Translate

Rabu, 11 Juni 2014

perjalanan anakku (2)

Sekarang usia kandunganku 15 minggu. Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik. Mengenai jenis kelamin, mungkin akan kami ketahui di jadwal konsultasi berikutnya yaitu di akhir bulan Juni 2014. Terakhir kami konsultasi di tanggal 23 Mei 2014. Kami masih tetap mempercayakan konsultasi kami ke rumah  sakit Hermina. Kali ini kami berharap bahwa dokter yang akan kami kunjungi adalah dokter yang akan menjadi tempat konsul kami sampai proses melahirkan tiba.  Ini akan menjadi dokter kelima yang akan kami kunjungi di rumah sakit yang sama.

Setelah 'berwisata' dokter, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk setia menggunakan jasa dr. Riyana yang praktek di rumah sakit Hermina Ciputat. Ketika kami konsultasi dengan beliau, beliau sangat komunikatif dan memaparkan banyak hal bahkan tanpa kami ajukan pertanyaan. Penampilannya yang sangat sederhana membuatku merasa bahwa kami memiliki aliran yang sama dan hal lain yang membuatku langsung klik karena dia juga suka yoga. Selain itu, dr. Riyana ini juga mampu memacu semangatku untuk menjadi ibu hamil yang tidak manja, melainkan harus bergerak aktif. Aku suka itu!

Selama 15 minggu masa kehamilanku, aku sangat menikmati setiap perubahan yang terjadi dalam tubuhku. Sungguh sangat menyenangkan rasanya setiap kali aku memandang kaca dan melihat betapa berubahnya aku sekarang. Satu masa telah terlewati! Aku bersyukur, aku bukan tipe orang yang mendewakan tubuhku sehingga aku tidak merasakan kehilangan bentuk tubuhku yang langsing. Aku sudah cukup puas dengan masa kegadisanku dengan bentuk tubuh yang menurutku masih bisa dipajang di account facebook-ku. Bagian-bagian tubuhku yang mengalami perubahan adalah :

  1. Rambut. Beberapa tahun sebelum aku hamil, aku sudah terbiasa dengan rambut rontokku. Tapi karena aku memiliki rambut yang tebal dan lebat, jadi kerontokan rambut yang kualami tidak terlalu signifikan untuk menjadikanku botak. Nah, setelah aku hamil, rambut rontokku berkurang. Memang masih ada beberapa rambut yang rontok, akan tetapi tidak sebanyak ketika aku belum hamil. Selain itu, biasanya aku selalu mencuci rambutku tiap hari, kalau tidak maka rambutku akan terlihat kusam. Setelah aku hamil karena keterbatasan waktu, aku mencucinya sekali dua hari, bahkan beberapa kali aku mencucinya satu kali dalam tiga hari, ajaibnya rambutku tidak terlihat kusam sama sekali. Aku saja yang tidak nyaman kalau lama-lama tidak mencuci rambut.
  2. Sejak aku tidak "kedatangan tamu" dan dokter memvonisku hamil, wajahku sudah dipenuhi dengan jerawat. Wajahku lebih tampak berminyak, padahal sebenarnya kulit wajahku bertipe kering. Sampai sekarang, aku masih menikmati tumbuhnya jerawat di sekitar alis,tulang pipiku, dan punggungku. Aku jadi teringat dengan masa remajaku, dimana aku diejek oleh teman-temanku yang mengatakan bahwa aku belum mengalami pubertas, karena di antara mereka hanya aku yang tidak memiliki jerawat. Aku sampai berdoa kepada Tuhan, nyaris sampai menangis untuk diberikan jerawat. Dan sekarang Tuhan menjawab doaku! Aku tidak melakukan apapun dengan jerawat-jerawat itu, aku menyambut mereka dengan sukacita.
  3. Menurut teman-teman kantor, hidungku makin membesaaaarrr :)
  4. Bila sikat gigi, aku masih sering mengalami gusi berdarah 
  5. Bulu mataku semakin lentik walaupun aku tidak memakai pelentik bulu mata.
  6. Ketiakku makin item 
  7. Pastinya payudaraku semakin besar dan area puting semakin gelap. Kalau sebelum menikah nomor braku adalah 32, sekarang 36.
  8. Ajaibnya, kulitku tidak kering padahal aku sering di AC dan aku sangat jarang memakai lotion. Mungkin karena aku banyak minum juga. Hampir setiap malam, dua-tiga kali aku harus terbangun ke mau pipis. Hasilnya, kulitku bersinar dengan indahnya.
  9. Perutku juga sudah semakin membuncit, demikian halnya dengan suamiku. Kami berpacu dalam kebuncitan.
  10. Kedua telapak atas kakiku terkadang bengkak, hanya kalau aku naik motor (dibonceng). Tapi setelah aku naikkan kakiku ke dinding di rumah selama 10 menit, kakiku kembali ke bentuk semula.
  11. Dan yang pasti, sekarang berat badanku 56 kg. Naik 10 kg dari sebelum aku hamil. Aku memulai kehamilanku dengan berat badan di 46 kg. Puji Tuhan!
Aku sangat menikmati kehamilanku. Walau terkadang aku sangat kesulitan dalam mengontrol emosiku. Aku sangat gampang membenci orang-orang yang menurut persepsiku tidak berperilaku seharusnya. Tekanan pekerjaan dan kemacetan di jalan membuatku tidak bisa menahan air mataku. Aku pernah menangis sepanjang perjalanan pulang kantor diboncengan suamiku karena kekacauan sistem kehidupan yang ada di Indonesia ini, khususnya di Jakarta. Aku merasa berdosa kepada Tuhan karena aku tidak bisa melakukan apapun dengan kekacauan ini. Aku bahkan tidak tahu hendak melakukan apa? Aku menangisi diriku, dunia seperti inikah yang akan kuperkenalkan kepada anakku kelak?

