Friday, 29 July 2016

Tongam Timothy Sihotang

Ketika mengetahui bahwa aku hamil lagi, ada perasaan cemas apakah kehamilan kali ini akan berakhir dengan melahirkan pada waktunya dan anak yang kulahirkan dalam keadaan sehat, sempurna, dan normal? Atau akankah kejadian dua tahun lalu terulang kembali?

Tidak ingin berandai-andai, memimpikan hal-hal yang baik. Kali ini aku memilih untuk bersikap pasrah. Dulu, aku pernah berharap bahwa semuanya akan berakhir dengan indah, aku akan menjadi ibu dan membesarkan bayiku. Untuk menjaga keseimbangan jiwaku atau mungkin untuk mengurangi keteganganku, ada banyak hari-hari dimana aku bersikap apatis dengan tidak terlalu mengharapkan hal-hal yang baik karena tidak ingin tersakiti dua kali. 

Aku pernah di kondisi itu. Kehamilan pertamaku awalnya semuanya tampak baik-baik saja dan aku pun membayangkan hal-hal baik yang akan terjadi. Akan tetapi yang terjadi justru di luar bayanganku bahkan tidak pernah terpikirkanku, benar-benar menyakitkan. Aku harus menyelesaikan kehamilanku di minggu ke-28 diakhiri dengan meninggalnya bayiku. Tak seorang pun tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu, yang membuatku menjalani masa kehamilan keduaku dengan tidak terlalu mengharapkan dan berimajinasi bahwa semuanya akan berakhir baik-baik saja.

Minggu demi minggu pun terlewati dengan tidak ada kendala yang mengkuatirkan. Kecuali kecemasanku yang semakin bertambah.  Ketika memasuki minggu ke-28 kehamilan keduaku ini aku memutuskan untuk bekerja dari rumah. Aku membutuhkan waktu dan ruang untuk bisa berdamai dengan masa laluku. Puji Tuhan, atasanku mendukungku dan memberikan aku izin untuk bekerja dari rumah selama seminggu. Dan setelah minggu ke-28 terlewati, kecemasanku pun mulai berkurang dan titik harapan yang ada di dalam lubuk hatiku pun semakin besar. Peluangku untuk menjadi ibu semakin besar. Demikian harapanku di dalam hati ini. Seiring dengan perjalananku menuju proses melahirkan, aku pun semakin tamak. Bukan hanya menjadi seorang ibu saja yang kuharapkan, aku juga berkeinginan untuk melahirkan tanpa harus melalui meja operasi lagi dan melahirkan bayi yang sehat, normal, dan sempurna.

Ternyata, kerakusanku tidak mendapatkan restu dariNya. Aku harus melewati meja operasi untuk kedua kalinya. Butuh beberapa hari untukku menerima kenyataan ini, dimana dokter kandungan yang rutin memeriksaku mengatakan bahwa aku tidak bisa melahirkan tanpa operasi karena operasiku yang pertama belum pulih benar, resikonya bekas jahitan yang pertama rusak mengakibatkan rahimku mengalami masalah. Jadi, ternyata setelah operasi caesar apabila ingin melahirkan normal hanya bisa dilakukan apabila bekas jahitan sebelumnya sudah tertutupi kulit dengan ketebalan minial 3mm. Saat itu, bekas jahitanku masih di angka 1,6 mm. 

Alasan kedua adalah aku pernah mengalami operasi mata. Menurut beliau, apabila dipaksakan untuk melahirkan secara normal beresiko mengakibatkan kebutaan. Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa perempuan yang pernah mengalami jahitan di kepala dan di jantung sudah pasti tidak akan bisa melahirkan secara normal. 

Sangat berat bagiku berada di meja operasi untuk kedua kalinya. Aku bukannya takut dengan suntikan atau peralatan medis lainnya. Aku percaya, teknologi kedokteran sekarang sudah begitu hebat, tidak ada yang perlu aku kuatirkan. Satu-satunya yang membuatku merasa cemas dan tegang adalah  operasi caesar pertamaku, aku kehilangan bayiku. Aku takut, aku harus menghadapinya lagi.

Saat berada di meja operasi untuk kedua kalinya, aku berusaha menenangkan diri sendiri. Kehidupan ada di tanganNya. Jikalau Dia berkehendak untuk memberikanku kesempatan menjadi ibu, maka akan terjadi. Akan tetapi jikalau tidak, itu adalah keputusanNya yang harus aku terima bahwa itulah yang terbaik untukku. Berulang kali aku meredam khayalan dan imajinasiku untuk menggendong, membesarkan bayiku ini. Aku tidak mau terlalu jauh masuk ke dunia menjadi seorang ibu karena jikalau tidak terjadi demikian, aku tidak yakin akan kuat untuk bangkit lagi. 

