Translate

Kamis, 20 Maret 2014

Josua, Hadiah terindah dari Tuhan Yesus

Sudah sebulan lebih berlalu, aku melepaskan masa lajangku. Sudah sebulan lebih, aku menjadi seorang istri sekaligus seorang menantu. Dalam banyak hal belum ada yang berubah secara signifikan. Semuanya masih terlihat normal dan semoga ke depannya juga akan demikian. Beberapa teman menanyakan keadaanku, setelah menjadi seorang istri bagaimana rasanya? Lebih bahagia pasti, itulah jawabanku. Karena aku telah menerima hadiah terindah dari Tuhan, yang merupakan  jawaban doaku selama ini. Walau agak berbeda dari yang kuharapkan, karena sesungguhnya aku tidak mau menikah dengan laki-laki Batak dengan alasan trauma dimana sepanjang jalan kehidupanku aku tidak mendapatkan figur laki-laki Batak yang bertanggung jawab terhadap keluarga.

Di luar perkiraanku, Tuhan memberikan Josua sebagai suamiku. Aku tidak bisa bilang bahwa Josua adalah laki-laki sempurna. Bukan, dia adalah laki-laki biasa yang memiliki kekurangan dan pastinya karena dia orang Batak dan dibesarkan di tanah Batak dengan budaya Batak, kebiasaan Batak pastinya terukir juga di dalam karakternya. Tapi satu hal yang membuatku akhirnya menerima dia adalah karena dia  satu-satunya manusia di dunia ini yang mengutamakan kebaikanku, kebahagiaanku, kebutuhanku di atas segalanya. Mungkin, lakilaki yang mencintaiku tidak hanya dia, akan tetapi manusia yang mau bersedia mengorbankan kepentingannya demi kepentinganku sepertinya hanya dia. Hal ini tidak pernah kudapatkan dari siapapun selama dua puluh enam tahun aku hidup, bahkan dari orang tuaku sekalipun. Selama ini, aku yang harus selalu belajar mengalah dan mengerti. Dengan Josua, aku mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Dia membuatku terlihat spesial dan sangat berharga. Aku menemukan self esteemku dari dia.

Saat ini, bagiku dia adalah segalanya, setelah Tuhan tentunya. Dia mendapatkan tempat yang terutama dan paling utama dalam kehidupanku dan dalam hatiku. Terkadang aku sering membalikkan kenyataan, bagaimana kalau seandainya Tuhan tidak memberikan Josua kepadaku? Apakah aku akan sekuat ini dalam menjalani setiap rencana yang Tuhan berikan dalam hidupku? Apakah aku masih bisa memiliki keseimbangan hidup? Josualah yang telah mengisi setiap lubang-lubang kosong yang ada di hatiku. Dia membuatku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus mengorbankan perasaanku seperti yang kulakukan kepada siapapun selama ini. Dia mengajariku tentang bagaimana rasanya dicintai, diperhatikan, dan diapresiasi. Dan itulah alasan terkuatku untu  mengakhiri masa lajangku dan menerima Josua dari Tuhan Yesus sebagai hadiah terindah yang penah kumiliki. Akhirnya aku menemukan sebuah sandaran, sebuah tempat dimana aku bisa pulang, aku tidak pernah merasakan kesendirian lagi dalam hidup ini. Semua beban hidupku terasa lebih ringan karena ada Josua bersamaku.

Menurut Josua, cintanya kepadaku jauh lebih besar dibandingkan cintaku kepadanya. Menurutku, cinta kami berdua sama besar. Hanya saja, kami menuangkannya dengan cara yang berbeda. Kalau Josua membanjiriku dengan begitu banyak perhatian, aku membanjiri Josua dengan doa. Setiap detik hidupku, aku menyebut namanya dalam doa-doaku. Ucapan syukur yang begitu luar biasa kepada Tuhan Yesus yang telah hadir melalui Josua.

