Thursday, 24 March 2016

Mengapa Psikologi?

Ketika tamat SMA, aku tidak pernah berniat untuk memilih jurusan psikologi. Bahkan, sesungguhnya aku tidak tahu-menahu mengenai jurusan ini. Bagiku, yang terpenting hanyalah bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri yang bergengsi di Indonesia ini.

Tahun pertama kuliah di psikologi, aku sama sekali tidak bisa membayangkan akan seperti apa karirku nantinya setelah meninggalkan kampus. Apalagi ketika ada satu dosen yang mengatakan kepadaku bahwa  aku seharusnya tahu diri  bahwa jurusan psikologi itu adalah jurusan untuk orang-orang kaya, bukan untuk anak tukang becak seperti diriku. Dan benar saja melihat rekan-rekan sejawat yang rata-rata berada di kelas ekonomi menengah ke atas, membuatku semakin bertanya-tanya. Apakah memang tempatku disini? Aku nyaris tidak menemukan orang yang berasal dari latar belakang yang mirip denganku.

Frustasi, tidak percaya diri, kurangnya perhatian dan dukungan, membuat kondisiku semakin terpuruk. Belum lagi dengan setiap mata kuliah yang ada membuatku semakin dalam kebingungan. Aku merasa tersesat. Aku sama sekali tidak bisa memahami akan disiplin ilmu yang sedang aku dalami. Pernah terlintas di pikiranku bahwa disiplin ilmu ini sama sekali tidak dibutuhkan di dunia nyata. Setiap mata kuliah yang kuambil di tahun pertama sangat mengambang dan sepertinya tidak memiliki tujuan yang realistis. Aku sama sekali tidak memiliki wawasan mengenai disiplin ilmu yang kudalami. Hal ini membuatku tidak memiliki rasa banggsa sama sekali dengan psikologi. Aku semakin kaget ketika masyarakat memiliki mitos mengenai psikologi. Yang ketika masih kuliah dulu, aku merasa sangat terganggu. Sampai membuatku terkadang ingin melemparkan semua buku bacaan psikologi yang kupunya ke wajah mereka. Biar mereka baca sendiri sesungguhnya apa itu psikologi. Beberapa mitos yang membuatku sangat  terganggu adalah :
  1. Psikologi itu adalah ilmu yang bisa membaca karakter orang hanya dengan bertatap wajah.
  2. Anak psikologi itu mengobati orang gila.
  3. Anak psikologi itu mengetahui bagaimana caranya mengatasi anak-anak yang bermasalah, permasalahan kehidupan setiap manusia dalam setiap umur dan kondisi.
  4. Anak psikologi itu orang-orang aneh
Sampai saat ini, keempat mitos ini membuatku tidak nyaman. Dimanapun aku berada, setiap kali ada yang tahu bahwa aku adalah anak psikologi, maka mereka akan "mengujiku" dengan berbagai pertanyaan mereka. Aku dituntut untuk bisa mengatasi masalah mereka dan menjawab pertanyaan mereka. Apabila aku tidak merespon sesuai dengan keinginan mereka yang ada adalah mereka akan mencibirku, dengan pernyataan katanya anak psikologi.

Sebenarnya aku bisa saja membalas mereka dengan "menguji" mereka kembali sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari. Misalnya seseorang yang jurusan akuntansi memintaku untuk menganalisa kepribadiannya hanya dengan bertatap wajah dengannya. Aku bisa saja membalasnya dengan meminta dia kembali menganalisa keuanganku tanpa aku memberikan data-data yang dia butuhkan. Apakah aku berpeluang menjadi milioner atau tidak? Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu dalam banyak kondisi aku memilih untuk memuaskan mereka sesuai dengan kemampuanku dan ternyata hal ini sangat membantuku semakin memahami mereka yang pada akhirnya membuatku mampu menyimpulkan tipe kepribadian mereka. Walau dalam banyak hal, aku tidak pernah berani untuk mengutarakannya. Alasanku hanya satu, aku tdak memiliki keberanian untuk menghakimi mereka dengan penilaianku yang tidak ilmiah, khususnya ketika karakter yang terbaca oleh analisaku adalah karakter negatif.

