyak kepentingan yang masih berakar di dalam diri saya, yang belum bisa saya cabut sempurna seperti yang saya sebutkan di atas. Setidaknya, sampai saat ini, saya masih terus berjuang untuk memberikan ilmu yang saya punya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kalau bang Amsal memberikan ilmunya dengan bersentuhan langsung dengan kaum marginal, memberikan pengobatan secara gratis, sampai saat ini saya juga melakukan hal yang sama, bekerja sebagai HRD dengan tidak mencari uang, melainkan menjadi HRD yang bisa diandalkan dan siap mensupoort kebutuhan staff maupun para kandidat yang saya interview sehari-hari.

Setelah selesai membaca buku biografi bang Amsal Ginting, saya berandai-andai bagaimana kalau di setiap satu profesi yang ada di dunia ini, ada satu orang, SATU ORANG SAJA memiliki gaya hidup "YANG TELAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI", mungkin tidak akan ada lagi perang politik, perang budaya, perang sosial, perang ekonomi, perang kekuasaan, perang identitas, dan perang ideologi. Dunia ini akan lebih nyaman untuk dihuni dimana kasih Kristus akan terlihat nyata.

Saturday, 19 September 2015

Perempuan di tahun 2015

Aku adalah seorang perempuan yang tidak percaya diri secara fisik. Aku tidak mau menggunakan kosa kata cantik dan jelek, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa cantik itu relatif, jelek itu mutlak. Jadi, aku lebih nyaman menggunakan tidak menonjol secara fisik. Hal ini telah berakar sangat dalam di dalam pola pikirku. Aku pernah mendiskusikan hal ini dengan Josua (suamiku). Aku ingat jelas, responnya menanggapi pernyataanku : Perempuan itu terdiri dari tiga hal yang membuat dia disebut perempuan, yang pertama kepribadian, otak, dan keunggulan fisik. Dimana ketiga hal ini ada nilainya, kepribadian diberi nilai satu, cukup masuk akal karena kepribadian manusia itu normalnya adalah satu, kalau lebih dari satu berarti sudah memiliki gangguan kejiwaan (kepribadiaan ganda, dan sejenisnya). Untuk otak dan keunggulan fisik masing-masing diberi nilai 0.
·         Kepribadian               à 1
·         Otak                           à 0
·         Keunggulan fisik       à 0
Jadi, menurut Josua, aku memiliki ketiganya yang membuat diriku mendapatkan angka 100. Dari analogi di atas yang paling penting itu adalah kepribadian, ketika kepribadian tidak ada, maka bisa dipastikan perempuan tersebut sudah tidak mendapatkan angka yang bermakna lagi, karena yang membuatnya bermakna hanyalah kepribadian. Sebaliknya, bagi banyak perempuan di dunia ini, khususnya mereka yang ada di sekitarku, justru yang paling diutamakan adalah keunggulan fisik, otak, dan yang terakhir adalah kepribadian.
Investasi waktu dan materi pun paling banyak dihabiskan hanya untuk keunggulan fisik dan otak. Investasi untuk mengasah kepribadian nyaris  tidak pernah dilakukan. Padahal untuk mendapatkan kepribadian, tidaklah membutuhkan investasi materi seperti layaknya untuk keunggulan fisik dan otak. Aku tidak ingin bersikap naïf. Aku pun setuju bahwa perempuan yang memiliki keunggulan fisik itu selalu lebih menarik untuk DILIHAT. Dan hal pertama yang diberikan penilaian kepada seorang perempuan adalah tampilan luar, yaitu berupa keunggulan fisik yang langsung bisa menarik untuk DILIHAT. Berbeda dengan otak yang membutuhkan pengenalan lebih dalam untuk mengetahui pola pikir dan wawasan seorang perempuan. Apalagi untuk mengetahui kepribadian seorang perempuan, dibutuhkan seluruh indra yang harus bekerja dengan sangat sensitive untuk bisa memberikan penilaian yang tepat.
Ada beberapa fakta mengenai perempuan terkait dengan keunggulan fisik, otak, dan kepribadian.
1.      Pada umumnya, seorang perempuan yang menyadari bahwa dia memiliki keunggulan fisik, maka dia akan enggan untuk mengasah otak dan kepribadiannya. Jenis perempuan ini, cenderung mengandalkan keunggulan fisiknya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, khususnya dalam hal materi karena hanya itulah yang bisa ditukarkan dengan uang. Dia tidak punya pola pikir maupun wawasan yang bisa membantunya untuk mewujudkan keinginannya dengan hasil keringatnya sendiri dan kepribadian untuk membuatnya memiliki makna hidup. Perempuan pada zona ini memiliki napsu untuk hidup kaya sangat besar. Cukup masuk akal, dia tidak memiliki kepribadian yang membantunya untuk memaknai hidupnya bahwa hidup ini terlalu singkat hanya dengan bernapsu hidup kaya. Paling menyedihkan jikalau ternyata dia tidak berasal dari keluarga yang kaya, untuk memuaskan napsunya maka dia akan sangat gencar mencari laki-laki kaya atau laki-laki yang memiliki orang tua kaya untuk dijadikan suami.
2.      Bagi para perempuan yang memiliki keunggulan fisik dan memiliki otak, maka dia akan sangat bersahabat dekat dengan langit dan bermusuhan dengan tanah. Napsu untuk hidup kaya masih tetap menyala-nyala dan bahkan lebih buas dibandingkan dengan perempuan di zona satu. Hal ini dikarenakan selain memiliki keunggulan fisik, dia juga memiliki otak yang membuatnya semakin berhak untuk menjadi kaya.
3.      Perempuan yang memiliki kepribadian. Sesungguhnya inilah jenis perempuan yang dicari oleh banyak orang di dunia ini. Bukan hanya dicari oleh para calon mertua, calon ipar, dan calon suami, tetapi juga oleh banyak perusahaan. Saat ini, tidak mudah untuk mendapatkan perempuan yang memiliki kepribadian. Mendapatkan perempuan yang hanya memiliki keunggulan fisik, hanya memiliki otak, atau perempuan yang memiliki keunggulan fisik dan memiliki otak itu seperti membalikkan telapak tangan karena begitu sangat gampangnya. Akan tetapi memiliki kepribadian saja tidak cukup, jangan berpuas diri di angka 1, otak pun perlu diasah, sehingga kita bisa dimaknai menjadi 10. Dengan kepribadian dan otak yang kita miliki, pada akhirnya keunggulan fisik pun akan terlihat semakin nyata. Aku percaya, setiap perempuan itu diciptakan dengan keunggulan fisik. Hanya saja ada perempuan dimana keunggulan fisik itu terlihat dengan jelas, ada yang harus menggunakan seluruh panca indra yang ada untuk bisa memancarkannya. Dan pastinya, yang membutuhkan seluruh panca indralah yang paling menakjubkan.
Hi ladies, it’s time to show up your personality. Ini tahun 2015, tahun dimana perempuan dinilai bukan hanya karena keunggulan fisik, tapi karena KEPRIBADIAN dan OTAK. Tahun dimana saatnya seorang perempuan berhak untuk mewarnai hidupnya agar lebih bermakna lagi, tidak terbatas hanya dengan menjadi penduduk kelas dua dunia. Tapi juga memiliki posisi yang sejajar dengan laki-laki. Bagaimana kita bisa melakukannya, mulailah dengan menjadi perempuan mandiri, mewujudkan keinginan dan impian kita dengan kerja keras dan berdoa, bukan dengan meningkatkan keunggulan fisik untuk menjerat laki-laki kaya dan sejenisnya!
Perempuan berkepribadian dan berotak itu adalah perempuan yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus selalu mengemis bahkan memeras pasangan.