Josua, sama sepertiku bukanlah manusia yang sempurna. Dalam ketidaksemprnaan inilah, kami belajar untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyatukan kami berdua, yang telah menanamkan panggilan menikah di hati kami. Baik Josua dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok hari dan akan  bagaimana kehidupan kami, yang pasti kami berdua sama-sama berkomitmen apapun yang akan terjadi kami ingin melaluinya bersama-sama. Kami berdua tahu bahwa pernikahan ini tidaklah mudah, pernikahan ini bukanlah melulu soal cinta. Tapi kami berdua tahu bahwa Tuhan Yesus akan selalu bersama dengan kami, karena baik aku maupun Josua, sama-sama menerima diri masing-masing dari Tuhan Yesus. Josua menerimaku dari Tuhan Yesus demikian halnya denganku, aku menerima Josua dari Tuhan Yesus.


Rabu, 19 Maret 2014

aku ingin sembuh

Bagi masyarakat dimana aku dibesarkan, apa yang akan aku tulis ini mungkin akan menjadi sebuah aib atau mungkin sesuatu yang negatif dimana seharusnya aku tidak memaparkannya dalam dunia maya. Aku tidak mau peduli lagi dengan apa kata orang. Terlalu peduli dengan pendapat orang lain tidak akan membawa kebaikan juga untukku. Satu-satunya tujuanku untuk menuliskan ini adalah karena aku ingin sembuh. Berharap dengan menuliskannya akan menjadikan lukaku bisa mengering dan mungkin bisa sembuh. Aku melakukan ini hanya untuk diriku sendiri. Aku minta maaf apabila ada yang tidak nyaman dengan tulisan ini. Bagiku, menulis adalah obat. Aku harus menuliskannya.

Pergumulan terberatku (saat ini) adalah bagaimana caranya mengampuni orang tua yang adalah saluran dimana aku bisa ada di dunia ini. Setiap detik, semakin aku mencoba untuk memahami mereka dan mencoba untuk mengerti posisi mereka, maka semakin sakit rasanya luka yang ada di hatiku. Aku pun tidak pernah menyadari kalau ternyata luka yang selama ini selalu aku jaga untuk tidak menyebar kemana-mana ternyata telah melumpuhkan hampir semua ikatan emosionalku dengan mereka. Aku sendiri juga terkadang menyalahkan diriku sendiri yang telah gagal untuk memberikan pengampunan kepada mereka. Dalam banyak detik, aku marah pada diriku sendiri yang tidak kuat untuk menyembuhkan luka itu.

Aku anak keempat dari lima bersaudara, anak pertama dan kedua laki-laki, anak ketiga perempuan, anak keempat aku, dan anak kelima laki-laki. Bagi orang tuaku, anak laki-laki memiliki status yang lebih tinggi daripada anak perempuan. Dan menurut mereka, anak pertama laki-laki itu adalah "kewajiban". Walaupun mereka menyangkalnya, akan tetapi perbuatan mereka selalu cenderung menunjukkan hal ini. Mengagung-agungkan laki-laki. Apalagi karena anak pertama dan kedua adalah pendeta, maka rasa kagum dan kebanggan mereka semakin menjadi-jadi. Dan secara tak langsung memaksaku untuk melakukan hal yang sama juga, mengagungagungkan pendeta. Mereka tidak mengerti bahwa aku memiliki pendapat berbeda mengenai pendeta. Salah satunya, di rumah tidak ada yang namanya pendeta, yang ada hanyalah  ayah, ibu, dan anak. Pendeta itu adanya di rumah ibadah. Karena di rumah yang ada adalah ayah, ibu, dan anak, selayaknya peran itu difungsikan sebagaimana seharusnya.

Aku tahu di dunia ini, tidak ada keluarga yang sempurna, demikian halnya dengan keluarga dimana Tuhan menempatkanku. Ibu yang melahirkanku adalah wanita yang sangat keras. Terkadang dia akan sangat baik sekali seolah-olah dia adalah malaikat Tuhan yang diutus ke dunia ini untuk memberikan suka cita bagi umatnya. Dan dalam banyak waktu, perempuan ini bisa berubah menjadi sangat bringas. Bahkan macan pun kalah dibuatnya. Perkataan yang ke luar dari mulutnya luar biasa kasarnya, sampai setiap orang yang mengenalnya dalam situasi baik tidak akan menyangka bahwa perempuan ini bisa berubah sebringas itu.
Aku sendiri pun mengalami banyak kebingungan dengan karakter perempuan ini. Karena dari sekian waktu yang aku lewati di rumah mereka, yang lebih menempel di otak dan hatiku adalah masa-masa bringasnya dia, maka semakin berjalannya waktu, rasa sayangku kepadanya pun mulai luntur.

