Translate

Sunday, 22 March 2015

Percaya Saja!

Enam bulan sudah sejak Tuhan memutuskan untuk mengambil kembali anak kami. Aku akui sampai saat ini aku dan suami masih belum bisa mengikhlaskannya dengan seutuhnya. Masih ada amarah yang belum bisa kami lepaskan begitu saja. Baik itu kepada kondisi kami saat ini yang tidak ramah kepada kami, kepada diri kami masing-masing, dan (mungkin) kepada Tuhan. Akan tetapi, aku pribadi terus menerus memaksakan diri untuk beriman kepada Tuhan walau aku tidak mengerti akan rencanaNya di dalam kehidupanku dan suamiku.

Hari ini, aku mengingat kembali setiap detik yang kumiliki bersama anak kami. Setahun yang lalu, persis di tanggal ini, aku sudah mulai merasakan kehadirannya. Tuhan sudah menghadirkannya di dalam kandunganku. Aku mengingat bagaimana aku selalu melawan ngantuk yang sangat luar biasa setiap kali pagi datang, menghadapi kemacetan Jakarta  dalam perjalanan ke kantor dan pulang ke rumah, tekanan dari target kerja di kantor, proses adaptasi dengan keluarga baru, bayang-bayang masa laluku yang kerap menyapa, dan minimnya dukungan moril yang aku terima. Hingga akhirnya detik-detik dimana Tuhan mengambil anak kami.

Berada di posisi ini, satu hal yang aku akui, aku tak akan pernah bisa berdiri tegar sampai saat ini jikalau bukan karena ada Tuhan yang memberikan kekuatan. Di dalam setiap air mata, Tuhan hadir menghapus air mataku. Tiap hari aku semakin dikuatkan untuk bisa meyakini bahwa inilah bagianku, yang harus aku terima dari Tuhan. Aku berulang kali menyatakan di dalam diriku bahwa apapun yang kumiliki itu semuanya milik Tuhan. Oleh karena itu, aku harus siap sedia untuk memberikannya ketika Tuhan menginginkannya kembali. Saat ini anak kami yang Dia minta kembali, ke depannya Dia juga akan meminta yang lain termasuk diriku sendiri. Semuanya akan kembali kepadaNya. Aku dan segala yang kumiliki. 

Aku sangat bersyukur sekali bisa memahami tentang kepemilikan ini. Sesungguhnya hal ini telah berulang kali diperdengarkan di hadapanku bahwa aku dan segala yang kumiliki adalah milik Tuhan. Kembalinya anak kami kepadaNya semakin membantuku di dalam pemahaman ini. Dan ini adalah berkat yang luar biasa ketika aku akhirnya bisa memposisikan diriku sebagai orang yang terberkati yaitu memiliki kesempatan untuk memiliki apa yang menjadi milik Tuhan. Walau mungkin sangat singkat bila dibandingkan dengan orang - orang di sekitarku, setidaknya aku pernah memiliki kesempatan itu. Dan saat ini, masih banyak lagi milik Tuhan yang ada padaku yang harus aku kelola dengan sebaik mungkin, sebelum Tuhan pada akhirnya memintanya kembali.

Pemahamanku akan kepemilikan ini, menjadi hadiah ulang tahunku dari Tuhan. Terima kasih Tuhan, untuk akal yang Kau berikan di dalam membantuku memahami bahwa aku dan segala yang kumiliki adalah milikMu. Bahwa bila tiba waktunya, aku dan segala yang kumiliki akan kembali kepadaMu juga. Berikan aku Roh Kudus, agar aku bisa mengelola setiap milikMu yang masih ada di dalamku.




Sunday, 1 March 2015

Ajari aku Tuhan

Sampai sekarang aku masih belum mengerti bejana seperti apa yang akan Tuhan bentuk di dalam kehidupanku. 
Aku ingat sejak pertama sekali aku menyadari bahwa hubunganku tidak akan pernah baik-baik saja dengan ibuku. Yaitu saat itu usiaku 14 tahun, doa yang selalu aku naikkan adalah bantu aku Tuhan untuk tidak membenci perempuan yang telah Kau izinkan menjadi ibuku. Akan tetapi, semakin aku menaikkan doa ini, semakin aku tidak kuasa untuk tidak membencinya. Dan rasa kebencianku semakin menjalar kepada keluarga intiku. Saat ini bukan hanya kepada ibuku, tetapi juga kepada ayahku, kepada saudara-saudara yang juga dilahirkan oleh ibuku. Rasa benciku semakin berakar.