Inilah salah satu keunikan dari disiplin ilmu psikologi. Bahwa pemahaman kita tehadap manusia akan semakin berkembang ketika kita membuka hati kita untuk memahami orang lain dari berbagai kebiasaan yang mereka miliki. Jujur, selama masa kuliah aku bukanlah mahasiswa yang menonjol secara akademis. Aku terkesan lamban di dalam mencerna setiap mata kuliah yang ada. Hal ini disebabkan semua bacaannya dalam Bahasa Inggris. Sementara seumur hidup aku tidak pernah belajar Bahasa Inggris, kecuali yang dikurikulumkan di sekolah. Aku juga tidak berkesempatan untuk mendapatkan rangsangan bahasa Inggris. Belum lagi keadaanku yang sangat melarat ketika kuliah, yang selalu harus menangis ke Tuhan untuk disediakan makanan setiap harinya.

Di luar dugaanku masa-masa sulit yang kuhadapi dulu, konflik yang banyak terjadi, dan banyaknya kenalanku yang mengalami gangguan psikologis, adalah praktek psikologi yang sesungguhnya, yang memberiku pemahaman mengenai apa itu psikologi. Dulu bahkan sampai sekarang, terkadang aku masih merasa iri hati dengan mereka yang bisa menikmati masa kuliah hanya dengan memikirkan masalah perkuliahan saja. Tidak seperti aku yang juga harus memikirkan mau memakan apa besok, apakah besok masih bisa tidur di asrama (takut diusir karena tidak bisa bayar), konflik-konflik dalam keluarga, konflik internal dengan diri sendiri. ocehan dari berbagai orang bahwa psikologi itu bertentangan dengan agama, kondisi lingkunganku yang sangat fanatik dengan agama Islam, dimana selama 18 tahun awal kehidupanku adalah kaum mayoritaas, mayoritas orang Batak dan Kristen dengan anggota gereja HKBP.

Saat ini, aku mensyukuri setiap penderitaan yang kuhadapi di sepuluh tahun terakhir ini. Aku bersyukur untuk setiap konflik yang terjadi, aku bersyukur untuk setiap tekanan dan tuntutan hidup yang ada. Karena semua ini membuatku semakin memahami apa itu psikologi, membantuku memahami mengapa Tuhan menyediakan satu kursi untukku di Psikologi Universitas Indonesia.

Dan sekarang aku bisa mendeklrasikan bahwa aku bangga menjadi anak psikologi, walaupun kata orang-orang anak psikologi adalah orang-orang aneh, ilmu ini tidak jelas, mengambang, dan bertentangan dengan ajaran agama, sekarang aku bisa menerima itu.
Mereka yang antipati dengan psikologi yang mengatakan bahwa psikologi itu bertentangan dengan agama, mereka salah besar. Yang kualami justru semakin aku belajar psikologi aku semakin menyadari siapa itu Tuhan di dalam kehidupanku. 

Psikologi adalah disiplin ilmu yang memadang manusia seperti Yesus memandang manusia, yaitu tidak menghakmi. Menerima semua masnusia itu dengan apa adanya mereka. Sejak ke luar dari kampus, inilah yang selalu kuterapkan di dalam kehidupanku. Tidak mengakimi orang lain, walaupun berdasarkan komunikasi atau kebiasaan yang mereka tampilkan terdapat karakter yang  negatif. Bukan kapastiasku untuk menghakimi mereka. Hanya Tuhanlah yang bisa menghakimi manusia. 

Tuesday, 22 March 2016

28 minggu dan 29 tahun

Pagi ini, jam 03.34 aku terbangun dikarenakan suamiku yang sedang di Makasar menghubungiku untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Adanya perbedaan waktu antara Makasar dan Depok, membuat hasianhu salah di dalam memperkirakan waktu. Dia salah membuat alarm, seharusnya dia berencana untuk menghubungiku di jam 06.30 waktu Makasar dimana di Depok iu berarti jam 05.30, sehingga aku tidak perlu bangun terlalu pagi seperti saat ini. Sebenarnya suami sudah mengatakan bahwa jikalau aku tidak bisa tidur kembali, aku diperbolehkan untunk menghubunginya kembali. Akan tetapi, aku tidak mau membuat dia semakin merasa bersalah, dia telah merasa bersalah karena tidak bisa bersama-sama denganku di hari ulang tahunku, dan saat ini dia pun merasa bersalah karena membangunkanku terlalu cepat yang membuatku tidak bisa tidur dan akan berdampak aku akan kekurangan tidur.