Sepanjang yang aku ingat, dia sering sekali memukulku, memakiku, dan mengutukiku. Dia bilang aku adalah pembawa sial baginya, karena dari lima anaknya hanya aku yang menyebabkan dia harus operasi dan menjalani donor darah, yang adalah darah dari suaminya. Aku tahu, itu pasti hari-hari yang berat bagi mereka dengan kondisi keuangan mereka yang saat itu tidak stabil. Dan di usia 10 tahun, aku harus merelakan mata kiriku buta sampai saat ini. Setiap kali dia tidak dalam keadaan emosi yang baik, dia akan mengatakan bahwa aku telah dikutuk Tuhan yaitu dengan menjadi butanya aku. Sungguh, sampai saat ini perkataan ini masih membuatku mengeluarkan air mata. Tidak jarang, dia juga sering mengutukiku bahwa aku  tidak akan pernah merasakan hal yang menyenangkan dalam hidup ini.

Aku tidak memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapatku di rumah mereka. Setiap kali aku mengutarakan pendapatku, mereka akan mengatakan bahwa aku  tidak tahu apa-apa dan lebih baik diam. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, dia akan mengatakan bahwa dia tidak punya uang dan aku harus tahu diri bahwa aku bukan anak orang kaya. Aku nyaris tidak pernah memiliki barang baru. Jikalau aku memiliki barang baru, itu setelah aku menangis dan mengatakan mengapa saudara-saudaraku yang lain dapat yang baru sementara aku harus selalu kebagiaan bekas dari mereka. Karena sikapku yang seperti inilah, mereka mengatakan bahwa aku adalah si tukang protes. Menurut mereka aku adalah anak yang suka membangkang, tidak mau patuh, nakal dan sebagainya. sementara teman-temanku (di luar pengisi rumah itu), mengatakan bahwa aku anak yang baik, sopan, pintar, dan religius. Tentu saja aku belajar untuk lebih mengimani apa kata teman-temanku daripada kata mereka.

Memang benar, bukan hanya aku yang dipukulinya. Dia juga memukul anak-anaknya yang lain. Tapi, entah mengapa sepertinya hanya aku  yang paling tidak bisa mengampuni mereka. Mungkin, karena hanya aku pula di antara kelima anaknya yang tidak dia kuliahkan. Dan ironisnya, sampai detik ini dia tidak mau mengakuinya bahwa dia tidak melakukan usaha yang sama kepadaku seperti yang dia lakukan kepada keempat anaknya yang lain. Dia mengatakan bahwa itu adalah bukti betapa aku telah menjadi anak durhaka yang tidak mengakui usahanya sejak aku dalam kandungannya. Padahal, sama sekali aku tidak pernah mengatakan hal demikian, aku hanya mengatakan bahwa aku kuliah tanpa biaya dari mereka, dan itu memang fakta. Aku mengatakan itu bukan untuk meniadakan apa yang telah mereka lakukan selama ini kepadaku. Biar bagaimanapun, sesuai dengan kebudayaan Timur, bahwa setiap anak memiliki utang kepada orang tuanya karena telah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Walau sekarang aku sering bertanya, apakah pernyataan itu memang benar -bahwa itu adalah utang anak-anak? Karena logikanya mereka tidak pernah diminta untuk dilahirkan. Dua manusia yang telah komitmen untuk bersama-samalah yang menginginkan anak. Dan karena yang mereka yang menginginkannya, Tuhan pun memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut. Jadi, menurutku itu bukan utang seperti yang didoktrin oleh orang tuaku kepadaku.

