Sunday, 15 May 2016

Berpengharapan Yang BENAR

Ini adalah minggu kedua aku menjalani masa cuti melahirkanku. Beruntung dari tempat di mana aku bekerja sekarang, aku mendapatkan cuti melahirkan selama 4 bulan, dimana satu bulan aku ambil sebelum melahirkan dan tiga bulan setelah melahirkan. Sesungguhnya, peraturan kantor adalah bahwa cuti melahirkan itu diambil 1,5 bulan sebelum dan 2,5 setelah melahirkan. Akan tetapi karena kami belum menemukan orang yang akan menjaga anak kami setelah dia lahir nanti, aku memilih untuk mengambil lebih lama di masa setelah melahirkan. Selain itu pekerjaan di kantor yang belum bisa aku tinggalkan waktu itu.

Seminggu pertama masa cutiku, aku menjalaninya dengan bersenang-senang sendiri. Bangun tidur lebih lama, menonton, membaca, dan berjalan-jalan santai di sekitar perumahan. Saat ini, di minggu kedua, aku sengaja meminta kepada Josua, suamiku untuk menemaniku di rumah. Aku merasa kesepian tidak ada dia di rumah. Dan aku menyebutnya bulan madu.  Dalam seminggu ini, aku dan Josua menikmati kebersamaan kami berdua di rumah saja. Bermain game puzzle, memasak, belanja, mandi bersama-sama, menonton, dan saling bercerita. Bercerita tentang apa yang kami rasakan dan apa yanga ada di dalam pikiran kami masing-masing.

Josua, adalah satu-satunya yang membuat masa-masa kehamilan keduaku kali ini sangat jauh lebih menyenangkan. Dia adalah satu-satunya orang yang aku butuhkan di dalam menjalani kehamilanku ini. Aku begitu merasa nyaman, damai dan bahagia oleh karena semua perhatian, pengertian, kepedulian, dan rasa cintanya kepadaku. Dia yang selalu memperhatikan setiap detail kebutuhanku, mengutamakan kenyamananku, dan selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang kuinginkan. Walau aku tahu terkadang dari sekian banyaknya permintaanku, dia sebenarnya keberatan untuk melakukan itu. Misalnya untuk menemaniku selama seminggu ini di rumah. Dimana seharusnya dia berangkat ke Bandung untuk mengerjakan tesisnya yang sudah di batas waktu di akhir bulan ini.

Aku tahu, apa yang terjadi pada kami dua tahun yang lalu, dimana kami kehilangan anak pertama kami, menyisakan trauma yang belum bisa kami tangani dengan baik. Rasa takut dan cemas masih terus menemani kami. Dan karena kejadian itu juga, aku tahu bahwa Josua semakin berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadi suami yang selalu ada untukku. Apalagi setelah dia tahu, bahwa hanya dialah seorang yang bisa membuatku merasa nyaman dan bahagia. Di satu sisi, hal ini membuat dia bingung karena selama kehamilanku ini aku menjadi orang yang sangat bergantung sekali padanya, menjadi orang yang manja kalau ada dia. Aku pun tak tahu apakah ini bawaan bayi atau memang karena pada akhirnya aku menemukan orang yang bisa aku handalankan, tempatku bersandar, dan tempatku bermanja ria tentunya. Tak bisa kupungkiri kalau aku juga terkadang memiliki rasa jenuh menjadi pribadi yang mandiri. Adanya Josua membuatku menyadari bahwa aku juga memiliki kebutuhan untuk dimanja, seperti perempuan pada umumnya.

Secara umum, aku sangat bahagia dengan kehamilan kali ini dibandingkan dengan kehamilanku sebelumnya. Aku lebih memiliki banyak waktu untuk beristirahat dan tekanan yang kuhadapi pun jauh lebih ringan, karena adanya dukungan yang positif dari tempat dimana aku bekerja. Selain itu, perjalana ke kantor dan pulang ke rumah pun jauh lebih ramah dengan kemacetan yang lebih bisa ditoleransi.Terbukti di kehamilanku kali ini, usia kehamilanku sudah menjalani 36 minggu. Kalau kehamilan pertamaku hanya sampai di usia 28 minggu dimana diakhiri dengan meninggalnya anak kami, saat ini semuanya sepertinya berjalan dengan baik. Berharap aku memiliki kesempatan untuk melahirkan dan membesarkan anak ini.