Puji Tuhan, bayi kami lahir dengan berat badan 3,4 kg panjang 50 cm pada tanggal 6 Juni 2016 jam 08.30 pagi. Kami beri nama Tongam Timothy Sihotang. Tongam pemberian dari ayahnya yang diambil dari Bahasa Batak Toba artinya majestic, mighty, very strong, great dimana nama ini kami pilih karena bayi kedua kami ini sungguh tangguh bisa melewati 38 minggu di dalam rahimku. Kami berharap melalui nama ini, dia akan menjadi anak yang Tongam seperti namanya. Sementara nama Timothy adalah pemberian dari ibu mertuaku. Tidak ada filosofi khusus mengapa nama ini diberikan oleh mertua. Yang jelas, mertua sengaja memilih dalam Bahasa Inggris untuk mengingat bahwa beliau adalah pensiunan guru Bahasa Inggris.

Hari-hari awal kehidupan Tongam, bayi laki-lakiku:

Masih ingat bahwa ketika aku hamil tua, aku berharap agar aku bisa melahirkan tanpa harus operasi dan berharap anak yang kulahirkan dalam keadaan sehat?

Kali ini, Tuhan tidak mengabulkan permintaanku. Cukup sudah karunia Tuhan dengan menghadirkan Tongam di dalam keluargaku. Sementara permintaanku untuk melahirkan normal dan Tongam dalam keadaan sehat, sepertinya Tuhan menolaknya. Tapi hal ini tidak membuatku patah arang, aku masih tetap memohon agar Tongam tumbuh menjadi anak yang sehat, normal, dan tidak kekurangan apapun dari seharusnya seorang manusia pada umumnya.

Beberapa jam setelah aku melahirkan Tongam, aku menerima kunjungan dokter umum. Dia menyelutuk bahwa anakku ada kuningnya. Saat ini, aku yang masih belum percaya bahwa aku telah menjadi seorang ibu, tidak langsung merespon celoteh si dokter umum. Selain itu, karena dia hanya dokter umum, bukan dokte anak. Walaupun dalam hati sempat terlintas di dalam pikiranku, mengapa justru dokter umum yang datang berkunjung, mengapa bukan dokter anak? Aku hanya bertanya, apakah bayiku sehat? Dan dia menjawab, iya dia sehat. Aku pun langsung puas dengan jawaban itu, tak menghiraukan celotehnya yang mengatakan bahwa bayiku kuning. Dan dia pun tidak menawarkan solusi apapun. Aku pun berencana untuk menanyakannya nanti apabila dokter anak datang berkunjung dimana hal itu sudah ada dalam paketan proses operasi rumah sakit.

Setelah dokter umum berkunjung, aku didatangi oleh dokter laktasi. Dia menjelaskan segala sesuatu mengenai ASI dimana informasi yang dia berikan sudah basi bagiku. Siapa sih yang ga tau kalau ASI itu baik untuk bayi! Ketika dia memeriksa bayiku, dia bilang bahwa bayiku memiliki tongue tie. Dia terkejut ketika aku memotong penjelasannya dengan mengatakan bahwa aku sudah mengetahui apa itu tongue tie. Yang aku butuhkan sekarang, apa tindakan selanjutnya kalau memang bayiku memiliki tongue tie. Dia bilang, tunggu kunjungan dari dokter anak dulu, diobservasi dulu seminggu ini.

Hari pertama dan hari kedua pun berlalu. Aku mulai bertanya-tanya mengapa dokter anak tak kunjung datang untuk memeriksa bayiku. Ketika proses operasi caesar pun, tidak ada kehadiran dokter anak. Aku sudah mulai tidak tenang. Hari kedua, aku memanggil perawat untuk mengukur suhu tubuhnya, karena menurutku dia sudah mulai demam. Saat itu suhu tubuhnya 37,3. Kata perawatnya masih normal. Tapi hatiku sudah mulai agak kuatir, mungkin disanalah naluriku sebagai ibu sudah mulai muncul. Sementara dokter laktasi, yang hanya memberikan kuliah umum, yang informasinya sudah sangat basi, itulah yang rutin datang mengunjungi di hari pertama dan hari kedua. Di hari ketiga, aku memutuskan untuk melakukan komplain ke pihak rumah sakit. Dimana di dalam tagihan yang mereka berikan ke kami (tagihan itu wajib dibayar, walaupun sesungguhnya kita belum akan check out) ada biaya dokter anak dan juga biaya kunjungan dokter laktasi, serta dokter umum. Aku protes karena kami disuruh membayar biaya dokter anak yang tak kunjung datang memeriksa bayiku dan ketiadaannya di ruangan operasi. Sementara untuk dokter umum langsung saya stop kunjungannya, kehadiran  tidak dibutuhkan. Aku juga minta ganti dokter laktasi. Aku butuh dokter laktasi yang memberikanku penyuluhan bagaimana caranya menyusui, bukan hanya memberikan informasi basi kepadaku.