Bagaimana dengan laki-laki yang kupanggil dengan ayah?
Dia adalah laki-laki yang gagal  dimana seorang laki-laki berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Aku nyaris tidak bisa mengingat apa yang telah dia berikan kepadaku secara materi. Saking dia tidak pernah memberiku apapun. Aku juga nyaris tidak merasakan perhatian dan kasih sayangnya. Dia selalu diam setiap kali aku dipukuli, dimaki, dan dikutuki. Aku mengerti mengapa dia demikian, karena dia telah kehilangan wibawa dengan gagalnya dia membawa uang yang cukup ke rumah.
Dua hal yang paling menyakitkanku di antara hal-hal menyakitan yang lainnya adalah, ketika ibuku mengusirku dari rumah. Ibuku menuduhku mencuri uangnya karena selama enam bulan aku bisa hidup tanpa uang darinya. Dia tidak tahu kalau ketika dia memutuskan untuk tidak melakukan tanggung jawabnya, Tuhan membukakan saluran yang lain untuk bisa memebuhi kebutuh anku. Ayahku yang tidak tahu aa-apa mengatakan kepadaku bahwa mulai hari itu aku bukan putrinya lagi dan dia akan mengumumkan di koran agar aku tidak menggunakan br Nainggolan di dalam namaku lagi. Yang kedua ayahku mengatakan kalau aku tidak pernah mengirimkan gajiku kepadanya. Dalam hati aku berkata, seharusnya kau bertanya dulu pada dirimu sendiri, apakah sebagai ayah kau telah melakukan tanggung jawabmu kepadaku.
Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana aku selalu berusaha menyenangkan hati mereka, melakukan segala sesuatu demi mereka. Memang aku belum bisa memodali dia untuk menjadi caleg seperti yang dia impikan, tapi biarlah Tuhan yang tahu bagaimana aku berjuang untuk membuat mereka bahagia. Dan semenjak perkataan itu dikumandangkan oleh ayahku, kekuatanku pun habis sudah. Cukup sudah aku selalu mengutamakan kebahagiaan mereka. Cukup sudah aku memikirkan mereka dalam setiap perilakuku sampai aku sering lupa untuk memperhatikan diriku sendiri. Cukup sudah. Dan kalau itu mereka nilai, aku menjadi anak durhaka, maka biarlah Tuhan yang menjadi pembelaku.

Aku akui dari segi karakter, orang akan jauh lebih nyaman untuk hidup dengan ayahku dibandingkan dengan ibuku. Tapi tidak denganku. Sepertinya sudah ditakdirkan aku tidak akan pernah nyaman untuk tinggal dengan mereka. Ayahku itu orangnya humoris. Satu-satunya kekurangannya adalah gagalnya dia dalam menunjukkan tanggung jawab kepadaku. Jujur, karena perilaku para lelaki yang ada di rumah orang tuaku, membuatku pernah bersumpah tidak akan menikah dengan laki-laki batak. Aku selalu berdoa jikalau suatu hari nanti aku harus menikah dengan laki-laki Batak semoga dia tidak memiliki karakter laki-laki yang ada di rumah orang tuaku.

Sesungguhnya aku masih merasa bersalah mengatakan hal ini. Karena aku tahu, mereka pasti sayang kepadaku. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Biar bagaimanapun dalam darahku mengalir darah mereka. Akan tetapi, apakah aku memang menjadi anak durhaka seperti yang mereka tuduhkan kepadaku jikalau aku tidak pernah merasakan perhatian dan kasih sayang mereka? Salahkah aku jika yang kurasakan adalah cinta bersyarat dari mereka? Durhakakah aku jika aku tidak bisa memenuhi semua tuntutan mereka? Apakah salahku jikalau aku tidak nyaman berada di dekat mereka? Apakah aku akan menjadi anak durhaka jikalau yang kuinginkan saat ini adalah berada sejauh mungkin dari mereka?

Aku tahu, mereka adalah anak-anak Tuhan juga sama seperti aku. Aku tahu bahwa mereka telah dipercayakan oleh Tuhan untuk menjadi orang tuaku di dunia ini. Tapi, aku sungguh belum bisa Tuhan untuk mengampuni mereka untuk semua yang telah dan tidak mereka lakukan kepadaku. Kau tahu aku Tuhan, Kau tahu isi hatiku. Ampuni aku Tuhan untuk kegagalanku ini. Aku ingin sembuh Tuhan. Aku tidak ingin menyimpan amarah dan akar pahit ini sepanjang hidupku. Mungkin sama seperti mereka yang tidak bisa menunjukkan rasa perhatian dan kasih sayang mereka kepadaku, saat ini aku juga belum bisa menunjukkannya kepada mereka. Hatiku telah dipenuhi dengan akar pahit dan amarah.