Tuhan, aku akan memberharui doaku. Bantu aku untuk melepaskan kebencian ini. Kalau dengan seiring perjalanan kehidupanku aku telah mennyuburkan rasa benci ini, saat ini aku butuh bantuanMu untuk melepaskan kebencian ini.
Ajari aku untuk menerima bahwa inilah jalan kehidupan yang telah Kau tuliskan untukku, aku memang terlahir dengan tidak merasakan kasih sayang dari mereka. Ajari aku berhenti mengharapkan mereka untuk mengasihiku. Karna aku yakin itu sudah tidak akan mungkin terjadi. Itu hanya akan membuatku semakin terluka.

Terima kasih Tuhan, kalau Kau memberikanku kesempatan untuk merasakan semua ini. Aku bersyukur di tengah-tengah keluarga intiku yang mengabaikanku, Tuhan memberikan keluarga baru yang begitu mengasihiku, yaitu suami, para ipar, dan kedua mertuaku. Ajari aku untuk tidak terlalu sering melihat masa laluku dan mengharapkan perubahan dari keluarga intiku. 

Aku mau fokus dengan apa yang kumiliki sekarang. Bukan dengan apa yang tidak kumiliki. Memang benar aku memiliki ayah, ibu, abang, kakak, dan adik. Akan tetapi sejak tingkah laku mereka di saat-saat hari bahagiaku (baca. pernikahanku), aku sudah tidak kuat lagi untuk berbohong bahwa aku bukanlah bagian dari mereka. Aku hanya akan diterima apabila aku bisa memberikan mereka uang, menyanjung-nyanjung mereka, dan membiarkan mereka mengatur hidupku. Cukup sudah, kalau dulu aku masih berharap dengan melakukan ketiga hal ini, aku akan mendapatkan sedikit cinta dari mereka, saat ini aku sudah menyerah untuk melakukan itu Tuhan. Toh, Tuhan juga sudah memberikan cinta dari keluarga suami kepadaku.

Aku mungkin bisa menghapus mereka dari hidupku, akan tetapi sampai saat ini harus aku akui aku belum bisa untuk menghapus dampak dari ketidakadaan cinta mereka di dalam awal kehidupanku. Aku akui karena mereka, aku tidak percaya bahwa aku berhak dicintai dengan tanpa syarat.
Aku akui karena mereka, aku merasa bersalah untuk bahagia.
Aku akui karena mereka, aku membenci diriku sendiri.
Dan aku akui karena mereka, aku menilai Tuhan seperti bagaimana mereka terhadapku yaitu bahwa Tuhan hanya akan memberikan yang kubutuhkan ketika aku berhasil memenuhi target.

Tuhan, aku sungguh-sungguh ingin dipulihkan.
Tuhan, aku sungguh-sungguh tidak ingin menjadi gila dengan semua ini.
Tuhan, kumohon ajari aku untuk mempercayai Engkau bahwa Kau tidak akan memberikan sesuatu kepadaku bukan karena Kau tidak mau tapi karena memang itu bukan kebutuhanku.
Ubah pola pikirku Tuhan. Jangan biarkan semua fakta yang terjadi saat ini kepadaku semakin membenarkan bahwa hubunganku denganMu memiliki pola yang sama dengan hubunganku terhadap orang tua biologisku.
Ajari aku mengimani bahwa Kau tidak mengasihiku dengan pamrih. Orang tuaku, saudara-sauadarku, sahabatku-sahabatku, mungkin melakukan itu, tapi ajari aku Tuhan kalau Kau tidak akan seperti itu. Kau menerimaku apa adanya. Kau mencintaiku sebagaimana aku adanya. Kau tidak akan pernah menuntutku. Kau tidak akan meninggalkanku, mencercaku, mengutukku ketika aku gagal menyenangkanMu. Kalaupun aku tidak memiliki apa yang kuinginkan, jawabannya hanya satu karena aku tidak membutuhkannya. Bukan karena aku dihukum, bukan karena aku dibenci, bukan karna aku ditinggalkan olehMu. Ajari aku Tuhan.