Perempuan berkepribadian dan berotak itu adalah perempuan yang memaknai kehidupan bukan dengan bernapsu hidup kaya, melainkan bernapsu untuk berkarya dan berbagi!

Friday, 4 September 2015

Happy Birthday, Jordan..

Hari ini, aku sengaja memutuskan untuk tidak ke kantor karena hari ini tepat satu tahun Tuhan memanggil anak kami, yang aku dan Josua  panggil Jordan. Orang-orang di sekitar kami tidak setuju dengan cara kami mengenangnya. Bagi mereka, aku dan Josua sudah saatnya melupakannya dan tidak pernah mengungkitnya lagi. Seolah-olah membicarakan Jordan, adalah hal yang tabu. Alasannya hanya satu, agar aku dan Josua tidak sedih lagi. Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa caraku untuk berduka adalah membicarakan Jordan, mengenangnya dengan selalu menyebutnya, memanggil namanya, dan berbicara dengannya. Aku tidak peduli, dia tidak mendengarnya, yang aku tahu bahwa aku dan dia sudah terkoneksi, tidak perlu telinga, tidak perlu kehadiran fisik.

Hari ini, aku dan Josua memutuskan untuk mengenang  setiap detik dari kebersamaan yang pernah kami miliki bersama Jordan. Mengenang bagaimana kami menjalani hari-hari kami, ketika dia tumbuh di dalam rahimku. Membicarakan kembali, hari-hari terakhir kami dengannya. Detik, menit, jam yang dia berikan untuk kami bisa mendengar detak jantungnya, mengetahui kalau dia masih melakukan pergerakan di dalam rahimku lewat berbagai alat yang diletakkan di atas rahimku.

Hari ini, aku dan suami pergi mengunjungi makam anak kami untuk kesekian kalinya. Aku mengajak dia berbicara, menceritakan bagaimana kondisiku, kondisi papanya, Josua. Mengadukan kenakalan-kenalakan Josua, berbagi cerita bagaimana pilunya hatiku dan hati Josua diketiadaannya di tengah-tengah kami, dan bagaimana aku dan Josua bangun di pagi hari dengan menyadari dia sudah bersama dengan Tuhan. Tidak seperti bulan-bulan dimana aku dan Josua pergi ke makamnya, kali ini aku dan Josua memutuskan untuk tinggal lebih lama. Aku dan Josua duduk di atas makamnya, berandai-andai Jordan ada bersama-sama dengan kami. 
Seandainya dia masih hidup, Jordan sudah akan berusia satu tahun. Saat ini, akan menjadi moment dimana Jordan akan sangat menyenangkan untuk digendong, dimana beratnya seperti menyatu dengan lekukan pelukanku dan Josua, Wajahnya akan mirip denganku, dan rambutnya akan tumbuh keriting seperti rambut Josua, dia sudah mulai lancar berjalan, dan sudah mulai memanggil aku mama, memanggil Josua, papa.

Happy birthday, Jordan, anak yang Tuhan beri dan diambil kembali.
Happy birthday, Jordan, anakku dan anak Josua.








Tuesday, 1 September 2015

Ibadah Pengutusan Management Trainee Wahana Visi Indonesia Batch 16



Minggu ini adalah minggu yang berat secara emosi bagiku. Bayangan setahun yang lalu dimana aku berbaring di kamar rumah sakit dengan anak kami di dalam rahimku, sementara suamiku dalam kondisi kurang tidur karena menjagaku. Semua kejadian itu menari-nari di dalam pikiranku. Bahkan ketika menuliskan ini, aku masih gemetaran, hatiku masih menangis. Setahun sudah, akan tetapi setiap detik dari kejadian itu, masih terakam dengan sangat jernih di otakku. Aku bukan hanya mengingat, saat ini pun aku seperti merasakan hentakan dan pergerakan anak kami di dalam rahimku. Seolah-olah aku kembali mengalami kejadian setahun yang lalu, berbaring di rumah sakit, dengan suamiku di sampingku dengan wajah penuh kecemasan.

Tak pernah terlintas di dalam pikiranku kalau saat ini aku bisa menuliskan hal ini. Setahun sudah, aku dan suami melalui hari-hari berduka kami. Aku sendiri menjalaninya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor. Tiga bulan setelah melahirkan, Tuhan memberikanku pekerjaan baru sebagai ganti dari dipanggilNya anak kami. Januari 2015, aku bergabung dengan sebuah organisasi kemanusiaan yang menerapkan ajaran Kristus di dalam pelayanannya, Wahana Visi Indonesia. Tanggung jawab pertama yang kuperoleh adalah merekrut Management Trainee (MT) sebanyak 35 orang. Di pertengahan bulan Februari, target orang yang harus direkrut bertambah menjadi 55 orang. Sementara deadline waktu yang diberikan masih tetap sama yaitu 4 bulan. Alhasil, selama tiga bulan aku membawa pekerjaan kantor ke rumah, bahkan di akhir minggu pun aku bekerja. Aku menyeleksi 1399 resume satu per satu, hingga akhirnya di akhir April 2015, Tuhan memberikan 61 orang yang lolos dalam setiap proses seleksi. Akan tetapi di hari-hari terakhir sebelum offering dilakukan ada 3 orang yang memutuskan untuk mundur dari program MT ini. Setelah offering, ada 5 orang yang "gugur". Dan hari ini kami mengutus 53 orang untuk melayani di berbagai daerah dampingan kami yang tersebesar di 55 Kabupaten di Indonesia.

Tadi pagi, ketika Ibadah Pengutusan berlangsung, dimana MC Ibadah yang adalah rekan sepelayanan kami (Kak Dahlia) mengundang kami berdiri untuk menaikkan ucapan syukur kami kepada Tuhan, hanya mengucap syukur, tidak meminta, tidak memohon. Hanya bersyukur. Dan saat itu, aku tertantang untuk bersyukur, bersyukur di tengah-tengah masa-masa berdukaku, Tuhan memakaiku untuk bisa bekerja memberikan yang terbaik yang bisa kuberikan, mengambil bagian dari pelayanan ini. Aku bersyukur, Tuhan memberikan pekerjaan ini padaku sehingga masa-masa berdukaku lebih mudah untuk kujalani. Melalui pekerjaan ini, aku dipaksa untuk fokus mendapatkan staff baru yang nantinya akan bertugas membantu teman-teman yang melayani di daerah terpencil. Aku mengucap syukur, aku bisa berkontribursi di dalam perekrutan MT ini, hingga akhirnya tidak ada waktu untukku berduka bahkan untuk menangis.

Aku bersyukur, mengingat bagaimana aku berjuang untuk konsentrasi di dalam pekerjaanku, mengesampingkan rasa dukaku, rasa kehilanganku dengan bekerja secara totalitas, mendapatkan 55 staff dalam waktu tiga bulan! Dengan lingkungan baru dan administrasi yang panjang. Di dalam ucapan syukurku, aku tergoda bertanya, jikalau Tuhan tidak mengambil anak kami, mungkin aku tidak akan resign dari pekerjaanku yang dulu. Aku akan terus - menerus menjadi budak uang. Berambisi untuk hidup kaya. Merekrut orang hanya untuk mendapatkan fee yang bersumber dari persenan gaji dari orang yang direkrut.

