Translate

Sunday, 26 April 2015

Harta yang paling berharga adalah HASIANhu

Hari-hari ini adalah hari yang sulit untukku. Setiap hari, aku terus berjuang untuk selalu bersyukur dan memikirkan sisi positif dari setiap yang kualami. Selain itu, aku belajar untuk tidak cemburu dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Sangat sulit. Dan sampai sekarang aku masih sangat berjuang untuk itu. Meyakinkan diri sendiri bahwa aku juga manusia yang penuh dengan berkat. Mungkin, aku belum diberkati untuk memiliki anak di tahun pertama pernikahanku. Tapi aku tahu, aku diberkati di sisi kehidupanku yang lain. Tidak mau berfokus dengan apa yang tidak kumiliki, melainkan bersyukur untuk setiap hal yang kumiliki.

Salah satu cara yang kulakukan untuk bisa melanjutkan hidupku adalah dengan mengurangi diri untuk tidak aktif di dunia media sosial. Aku semakin terpuruk setiap kali membuka media sosial. Tidak ada sukacita yang kudapatkan di sana. Tergoda juga untuk menghapus account media sosialku akhir-akhir ini, akan tetapi aku tidak mau lari dari kenyataan. Karna aku tahu masalah utamanya bukan media sosial, melainkan bagaimana aku bisa meresponinya.

Aku juga mengurangi diri untuk bergaul dengan mereka yang memberikan dampak negatif kepadaku. Apa yang kualami memberiku satu kesadaran bahwa selama ini  duniaku terlalu dipenuhi dengan auara negatif. Terlalu banyak aura negatif yang menyelimuti perjalananku yang membuatku semakin tertekan di dalam melanjutkan kehidupanku. Menyadari hal itu, adalah berkat tersendiri yang kuperoleh  di tengah-tengah krisis kehidupanku saat ini.

Pilihan hidup yang kujalani untuk memberiku kekuatan melanjutkan hidupku adalah dengan tidak hidup seperti tuntutan orang-orang untukku. Aku belajar untuk memiliki kehidupanku sendiri dan membuang setiap pihak yang ingin mnegintervensinya. Aku mau hidup seperti mana aku mau. Cukup sudah untuk hidup seperti keinginan orang lain. Ini adalah hidupku, aku ingin menjalaninya dengan caraku sendiri. Perlahan tapi pasti aku mulai menarik diri dari berbagai sistem dan kebiasan dimana aku dibesarkan. Aku tidak mau menjadi budak dari sistem dan kebiasaan itu. Aku semakin mempertegas karakterku dengan menjadi diriku sendiri.

Setiap hari aku menghitung berkat yang Tuhan berikan padaku. Aku memiliki suami yang begitu mencintaiku, yang memperhatikanku sangat mendetail. Yang karena kasihnya kepadaku, dia akan selalu menungguiku sampai aku tertidur, menggunting semua kuku-kukuku jika sudah waktunya dipotong, mempersiapkan sarapan dan makan siangku sebelum aku bangun dari tidur, mencucikan pakaianku, mencium dan memelukku setiap waktu sambil mengatakan betapa dia sangat mencintaiku. Untuk setiap cinta dan perhatian yang dia berikan padaku, membuatku semakin kuat untuk melanjutkan kehidupanku ini. Mungkin, kami tidak memiliki mobil, kami tidak memiliki penghasilan yang luar biasa banyaknya, kami belum dipercayakan untuk memiliki anak. Aku menilai diriku menjadi orang yang paling terbekati karena aku memiliki suami yang begitu mencintaiku dan memperhatikanku sangat mendetail. Belum pernah ada orang di dunia ini yang melakukan hal itu padaku. Dialah yang pertama dan terakhir, dan aku sangat tergantung kepadanya.

Tidak bisa kubayangkan bagaimana kehidupanku jikalau dia tidak ada. Bisa kupastikan betapa sangat menderitanya aku, jikalau Tuhan tidak mengirimkannya kepadaku. Terima kasih Tuhan untuk kehadiranMu melalui suamiku. Suamiku telah menjadi orang tua, sahabat, teman berdebat dan bertengkar, menjadi partner, dan menjadi hartaku yang paling tidak ingin aku kehilangan. Dialah satu-satunya menjadi alasanku untuk bisa melanjutkan hidup yang telah Tuhan berikan kepadaku. Terima kasih, kunaikkan syukurku kepadaMu Tuhan untuk kehadiran Josua, hasianku di dalam kehidupanku.