Secara umum, aku tidak mengalami gangguan dalam kehamilanku. Aku sangat bersyukur, aku tidak mengalami mual parah. Aku masih bisa mengontrol setiap kali mual itu akan tiba, yaitu dengan cara mengalihkan pikiranku dengan hal lain. Sejauh ini, aku baru dua kali mengalami yang namanya muntah, dan menurutku itu lebih dikarenakan aku mengalami masuk angin. Dua hal yang membuatku mual adalah apabila aku kelaparan dan merasa ngantuk. Memang di awal-awal kehamilanku aku tidak suka mencium aroma bumbu mentah. Memasuki bulan keempat aku tidak suka dengan makanan yang dijual di pinggir jalan. Itu membuatku ingin muntah. Aku lebih suka masakan rumah. Perlahan, aku juga sudah menyukai sayur. Di minggu ke 10 - 13 kehamilanku, aku sama sekali tidak bisa memakan sayur, karena memicu indra pengecap pahit di lidahku menjadi sangat aktif. Hall positifnya adalah buah masih tetap menjadi makanan favoritku. Tiada hari tanpa buah bagiku.

Kehamilan adalah masa-masa penuh berkat buatku. Aku bersyukur Tuhan sangat memuluskanku di hari-hari kehamilanku ini. Tapi, bukan hidup namanya kalau semuanya berjalan mulus. Aku bersyukur untuk setiap peristiwa yang boleh Tuhan izinkan terjadi kepadaku dan suami di dalam kehidupan kami. Dari kesiapan hati kami, aku dan suamiku, aku secara pribadi harus mengakui bahwa berkat yang diberikan Tuhan ini membuat kami terkejut. Kami yang baru membina rumah tangga sejak 8 Februari 2014, dimana kami seharusnya masih harus fokus dengan masa adaptasi kami satu sama lain dan dengan lingkungan baru (kami baru membeli rumah di Sawangan), tiba-tiba Tuhan memberikan berkat dengan menanamkan benih calon manusia di dalam kandunganku.
Dalam banyak kesempatan, kami sering kebingungan untuk mengambil keputusan karena (mungkin) kami terlalu disibukkan dengan kewajiban kami sesuai dengan peran kami, baik sebagai istri maupun sebagai suami. Mungkin di satu sisi, adalah sesuatu yang positif, kami jauh dari keluarga, dari orang tua kami masing-masing, yang memaksa kami untuk mandiri, bersikap luwes, dan menunjukkan karakter kami satu sama lain.

Kami harus mandiri. Baik dari ketergantungan fisik maupun dari materi. Dari setiap proses yang telah kami lalui, aku terus belajar dan mendoktrin diriku bahwa kemapanan dalam materi bukan menjadi "golden ticket" untuk memasuki dunia pernikahan. Walaupun dalam kenyataannya, banyak ditemukan bahwa kehidupan rumah tangga akan jauh lebih TERLIHAT bahagia selama kemapanan materi masih terjamin. Ini tidak akan mudah, itu pasti. Tapi dengan begitu banyaknya berkat yang Tuhan berikan dalam hidupku, membuatku merasa malu untuk mengeluh. Aku mau fokus dengan berkat itu, karena aku percaya Tuhan akan selalu bersama kami. Dan dengan Dia ada bersama lagi, apakah yang aku takutkan?

Tumbuhlah dengan sehat anakku dan semoga Tuhan memberkatimu.



Rabu, 14 Mei 2014

dimana ada masalah, disitu aku dapat pembelajaran..