Aku bersyukur, Tuhan menangkapku dan menempatkanku di organisasi ini. Aku semakin dikuatkan bahwa di dalam kehidupan ini, aku dan suamiku tidak lagi sendirian. Aku menemukan keluarga baru yang akan selalu ada berdoa untuk aku dan suami. Kejadian setahun yang lalu, ketika aku dan suamiku berdua saja di rumah sakit dengan kondisi anak kami di dalam rahimku adalah titik terendah kami berdua. Dengan adanya keluarga baru yang aku temukan di organisasi ini, membantuku untuk bangkit kembali. Aku belum bisa mengatakan bahwa saat ini kami sudah baik-baik saja, yang pasti saat ini aku dan suami sedang mencoba untuk bergerak. Aku pribadi semakin menemukan makna hidupku yang sesungguhnya, tepat seperti yang selalu kuminta di hampir setiap doaku, MENJADI GARAM DAN TERANG.

Ibadah Pengutusan Management Trainee yang telah kami lakukan tadi pagi di kantor, semakin memperjelas panggilan hidupku di dunia ini. Aku ingat dengan salah satu nazarku (ketika aku merasa bahwa adalah hal yang mustahil bagiku untuk kuliah), bahwa jikalau Tuhan berkenan memberiku kesempatan untuk kuliah dan meraih gelar sarjana, maka aku akan mempersembahkannya hanya untuk pekerjaan Tuhan. Dan disinilah aku sekarang, menjadi pelayan Tuhan, memberikan ilmu yang kudapatkan dengan susah payah, hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Dan aku mengucap syukur karena Tuhan memberikanku kesempatan untuk memenuhi nazarku.

Kepada 53 orang MT Batch 16 Wahana Visi Indonesia, selamat menikmati perjalanan bersama Tuhan di dalam pelayanan ini. Seperti ada tertulis, sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22;14), demikian halnya dengan MT Batch 16, kalianlah orang yang terpilih itu, dari 1399 yang terpanggil.  Seperti nyanyian yang kalian nyanyikan tadi siang, kita bersama-sama rindu untuk Indonesia yang lebih baik. Biarlah kita semua menjadi GARAM DAN TERANG, hidup bagi KRISTUS. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada kita semua untuk melanjutkan pelayanan ini.
Dan kepada mereka yang pernah meluangkan waktunya untuk mengikuti proses perekrutan MT Batch 16 di Wahana Visi Indonesia, mohon maaf untuk setiap tutur kata yang tidak berkenan. Mohon maaf karena keterbatasan saya,  tidak  ada follow up  kepada mereka yang  telah bersedia meluangkan waktu mengikuti proses seleksi dan dinyatakan belum sesuai untuk posisi ini. Jangan patah semangat, kalau tahun ini kalian belum berjodoh dengan Wahana Visi Indonesia, Tuhan pasti menyediakan tempat untuk kalian berkarya. Akhir kata, dimanapun ladang yang telah Tuhan sediakan buat kita semua, di Wahana Visi Indonesia atau bukan, tetaplah menjadi GARAM DAN TERANG.




Tuesday, 7 July 2015

BULE

Aku lahir dan dibesarkan di daerah pinggiran Danau Toba. Di masaku tinggal di sana, ada begitu banyak turis manca negara yang datang, walaupun tidak sebanyak tempat wisata lain di Indonesia, misalnya Bali. Apalagi temapt dimana aku lahir dan dibesarkan adalah tempat yang tidak terlalu diekspos keindahan Danau Toba-nya, tidak seperti Parapat. Akan tetapi beberapa turis kerap sekali melakukan perjalanan ke daerah dimana aku lahir dan menghabiskan 18 tahunpertama hidupku.

Fenomena yang kuamati saat itu adalah keramahan masyarakatku terhadap bule begitu sangat jauh dari keramahan yang mereka tampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari situasi ini, akhirnya menimbulkan pertanyaan di benakku. Sejak kecil aku selalu bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang bule selalu dianggap lebih baik dibandingkan dengan orang Indonesia. Tidak hanya itu, aku juga memiliki banyak kenalan yang merasa sangat bangga bahkan sudah mengarah menjadi ke kesombongan apabila memiliki kenalan bule. Perlakuan kepada mereka pun jauh lebih ramah dibandingkan kepada kami yang notabene teman sebangsanya, yang bertumpah darah satu, yaitu darah Indonesia.

Aku akui dalam berbagai hal mereka lebih maju dari kita bangsa Indonesia. Teknologi, pola pikir, pendapatan per kapita, dan juga gaya hidup. Tapi bukan berarti itu bisa menjadikan mereka harus mendapatkan perlakuan yang lebih ramah dari orang Indonesia. Aku bukannya anti apabila ada orang Indonesia yang ingin beramah-tamah dengan orang bule, karena memang sudah seharusnya kita ramah kepada tamu kita. Akan tetapi kalau sampai orang tersebut hanya ramah kepada orang bule dan tidak melakukan hal yang sama kepada masyarakat di sekitarnya, apalagi itu adalah bangsanya sendiri, maka menurutku orang itu tidak layak untuk menikmati sumber daya Indonesia dengan gratis! Dan budaya seperti ini begitu menjamur di masyarakat kita. Terkadang, aku sampai bingung sendiri, katanya bangsa ini terkenal karena keramahannya. Akan tetapi keramahan itu hanya diberikan kepada bangsa lain, sementara bangsa sendiri "diabaikan".

Perilaku kita yang terlalu membanggakan bule dan mengabaikan bangsa sendiri sesungguhnya adalah tindakan yang menjual bangsa ini secara perlahan-lahan dan menyatakan diri siap untuk dijadikan budak oleh mereka. Beberapa bule yang aku kenal mengartikan pesan yang kita sampaikan dengan salah. Anggapan mereka, bahwa orang Indonesia itu adalah pemuja bule. Oleh karena itu, mereka tidak perlu mempersiapkan diri untuk belajar Bahasa Indonesia sebelum datang ke Indonesia. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk bisa beradaptasi dengan budaya kita. Karena mereka tahu, bahwa masyarakt Indonesia yang akan memfasilitasi hal tersebut. Hal yang sangat bertolak belakang dengan kondisi kita, ketika kita ke negara mereka, kita harus menguasai bahasa mereka, mempelajari sistem mereka. Dan apakah kita akan disambut dengan keramahan yang sama seperti yang kita lakukan kepada mereka? Anda sendiri bisa menjawabnya.

Fenome lainnya adalah orang Indonesia jauh lebih bangga menjelajahi  Eropa atau Amerika dibandingkan dengan Indonesia. Tidak jadi masalah, karena itu soal selera. Yang menjadi masalah adalah ketika kembali dari Eropa atau Amerika, bukannya semakin mencintai bangsa sendiri sebaliknya semakin merendahkan bangsanya, menyalahkan pemerintah, dan mengeluhkan kondisi bangsa ini.

Kalau bukan kita sendiri yang menghargai dan meletakkan bangsa kita di posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa lain, siapa lagi? Masakan di negeri kita sendiri pun, kita lebih ramah kepada bule dibandingkan kepada masyarakat kita sendiri? Apa yang kita dapatkan dengan perlakuan seperti ini? Ingin dianggap keren? Dengan tidak menghargai masyarakatmu sendiri?

Masakan selama hidup, kita menikmati sumber daya alam Indonesia, tumbuh bersama-sama dengan masyarakat Indonesia, akan tetapi yang mendapatkan penghargaan lebih adalah bangsa lain?
Adalah bagus memiliki banyak kenalan dan teman dari berbagai negara, akan tetapi adalah sikap yang sangat tidak bisa jadi inspirasi ketika perkenalan kita dengan orang dari berbagai negara menjadi senjata kita dalam menghujat bangsa kita ini.

