Translate

Sunday, 25 January 2015

kubisikkan rinduku lewat sang surya

Mempersembahkan ilmu yang aku dapatkan adalah salah satu nazarku kepada Tuhan. Adalah perjuangan yang sangat berat bagiku untuk bisa mendapatkan kesempatan belajar dan mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi. Aku tahu hanya dengan usahaku sendiri, aku tidak akan pernah bisa untuk mengecap pendidikan. Oleh karena itu, aku bernazar kepada Tuhan untuk mempersembahkan ilmuku ini kepadaNya sesaat setelah aku mendapatkannya.

Tempat yang tepat bagiku untuk mempersembahkan ilmuku kepadaNya menurutku adalah dengan mengaplikasikan ilmuku di bagian kemanusiaan. Dan aku memilih organisasi non profit atau orang-orang lebih mengenalnya dengan LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) istilah kerennya, NGO (Non Goverment Organization). Aku memulainya dengan mengikuti kegiatan kemahasiswaan dalam program Pengabdian Masyarakat, setelah itu aku magang di LSM yang khusus menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Dan setelah berkelana dari tiga perusahaan yang mengutamakan profit, di tahun kelima setelah saya melepaskan jaket kuning, Tuhan akhirnya memberikan saya kesempatan untuk menunaikan nazarku  berkarya di NGO. Sungguh anugrah yang luar biasa ketika Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Tidak tanggung-tanggung, Tuhan memberikanku kesempatan untuk melayaniNya di dalam organisasi yang besar dan sudah cukup memiliki brand di tengah-tengah masyarakat serta dengan posisi yang cukup strategis, yaitu menjadi Recruitment Coordinator.

Aku masih terus melanjutkan rasa syukurku kepada Tuhan karena Dia memberikan pekerjaan ini tepat ketika kondisi keuangan kami sudah di ujung tanduk dan keadaan emosiku yang terguncang. Iya, Tuhan memberikannya tepat pada waktunya. Seperti yang kuimani, Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Januari 2015, bulan keempat setelah anakku dipanggil kembali olehNya, Aku tidak pernah menyangka akan bisa melewati ini semua. Tidak mudah, tapi aku percaya dengan adanya Tuhan, aku percaya aku pasti akan bisa melewatinya.
Aku akui, aku masih sering menangis. Aku belum bisa 100 persen ikut bahagia untuk mereka yang melahirkan bayi mereka dengan sehat. Sakit, iya. Seperti yang sudah-sudah, aku tidak memiliki pilihan lain, selain menjalaninya.

Setidaknya, aku masih bangun di pagi hari. Menghirup udara pagi, merasakan sinar matahri, dan mengerjakan yang menjadi bagianku. Di samping itu, aku memiliki banyak tanggung jawab di kerjaan yang baru, yang memintaku untuk fokus dan memberikan yang terbaik. Setiap kali aku bekerja di kantor yang sekarang, aku memiliki kesempatan untuk meletakkan dukaku dan fokus untuk melayani Tuhan. Akhirnya aku bisa tertawa di tengah-tengah tangisku.

Satu hal yang kuimani, Tuhan tahu dan akan memberikan apa yang kubutuhkan. Dia sudah mencukupkan kebutuhanku selama 27 tahun, aku percaya Dia juga akan mencukupkan kebutuhanku untuk tahun-tahun kehidupanku kelak.
Dan buatmu, anakku Jordan, baik-baiklah bersama Tuhan di sana, sampai kita bertemu kembali. Walau aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku dan papamu akan baik-baik saja di sini. Setidaknya kau tahu bahwa kami akan tetap bersama-sama menjalani ini semua. Aku sungguh ingin melihatmu tumbuh bersama aku dan papamu di sini. Ada banyak cerita yang ingin aku bagikan. Tapi, mungkin aku harus menyimpannya dulu.

Oh iya, hari ini nenekmu, ibunya papamu ulang tahun. Dialah yang memberikan nama Jordan untukmu. wanna say something to her? kau bisa melakukannya dengan mengunjunginya lewat mimpinya.

Yang pasti anakku, aku akan belajar untuk selalu mengucap syukur.