Sejak SMP, aku sangat aktif untuk mengadakan sebuah event yang lain daripada yang lain. Aku tidak suka sesuatu yang biasa, harus ada sesuatu yang beda tanpa menghilangkan esensi dari acara itu tentunya. Aku memiliki karakter yang paling anti ikut-ikutan dengan apa yang dikerjakan orang lain, kalaupun harus meniru, aku akan memodifikasinya. Jadi, bisa dibilang sebenarnya aku sangat berbakat menjadi event organizer. Aku memiliki banyak ide untuk mengkonsepkan berbagai acara dan aku suka melakukannya. Sayang sekali, tidak banyak orang di sekitarku yang bisa menerima bakatku ini ditambah dengan karakter Indonesiaku, sungkan - an dan minder, sehingga kalau bertemu dengan orang dominan maka aku akan tenggelam, tak mampu untuk berdebat dan mempertahankan ide awalku. Inilah salah satu kekuranganku, ketidakmampuanku dalam mempertahankan pendapat dimana aku akan sering memilih mengalah dan menghormati ide orang lain yang dalam banyak kejadian ternyata ideku jauh lebih baik. Sekali lagi, hal ini hanya terjadi jikalau aku bertemu  dengan orang berkarakter yang dominan, persuasif, dan di tengah-tengah keluargaku. (Entah mengapa, aku tidak pernah bisa mengepresikan diriku sendiri jika berhadapan dengan keluargaku). Di luar hal ini, aku bisa berkarya dan mewujudkan ide-ideku dengan maksimal.

Pengalaman yang sudah berulang kali menjadi event organaizer dalam berbagai jenis acara, mulai dari acara sekolah, gereja, perkumpulan, kampus, dan kantor membuatku tidak mau tinggal diam untuk mengkonsepkan acara pernikahanku. Waja dung kalau aku sangat ingin acara pernikahanku tidak seperti acara pernikahan seperti mana  biasanya, yang sudah terjadi sebelumnya. Apalagi, dalam budaya dimana aku dibesarkan, acara pernikahan adalah melulu soal adat dimana nyaris tak memilik arti yang bermakna bagi pengantin. Pengantin bak boneka yang dipajang dan dipertontonkan. Aku bukannya anti adat, aku sangat mengapresiasi adat Batak Toba, akan tetapi aku tidak mau hari dimana aku mengikat janji dengan pasanganku untuk selalu bersama-sama sampai maut memisahkan hanya sebatas formalitas adat saja. Aku ingin menjadikannya bermakna dan layak untuk kukenang.

Mengkonsepkan acara pernikahan dimana budaya Batak masih sangat kental di masyarakatku, bukanlah pekerjaan yanng sangat mudah. Dan ini menjadi tantangan tersendiri untukku dan untuk pasanganku. Apalagi kalau semuanya dikerjakan sendirian (maksudnya aku dan pasanganku). Pasanganku memiliki karakter yang tidak terlalu menyukai sesuatu yang baru, tapi di lain sisi, dia paling tidak bisa  melihatku kecewa. Baginya, biarlah semuanya berjalan seperti mana biasanya. Jadi,, bisa dibayangkan sebanyak apapun ide yang sudah aku konsepkan maka sebanyak itulah kegagalan dari konsep itu untuk dijalankan. Akan tetapi, karena keinginan pasanganku untuk membahagiakanku lebih besar daripada kepribadiannya yang tidak terlalu suka hal yang baru,  untuk beberapa konsep khususnya untuk konsep di pemberkatan, pasanganku akhirnya mendukungku tentu saja setelah melalui proses perdebatan dan dengan syarat bahwa aku tidak bisa kecewa apabila hasilnya tidak seperti yang kuharapkan.

Sejujurnya, aku sangat bahagia sekali mempersiapkan pernikahanku. Walaupun banyak tekanan yang kuhadapi di kala itu. Di saat yang bersamaan aku juga sedang disibukkan dengan acara reuni sekolahku, dimana aku menjadi ketuanya. Acara reuni ini tentu saja tidak berjalan dengan mulus, dan aku sudah memprediksinya sejak awal. Banyak masalah yang terjadi, yang membuatku bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan untuk mengasah kepribadianku. Aku sangat menikmatinya, karena pada dasarnya aku sangat suka menjadi sibuk. Bahkan pasanganku menyimpulkan bahwa aku adalah "magnet masalah". Maksudnya, masalah-masalah sepertinya sangat gemar menyapaku, dan tentunya aku sangat welcome dengan masalah itu.  Karena kupercaya, ada Tuhan besertaku. Dan jangan pernah mengeluh, syukuri saja untuk segala yang terjadi. Satu-satunya tekanan yang paling berat kuhadapi di perjalananku dalam mempersiapkan pernikahanku adalah  ketidakharmonisanku dengan keluarga intiku. Dan mungkin ini adalah duri dalam dagingku, karena kalau aku memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarga intiku, maka sempurnalah hidupku. Dan itu akan menambah daftar orang-orang yang sirik denganku untuk setiap berkat yang kudapatkan dari Tuhan.

