Translate

Rabu, 01 Oktober 2014

Surat titipan

Dear Tuhan,

Bagaimana mungkin aku hanya menerima hal yang baik saja dariMu Tuhan? Kau sudah sangat baik kepadaku, khususnya di tahun ini. Tahun 2014 adalah tahun yang akan menjadi tahun yang tidak mungkin aku lupakan. Di tahun inilah aku dan Josua, lelaki yang sangat kucintai mengikat janji untuk menjadi satu. Begitu banyak tawa yang Kau berikan dalam kehidupan kami berdua. Begitu banyak berkat yang Tuhan berikan dalam kehidupan kami, bahkan ketika Kau mengijinkan Jordan, buah cinta kami tumbuh di dalam kandunganku selama 28 minggu. Ya, 28 minggu, sangat singkat memang untuk usia bayi pada umumnya, akan tetapi aku dan Josua sangat bersyukur untuk moment yang singkat itu.
Aku tidak mau mengingkarinya, aku akui hal ini sangat menyakitkan kepada kami berdua (aku dan Josua). Bukan hal yang mudah bagi kami untuk melepaskan berkat yang Kau berikan dan Kau ambil kembali. Perasaan bersalah dan juga merasa tidak mampu membuat kami semakin merasakan kesakitan. Pernyataan penghiburan dari keluarga, sahabat, dan kenalan yang mengatakan bahwa anak kami Jordan sudah tenang bersamaMu membuat kami tiba pada kesimpulan bahwa Kau belum percaya kepada kami untuk membesarkan Jordan. That’s why, akhirnya Kau mengambilnya kembali dari kami. Begitukah, Tuhan? Dan hal inilah yang paling menyakitkan, bahwa Kau tidak percaya kepada kami bahwa kami sanggup untuk membesarkan Jordan!
Kami percaya bahwa anak kami Jordan sekarang sudah bersamaMu. Dia sudah menjadi malaikat kecilMu di surga. Tapi, aku dan suami akan tetap mengingat hal ini, bahwa aku dan suamiku di tahun 2014 diberkati Tuhan menjadi satu, diberkati Tuhan untuk memiliki Jordan selama 28 minggu, dan diberkati Tuhan untuk tidak memiliki Jordan.
Tuhan, Kau tau isi hati kami. Ketika Kau mengijinkan Jordan untuk tumbuh di dalam rahimku adalah berkat yang sangat indah bagiku. Walau aku akui Tuhan, selama 28 minggu aku mengalami banyak hal-hal negatif, mulai dari ketidaknyamanan lingkunganku, tekanan pikiran di kantor dan dari orang-orang di sekitarku. Dan Kau juga tahu Tuhan, betapa aku selalu berjuang untuk bersyukur dan tidak pernah mengeluh dan berusaha sekuat tenaga agar hal itu tidak berpengaruh terhadap kehamilanku. Aku terus berusaha untuk melaluinya dengan penuh ucapan syukur. Tapi, aku tak pernah membayangkan kalau Kau akan mengambilnya secepat ini dari kami. Bahkan Kau tidak memberikan waktu untukku menggendongnya dan menyentuhnya. Kau mengambilnya begitu sangat cepat secepat Kau memberikannya di dalam rahimku.
Aku akan tetap bersyukur dan berterima kasih Tuhan. Setidaknya Kau telah mengijinkanku untuk merasakan gerakannya dan mendengar denyut jantungnya. Kau tahu Tuhan, setelah tanggal 4 September 2014, aku sangat merindukan hal itu. Aku merindukan gerakannya, sangat merindukannya! Aku juga bersyukur untuk rasa sakit setelah operasi yang sampai saat ini masih kurasakan. Walau mungkin rasa sakit ini akan terasa lebih indah jikalau Kau megijinkanku untuk membesarkan Jordan. Ketika aku berdiri di depan cermin, aku melihat perutku dan semakin menyadari kalau anakku Jordan sudah bersamaMu.
Sekarang, aku hanya bisa merasakan peninggalan Jordan, jejak-jejak bahwa dia pernah ada dan  tumbuh di dalam rahimku. Berat badanku yang bertambah 14 kilo, guratan-guratan seperti selulit di pahaku, rasa sakit setelah operasi akan aku nikmati Tuhan sebagai berkat dan aku mengucap syukur untuk itu semua. Terima kasih Tuhan untuk semua ini, untuk setiap air mata yang boleh ke luar dari mataku dan untuk setiap rasa sakit yang kurasakan.
AKu percaya, Kau akan memberikan kekuatan kepadaku dan suami untuk melalui ini semua. Aku percaya aku dan suami pasti bisa menjalani setiap rencanaMu Tuhan, karena kami percaya Kau akan selalu bersama-sama dengan kami. Kami percaya bahwa Kau tidak akan meninggalkan kami dan membiarkan kami jatuh sampai tergeletak. Air mata yang selalu keluar ini adalah sebagai pertanda kelemahan kami di hadapanMu, Tuhan. Betapa kami tidak berdaya sehingga Kau tidak mempercayakan Jordan untuk kami besarkan.
Tuhan, Kaulah yang memiliki kehidupan. Dunia ini hanyalah tempat kami untuk berpetualang. Seperti Jordan, anak kami yang telah Kau ambil dari kami, demikianlah kehidupan kami. Suatu hari kelak, kami juga akan berpulang kepadaMu. Saat ini, air mata mungkin belum bisa aku kontrol untuk tidak ke luar dari mataku, tapi iman dan harapan kami kepadaMu Tuhan akan tetap tumbuh dan akan selalu tertuju kepadaMu. Kami siap Tuhan untuk Kau bentuk seturut dengan kehendakMu karena Kaulah yang empunya kami. Seperti aku menerima Josua suamiku dari tanganMu, dan Josua menerimaku dari tanganMu, demikianlah kami adalah kepunyaanMu. Jadilah kehendakMu Tuhan dalam kehidupan kami.
Peluk ciumku kepada anak kami Jordan ya Tuhan. Dan mohon sampaikan permohonan maaf kami kepadanya, terkhususnya dari aku. Aku tahu selama 28 minggu di dalam kandunganku dia pasti merasa tidak nyaman. Aku sering membuat dia merasakan emosi negatif. Aku dan Josua sangat mencintainya. Sampai kapanpun, kami tidak akan pernah melupakannya. Dia, akan tetap hidup di dalam hati dan pikiran kami. Sekali lagi maafkan kami ya Tuhan untuk setiap perilaku kami yang kurang berkenan di hadapanMu khususnya untuk Jordan.
Goodbye anak kami Jordan, sampai bertemu di surga.