Untuk menghibur diri sendiri, aku selalu bersyukur setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk mengenal orang tuaku. Di dunia ini ada jutaan orang yang bergumul untuk bisa mengenal orang tua mereka.
Tuhan, selidiki aku. Ajari aku bersyukur untuk setiap hal yang telah Kau berikan dalam hidupku termasuk untuk orang tua dimana aku bisa mengenalMu. Kau tahu Tuhan, orang tua yang telah Kau percayakan itu, sering sekali dan kerap kali melukaiku, membuatku menangis, menjatuhkan semangatku, dan membuatku jatuh. Tuhan sembuhkan aku.

Aku bukan anak durhaka Tuhan. Dan aku jauh lebih tenang jikalau jauh dari mereka. Dan aku ingin sembuh.

Jumat, 17 Januari 2014

GOKHON DOHOT JOU-JOU








Pernikahan adalah salah satu moment yang diinginkan oleh setiap manusia untuk dijalani cukup sekali dalam hidup mereka. Oleh karena itu, mayoritas pasangan yang ingin melangkah ke tahap ini berusaha untuk menjadikannya sebuah hari yang tak terlupakan dan dapat dikenang sepanjang detak jantung mereka. Itulah yang terjadi dengan kami, aku dan calon suamiku. Kami berdua seperti jutaan calon pengantin lainnya di dunia ini berusaha menjadikan hari itu menjadi hari yang akan indah untuk kami kenang. Dan tentu saja, dalam mewujudkannya, tidak segampang ketika aku akan mengatakan "I DO". Ada  rentetan peristiwa baik dan peristiwa yang membutuhkan air mata mewarnai persiapan ini. Dan untuk semuanya, aku mengucap syukur.

Terbiasa dengan berbagai keruwetan hidup, sedikit banyak membantuku untuk tetap tenang dalam menjalani persiapan kami menuju pernikahan ini. Kalau boleh jujur, justru aku sangat menikmati setiap persiapan teknis yang kami lakukan untuk pernikahan kami ini. Mencari model kebaya, photographer pernikahan, undangan, cincin nikah, run down ibadah pemberkatan, dekorasi, dan sebagainya membuatku semakin lebih semangat untuk menyambut pagi hari, karena akan ada kegiatan yang harus kulakukan. Ya, aku sangat suka menjadi orang sibuk, sangat suka untuk seksi repot dalam suatu event. Mungkin karena itulah, di tengah-tengah kesibukanku mempersiapkan pernikahan kami ini, aku juga menjadi ketua event alumni sekolahku, dimana kedua event  ini berlangsung di bulan dan tahun yang sama. Aku sangat menikmatinya, aku dapat merasakan  adrenalinku berpacu dengan merdu di setiap detiknya.

Kembali ke persiapan pernikahan kami.
Aku tahu dan menerima bahwa dalam setiap persiapan pernikahan tidak akan ada yang sempurna. Akan selalu ada kekurangan. Setiap usaha yang aku dan calon suamiku kerjakan saat ini, bukan semata-mata untuk meminimalisir terjadinya kekurangan, akan tetapi untuk menjadikannya indah untuk dikenang. Seiring dengan persiapan teknis kami dalam pernikahan ini, aku juga menata hatiku untuk menerima setiap kekurangan yang nantinya mungkin terjadi. Menjadikan sesuatu indah untuk dikenang tidak melulu harus menjadikannya sempurna, bukan? Bukankah kami berdua pun menjalaninya di dalam ketidaksempurnaan kami sebagai manusia?

Satu-satunya yang masih mengganjal dalam hatiku terkait dengan persiapan untuk pernikahan kami ini adalah, bila ini dihubungkan dengan mereka yang menyebut dirinya keluargaku. Mungkin bagi para pasangan yang telah melangsungkan pernikahan dengan konsep budaya Batak Toba telah mengerti dengan apa yang kumaksud. Sebenarnya proses persiapan pernikahan Batak Toba itu tidak seribat seperti yang terjadi selama ini. Lalu mengapa prosesnya menjadi sangat ribet? Karena mereka yang disebut keluarga oleh para calon pengantin tidak memiliki pemahaman yang sama dengan budaya Batak Toba. Masing-masing pihak merasa paling tahu mengenai budaya Batak Toba, apalagi mereka yang lahir lebih dulu, punya banyak uang, dan laki-laki. Mereka yang lahir lebih dulu merasa bahwa mereka yang lahir belakangan tidak mengerti apa-apa mengenai budaya Batak Toba, mereka tidak menyadari bahwa zaman sekarang ini begitu banyak cara untuk mengakses pengetahuan mengenai kebudayaan tanpa berdasarkan lamanya menjadi penghuni bumi. Demikian halnya dengan keluarga pengantin yang merasa memiliki banyak uang, merasa memiliki kuasa untuk mengontrol proses pernikahan itu. Dan apalagi kalau dia adalah seorang laki-laki, dia akan merasa bahwa setiap perempuan yang terlibat dalam proses pernikahan ini harus setuju dengan apa yang dikatakannya. Begitulah, pemahaman akan budaya Batak Toba sangat dipengaruhi oleh ketiga hal ini, usia, uang, dan laki-laki. Dan yang membuat persiapan pernikahan dalam konsep Batak Toba menjadi ribet.