Ketika aku menulis ini, aku tidak pernah menyangka betapa dasyatnya kekuatan yang telah Tuhan berikan padaku sehingga aku bisa melalui itu semua. Dari beberapa pengalaman teman-teman sebayaku, hanya karena dibentak sedikit oleh orang tuanya saja, mereka sudah uring-uringan dan tidak semangat dalam menjalani hari-hari mereka. Sementara aku, lebih dari bentakan sudah kuterima dari keluarga intiku, dan puji Tuhan aku masih bisa berdiri tegak sampai saat ini. Apalagi tekanan itu tidak hanya datang dari keluarga intiku, tapi juga di pekerjaan, acara reuni dimana aku menjadi ketuanya, semuanya menyerangku dengan bertubi-tubi. Untuk itu, aku menari-nari mengucap syukur untuk setiap kekuatan baru yang Tuhan berikan bagiku. Aku juga sangat berterima kasih untuk kehadiran pasanganku yang selama proses persiapan pernikahan kami berlangsung, dimana begitu banyakny tekanan datang kepadaku, Tuhan mengirimkan dia untuk menjadi sandaranku. Aku merasakan Tuhan melalui dia di dalam masa-masa sulit yang kuhadapi.

Kembali ke acara pernikahanku, secara konsep dan alur pernikahan, acara pernikahanku berjalan dengan lancar, dan tidak melenceng jauh dari yang kuharapkan. Walau tidak persis seperti yang kuinginkan, tapi aku tetap bersyukur semuanya berjalan dengan baik. Secara khusus, aku berterima kasih kepada orang-orang yang telah berdoa syafaat untuk kelancaran acara pernikahan kami. Aku juga berterima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia memberikan waktunya untuk tempatku membagikan rasa kebahagiaanku. Hal yang paling mengecewakanku dalam pernikahanku adalah jujur aku sangat kecewa dengan perilaku keluarga intiku yang membuatku semakin sulit untuk memaafkan mereka. Aku sangat kecewa dengan isi khotbah anak pertama orang tuaku yang sangat menghakimiku di hari bahagiaku dan pidato ayahku di acara adat pernikahanku. Pasanganku memegang kuat tanganku dan memberikanku kekuatan untuk tidak mengaminkan setiap perkataan itu. Akhirnya aku pun menyimpulkan, memang tidak ada cinta di antara kita, ini bukan gambaran keluarga yang ada di benakku. Dalam hati aku bersumpah saat itu, aku tidak akan melakukan hal ini kelak di kehidupan keluarga yang kubentuk. Mampukan aku Tuhan, cukup hanya aku saja yang merasakan sakit hati ini, jangan sampai terulang di dalam kehidupan keluarga baru yang akan kubentuk, dan bantu aku memaafkan mereka. Itulah yang selalu aku sebutkan selama acara pemberkatan dan adat pernikahanku berlangsung.

Hal positif yang kudapatkan adalah lagi-lagi aku berhasil menjadikan sebuah acara dengan baik. Acara pernikahanku berlangsung dengan lancar begitu juga dengan acara reuni. Aku berhasil memimpin diriku sendiri untuk menghasilkan karya. Aku bersyukur kepada Tuhan yang selalu nyata dalam kehidupanku. Jikalau tiada Tuhan di sampingku, aku tak akan pernah mampu melalui ini semua. Beginilah perjalananku dengan Tuhan, akan selalu ada masalah agar aku selalu bergantung kepada Dia. Dan semakin hari aku semakin belajar untuk tidak pernah berharap kepada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Tempat curhat yang paling memuaskan hanya kepada Tuhan, selamanya Dialah segalanya bagiku. Apapun bisa kuhadapi, karena ada Tuhan bersamaku.

Aku tahu, aku bukan orang yang suci. Aku bukan orang yang taat melakukan ritual agama, tapi aku akan selalu mengasah otakku untuk menghasilkan karya dimana Tuhanlah yang akan menjadikannya sempurna untuk kunikmati.

Senin, 05 Mei 2014

perjalanan anakku (1)

Di awal bulan maret 2014, teman-teman kantorku sudah heboh menanyakan tentang aku sudah haid atau belum. Maklum pengantin baru, dan bulan Maret adalah bulan pertama setelah aku menikah. Dan ketika aku menjawab belum juga haid, mereka langsung menyarankanku menggunakan testpack (test kehamilan). Aku yang masih ingin menunda untuk melakukan testpack karena keterlambatan kedatangan haidku menurutku adalah dikarenakan faktor kelelahan dimana  setiap minggu sejak aku menikah selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan. Diawali dengan tanggal 30 Januari, kami martumpol (setara dengan tunangan, acara pra nikah menurut tradisi Batak Toba dan jemaat gereja HKBP), minggu berikutnya tanggal 8 Februari, tanggal pernikahan kami. Tanggal 10 Februari kembali ke Jakarta, besoknya langsung masuk kantor, dimana dari rumah ke kantor kami tempuh dengan naik motor selama dua jam pulang pergi. Tanggal 15 Februari acara reuni alumni SMA N2 Balige, dimana aku menjadi ketuanya. Di week end selanjutnya, kami menerima undangan dari adik mertuaku untuk berkunjung ke rumah mereka di Bandung. Minggu berikutnya (28 Februari - 2 Maret), perjalanan kantor ke Yogyakarta dan Solo, dimana aku menjadi salah satu panitia dari perjalanan ini. Di samping week end yang selalu tidak pernah di rumah, di hari-hari biasa aku dan suami masih sibuk dengan pindahan kami dari kostan masing-masing ke rumah baru kami, dan tentunya pembenahan akan rumah baru kami dimana kami lakukan sambil ngantor juga. Itu adalah bulan yang penuh dengan kesibukan, jadi keterlambatan haidku tidak langsung kuresponi sebagai pertanda kehamilanku.

Di tanggal 12 Maret, aku tak kunjung kedatangan "tamu". Teman-teman kantor sudah mulai heboh bahkan beberapa sudah mendeklarasikan bahwa aku telah hamil. Ya begitulah kalau teman satu kantor adalah ibu-ibu yang sudah berpengalaman dalam melahirkan. Mereka memaksaku untuk melakukan testpack, bahkan sampai ada yang menawarkan untuk membelikkannya kepadaku. Akhirnya, aku pun luluh, aku meminta suamiku untuk membelikan testpack. Testpack pertama aku lakukan di tanggal 15 Maret 2014, dan hasilnya adalah negatif. Entah mengapa, awalnya aku tidak terlalu berharap untuk tidak segera hamil, akan tetapi mengetahui hasil tespack negatif menyisakan kekecewaan di hatiku. Ternyata alam bawah sadarku sesungguhnya menginginkanku hamil. Aku dan suami pun menghibur diri sendiri dengan mengatakan, belum waktunya.

Hasil tespack inipun aku beritahukan kepada teman-teman di kantor. Akan tetapi beberapa dari mereka menganjurkan agar aku melakukan test lagi seminggu kemudian kalau ternyata belum haid juga. Satu orang teman kantor sangat percaya kalau aku sudah hamil. Beberapa dari mereka menyarankanku untuk membeli alat testpack dengan merk yang lain. Keyakinan dari teman-teman kantorku sepertinya membawa dampak juga ke dalam diriku, aku pun mulai memiliki firasat kalau aku hamil. Aku merasakan ada yang berubah dengan tubuhku. Dan tentu saja karena haid yang tak kunjung datang.

Tanggal 22 Maret adalah hari ulang tahunku, aku pun berencana untuk melakukan testpack lagi di tanggal itu. Berharap itu akan menjadi hadiah ulang tahun dari Tuhan untukku. Di tanggal 20 Maret, aku harus merelakan karna aku akhirnya haid. Kecewa, iya. Tapi, aku berusaha untuk bersyukur, belum waktunya. Aku pun sudah mengikhlaskannya. Tapi mengapa firasatku yang mengatakan bahwa aku hamil semakin kuat ya? Dan aku pun semakin bingung karena haidku tidak datang seperti mana biasanya, alias hanya sedikit saja. Aku menunggu sampai tanggal 24 Maret, haidku masih hanya bercak saja. Aku pun memutuskan untuk melakukan tespack lagi. Dan di tanggal 24 Maret, hasilnya adalah positif. Pertama sekali melihat gambar itu aku nyaris tidak bisa memberikan respon apapun. Aku semakin bingung, apakah memang benar aku hamil atau tidak? Kalau memang hamil, mengapa masih ada darah yang ke luar dari vaginaku? Kalau tidak hamil, mengapa firasatku mengatakan aku hamil?
Suamiku pun kurang lebih memiliki respon yang hampir sama denganku, kebingungan. Mungkin karena masih trauma dengan hasil testpack yang pertama, suamiku tidak mau langsung percaya dengan hasil tespack  kedua yang menyatakan adanya dua garis merah. Keraguan suamiku juga dikarenakan salah satu garis merah itu tidak sama cerahnya dengan garis merah yang lain. Kami pun memutuskan untuk melakukan testpack beberapa hari kemudian.

29 Maret 2014, kami pun kembali melakukan tespack. Kali ini kedua garis merah sudah nyaris sama cerahnya. Kami pun semakin deg-degan bercampur senang dan kuatir karena aku masih tetap mengalami pendarahan ringan. Hari itu juga, kami memutuskan untuk pergi ke dokter. Kami pun pergi ke rumah sakit hermina depok, tentu saja seperti biasa setelah kami melalui perdebatan terlebih dahulu. Dan yang kami perdebatkan tentu saja adalah hal-hal kecil yang menurut suamiku,  sesuatu yang seharusnya tidak perlu aku pusingkan. Apakah itu? Ya, aku akui salah satu perbedaanku dengan suamiku adalah aku tidak terlalu memikirkan brand dari sesuatu hal. Aku cenderung mencari sesuatu yang harganya lebih murah, sementara suamiku menginginkan sesuatu yang berkualitas, tidak masalah dengan uang, yang penting yang terbaik dan dalam banyak hal harus yang memiliki brand.
Ketika hendak ke dokter kami pun masih berdebat karena aku memilih naik motor untuk ke rumah sakit karena lebih hemat dibandingkan dengan naik taksi. Namun, lagi-lagi suamiku tidak setuju, dia lebih memilih untuk naik taksi walaupun jarak dari rumah kami ke rumah sakit hermina depok cukup jauh apalagi karena macet. Dan, lagi-lagi aku harus mengalah.