Karena rumah sakit ini masih sangat baru, mereka sangat cepat di dalam merespon keluhanku. Hari itu juga dokter laktasi diganti. Aku menjelaskan keluhanku bahwa bayiku memiliki tongue tie. Akibatnya bayiku tidak bisa mengisap dan perekatannya tidak sempurna di putingku. Hal ini membuat bayiku tidak bisa menyusu dengan maksimal dan putingku pun menjadi lecet. Dan yang paling fatal adalah, bilirubin bayiku ada di angka yang cukup mengkuatirkan yaitu di angka 26, normalnya adalah di bawah 10. 

Hal ini tidak akan terjadi seandainya ada dokter anak sejak bayiku dilahirkan. Karena adanya kuning di bayiku sesungguhnya sidah terdeteksi sejak beberapa jam setelah dia lahir. Dia bisa merekomendasikan agar dokter laktasi membantuku di dalam menyusui, sehingga bilirubin bayiku tidak akan setinggi itu.

Dokter laktasi yang baru menanyakan kalau saya sudah tahu bayi saya ada tongue tie mengapa tidak langsung diambil tindakan? Aku pun memberikan jawaban karena rekomendasi dari dokter laktasi sebelumnya tunggu observasi dulu selama seminggu. bingung mengapa tidak sejak pertama diketahui adanya tongue tie langsung diambil tindakan?

Besoknya di hari ketiga ketika aku sudah menyiapkan hatiku untuk membawa bayiku pulang ke rumah, aku diperhadapkan dengan kenyataan bahwa bayiku memiliki biilirubin yang tinggi yaitu di angka 26. Jam itu juga, bayiku langsung disinar dengan dua blue light. Lagi-lagi, dokter anak belum juga datang untuk memeriksa bayiku, hanya melalui sambungan telepon saja. Besoknya di hari keempat, sore harinya, si dokter anak pun datang tanpa memberikan penjelasan kepadaku. Padahal dia melihatku ada di ruangan itu. Dia hanya berbicara para bidan dan langsung berlalu. Hatiku hancur menyaksikan itu. Aku melihat betapa dia menghargai kehadiranku sebagai manusia. Dia berlalu dengan begitu sombongnya di hadapanku. Saat itu juga, aku bersumpah tidak akan pernah memakai jasanya lagi. Walaupun para bidan di rumah sakit itu mengatakan bahwa dia adalah dokter anak senior. Melihat attitude dia, membuatku kecewa dan ingin segera mencari dokter anak lainnya.

Seharusnya aku dan bayiku tidak perlu menghabiskan waktu yang cukup lama di rumah sakit. Akan tetapi karena kekurangan managemen pihak rumah sakit, aku dan bayiku akhirnya menginap sampai hari sabtu, 11 juni 2016 di rumah sakit itu. Setelah kami diperbolehkan pulang kami disuruh untuk kontrol lagi tanggal 13 Juni 2016, ke dokter anak yang sama. Namun dalam hati, aku sudah bertekad untuk mencari dokter anak yang lain.

Tanggal 13 Juni 2016, kami kontrol kembali ke rumah sakit yang sama. Walaupun sebenarnya kami sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit ini, kami masih memberikan kesempatan kepada rumah sakit ini untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Kami maklum rumah sakit ini belum ada tiga tahun dan setiap kali kami komplain, mereka langsung cepat tanggap walau hasilnya tetap atau terkadang tidak memuaskan. Selain itu, karena hanya rumah sakit ini yang paling terjangkau jaraknya dari rumah kami.

Setelah kami kontrol dengan dokter anak yang baru, ternyata biliribun bayiku naik kembali. Dua hari sebelumnya, yaitu hari dimana kami membawa dia pulang ke rumah bilirubinnya di angka 12 naik menjadi 25. Sang dokter anak akhirnya merujuk kami ke rumah sakit lain, yang cukup jauh dari rumah kami dengan alasan dia bukan dokter anak yang khusus menangani bayi baru lahir. Di rumah sakit yang dia rujuk, ada koleganya yang khusus menangani bayi baru lahir dan rumah sakit itu juga memiliki fasilitas yang lebih memadai dibandingkan rumah sakit dimana aku melahirkan bayi kami.