Kalau kita tidak bisa mengurangi kemacetan di Jakarta, kalau kita tidak bisa membayar pajak dengan jujur, kalau kita tidak bisa mengolah sumber daya alam Indonesia, setidaknya mulailah dari hal kecil, mencintai negeri ini! Cintai budaya negeri ini! Cintai masyarakat Indonesia! Kalau itupun tidak bisa dilakukan, segeralah ganti kewarnegaraan Anda dan semoga bangsa bule yang Anda sanjung-sanjung itu bersedia menerima Anda menjadi warga negaranya!


Saturday, 13 June 2015

ITU BUKAN URUSANMU

Di hari Sabtu pagi ini, aku dan suami melakukan saat teduh bersama. Tuhan menyapa kami di pagi hari ini melalui Yohanes 21 : 15 - 22. Dalam perikop ini, Yohanes menuliskan mengenai penampakkan Yesus untuk ketiga kalinya setelah Dia bangkit dari kematian. Bukan hanya menampakkan diri, kali ini Yesus melakukan interaksi personal dengan Petrus. Yesus menanyakan sampai tiga kali kepada Petrus apakah Petrus mencintaiNya? 

Dialog selanjutnya antara Petrus dan Yesus adalah mengenai keingintahuan Petrus terhadap murid yang dikasih Yesus, dalam hal ini aku dan suami menduga bahwa murid yang dimaksud adalah Yohanes. Dimana pertanyaan Petrus adalah, "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?' Jawaban Yesus adalah : "Jikalau Aku menghendaki supaya Ia tinggal sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutlah Aku." (Yoh 21 : 22)

Jawaban Yesus ini sangat menokok aku dan suami. Khususnya dalam kalimat, ITU BUKAN URUSANMU. Tetapi engkau, ikutlah Aku.

Dalam keseharian kami menjadi sepasang suami istri (ini tahun kedua pernikahan kami), kami banyak menemukan ketidakadilan. Kami sering membandingkan kehidupan kami dengan kehidupan pernikahan orang lain, khususnya mereka yang diizinkan oleh Tuhan untuk memiliki anak. Kami, khususnya aku juga sering sekali merasa iri hati dengan mereka yang begitu mudah mendapatkan sesuatu sementara aku harus melakukan perjuangan terlebih dahulu. Di perjalananku tidak ada yang mudah. Segala sesuatu yang kudapatkan saat ini semuanya melalui penantian dan perjuangan yang panjang. Sementara orang-orang di sekitarku mendapatkannya dengan begitu sangat mudah.

Dan pada pagi hari ini, Yesus menjawab kami bahwa ITU BUKAN URUSANKU. Bukan urusanku ketika orang-orang di sekitarku mendapatkan rejeki yang lebih banyak dariku. Bukan urusanku ketika mereka bisa mendapatkan apa yang kuperjuangkan dengan sangat sulit sementara mereka mendapatkannya dengan begitu mudah. Bagianku adalah mengikuti Yesus. Mengelola segala yang telah Tuhan berikan kepadaku saat ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Untuk yang tidak kumiliki, aku harus berhenti untuk memfokuskan pikiranku ke sana. Yang penting sekarang adalah mnegikuti Tuhan, seperti yang telah Dia minta. Membandingkan diri dengan orang lain tidak akan memberikan sukacita kepadaku, akan tetapi ketika aku memfokuskan diri untuk mengikuti Tuhan maka akan ada kepuasan hati.

Hal yang sama juga terjadi dengan kehidupan kami di dalam bermasyarakat. Dimana masyarakat dimana kami tinggal saat ini adalah mayoritas Islam. Pagi hari ini juga Tuhan menjawab kegalauan hati kami. "Jikalau Aku menghendaki supaya Ia tinggal sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutlah Aku." (Yoh 21 : 22).
Jikalau sampai hari ini Tuhan menghendaki mereka yang tidak percaya kepada Yesus masih tinggal sampai Dia datang kedua kalinya, itu bukan urusanku. Urusanku adalah mengikut Yesus sampai selama-lamanya.

Perbincangan kami (aku dan suami) di pagi hari ini, membuat kami semakin dikuatkan di dalam menjalani peran kami masing-masing. Kami kembali diingatkan bahwa tujuan kami di dunia ini adalah menjadi pengikut Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami. Tidak menjadi masalah apabila saat ini mereka memiliki apa yang tidak kami miliki. Yang pasti, selama ada Tuhan di antara kami, maka itu sudah menjadi kepuasan hati kami.

Monday, 8 June 2015

Sepeda Baru



Pada usiaku yang ke- 27, suamiku berjanji akan membelikanku hadiah ulang tahun berupa sepeda. Dia memiliki kerinduan agar aku bisa menggunakan sepeda. Akan tetapi, hadiah ini baru aku dapat setahun kemudian dikarenakan aku mendapatkan hadiah yang paling indah, yaitu dokter menyatakan bahwa aku telah hamil. Oleh karena itu, karena  cukup berisiko untuk belajar menggunakan sepeda dalam kondisi hamil muda, pembelian sepeda pun ditunda.

Hamil, adalah hadiah ulang tahun yang paling berkesan yang pernah aku terima. Dimana di usiaku yang ke-27, aku diberikan kesempatan untuk mengandung bayiku selama 28 minggu.

Tanggal 22 Maret 2015, di usiaku yang ke-28, suamiku memenuhi janjinya dengan memberikanku hadiah sepeda. Bukan hanya menghadiahkanku sepeda, dia juga mengajariku untuk menggunakan sepeda itu. Dan, setelah tiga kali diajari, aku akhirnya bisa menggunakan sepeda. Ini menjadi hadiah yang istimewa karena di umur 28 tahun akhirnya aku memiliki sepeda dan bisa menggunakannya.

Ini adalah salah satu keberhasilan yang kuraih di dalam tahun ini. Aku semakin mengenal diriku, kalau ternyata aku memang orang yang termasuk ke dalam kategori fast learner. Suamiku sendiri sangat kagum kepadaku yang langsung bisa menggunakan sepeda tanpa mengalami luka terlebih dahulu. Tapi, aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku bisa melalui ini semua karena suamiku memiliki cara yang tepat dalam mengajariku.

Kuakui, aku belum mahir betul dalam menggunakan sepeda, khususnya ketika ada banyak kendaraan dan manusia yang akan melintas di sekitarku. Aku akan langsung panik dan memilih untuk berhenti. Selain itu, aku masih memiliki ketakutan untuk menghadapi belokan yang cukup miring. Aku percaya, seiring berjalannya waktu aku akan bisa lebih mahir lagi di dalam menggunakan sepeda. Aku hanya perlu untuk mengendalikan rasa takutku dan menuangkannya ke dalam kebahagiaan. Aku menyesal, mengapa baru sekarang aku bisa menggunakan sepeda. Karena naik sepeda itu begitu menyenangkan. Tapi, aku tidak mau mengungkit-ungkit apa yang sudah berlalu, aku mau terus melanjutkan hidupku dengan apa yang kumiliki sekarang.

Terima kasih, Tuhan karena Kau belum menyerah mengizinkanku merasakan suka cita itu.




Apakah aku telah menjadi orang yang bertanggung jawab

    Mengunjungi makam anak kami sekali dalam sebulan yaitu di minggu pertama akhir minggu masih menjadi kegiatan rutin kami (aku dan suami). Kami memilih minggu pertama tiap bulannya dikarenakan anak kami lahir dan meninggal di tanggal 4 September 2014. Oleh karena itu, kami selalu mengusahakan untuk datang di minggu pertama tiap bulannya. Tidak selalu tanggal 4, karena kondisi kami  tidak memungkinkan untuk selalu datang di tanggal itu.
Untuk memastikan kondisi makam anak kami selalu dalam keadaan baik, kami mengupah pengurus makam untuk selalu memperhatikan makamnya. Menyirami, memberi pupuk, dan menjaga agar tumbuhan liar tidak merusak rumput makam itu. Sesuai perjanjian, kami akan membayarkan Rp 50.000,00 per bulan untuk biaya pupuk dua kali sebulan dan perawatan minimal sekali sebulan.