R&J

23 September 2014.

MONEY, I’m in LOVE!


Dalam kehidupan keluargaku, ketiadaan uang adalah sumber konflik. Dihargai tidaknya seseorang itu juga tergantung ada tidaknya uang yang kita miliki. Dan, tujuan utama anak-anak disekolahkan adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang pada akhirnya berujung dengan mendapatkan uang. Tidak heran apabila standar keberhasilan anak-anak juga dinilai dari banyaknya uang yang telah dikumpulkan. Ada uang, pendapatmu akan didengar, keberadaanmu akan selalu dinanti, dan bersamamu akan selalu hal yang menyenangkan. Semua hal negatif yang kau miliki tiba-tiba menghilang, melebur dengan udara yang kasat mata, itulah kekuatan uang yang kau miliki.
Sepanjang aku tinggal bersama dengan keluargaku, aku mengira bahwa hal itu hanya terjadi di tengah-tengah keluargaku. Akan tetapi, ketika aku merantau, hidup bersama dengan masyarakat yang memiliki kebiasaan berbeda dengan dimana aku dibesarkan, ternyata konsep itu juga berlaku bahwa ketiadaan uang adalah sumber konflik. Banyaknya tindakan kriminal, mulai dari pencopet di pinggir jalan sampai pencopet di pemerintahan, mulai dari penipuan yang dilakukan oleh pedagang kaki lima dengan makanan yang dicampur dengan zat kimia berbahaya sampai ke penipuan lewat dunia maya (internet) adalah beberapa contoh dari ketiadaan uang. Di sisi yang lain ada pula  yang mengatakan bahwa uang bukanlah sumber kebahagiaan. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Menurutku, mereka yang mengatakan hal ini adalah mereka yang bisa dikategorikan ke dalam dua hal.  Pertama mereka yang sudah sampai ke tahap pengangtualisasian diri, yang memaknai hidupnya bukan dengan uang. Dan yang kedua adalah mereka yang tidak pernah merasakan hidup susah, dimana sejak lahir sudah hidup dalam kemewahan atau minimal berkecukupan. Ironisnya, di antara masyarakat Indonesia yang mengatakan bahwa uang bukanlah sumber kebahagiaan mayoritas adalah mereka yang sejak lahir sudah hidup dalam kemewahan, atau setidaknya berkecukupan yang tidak pernah merasakan kelaparan, kedinginan di malam hari, dan tidak pernah merasakan tidak punya rumah untuk tempat tidur di waktu yang lama alias bertahun-tahun. Pada umumnya mereka yang mendapatkan kehidupan yang mewah itu adalah dari warisan bukan hasil keringat sendiri.
Ketika kebutuhan primer kita terpenuhi, kita bisa makan minimal dua kali dalam sehari, kita memiliki pakaian, dan ada rumah untuk pulang, kebanyakan dari kita akan setuju bahwa uang bukanlah sumber kebahagiaan. Tapi bagaimana apabila kita tidak mampu bahkan untuk membeli beras, pakaian kita tidak pernah berganti selama dua bulan, dan tidak ada rumah untuk pulang, masih bisakah kita mengatakan bahwa uang bukanlah sumber kebahagiaan? Adakah diantara kita yang bisa mengatakan bahwa aku bahagia walaupun aku tidak memiliki uang dengan kondisi yang demikian? Mungkin masih ada segelintiran orang yang mengatakan, aku bahagia walaupun tidak ada uang dengan kondisi yang demikian asalkan aku memiliki pasangan hidup yang aku cintai dan dia juga mencintaiku, asalkan aku memiliki sahabat, atau asalkan aku memiliki power dan kekuasaan. Kenyataannya, pasangan hidup, sahabat, power, dan kekuasaan hanya akan kita peroleh jikalau uang hadir di dompet kita.
Dalam hubungan romantis juga demikian adanya. Banyak pasangan tetap bertahan dengan komitmen mereka untuk selalu bersama asalkan uang tetap hadir di dalam hubungan itu, walaupun mungkin salah satu dari pasangan itu memiliki karakter yang buruk, selingkuh, memiliki anak dimana-mana, atau bahkan sering melakukan kekerasan rumah tangga. Semuanya itu akan ditolerir asalkan uang tetap hadir. Kehidupan rumah tangga di zaman sekarang ini, jauh lebih banyak bertahan selama uang masih eksis dibandingkan dengan kehidupan rumah tangga dimana uang tidak eksis di dalamnya. Mungkin benar, uang tidak bisa membeli kebahagiaan, akan tetapi uang bisa mengantarkan kita ke sesuatu yang membuat kita bahagia. Masalahya, banyak orang yang tidak tahu cara menggunakan uang itu, sehingga uang itu tidak bisa mengantarkan mereka kepada kebahagian, dan akhirnya mereka mengatakan bahwa uang tidak bisa membawa mereka ke dalam kebahagiaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurutku salah satu penyebabnya karena kita terlalu menelan bulat-bulat doktrin dari orang tua kita dan orang-orang di sekitar kita yang akhirnya menumpulkan otak kita untuk berpikir kritis.