Hari itu juga kami membawa bayi kami. Tongam harus di infus dan disinar kembali dengan tiga blue light sekaligus. Kali ini dia sudah dimasukkan ke NICU.  Tanggal 16 Juni 2016, bilirubin Tongam masih di angka 13,9. Akan tetapi, dokter sudah mengizinkan kami membawanya pulang. Menurut dokter, masalah bilirubin akibat perbedaan golongan darah diantara kami (aku golongan darah O dan Tongam golongan darah A) sudah berakhir. Kalau sekarang bilirubinnya masih tinggi kemungkinan itu disebabkan adanya infeksi saluran kemih atau breastmilk jaundice. Selama seminggu setelah kami membawa Tongam pulang ke rumah, dia menjalani terapi antibiotik. Dua minggu selanjutnya ketika kami akan periksa ke rumah sakit sekalian untuk jadwal imunisasi, kami periksa bilirubin Tongam di angka 16.

Dua minggu kemudian, kami periksa lagi ke dokter. Aku memutuskan untuk tidak mencek bilirubin Tongam, cukup sudah selama satu bulan pertama hidupnya di dunia ini, jarum selalu menyentuh tubuhnya. Aku beriman saja bahwa bilirubinnya sudah turun. Sampai hari ini, Tongam sudah hampir berusia 2 bulan, aku tetap beriman bahwa dia akan sehat.

Menjalani dua bulan hari-hari ini dengan, walau aku kurang tidur, aku sangat bersuka cita. Dan tentu saja masih ada kekuatiran mengenai bilirubin bayiku. Dari berbagai pengalamanku, aku belajar bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik yang mampu untuk kutanggung. Dan tentu saja, aku masih tetap berharap, bayiku akan tumbuh menjadi manusia yang sehat dan normal.


Sunday, 15 May 2016

Berpengharapan Yang BENAR

Ini adalah minggu kedua aku menjalani masa cuti melahirkanku. Beruntung dari tempat di mana aku bekerja sekarang, aku mendapatkan cuti melahirkan selama 4 bulan, dimana satu bulan aku ambil sebelum melahirkan dan tiga bulan setelah melahirkan. Sesungguhnya, peraturan kantor adalah bahwa cuti melahirkan itu diambil 1,5 bulan sebelum dan 2,5 setelah melahirkan. Akan tetapi karena kami belum menemukan orang yang akan menjaga anak kami setelah dia lahir nanti, aku memilih untuk mengambil lebih lama di masa setelah melahirkan. Selain itu pekerjaan di kantor yang belum bisa aku tinggalkan waktu itu.

Seminggu pertama masa cutiku, aku menjalaninya dengan bersenang-senang sendiri. Bangun tidur lebih lama, menonton, membaca, dan berjalan-jalan santai di sekitar perumahan. Saat ini, di minggu kedua, aku sengaja meminta kepada Josua, suamiku untuk menemaniku di rumah. Aku merasa kesepian tidak ada dia di rumah. Dan aku menyebutnya bulan madu.  Dalam seminggu ini, aku dan Josua menikmati kebersamaan kami berdua di rumah saja. Bermain game puzzle, memasak, belanja, mandi bersama-sama, menonton, dan saling bercerita. Bercerita tentang apa yang kami rasakan dan apa yanga ada di dalam pikiran kami masing-masing.

Josua, adalah satu-satunya yang membuat masa-masa kehamilan keduaku kali ini sangat jauh lebih menyenangkan. Dia adalah satu-satunya orang yang aku butuhkan di dalam menjalani kehamilanku ini. Aku begitu merasa nyaman, damai dan bahagia oleh karena semua perhatian, pengertian, kepedulian, dan rasa cintanya kepadaku. Dia yang selalu memperhatikan setiap detail kebutuhanku, mengutamakan kenyamananku, dan selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang kuinginkan. Walau aku tahu terkadang dari sekian banyaknya permintaanku, dia sebenarnya keberatan untuk melakukan itu. Misalnya untuk menemaniku selama seminggu ini di rumah. Dimana seharusnya dia berangkat ke Bandung untuk mengerjakan tesisnya yang sudah di batas waktu di akhir bulan ini.