    Kemarin, tanggal 6 Juni 2015, untuk kesekian kalinya kami datang untuk mengunjungi anak kami. Dan kesekian kali juga kami dikecewakan oleh pengurus makam yang tidak melakukan seperti yang sudah kami sepakati bersama. Selama ini, kami masih selalu mencoba untuk sabar dengan Bapak tersebut. Walaupun bulan lalu saya sudah sangat berniat untuk menggantinya. Akan tetapi suami saya tidak setuju dengan alasan tidak baik memecat orang, mari kita berikan kesempatan kepadanya untuk berubah. Setiap kali kami ke sana kondisi makam anak kami sangat jauh dari baik. Banyak tumbuhan liar di sekitar makam anak kami. Ketika suamiku mempertanyakan hal itu kepada Bapak pengurus makam, dia mengatakan bahwa karena musim hujan, jadi tanaman liar cepat tumbuh. Menurut pengakuannya, dia rutin datang untuk merawat makam itu dan bahkan beberapa hari lalu datang untuk memotong tanaman liar, menyiram rumput, dan memberi pupuk. Aku ingin sekali menyangkal pernyataannya tersebut karena faktanya tumbuhan liar itu tumbuh bukan dalam waktu beberapa hari melainkan telah satu bulan! Bagaimana mungkin kami begitu bodohnya tidak mengetahui perkembangan tanaman liar yang tumbuh dalam beberapa hari dan tanaman liar yang tumbuh dalam sebulan. Akan tetapi suamiku melarangku untuk mengatakan apapun. Suamiku memintaku untuk bersikap baik kepada pengurus makam itu dengan alasan itu adalah pemakaman, tidak baik ribut-ribut di pemakaman.
Yang paling menjengkelkan adalah ketika Bapak pengurus makam itu sama sekali tidak merasa bersalah bahkan mengatakan bahwa bayaran yang kami berikan terlalu sedikit dan apabila ingin datang, sebaiknya menghubunginya lebih dahulu minimal sehari sebelum kedatangan kami.  Dia bilang kalau ingin makamnya lebih intens diperhatikan harus dibayar Rp 100.000,00 bukan Rp 50.000,00 seperti yang telah kami bayarkan selama ini. Hal ini membuatku semakin kesal kepada Bapak tersebut. Kalau mau minta tambah seharusnya berikan performa yang baik dulu. Selain itu, mengapa tidak mengatakan sejak awal kalau biaya perawatan Rp 100.000,00.

Dan mengenai pernyataannya yang mengatakan bahwa kami harus memberitahukan dia terlebih dahulu, minimal sehari sebelum kedatang kami. Seharusnya kalau dia cukup pintar, dia bisa mempelajari pola kedatangan kami, yaitu setiap bulan di akhir minggu pertama. Dan tentu saja kami tidak pernah mau memberitahukan kedatangan kami kepadanya karena kami ingin memastikan bahwa makam anak kami dirawat minimal sekali seminggu seperti perjanjian di awal. Mengenai jumlah bayaran yang kami bayarkan, akhirnya kami menanyakan kepada pengurus makam yang lain yang kebetulan ada di sekitar makam anak kami. Dan ternyata dari dia kami tahu bahwa bayaran yang telah kami berikan kepadanya sudah lebih dari cukup. Pengurus makam yang lain itu mengatakan kalau dia dibayar Rp 30.000,00 per bulan, sudah termasuk untuk bayar pupuk, dua kali dalam sebulan.

    Kesabaranku  habis sudah. Kami merasa sangat tidak dihargai. Kami rutin memberikan uang agar makam anak kami dirapikan secara rutin dan kami yang terima adalah :







Rumput makam anak kami hangus, kemungkinan karena tidak rutin disiram. Aku dan suami sangat sedih melihat hal itu. Hangusnya rumput di makam anak kami menyebabkan rumputnya banyak yang mati hal ini seolah-olah anak kami meninggal dua kali. Tanaman-tanaman liar juga banyak tumbuh di sekitarnya. Kami semakin kecewa karena di sekitar makam anak kami, hanya makam anak kami yang mengalami kondisi demikian. Sementara makam yang lain tidaka ada yang rumputnya gosong karena para pengurus makam mereka rajin melakukan tugasnya.

Saat itu, aku dan suamiku langsung mengambil keputusan untuk mencari pengurus makam ke yang lain. Dan Puji Tuhan, kami mendapatkannya. Walaupun pengurus makam yang baru kami pekerjakan ini belum terbukti kinerjanya, tapi kami lega setidaknya dia berusaha memberikan solusi agar rumput makam anak kami yang telah hangus bisa diperbaiki kembali. Kami hanya berharap semoga pengurus makam yang baru ini bekerja lebih baik. Sebelum mempekerjakan dia, kami menanyakan bayarannya dan dia meminta untuk diupah Rp 50.000,00 per bulan sudah termasuk pemberian pupuk sebanyak dua kali dalam sebulan. Dan kami pun setuju.

Meskipun si pengurus makam yang baru menyarankankan agar kami memberitahukan kepada pengurus makam yang lama mengenai perpindahan tanggung jawab ini, suamiku mengatakan tidak akan menghubunginya. Suamiku sudah sangat kecewa sekali kepadanya, suami bilang untuk apa memberitahukan dia, dia saja tidak menghargai kita.

Dari kejadian ini, aku teringat bahwa ini bukan kali pertama kami tidak dihargai oleh mereka yang kami upah. Kami juga pernah mengalami hal yang sama dengan pembantu (orang yang kami minta untuk mencuci dan menyetrika pakaian kami). Dimana dia meminta bayaran Rp 400.000 per bulan, akan tetapi dengan alasan agar dia bekerja dengan baik kami memberikannya Rp 500.000,00 per bulan, yang ada dia semakin melonjak dan menyalahartikan kebaikan kami. Semakin kami baik kepada mereka, semakin mereka menyalahartikan kebaikan kami. Aku kecewa sekali mengapa ada orang seperti itu di dunia ini. Menyalahartikan kebaikan kami. Haruskah kami memang bersikap tidak ada rasa kasihan agar kami lebih dihargai? Entahlah, tapi semakin ke sini, aku semakin menyadari betapa banyaknya dari kita yang tidak bertanggung jawab terhadap peran kita. Bukan hanya petugas makam, tapi juga yang lainnya.

Aku mendapatkan pelajaran dari pengalamanku ini, apakah aku telah menjadi orang yang bertanggung jawab?




Friday, 5 June 2015

Ketika gajiku lebih besar dari gaji suamiku

Aku kira kehidupan yang akan kulalui akan semakin mulus. Cuaca yang kujalani akan menjadi cuaca yang menghangatkan badan dan menyejukkan hatiku. Akan tetapi, ternyata tidak, semakin ke sini, semakin berjalannya hari, kehidupan yang kujalani semakin memberatkan.

Dan aku semakin merasa sendirian. Aku sangat kecewa sekali dengan suamiku yang terlalu sangat bergantung kepada dirinya sendiri. Semula, aku memang sudah menduganya kalau dia bukanlah orang yang akan selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya. Aku kira, perlahan-lahan aku akan bisa membawa dia untuk menyadari bahwa kehidupan ini berada di bawah kendali Tuhan.