Mencoba untuk tidur kembali, mata dan pikiranku sudah enggan untuk bersama-sama dengan kasur dan bantal. Setelah setengah jam kulewati dengan mencoba untuk mendamaikan mataku dengan bantal, dimana hasilnya adalah kegagalan, maka aku pun membuka laptopku dan menulis. Dan disinilah aku, menulis untuk bisa membunuh kesendirianku di hari ulang tahunku.

Aku paling tidak suka dengan kondisi kesendirian. Akan tetapi entah mengapa, Tuhan selalu memberikan kondisi ini kepadaku. Berulang kali aku mengatur untuk tidak mengalami kesendirian ini, berulang kali juga Tuhan menyatakan rencanaNya. Seperti saat ini, ketika suamiku ke Makasar, aku sebenarnya tidak nyaman bila harus sendirian. Aku pun mengatur agar aku memiliki teman di rumah. Aku meminta Winda, Kak Sophia, dan Debora untuk menemaniku di rumah. Mereka sudah setuju awalnya, aku pun senang bahwa aku tidak akan menghadapi kesendirian ini. Akan tetapi Tuhan berencana lain, ketiga teman yang kuharapkan datang untuk menemaniku tidak jadi datang ke rumahku. 

Kecewa iya. Kondisi ini meningatkanku ke kejadian-kejadian lain di dalam hidupku bahwa aku bukanlah menjadi prioritas bagi orang lain. Aku selalu menjadi cadangan dan diwajibkan untuk mengerti kondisi orang-orang di sekitarku. Ini menjadi pelajaran buatku bahwa ketika aku sudah berjanji kepada orang lain dan ketika ternyata ketika ada janji lain yang lebih menarik, maka aku bisa untuk membatalkan janji yang pertama itu.Tidak perlu merasa bersalah. Hidup ini adalah pilihan. Aku tidak harus selalu mnyenangkan hati setiap orang. Yang terutaama adalah apa yang kuinginkan dan apa yang tertarik untuk kulakukan.

Semakin bertambahnya usiaku, aku belajar untuk semakin mengutamakan kepentinganku dan kenyamanan hatiku. Kalau dulu aku selalu mengalah dan mengorbankan hatiku demi orang-orang di sekitarku, sekarang aku sudah membatasi diri untuk tidak mengalah dan berkorban lagi. Aku pun mulai merasa bahwa hatiku juga berhak untuk dibuat nyaman. Walaupun aku harus membayar harga dari keputusan yang kuambil ini, aku semakin tidak memiliki teman. Satu-persatu mereka yang dulu yang membuatku selalu mengalah dan berkorban untuk mereka, setelah aku membatasi diri untuk tidak melakukan itu lagi, mereka pun mundur teratur dari kehidupanku.

Aku merasa kehilangan tentunya. Akan tetapi aku juga tidak boleh menjadi tamak. Sebagai gantinya Tuhan telah memberikan kepadaku seorang suami yang bisa menjadi segalanya bagiku. Dan sebentar lagi pun, Tuhan akan menghadirkan anak kedua kepadaku dan suami. Aku sudah memiliki kehidupan baru yang membuatku akhirnya bisa menerima rasa kehilanganku.

Untuk kehamilan keduaku ini, aku benar-benar berserah kepada Tuhan dan membuka diriku untuk menerima rencanaNya. Apapun itu, aku percaya Dia akan memberikanku kekuatan. Demikian halnya kepada suamiku. Aku percaya kepada Tuhan dan mensyukuri untuk setiap pekerjaan tanganNya kepadaku dan suami.

Terima kasih Tuhan, masih teringat jelas, dulu ketika usia kehamilanku menjelang 28 minggu tepat seperti kondisi saat ini, aku berbaring di rumah sakit. Saat ini, aku bisa duduk disini menikmati hari baru, hari ulang tahunku, dalam keadaaan sehat. Di usia kandunganku 28 minggu, aku berusia 29 tahun. 
Terima kasih Tuhan, ketika orang-orang masih bergumul unutuk mendapatkan pasangan, Tuhan memberikanku suami yang begitu mencintaiku. 
Terima kasih Tuhan, ketika orang bergumul untuk mendapatkan keturunan, Tuhan menginjikanku untuk merasakan kehamilan kedua dimana sampai detik ini, aku dan bayiku dalam keadaaan sehat. Kondisi kehamilanku baik-bai saja.
Terima kasih Tuhan, ketika orang bergumul untuk mendapatkan pekerjaan Tuhan memberikanku berkat pekerjaan yang membuatku semakin dekat kepadaMu.
Terima kasih untuk ketenangan pikiran, untuk kedamaian hati yang selalu Tuhan berikan kepadaku. Berkaryalah Engkau Tuhan di dalam hidupku, jadilah rencanaMu dan berikan aku kekuatan untuk menerima setiap rencanaMu.

