Monday, 13 October 2014

Lampu-lampu Malam Jakarta

   
  
        Lahir dan besar di salah satu desa di Sumatera Utara (desa Sangkar Nihuta, kurang lebih delapan jam dari Medan) membuat saya memiliki impian untuk merantau ke Jakarta. Banyak alasan mengapa saya ingin sekali meninggalkan kampung halaman. Salah satu faktor penarik saya untuk merantau ke Jakarta adalah bahwa di Jakarta terdapat banyak bangunan-bangunan tinggi, dimana apabila malam tiba lampu-lampu akan dinyalakan dan itu adalah pemandangan yang sangat indah bagi saya. Pemandangan ini sangat sering saya saksikan melalui TV ketika masih di kampung. Dulu, ketika saya menikmati pemandangan ini melalui layar kaca, saya berjanji dalam hati bahwa suatu hari nanti saya akan ke Jakarta dan menyaksikan pemadangan itu secara langsung. Mungkin ini adalah impian sederhana bagi banyak orang, akan tetapi bagi orang yang lahir dan dibesarkan di desa dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan seperti saya, merantau ke Jakarta dan meninggalkan kampung halaman bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan perjuangan yang ekstra agar bisa mewujudkannya karena berhubungan dengan uang dimana uang tidak turun dari langit, bukan?
        Sekarang, sudah hampir delapan tahun saya menjadi perantau di Jakarta. Setelah menyelesaikan study saya di tingkat SMA di kampung halaman, saya pun merantau dan melanjutkan pendidikan saya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama saya kuliah, impian saya untuk menikmati lampu-lampu Jakarta tidak langsung terwujud karena tempat saya kuliah ada di Depok, sementara untuk  menikmati lampu-lampu Jakarta membutuhkan dana yang tidak sedikit bagi mahasiswa rantau yang kere seperti saya. Walaupun demikian, impian saya untuk melihat lampu-lampu Jakarta belum pudar. Saya masih tetap berharap, bahwa suatu hari nanti saya akan menyaksikan pemandangan itu. Akhirnya hari itu pun datang. Pertama sekali saya menikmati lampu-lampu malam Jakarta adalah ketika saya berada di dalam sebuah bangunan perkantoran, yaitu tempat saya bekerja. Saya menangis saat itu. Impian saya sejak kecil akhirnya terkabul juga walaupun saat itu saya menikmatinya ketika saya sedang overtime di kantor. Hari-hari selanjutnya ketika atasan saya meminta saya untuk overtime di kantor, pemandangan Jakarta dengan lampu-lampu malamnya menjadi penghibur hati.
Di dalam kesendirian saya ketika menikmati lampu-lampu malam Jakarta, kadang kala saya merasakan ketidakadilan. Saya kecewa kepada Pemerintah yang selalu menganakemaskan Jakarta melalui pembangunan-pembangunan, salah satunya adalah dengan keberadaan lampu-lampu malam ini. Bagi saya dan mungkin anak-anak kampung lainnya yang memiliki kesenangan yang sama dengan saya, menikmati lampu-lampu malam, membutuhkan usaha ekstra untuk bisa menikmatinya. Menurut saya, perlakuan yang diberikan oleh Pemerintah kepada Jakarta sepertinya terlalu berlebihan. Memang benar Jakarta adalah ibukota Negara Indonesia, akan tetapi itu bukanlah menjadi alasan untuk meniadakan daerah-daerah lain di Indonesia. Setiap saat, Jakarta selalu mengalami pembangunan, ada banyak bangunan tinggi dan tentunya bangunan tinggi ini membutuhkan pasokan listrik yang tidak sedikit, misalnya pasokan listrik untuk mall-mall mewah. Tidak heran, Jakarta selalu menjadi tujuan utama orang-orang dari seluruh pelosok Indonesia, termasuk saya. Saya adalah orang yang paling tidak setuju dengan banyaknya mall-mall mewah di Jakarta. Di Jakarta ini, sepertinya keberadaan listrik tidak dipakai dengan efektif sementara di daerah di luar Jakarta, seperti di kampung halaman saya, keberadaan listrik dibatasi. Keberadaan listrik melalui lampu-lampu di jalanan dan pada bangunan-bangunan tinggi di Jakarta kebanyakan hanya untuk faktor estetika saja, dan terkesan pemborosan menurut saya.
        Terkait dengan lampu-lampu malam Jakarta, di satu sisi mungkin ini bukan hanya untuk estetika saja, melainkan juga untuk faktor keamanan, mengingat tindakan kriminal banyak dilakukan di tempat-tempat yang minim penerangan. Mengapa banyak terjadi tindakan kriminal, salah satu alasannya karena Jakarta sudah terlalu banyak manusia sementara sumber daya yang ada di Jakarta terbatas, akibatnya terjadi persaingan ketat untuk terhadap sumber daya yang terbatas itu. Kembali ke lampu-lampu malam Jakarta, satu hal yang saya tidak setuju dengan kebijkan PLN, sebagai pemasok listrik di Indonesia adalah ketika terjadinya pemadaman listrik di Jakarta. Saya memang tidak tahu-menahu secara mendetail mengenai sistem pemadaman listrik yang terjadi di Jakarta dan di kota-kota lainnya. Saya hanya tahu bahwa alasan Pemerintah dalam hal ini PLN melakukan pemadaman listrik adalah dikarenakan keterbatasan sumber daya listrik itu sendiri. Sejauh ini, saya menyadari PLN memang sudah sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan penghematan. Di samping itu, beberapa tahun terakhir ini, PLN juga sudah melakukan sistem prabayar dengan harapan masyarakat semakin berhemat dalam mempergunakan listrik. Hal ini merupakan kebijkan yang sangat saya apresiasi. 
        Sejalan dengan penghematan listrik, melalui tulisan saya ini, saya juga  ingin memberikan beberapa ide kepada kita semua untuk penghematan energi listrik. Untuk ide yang akan saya berikan saya akan fokus untuk di daerah Jakarta dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan selama ini menurut saya pemborosan listrik lebih banyak terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk menerapkan ide saya ini untuk seluruh wilayah Indonesia.
1.    Sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan di Psikologi, saya sangat peduli dengan keberlangsungan karakter masyarakat kita, khususnya kita yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Bukan hal yang baru lagi bahwa mayoritas dari kita yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya adalah pekerja. Kita banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan berbagai alasan, mulai dari alasan pekerjaan kantor sampai dengan demi keberlangsungsan hubungan silahturahmi dengan mereka yang kita kenal. Hal ini membuat rumah yang kita miliki hanya sebagai tempat penginapan saja, kita pulang ke rumah apabila kita sudah benar-benar letih dan ingin tidur. Ketika pemadaman listrik terjadi, apa yang kita lakukan? Saya yakin bagi kita yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, baik yang sudah berkeluarga maupun tidak, tempat-tempat hiburan (misalnya : mall, cafe, hotel, karaokean, salon, dsb) mungkin akan menjadi pilihan utama kita. Mengapa kita kesana? Karena tempat-tempat itulah yang memungkinkan masih menyediakan penerangan. Kita enggan pulang ke rumah karena di rumah juga kita akan mati kutu tanpa adanya listrik. Sangat sedikit di antara kita yang tetap bersedia tinggal di rumah, menikmati kebersamaan dengan keluarga dengan kondisi pemadaman listrik.
Menurut saya, disinilah peran pemerintah dalam hal ini PLN dibutuhkan untuk mengkondisikan kembali masyarakat kita menjadi masyarakat yang cinta akan keluarga. Melalui apa? Apabila pemadaman listrik harus dilakukan di Jakarta dan sekitarnya, saya memiliki ide bagaimana apabila pemadaman listrik hanya dilakukan di seluruh bangunan-bangunan komersil saja, misalnya di mall, cafe, dan tempat-tempat hiburan lainnya. Sementara untuk bangunan yang terdaftar sebagai rumah, pemadaman listrik tidak terjadi. Dengan demikian, diharapkan mereka yang sedang berada di tempat-tempat komersil, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Dan mereka yang berada di rumah juga akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam rumah dibandingkan harus ke luar rumah karena di luar rumah pemadaman listrik sedang terjadi.
2.       Hari raya nyepi yang diadakan di Bali sepertinya juga sangat baik untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di Jakarta. Hanya saja penerapannya hanya dengan yang berhubungan dengan listrik. Setiap wilayah di Jakarta ditetapkan hari “nyepi”, hari tanpa listrik satu hari tiap tahun dengan jadwal yang berbeda-beda untuk setiap daerah di Jakarta. Masyarakat dan perkantoran (industri) di Jakarta sebaiknya sudah diberitahukan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga mereka mampu melakukan persiapan. Misal, pemadaman listrik dilakukan setiap tanggal 4 September untuk daerah Jakarta Barat, 18 September untuk daerah Jakarta Utara, dan demikian seterusnya.
3.   Selama ini di Indonesia selalu diadakan lomba kebersihan dan cinta lingkungan per kabupaten, untuk ke depannya Pemerintah dalam hal ini PLN akan lebih baik untuk menerapkan kabupaten/kotamadya yang paling efisien dan efektif di dalam menggunakan listrik.
             