Aku bukannya anti dengan mereka yang mencintai uang. Semua orang memiliki kebebasan untuk jatuh cinta kepada siapa dan apapun. Tapi, adalah lebih bijak jikalau ketika kita jatuh cinta, itu adalah moment dimana kita bisa merasakan kebahagiaan. Dan lebih bijak lagi untuk tidak memaksakan cinta kita akan berbalas. Sah-sah saja kita jatuh cinta dengan uang, tapi jangan memaksakan uang juga akan mencintai kita. Menghalalkan segala cara, mengorbankan hak-hak orang lain, dan melukai hati nurani hanya untuk mendapatkan hubungan yang harmonis dengan uang, menurutku bukanlah tindakan seorang manusia yang patut untuk diapresiasi.
Selama 27 tahun kehidupanku, aku berjuang dengan keputusanku, untuk tidak jatuh cinta dengan uang. Bukan hal yang mudah mengingat hal ini sudah didoktrin di otakku semenjak aku mengakui keberadanku di dunia ini ditambah dengan era dimana kita sekarang hidup adalah era konsumtif yang luar biasa. Setiap melangkah dari rumah adalah pengeluaran yang membutuhkan keberadaan uang di dalamnya. Dengan demikian, secara tak sadar kita telah digiring untuk “mencintai” uang di dalam hidup kita. Segala macam cara kita lakukan untuk dapat mengumppulkan uang, bersaing tidak sehat di kantor, para pengusaha baik di perusahaan besar maupun kecil yang tidak mau untung sedikit, para pedagang kaki lima menjual makanan yang tidak sehat dan bersih hanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, supir public transportation yang mengejar setoran tanpa mempedulikan keselamatan para penumpang yang diangkut, para pejabat pemerintah yang silau dengan uang suap dan kekayaan Negara, dan masih banyak lagi.
Secara tidak kita sadari kita menjadi budak uang. Kita semua, bukan hanya para pejabat pemerintah yang tertangkap basah melakukan korupsi! Semua kita yang tinggal di era ini telah menjadi budak uang. Hanya saja, karena para pejabat adalah public figure, mereka memiliki peluang lebih besar untuk dieskpos di media. Akan tetapi, jikalau kita lebih kritis lagi, kita juga sama dengan para koruptor yang telah merugikan Negara, yaitu kita sama-sama budak uang. Para koruptor menjadi budak uang dengan mencuri uang rakyat, kita sebagai rakyat menjadi budak uang melalui bekerja dengan tidak jujur.
Menurutku, penyebab dari keadaan kita sekarang yang telah menjadi budak dari uang adalah karena doktrin yang telah kita terima dari orang tua kita dan karena kita telah dikondusikan untuk konsumsif. Hampir semua orang tua membuat standar keberhasilan anak-anak mereka adalah dengan memiliki banyak uang. Hal ini menjadi beban moral tersendiri bagi setiap anak untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Sebagai contoh, para koruptor menggunakan uang yang mereka curi dari Negara untuk keluarga mereka. Demikian halnya dengan kita rakyat, kita menghabiskan waktu kita untuk pergi ke sekolah dan mencari pekerjaan dengan harapan mendapatkan uang yang banyak, pada akhirnya uang itu untuk keluarga kita. Selain karena doktrin, di era sekarang ini para pelaku bisnis juga berjuang untuk mengkondisikan kita dengan berbagai produk yang tidak terlalu kita butuhkan menjadi kebutuhan utama. Misalnya dengan smartphone, banyak dari kita yang memiliki lebih dari satu smartphone dan menjadikannya menjadi kebutuhan utama. Apabila kita berpikir kritis, sesungguhnya banyak dari kita yang tidak membutuhkan smartphone, sesungguhnya banyak dari kita yang tidak menggunakan berbagai fitur yang disediakan smartphone karena memang itu bukan kebutuhan kita.
Saat ini, mari kita kritisi karakter kita, apakah memang kita adalah salah satu dari budak uang itu? Memang uang sangat penting untuk mencukupi kebutuhan kita dan mengatarkan kita kepada kebahagiaan, akan tetapi diprioritas keberapakah uang itu di dalam kehidupan kita? Sebelum tidur atau di dalam kesendirian kita, bilakah kita berkenan mengkritisi diri sendiri, dari tindakan-tindakan kita selama ini, apakah memang uang yang menjadi tujuan utamanya? Aku pribadi telah memutuskan di dalam hidupku untuk tidak terlalu mengikatkan diri dengan uang. Aku akui dalam banyak hal di kehidupanku, uang bisa mengantarkanku ke dalam kebahagiaan, uang bisa membawaku ke dalam suka cita dan rasa tenang. Tapi terkadang, di dalam kehidupan ini, aku akhirnya menyadari bahwa rasa cinta yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia, tidak seharusnya diberikan kepada uang. Itu adalah cinta terlarang yang membuat dunia ini tidak ada kedamaian. Sejarah mencatat, mencintai uang tidak membawa manusia ke dalam suka cita, lalu mengapa kita masih tetap memberikan cinta itu kepada uang? Kita datang ke dunia ini tidak membawa uang, demikian halnya nanti ketika kita harus kembali kepada Dia yang memiliki kehidupan, kita juga tidak akan uang itu. Jadi mengapa kita harus melakukan mengorbankan setiap detik kehidupan kita untuk sesuatu yang nantinya akan kita tinggalkan?