Aku semakin jatuh, ketika anak kami meninggal. Sahabat-sahabatku menghilang. Teman-temanku sibuk dengan berbagai kegiatan mereka. Mereka hanya datang kalau mereka membutuhkan bantuanku. Tetapi untuk menawarkan hati yang berdoa untukku, tidak ada. Padahal, hanya itu yang kuminta, agar mereka bersedia berdoa untukku. Demikian halnya dengan gereja dimana kami sudah terdaftar, mereka hanya mengharapkan uang saja dari kami, tanpa peduli dengan kehidupan rohaniku dan suami.

Aku benar-benar sendirian, semuanya menghimpitku dengan sangat ketat. Semunya semakin terasa berat, karena suamiku tidak bisa kuandalkan untuk bersama-sama berlutut dan memohon kepada Tuhan. Anak kami dipanggil Tuhan, kondisi keuangan kami yang berada di ujung tanduk, adaptasi dengan kantor baru di kantor, itu semuanya semakin berat untuk kujalani ketika suamiku tidak bisa kuandalkan untuk bersama-sama memohon kekuatan dari Tuhan. Di dalam kondisi aku yang tertatih-tatih, aku juga harus menopang suamiku.

Terkadang, aku merasa bahwa mungkinkah penghormatanku kepadanya dan betapa aku memuji setiap kebaikan-kebaikan kecil yang dia lakukan, membuatnya semakin besar kepala sehingga membuat dia semakin berbangga diri dan tidak membutuhkan Tuhan lagi?
Menjadi Pegawai Negeri Sipil, dengan uang yang banyak membuat dia menjadi orang yang sangat mengandalkan uang. Dan ketika dalam kondisi saat ini, dimana dia sedang tugas belajar dan uang yang dulunya mengalir dengan cukup baik sekarang tersumbat, lalu dia menyalahkan Tuhan. Padahal ketika dia mendapatkan hal-hal yang baik menurut dia, dia tidak sekalipun bersuka cita dengan sangat luar biasa kepada Tuhan.

Aku sungguh sangat frustasi dengan sikap dia kepada Tuhan. Berulang kali aku memohon kepada Tuhan, agar Tuhan pulihkan dia. Aku sangat takut sekali, kalau Tuhan sampai marah kepada dia.
Ketika anak kami meninggal, tak henti-hentinya aku memohon kepada Tuhan agar dia mengampuni dosa-dosa kami. Aku tahu kalau selama ini kami telah semakin jauh dari Tuhan, kami telah menaruh harapan kami kepada apa yang kami miliki. Kami nyaris tidak pernah meletakkan Tuhan di atas segala sesuatu yang kami miliki.

Bagaimana ini Tuhan?
Apa yang harus kulakukan?

Tuhan sumber cinta kasih, aku tidak mau munafik bahwa saat ini sesungguhnya aku tidak mengerti apa rencana yang telah dan yang akan Tuhan berikan kepadaku dan suamiku. Bila kumelihat ke belakang, ada begitu banyak air mata yang menemaniku. Ajari aku Tuhan untuk terus mengandalkan Engkau. Walaupun saat ini, aku tidak mendapatkan dukungan dari manusia manapun di dunia ini, tapi sepanjang Engkau bersamaku, aku tidak membutuhkan yang lain.
Aku bersyukur Tuhan untuk setiap air mata, ketengangan hidup, rasa frustasi, dan tuntutan dari berbagai pihak yang Tuhan izinkan untuk kujalani.

Selama empat tahun kuliah dengan penuh kekurangan secara materi dan dukungan sosial. Akan tetapi, Tuhan hadir mencukupi segala kebutuhanku. Aku percaya Tuhan yang sama, yang ada bersamaku sejak aku meninggalkan rumah orang tuaku, Tuhan yang sama, yang membuatku tertawa melihat mereka yang bahagia bersama bayi-bayi mereka, sementara bayiku diambil Tuhan, Tuhan yang sama, dimana setelah empat tahun aku ditindas di dalam perusahaan yang hanya mementingkan tenaga, otak, dan waktuku, menempatkanku  di organisasi yang begitu menerimaku dengan sangat baik, Tuhan yang sama juga yang akan memberkatiku dalam melewati masa-masa sulit ini.

Aku rindu, suamiku juga bisa memberikan pengakuan ini. Aku rindu suamiku juga bisa merasakan suka cita bersama Tuhan bahkan ketika seolah-olah tidak ada alasan untuk bersuka cita. Kerinduanku Tuhan, agar suamiku juga dapat mempercayaiMu dan kami bisa bersama-sama memujiMu.

BersamaMu Tuhan, kulewati air mata, duka cita, kesepian. BersamaMu Tuhan, kulewati suka cita dan alasan untuk aku hidup, yaitu untuk menjadi penyembahMu.



5 jumi 2015
11.30 pm

Ketika gajiku lebih besar dari gaji suamiku.

Tuesday, 2 June 2015

What I have learned from MT Recruitment Batch 16


Pertama kali bergabung di World Vision Indonesia di bulan Januari 2015, aku diberikan peran sebagai Recruitment Coordinator di unit Work Force Planning (departement People and Culture). Tanggung jawab pertamaku adalah melakukan perekrutan untuk posisi MT sebanyak 35 orang. Dimana pada bulan Februari 2015 aku diberitahu bahwa jumlah orang yang harus direkrut untuk posisi MT bertambah, menjadi 55 orang. Dan waktu yang kami miliki adalah 3 bulan, karena mereka akan mengikuti kelas magang di awal bulan Mei 2015. Mendapatkan tanggung jawab ini adalah suatu kehormatan besar. Hal pertama yang kulakukan adalah menganalisa tujuan utama dari perekrutan ini. Aku juga banyak dibantu oleh teman-teman di HR, khususnya di unitku (Work Force Planning) di dalam setiap proses seleksi yang berlaku di World Vision Indonesia (mengingat aku adalah orang baru di World Vision). Secara umum, proses perekrutan memang bukan hal yang baru lagi untukku karena aku sudah memiliki pengalaman di organisasi lain dimana aku pernah melayani sebelum di World Vision Indonesia.

Lain lubuk, lain belalang. Itulah hal pertama yang aku tanamkan di dalam benakku ketika menjalani tanggung jawab baru di World Vision. Walaupun aku sudah memiliki pengalaman di bagian perekrutan, aku masih tetap harus belajar dan belajar lagi. Ada banyak hal baru yang kudapatkan khususnya dalam proses perekrutan di Wolrd Vision Indonesia yang sangat unik dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain pada umumnya. Hal yang paling membuatku terkesan adalah cara melakukan interview kandidat. Tidak seperti di organisasi-organisasi sebelumnya dimana aku pernah melayani, di organisasi ini proses interview diwajibkan berjalan dengan senyaman mungkin dan penuh dengan kekeluargaan. Tidak ada tekanan, penghakiman dan tentu saja investigasi. Setiap kandidat yang diputuskan untuk mengikuti proses interview wajib untuk diterima dengan sebaik mungkin dan diberikan kesan yang menyenangkan, walaupun yang bersangkutan pada akhirnya tidak sesuai dengan standar organisasi. Intinya, di organisasi ini, perekrutan dilakukan bukan untuk menghakimi kandidat melainkan untuk melihat kesesuaian kandidat dengan kebutuhan organisasi dimana itu semua dikemas dalam balutan kasih Yesus.