Kelemahanku adalah kekuatanku

Saya tumbuh dengan tidak selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan. Dan kalau pun pada akhirnya saya mendapatkan apa yang saya butuhkan, hal itu tidak datang begitu saja. Saya harus melalui banyak proses terlebih dahulu yang artinya saya harus menunggu untuk bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan. Menunggu bukan dengan berdiam diri saja, melainkan harus dengan perjuangan. Seiring bertambahnya usia, membentuk saya menjadi manusia yang takut untuk mengakui akan kebutuhan saya. Hingga akhirnya membawa saya menjadi pribadi dimana saya tidak mengetahui apa yang saya butuhkan dan atau apabila saya tahu bahwa saya membutuhkan sesuatu, maka saya akan berusaha untuk menggantikannya dengan hal yang lain, dengan yang lebih murah tentunya. Contohnya adalah setelah melahirkan, berat badan saya belum kembali ke ukuran tubuh sebelum saya melahirkan (masa gadis). Sebelum hamil berat badan saya 46 kg. Selama hamil berat badan saya bertambah 20 kg. Alhasil, tidak ada satupun baju-baju di lemari saya yang bisa saya pakai setelah saya menyelesaikan masa kehamilan saya. Adalah kebutuhan saya untuk membeli pakaian baru, akan tetapi dengan kondisi perekonomian Josua dan saya yang terguncang, saya belum mampu untuk membeli pakaian baru. Satu-satunya pilihan yang saya punya adalah dengan melakukan diet yang sangat ketat sehingga berat badan saya turun 15  kg dalam waktu dua bulan dan beberapa pakaian di lemari saya sudah mulai bisa saya kenakan kembali. Sampai sekarang saya masih tetap melakukan diet dengan harapan saya bisa mengenakan kembali semua pakaian yang ada di lemari saya. Target saya 48 kg. Sekarang berat badan saya 50 kg.
Menurunkan berat badan bukanlah hal yang mudah karena dibutuhkan komitmen dan kemauan yang tinggi. Dan itu adalah perjuangan yang sangat berat. Saya sering sekali menahan rasa lapar yang luar biasa dan sering pusing selama melakukan diet ketat ini. Inilah salah satu contoh betapa saya harus sangat berjuang untuk bisa memenuhi kebutuhan saya.Tidak ada yang mudah di dalam kehidupan saya. Orang - orang tidak pernah tahu bagaimana proses yang saya jalani, Bahkan walaupun mereka tahu dengan proses yang saya jalani, mereka tetep memilih untuk cemburu. Padahal apabila mereka bersedia mengikuti prosesnya saya yakin mereka pun pasti bisa.

Kondisi-kondisi yang tidak mudah untuk saya di dalam memenuhi kebutuhan membuat saya ketakutan untuk menyatakan dan memiliki kebutuhan. Dalam banyak kasus saya merasa lelah untuk diproses dan berjuang, membuat saya memilih untuk tidak memiliki kebutuhan. Dengan harapan saya tidak perlu merasakan sakitnya ketika kebutuhan saya tidak terpenuhi.  Lebih menyakitkan lagi ketika saya telah berjuang akan tetapi hasilnya tidak seperti yang saya harapkan sementara ada beberapa kenalan saya yang dengan mudah mendapatkan apa yang saya butuhkan. Disinilah saya sering sekali melontarkan, dunia ini tidak adil. Tidak adil untuk manusia seperti saya yang adalah rakyat jelata ini.

Sejarah hidup saya ini  membuat orang menilai saya menjadi orang yang tidak memiliki selera karena saya berusaha membunuh setiap kebutuhan saya, hidup dengan sangat sederhana dan hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan, memiliki sikap mengalah yang tinggi karena saya sudah dibentuk untuk tidak memiliki keinginan,  dan tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain karena orang-orang terdekat saya acap sekali  merendahkan saya dan menjatuhkan mental saya.

Mungkin, saya terlalu melebih-lebihkan setiap duka yang terjadi di dalam hidup saya, Saya hanya mencoba untuk menguraikan setiap kejadian negatif yang pernah singgah di awal-awal kehidupan saya. Setiap masalah kehidupan saya menjadi seperti kisah di sinetron Indonesia yang berputar-putar tanpa solusi. Di sisi yang lain, beberapa orang menjadi sangat cemburu kepada saya untuk setiap keberhasilan yang saya raih di dalam hidup ini. Ada yang mengatakan bahwa saya menjadi orang yang sombong dan sok. Dan tak jarang dari mereka berharap agar saya mengalami sesuatu yang negatif. 