        Saya menyadari ketiga ide yang saya paparkan di BLOG ini, bukanlah ide yang mudah untuk dilakukan, mengingat masyarakat Indonesia sudah berada di zona nyaman selama ini dan sudah sangat dimanjakan, khususnya masyarakat Jakarta dimana segala sesuatunya tersedia dalam jumlah yang besar sepanjang kami memiliki uang. Bagi kami, selama kami mampu membayar beban listrik yang ditagihkan kepada kami, siapapun tidak bisa melarang bagaimana kami menghabiskan energi listrik tersebut. Kesadaran kami akan sumber daya yang ada di sekitar belumlah sampai ke level mencintai. Karena memang demikianlah kami didik, orang tua kami, orang-orang di sekitar kami juga melakukan hal yang sama. Kami hanya sibuk memikirkan apa yang bersinggungan dengan kami secara langsung dan mencari uang sebanyak mungkin karena hanya dengan memiliki uang yang banyaklah kehidupan yang nyaman bisa diperoleh di Jakarta ini. Demikianlah pernyataan dari mayoritas masyarakat Jakarta saat ini. Pengadaan energi listrik adalah tugas Pemerintah, kami rakyat hanya tinggal membayar tagihan. Pola pikir seperti inilah yang harus kita rombak kembali. Memang benar, Pemerintah memberikan tagihan untuk setiap energi listrik yang telah atau yang akan kita pergunakan. Akan tetapi hal ini tidak menjadi hak mutlak kita untuk memakai energi listrik secara berlebihan. Orang yang tidak memiliki sejumlah uang yang sama dengan kita juga memiliki hak yang sama untuk menikmati energi listrik. Saya berharap, melalui ketiga ide yang saya paparkan di atas mampu mengubah pola pikir masyarakat untuk lebih menggunakan energi listrik dengan efisien dan efektif. Demikian halnya dengan Pemerintah dalam hal ini PLN agar lebih bekerja keras lagi di dalam melayani kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat tidak merasa apatis lagi terhadap kinerja PLN.

                

No comments: