Translate

Wednesday, 17 December 2014

Kue Natal Pertamaku, kue kastengel

Kue kastengel pertama kali  aku makan setelah merantau di Pulau Jawa ini. Awalnya aku tidak terlalu suka dengan kue kering ini. Mungkin karena lidahku belum terbiasa dengan keju, dimana kue ini mengandung banyak keju. Maklum saja aku dibesarkan dengan makanan yang mengandung babi dan berbumbu. Singkat cerita, setelah banyak bergaul dengan mereka yang beragama muslim, tak jarang aku disuguhkan dengan kue kastengel ini yaitu ketika hari raya mereka tiba. Lama-lama aku pun mulai menyukai kue ini dan penasaran untuk membuatnya. Akan tetapi, keinginan itu baru bisa terlaksana di bulan ini. Tentu saja setelah aku berburu oven dan mixer terlebih dahulu. Dengan semangat menyambut natal, aku pun berencana untuk membuat kue ini menjadi kue natal pertamaku.

Di kampung di mana aku dibesarkan, kue kastengel belumlah familiar untuk dijadikan kue natal. Seperti yang saya sebutkan di atas mungkin karena kue ini mengandung keju yang sangat banyak, sementara kami orang Batak yang tinggal di kampung masih belum familiar dengan rasa dari keju. Kue natal di kampung yang paling terkenal adalah kembang loyang, kacang tojen, dan sekarang lebih berkembang dengan adanya kue nastar, putri salju, dan lain sebagainya.

Sebelum membuat kue ini, aku terlebih dahulu melakukan research mengenai cara membuat kue ini. Ada begitu banyak resep kue kastengel yang aku temukan di internet dan hal itu membuatku semakin bingung untuk memutuskan resep mana yang akan aku pakai karena semua resep menjanjikan kue kastengel yang enak, renyah, dan gurih. Selain melakukan research, aku juga meminta resep kue kastengel dari mantan teman sekantor yang adalah ahli membuat kastengel. Dari awal aku sudah berencana untuk melakukan resep kue kastengel dari mantan teman sekantor, akan tetapi resep yang dia berikan adalah untuk 1 kg tepung terigu protein rendah. Aku merasa kasihan dengan suamiku yang akan dengan terpaksa memakan kue kastengelku kalau misalnya itu gagal. Sebenarnya aku adalah tipikal orang yang bersedia mengambil resiko. Dalam kasus ini karena melibatkan suamiku yang selalu  menjadi korban untuk setiap hasil masakanku, aku pun memutuskan untuk tidak memakai resep mantan teman sekantorku dengan sangat tepat.

Aku memutuskan untuk memodifikasi setiap resep yang aku baca termasuk dengan resep dari mantan teman kantorku. Dan inilah resep kue kastengelku :
Bahan :
  • 450 gram tepung terigu (aku memilih kunci biru premium khusus untuk kue kering, bogasari), diayak 
  • 50 gram tepung maizena, diayak 
  • 350 gram margarin (aku memakai margarin curah)
  • 100 gram butter (aku memakai mentega curah)
  • 6 kuning telur
  • 350 gram keju  edam (aku memakai cheesy rasa edam), diparut
  • 1 sdt baking powder
Untuk olesan :
  • 100 gram keju cheddar (aku memakai diamond), diparut
  • 3 kuning telur, kocok lepas
Cara membuat:
  • Kocok kuning telur dengan kecepatan maksimal mixer selama lima menit, kemudian masukkan margarin, dilanjutkan dengan butter. Lalu kocok sampai 2 menit dengan kecepatan mixer yang sama.
  • Kurangi setengah kecepatan mixer, masukkan keju parut, tepung terigu, tepung maizena, dan baking powder. Kocok selama 1 menit. Setelah itu aduk rata menggunakan spatula.
  • Pipihkan adonan dan cetak sesuai selera. Aku menggunakan cetakan kue kastangel dan cetakan kue lainnya.
  • Masukkan ke dalam piring oven yang telah diolesi margarin. 
  • Sebelum dimasukkan ke dalam oven, olesi permukaan adonan yang sudah dicetak dengan kuning telur dan taburkan keju parut.
  • Panggang adonan dengan oven bersuhu 160 derajat celcius selama 20 menit. (Aku memakai oven Hock no. 3)
  • Keluarkan dan dinginkan, sebelum disimpan ke stoples dicicipi dulu baru difoto dan upload ke media sosial. hehehe..
tadaaaaa...inilah kue kastangel buatanku dengan resep modifikasi dari yang aku sebutkan di atas.


Kue kastengel pertamaku sungguh sangat memuaskanku. Awalnya aku sudah kuatir kue ini akan gagal karena ini baru pertama kalinya aku membuatnya apalagi dengan memodifikasi berbagai resep yang kubaca dari internet dan resep dari mantan teman kantor. Melihat hasil dari resep racikanku, aku menjadi sangat bangga pada diriku sendiri dan akhirnya kuputuskan untuk menuliskannya sebelum aku lupa. Tidak sia-sia aku berdoa kepada Tuhan sepanjang membuat kue ini. Aku jadi lupa dengan rasa lelah ketika hunting oven dan dalam membuat kue ini. Menurutku rasanya renyah dan enak. Aku tidak sabar untuk memberikan kue ini dimakan oleh suamki. Untung saja rasa dan bentuknya oke karna kalau tidak, aku akan sangat kasihan melihat suamiku menghabiskannya seperti yang sudah-sudah, ketika masakanku gagal.

Dengan adanya mixer dan oven di rumahku sekarang, aku semakin bersemangat untuk mencoba berbagai jenis resep kue. Apalagi dengan kondisi dimana suamiku selalu bersedia menghabiskan setiap masakan yang kumasak walaupun rasanya tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Itulah salah sati keberuntunganku, mendapatkan suami yang tidak suka memilih-milih makanan. Walaupun demikian, aku selalu berusaha untuk menghasilkan masakan yang sesuai dengan lidahnya karena aku sangat mencintainya. Dan aku berharap, melalui masakanku dia bisa merasakan betapa aku mencintainya dan bersyukur memilikinya sebagai suamiku.

Untuk hari ini, aku berterima kasih kepadaMu, Tuhan.

Monday, 15 December 2014

Ikatan Alumni SMA N 2 Balige Se- Jabodetabek

Setelah menyelesaikan masa SMA di kampung, aku pun memutuskan untuk mewujudkan impianku merantau ke Pulau Jawa. Aku tahu bahwa ini akan menjadi perjalanan yang tidak mudah untukku karena aku tidak mendapatkan dukungan dari orang tuaku. Mereka lebih menginginkan agar aku tinggal dengan mereka untuk membantu mereka berdagang. Tapi, aku menentang mereka dan berusaha membuktikan kepada mereka bahwa hidupku akan jauh lebih baik apabila aku merantau dengan atau tanpa dukungan dari mereka. Aku pun membulatkan tekadku dan merantau ke Pulau Jawa.
Tepat seperti dugaanku, tahun-tahun pertamaku di Pulau Jawa adalah tahun-tahun tersulit di dalam hidupku. Akan tetapi itu tidak menyurutkan tekadku untuk membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku bisa hidup tanpa mereka. Aku mencari pekerjaan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Dan disinilah aku sekarang, hampir 9 tahun hidup dengan mandiri tanpa dukungan materi dari orang tuaku. Keputusanku untuk menentang orang tuaku, merantau ke Pulau Jawa ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kulakukan di dalam hidupku.

Di tahun-tahun pertama kehidupanku di tanah rantau ini, aku mengalami perjuangan yang sangat berat, tidak ada yang bisa menjadi sandaranku, dan sangat minimnya informasi yang kuperoleh. Akulah yang harus aktif untuk mencari segala sesuatu yang kubutuhkan, tidak ada yang memberikan petunjuk dan arahan. Dalam kesendirianku, aku akui aku mengalami kesepian dan air mata menjadi sahabat sejatiku. Walaupun demikian, menurutku kehidupanku di Pulau Jawa ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan kehidupanku ketika aku masih tinggal dengan orang tuaku. Oleh karena itu, aku tidak pernah mengalami homesick. Di bagian hatiku yang lain, aku merasakan sukacita yang sangat luar biasa karena jauh dari orang tuaku. Sesaat setelah aku meninggalkan rumah orang tuaku, aku menjadi satu-satunya pemegang kendali atas hidupku sendiri. Aku menutup pintu bagi orang tuaku untuk ikut campur dalam kehidupanku. Dan itu adalah suatu kebebasan yang aku bayar mahal dengan hidup tanpa dukungan materi dari mereka selama aku di perantauan ini. 

Kesendirianku di dalam menjalani masa-masa sulitku memberikanku banyak pelajaran untuk memaknai kehidupanku. Berbagai jenis suku bangsa dan karakteristik manusia yang kutemui di tempat perantauan ini memberikanku banyak wawasan untuk menikmati kehidupanku. Di samping itu, hubunganku yang tidak  harmonis dengan orang tua dan keluiarga, membuatku mencari keluarga baru yang memberikan sesutua yang tidak kudapatkan dari orang tua dan keluargaku, yaitu kebebasan untuk menjadi diriku sendiri. Dan aku pun menciptakan hubungan yang harmonis dengan mereka para alumni SMA N2 Balige. Yang pada akhirnya membawaku kepada sebuah tujuan, membantu mereka yang kurang lebih mengalami hal yang sama denganku, yaitu para perantau muda. Setiap tahun, dari sekolahku pasti akan selalu ada yang merantau ke Pulau Jawa ini. Di antara mereka yang merantau pasti akan selalu ada orang-orang sepertiku yang diberangkatkan dengan uang yang minim atau mungkin tanpa uang. Aku pun mulai berpikir untuk membentuk sebuah ikatan atau komunitas yang akan membantu para perantau muda di tanah rantau ini. Aku tidak ingin, kesulitan yang kualami di tahun-tahun pertama kehidupanku sebagai perantau di Pulau Jawa dialami oleh para juniorku. Aku ingin membagi informasi yang mungkin sangat berguna bagi mereka para pemula, khususnya bagi mahasiswa Universitas Indonesia dimana aku menjadi salah satu alumnusnya.

Tahun 2008, tahun keduaku sebagai mahasiswa, aku dan dibantu oleh para alumni SMA N 2 Balige yang juga mahasiswa Universitas Indonesia berkumpul untuk mendiskusikan pembentukan komunitas alumni sekolah kami. Sebelum pertemuan itu diadakan, kami mencoba untuk menghubungi para senior dan alumni SMA N 2 Balige yang bukan mahasiswa UI, khususnya mereka yang telah merantau ke Jabodetabek dan sekitarnya. Akan tetapi tidak ada yang bersedia untuk menghadiri pertemuan tersebut. Mayoritas alasan mereka adalah bahwa pembentukan komunitas alumni sekolah kami adalah kegiatan yang sia-sia karena alumni sekolah kami tidak akan pernah bersatu dengan adanya pembagian katergori di dalam sekolah kami, yaitu anak non asrama dan anak asrama (baca.http://raninainggolan.blogspot.com/2013/11/sma-n-2-soposurung-balige-to-be-number.html).
Saat itu, kami yang berkumpul di kantin asrama Universitas Indonesia yang terdiri dari empat angkatan, yaitu angkatan 2005, 2006, 2007, dan 2008. Secara aklamasi dalam pertemuan itu, Richard Sirait angkatan 2005 menjadi Ketua Komunitas sementara, aku sebagai sekretaris, Natalia Hutajulu angkatan 2006 sebagai bendahara dan berbagai pengurus lainnya (aku sudah lupa). Dimana tujuan jangka panjang kami adalah membentuk komunitas alumni yang sah. Strategi yang kami lakukan adalah menghimpun massa dengan mengadakan berbagai kegiatan rutin, seperti perayaan natal, penyambutan perantau baru, kunjungan ke tempat alumni yang berduka, dsb. 

Acara natal pertama alumni kami adakan di tahun 2008 di gereja HKBP Poltangan, Pasar Minggu. Diketuai oleh Ester Sibarani angkatan 2006, Hulman Sinaga angkatan 2006 sebagai ketua natal kedua yang diadakan di Gereja Kristen Jawa Pasar Minggu. Natal ketiga diadakan di Gereja HKBP Diaspora, Senen, dengan ketua Lona Sirait angkatan 2007, dan natal keempat diadakan di salah satu wisma milik alumnus Thomson Situmeang angkatan 1999 di Taman Mini Indonsia Indah dengan ketuanya Conny angkatan 2008. 

Selama empat kali mengadakan natal alumni, kami telah berhasil mensoundingkan pembentukan komunitas alumni yang sah. Kami berhasil menggerakkan para alumnus untuk menyadari betapa indahnya berkumpul bersama di dalam sebuah ikatan. Walau aku tak bisa menutupi kenyataan bahwa selama proses pelaksanaan keempat natal ini kami banyak mengalami sakit hati. Tangtangan terberat kami saat melakukan acara rutin ini adalah seniorotas yang sangat tinggi di kalangan para alumnus. Aku banyak menemukan para alumnus yang belum bisa move on dengan status mereka sebagai abang/kakak kelas. Atau mungkin, aku yang terlalu berpikir liberal bahwa senioritas itu sudah tidak berlaku lagi setelah kami meninggalkan SMA. Menurutku, senioritas hanya berlaku ketika di sekolah, sementara sekarang di dunia perantauan ini, menurutku kami memiliki tingkatan yang sama yaitu para alumni. Adalah pemikiran yang konvensional apabila alumni juga harus dibedakan, alumni senior dan alumni junior. Inilah yang menjadi selalu sorotan pahit bagi kami para panitia natal dan komunitas mula-mula, dimana mereka yang lebih dahulu meninggalkan sekolah menjadi orang yang banyak ngatur, banyak ngomong, dan no action.

Rasa sakit hati ini, membuatku memutuskan untuk melepaskan keterlibatanku di dalam kepanitiaan alumni. Apalagi, saat itu aku mendengar berita bahwa, ketua komunitas sementara Richard Sirait angkatan 2005 menghilang tanpa jejak. Sampai sekarang kami tidak tahu keberadaannya apakah dia masih hidup atau bukan? Dia sudah dinyatakan masuk ke dalam daftar orang hilang. Bendahara komunitas sementara juga sudah tidak terlihat lagi kontribusinya di kepanitaan, lalu mengapa aku harus tetap bertahan? Sepertinya keeksisanku di alumni SMAku sudah saatnya aku kurangi, berikan kesempatan kepada yang lain.

Singkat cerita, aku pun memutuskan untuk melempar kepanitiaan natal selanjutnya kepada alumni yang telah bekerja. Selama ini, kami para mahasiswa telah berkorban waktu, pikiran, tenaga, dan materi untuk acara rutin dimana yang kami dapatkan adalah cercaan, maka kami menantang mereka yang banyak ngomong, banyak mengatur untuk menjadi panitia natal selanjutnya. Akhirnya natal kelima, diketuai oleh Chandrayani Simanjorang angkatan 2004, dengan dibantu oleh angkatan 2005, 2006 dan 2007. Lagi-lagi aku tidak menyesali keputusanku ini. Dengan keputusanku untuk memberikan tantangan kepada alumni SMAku yang bukan mahasiswa atau alumni yang telah bekerja menjadi panitia, semakin membuka hati para alumni untuk terlibat di acara alumni ini. Dengan kata lain, aku semakin dekat dengan tujuan utamku di tahun 2008, yaitu membuat komunitas alumni yang sah. Aku sangat bahagia, melihat banyak wajah-wajah baru bermunculan di dalam kegiatan alumni ini. Walau aku tahu, mostly motivasi mereka untuk menampakkan diri adalah untuk show off. Aku tidak peduli, yang penting tujuan utamaku untuk alumni ini bisa terealisasi.

Mulai dari awal pengumpulan massa alumni SMA N2 Balige, aku selalu berada di balik layar. Aku terlibat di dalam kepanitiaan mostly sebagai seksi repot. Aku memberikan diriku dipimpin oleh mereka yang lebih muda dariku. Aku membuka hatiku untuk menjadi sama dengan mereka, membuang batas senioritas. Walaupun aku yang duluan ke luar dari SMA dari para panitia mula-mula, aku memposisikan diriku sejajar dengan mereka. Dengan demikian, aku dan mereka bisa mencapai tujuan kami bersama-sama, yaitu menghimpun orang sebanyak mungkin untuk menggerakkan mereka betapa indahnya ketika kita bersama-sama di dalam sebuah nama, yaitu alumni SMA N 2 Balige. Hingga di tahun 2014, aku memutuskan untuk tampil ke permukaan sebagai ketua di Bona Taon dan Reuni 2014 sekaligus sebagai perpisahanku di dalam keterlibatanku dengan kegiatan alumni SMAku. Aku memutuskan untuk ke luar karena masaku di kegiatan alumni sekolahku telah berakhir.

Untuk Richard Sirait, ketua komunitas SMA N2 Balige sementara, dimanapun kau berada sekarang, aku punya pesan untukmu. Tujuan utama kita telah berhasil. Tanggal 4 Oktober 2014 kemarin, Andhy Marpaung angkatang 2002 telah resmi menjadi Ketua Komunitas Alumni SMA N2 Balige se-Jabodetabek. Keluarlah dari persembunyianmu, jikalau kau masih di bumi ini. Mungkin alumni SMA N2 Balige tidak akan mengapresiasi apa yang telah kita mulai dulu, tapi satu hal yang harus kau tahu, aku sudah memaafkanmu. Aku memaafkanmu untuk semua tanggung jawab moral yang kau tinggalkan untukku disini. Memang bukan aku yang secara langsung menggolkan Andhy Marpaung menjadi ketua komunitas, akan tetapi kegigihanku untuk mempertahankan adanya acara alumni tiap tahun seperti program yang kita buat bersama dulu telah membawa kita kepada tujuan utama kita. Sayang sekali, kau tidak disini kawan, menyaksikan setiap proses ini. Dan seperti janjiku dulu kepadamu, aku akan ke luar dari kegiatan alumni ini setelah tujuan kita terlaksana, aku telah melakukannya.

Ikatan Alumni SMA N2 Balige, senang rasanya bisa menjadi bagian dari semua proses ini. Aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk terlibat dan mempeloporinya. Harapanku, semoga dengan adanya ikatan alumni ini, mereka yang tidak menemukan kehangatan hubungan di dalam keluarga, pasangan romantis, bisa menemukannya di dalam ikatan alumni ini. Masaku berkarya telah usai di ikatan ini, mohon maaf untuk setiap tutur kata yang tidak berkenan. TO BE NUMBER ONE, untuk setiap alumni SMA N2 Balige, dimanapun Tuhan tempatkan.




Tuesday, 9 December 2014

Natal Kampung

Bulan Desember adalah bulan yang selalu mengingatkanku akan masa kecilku. Tentu saja karena di bulan ini adalah hari perayaan lahirnya Tuhan yang aku percayai menjadi segalanya untukku. Lagu-lagu natal yang melegenda dari tahun ke tahun dan dekorasi natal (santa claus, pohon natal, lampu-lampu, dan sebagainya) memberikan ketenangan bagi jiwaku. Lahir dan dibesarkan di lingkungan mayoritas Batak Toba dan Kristen (baca HKBP), memberikan kesan natal yang kuat di dalam pikiran dan jiwaku. Yang paling berkesan yang tidak pernah aku temukan di tempat perantauan ini ketika masa kecilku di bulan Desember adalah natal kampung. Para pemuda-pemudi di tiap desa akan berkumpul untuk merencanakan acara natal kampung  dimana dana yang dibutuhkan untuk acara ini merupakan sumbangan dari semua orang yang ada di kampung atau lebih dikenal dengan taken list. Perencanaan dan persiapan natal kampung ini biasanya telah dimulai di bulan September tiap tahunnya. Acara natal kampung menjadi wahana bagi seluruh penduduk kampung untuk berpesta bersama-sama selama semalam suntuk. Iya, acara natal kampung ini dimulai pukul 19.00 WIB dengan pawai mengundang seluruh penduduk kota untuk datang ke kampung kami menyaksikan natal kampung kami dan berakhir sampai dini hari sekitar jam 03.00 WIB. Seperti namanya natal kampung, natal ini diadakan di kampung, di halaman terbuka sebuah kampung. Disana akan didirikan panggung, pemusik akan diundang, dan dekorasi natal yang indah sekali seperti pita-pita, pohon pinus untuk pohon natal, mare-mare (janur kuning), lampu-lampu dan hiasan natal lainnya. Dimana seluruh hiasan ini adalah hasil buatan tangan para pemuda-pemudi, kecuali pohon pinus dan lampu-lampu.

Adapun konsep acaranya dibagi ke dalam dua bagian besar, yang pertama acara ibadah dan yang kedua hiburan. Untuk acara ibadah, liturginya kurang lebih sama seperti yang dilakukan setiap hari Minggu di gereja. Dalam hal ini karena mayoritas orang Batak dimana aku dilahirkan dan dibesarkan adalah anggota gereja HKBP, maka pendeta dan sintua yang melayani adalah dari gereja HKBP dan liturginya juga menggunakan liturgi gereja HKBP. Bukan berarti di kampung dimana aku lahir dan dibesarkan tidak ada gereja lain, ya. Acara ibadah terdiri dari liturgi yang dimulai dari anak-anak sekolah minggu sampai kepada orang tua, vocal group, paduan suara sekolah minggu sampai paduan suara orang tua, bernyanyi dari buku ende (kidung pujian jemaat HKBP), puisi, dan khotbah. Mostly acara ibadah terdiri dari nyanyian dan musik, tentu saja karena orang Batak Kristen suka bernyanyi dan memuji Tuhan melalui pujian.

Di acara ibadah, biasanya yang paling ditunggu-tunggu adalah acara dimana anak-anak di bawah umur lima tahun menyuarakan liturgi mereka. (Semua liturgi diambil dari ayat Alkitab, dimana para anak sekolah minggu sampai pemuda dan pemudi harus menghafalkannya. Sementara para orang tua karena mereka sudah cukup tua untuk menghafal, mereka hanya membacakannya saja). Menjadi lucu karena anak-anak di bawah lima tahun akan melafalkan liturgi mereka dengan cara mereka masing-masing. Apalagi dengan cuaca yang dingin dan malam hari dimana anak-anak melawan ngantuk mereka dan sudah mulai rewel akan tetapi menjadi hiburan tersendiri bagi para manusia dewasa, khususnya para orang tua mereka. Menyaksikan anak-anak mereka di atas panggung dan menyurakan liturgi mereka. Liturgi mereka adalah :

  "dimuladimulana ditompa Debata ma, langit dohot tano on" (1Musa 1:1)

Ketika menyaksikan anak-anak di bawah umur lima tahun menyuarakan litugi ini dengan segala kelucuan mereka, aku selalu bertanya di dalam hatiku, apakah dulu aku juga selucu mereka? Apakah orang dewasa juga tertawa seperti halnya aku tertawa melihat mereka menyuarakan liturgi itu?
Biasanya tidak semua anak-anak umur lima tahun yang percaya diri untuk menyuarakan liturgi mereka di atas panggung. Tak banyak yang menangis dan berlari ke orang tua mereka. Menurutku, ber-liturgi ketika natal adalah salah satu cara untuk mengajari kami percaya diri di depan banyak orang.

Acara kedua setelah acara ibadah adalah acara hiburan. Di acara hiburan, anak-anak sekolah minggu akan menari. Tarian yang paling populer adalah tarian berpasang-pasangan dan adanya tongkat sebagai aksesoris kami dengan diiringi lagu natal "Mary's Boy Child". Sementara para pemuda-pemudi akan manortor secara berpasangan. Selain liturgi anak di bawah lima tahun, tarian anak-anak juga menjadi yang ditunggu-tunggu. Memang, dimanapun anak-anak, mereka akan selalu menjadi sorotan, bukan dengan tingkah mereka yang membuat kita selalu tertawa.
Setelah tarian anak-anak, acara hiburan lainnya yang terkadang menjadi tujuan utama diadakannya natal kampung adalah adanya acara lelang. Acara lelang ini adalah momen untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin yang akan digunakan untuk mendanai acara natal kampung tersebut. Acara lelang ini akan menjadi penentu apakah sebuah natal kampung dinyatakan gagal atau sukses, selain itu adalah suatu kebanggan bagi sebuah kampung apabila lelang di acara natal mereka laku dengan nilai rupiah yang banyak. Setelah natal kampung usai, yang menjadi sorotan utama bukanlah isi khotbah pendeta atau alur acara, melainkan banyaknya hasil lelang!

Ketika lelang berlangsung, hal ini menjadi momen yang tepat bagi para mereka yang ingin show off. Para perantau yang ingin dianggap sebagai perantau sukses biasanya akan tergoda untuk terlibat di acara lelang ini. Tak jarang, momen acara lelang ini juga dipergunakan untuk kampanye oleh mereka para politisi. Tapi ada juga yang menggunakan momen ini untuk mengapresiasi hula-hula mereka dengan memberikan hasil lelang mereka kepada hula-hula mereka. Intinya acara lelang ini bertujuan untuk menyumbang ke acara natal dengan cara show off. Over all hal itu menjadi hiburan tersendiri bagiku dan menurutku cukup menarik ditonton. Selama 18 tahun aku mengikuti natal kampung, aku dan keluargaku belum pernah terlibat di acara lelang. Bukan karena kami tidak mau show off, melainkan orang tuaku tidak cukup uang untuk ikut serta melelang. Orang tuaku biasanya hanya mampu menyumbangkan ayam kodok ke panitia natal untuk dilelangkan.

Natal kampung adalah salah satu event natal kampung yang paling kurindukan di bulan Desember. Setiap kali bulan Desember tiba, kenangan masa kecil di kampung halaman dengan berbagai macam persiapan natal kampung, melakukan dekorasi natal di rumah, membuat kue-kue natal, dan sepanjang mata melihat, sejauh telinga mendengar, all about christmas. Itulah moment yang paling kurindukan di tanah rantau ini. Di tanah rantau ini, aku nyaris tidak pernah merasakan natal. Aku tidak menyalahkan lingkunganku karena inilah konsekuensi yang harus aku hadapi ketika menjadi kaum minoritas. Mungkin apa yang kurasakan adalah sama dengan yang dirasakan orang-orang Jawa yang melewati bulan Ramadhan di desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Aku merindukan situasi dimana aku menjadi kaum mayoritas, mayoritas orang Batak Toba, mayoritas Kristen, dan mayoritas HKBP. Aku telah lahir dan dibesarkan menjadi kaum mayoritas, tapi sepertinya mulai tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya aku harus menjalani hidup dengan menjadi kaum minoritas. Jujur, sangat menyedihkan karena  kebiasaan yang kulalui di awal-awal kehidupanku selamanya akan menjadi kenangan.
Aku merindukan suasana hiruk pikuk dimana para tetangga sibuk untuk mempersiapkan acara natal kampung, memasak makanan berupa lampet dan makanan untuk dilelang di acara natal, pemuda-pemudi yang sibuk untuk mempersiapkan dekorasi panggung natal, anak-anak latihan paduan suara, menari, dan liturgi natal. Ya, aku sangat merindukan momen itu.
Aku merindukan momen dimana anak-anak saling memamerkan pakaian natal mereka, antri di tukang salon, anak-anak perempuan yang berubah menjadi centil karena memakai lipstik dan rambut mereka disanggul. 
Natal kampung memiliki banyak kenangan, banyak cerita, dan banyak tawa. Di masaku, ada sebuah istilah yang lahir dari persiapan dan pelaksanaan natal kampung, yaitu MARNATA (marhallet tingki natal). Momen ini biasanya menjadi salah satu wahana bagi pemuda dan pemudi untuk menemukan cinta sejati atau cinta monyet mereka. Banyak pemuda-pemudi yang akhirnya menjalin hubungan romantis di kala natal kampung.

Natal kampung terakhir yang kualami adalah natal ketika aku duduk di bangku kelas tiga SMA. Setelah itu, aku menjadi penonton dan pengamat karena aku sudah terlambat untuk bergabung di acara natal kampung. Jarak antara kampung halaman dan tempat rantau yang kutuju membatasi langkahku untuk ikut serta di natal kampung. Itulah salah satu duka menjadi seorang perantau, dimana di tiitk ini, aku merasa menjadi orang luar dari kelompokku. Aku seperti tanaman yang ditarik dari tanah, dipindahkan ke pot. Dan disinilah aku, hanya sebagai penonton untuk setiap natal kampung yang diadakan di kampung dimana aku lahir dan dibesarkan.

Thursday, 4 December 2014

pil pahit

Pernahkah kau marah kepada PenciptaMu? Apa yang peroleh dari kemarahanmu itu? Apakah kau merasa lebih baik?

Saat ini aku sedang marah kepada Penciptaku. Walau aku tahu, apa yang kualami bukan melulu karena Dia, tapi aku butuh seseorang untuk dimarahi, dan aku memilih Dia.

Aku marah karena Dia membuatku berharap kepadaNya dan ketika hal itu telah terjadi, Dia mengkhianatiku dengan mengatakan, "Aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu."
Kalau memang Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, lalu mengapa Dia memberikanku harapan untuk sesuatu yang bukan terbaik untukku.

Aku mulai goyah, apakah memang adalah pilihan yang tepat untuk berharap dan beriman kepadaNya? Selama 27 tahun hidupku aku melakukan hal itu, tapi yang kudapatkan adalah air mata, kegagalan, kekecewaan, dan harapan yang sirna. Atau memang demikianlah Dia menulis hidupku, bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan kehidupan yang sesuai dengan harapanku? Kalau memang iya, aku ingin Dia mengambil setiap harapan yang ada di benakku. Memiliki harapan di benakku akan semakin membuatku lebih terpuruk karena itu adalah ilusi. Untuk apa aku memiliki harapan yang hanya akan ada di benakku. 

Aku tidak marah untuk setiap pil pahit yang Tuhan berikan untuk kutelan. Aku marah karena Dia memberikanku harapan, harapan yang akan sirna setelah aku merasakan sakitnya. 
Dan sialnya, aku tidak merasa lebih baik setelah marah kepadaNya. Yang ada adalah rasa bersalah. Bagaimana mungkin aku bisa marah kepada Dia yang telah menciptakanku? Siapa aku yang layak marah kepadaNya. Aku hanyalah kotoran yang baudan tidak berharga. Inilah yang membuatku semakin terpuruk. 

Kehidupanku sekarang ibarat, seorang ayah menunjukkan kepada anaknya sebuah pemandangan. Lalu si anak memiliki harapan untuk pergi ke sana. Si ayah tidak menjawabnya tapi dia memberikan pil pahit untuk ditelan anaknya. Anaknya tidak ada pilihan lain, selain harus menuruti perkataan ayahnya untuk menelan pil itu. Si anak mengira, setelah menelan pil ini, ayahnya akan membawanya ke pemandangan itu. Ternyata setalah pil itu ditelan, si anak kesakitan dan pemandangan yang ditunjukkan oleh ayahnya semakin jauh dari hadapannya. Dan ayahnya menjawab, "Aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu." Dan disinilah aku, masih kesakitan karena pil pahit yang kutelan.