Wednesday, 25 February 2015

aku anak durhaka

Aku terlahir menjadi pribadi yang tidak mendapatkan sesuatu dengan mudah. Bahkan, aku nyaris tidak pernah mendapatkan apa yang kubutuhkan. Berulang kali dalam berbagai lapisan kehidupanku, aku harus menurunkan standar kebutuhanku dan belajar untuk mensyukuri apa yang tidak ada. Aku menyadari hal ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang kudapatkan dari mereka yang aku sebut orang tua. Sepanjang ingatanku, aku dipaksa untuk selalu mengalah terhadap setiap keadaan dan kepada setiap orang, khususnya kepada mereka yang disebut keluarga. Ketika aku menolak untuk mengalah, maka mereka akan men-judge- ku pembangkang dan suka melawan.

Aku dididik untuk selalu berkorban. Senjata ampuh mereka yang mereka tahu akan meluluhkan hatiku yang lembut ini (wueek) adalah bahwa uang mereka sudah habis untuk kebutuhan anak-anak mereka yang lain. Tidak ada lagi yang tersisa untukku. Mereka memaksaku untuk mengasihani mereka. Jadi, sepanjang hidupku aku bisa menghitung dengan jari tangan kanan, berapa kali aku mendapatkan barang-barang yang kubutuhkan dalam keadaan baru. Mayoritas hidupku aku lalui dengan menjadi penonton ketika saudara-saudariku memamerkan barang-barang baru mereka. Ketika aku melakukan protes, mereka akan mengatakan bahwa suatu hari nanti barang-barang mereka yang masih baru itu juga akan jatuh ke tanganku. Jadi, tidak perlu merasa iri hati. Dan seperti biasa, aku pun harus mengalah dan menunggu ketika barang itu sudah kedaluarsa. 

Tak jarang, dari bibir mereka juga keluar pernyataan yang mengatakan bahwa aku adalah anak sial. Hal ini didukung akan setiap kali aku membutuhkan sesuatu, tepat saat mereka tidak mampu untuk memenuhinya alias tidak ada rejeki. Berbeda dengan anak-anaknya yang lain, ketika anak-anaknya yang lain membutuhkan sesuatu, selalu saja dicukupkan, atau mereka akan berusaha mencukupkannya dengan berbagai cara. Setiap anak selalu membawa rejeki,  itulah kata mereka. Tapi tidak berlaku untukku. Kata mereka, aku bukanlah pembawa rejeki kepada mereka, selama memperanakkan aku yang ada adalah pengeluaran dan pengeluaran. Dia yang aku panggil ibu akan menambahkan pidatonya dengan mengatakan bahwa di antara kelima anaknya, hanya aku yang lahir di rumah sakit. Dimana pada saat itu, dia nyaris meninggal karena kekurangan darah. Dia yang aku panggil ayah juga nyaris meninggal karena dia mendonorkan darahnya kepada ibuku tanpa sarapan terlebih dahulu. Pidato bak suara gempa bumi itu masih berlanjut dengan mengumandangkan ketika di usiaku yang kesepuluh, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan aku kehilangan salah satu penglihatanku. Kejadian ini menguras tabungan mereka dan bahkan membuat mereka sampai memiliki utang untuk biaya pengobatanku. Lagi-lagi mereka mengatakan bahwa inilah bukti nyata betapa aku adalah pembawa sial bagi mereka. Satu lagi pernyataan mereka yang aku amini di dalam hatiku (dulu) bahwa setiap anak yang lahir di rumah sakit adalah anak nakal. Karena umumnya perempuan-perempuan di kampung, melahirkan di rumah masing-masing atau di rumah bidan.