Aku tahu pemikiranku ini terlalu ekstrim untuk lingkungan dimana aku dibesarkan, khususnya dalam pola asuh yang aku terima dimana perempuan adalah penghuni kelas dua di dunia, dan ironisnya yang mendoktrin hal itu adalah  seorang perempuan yang telah melahirkanku  ke dunia ini. Konsep pernikahan Batak Toba sesungguhnya sangat unik dan seharusnya menyenangkan untuk dijalani. Adat itu tidak melulu tentang uang dan penghormatan yang berlebihan kepada beberapa pihak. Pernikahan bagi Batak Toba adalah menyatunya beberapa marga untuk menjadi satu komunitas baru yang diinterpretasikan menjadi terbentuknya "jembatan" baru bagi pihak keluarga pengantin perempuan dan lahirnya pohon keturunan bagi pihak keluarga pengantin laki-laki. Dimana tentunya dalam pelaksanaan penyatuan ini tentu saja membutuhkan uang, TAPI BUKAN UANG YANG MENJADI INTINYA. Kalau pengantin mampu melakukan adat dengan kemewahan, itu sesuatu yang patut disyukuri,  sebaliknya kalau pengantin mampu melakukan adat dengan biasa-biasa saja atau bahkan sangat sederhana, apakah kita berhak untuk menghakiminya?

Itulah yang terjadi dalam setiap proses adat pernikahan yang sedang aku dan calon suamiku jalani. Pelaksanaan adat bukan lagi untuk melanjutkan tradisi, melainkan untuk ajang pamer dan gengsi. Mereka yang menyebut dirinya keluarga pengantin, "memakasa" pengantin untuk melakukan segala sesuatu demi keutuhan gengsi mereka. Mereka pun akhirnya membuat standar yang wajib dipenuhi oleh pengantin. Kalau tidak dipenuhi maka berbagai macam tindakan negatif pun akan dilakukan untuk "menghukum" pengantin, mulai dari bersungut-sungut sampai menghakimi pengantin.

Hal lainnya yang membuatku tidak nyaman mengenai persiapan pernikahan kami ini adalah ketika adanya pemahaman dari orang tuaku yang menyatakan bahwa dalam pernikahan kami ini, aku tidak boleh ikut campur. Di satu sisi, mereka mengharapkan agar aku memahami proses adat itu seperti pola pemahaman mereka. Bagaimana cara aku bisa memahaminya, jikalau mereka tidak mau melibatkanku? Dan ketika aku beruaha untuk mendiskusikan pemahamanku mengenai adat tersebut, yang ada mereka menilaiku menjadi sok ngatur.

Usia, uang, dan laki-laki menjadi variabel yang mengusik kenyamananku dalam mempersiapkan pernikahanku. Ketika aku mengatakan usia, itu berarti mereka yang lebih dulu lahir dariku dan selamanya akan menganggapku tidak tahu apa-apa, dan ketika aku mengatakan uang, identik dengan gengsi dan pamer. Aku bukannya anti dengan sesuatu yang mewah, tapi jikalau kita harus memaksakan diri untuk tampil mewah di luar kemampuan materi kita, demi sebuah gengsi, menurutku itu telah menggesar nilai budaya Batak Toba. Sementara ketika aku mengatakan laki-laki adalah mereka yang memposisikan diri mereka hula-hula yang ingin dihormati tanpa terlebih dahulu menunjukkan diri mereka layak untuk disebut hula-hula.