Saya tidak bisa menyalahkan mereka untuk menilai saya seperti itu. Dan saya juga tidak bisa tidak menyalahkan diri saya untuk  setiap penilaian negatif  mereka. Walau harus saya akui itu adalah hal sulit bagi saya untuk tidak peduli dengan setiap penilaian negatif mereka.

Setiap hari saya selalu berusaha untuk menata kehidupan saya. Memang benar, saya tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tua saya. Tapi sekarang saya memiliki pilihan untuk menjadikan hidup saya lebih bahagia. Saya belajar untuk tidak melulu berenang di dalam masa lalu saya yang penuh air mata. Saya belajar untuk mensyukuri dan mencintai segala yang telah terjadi di dalam hidup saya. Lagi-lagi ini bukanlah hal yang mudah bagi saya karena luka itu sudah bermetaforfosa menjadi kebencian.
Saya membenci masa lalu saya karena telah menjadikan saya menjadi pribadi yang saya benci. Setiap hari saya belajar untuk mencintai diri saya sendiri dan berkompromi untuk setiap karakter yang saya benci. Sampai detik ini saya terus belajar dan belajar.

Mungkin hal yang aneh, tapi saya menjadi orang yang tidak peduli dengan diri saya sendiri. Saya sering sekali menghukum diri saya sendiri dan menyiksa diri saya. Dan hal itulah (mungkin) yang membuat saya kehilangan bayi saya. Secara tidak sengaja, dia terkena dampak dari setiap hukuman yang saya berikan kepada tubuh saya.
Hukuman yang paling sering saya berikan kepada tubuh saya adalah membiarkan tubuh saya mengalami kesusahan dan menyiksanya melampaui batas ambang. Contoh konkritnya adalah seperti yang telah saya sebutkan di atas, bagaimana saya menyiksa diri saya sehingga berat badan saya turun 15 kg dalam waktu dua bulan. Saya juga sering sekali memaksakan tubuh saya untuk melakukan suatu pekerjaan di luar kapasitas fisik saya, tidak peduli dengan kesehatan tubuh saya. Saya juga tidak memberikan perhatian kepada tubuh saya. Tidak seperti perempuan-perempuan yang sangat peduli dengan kulit, rambut, kuku, dan bagian tubuh lainnya. Tak ada satu pun bagian tubuh saya yang mendapatkan  perawatan khusus, bahkan menggunakan lotion pun saya sangat jarang. Saya membiarkan kulit saya terlihat kering dan gersang. Dan saya juga sering sekali membiarkan lambung saya kelaparan.

Saya memang lebih memilih untuk tidur dibandingkan dengan makan. Tapi sesungguhnya bukan berarti saya tidak mau makan. Apabila makanannya enak, saya bisa menghabiskannya dengan porsi tiga kali kuli bangunan. Misalnya memakan saksang dan babi panggang! Akan tetapi saya menahan diri saya untuk setiap makanan enak, alasan awalnya karena keterbatasan uang yang saya miliki dulu. Hal ini merasuk ke dalam darahku sehingga walaupun saya sudah punya cukup uang saat ini untuk membeli makanan yang ingin saya makan, saya memilih untuk menghukum tubuh saya dengan tidak makan. Ketika saya sakit pun, saya memilih menahan sakit dan tidak mau memakan obat. Menurut dokter yang membantu saya melahirkan, saya adalah  pasiennya yang paling kuat menahan rasa sakit. Hal ini terbukti dimana 12 jam setelah saya melakukan operasi caesar, saya telah bisa berjalan ke toilet dan berjalan-jalan di sekitar kamar. Apalagi saat itu kondisi saya sedang berduka dimana bayi saya meninggal. Dokter, bidan, dan perawat sudah kuatir bahwa proses pemulihan setelah saya operasi caesar akan berlangsung lama. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Perawat heran ketka melihat saya telah bisa duduk, berdiri, dan berjalan. Bahkan perempuan yang melahirkan dengan normal pun belum tentu bisa melakukan hal tersebut dalam 12 jam setelah melahirkan kata mereka.