Wednesday, 15 April 2015

EXODUS

Beberapa hari yang lalu suami, adik ipar, dan aku menonton film yang berjudul Exodus. Seperti judulnya, film ini menceritakan tentang perjalanan orang Israel yang dituntun oleh Tuhan melalui Musa untuk ke luar dari tanah Mesir dimana mereka menjadi budak. Secara umum, aku tidak setuju dengan bagaimana film itu dituangkan. Ada beberapa adegan yang menurutku tidak seperti yang ada di dalam Alkitab. Aku tidak tahu apa yang menjadi latar belakang dari sutradara film tersebut yang memodifikasi beberapa adegan di film itu dari teks aslinya (baca. Alkitab). Jujur, apabila aku memiliki anak kelak aku tidak akan mengizinkan mereka untuk menontonnya. Bukan karena film ini ajaran sesat atau sejenisnya, melainkan hanya karena  akan semakin sulit bagiku untuk menjelaskan kepada anak-anakku yang kemungkinan besar akan menanyakan mengapa adegan yang ada di dalam film itu tidak sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam Alkitab.

Aku tidak akan membahas mengenai ketidaksejahteraan yang kualami ketika menonton film itu terkait dengan adegan yang telah dimofikasi dari Alkitab. Satu hal yang aku pelajari dari film itu adalah karakter-karakter yang dutunjukkan oleh setiap tokoh di dalam film itu dimana di dalam Alkitab hal itu tidak terpaparkan secara tertulis. Walau dalam hal pemeranan tokoh, menurutku para pemain belum bisa menjiwai perannya dengan maksimal. Mungkin efek membaca, dimana aku telah lebih dahulu mengenal para tokoh Alkitab itu jauh sebelum film ini ada sehingga aku berharap banyak dan merasa kecewa ketika apa yang telah terukir di otakku tidak sesuai dengan adegan di film ini.

Pembelajaran yang aku peroleh dari film ini adalah bahwa aku semakin memahami karakter Musa yang terlihat semakin nyata bagiku. Mungkin karena satu tahun terakhir ini aku berada dalam kondisi tertekan, jadi aku bisa merasakan apa yang terjadi pada Musa. Plus, aku yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi membuatku semakin dibukakan dengan karakter dari Musa. Aku bisa memahami bagaimana depresinya Musa ketika mengetahui bahwa dia adalah keturunan budak (Israel), betapa kacaunya dan betapa terguncangnya dia ketika dia harus berdiri menentang Raja Firaun yang telah mengasihi dia selama 42 tahun hidupnya.
Aku membayangkan diriku di posisi Musa, bagaimana apabila aku di posisi itu? Aku dibesarkan penuh cinta oleh mereka yang adalah "lawan" dari kaumku? Dan demi darah yang mengalir di dalam tubuhku, aku harus menentang mereka yang telah mengasihiku selama 42 tahun hidupku.

Ini adalah perjalanan hidup yang tidak mudah menurutku. Karena adalah hal yang mustahil untuk membenci mereka yang telah memberikan limpahan kasih sayang selama 42 tahun! Berkaca dari perjalanan Musa, aku mendapatkan diriku bahwa hidup bersama Tuhan bukan hanya untuk mendapatkan hal-hal yang baik saja.
Selama 42 tahun, Musa diizinkan Tuhan untuk mendapatkan kasih sayang dan kelimpahan materi dari orang Mesir. Setelah itu, hidupnya diubahkan 180 derajat. Dimana Musa menjadi seorang buronan, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan primer, tinggal sendirian di perbukitan sebelum akhirnya Tuhan menampakkan diri dan menyatakan maksudNya kepada Musa.