Sesampai di rumah sakit, kami bertemu dengan Dr.Mutia. Dan ternyata benar, aku telah hamil 4 minggu. Masalah pendarahan yang kualami, diagnosa dokter karena ada polip di mulut rahimku yang mengaharuskan aku untuk bedrest selama seminggu. Dengan adanya polip di mulut rahimku, menurut dokter tersebut aku dipastikan  tidak akan bisa melahirkan secara normal. Aku dan suami langsung tidak merasa klik dengan dokter ini, apalagi dengan pelayanannya kepada kami yang kurang ramah dan terkesan tidak welcome dengan kami. Dia menyarankan kami untuk datang dua minggu lagi, tapi aku dan suamiku sudah sepakat untuk mencari dokter yang lain. Dia memberikanku obat penguat rahim (ustrogen) sebanyak 30 butir yang harus aku makan satu kali sehari dan asam folavit 500 mikrogram yang harus aku makan dua kali dalam sehari. Total dana yang kami keluarkan saat itu adalah Rp 700.000,00. Shock, begitu mahalnyakah hanya untuk chek up pertama di kehamilan? Rasa kuatir pun menyerangku, semoga Tuhan mencukupkan keuangan kami.

Seminggu setelah bedrest dan asam folavit sudah habis, akan tetapi pendarahan ringan masih tetap terjadi. Aku dan suami memutuskan untuk kembali periksa ke rumah sakit Hermina Ciputat (karena ternyata lebih dekat ke rumah kami), dengan dokter yang berbeda tentunya. Hasil analisa dokter kembali membingungkan kami, karena menurut beliau, tidak ada polip tapi infeksi di mulut rahimku. Dokter kembali memberikan asam folavit 400 mikrogram. Beliau juga menjadwalkan kami untuk melakukan tes laboratorium. Ketika kami ke bagian lab, ternyata hasil lab membutuhkan tiga hari proses mengeluarkan hasilnya dan mereka juga menyarankan agar kami melakukan tes lab satu-dua hari sebelum jadwal konsultasi dengan dokter kandungan selanjutnya. Kami pun pulang dan menunda untuk melakukan test lab.

Selama seminggu, ajaib saya tidak mengalami vlek lagi. Akan tetapi, tiba-tiba ketika pulang gereja, saya merasakan adanya vlek. Pulang dari gereja kami pun kembali ke rumah sakit Hermina Ciputat. Awalnya kami membuat janji dengan Dr.Diana Muria, akan tetapi hari itu beliau tidak melakukan praktek. Alhasil, kami ditangani oleh Dr Dessy Hasibuan.Hasil diagnosa Dr Dessy mengatakan bahwa saya tidak memiliki polip dan tidak ada infeksi, vlek berasal dari keputihan saya yang sangat luar biasa. Beliau tidak memberikan obat, hanya menyarankan agar saya rajin ke bidan di rumah sakit, untuk melakukan pembersihan vagina. Sebenarnya pembersihan vagina dapat dilakukan sendiri di rumah, yaitu dengan cara memasukkan jari tangan ke dalam vagina. Tapi kok saya merasa ngeri ya melakukannya.
Dari doker Dessy, dia juga menyarankan saya untuk melakukan tes lab sesegara mungkin. Dan meminta saya untuk memperbanyak mengkonsumsi asam folavit dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kecacatan pada bayi. Menurut beliau, kita tidak pernah tahu apakah leluhur kita menurunkan penyakit keturunan kepada kita. Kelebihan asam folavit tidak ada ruginya, walaupun sebenarnya asam folavit itu sudah banyak ditemukan dari makanan, tapi kalau sampai kekurangan, sangat fatal akibatnya.