Aku tahu, apa yang terjadi pada kami dua tahun yang lalu, dimana kami kehilangan anak pertama kami, menyisakan trauma yang belum bisa kami tangani dengan baik. Rasa takut dan cemas masih terus menemani kami. Dan karena kejadian itu juga, aku tahu bahwa Josua semakin berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadi suami yang selalu ada untukku. Apalagi setelah dia tahu, bahwa hanya dialah seorang yang bisa membuatku merasa nyaman dan bahagia. Di satu sisi, hal ini membuat dia bingung karena selama kehamilanku ini aku menjadi orang yang sangat bergantung sekali padanya, menjadi orang yang manja kalau ada dia. Aku pun tak tahu apakah ini bawaan bayi atau memang karena pada akhirnya aku menemukan orang yang bisa aku handalankan, tempatku bersandar, dan tempatku bermanja ria tentunya. Tak bisa kupungkiri kalau aku juga terkadang memiliki rasa jenuh menjadi pribadi yang mandiri. Adanya Josua membuatku menyadari bahwa aku juga memiliki kebutuhan untuk dimanja, seperti perempuan pada umumnya.

Secara umum, aku sangat bahagia dengan kehamilan kali ini dibandingkan dengan kehamilanku sebelumnya. Aku lebih memiliki banyak waktu untuk beristirahat dan tekanan yang kuhadapi pun jauh lebih ringan, karena adanya dukungan yang positif dari tempat dimana aku bekerja. Selain itu, perjalana ke kantor dan pulang ke rumah pun jauh lebih ramah dengan kemacetan yang lebih bisa ditoleransi.Terbukti di kehamilanku kali ini, usia kehamilanku sudah menjalani 36 minggu. Kalau kehamilan pertamaku hanya sampai di usia 28 minggu dimana diakhiri dengan meninggalnya anak kami, saat ini semuanya sepertinya berjalan dengan baik. Berharap aku memiliki kesempatan untuk melahirkan dan membesarkan anak ini.

Satu hal yang kupelajari adalah bahwa memang sangat betul sekali bahwa adalah sangat penting untuk selalu bahagia, khususnya saat sedang hamil. Aku sudah membuktikannya walaupun belum sampai tamat karena aku belum melahirkan. Setidaknya, kehamilanku yang kedua ini bertahan lebih lama dibandingkan dengan kehamilanku yang pertama. Aku akui selama masa kehamilan pertama, aku sangat stres, dengan tekanan di kantor, perjalanan dari rumah, dan juga tekanan dari orang-orang terdekat yang begitu sangat memancarkan aura negatif. Di kehamilan keduaku, tekanan dari orang-orang terdekat itu masih tetap ada, akan tetapi waktu telah mendewasakanku untuk tidak terlalu memikirkan orang lain. Waktunya untuk memikirkan diri sendiri dan berhenti untuk mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain. Aku pun berhak untuk bahagia dan menikmati hidup ini, adalah sebuah kalimat yang selalu aku tanamkan di dalam diriku sendiri.

Apakah kehamilan keduaku ini berjalan dengan mulus?

Tentu saja tidak. Aku masih tetap menjalani kehamilanku dengan kesendirianku. Dimana seperti yang aku bilang tadi, bahwa Josua masih tetap harus selalu ke Bandung untuk menyelesaikan tesisnya. Aku masih harus tetap mandiri untuk bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Apalagi selama tiga bulan pertama, aku mengalami mual dan pusing, aku harus tetap bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri jika Josua sedang ada di Bandung. Tantangan kedua yang kami alami adalah kondisi keuangan kami. Josua yang saat ini masih sedang kuliah, pengeluaran harian kami menjadi double sementara penghasilan berkurang drastis. Selain itu dalam 9 bulan terakhir ini, dua orang abangku menikah dimana itu membutuhkan uang yang tidak sedikit dan cukup menguras tabungan kami juga.

Di dalam kondisi keuangan kami yang sudah di ujung tanduk ini, aku berharap sekali bahwa aku akan bisa melahirkan secara normal, dengan alasan biaya yang lebih murah. Maklumlah karena kantor dimana aku bekerja tidak akan memberikan fasilitas biaya melahirkan mengingat bahwa aku belum dua tahun bekerja di sana. Akan tetapi, dokter kandungan dimana aku selalu konsultasi mengatakan bahwa aku tidak mungkin bisa untuk lahir normal karena aku pernah mengalami operasi mata yang mengakibatkan adanya jahitan di mata kiriku. Dokter tersebut mengatakan bahwa akan sangat beresiko sekali kalau aku tetap memilih untuk lahir normal, yaitu menyebabkan kebutaan kepadaku.