Uang dibuat oleh manusia, untuk mempermudah kehidupan manusia dalam memenuhi kehidupan manusia selama tinggal di bumi. Seiring dengan bertambah banyaknya manusia di dunia ini dan semakin berkembangnya pengetahuan manusia, uang pun semakin mendapatkan tempat yang tinggi di hati manusia. Ingatlah, uang itu buatan manusia, adalah sebuah kemunduran bagi peradaban manusia jikalau sesuatu yang kita ciptakan menjadi tuan atas kita. Sebagai makhluk hidup yang dianugrahkan akal sehat dan kebebasan, aku menggunakan akal sehat dan kebebasanku untuk tidak menjadi budak dari uang. Iya, inilah salah satu keputusan terbaik yang pernah kulakukan di dalam hidupku untuk tidak mencintai uang melebihi dari kehidupan itu sendiri. 

Perjalan anakku (4)

DETIK – DETIK KEPERGIAN JORDAN
Banyak orang di dunia ini yang memiliki phobia. Termasuk aku. Kalau hal ini bisa dikategorikan dengan phobia. Perpisahan (baik sementara maupun selamanya, which means kematian), kesepian, kegagalan dan kegelapan adalah phobiaku. Aku bisa menangis berhari-hari, terdiam membisu alias marangan-angan setiap kali salah satu dari keempat atau keempat phobia ini kualami. Dan biasanya, aku mengakhirinya dengan tidur. Berharap dengan tidur aku bisa melupakan semuanya dan setelah bangun nanti semuanya akan kembali normal. Jadi, apabila phobia ini datang, obatku adalah tidur.
Selama kurang lebih 27 tahun di dalam hidupku aku hidup dengan mereka. Dan ketika Tuhan memberikan Josua, yang sekarang menjadi suamiku, salah satu dari phobiaku, yaitu rasa kesepianku berangsur-angsur mulai pudar. Walau belum bisa dikatakan pudar menyeluruh. Akan tetapi semenjak 8 Februari 2014, kami menikah dan sebulan kemudian aku mengetahui kalau aku sudah hamil, phobiaku sudah jarang muncul. Aku dan suamiku semakin bahagia karena kami berharap bahwa anak ini akan menjadi penghilang rasa kesepianku, khususnya ketika suamiku pergi melakukan tugas kantor alias dinas ke luar kota.
Ketika aku hamil, hampir sama dengan ibu hamil pada umumnya, memiliki ciri khas tertentu. Aku tidak mau jauh dari suamiku, bahkan ketika kami sama-sama di rumah aku harus tahu dan melihat keberadaan fisiknya. Aku tidak bisa jauh dari dia walau hanya semeter pun. Yups, kata orang itu adalah bawaan bayi. Akan tetapi bagiku itu adalah penenang hatiku. Entah mengapa sejak aku hamil, aku merasakan ketidaknyamanan di dalam hatiku yang tidak bisa aku definisikan. Ketika aku mencoba cari tahu di internet, dikatakan bahwa memang adalah normal ibu hamil memiliki rasa ketidaknyamanan. Dan aku pun berusaha untuk menerimanya.
Selama aku hamil, suamiku berulang kali melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sesungguhnya hal itu sangat menyakitkan bagiku. Berpisah dengannya membuatku merasa semakin kesepian, khususnya ketika kegelapan malam datang. Tapi, kami tidak ada pilihan lain, dan aku pun berusaha untuk melawan phobiaku. Dalam hati aku selalu berkata bahwa kami (aku dan anakku Jordan) pasti bisa melalui ini semua. Kami harus kuat dan harus kuat. Aku sering sekali menyuarakan ini ketika suamiku melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Dan tentu saja agar suamiku juga merasa tenang dalam melakukan pekerjaannya. Apalagi, aku tahu bahwa hanya melalui perjalanan dinaslah kami memiliki penghasilan tambahan. Di samping itu, suamiku akan memiliki semangat baru di dalam menjalankan pekerjaannya. Sesungguhnya bekerja di kantornya yang sekarang bukanlah passionnya, dengan melakukan perjalanan dinas ke luar kota, dia bisa mendapatkan tenaga baru untuk dia bisa menikmati hidupnya. Yups, suamiku sangat menikmati perjalanan dinasnya, karena sesungguhnya dia suka berpetualang.
Memasuki bulan kelima usia anakku di dalam kandungan, kami diberitahu bahwa beasiswa study yang diperoleh suamiku mengharuskan dia untuk kuliah di Bandung. Dengan kata lain, kami akan berpisah, suamiku di Bandung dan aku di Sawangan di rumah kami. Ketika mengetahui hal ini, aku semakin ketakutan dan tidak percaya diri apakah bisa melanjutkan kehidupan ini tanpa suamiku di sisiku. Bagaimana aku bisa kuat melawan phobiaku, perpisahan, kesepian, dan kegelapan malam, apalagi dengan kondisi hamil? Aku shock! Tapi aku tidak bisa terlalu menunjukkan ketakutanku di hadapan suamiku. Aku berusaha setegar mungkin di depannya dan meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Aku dan anakku pasti bisa melalui ini semua. Aku tertekan, iya! Bukan hanya itu, kepergian suamiku ke Bandung untuk kuliah itu sama artinya juga bahwa pendapatan kami akan berkurang. Sementara aku sudah sangat ingin mengundurkan diri dari kantor karena tekanan pekerjaan yang aku terima di kantor membuatku sesak nafas. Perjalanan dari kantor ke rumah juga sungguh perjuangan yang sangat menguras energiku. Dalam situasi seperti itu, aku ingin sekali tidur seperti yang selalu kulakukan ketika phobia dan masalah datang kepadaku. Tapi aku tidak bisa tidur, aku harus bangun pagi dan pulang ke rumah di malam hari, karena aku harus bekerja. Aku akui, situasi saat itu adalah perjuangan mental, emosi, fisik, pikiran, dan psikologis yang sangat luar biasa kepadaku. Dan, katanya semua itu juga berpengaruh besar kepada anak di dalam kandunganku.