Adalah pemandangan yang sangat menyakitkan untukku ketika anak-anaknya yang lain mereka berkati akan menjadi anak yang sukses sementara aku dikutuk tidak akan pernah bisa menikmati kenyamanan hidup dunia ini. Dan karena demi untuk membuktikan bahwa kutukan ini tidak akan terjadi, aku pun berusaha ekstra untuk memenuhi kebutuhanku. Dampak positifnya, hidup gratisan, meminta tolong/bantuan, tidak ada dalam kamus kehidupanku. Apabila aku membutuhkan sesuatu, maka aku harus bekerja untuk bisa memenuhinya. Lebih baik mati daripada harus menikmati kegratisan.
Di mata mereka aku adalah anak durhaka, egois, memntingkan diri sendiri, perhitungan terhadap keluarga, dan sederet hal negatif lainnya yang mereka tujukan kepadaku. Hal ini sangat berbeda dengan penilaian yang diberikan oleh mereka yang ada di luar mereka. Dan tentu saja, hal ini disebabkan mereka tidak pernah mengenalku.

Jujur, aku selalu tergoda untuk menghapus mereka dari ingatanku. Seandainya  matra Obliviate (mantra penghapus ingatan pada serial Harry Potter) benar-benar ada. Mungkin aku akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Sikap mengalah dan berkorban yang didoktrin mereka kepadaku sepertinya sangat terpatri dengan begitu kuat padaku. Hal ini membuatku sering sekali merasa bersalah karena telah menyalahkan mereka untuk setiap kepahitan dan penderitaan yang kulalui selama aku hidup dengan mereka. Hati kecilku selalu mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan juga sama seperti aku. Aku tidak berhak menghakimi mereka. Apabila sudah seperti ini, akhirnya aku memilih untuk marah kepada Tuhan dan mempertanyakan MENGAPA?

MENGAPA aku tidak bisa merasakan cinta dari mereka?
MENGAPA aku merasa tertekan dan terintimidasi bersama-sama dengan mereka?
MENGAPA aku tidak mau bersama-sama dengan mereka?
MENGAPA aku sangat bahagia ketika tidak mendengar berita dari mereka?
MENGAPA hidup jauh dari mereka adalah kebahagiaanku?

Banyak puisi yang mengatakan bahwa keluarga adalah yang paling penting di dunia ini. Lalu mengapa aku tidak merasakan hal yang demikian dengan mereka. 

Jujur, hal baik yang kulakukan atau yang mungkin akan kulakukan kepada mereka semata-mata hanyalah agar mereka tidak berkomentar negatif kepadaku. Walau aku tahu, hal itu tidak akan mengubah penilaian mereka terhadapku. 

Sejujurnya, aku sangat berharap dengan statusku yang telah menjadi seorang istri, aku ingin sekali mereka benar-benar menjauh dari kehidupanku. Aku sangat tidak nyaman sekali ketika mereka mencampuri kehidupanku. Aku ingin sekali mereka menghapusku dari pohon keluarga mereka seperti yang pernah dikatakan oleh dia yang aku panggil ayah. 
Tapi, di budayaku orang batak, dimana kontrol sosial sangat kuat, hal itu akan menjadi pembunuhku. Karena adalah hukum yang absolut bahwa orang tua tidak pernah salah, ketika orang tua salah kembali ke hukum pertama.
Jadi, adalah mukjizat kalau sampai orang tuaku akan meminta maaf kepadaku untuk setiap tindakan mereka yang membuatku menjadi nyaris gila seperti saat ini. Yang ada adalah, aku yang harus meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kulakukan, seperti yang sudah-sudah. Dan, aku tidak mau menjadi gila. Akan kubuktikan sesulit apapun kehidupan yang telah mereka berikan kepadaku, Tuhan akan berikan jalan untukku bisa menjalaninya dengan sangat mudah.