Aku cukup kecewa dengan vonis dokter ini. Sampai detik ini, aku masih berharap dapat melahirkan secara normal. Selain karena kondisi keuangan kami, aku juga ingin bisa langsung mengasuh anak kami kelak. Aku sudah pernah mengalami operasi caesar sebelumnya dan itu rasanya sangat sakit sekali. Bagaimana aku bisa mengasuh anak kami nantinya jikalau aku pun perlu mendapatkan perawatan setelah operasi?

Memikirkan ini semua membuatku sulit untuk memejamkan mata di malam hari. Sudah seminggu ini aku tidak bisa tidur di malam hari. Selain itu dikarenakan cuaca juga. Aku selalu merasa kepanasan sampai rambut dan bajuku basah kuyup. Hal ini membuatku mual mencium keringatku sendiri yang menurutku sangat bau. Selain itu, sakit punggung yang begitu sangat menyiksa membuatku susah untuk menentukan posisi yang tepat untuk tidur. Dan, seringnya keinginan untuk buang air kecil di malam hari dimana hal ini bisa sampai 4 kali diantara jam satu dini hari sampi jam 4 dini hari.

Beberapa minggu menjalang kelahiran anak kedua kami ini, ada begitu banyak doa yang selalu aku naikkan kepada Tuhan, khususnya doa untuk mendapatkan hikmah dan kekuatan untuk menerima apapun yang akan Tuhan berikan kepada kami. Hari-hari ini, aku lalui dengan menenangkan hatiku untuk tidak mengatur Tuhan, apalagi memaksa Tuhan untuk melakukan seperti yang kupinta. Dan harus kuakui itu sangat sulit untuk kulakukan. Mengingat aku merasa berhak untuk berpengharapan. Walau sampai detik ini aku pun belum bisa memahami bagaimana seharusnya berpengharapan yang benar itu. Karena pengharapan yang sering sekali kumiliki saat ini adalah pengharapan yang sesuai dengan rencanaku dan tentu saja sangat bertolak belakang dengan rencana Tuhan. Jadi, yang bisa kulakukan saat ini adalah berserah.


Wednesday, 4 May 2016

Ritual agama

Aku menghabiskan masa kecilku dengan menjadi anak yang religius. Rajin melakukan ritual keagamaan dan sangat aktif di gereja. Puasa, jam doa, pelayanan, membaca ALKITAB dari Kejadian sampai WAHYU sudah kulakukan sebanyak 4 kali selama masa sekolah. Teman-teman di sekitarku pun menilaiku sebagai anak yang sangat religius. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai meninggalkan ritual keagamaan itu. Aku sudah tidak lagi melakukannya, bahkan untuk berdoa pun aku sudah jarang. Aku lebih memilih berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa harus tutup mata, melipat tangan, tundukkan kepala, dan atau di dalam kamar. Semua itu berawal dari kekecewaanku terhadap orang-orang di sekitarku yang juga sangat rajin dalam melakukan ritual keagamaan akan tetapi tidak ada KASIH di dalam kesehariannya.

Berawal dari itu semua, aku pun tidak mau menjadi seperti mereka. Aktif di dalam melakukan ritual keagamaan akan tetapi tidak mengimaninya. Aku melihat ritual itu menjadi sebuah kebiasaan dan sama sekali tidak menjadi berkat bagi orang lain. Aku pun akhirnya memilih jalanku sendiri, yaitu tidak menghentikan ritual keagamaan dan memperbanyak mempraktekkan langsung KASIH itu melalui perbuatanku.

Beberapa orang mengatakan kepadaku bahwa keputusan yang kuambil ini adalah sebagai wujud nyata dari kesombongan rohaniku. Aku menjadi orang yang mengandalkan kekuatan, kepintaran, dan kelebihan yang kumiliki. Aku marah ketika disebutkan demikian pada waktu itu. Walau semakin ke sini, pernyataan itu membuatku semakin berpikir lagi, benarkah aku menjadi demikian? Benarkah cara yang kupilih di dalam berkomunikasi dengan Tuhan menjadikanku orang yang mengandalkan kekuatanku?

Aku telah mengalami banyak hal di usiaku yang masih bisa dibilang muda. Pengalaman yang kualami sudah seperti pengalaman mereka yang berusia 50 tahun. Dan dari hatiku yang paling dalam aku bersaksi bahwa aku tidak akan pernah bisa berdiri tegak, aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti apa aku sekarang, itu semuanya hanyalah karena Tuhan.