Sesungguhnya saat itu dan sampai sekarang hati saya remuk. Saya tidak menangis di depan dokter, bidan, dan perawat atau di depan keluarga karena saya tahu hanya Tuhanlah tempat yang tepat dimana saya bisa menangis. Adalah hal yang tabu bagi saya untuk memperlihatkan kerapuhan saya di hadapan orang lain. Saat itu, seperti yang sudah-sudah saya berusaha untuk melawan rasa sakit fisik yang luar biasa di bagian perut  dan memaksakan diri untuk secepat mungkin ke luar dari rumah sakit demi satu tujuan, untuk memiliki waktu pribadi dengan Tuhan. Saya ingin menumpahkan semua kesakitan fisik dan jiwa  hanya kepadaNya. Saya tidak bisa melakukan itu jika aku tetap di rumah sakit. Tanggal 4 September 2014 jam 18.00 saya menjalani operasi ceaser, tanggal 6 September 2014 jam 10 pagi saya telah ke luar dari rumah sakit. Di samping itu, alasan kedua mengapa saya memaksakan diri saya untuk melawan rasa sakit setelah operasi adalah karena faktor biaya. Rumah sakit dimana saya melahirkan tidak menerima BPJS sementara dari kantor dimana saya bekerja, tidak ada allowance untuk melahirkan. Dan adalah tabu bagi saya  meminta uang dari mertua sesusah apapun kehidupan perekonomian Josua dan saya. Saya lebih memilih mati dibandingkan harus meminta-minta kepada orang tua dan mertua.
Hal ini dikarenakan permintaan saya sudah terlalu sering ditolak oleh orang tua saya, sehingga membuat saya bersumpah kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan pernah meminta apapun lagi kepada mereka. Saya memilih mati kelaparan dibandingkan harus meminta kepada mereka.
Ketika saya kecil saya ingat saya ingin sekali dibelikan boneka. Tapi orang tua saya menolaknya. Saya menangis. Lalu ibu saya memukuli saya dan mengatakan jangan pernah mencoba-coba untuk menangis di depannya. Saya harus tahu diri, hanya anak orang kaya yang boleh memiliki boneka, sementara saya adalah anak tukang becak. Ironisnya di hari yang sama ketika saya meminta dibelikan boneka, orang tua saya memberikan mainan pistol-pistol ke abang dan mainan masak-masakan ke kakak saya. Ketika saya memprotes hal itu, ibu saya mengatakan bahwa abang- abang saya berhak mendapatkan hal itu sementara kakak saya yang dibelikan mainan juga dengan maksud saya bisa meminjamnya. Tentu saja kakak saya baru akan meminjamkannya setelah dia bosan dengan mainan. Saya ingat saat itu akhirnya saya membuat boneka-bonekaan dari sarung dan bermain-main sendirian. Apakah saya cemburu melihat saudara-saudara saya yang memiliki maiann baru? Tentu saja, tapi saya tidak berbuat apa-apa selain menangis dan bermain-main dengan boneka-bonekaan dari sarung yang saya buat sendiri. Oh iya, selisih umur saya dengan abang-abang dan kakak saya, empat tahun, tiga tahun, dan dua tahun dengan saya.
Waktu saya kelas dua SD, lagi-lagi ibu saya membelikan sandal merek carvil kepada abang-abang dan kakak saya. Waktu itu merek ini sangat terkenal. Ketika orang tua saya memberikan sandal-sandal itu, saya menunggu akan mendapatkan bagian juga. Ternyata tidak! Saya kembali menanyakan kepada mereka, untuk saya dimana? Jawab orang tua saya, ada banyak sandal bekas milik abang-abang dan kakak saya, nah saya boleh memakai itu semua. Lalu saya bilang, tidak ada yang sesuai dengan ukuran saya. Kalau begitu tunggulah kamu besar, jawab orang tua saya.
Beberapa hari kemudian kaki saya bengkak. Saya tidak tahu mengapa. Seorang kakek yang adalah customer tetap di warung kopi orang tuaku mengatakan bahwa aku telah tarhirim.  Tapi, orang tuaku tidak memperdulikannya, menurut mereka nanti juga akan normal kembali. Lalu si kakek tersebut bertanya kepada saya, apa yang menjadi keinginan saya. Lalu saya pun menceritakan bahwa saya ingin dibelikan sandal juga. Saya tidak memiliki sandal.
Sore harinya, si kakek datang dan membawakan saya sandal baru. Memang bukan sandal carvil seperti milik abang-abang dan kakak saya. Tapi hal itu telah memberikan kebahagiaan pada saya dan ajaibnya kaki saya yang bengkak langsung kempes.
Ada lagi cerita, orang tua saya membelikan tas baru kepada abang-abang dan kakak saya, tapi tidak untuk saya. Jawaban orang tua saya hanya satu, saya masih memiliki tas-tas bekas milik abang-abang dan kakak saya dimana tas-tas tersebut bukan hanya sudah buruk tapi sudah banyak cacatnya. Seperti biasa aku menangis dan mengancam tidak mau sekolah. Ternyata orang tua saya malah senang saya tidak ke sekolah untuk membantu mereka berjualan. Buru-buru saya tarik kembali ucapan saya, saya memilih sekolah dibandingkan harus berjualan dengan ibu saya. Di samping saya tidak mau berjualan, saya juga tidak mau dekat-dekat dengan ibu saya yang selalu memukuli saya dan menjatuhkan mental saya.
Mungkin karena kesal melihat saya menangis terus, ayah saya akhirya membuatkan saya tas dari karung tepung roti merk segitiga biru, dimana tali tasnya dibuat dari sumbu kompor. Awalnya saya tidak mau menerimanya dengan alasan saya malu memakainya ke sekolah. Teman-teman saya akan mengejek saya dengan tas itu. Saya ingin tas baru seperti yang dimiliki oleh abang-abang dan kakak saya. Papa saya marah dan mengatakan kalau saya terlalu banyak maunya dan tidak tahu berterima kasih. Saya semakin sedih mendengar ucapannya sekaligus merasa bersalah. Saya bukannya tidak tahu berterima kasih tapi saya tidak mau tas yang ada tulisan segitiga birunya. Saya mau tas baru seperti layaknya tas sekolah pada umumnya! Tapi saya tidak memiliki pilihan, saya terpaksa memakainya karena tas bekas milik abang-abang dan kakak saya sudah banyak cacatnya dan tidak layak pakai lagi. Seperti dugaanku, teman-teman saya di sekolah mengejek saya. Saya ingat saya sering menangis di sekolah karena diejek oleh teman-teman saya.