Di organisasi ini aku semakin mendapatkan dukungan untuk menjadi seorang HR yang bekerja bukan untuk meyenangkan hati pemilik organisasi, atasan, atau rekan-rekan kerja melainkan semata-mata untuk Tuhan. Walaupun sebenarnya selama ini aku selalu berusaha melakukan itu, yaitu bekerja untuk Tuhan di setiap organisasi dimana aku pernah bergabung. Akan tetapi aku tidak pernah mendapatkan dukungan untuk bekerja kepada Tuhan itu dari setiap organisasi dimana aku dulu bergabung. Aku hanya mendapatkannya di organisasi ini. Dukungan itu sangat tegas dikumandangkan bahwa kita semua yang bekerja di organisasi ini adalah pekerja Tuhan. Sementara di organisasi lain, bekerja itu adalah untuk memperkaya si pemilik organisasi, dengan kata lain tujuan utamanya adalah menghasilkan uang sebanyak mungkin. Keberhasilan diukur dari seberapa banyak uang yang bisa kita berikan kepada pemilik organisasi. Jadi, apapun yang kita lakukan muaranya adalah uang.

Sangat berbeda dengan apa yang aku alami di organiasi ini. Aku diberikan tanggung jawab untuk melakukan perekrutan kepada setiap orang yang diproses di World Vision Indonesia untuk melihat adanya kesesuaian  kandidat dengan kebutuhan organisasi. Dimana standar kesesuain itu adalah panggilan hidup mereka untuk melayani Tuhan melalui kaum marginal yang ada di sekitar kita. Yang tentunya diintegrasikan dengan value dari organisasi World Vision. Tentu saja variabel ini bukanla satu-satunya penentu di dalam proses perekrutan, melainkan tetap menjadi proses select out.


Kembali ke proses perekrutan MT, Puji Tuhan atas dukungan organisasi, rekan-rekan sepelayanan dari seluruh ADP, dan teman-teman di HR, di bulan April 2015 dari 1399 resume yang aku screening, akhirnya Tuhan mengirimkan 58 orang untuk posisi MT. Aku tidak akan pernah bisa melakukan setiap proses perekrutan ini jikalau bukan karena campur tangan Tuhan dan dukungan dari organisasi. Walaupun sekarang, ada dua orang dari 58 orang itu yang mengundurkan diri, aku masih tetap percaya bahwa mereka telah mendapatkan inspirasi dari proses perekrutan yang dilakukan di organisasi ini. Untuk ke depannya, aku pribadi terus berdoa untuk setiap orang yang Tuhan izinkan untuk mengenal World Vision melalaui Work Force Planning dapat menemukan panggilan hidupnya dan mengimaninya sampai tiba akhirnya Tuhan meminta kita semua untuk menghadapNya.

Friday, 29 May 2015

Perkembangan psikososial manusia menurut teori Sigmund Freud

Lima tahapan perkembangan psikososial manusia menurut Sigmund Freud :
1. Fase oral
· Manusia mengenal dan merespon dunia luar melalui mulut. Bayi memasukkan segala sesuatu ke mulut dalam upaya pengenalannya akan benda-benda di sekitarnya. Ketika tidak nyaman, lapar, dsb mereka akan meresponnya dengan mulut, yaitu menangis. Untuk mencari putting susu ibu pun dilakukan oleh mulut. Oleh karena itu tugas perkembangan yang harus diselesaikan dalam tahap ini adalah proses penyapihan.
· Apabila gagal dalam tugas perkembangan di fase ini maka akan mengakibatkan :
o adanya ketergantungan kepada orang lain, misalnya :  tidak mandiri, cengeng, manja;
o adanya ketergantungan terhadap benda, misalnya rokok, obat-obatan, game, dsb.
· Sikap orang tua atau orang dewasa yang terlalu berlebihan mendampingi anak dalam fase ini juga bisa mengakibatkan anak menjadi orang yang pemilih, misalnya pemilih dalam hal makanan, pakaian, pekerjaan, jodoh, dsb.

2. Fase anal
- Pada fase ini, anak mulai diperkenalkan training toilet. Anak diminta untuk bisa mengendalikan kapan dan dimana bisa mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh. Oleh karena itu, tugas utama anak dalam proses ini adalah pengendalian diri.
- Anak yang berhasil melewati fase ini akan tumbuh menjadi manusia yang berprestasi, kompeten, produktif, dan kreatif.
- Anak yang mendapatkan pendampingan terlalu longgar dari orang dewasa atau orang tua di sekitarnya akan mengakibatkan si anak tumbuh menjadi manusia hidupnya berantakan, tamak, dan boros.
- Sementara apabila fase ini terlalu dini disosialisasikan, maka si anak akan tumbuh menjadi manusia yang kaku atau obsesif.
- Dan bila orang tua terlalu mem-push anak dengan tidak diberikan pengertian, anak bisa tumbuh menjadi manusia yang pelit. Hal ini disebabkan kontrol pengendalian anak tidak berkembang dengan baik, sehingga si anak terlalu mengendalikan diri dan merasa bersalah untuk membuang kotoran karena takut pada orang tua.

3. Fase phallic
ü Pada fase ini anak mulai mengenal adanya perbedaan jenis kelamin. Pada fase ini juga anak perempuan memiliki rasa cinta kepada ayahnya, sehingga menganggap ibunya adalah saingannya. Sementara anak laki-laki memiliki rasa cinta kepada ibunya dan menganggap ayahnya adalah saingannya. Apabila orang tua tidak mendampingi anak-anak pada fase ini, bisa mengakibatnya adanya ketidakcocokan antara ibu dengan anak perempuannya atau ayah dengan anak laki-lakinya.
ü Selain itu pada fase ini juga bisa mengakibatkan adanya Oedipus Complex, dimana anak perempuan mencintai laki-laki yang lebih tua darinya, atau anak laki-laki mencintai perempuan yang lebih tua darinya akibat tugas perkembangan psikologis yang belum selesai.
ü Tugas utama dari fase ini adalah pengelolaan rasa kecemasan. Menyadari siapa dirinya, mengenal tubuhnya, dan perbedaannya dengan orang lain adalah “shocking” tersendiri kepada manusia, yang mengakibatkan lahirnya emosi cemas.
ü Apabila fase ini tidak diselesaikan dengan baik, maka anak akan tumbuh menjadi manusia yang neurotic, mengalami PANIC DISORDER, pencemas, tidak percaya diri (minder, rendah diri), gampang gugup.

4. Fase latent
§ Setelah mengenal diri sendiri, mengenal orang tua, pada fase ini anak akan belajar mengenal saudara kandung, tetangga, anak-anak lain yang seumurannya, keluarga besar.
§ Pada fase ini tugas perkembangan anak adalah interaksi sosial, komunikasi dengan manusia lain, sikap mengalah, dan berkorban.
§ Pada usia ini, anak biasanya menampilkan sikap egois, meminta seluruh orang di sekitarnya untuk memperhatikan dia.
§ Apabila anak memiliki adik baru pada fase ini, maka anak membutuhkan pendamping double, bukan mengurangi karena pada fase ini adalah fase persiapan anak untuk melangkah mengenal dunia luar. Fase ini akan penentu apakah anak akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya atau malah menjadi sampah masyarakat.

5. Fase genital
Ø Setelah mengenal diri sendiri, orang tua, saudara kandung, lingkungan sosial, maka pada tahap ini anak akan belajar untuk mencari keseimbangan hidupnya. Jadi tugas utamanya adalah untuk mencari keseimbangan hidup.
Ø Apabila anak tidak berhasil pada fase ini maka anak tersebut akan tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki tujuan dan visi dalam hidupnya.