Dua minggu setelah jadwal konsultasi kami dengan dokter Dessy, saya kembali dikejutkan dengan adanya vlek. Kali ini darah yang ke luar lebih segar. Saya langsung panik. Saat itu saya masih di kantor, kira-kira jam 4 sore. Saya langsung menghubungi suami saya, dan kami pun berencana ke rumah sakit Hermina Ciputat lagi.
Dokter yang menangani kami di sana, menurut suamiku sepertinya memiliki rasa curiga kepada kami, seolah-olah kami pernah menggugurkan kandungan. Menurut penjelasan beliau secara tersirat mengatakan bahwa vlek bisa terjadi karena adanya riwayat keguguran sebelumnya. Akan tetapi setelah dia memeriksa saya, dia akhirnya menyimpulkan kalau penyebab vlek tidak diketahui secara pasti. Vlek tidak berasal dari rahim, melainkan ada di mulut rahim. Dia juga mengatakan kalau itu bukan polip, bukan infeksi, dan bukan keputihan. Dia belum tahu itu apa, setelah proses melahirkan baru akan diobservasi kembali. Keadaan rahim kuat, air ketuban banyak, perkembangan janin normal. Dia pun memberikan saya obat yang harus dimasukkan ke dalam vagina untuk membantu pembekuan darah, sehingga vlek tidak terjadi lagi.

Sudah hampir dua minggu sejak kami konsultasi dengan dokter tersebut. Puji Tuhan, sampai sekarang vlek tidak ada lagi. Berat badanku sudah naik lima kilo, dari 46 kg menjadi 51 kg. Celana dan baju-bajuku sudah mulai sesak. Dan aku masih doyan makan, puji Tuhan juga sejauh ini saya tidak mengalami mual yang parah. Saya merasakan mual ketika saya sudah kelaparan dengan kata lain saya tidak bisa lapar dan ketika mencium aroma bumbu dapur mentah seperti jahe, bawang merah, bawang putih, dan kawan-kawannya. Akibatnya, kami  jarang masak lebih sering beli makan di luar. Musuh utamaku yang lain adalah mengantuk. Sungguh sangat berat sekali rasanya untuk mengangkat kepalaku dari kasur tiap paginya, dan dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore adalah perjuangan yang sangat berat untukku di kantor untuk selalu terjaga.

Sekarang usia kandunganku sudah memasuki mingu ke 11 menurut dokter, akan tetapi menurut infobunda.com, usia kandunganku sudah di minggu ke 13. Secara keseluruhan, aku dan suamiku sangat bahagia dengan masa kehamilan ini. Walau harus aku akui, aku dan suamiku terkejut dengan berkat ini. Tidak jarang, kami merasakan kelelahan yang luar biasa, dimana aku dan suamiku dituntut untuk berjuang lebih. Suamiku terpaksa mengambil alih semua tugas yang seharusnya aku lakukan, karena aku yang sangat gampang lelah, dan bawaannya selalu ingin tidur. Apalagi dari senin-jumat aku dan suamiku harus berangkat dari rumah ke kantor jam 6.15 pagi dan tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Kami berdua harus berjuang di jalan menghadapi kemecatan Jakarta. Sebenarnya kami bisa sampai di rumah lebih cepat, karena jam kantorku berakhir di jam 5 sore, akan tetapi suamiku yang sebagai PNS selalu lembur di kantor sampai jam 8 malam. Paling cepat jam 7 malam, itupun setelah aku memasang muka masam, baru pun dia mau beranjak pulang ke rumah. Tanggung jawab suamiku lebih berat karena dia harus semakin lebih hati-hati lagi di dalam membawa motor, memastikan bahwa perjalanan kami selamat.

Untuk keluarga kecil yang saat ini sedang kami bangun, aku sangat bahagia sekali. Aku sangat berterima kasih kepada mertuaku yang telah memberikan pola asuh yang sangat kubutuhkan yang menjadikan suamiku memiliki karakter yang kubutuhkan dalam masa-masa kehamilanku. Suamiku adalah laki-laki Batak langka yang bersedia turun ke dapur, membersihkan rumah, belanja, memanjakanku, dan paling tahu dengan segala sesuatu yang kubutuhkan melebihi diriku sendiri. Tidak banyak laki-laki Batak yang kutemukan seperti suamiku ini, bahkan dia adalah laki-laki Batak pertama yang mampu melakukan pekerjaan perempuan dengan sama baiknya yang pernah hadir dalam hidupku. Aku berdoa agar Tuhan memampukanku kelak untuk melahirkan laki-laki Batak yang juga mampu melakukan pekerjaan perempuan. Dan kalau dia perempuan, aku berharap dia bisa mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun kecuali kepada Tuhan.

Perjalanan kami masih panjang, tak ada orang tua di sekitar kami, kami belajar dari pengalaman, buku, dan internet. Terkadang kami kebingungan, tak tahu harus mengadu ke siapa dan tak tahu apakah kami sudah di jalan yang benar. Tapi kami tetap komit, apapun yang terjadi, kami tahu bahwa kami tak pernah sendiri. Ada Tuhan yang selalu akan memberikan segala yang kami butuhkan. Dan kami percaya, sepanjang kami seia sekata, sepanjang kami saling percaya, dan saling mencintai maka bersama Tuhan di antara kami, apapun kondisinya, kami pasti bisa melaluinya. Hal itu jugalah yang selalu aku katakan kepada calon anak kami, bahwa kami bisa melaluinya karna Tuhan ada di antara kami.