Aku dan calon suamiku sangat mencintai budaya Batak Toba. Kami berdua sama-sama tahu bahwa tidak akan ada pernikahan adat Batak Toba yang sempurna apalagi dengan adanya ketiga variabel di atas (usia, uang, dan laki-laki) tidak ditempatkan dengan posisi yang seimbang. Yang bisa aku katakan sekarang adalah, ini adalah pernikahan kami, dimana karena kecintaan kami akan adat Batak Toba maka kami ingin melanjutkan tradisi itu, menghargai para leluhur kami yang telah mewariskan budaya ini kepada kami. Kami percaya, bahwa para leluhur kami tidak pernah berniat menjadikan setiap prosesi adat Batak Toba itu bertujuan untuk menghancurkan, tapi untuk membangun dan memperkuat. Jikalau saat ini banyak konflik yang terjadi di dalam setiap persiapan pernikahan adat Batak Toba itu semata-mata karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak menghayati akan nilai dari budaya tersebut sehingga terjadi penerapan yang menyimpang.

Meninggalkan budaya Batak Toba bukanlah solusi yang tepat  untuk terhindar dari keribetan prosesi adat Batak Toba. Justru, kalau kita tahu bahwa itu telah menyimpang, jangan pergi, tetap tinggal dan bersama-sama kita untuk memutuskan kesalahan itu. Adat Batak Toba bukan melulu soal uang. Uang yang sedikit  atau banyak tetap dapat bisa melakukan adat. Tidak pernah ada standar yang mutlak untuk melakukan sebuah event adat bagi Batak Toba. Nilai dolar bisa melambung tinggi, akan tetapi untuk biaya pelaksanaan adat masih tetap bisa kita kontrol sesuai dengan budget kita. Sedangkan untuk setiap prosesi yang mungkin melibatkan banyak orang apalagi dengan usia dan jenis kelamin laki-laki, untuk itulah kita perlu banyak membaca, sehingga kita memahami betul untuk apa budaya Batak Toba itu diwariskan oleh para leluhur kita, yang pasti bukan untuk gengsi dan pamer.

Yang kuimani, pernikahan adalah sebuah ikatan dimana bersatunya laki-laki dan perempuan dalam menggenapi setiap rencana Tuhan untuk manusia. Aku percaya, semua orang memiliki panggilan, dan pernikahan adala salah satunya. Dan sepanjang yang kupelajari, pernikahan itu adalah pilihan. Demikian halnya dengan cara pernikahan itu diadakan, karena aku dan calon suamiku mencintai dan menghargai warisan leluhur kami, maka kami menjawan panggilan kami dengan memilih pernikahan kami dilakukan dengan konsep adat Batak Toba. Tidak jadi sebuah perdebatan dengan konsep apa kita menikah, akan tetapi akan lebih baik jikalau kita memilih konsep pernikahan tertentu karena kita mencintainya bukan karena kita ingin menghindari tanggung jawab.

Semoga Tuhan yang telah memberikan panggilan ini memampukan aku dan calon suamiku untuk mempertanggungjawabkannya ketika kami bersama-sama dengan Dia kelak.




Senin, 23 Desember 2013

selamat hari natal

Tahun ini adalah tahun terakhir aku melewati natal dengan status sebagai anak gadis. Tahun depan, akan menjadi tahun pertama dimana aku melewati natal dengan status sebagai nyonya. Sejauh ini tak ada emosi negatif yang kurasakan dalam menjalani natal terakhirku ini, selain aku sangat berharap natal ini akan segera berlalu. Semakin ke sini, aku merasa semakin kehilangan moment natal. Mungkin karena aku berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak merayakannya, jadi moment natal ini semakin tawar kurasakan. Belum lagi dengan komersialisme yang sangat tinggi mengenai moment ini di hampir setiap pusat perbelanjaan. Aku sungguh merindukan moment natal yang sederhana dan khusuk. Berharap aku dan suamiku kelak bisa mewujudkannya dalam kehidupan pernikahan kami.