Di kelas tiga SMP untuk pertama kalinya saya mendapatkan tas baru. Dan tentu saja bukan dari orang tua saya. Melainkan dari salah satu customer yang sering datang ke warung kopi, yang kebetulan adalah marga Nainggolan, marga yang sama dengan ayah saya. Dia membelikan saya tas baru karena menurut dia saya adalah anak yang baik. Oh iya, ada satu fakta di dalam kehidupan saya bahwa banyak customer orang tua saya yang mengatakan saya anak yang baik, cantik, dan pintar. Akan tetapi tidak menurut orang tua dan saudara-saudara saya. Dan ketika ada yang memuji saya, maka ibu saya dengan sangat tegas akan menngingkari pujian itu dan mengatakan yang sebaliknya. Ibu saya akan mengatakan, kalau saya itu pembangkang bukan anak baik, saya hitam dan tidak cantik, yang cantik itu adalah kakak saya yang berkulit lebih terang dari saya, soal kepintaran, ibu saya akan mengatakan untuk apa pintar di sekolah? Memangnya dengan pintar saya bisa mendapatkan makanan? Intinya ibu saya jauh lebih membanggakan kakak saya kepada orang-orang dibandingkan dengan saya.

Masih banyak lagi kekecewaan dan sakit hati yang ditorehkan oleh orang tua saya kepada saya. Dan itulah PR saya sekarang untuk saya bisa menikmati kehidupan saya. Saya tidak akan pernah meminta mereka untuk berubah. Saya hanya berharap saya bisa mensyukuri setiap luka yang telah mereka paku di dalam hati dan pikiran saya karena saya tahu tanpa itu semuanya saya tidak akan pernah bisa berdiri dengan kaki saya sendiri. Walau banyak luka, perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu, dan dengan kekuatan dari Tuhan saya beriman dan berharap, suka cita itu akan menjadi milik saya.


Wednesday, 21 January 2015

Upah malas adalah kemiskinan

Memiliki rumah di Jabodetabek dengan hasil kerja keras sendiri, bukan pemberian orang tua atau hadiah orang lain adalah sebuah prestasi bagi generasi muda di zaman ini. Josua dan aku menjadi salah satu pasangan yang masuk ke dalam kategori tersebut (menyombongkan prestasi sekali-kali baik untuk kesehatan jiwa). Adalah karna Tuhan hingga Josua dan aku bisa berada pada tahap ini. Semuanya hanya karena DIA. Itu adalah fakta yang tidak akan pernah aku pungkiri.