Aku bisa menyelesaikan kuliahku tanpa dukungan dana dan psikologis dari orang tuaku, aku hidup di dalam kekurangan, dengan cara bekerja sambil kuliah. Dan aku berhasil melaluinya.
Perjalanan karirku yang penuh dengan ketidakadilan.
Anakku yang diambil Tuhan kembali tanpa aku sempat untuk memeluknya.
Kondisi keuangan rumah tanggaku yang sangat memprihatinkan.
Semua ini bisa kulalui hanya karena ada Tuhan bersamaku. Hanya Tuhan, tidak ada yang lain. Tuhan yang memberikan suami yang begitu sangat mencintaiku dan memanjakanku sehingga aku beroleh kekuatan.

Lalu, bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan kepadaku bahwa aku mengandalkan kekuatanku di dalam melalui itu semua?

Aku akui, aku sangat takut untuk kembali melakukan ritual keagamaan dengan sangat disiplin. Karena dari banyak orang yang kulihat, yang melalukan ritual keagamaan dengan sangat disiplin, tidak ada kasih di dalam dirinya, yang ada adalah penghakiman terhadap orang lain, pengekslusifan diri sendiri. Dan aku tidak mau menjadi seperti itu. Aku tahu, kalau aku melanjutkan kehidupanku dengan menjalankan ritual agama dengan sangat disiplin, aku pun akan terjatuh seperti mereka, menghakimi orang lain.

Tuhan, selidiki aku. Lihat hatiku dan bentuklah itu seturut dengan kehendakMu.


Sunday, 1 May 2016

Menjadikan rumah sebagai HOME, bukan HOUSE.