Bulan Agustus, bulan dimana suamiku akan berangkat ke Bandung. Bandung dan Sawangan memang dekat, hanya 6 jam saja, itu pun karena macet. Tapi aku tetap tidak percaya diri melanjutkan kehidupanku tanpa suamiku di sisiku. Apalagi saat itu aku sudah memasuki usia hamil tua, dimana aku sangat membutuhkan suamiku. Orang yang satu-satunya aku merasakan kenyamanan di dunia ini. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan kepada suamiku agar dia mengundurkan diri dari perkuliahannya, tapi aku tidak mau dikatakan egois, aku tidak mau suamiku melakukannya hanya karena aku. Sudah cukup apa yang telah dia korbankan padaku selama ini. Apalagi sudah tiga kali dia mencoba untuk mendapatkan beasiswa ini, jadi aku tidak mau menjadi penghalang untuk dia bisa mengaktualisasikan dirinya.
Karena ini adalah bulan terakhir sebelum suamiku berangkat untuk kuliah ke Bandung, aku berharap bahwa kami akan melewatinya dengan berdua. Akan tetapi, atasannya meminta dia untuk melakukan perjalanan dinas dan selalu lembur. Lagi-lagi, aku harus menguatkan diriku dan menguatkan anakku. Memang begitulah kondisinya, aku harus mendukung suamiku. Dan aku harus kuat, harus bisa melawan phobiaku. HARUS! Kenyataannya, semakin aku berusaha untuk melawan phobiaku, semakin aku terpuruk. Dan aku mengingkari itu semua. Sesungguhnya aku gagal melawan phobiaku. Aku ketakutan, sangat ketakutan, dan aku semakin terpuruk. Tapi aku tidak bisa menunjukkan kepada suamiku atau kepada siapapun. Satu-satunya manusia yang mengetahui hal itu hanyalah anakku. Anak yang ada di dalam kandunganku.
Di akhir bulan Agustus, yaitu tanggal 22 Agustus 2014 seperti biasa kami melakukan pemeriksaan ke dokter obgyn di Rumah Sakit Hermina dibantu oleh dokter Riyana. Hasil pemeriksaan semuanya baik, tak ada masalah, kecuali kakiku yang masih bengkak. Beliau masih memberikan saran yang sama untukku yaitu agar aku rajin olah raga. Hari seninnya suamiku berangkat ke Bandung, tinggallah aku dan anakku di rumah. Sebelum dia berangkat aku sudah mempersiapkan hatiku untuk menghadapi phobiaku, ketika hari itu tiba, aku berhasil menyembunyikannya dari suamiku. Tapi tidak ketika dia telah di pergi. Rasa ketakutanku, tekanan dari kantor, tekanan dalam perjalanan dari kantor ke rumah membuatku semakin tersudutkan. Aku berjuang agar anakku tidak ikut serta merasakannya, tapi aku tidak yakin dia tidak kena dampaknya.
Tanggal 30 Agustus 2014, aku mengalami pecah ketuban dini. Saat itu perasaanku sudah kosong, no emotion sama sekali. Aku melihat suamiku sudah sangat ketakutan, naluriku langsung berkata, tenangkan suamimu. Jangan buat dia down. Aku sudah tidak memiliki emosi apapun, hanya penilaian akan emosi yang ditampilkan oleh suamiku. Suamiku menghubungi taksi dan aku menghubungi Rumah Sakit Hermina. Sesampai di rumah sakit hermina, dokter Riyana tempat kami biasa konsultasi tidak bisa datang karena anaknya sakit dan tidak ada dokter pengganti. Yang menangani kami hanya bidan, aku diminta untuk opname dan menunggu dokter Riyana sampai besok harinya. Aku diimpus, tekanan darahku diukur, gerakan dan denyut jantung anakku dimonitor, semuanya masih normal.
Tiba-tiba aku menyaksikan suamiku menangis ketika dia menelepon ibunya. Saat itulah emosiku muncul kembali. Yang semula aku tidak merasakan apapun, saat itu aku merasa rapuh, dan merasa tak berdaya. Dan disitulah phobiaku muncul kembali. Aku terguncang dan shock. Aku telah gagal. Gagal melawan phobiaku. Aku tidak bisa gagal. Tidak bisa. Aku ingat, ada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tolong aku, tolong anakku, tolong suamiku. Apa yang telah aku lakukan? Air mataku pun mengalir, dan aku berkata kepada suamiku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Walau naluriku berkata lain, aku berusaha menyangkalnya.
Suamiku menghubugi adiknya untuk membawa perlengkapan kami dari rumah ke rumah sakit. Dan tinggallah kami berdua di dalam rumah sakit. Ada seberkas rasa bahagia di hatiku, karena suamiku ada bersamaku. Apapun yang akan terjadi, aku siap menghadapinya asalkan suamiku ada bersamaku, tepat di sampingku. Tak ada kekuatiran, karena bagiku suamiku adalah kekuatan yang dikirimkan Tuhan untukku dalam menjalani kehidupan ini. Dan satu lagi, aku tidak akan menghadapi kemacetan dari rumah ke kantor lagi, untuk sementara waktu aku tidak menghadapi tekanan pekerjaan dari kantor lagi. Yups, di tengah-tengah perjuanganku dan anakku, aku menemukan sukacita yang besar.
Besok harinya sekitar jam 12 siang, dokter Riyana datang. Dari mimik wajahnya aku tahu bahwa dia tidak mengenal kami, jikalau dia tidak membaca riwayat medisku  sudah dipastikan dia lupa 100% denganku. Anakku diperiksa USG, dan dia mengatakan bahwa air ketubanku sudah berkurang hampir setengah. Kehamilanku tidak bisa dilanjutkan, anak kami harus segera dilahirkan dan membutuhkan NICU. Akan tetapi karena NICU di rumah sakit itu sangat mahal, dia merujuk kami ke rumah sakit Fatmawati dimana dia memiliki kolega yang praktek di rumah sakit Fatmawati yang juga praktek di rumah sakit hermina. Hanya itu, dia langsung meninggalkan kami. Setelah jam 4 sore, tidak ada tindakan sama sekali dari pihak rumah sakit dan dokter. Aku pun meminta suamiku untuk menanyakan kembali mengenai statusku ke pihak rumah sakit. Akhinya seorang dokter jaga masuk dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa membantu kami untuk memberikan rujukan rumah sakit yang memiliki NICU dengan alasan semua rumah sakit yang mereka hubungi menolak karena NICU mereka tidak available. Demikian halnya dengan rumah sakit hermina, proses melahirkan tidak bisa dilakukan disana karena ternyata NICU mereka sudah habis dipakai oleh pasien yang lain.  