Satu hal yang kupelajari adalah bahwa memang sangat betul sekali bahwa adalah sangat penting untuk selalu bahagia, khususnya saat sedang hamil. Aku sudah membuktikannya walaupun belum sampai tamat karena aku belum melahirkan. Setidaknya, kehamilanku yang kedua ini bertahan lebih lama dibandingkan dengan kehamilanku yang pertama. Aku akui selama masa kehamilan pertama, aku sangat stres, dengan tekanan di kantor, perjalanan dari rumah, dan juga tekanan dari orang-orang terdekat yang begitu sangat memancarkan aura negatif. Di kehamilan keduaku, tekanan dari orang-orang terdekat itu masih tetap ada, akan tetapi waktu telah mendewasakanku untuk tidak terlalu memikirkan orang lain. Waktunya untuk memikirkan diri sendiri dan berhenti untuk mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain. Aku pun berhak untuk bahagia dan menikmati hidup ini, adalah sebuah kalimat yang selalu aku tanamkan di dalam diriku sendiri.

Apakah kehamilan keduaku ini berjalan dengan mulus?

Tentu saja tidak. Aku masih tetap menjalani kehamilanku dengan kesendirianku. Dimana seperti yang aku bilang tadi, bahwa Josua masih tetap harus selalu ke Bandung untuk menyelesaikan tesisnya. Aku masih harus tetap mandiri untuk bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Apalagi selama tiga bulan pertama, aku mengalami mual dan pusing, aku harus tetap bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri jika Josua sedang ada di Bandung. Tantangan kedua yang kami alami adalah kondisi keuangan kami. Josua yang saat ini masih sedang kuliah, pengeluaran harian kami menjadi double sementara penghasilan berkurang drastis. Selain itu dalam 9 bulan terakhir ini, dua orang abangku menikah dimana itu membutuhkan uang yang tidak sedikit dan cukup menguras tabungan kami juga.

Di dalam kondisi keuangan kami yang sudah di ujung tanduk ini, aku berharap sekali bahwa aku akan bisa melahirkan secara normal, dengan alasan biaya yang lebih murah. Maklumlah karena kantor dimana aku bekerja tidak akan memberikan fasilitas biaya melahirkan mengingat bahwa aku belum dua tahun bekerja di sana. Akan tetapi, dokter kandungan dimana aku selalu konsultasi mengatakan bahwa aku tidak mungkin bisa untuk lahir normal karena aku pernah mengalami operasi mata yang mengakibatkan adanya jahitan di mata kiriku. Dokter tersebut mengatakan bahwa akan sangat beresiko sekali kalau aku tetap memilih untuk lahir normal, yaitu menyebabkan kebutaan kepadaku.

Aku cukup kecewa dengan vonis dokter ini. Sampai detik ini, aku masih berharap dapat melahirkan secara normal. Selain karena kondisi keuangan kami, aku juga ingin bisa langsung mengasuh anak kami kelak. Aku sudah pernah mengalami operasi caesar sebelumnya dan itu rasanya sangat sakit sekali. Bagaimana aku bisa mengasuh anak kami nantinya jikalau aku pun perlu mendapatkan perawatan setelah operasi?

Memikirkan ini semua membuatku sulit untuk memejamkan mata di malam hari. Sudah seminggu ini aku tidak bisa tidur di malam hari. Selain itu dikarenakan cuaca juga. Aku selalu merasa kepanasan sampai rambut dan bajuku basah kuyup. Hal ini membuatku mual mencium keringatku sendiri yang menurutku sangat bau. Selain itu, sakit punggung yang begitu sangat menyiksa membuatku susah untuk menentukan posisi yang tepat untuk tidur. Dan, seringnya keinginan untuk buang air kecil di malam hari dimana hal ini bisa sampai 4 kali diantara jam satu dini hari sampi jam 4 dini hari.