Kata orang, berdoa ituh harus spesifik. Aku tidak percaya karena sesungguuhnya Engkau jauh lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hidupku dan untuk suamiku. Kalaupun nanti apa yang Kau berikan tidak sesuai dengan apa yang kami harapan, kami tahu bhwa Kau akan memberikan kekuatan untuk kami bisa menerima itu dengan sebuah keyakinan bahwa itulah yang terbaik untuk kami.

Aku dan suami percaya kepadaMu Tuhan dan menyerahkan kehidupan kami, kehidupan anak kami kepadaMu.



.

Sunday, 21 February 2016

ARTI SEBUAH KEBANGGAAN


Akhir-akhir ini, begitu banyak pro dan kontra mengenai Rio Haryanto, yang akan mengikuti kompetisi di Formula One 2016/2017. Pro karena untuk pertama kalinya orang Indonesia bisa mengikuti kompetisi olah raga mahal ini. Kontra karena ternyata Rio Haryanto membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit, dimana PERTAMINA (perusahaan minyak Indonesia) dan juga Pemerintah Indonesia mendukung sang olahragawan dengan menyumbangakan dana yang katanya seharusnya lebih baik digunakan untuk hal lain, misalnya untuk kesehatan dan pendidikan rakyat Indonesia dibandingkan untuk mendukung seorang Rio Haryanto.

Fenomena ini membuat saya teringat dengan fenomena yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu contohnya adalah ketika akan melangsungkan pernikahan. Mari kita cermati, ketika kita memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, berapa biaya yang dibutuhkan? Mulai dari biaya gedung, biaya makanan, souvenir, pakaian pernikahan, dan biaya-biaya lainnya. Bukankah sebaiknya uang sebanyak itu lebih baik dipergunakan untuk modal usaha pengantin baru? Mengapa tidak cukup hanya menikah di catatan sipil saja, tidak perlu melakukan resepsi  dan atau melakukan acara adat di hotel atau gedung pernikahan?

Tentu saja alasan utamanya adalah karena adanya rasa suka cita, adanya rasa bangga. Pengantin dan keluarga pengantin merasa bersuka cita dan memiliki kebanggaan sehingga perasaaan ini dituangkan ke dalam perayaan dengan resiko mengeluarkan banyak uang. Bahkan tidak sedikit yang memilih untuk berutang! Melangsungkan resepsi dan upacara pernikahan adat di kota besar di Indonesia, MINIMAL membutuhkan dana sebesar Rp 30.000.000,00. Uang sebanyak ini seharusnya bisa dipergunakan untuk modal usaha, mengkredit rumah baru, atau untuk yang lainnya. Akan tetapi, di masyarakat kita, hal ini adalah tindakan yang lumrah. Walaupun biaya resepsi dan acara adat pernikahan mahal, masyarakat kita tidak pernah jera untuk melangsungkan pernikahan di hotel maupun gedung-gedung pernikahan. Buktinya, saat ini bisnis pernikahan berkembang dengan sangat subur. Dan setiap sabtu telah dinobatkan menjadi hari kondangan di kota-kota besar di Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi di komunitas di mana aku dibesarkan. Di dalam komunitasku, pendidikan adalah hal yang terutama. Hanya agar semua anak-anak mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, banyak keluarga-keluarga menengah ke bawah di komunitasku memilih untuk tidak makan tiga kali sehari, rumah hampir roboh, kalau sakit tidak dibawa ke rumah sakit, semua dana diutamakan untuk biaya sekolah anak-anaknya. Mengapa?

Lagi-lagi alasannya adalah karena sebuah kebanggaan bagi para orang tua di komunitasku apabila anak-anaknya mampu memperoleh gelar pendidikan. Sekali lagi, intinya adalah KEBANGGAAN.