Rumah yang Josua dan aku miliki, bukanlah rumah yang berukuran istana, bukan juga berukuran gubuk. Lingkungan fisik sangat menyenangkan dengan udara yang begitu segar untuk dihirup. Satu-satunya kekurangan dari rumah yang kami miliki ini adalah, orang-orang yang ada di sekitar perumahan kami ini. 

Aku tidak bisa menutup mata dan meniadakan kenyataan bahwa kehidupan perekonomian masyarakat yang ada di sekitar perumahan kami sangat jauh dari kata cukup. Tidak heran hal ini menimbulkan kecemburan sosial bagi masyarakat setempat. Kecemburuan mereka dituangkan dengan memalak kami para penghuni perumahan dengan sangat buas dan tamak.
Selama hampir satu tahun tinggal di perumahan ini, Josua dan aku sudah berulang kali dikecewakan oleh masyarakat setempat, mulai dari mereka yang berprofesi sebagai tukang kebun, tukang sampah, tukang ojek, pembantu, dan lain sebagainya. Hal ini membawa Josua dan aku ke kesimpulan untuk meminimalisir kontak dengan masyarakat setempat. Sebisa mungkin, apabila Josua dan aku membutuhkan bantuan, kami lebih memilih untuk merekrut mereka yang bukan masyarakat setempat.

Menurutku, adalah hal yang wajar penghuni perumahan memiliki perekonomian yang lebih baik karena kami bekerja keras untuk mendapatkannya. Bukan seperti mereka yang dari terbit matahari sampai tenggelamnya hanya bengong dan bersolek di rumah. Sungguh sangat tidak adil menurutku, mereka mengharapkan mendapatkan banyak uang hanya dengan melakukan pekerjaan ringan. Itupun kalau dikerjakan dengan benar. Dalam banyak situasi, mereka melakukannya hanya asal-asalan saja jauh dari standar yang telah disepakati.

Inilah salah satu dampak negatif dari kemalasan. Aku sangat prihatin menyaksikan fenomena ini. Begitu banyaknya masyarakat kita yang adalah pemalas akan tetapi memiliki hasrat yang besar utnuk mendapatkan uang banyak.
Apa yang terjadi di sekitar perumahan di mana Josua dan aku tinggal juga menjadi gambaran kasar kondisi msyarakat kita. Kita terlalu silau dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang lain. Kita menutup mata dengan usaha yang telah mereka lakukan untuk mendapatkan kekayaan itu. Sampai saat ini, aku masih percaya bahwa mereka yang bukan pemalas akan selalu cukup dan kalau beruntung akan memiiliki kekayaan melimpah.

Aku sering sekali gregetan menyaksikan kehidupan masyarakat di mana aku tinggal. Kok bisa ya mereka bisa betah di rumah hanya dengan saling pandang-memandang? Kok bisa ya, otak mereka ga jalan untuk menghasilkan sesuatu? Kok bisa ya tubuh mereka tidak pegal tanpa aktivitas?
Kehadiran perumahan yang begitu banyak di sekitar pemukiman bukan menjadi cambuk buat mereka untuk berusaha lebih keras lagi di dalam menghasilkan sesuatu. Aku heran, bagaimana caranya otak mereka hanya bisa sampai untuk memalak kami yang tinggal di dalam perumahan?
Kami yang tinggal di perumahaan, harus bangun pagi-pagi, menghadapi kemacetan, pulang malam untuk bisa mendapatkan kehidupan yang nyaman. Sementara mereka? Mereka tidak melakukan apapun tapi mereka mengharapkan dapat upah yang besar. Logika darimanakah itu?

Bersyukur selalu

Beberapa waktu lalu aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan dokter jiwa. Bukan karena keinginan sendiri melainkan karena aku mengikuti proses seleksi karyawan di sebuah organisasi. Singkat cerita aku didiagnosa mengalami ketidakstabilan emosi. Jujur, aku  shock  dengan hasil diagnosa dokter tersebut karena ini bukan kali pertama aku mengikuti psikotest dan belum pernah dinyatakan bermasalah dengan emosi. 

Alasan yang paling masuk akal yang terpikirkan olehku saat itu adalah kondisiku yang baru saja kehilangan bayi pertamaku ketika aku menjalani psikotest. Bukan hanya kehilangan bayiku, aku juga memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku yang alhasil keadaan ekonomi keluargaku terguncang dengan sangat kuatnya. Kedua hal itu sudah cukup untuk memporak-porandakan emosiku, menurutku.