Beberapa minggu menjalang kelahiran anak kedua kami ini, ada begitu banyak doa yang selalu aku naikkan kepada Tuhan, khususnya doa untuk mendapatkan hikmah dan kekuatan untuk menerima apapun yang akan Tuhan berikan kepada kami. Hari-hari ini, aku lalui dengan menenangkan hatiku untuk tidak mengatur Tuhan, apalagi memaksa Tuhan untuk melakukan seperti yang kupinta. Dan harus kuakui itu sangat sulit untuk kulakukan. Mengingat aku merasa berhak untuk berpengharapan. Walau sampai detik ini aku pun belum bisa memahami bagaimana seharusnya berpengharapan yang benar itu. Karena pengharapan yang sering sekali kumiliki saat ini adalah pengharapan yang sesuai dengan rencanaku dan tentu saja sangat bertolak belakang dengan rencana Tuhan. Jadi, yang bisa kulakukan saat ini adalah berserah.


Wednesday, 4 May 2016

Ritual agama

Aku menghabiskan masa kecilku dengan menjadi anak yang religius. Rajin melakukan ritual keagamaan dan sangat aktif di gereja. Puasa, jam doa, pelayanan, membaca ALKITAB dari Kejadian sampai WAHYU sudah kulakukan sebanyak 4 kali selama masa sekolah. Teman-teman di sekitarku pun menilaiku sebagai anak yang sangat religius. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai meninggalkan ritual keagamaan itu. Aku sudah tidak lagi melakukannya, bahkan untuk berdoa pun aku sudah jarang. Aku lebih memilih berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa harus tutup mata, melipat tangan, tundukkan kepala, dan atau di dalam kamar. Semua itu berawal dari kekecewaanku terhadap orang-orang di sekitarku yang juga sangat rajin dalam melakukan ritual keagamaan akan tetapi tidak ada KASIH di dalam kesehariannya.

Berawal dari itu semua, aku pun tidak mau menjadi seperti mereka. Aktif di dalam melakukan ritual keagamaan akan tetapi tidak mengimaninya. Aku melihat ritual itu menjadi sebuah kebiasaan dan sama sekali tidak menjadi berkat bagi orang lain. Aku pun akhirnya memilih jalanku sendiri, yaitu tidak menghentikan ritual keagamaan dan memperbanyak mempraktekkan langsung KASIH itu melalui perbuatanku.

Beberapa orang mengatakan kepadaku bahwa keputusan yang kuambil ini adalah sebagai wujud nyata dari kesombongan rohaniku. Aku menjadi orang yang mengandalkan kekuatan, kepintaran, dan kelebihan yang kumiliki. Aku marah ketika disebutkan demikian pada waktu itu. Walau semakin ke sini, pernyataan itu membuatku semakin berpikir lagi, benarkah aku menjadi demikian? Benarkah cara yang kupilih di dalam berkomunikasi dengan Tuhan menjadikanku orang yang mengandalkan kekuatanku?

Aku telah mengalami banyak hal di usiaku yang masih bisa dibilang muda. Pengalaman yang kualami sudah seperti pengalaman mereka yang berusia 50 tahun. Dan dari hatiku yang paling dalam aku bersaksi bahwa aku tidak akan pernah bisa berdiri tegak, aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti apa aku sekarang, itu semuanya hanyalah karena Tuhan.

Aku bisa menyelesaikan kuliahku tanpa dukungan dana dan psikologis dari orang tuaku, aku hidup di dalam kekurangan, dengan cara bekerja sambil kuliah. Dan aku berhasil melaluinya.
Perjalanan karirku yang penuh dengan ketidakadilan.
Anakku yang diambil Tuhan kembali tanpa aku sempat untuk memeluknya.
Kondisi keuangan rumah tanggaku yang sangat memprihatinkan.
Semua ini bisa kulalui hanya karena ada Tuhan bersamaku. Hanya Tuhan, tidak ada yang lain. Tuhan yang memberikan suami yang begitu sangat mencintaiku dan memanjakanku sehingga aku beroleh kekuatan.

Lalu, bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan kepadaku bahwa aku mengandalkan kekuatanku di dalam melalui itu semua?