Seandainya Musa tidak menjadi buronan, seandaianya Musa  memilih untuk bunuh diri setelah dia membunuh prajurit Musa,mungkin nama Musa tidak akan masuk ke dalam Alkitab. Akan tetapi, yang terjadi adalah Musa bersedia taat dan diproses oleh Tuhan, di tengah-tengah rasa depresinya. Dan saat ini, itulah yang sedang kulakukan. Sama seperti Musa yang tidak mengerti maksud Tuhan, hanya percaya saja, seperti itulah aku saat ini. Di tengah-tengah depresi yang kualami, aku mau belajar taat dan fokus kepada Tuhan. aku memutuskan untuk tetap percaya kepadaNya. Aku semakin dikuatkan bahwa aku tidak sendirian, bahwa aku bukan manusia pertama yang mengalami depresi dengan rencana kehidupan yang Tuhan telah tuliskan.
Aku bukan hendak menyamakan posisiku dengan Musa, karena aku sungguh belum layak untuk sampai di posisi itu. Aku hanya mendapatkan pemahaman baru bahwa ketika kita memilih untuk bersedia diproses oleh Tuhan, maka percaya saja.

Tuesday, 14 April 2015

Recruiter : Panggilan Hidup



Beberapa tahun lalu, ketika aku masih SMA aku memiliki impian untuk menjadi seorang pekerja sosial. Membantu mereka yang berada di posisi kurang beruntung, baik secara materi maupun mereka yang tidak memiliki akses untuk merasakan fasilitas kehidupan yang manusiawi. Hal ini tidak langsung terjadi, aku membutuhkan empat tahun untuk berkelana dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Dalam empat tahun aku bekerja di tiga perusahaan, bukan karena aku tidak setia dan komit dengan perusahaan - perusahaan tersebut. Akan tetapi lebih dikarenakan aku tidak mampu menghidupi visi dan misi dari ketiga perusahaan dimana aku pernah bekerja.
Saat ini, di tahun kelimaku meninggalkan jaket kuning, akhirnya Tuhan mengizinkanku untuk menjadi pekerja sosial. Aku diberi kesempatan untuk mengambil bagian di organisasi kemanusiaan yang lebih dikenal dengan NGO. Sebuah hadiah yang kudapatkan setelah perjalanan karirku yang mengecewakanku. Sebuah hadiah yang luar biasa indahnya dimana aku bisa bekerja di organisasi , dimana visi dan misinya sesuai dengan nilai-nilai yang kuimani selama ini.

Tidak ada yang kebetulan, bagiku Dia telah merangkainya menjadi sangat indah bagiku. Mendapatkan pekerjaan ini memberiku kekuatan untuk bangkit kembali dari keterpurukanku setelah Tuhan mengambil kembali anak kami. Seandainya, Tuhan tidak mengambil anak kami, kemungkinan besar sampai sekarang aku tidak akan pernah bekerja di organisasi yang sesuai dengan nilai-nilai yang kuimani ini. Mungkin selamanya aku akan menjadi orang yang bekerja hanya untuk memperkaya satu individu saja. Dan impianku untuk menjadi pekerja sosial hanyalah tinggal impian.
Moment dimana aku mendapatkan pekerjaan ini, membuatku semakin merasakan arahan Tuhan di dalam kehidupanku. Setiap duka yang kujalani, Tuhan menghadiahiku sebuah berkat yang menurutku sangat luar biasa sekali. 

Tidak semua orang di dunia ini yang bisa mendapatkan impiannya dan hidup di dalam impian itu. Dan aku adalah si manusia beruntung itu. Aku menjadi manusia yang terberkati. Satu-persatu dari apa yang telah kuimpikan ketika aku kecil dan remaja, semuanya diberikan oleh Tuhan. Dan, semuanya itu diberikannya sesuai dengan waktunya.
Aku tahu, Tuhan tidak memberikannya dengan seketika. Dia mengizinkanku untuk mengikuti prosesnya. Setiap hari Dia membentukku menjadi bejanaNya yang layak untuk mempermuliakan namaNya.

Satu hal yang paling kunikmati menjadi seorang HR (pekerjaanku yang sekarang) lebih tepatnya sebagai seorang recruiter di organisasi sekarang ini adalah aku  melakukan interview yang tujuannya bukan  untuk mengklasifikan orang-orang sesuai dengan kompetensinya, seperti yang dilakukan HR pada umumnya, melainkan aku membantu orang-orang untuk menemukan panggilan hidupnya di dunia ini. Setelah tiba  di posisi ini, saat ini,  memberikan pemahaman baru bagiku, dimana akhirnya aku bisa mengangkat rasa bersyukurku untuk setiap masa-masa sulit yang kujalani di dalam kehidupanku. Berada di posisi ini, akhirnya semakin membuatku mengerti mengapa Tuhan mengizinkan banyak duka terjadi di dalam kehidupanku. Aku semakin memahami alur kehidupan yang telah Tuhan tuliskan untuk kuperankan di dunia ini. 