Kembali ke Rio Haryanto. Kalau saat ini PERTAMINA dan Pemerintah Indonesia mendukung sang olahragawan ini, menurutku adalah sah-sah saja. Memang benar, biaya yang dibutuhkan sangat besar. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah KEBANGGAAN.
Kalau ditanya apa yang akan didapatkan oleh Indonesia dari dukungan yang diberikan oleh PERTAMINA dan Pemerintah Indonesia? Jawabannya, banyak bangat.
  1. Indonesia akan lebih dikenal di dunia Internasional. Orang-orang di luar sana tidak lagi berkata, Indonesia itu dimananya BALI?
  2. Rasa bangga ketika logo PERTAMINA terpapar di dunia Internasional. Orang-orang di luar sana akan bertanya, apa itu PERTAMINA, dan mereka akan tahu bahwa itu adalah perusahaan minyak di Indonesia. Selama ini, dunia Internasional hanya mengenal SHELL, PETRONAS, dll. Di tengah-tengah gejolak harga minyak sekarang, PERTAMINA, perusahaan minyak Indonesia mampu mendukung seorang olahragawan di ajang olah raga bergengsi ini. Saatnya mengangkat harga diri bangsa Indonesia. Selama ini Indonesia lebih banyak dikenal dengan hal-hal yang negatif, inilah momentum yang tepat untuk menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia itu adalah negara yang besar. Jangan pandang remeh lagi dengan bangsa kita ini.
  3. Langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mendukung Rio Haryanto adalah untuk membangun image dan brand Indonesia yang baru. Untuk membangun brand, tentu saja membutuhkan dana yang besar. Kata siapa biaya branding itu murah? Dan masih bertanya lagi, apa yang akan didapat kalau  Indonesia memiliki branding yang oke di mata dunia? Tidak pernah beli barang branded ya?
  4. Kalau kita jeli mengamati kondisi masyarakat Indonesia, salah satu cara untuk memupuk rasa nasionalisme adalah melalui olahraga. Masih ingat ketika tim sepakbola Indonesia melawan tim sepakbola Malayasia? Betapa nasionalisme kita terpapar jelas di sana, tidak peduli agama apa yang kita yakini, dari suku mana kita berasal, merk gadget yang kita pakai (samsung, apple, BB,etc), semuanya sepakat mendukung timnas. Moment-momen seperti inilah yang dibutuhkan rakyat Indonesia, agar rasa persatuan dan kesatuan itu tetap berkobar. Dan masih bertanya untuk apa rasa persatuan dan kesatuan itu perlu dikobarkan? Ketika pelajaran PPKn di sekolah tidak tidur, kan?

Aku adalah pengikut Yesus. Ketika seorang perempuan bernama Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang sangat mahal, para murid-murid Yesus pun mengkritisi tindakan perempuan itu. Mengapa minyak semahal itu dipergunakan untuk meminyaki kaki Yesus, bukankah minyak itu sebaiknya dijual dan uangnya diberikan kepada fakir miskin?
Jawaban Yesus adalah, "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang miskin akan selalu ada padamu, tetapi aku tidak akan selalu ada bersama-sama kamu ( Mat 26 : 10 - 11).

Lihat saja, sudah 2016 tahun sejak zamannya Yesus, orang miskin ternyata memang masih selalu ada di antara kita. Memodifikasi jawaban Yesus, akan tetapi orang yang berprestasi yang bisa menjadi salah satu peserta kompetisi F1 dari Indonesia tidak akan selalu ada. Buktinya, sudah berapa kali diadakannya kompetisi F1 di dunia ini, baru kali ini Indonesia mencetak seseorang yang bisa mengikuti kompetisi ini.

Dan kalau ada yang bilang bahwa F1 itu bukan olah raga, setidaknya sampai detik ini aku belum pernah melihat pembalap F1 yang memiliki berat badan over weight atau obesitas, melainkan memiliki tubuh yang ideal. Sekilas dapat disimpulkan bahwa mereka pun melakukan olahraga, minimal agar berat badan dan bentuk tubuhnya tetap ideal.

Jadi, sama seperti pemerintah Indonesia dan PERTAMINA, aku pun akan mendukung Rio Haryanto dalam kompetisi F1 2016/2017. Sekali lagi, memang harus dibayar dengan mahal, karena itulah ARTI DARI SEBUAH KEBANGGAAN.