Rumah sakit yang dirujuk oleh dokter Riyana yaitu rumah sakit Fatmawati pun menolak kami karena NICU mereka telah dipakai oleh pasien lain. Kami menanyakan keberadaan dokter RIyana, dan dikatan bahwa dokter Riyana sudah pulang. Kami minta nomor teleponnya, mereka bilang tunggu kami tanyakan dulu apakah yang bersangkutan bersedia memberikan nomornya. Saat itu aku ingin sekali memaki dokter Riyana. Sia-sia sudah kami selama ini konsultasi dengan dia, kami sudah bayar mahal, ketika saat seperti ini dia malah membuat kami menunggu 14 jam, tindakan yang dia berikan juga sungguh tidak membantu sama sekali, dan langsung meninggalkan kami tanpa bantuan sama sekali. TEGA SEKALI! Dalam hati, aku tidak akan pernah datang ke rumah sakit ini lagi, dari awal aku juga sudah tidak nyaman dengan rumah sakit ini. Rumah sakit dan dokter Riyana sangat mengecewakan kami.
Bahkan untuk memberikan kami mobil ambulance pun pihak rumah sakit tidak mau, dengan alasan apabila kami menggunakan ambulance mereka tidak akan ada rumah sakit yang bersedia menerima kami. Oh iya, mereka juga tidak mau memberikan surat rujukan. Terpaksa suamiku mencari pinjaman mobil dari teman kantornya. Kami pun bergegas mencari rumah sakit yang memiliki NICU. Untuk setiap kekecewaan kami di rumah sakit Hermina, kami membayar dua juta! Masuk tanggal 30 Agustus 2014 jam 22.00 WIB, ke luar 31 Agustus 2014 jam 17.00 WIB. Tindakan yang dilakukan? Diimpus, diberikan obat pematangan paru dua kali, obat menghentikan kontraksi 3 kali, USG, dan saya opname di ruangan bersalin. Luar biasa bukan? Bisnis adalah bisnis.
Dari rumah sakit hermina, kami ke rumah sakit fatmawati, di sana kami ditolak karena tidak ada NICU. Ada dua rumah sakit swasta lainnya yang kami datangi sebelum akhirnya kami ke RSCM (aku lupa nama rumah sakitnya yang hasilnya sama, mereka tidak ada NICU). Sekitar jam 7 malam, kami tiba di RSCM. Kami ditanyai banyak hal dan disambut oleh dokter yang sedang dalam proses belajar alias koas. Mereka sangat jutek dan tidak memiliki rasa empati sama sekali demikian halnya dengan perawatnya. Berulang kali mereka memperlakukanku seperti pencuri yang ketahuan. Mereka menanyakan mengapa baru sekarang datang ke rumah sakit kalau sudah tahu pecah ketuban. Kami pun menjelaskan bahwa aku sudah opname satu malam di Rumah Sakit Hermina. Mereka meminta surat rujukannya, Rumah Sakit Hermina tidak mau memberikan surat rujukan karena mereka berasumsi bahwa apabila mereka memberikan surat rujukan bahwa kami akan ditolak oleh pihak rumah sakit yang akan kami tuju. Pihak RSCM mengatakan, kata siapa kami akan menolak pasien, RSCM tidak mungkin menolak pasien. Hanya saja, disini tidak ada NICU, kami akan menangani anda dengan fasilitas yang ada. Yang perlu anda ketahui, usia kandungan anda belum cukup umur untuk dilahirkan, kami akan memberikan pematangan baru dan kehamilan tidak bisa dilanjutkan. Untuk kasus anda, setelah lahir akan langsung dimasukkan ke NICU dimana peluangnya hidup 60 %, apalagi kalau tidak di NICU. Aku di USG, dan dia mengatakan bahwa usia kandunganku 29-30 minggu, air ketuban sudah habis, dan sudah bukaan 1. Lalu aku mengatakan, tadi aku USG di Rumah Sakit Hermina usia kandunganku 27 minggu. Lalu dokter yang lagi koas dengan wajahnya yang jutek mengatakan kata siapa usia kandunganmu 27 minggu, dan dia langsung berlalu meninggalkan aku.
Dari jam tujuh malam sampai jam 12 dini hari, tidak ada dokter yang datang. Tidak ada air minum, tidak ada bantal dan selimut. Yang ada adalah para dokter yang lagi koas yang selalu menanyakan biodataku. Sepertinya ada sepuluh kali aku ditanyakan hal yang sama. Tempat tidur yang kotor, bau, dan gatal. Atmosfir yang panas karena banyaknya dokter koas yang lalu-lalang. Satu pasien, ada 10 dokter yang mengerumuni, kami dijadikan seperti binatang percobaan. Ketika aku menanyakan statusku, kapan aku mendapatkan kamar, seorang suster dengan sangat jutek menjawabku, “Ibu bisa sabar ga? Ibu baru saja masuk, yang di sekitar ibu sudah berhari-hari disini mereka saja belum dapat kamar. Kalau ibu mau dapat kamar, ke rumah sakit Kencana yang di samping rumah sakit ini, jangan ke sini datangnya”. Aku hanya bisa tarik nafas panjang. Inilah keadaan yang harus aku alami. Aku tidak sanggup lagi dengan keadaan itu, aku pun memutuskan untuk meninggalkan RSCM.