Satu hal yang kuyakini adalah bahwa setiap kita memiliki panggilan. Dan tugasku sebagai seorang recuiter adalah membantu setiap orang yang Tuhan kirimkan untuk bertemu denganku mendengar apa yang menjadi panggilan hidup mereka. Itulah yang kulakukan di organisasi yang sekarang. Setiap hari aku melakukan interview dengan tujuan agar mereka yang Tuhan izinkan untuk bertemu denganku mampu mendengar dengan mengimani apa yang menjadi panggilannya. Dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena secara manusiawi terkadang aku masih dibutakan oleh rasa kasihan dan perasaan bersalah kepada mereka yang aku interview. 

Ketika hal ini terjadi, saat itulah aku tahu bahwa aku masih tetap membutuhkan arahan Tuhan. Apa yang telah kualami selama ini, masih belum cukup untuk menjadi bekalku dalam membantu sesamaku untuk menemukan panggilan hidupnya. Dan untuk itu aku bersyukur karena selamanya aku akan tetap bergantung kepada Tuhan. Aku bersyukur Dia tidak langsung memberikan seluruh pengetahuan dan kepakaan itu secara menyeluruh kepadaku. Melainkan Dia memberikanNya tepat sesuai dengan kapasitasku dan sampai sekarang aku tetap belajar untuk taat, belajar untuk tetap bergantung kepadaNya.