Mungkin, apabila aku tidak belajar psikologi, aku sudah menjadi orang gila benaran. Mungkin aku akan seperti teman-temanku yang sudah menjadi gila. Aku yakin mereka gila karena pola asuh dari orang tua mereka yang kurang lebih sama tidak manusiawinya seperti yang terjadi padaku. Bedanya, aku tahu posisiku dimana mempermudahku untuk mendapatkan pilihan yang lebih baik untukku. Aku tahu, tidak akan ada yang tahu persis bagaimana sakitnya dan perihnya yang kurasakan. Yang pasti, aku tidak akan berhenti untuk hidup bahagia. Aku akan terus berjuang untuk memaafkan mereka dan belajar mencintai mereka. Aku pasti bisa bahagia walau aku tidak memiliki cinta dari orang tuaku dan saudara-saudaraku. Aku pasti bisa mendapatkan cinta di tempat lain, yang tidak aku temukan dari mereka. Hubungan darah tidak akan selalu berarti keluarga.

Terkadang aku bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa dalam sepuluh titah Allah tidak ada yang dikhususkan untuk kelalaian orang tua terhadap anak? Aku merasa semakin terluka, dimana orang tuaku selalu membenarkan tingkah laku mereka dan menghakimiku menjadi anak durhaka.
Tidak mudah aku menghapus doktrin mereka yang mengatakan bahwa aku adalah pembawa sial. Selama bertahun-tahun di dalam hidupku, aku mengimaninya, bahwa aku adalah pembawa sial. Dan ketika aku nyaris bisa menghapus doktrin itu, mereka  mengumandakan doktrin baru kepadaku, bahwa aku adalah anak durhaka. 



Saturday, 21 February 2015

Panggilan hidup

Oprah Winfrey adalah tokoh idolaku. Aku mengidolakannya karena dia telah menjadi inspirasiku untuk berjuang dan mengejar impianku. Pengalamannya ketika dia diproses untuk menjadi seperti yang sekarang ini, membuatku semakin memahami bahwa di dalam hidup ini, mereka yang mau diproseslah yang akan bisa menikmati hidup. Salah satu perkataannya yang paling menyentuhku adalah bahwa setiap manusia memiliki panggilan di dalam hidupnya. Ada yang terpanggil menjadi ibu rumah tangga, ada yang terpanggil menikah, ada yang terpanggil menjadi karyawan swasta, ada yang terpanggil menjadi pegawai negeri sipili alias PNS, ada yang terpanggil untuk berwiraswasta alias menjadi enterpreneurship, dan bahkan ada yang terpanggil untuk menjadi pendeta atau mereka yang berkarya di rumah-rumah ibadah. Intinya setiap manusia memiliki panggilan untuk menghasilkan.

Pernyataannya ini aku artikan sebagai aplikasi dari apa yang telah Yesus katakan di dalam 1 Korintus 12;12-27. Kita adalah anggota-anggota tubuh Yesus, dimana Yesus yang menjadi kepalanya. Layaknya seperti anggota-anggota dalam satu tubuh, setiap manusia memenuhi panggilan itu sesuai dengan fungsinya. Ada yang berperan sebagai tangan, kaki, kulit, mata, dan sebagainya.
Jadi, bagaimana mungkin mata berkata kepada tangan, "Aku tidak membutuhkan engkau?" Atau sebaliknya, tangan mengatakan bahwa keberadaan mata tidak dibutuhkan.

Ironisnya itulah yang terjadi saat ini di lingkungan kita. Satu anggota tubuh merasa dirinyalah yang paling dibutuhkan dan anggota tubuh yang lainnya tidak dibutuhkan. Adanya strata yang demikian membuat mereka yang terpanggil menjadi anggota tubuh yang  terlihat kecil menjadi minder dan tidak percaya diri. Sebaliknya anggota tubuh yang terlihat besar menjadi sombong dan gila hormat. 
Di dunia bisnis atau perkantoran, mereka yang memiliki jabatan sebagai Supervisor sampai ke jabatan Direktur akan lebih diagungkan dibandingan dengan mereka yang hanya seorang staf biasa atau sekelas dengan office boy. Padahal apabila kita merujuk kepada apa yang dikatakan Yesus bahwa kita semua adalah anggota tubuh Yesus dimana tidak ada satupun dari setiap anggota yang lebih baik dibandingkan dengan anggota tubuh yang lainnya.