Aku akui, aku sangat takut untuk kembali melakukan ritual keagamaan dengan sangat disiplin. Karena dari banyak orang yang kulihat, yang melalukan ritual keagamaan dengan sangat disiplin, tidak ada kasih di dalam dirinya, yang ada adalah penghakiman terhadap orang lain, pengekslusifan diri sendiri. Dan aku tidak mau menjadi seperti itu. Aku tahu, kalau aku melanjutkan kehidupanku dengan menjalankan ritual agama dengan sangat disiplin, aku pun akan terjatuh seperti mereka, menghakimi orang lain.

Tuhan, selidiki aku. Lihat hatiku dan bentuklah itu seturut dengan kehendakMu.


Sunday, 1 May 2016

Menjadikan rumah sebagai HOME, bukan HOUSE.

Di zaman sekarang ini, memiliki rumah sendiri adalah sesuatu yang sangat mahal. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kota besar. Harga rumah dan tanah yang sangat mahal, membuat tidak semua orang bisa memilikinya. Banyak orang sampai hari ini belum memiliki rumah sendiri. Ironisnya, bagi mereka yang telah memiliki rumah, banyak yang tidak bisa menikmati keberadaan rumahnya tersebut, khususnya mereka yang tinggal di kota-kota besar, seperti di Jakarta dan sekitarnya. Mobilitas dan kesibukan yang sangat tinggi menjadi alasan utamanya. Bukan hanya para orang tua, demikian halnya dengan anak-anak muda. Semuanya memiliki kesibukan yang sangat luar biasa, yang menjadikan rumah hanya sebagai tempat untuk tidur. Dan kenyamanan yang ada di dalam rumah lebih banyak dinikmati oleh para pembantu. Di sekolompok manusia lainnya, ada juga yang berpendapat bahwa menghabiskan waktu di rumah itu hanya berlaku bagi mereka-mereka yang tidak gaul, tidak aktif, dan orang rumahan. Di satu sisi, kondisi lingkungan rumah yang kurang kondisif juga menjadi alasan mengapa banyak masyarakat akhirnya lebih memilih untuk mencari kenyamanan di luar rumah. Hubungan yang tidak harmonis di antara anggota keluarga, kesibukan dari orang tua, kurangnya komunikasi yang penuh kasih, menjadikan rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk dijalani. Rumah bukan lagi home sweet home. Rumah hanyalah bangunan saja. Tak heran, apabila akhir minggu telah tiba atau adanya tanggal merah, maka jalanan di kota-kota besar akan menjadi macet. Tempat-tempat hiburan sangat ramai dikunjungi. Seolah-olah meninggalkan rumah telah menjadi keharusan.
Kondisi seperti ini secara tidak disadari telah menjadi budaya bagi masyrakat kita. Bahwa bila hari libur sekolah atau libur kantor tiba, waktunya untuk meninggalkan rumah. Melakukan perjalanan, apakah itu hanya sekedar nongkrong atau berlibur ke tempat hiburan. Bahkan ketika tidak ada libur sekolah atau libur kantor, banyak masyarakat yang mengada-adakan kegiatan hanya dengan tujuan tidak bersedia menghabiskan waktu di dalam rumah, kebanyakan di jalan.
Budaya seperti ini selayaknya haruslah dihentikan. Rumah seharusnya menjadi tujuan utama untuk menghabiskan waktu. Kesibukan di luar rumah, khususnya kesibukan yang tidak memiliki makna seharusnya diminimalisir dan apabila memungkinkan dihilangkan. Bukan berarti melakukan perjalanan atau berlibur itu tidak perlu, akan tetapi menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah dibandingkan di dalam rumah adalah sesuatu yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Tidak semua kegiatan di luar rumah itu harus diikuti. Tidak semua kesibukan di luar rumah itu harus disanggupi. Berbagai macam cara bisa dilakukan agar waktu di rumah lebih banyak dibandingkan dengan waktu di luar rumah. Dan tentu saja, ada begitu banyak kegiatan yang bisa dilakukan di rumah, lebih bermanfaat, lebih produktif, dan lebih sehat untuk kondisi psikologis kita bila dibandingkan dengan kelayapan di luar rumah.