Bila kukembali ke setiap tahun-tahun hidupku, aku sepertinya nyaris tidak pernah merasakan natal yang menyenangkan dan layak untuk dikenang. Dulu, ketika tinggal dengan orang tuaku, moment natal identik dengan moment pergantian tahun dimana aku melewatinya dengan kesibukan yang luar biasa, yaitu membantu orang tuaku berdagang karena di moment inilah mereka mendapatkan konsumen yang merimpah ruah. Selain kesibukan di rumah orang tuaku, aku tentu saja mengikut berbagai natal dari tiap perkumpulan yang ada di sekitar rumah orang tuaku. Ada natal kampung, natal sekolah, natal sekolah minggu, natal marga, dan sebagainya. Dulu, yang aku tahu natal itu adalah moment untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di dalam maupun di luar rumah.

Setelah ke luar dari rumah orang tuaku, moment natal tidak jauh berbeda. Aku lewati dengan kesibukan di berbagai kegiatan, natal kampus, natal organisasi, dan sejenisnya. Tapi, yang pasti, aku nyaris tidak pernah merasakan kerinduan untuk melewati natal bersama keluarga. Sebaliknya, aku sangat menikmati natal dengan hidup sejauh mungkin dengan keluarga. Tepat seperti saat ini. Hati kecilku sangat tidak ingin pulang ke rumah orang tuaku. Aku tidak merasa bagian dari mereka, dan rumah itu sepertinya tidak menjadi bagian dari hidupku. Lagi-lagi aku harus memilih sesuatu yang sama sekali tidak ingin kupilih.
Sebenarnya aku memiliki pilihan lain, yaitu tidak perlu pulang ke rumah orang tuaku, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya karena ini akan berdampak dengan pernikahanku di tahun depan.

Sngat kontradiktif sekali dengan teman-temanku dan pacarku. Mereka sangat tidak sabar menunggu untuk melewati natal bersama keluarganya. Mereka tidak sabar untuk pulang kampung. Aku merasakan tawar yang setawarnya di kampung halaman dan di rumah orang tuaku. Kalau boleh memilih, aku sangat tidak ingin ke sana. Tapi aku harus melakukannya.

Lalu apakah sesungguhnya aku menyukai natal?
Tentu saja, aku sangat suka natal. Menyadari bahwa Yesus lahir ke dunia ini, mengetahui bahwa Yesus juga pernah menjadi manusia sama sepertiku, memberiku kekuatan baru untuk bernafas. Dengan mengetahui bahwa tokoh idola kita juga pernah bernafas di dunia ini, membuatku semakin bersemangat dalam menjalani hari - hari ini. Sangat disayangkan moment ini hanya bisa aku rasakan sendirian, karena lingkungan dimana aku bermasyarakat sekarang tidak mengakui adanya natal. Dan keluarga dimana aku dibesarkan juga hanya merasakan natal sebagai sesuatu kebiasaan tanpa ada makna yang cukup berarti untuk dikenang.

Bagiku, adanya momet natal mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian, bahwa untuk setiap air mata dan duka yang kualami, Yesus terlebih dahulu berada di sana. Yesus sudah pernah merasakannya. Mengetahui bahwa Yesus juga pernah ada di dunia ini, merasakan kehidupan manusia seperti yang kujalani hari ini, membuatku sangat bersyukur dan berterima kasih.

Ini adalah moment natal terakhir dimana aku berstatus sebagai anak gadis. Aku ingin menulisnya, untuk kukenang di kemudian hari. Bahwa di bulan desember ini, aku bergumul berat untuk bisa diberikan kekuatan menjalani natal di tempat dimana aku tidak ingin melaluinya. Aku ingin menuliskan bahwa bulan desember di tahun ini adalah bulan yang begitu berat untukku. Aku harus berjuang mengampuni orang tuaku, berjuang untuk bisa berdamai dengan masa kecilku yang menyakitkan, berjuang untuk melepaskan semua luka batinku. Karena aku mau sembuh. Aku tidak mau membawa "penyakit" ini dalam kehidupanku pernikahanku di tahun depan.
Aku berharap, natal kali ini bisa kukenang dengan pelepasan rasa sakit dan akar pahit yang selama ini telah aku bawa-bawa dalam hatiku. Aku berharap, Yesus benar-benar lahir di hatiku untuk mengobati setiap lukaku dan menutupi setiap lubang kosong yang ada dalam hatiku. Selamat ulang tahun, Yesus. Ini hatiku yang telah hancur dan terluka, aku bawa sebagai hadiah ulang tahunku kepadamu.