Teruslah tumbuh dan tumbuh anak kami, sampai tiba saatnya nanti kau bertemu langsung dengan kami orang tuamu, tapi bukan kehendak kami, kehendakMu jadilah Bapa.








Kamis, 20 Maret 2014

Josua, Hadiah terindah dari Tuhan Yesus

Sudah sebulan lebih berlalu, aku melepaskan masa lajangku. Sudah sebulan lebih, aku menjadi seorang istri sekaligus seorang menantu. Dalam banyak hal belum ada yang berubah secara signifikan. Semuanya masih terlihat normal dan semoga ke depannya juga akan demikian. Beberapa teman menanyakan keadaanku, setelah menjadi seorang istri bagaimana rasanya? Lebih bahagia pasti, itulah jawabanku. Karena aku telah menerima hadiah terindah dari Tuhan, yang merupakan  jawaban doaku selama ini. Walau agak berbeda dari yang kuharapkan, karena sesungguhnya aku tidak mau menikah dengan laki-laki Batak dengan alasan trauma dimana sepanjang jalan kehidupanku aku tidak mendapatkan figur laki-laki Batak yang bertanggung jawab terhadap keluarga.

Di luar perkiraanku, Tuhan memberikan Josua sebagai suamiku. Aku tidak bisa bilang bahwa Josua adalah laki-laki sempurna. Bukan, dia adalah laki-laki biasa yang memiliki kekurangan dan pastinya karena dia orang Batak dan dibesarkan di tanah Batak dengan budaya Batak, kebiasaan Batak pastinya terukir juga di dalam karakternya. Tapi satu hal yang membuatku akhirnya menerima dia adalah karena dia  satu-satunya manusia di dunia ini yang mengutamakan kebaikanku, kebahagiaanku, kebutuhanku di atas segalanya. Mungkin, lakilaki yang mencintaiku tidak hanya dia, akan tetapi manusia yang mau bersedia mengorbankan kepentingannya demi kepentinganku sepertinya hanya dia. Hal ini tidak pernah kudapatkan dari siapapun selama dua puluh enam tahun aku hidup, bahkan dari orang tuaku sekalipun. Selama ini, aku yang harus selalu belajar mengalah dan mengerti. Dengan Josua, aku mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Dia membuatku terlihat spesial dan sangat berharga. Aku menemukan self esteemku dari dia.

Saat ini, bagiku dia adalah segalanya, setelah Tuhan tentunya. Dia mendapatkan tempat yang terutama dan paling utama dalam kehidupanku dan dalam hatiku. Terkadang aku sering membalikkan kenyataan, bagaimana kalau seandainya Tuhan tidak memberikan Josua kepadaku? Apakah aku akan sekuat ini dalam menjalani setiap rencana yang Tuhan berikan dalam hidupku? Apakah aku masih bisa memiliki keseimbangan hidup? Josualah yang telah mengisi setiap lubang-lubang kosong yang ada di hatiku. Dia membuatku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus mengorbankan perasaanku seperti yang kulakukan kepada siapapun selama ini. Dia mengajariku tentang bagaimana rasanya dicintai, diperhatikan, dan diapresiasi. Dan itulah alasan terkuatku untu  mengakhiri masa lajangku dan menerima Josua dari Tuhan Yesus sebagai hadiah terindah yang penah kumiliki. Akhirnya aku menemukan sebuah sandaran, sebuah tempat dimana aku bisa pulang, aku tidak pernah merasakan kesendirian lagi dalam hidup ini. Semua beban hidupku terasa lebih ringan karena ada Josua bersamaku.

Menurut Josua, cintanya kepadaku jauh lebih besar dibandingkan cintaku kepadanya. Menurutku, cinta kami berdua sama besar. Hanya saja, kami menuangkannya dengan cara yang berbeda. Kalau Josua membanjiriku dengan begitu banyak perhatian, aku membanjiri Josua dengan doa. Setiap detik hidupku, aku menyebut namanya dalam doa-doaku. Ucapan syukur yang begitu luar biasa kepada Tuhan Yesus yang telah hadir melalui Josua.

Josua, sama sepertiku bukanlah manusia yang sempurna. Dalam ketidaksemprnaan inilah, kami belajar untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyatukan kami berdua, yang telah menanamkan panggilan menikah di hati kami. Baik Josua dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok hari dan akan  bagaimana kehidupan kami, yang pasti kami berdua sama-sama berkomitmen apapun yang akan terjadi kami ingin melaluinya bersama-sama. Kami berdua tahu bahwa pernikahan ini tidaklah mudah, pernikahan ini bukanlah melulu soal cinta. Tapi kami berdua tahu bahwa Tuhan Yesus akan selalu bersama dengan kami, karena baik aku maupun Josua, sama-sama menerima diri masing-masing dari Tuhan Yesus. Josua menerimaku dari Tuhan Yesus demikian halnya denganku, aku menerima Josua dari Tuhan Yesus.