Bersyukur sekali kalau ternyata kondisi yang tidak baik dan telah membudaya ini juga menjadi perhatian tabloid NOVA. Di zaman sekarang ini, di tengah-tengah keberadaan media yang dianggap sudah sudah tidak pro dengan kebutuhan masyarakat, tabloid NOVA hadir untuk menghidupkan kembali, bahagianya menghabiskan waktu di rumah. Melalui tema NOVAVERSARY, #BahagiaDiRumah menjadi bukti bahwa sekelas media cetak yang telah eksis 28 tahun di Indinesia ini pun peduli dengan kebiasaan yang tidak baik ini. Tidak heran, jika tabloid NOVA tetap eksis di Indonesia selama 28 tahun ini, karena tabloid ini bukan hanya mengangkat tema #BahagiaDiRumah pada NOVAVERSARY-nya, tabloid NOVA juga menunjukkan kepeduliaanya kepada masyarakat Indonesia dengan selalu memberikan informasi yang terbaru dan menarik, adanya berbagai macam tips yang cukup mudah untuk dipraktekkan di dalam rumah dan yang pastinya lebih menyenangkan dibandingkan menghabiskan waktu di jalanan. 
Memang harus diakui, membaca belumlah menjadi kebutuhan yang krusial bagi masyarakat kita. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk belajar menyukai membaca. Bagi mereka yang tidak terbiasa membaca, membaca tabloid bisa dilakukan sebagai permulaan, misalnya dengan membaca tabloid NOVA. Di samping informasi yang diberikan cukup ringan, konten bacaannya juga menarik dan informasi yang diberikan adalah informasi terbaru. Tabloid NOVA bisa menjadi refrensi yang baik dalam membantu mengawali kebiasaan membaca. Berbagai macam informasi yang disajikan di dalam tabloid NOVA. Mulai dari cerita-cerita pendek (cerpen), berbagai macam tips, resep-resep masakan, dan berbagi rubrik yang menarik lainnya.
Mencoba resep-resep masakah yang disajikan dalam tabloid NOVA juga bisa dilakukan untuk mengisi waktu di rumah. Setidaknya dengan melakukan hal ini, kita sudah berkontribursi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan juga menghemat sumber daya bensin. Bukankah lebih menyenangkan membaca tabloid NOVA di rumah dibandingkan harus menghadapi kemacetan di jalanan? 
Menghabiskan waktu di rumah bukanlah hal yang negatif. Tidak usah malu dicap sebagai orang yang tidak gaul karena tabloid NOVA menyajikan informasi terbaru yang membuat wawasan lebih luas. Lebih jauh lagi, tabloid NOVA juga memberikan dukungannya agar masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah yaitu melalui tema NOVAVERSARY tabloid NOVA tahun ini, ke-28, #BahagiaDiRumah. Selama 28 tahun, tabloid NOVA bisa tetap eksis di Indonesia, sudah selakyaknya tabloid NOVA mendapatkan apresiasi sebagai tabloid yang siap mengisi ruang-ruang di rumah masyarakat Indonesia. 
Lalu sekarang bagaimana? Masihkah kita akan terus-menerus memilih untuk menghabiskan waktu di luar rumah? Masihkah kita memilih untuk mencari kebahagiaan di luar rumah? Kebahagiaan sejati itu adanya di dalam rumah. Mereka yang bahagia di dalam rumah, maka akan membawa kebahagiaan itu ke mana pun melangkah. Kalaupun saat ini kita memiliki kesibukan di luar rumah, itu hanyalah sebagai pelengkap, karena yang terutama itu adalah kehidupan di dalam rumah. Seperti kata pepatah, sejauh-jauhnya burung terbang, dia akan kembali ke sarangnya juga. Mari bersama-sama dengan tabloid NOVA untuk menjadikan rumah tempat yang paling bahagia untuk kita jalani. Karena hidup hanya sekali, jadi mari melaluinya bersama orang-orang yang kita cintai di dalam lingkungan yang kita sebut HOME.