Di zaman sekarang ini, memiliki rumah sendiri adalah sesuatu yang sangat mahal. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kota besar. Harga rumah dan tanah yang sangat mahal, membuat tidak semua orang bisa memilikinya. Banyak orang sampai hari ini belum memiliki rumah sendiri. Ironisnya, bagi mereka yang telah memiliki rumah, banyak yang tidak bisa menikmati keberadaan rumahnya tersebut, khususnya mereka yang tinggal di kota-kota besar, seperti di Jakarta dan sekitarnya. Mobilitas dan kesibukan yang sangat tinggi menjadi alasan utamanya. Bukan hanya para orang tua, demikian halnya dengan anak-anak muda. Semuanya memiliki kesibukan yang sangat luar biasa, yang menjadikan rumah hanya sebagai tempat untuk tidur. Dan kenyamanan yang ada di dalam rumah lebih banyak dinikmati oleh para pembantu. Di sekolompok manusia lainnya, ada juga yang berpendapat bahwa menghabiskan waktu di rumah itu hanya berlaku bagi mereka-mereka yang tidak gaul, tidak aktif, dan orang rumahan. Di satu sisi, kondisi lingkungan rumah yang kurang kondisif juga menjadi alasan mengapa banyak masyarakat akhirnya lebih memilih untuk mencari kenyamanan di luar rumah. Hubungan yang tidak harmonis di antara anggota keluarga, kesibukan dari orang tua, kurangnya komunikasi yang penuh kasih, menjadikan rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk dijalani. Rumah bukan lagi home sweet home. Rumah hanyalah bangunan saja. Tak heran, apabila akhir minggu telah tiba atau adanya tanggal merah, maka jalanan di kota-kota besar akan menjadi macet. Tempat-tempat hiburan sangat ramai dikunjungi. Seolah-olah meninggalkan rumah telah menjadi keharusan.
Kondisi seperti ini secara tidak disadari telah menjadi budaya bagi masyrakat kita. Bahwa bila hari libur sekolah atau libur kantor tiba, waktunya untuk meninggalkan rumah. Melakukan perjalanan, apakah itu hanya sekedar nongkrong atau berlibur ke tempat hiburan. Bahkan ketika tidak ada libur sekolah atau libur kantor, banyak masyarakat yang mengada-adakan kegiatan hanya dengan tujuan tidak bersedia menghabiskan waktu di dalam rumah, kebanyakan di jalan.
Budaya seperti ini selayaknya haruslah dihentikan. Rumah seharusnya menjadi tujuan utama untuk menghabiskan waktu. Kesibukan di luar rumah, khususnya kesibukan yang tidak memiliki makna seharusnya diminimalisir dan apabila memungkinkan dihilangkan. Bukan berarti melakukan perjalanan atau berlibur itu tidak perlu, akan tetapi menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah dibandingkan di dalam rumah adalah sesuatu yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Tidak semua kegiatan di luar rumah itu harus diikuti. Tidak semua kesibukan di luar rumah itu harus disanggupi. Berbagai macam cara bisa dilakukan agar waktu di rumah lebih banyak dibandingkan dengan waktu di luar rumah. Dan tentu saja, ada begitu banyak kegiatan yang bisa dilakukan di rumah, lebih bermanfaat, lebih produktif, dan lebih sehat untuk kondisi psikologis kita bila dibandingkan dengan kelayapan di luar rumah.
Bersyukur sekali kalau ternyata kondisi yang tidak baik dan telah membudaya ini juga menjadi perhatian tabloid NOVA. Di zaman sekarang ini, di tengah-tengah keberadaan media yang dianggap sudah sudah tidak pro dengan kebutuhan masyarakat, tabloid NOVA hadir untuk menghidupkan kembali, bahagianya menghabiskan waktu di rumah. Melalui tema NOVAVERSARY, #BahagiaDiRumah menjadi bukti bahwa sekelas media cetak yang telah eksis 28 tahun di Indinesia ini pun peduli dengan kebiasaan yang tidak baik ini. Tidak heran, jika tabloid NOVA tetap eksis di Indonesia selama 28 tahun ini, karena tabloid ini bukan hanya mengangkat tema #BahagiaDiRumah pada NOVAVERSARY-nya, tabloid NOVA juga menunjukkan kepeduliaanya kepada masyarakat Indonesia dengan selalu memberikan informasi yang terbaru dan menarik, adanya berbagai macam tips yang cukup mudah untuk dipraktekkan di dalam rumah dan yang pastinya lebih menyenangkan dibandingkan menghabiskan waktu di jalanan. 
Memang harus diakui, membaca belumlah menjadi kebutuhan yang krusial bagi masyarakat kita. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk belajar menyukai membaca. Bagi mereka yang tidak terbiasa membaca, membaca tabloid bisa dilakukan sebagai permulaan, misalnya dengan membaca tabloid NOVA. Di samping informasi yang diberikan cukup ringan, konten bacaannya juga menarik dan informasi yang diberikan adalah informasi terbaru. Tabloid NOVA bisa menjadi refrensi yang baik dalam membantu mengawali kebiasaan membaca. Berbagai macam informasi yang disajikan di dalam tabloid NOVA. Mulai dari cerita-cerita pendek (cerpen), berbagai macam tips, resep-resep masakan, dan berbagi rubrik yang menarik lainnya.
Mencoba resep-resep masakah yang disajikan dalam tabloid NOVA juga bisa dilakukan untuk mengisi waktu di rumah. Setidaknya dengan melakukan hal ini, kita sudah berkontribursi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan juga menghemat sumber daya bensin. Bukankah lebih menyenangkan membaca tabloid NOVA di rumah dibandingkan harus menghadapi kemacetan di jalanan? 
Menghabiskan waktu di rumah bukanlah hal yang negatif. Tidak usah malu dicap sebagai orang yang tidak gaul karena tabloid NOVA menyajikan informasi terbaru yang membuat wawasan lebih luas. Lebih jauh lagi, tabloid NOVA juga memberikan dukungannya agar masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah yaitu melalui tema NOVAVERSARY tabloid NOVA tahun ini, ke-28, #BahagiaDiRumah. Selama 28 tahun, tabloid NOVA bisa tetap eksis di Indonesia, sudah selakyaknya tabloid NOVA mendapatkan apresiasi sebagai tabloid yang siap mengisi ruang-ruang di rumah masyarakat Indonesia. 
Lalu sekarang bagaimana? Masihkah kita akan terus-menerus memilih untuk menghabiskan waktu di luar rumah? Masihkah kita memilih untuk mencari kebahagiaan di luar rumah? Kebahagiaan sejati itu adanya di dalam rumah. Mereka yang bahagia di dalam rumah, maka akan membawa kebahagiaan itu ke mana pun melangkah. Kalaupun saat ini kita memiliki kesibukan di luar rumah, itu hanyalah sebagai pelengkap, karena yang terutama itu adalah kehidupan di dalam rumah. Seperti kata pepatah, sejauh-jauhnya burung terbang, dia akan kembali ke sarangnya juga. Mari bersama-sama dengan tabloid NOVA untuk menjadikan rumah tempat yang paling bahagia untuk kita jalani. Karena hidup hanya sekali, jadi mari melaluinya bersama orang-orang yang kita cintai di dalam lingkungan yang kita sebut HOME.