Ternyata ketika berdiskusi lebih dalam lagi dengan si dokter jiwa, dia mengatakan bahwa akar dari ketidakstabilan emosiku adalah kealpaan sosok ayah dan ibu di dalam hidupku. Kondisi ini sudah berakar dan menodai hampir semua kehidupanku. Ditambah lagi dengan kondisiku yang baru saja kehilangan bayiku dan pekerjaanku semakin memperburuk kestabilan emosiku. 
Bagaimana mungkin aku mengalami kealpaan sosok ayah dan ibu di dalam kehidupanku sementara karakter mereka begitu kuat di dalam karakterku. Sampai saat ini aku belum bisa menjadi diriku sendiri hanya karena mereka begitu kuat menyatu di dalam karakterku. Dalam banyak kasus, aku sampai tidak bisa membedakan yang mana karakterku yang sesungguhnya. Bukan hanya karakter, banyak orang yang mengatakan bahwa secara fisikpun aku sangat mirip dengan ibuku. Sesuatu yang sangat kubenci dan tidak ingin kudengar.

Setelah bertemu dengan dokter jiwa, aku berdiam diri dan memutar kembali perjalananku. Aku mencoba menganalisa diriku sendiri. Aku berusaha melihat kehidupan seorang Rani di setiap usia yang kuingat khususnya ketika hal yang tidak menyenangkan menyapaku. Kesimpulan yang kudapat adalah semakin aku memutar perjalananku, semakin aku tidak percaya pada diriku sendiri kalau itu adalah aku. Ingin sekali aku memeluk Rani-Rani yang ada di dalam memoriku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa hidup ini sangat menyenangkan untuk dijalani. Bahwa ada begitu banyak cinta di dalam kehidupan ini.

Aku akui, aku bukanlah anak kebanggaan dari ayah dan ibuku. Bukan juga kebanggaan dari tulang, nantulang, namboru, amangboru, oma tua, bapa tua, dan opung seperti saudara-saudaraku yang lain yang menjadi favorit di dalam keluarga. Ada tidaknya aku di dalam keluarga inti kami dan di dalam keluarga Nainggolan dan Silaban tidak akan berdampak signifikan dalam kehidupan mereka. Seandainya aku meninggal terlebih dahulu, aku akan sangat mudah untuk dilupakan karena aku bukan siapa-siapa bagi mereka. 

Faktanya, aku tidak mau menjadi tidak siapa-siapa. Aku tidak mau dilupakan begitu saja. Untuk itu, aku berusaha menarik perhatian mereka dengan prestasiku. Tujuannya satu, hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa aku juga berhak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Bukan hal yang mudah untuk selalu bisa berprestasi apalagi mereka tidak memberikan support  yang aku butuhkan. 
Hasilnya,  aku tetap tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang itu. Setiap keberhasilan yang kuraih menjadi pedang bermata dua bagiku. Keberhasilanku membuat ego mereka terluka dan seperti yang sudah-sudah mereka melampiaskan rasa sakit mereka kepadaku. Aku tidak pernah menduga kalau  mereka pun akan melakukannya di hari bahagiaku, di hari pernikahanku. Untuk hal itu, sampai detik ini aku belum bisa memaafkan mereka. Menurutku disitulah kestabilan emosiku dilumpuhkan. 

Aku tahu, bukanlah pemikiran yang dewasa kalau aku menyalahkan orang tuaku, keluargaku untuk ketidakstabilan emosi yang kualami. Walau aku tidak bisa memungkiri juga kalau sampai saat ini aku masih memendam rasa benci kepada mereka. Dimana sebagai orang yang mengenal Yesus, aku dituntut untuk menghormati mereka karena biar bagaimanapun merekalah yang dipilih Tuhan untuk menjadi mediaku ada di dunia ini.

Untuk menjaga agar aku tetap waras, aku belajar bersyukur untuk setiap hal kecil di dalam hidupku. Bersyukur untuk pekerjaan baru yang kudapatkan sekarang. Bersyukur untuk berat badanku yang kembali mendekati angka 50. Bersyukur untuk pakaian selama masa gadis sudah mulai bisa aku pergunakan kembali. Bersyukur untuk makanan dan minuman yang masih bisa kunikmati. Dan yang terbesar bersyukur untuk suamki, Josua yang sangat aku cintai dan mencintaiku.