Demikianlah lima tahapan psikososial manusia. Semoga dengan mengetahui tahapan ini, kita semakin diberikan rasa empati kepada setiap orang di sekitar kita untuk tidak menghakimi mereka di dalam setiap kekurangan mereka. Semoga penjelasan di atas bisa membantu kita untuk bisa menerima orang-orang di sekitar kita seperti Yesus menerima kita apa adanya.
Terakhir, semoga kita bisa mempraktekkannya sehingga anak-anak yang dititipkan Tuhan kepada kita, bisa menemukan tujuan hidupnya di dunia ini.

Saturday, 23 May 2015

Bangga menjadi orang Indonesia

Akhir-akhir ini aku sering sekali memperhatikan betapa masyarakat di sekitarku sangat mengangung-agungkan warga negara asing (WNA), khususnya mereka yang masuk kategori bule (biasanya mereka yang berasal dari Eropa, Amerika, dan Australia. Harga diri serasa naik berkali-kali lipat apabila bisa berfoto bersama, berbicara atau bahkan memiliki kenalan warga negara asing. Secara pribadi, aku tidak bermasalah ketika seseorang memiliki banyak kenalan warga negara asing. Akan tetapi jikalau harus sampai mengagung-agungkan mereka, aku sungguh tidak setuju.

Aku akui, warga negara asing yang pernah aku ajak berbicara memiliki karakter yang tidak kutemukan di kalangan masyarakat kita. Akan tetapi hal ini bukan menjadi alasan bahwa mereka harus mendapatkan perlakuan yang istimewa dariku. Bagaimana aku memperlakukan warga negara Indonesia demikian halnya aku memperlakukan mereka. Tidak ada alasan buatku untuk menganggap mereka mendapatkan perlakuan khusus dariku. Dan ketika aku melihat masyarakat di sekitarku memperlakukan mereka dengan begitu sangat spesial, hal ini membuatku sangat prihatin kepada masyarakatku. Mengapa masyarakatku bersedia mengambil posisi yang lebih rendah dari warga negara asing di negeri sendiri?

Indonesia adalah masyarakat yang ramah? Ramah kepada warga negara asing, sementara kepada sesama warga negara Indonesia saling menghujat? Kalau memang masyarakat Indonesia ramah, seharusnya ramahlah kepada semua makhluk, bukan hanya kepada warga negara asing saja. Kondisi seperti ini membuatku semakin merasa miris, segitu ceteknyakah pemikiran kita sehingga kita harus menilai masyarakat Indonesia menjadi warga kelas kesekian di negara kita sendiri?

Sekali lagi, aku tidak keberatan jikalau seseorang memiliki banyak kenalan warga negara asing. Akan tetapi jangan pernah sekali-sekali merendahkan msyarakat Indonesia hanya karena memiliki banyak kenalan warga negara asing. Jikalau memang kita memiliki banyak kenalan warga negara asing, kita seharusnya semakin bangga dengan kewarganegaraan kita bukan malah menjadi penjilat bagi mereka dan mengkhianati bangsa sendiri.

Aku pribadi sangat bangga menjadi orang Indonesia. Aku tahu secara kasat mata masyarakat kita sangat jauh tertinggal dengan pola pikir masyarakat warga negara asing. Mungkin satu-satunya kelebihan kita yang dijadikan alat untuk "merendahkan" masyarakat kita adalah keramahan kita yang menurutku ramah pamrih. Aku bangga menjadi orang Indonesia, karena di dalam keterbatasan sarana dan prasarana yang kumiliki aku tahu tahu siapa aku. Aku memiliki identitas dan berusaha untuk tidak menjadi beban bagi siapapun. Itulah karakter orang Indonesia sesungguhnya, Tidak mau bergantung kepada siapapun. Jikalaupun sekarang kenyataannya bangsa Indonesia sangat bergantung kepada banyak negara di Eropa, Amerika, Australia dan negara lain, itu karena selama bertahun-tahun kita minder dengan identitas kita sebagai orang Indonesia.

Jikalau kita memang memiliki keahlihan, pengetahuan, dan identitas, mengapa harus merendahkan diri di hadapan warga negara asing? Mengapa harus bersikap ramah dengan tidak pada tempatnya? Mereka harus mengagung-agungkan warga negara asing di atas warga negara Indonesia?

Tidak ada seorang pun yang akan berani menganggap kita rendah jikalau kita memiliki keahlihan, pengetahuan, dan identitas. Dan untuk mendapatkan ketiga hal ini, mulailah untuk berdiri di atas kaki sendiri dan berkaryalah walau tidak harus cetar membahana. Karya-karya kecil jauh lebih berarti dibandingkan hanya menghabiskan waktu untuk mencemoh orang lain, pamer kekayaan orang tua, dan menjadi provokator di media sosial.

Thursday, 21 May 2015

ANAK ≠ INVESTASI

Menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dijalani oleh generasi muda di Indonesia saat ini. Tuntutan orang tua dan kontrol sosial adalah variabel yang menjadi hambatan utamanya. Ironisnya dengan alasan demi kebaikan, orang tua maupun lingkungan sosial membuat standar yang terlalu ideal dimana apabila ditanyakan secara jujur, standar itu tidak akan mungkin mampu untuk dicapai, bahkan oleh orang tua maupun masyarakat. Untuk menutupi kekurangan tersebut, orang tua dan masyarakat pun membela diri dengan pernyataan, “Setiap standar ataupun tuntutan yang diberlakukan oleh orang tua dan lingkungan sosial, semuanya itu untuk kebaikan dan karena  para orang tua gagal melakukannya maka dengan memberikan tuntutan kepada generasi selanjutnya menjadi solusi yang tepat, dengan harapan hal yang sama tidak terulang.” Hal lain yang dilakukan oleh orang tua di dalam menutupi kekurangannya adalah dengan memuji betapa luar biasanya mereka menjalani kehidupan mereka dulu dibandingkan dengan kehidupan anak-anak mereka sekarang (baca generasi muda). Apa yang dialami oleh generasi sekarang belum seberapa bila dibandingkan dengan apa yang telah mereka lalui, menurut mereka.
Sesuatu yang cukup membingungkan memang, dimana pada satu sisi, para generasi muda diminta untuk menjadi diri sendiri sementara di sisi yang lain, orang tua dan lingkungan sosial berusaha untuk membentuk pribadi setiap generasi muda tepat seperti yang mereka inginkan. Dimana  apa yang menjadi tuntutan dari orang tua tidak berbanding lurus dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial. Akhirnya terjadi kebingungan pada generasi muda. Terlalu banyak pihak yang harus disenangkan oleh generasi muda. Kondisi seperti inilah yang menjadikan banyak gerenasi muda di Indonesia berada pada kondisi kehilangan identitas. Dan tersesat di tengah-tengah perkembangan teknologi.
Keadaan semakin memburuk, ketika orang tua dan lingkungan sosial bukannya berusaha untuk memperbaiki kekurangan mereka sebagai suluh, melainkan menyalahkan dan merendahkan generasi muda. Tidak ada pengayoman apalagi keinginan untuk melakukan coaching kepada para generasi muda.

Sampai kapan kita para orang tua melulu menyalahkan dan merendahkan para generasi muda? Sampai kapan kita menutup mata, bahwa setiap perilaku dari generasi muda yang tidak berkenan di hadapan para generasi tua adalah karena kekurangan para orang tua, di dalam mencukupi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Apabila kita memang peduli dengan kondisi bangsa ini, mari selamatkan bangsa ini dengan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan menjadi anak-anak yang ada untuk memenuhi tuntutan orang tua dan juga lingkungan sosial.