Adanya pengkotak-kotakan ini menjadikan manusia semakin serakah. Hal ini dianggap manusiawi karena tidak ada manusia yang tidak ingin disanjung dan dihormati. Posisi dan jenis pekerjaan seseorang menjadi indikator apakah seseorang itu layak untuk dihormati atau tidak. Tentu saja posisi dan jenis pekerjaan ini ujung-ujungnya akan berakhir dengan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan.
Aku yang bergelut di bidang Human Resource (HR) juga melakukan hal yang sama. Kami para HR selalu melakukan pengklarifikasian posisi dan jabatan atau istilah kerennya disebut dengan job analysis,job description, and job evaluation. Seperti yang sudah aku sebutkan di atas, tujuannya adalah satu untuk dapat menetukan upah yang akan didapatkan oleh seseorang. Bersyukurnya aku, di tempatku bekerja sekarang, adanya pengklarifikasian posisi dan jabatan ini murni hanya untuk membantu kami di dalam memberikan apresiasi terhadap seseorang dimana besarnya apresiasi ini ditentukan oleh beban kerja yang dimiliki. Selebihnya, budaya kerja di kantor kami adalah memperlakukan seluruh staff dengan sama. Tidak diperkenankan untuk merendahkan posisi dan jabatan yang lain. Jadi bisa dipastikan bahwa budaya menjilat atasan, asal atasan senang, dan saling sikut dengan rekan di kantor nyaris tidak ditemukan di kantorku yang sekarang ini. Karena kami semua, yang bekerja di kantor itu selalu diingatkan melalui kebaktian-kebaktian yang kami adakan bahwa kami semua adalah anggota tubuh Yesus dimana Yesus adalah kepalanya. Atasan kami adalah Tuhan Yesus, kalaupun saat ini pengklasifikasian posisi dan jabatan masih diterapkan,hal ini bertujuan agar kami melakukan fungsi kami masing-masing dengan lebih sistematis.

Aku rindu, semua perusahaan yang ada di dunia ini melakukan hal sama. Aku rindu setiap lapisan masyarakat melakukan hal yang sama. Mengimani bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh Yesus dimana Yesus menjadi kepalanya. Sehingga tidak ada lagi yang bisa bermegah dengan profesi yang saat ini dijalaninya. Sehingga tidak ada lagi pengklarifikasian manusia berdasarkan jenis pekerjaan dan berapa banyak jumlah uang yang dihasilkan. Sekali lagi kita semua memiliki panggilan. Panggilan menjadi seorang ibu rumah tangga itu sama mulianya dengan panggilan menjadi seorang pendeta, menjadi seorang karyawan swasta, menjadi wiraswasta, menjadi guru, dan menjadi apapun profesi yang kita pilih itu adalah baik adanya. Setiap panggilan sama nilainya, bagaimana mungkin seorang pendeta berkata kepada ibu rumah tangga, panggilankulah yang lebih mulia? Atau pegawai negeri sipil alias PNS mengatakan bahwa panggilannya yang lebih mulia dibandingkan dengan karyawan swasta? Hanya Tuhan yang berhak menilai panggilan kita masing-masing. Oleh karena itu, apapun panggilan kita saat ini, apakah kita seorang tukang sampah, pekerja lepas dimana penghasilan tidak pasti ada tiap bulan, presiden direktur di sebuah perusahaan ternama, seorang pendeta, banggalah dengan semua itu. Jangan sekali-kali minder atau membanggakan diri. Karena kita adalah anggota-anggota tubuh Tuhan Yesus, Seperti kita menilai anggota-anggota tubuh kita, hanya kitalah yang menentukan anggota tubuh mana di antara anggota tubuh kita yang paling membutuhkan perhatian khusus dari kita. dDemikian juga Yesus hanya Dialah yang berhak menentukan panggilan hidup apa yang paling berkenan di hatiNya. Selebihnya, kita sesama anggota tubuh sungguh tidak layak untuk saling bermegah dan minta dihormati oleh anggota tubuh yang lainnya.