Puji Tuhan, akhirnya kami mendapatkan rumah sakit yang memiliki NICU available. Saat itu pun kami segera memutuskan untuk pindah. Ternyata untuk pindah dari RSCM pun sangat sulit. Administrasinya ribet. Dari jam 12 malam, suamiku mengurus administrasi selesainya jam 5 pagi. Hari senin, 1 September 2014, aku check in di Rumah Sakit Colombia Asia. Disini kami langsung ditangani, aku langsung dikasih infus, oksigen, dan dikasih minum. Pelayanannya jauh lebih manusiawi. Dokter yang menangani kami pertama adalah dokter anak, namanya Dokter Alfed. Dia memberikan penjelasan mengenai resiko-resiko yang mungkin akan terjadi apabila anak yang ada di dalam kandunganku dilahirkan. Setelah mengurus administrasi, aku dimasukkan ke dalam kamar perawatan dan diobersavasi. Tekanan darahku normal demikian halnya dengan gerakan dan denyut jantung anakku. Jam 9 pagi, Dokter Nelson, dokter obgyn datang. Aku kembali di USG, air ketuban tinggal sedikit yaitu di sekitar kepala, usia kandunganku 27 minggu, dan posisi anakku melintang, kepalanya di perut bawah kananku, dengan berat badan 1kg. Dokter Nelson mencoba untuk memperpanjang kehamilanku dengan harapan paru-paru anakku bisa lebih matang di dalam rahim dan berat badannya bertambah. Dokter Nelson optimis, kehamilanku akan dihentikan tanggal 7 September 2014 dengan harapan paru-paru anakku sudah lebih matang untuk hidup di NICU dan berar badannya sudah bertambah, selama itu aku akan diobservasi ketat. Aku dan bayiku dijaga agar tidak sampai kena infeksi sehingga setiap orang yang berkunjung dipastikan dalam keadaan sehat dan bersih.
Selasa, 2 September 2014 mamaku tiba dari Balige ke rumah sakit tersebut. Aku tidak bisa memberikan komentar yang banyak mengenai kedatangan mamaku, mengingat hubungan kami yang tidak harmonis selama ini. Dan kalau boleh jujur, dia juga terlibat dalam tekanan hidup yang kualami selama aku hamil. Tapi aku berusaha berdamai dengan keadaan ini, biar bagaimana pun dia adalah perempuan yang melahirkanku, aku tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan itu. Dan sebagai anak yang berbakti aku pun harus bisa menerima kekurangan orang tuaku.
Kamis, 4 September 2014, ibu mertuaku yang datang. Aku semakin tidak nyaman. Aku tidak nyaman karena aku tidak terbiasa dan tidak mau menjadi pusat perhatian. Bagiku, perhatian dari suamiku sudah cukup, hanya itu yang kubutuhkan. Aku semakin merasa ackward, ini sungguh tidak biasa. Aku ingin sekali berteriak dan mengatakan agar mereka semua pergi, biarkan aku dan suamiku saja. Aku tidak mau terlihat tidak berdaya seperti ini. Aku sudah terbiasa menjalani kehidupanku sendirian. Aku bukan orang lemah, aku orang kuat demikian halnya anakku. Pergulatan hebat di dalam hatiku ternyata berdampak kepada anakku. Sejak hari rabu, tanggal 3 September dia sudah sangat ingin ke luar dari rahimku. Mungkin dia sudah tidak betah lagi merasakan sakit mental yang kurasakan. Atau mungkin dia sudah sangat kasihan sekali kepadaku yang memiliki beban mental, pikiran, dan psikologis. Akhirnya jam 6 sore, kamis, 4 September 2014, Dokter Nelson memutuskan untuk menghentikan kehamilanku karena aku sudah berulang kali merasakan kontraksi dan tanda-tanda melahirkan sudah terjadi. Dokter Nelson tidak mau mengambil resiko yang lebih berat lagi, yaitu apabila kehamilanku masih akan dilanjutkan sampai tanggal 7 September dikuatirkan akan mengancam nyawaku juga.
Jam 18.00 WIB, aku masuk ke ruang operasi. Saat itu yang kurasakan adalah rasa malu karena telah menjadi pusat perhatian, kegagalan dalam menunjukkan kebahagiaan di mata suamiku, dan berserah. Sebelum aku dioperasi, aku berkata kepada Tuhan,’Tuhan, kau tau kapasitasku. Jujur, Tuhan kalau anakku ini lahir dalam keadaan cacat, aku tidak sanggup untuk membesarkannya. Akan tetapi jadilah kehendakMu, aku percaya Kau akan berikan kekuatan. Semua yang Kau berikan adalah baik adanya.’
Ketika anakku diambil oleh dokter dari rahimku, aku melihatnya melakukan gerakan kecil. Tapi aku tidak mendengar suaranya. Aku mendengar Dokter Nelson berkata, anaknya kecil sekali dan plasentanya sudah tua. Aku terus memandang ke arah anakku, (saat itu aku dibius local), aku mendesak dokter agar aku bisa melihat anakku, tapi mereka tidak mengizinkannya. Jadi mereka hanya memberikan foto anakku kepadaku sementara perutku dijahit tutup kembali.
            Di luar ruang operasi, tak berapa lama suamiku datang sambil menangis. Saat itu aku berkata dalam hati, jadilah kehendakMu Tuhan, berikan kami kekuatan. Beberapa menit kemudian Dokter Alred (dokter anak) mengatakan kalau anakku tidak merespon, meminta persetujuan suamiku agar semua alat dicabut. Dan anakku, Jordan kembali kepada Dia yang empunya kehidupan. Tuhan memilih anakku untuk menjadi malaikat kecilNya di surga. Sungguh kehormatan bagiku dan suamiku, bukan? Seperti doa-doa kami selama Jordan dalam kandunganku agar dia bisa menjadi berkat dan nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan mengabulkan doa kami. Sekarang anak kami Jordan telah menjadi malaikat Tuhan di surga.
Kalaupun saat ini aku masih menangis, itu dikarenakan aku belum bisa melawan phobiaku. Kalau suamiku ada disini, di sampingku, semuanya akan kembali normal.
Anakku Jordan, aku menerimamu dari Tuhan, dan aku mengembalikanmu kembali kepada Tuhan. Dialah yang memiliki kita semua. Sekarang kau telah menjadi malaikatNya, layanilah Dia dengan sangat baik ya anakku. Aku sangat bangga kepadamu, selama kau ada di dalam kandunganku kau tidak pernah menyusahkanku. Memang layaklah kau diambil olehNya untuk menjadi malaikatNya. Aku dan bapakmu akan selalu mengingatmu di dalam hati dan pikiran kami, selama kami hidup bahwa kau adalah buah cinta kami yang pertama. Kau ada, karena aku dan bapakmu saling mencintai. Di dalam dirimu, tertuang cinta kami berdua. Terima kasih untuk 28 minggu yang menakjubkan anakku. Titip salam kami kepada Tuhan kita, sampai bertemu di surga anakku.