Friday, 3 April 2015

tiga bulan pertama di 2015

Aku bersyukur memiliki pekerjaan yang sekarang. Aku menjadi sangat sibuk sehingga aku tidak melulu lagi kepikiran mengenai anak kami yang telah dipanggil Tuhan.  Menangis, iya aku masih sering menangis. Akan tetapi aku menangis bukan karena kepergian anak kami melainkan lebih dikarenakan aku yang terlalu mengasihani diri sendiri. Jujur, apabila pekerjaan ini tidak ada aku akan sangat kesepian. Walau sekarang aku juga masih tetap merasa kesepian. Akan tetapi setidaknya aku memiliki tanggung jawab di pekerjaan yang harus aku selesaikan.
Aku tidak memiliki siapapun untuk berbagi. Semenjak aku menikah, satu-satunya tempatku yang nyaman untuk berbagi adalah suamiku. Akan tetapi saat ini dia sedang kuliah di Bandung dan dia sepertinya sangat ingin memberikan yang terbaik untuk kuliahnya ini. Hal ini menyebabkan aku sering sekali merasa “ditinggalkan”. Sebenarnya aku ingin protes kepadanya, apalagi kalau mendengar ceritanya bahwa dia sering sekali mengerjakan tugas kelompok mereka sendirian. Sementara teman-temannya yang lain sibuk dengan hal lain. Aku ingin protes mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Tidak memberikan perhatian yang terlalu banyak kepada tugas kelompok dengan demikian dia akan memiliki waktu yang lebih banyak kepadaku. Di samping itu, berkaca dari pengalaman beberapa kenalanku yang mendapatkan beasiswa dari kantor untuk S2, menjalani perkuliahan itu hanyalah formalitas saja, yang paling penting hanya mendapatkan gelarnya saja. Akan tetapi aku tidak boleh egois, aku menghargai keputusannya. Dan tentu saja mendukungnya, walau aku yang akan terkena dampaknya. Sesungguhnya aku memiliki banyak teman dan sahabat, tapi entah mengapa aku tidak memiliki ketertarikan lagi untuk berbagi dengan mereka. Apalagi dengan keluargaku, aku lebih baik memilih mati daripada aku harus berbagi dengan mereka.
Kesehariannku selama tiga bulan ini murni hanya kantor dan rumah. Di kantor aku sangat sibuk di depan laptop, sesekali memang aku berdialog dengan teman-teman kantor akan tetapi itu kebanyakan membicarakan mengenai pekerjaan. Sesampai di rumah, aku sudah sangat lelah sekali baik secara fisik maupun pikiran, jadi terkadang aku memiih untuk tidur. Sampai saat ini aku belum bersedia untuk membuka diriku dengan para tetangga di sekitar rumah. That’s why, aku merasa sendirian. Sunyi sepi di dalam rumah. Tapi aku berusaha tegar dan tidak memperlihatkannya di depan suamiku. Karena aku tidak mau membebaninya dengan kondisiku. Walau dalam beberapa kali kesempatan aku juga sering mengkomunikasikannya kepadanya. Aku tahu saat ini dia juga pasti dalam kondisi yang kurang lebih sama denganku. Di satu sisi, dia sangat menikmati perkuliahannya, dia ingin memberikan yang terbaik di perkuliahannya dan dengan demikian dia harus bayar harga untuk tidak selalu ada untukku, mendesakku untuk mampu menyelesaikannya sendirian. Dan memang harus seperti itulah, aku tidak boleh terlalu bergantung kepadanya.
Ketika akhir minggu tiba, sesungguhnya aku sangat senang karena ada suami dan adik-adik iparku. Tapi terkadang aku juga malas bila akhir minggu tiba karena suamiku akan cenderung memarahiku. Dia marah karena aku yang tidak terlalu mempedulikan kebersihan rumah kami. Dia selalu memarahiku melihat keadaan rumah yang berantakan dan tidak bersih. Aku sudah mencoba mengkomunikasikan kepadanya bahwa aku tidak suka bersih-bersih. Di samping itu, setiap hari setelah pulang kantor dengan pekerjaan yang begitu banyak dimana hampir setiap malam aku juga masih harus mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk membersihkan rumah. Jangankan untuk membersihkan rumah, bahkan untuk membersihkan diriku sendiri aku juga terkadang sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
Aku berharap akhir minggu itu akan aku lewati dengan tidur, menghabiskan waktu bersama-sama dengan dia, dan memperhatikan diri sendiri. Akan tetapi hal itu tidak bisa terjadi karena aku masih harus mengerjakan pekerjaan kantor, mencuci pakaian, dan menggosok yang adalah pekerjaan yang tidak kusukai. Akhir-akhir ini aku merindukan waktu untuk diriku sendiri. Terkadang aku merasa, aku memang belum siap menjadi seorang istri. Aku tidak bisa untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Terlalu banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan baik di rumah dan di kantor. Dan itu membuatku semakin frustasi. Sesungguhnya aku juga tidak nyaman dengan kondisi rumah kami yang berantakan dan tidak bersih. Akan tetapi aku sudah kehabisan tenaga untuk membuatnya bersih dan rapi.
Aku tahu, suamiku benar. Seharusnya dengan jam kantorku yang saat ini dimana aku telah tiba di rumah jam lima sore seharusnya aku bisa bersih-bersih rumah. Akan tetapi yang ada adalah otakku panas, fisikku lelah, aku kehabisan tenaga. Selama tiga bulan ini, aku menghabiskan waktuku dengan bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore nonstop, konsentrasi penuh. Bahkan untuk minum pun aku tidak memiliki waktu karena pekerjaan terlalu banyak sekali. Kalau di kantor-kantor sebelumnya, dalam jam-jam kerja aku masih bisa rileks, otakku tidak bekerja dengan konsentrasi penuh untuk setiap detiknya. Aku masih memiliki waktu yang cukup untuk ke toilet, membuka jejaring sosialku, bercengkrama dengan teman-teman kantor, dan sebagainya. Kalau disini, hal itu tidak bisa aku lakukan.

Aku semakin down karena tiap bulan saldo di rekeningku selalu habis. Aku sama sekali tidak bisa menabung. Padahal aku sama sekali tidak menyisakannya untuk diriku sendiri, misalnya membeli bajuku, sepatuku,dsb. Tapi, uang itu habis begitu saja. Lagi-lagi aku gagal dalam mengelola keuangan kami. Di satu sisi memang harus akui kalau saat ini memang pengeluaran kami begitu sangat banyak, untuk cicilan rumah, asuransi, tranportasi suamiku setiap minggu Sawangan – Bandung, biaya transportasiku ke kantor, dan tentu saja untuk biaya makan sehari-hari. Mengenai keuangan kami ini, walau gajiku sepertinya hanya numpang lewat saja di rekeningku, aku selalu berusaha untuk bersyukur, setidaknya aku masih memiliki uang untuk membayar setiap tagihan.