We love you,
Orang tuamu

Josua dan Rani

Rabu, 13 Agustus 2014

perjalanan anakku (3)

Sekarang anakku sudah berumur 24 minggu 6 hari dalam kandunganku. Menurut hasil USG, jenis kelaminmu adalah laki-laki. Tumbuh dan berkembanglah engkau anakku dalam kandunganku hingga nanti kita bisa saling bertatap satu sama lain. Aku bersyukur sejauh ini, kau sangat bekerja sama dengan baik denganku. Kau mengerti betul kondisi ibumu yang tidak ada tempat bermanja dan cengeng sehingga kita harus kuat dalam menjalani hari-hari kita.
Walaupun papamu adalah tipikal orang yang selalu memanjakan ibumu ini, dalam banyak kasus ibumu merasa tidak enak untuk selalu merepotkan papamu. Mungkin karena memang demikianlah ibumu dibentuk untuk berdiri dengan kaki sendiri dan selalu mengucap syukur untuk apa yang ada.

Sekarang berat badanku sudah 62 kilo dari sebelum hamil 46 kilo. Aku sangat mensyukurinya, aku sudah puas bertubuh langsing selama ini. Menurutku setiap perubahan fisik yang kualami saat ini bukanlah pengorbananku untukmu, anakku. Tapi itu adalah proses normal yang harus aku lalui jikalau aku menginginkan seorang anak dalam kehidupan pernikahan kami. Jadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap bahwa apapun yang telah kualami selama mengandungmu, khususnya hal-hal yang negatif, itu bukan pengorbananku. Itu adalah upah dosa yang aku wariskan dari semenjak manusia pertama dijadiakan oleh Tuhan dimana setiap perempuan akan mengalami kesakitan dalam proses persalinan.

Sekarang ini, punggungku sudah mulai tidak bersahabat, demikian halnya dengan pinggulku. Aku sudah mulai sangat gampang sekali merasa kelelahan, dan semakin sering buang air kecil.
Sampai sekarang aku belum merasakan seperti apa yang dikatakan orang-orang dengan ngidam. Napsu makanku masih normal, aku memakan segala sesuatunya yang sehat dan bersih.

Mungkin  satu-satunya yang tidak bisa aku kontrol adalah tekanan yang kualami di kantor. Target-target yang harus aku selalu penuhi yang membuatku sering sekali lupa bahwa kau ada dalam kandunganku anakku. Hanya itu yang paling membuatku sangat tertekan saat ini. Selebihnya, aku menjalaninya dengan penuh sukacita. Menghadapi kemacetan Jakarta, harus menemani papamu lembur walau aku sudah sangat ingin tidur, melawan ngantuk, dan bahkan nanti kondisi dimana papamu akan melanjutkan sekolahnya di Bandung dimana nantinya tinggal kita berdua saja anakku, sama sekali tidak membuatku kuatir. Untuk yang satu ini aku sangat percaya dan beriman kalau Tuhan akan  membantu kita.
Dan anehnya, entah mengapa untuk pekerjaan, aku merasa Tuhan tidak memberkatiku. Sepertinya berkat yang Tuhan berikan sudah cukup dalam kehidupanku. Jadi, Dia pun mengizinkan aku merasakan tekanan yang luar biasa dalam pekerjaanku di kantor.

Kalau ada pilihan lain, mungkin aku akan ke luar dari pekerajaan ini, anakku. Tapi, aku tidak mau menjadi pecundang di samping kita membutuhkan uang demi kebetuhan hidup kita, anakku.
Maafkan aku, kalau selama kau dalam kandungan, tekanan yang kualami dalam pekerjaanku membuatku kadang melupakanmu. Aku menjadi sangat jarang berkomunikasi denganmu, aku nyaris tidak mengajakkmu terlibat dalam aktivitasku.
Yang kuat ya, anakku. Kita pasti bisa melalui ini semua.