Translate

Saturday, 23 May 2015

Bangga menjadi orang Indonesia

Akhir-akhir ini aku sering sekali memperhatikan betapa masyarakat di sekitarku sangat mengangung-agungkan warga negara asing (WNA), khususnya mereka yang masuk kategori bule (biasanya mereka yang berasal dari Eropa, Amerika, dan Australia. Harga diri serasa naik berkali-kali lipat apabila bisa berfoto bersama, berbicara atau bahkan memiliki kenalan warga negara asing. Secara pribadi, aku tidak bermasalah ketika seseorang memiliki banyak kenalan warga negara asing. Akan tetapi jikalau harus sampai mengagung-agungkan mereka, aku sungguh tidak setuju.

Aku akui, warga negara asing yang pernah aku ajak berbicara memiliki karakter yang tidak kutemukan di kalangan masyarakat kita. Akan tetapi hal ini bukan menjadi alasan bahwa mereka harus mendapatkan perlakuan yang istimewa dariku. Bagaimana aku memperlakukan warga negara Indonesia demikian halnya aku memperlakukan mereka. Tidak ada alasan buatku untuk menganggap mereka mendapatkan perlakuan khusus dariku. Dan ketika aku melihat masyarakat di sekitarku memperlakukan mereka dengan begitu sangat spesial, hal ini membuatku sangat prihatin kepada masyarakatku. Mengapa masyarakatku bersedia mengambil posisi yang lebih rendah dari warga negara asing di negeri sendiri?

Indonesia adalah masyarakat yang ramah? Ramah kepada warga negara asing, sementara kepada sesama warga negara Indonesia saling menghujat? Kalau memang masyarakat Indonesia ramah, seharusnya ramahlah kepada semua makhluk, bukan hanya kepada warga negara asing saja. Kondisi seperti ini membuatku semakin merasa miris, segitu ceteknyakah pemikiran kita sehingga kita harus menilai masyarakat Indonesia menjadi warga kelas kesekian di negara kita sendiri?

Sekali lagi, aku tidak keberatan jikalau seseorang memiliki banyak kenalan warga negara asing. Akan tetapi jangan pernah sekali-sekali merendahkan msyarakat Indonesia hanya karena memiliki banyak kenalan warga negara asing. Jikalau memang kita memiliki banyak kenalan warga negara asing, kita seharusnya semakin bangga dengan kewarganegaraan kita bukan malah menjadi penjilat bagi mereka dan mengkhianati bangsa sendiri.

Aku pribadi sangat bangga menjadi orang Indonesia. Aku tahu secara kasat mata masyarakat kita sangat jauh tertinggal dengan pola pikir masyarakat warga negara asing. Mungkin satu-satunya kelebihan kita yang dijadikan alat untuk "merendahkan" masyarakat kita adalah keramahan kita yang menurutku ramah pamrih. Aku bangga menjadi orang Indonesia, karena di dalam keterbatasan sarana dan prasarana yang kumiliki aku tahu tahu siapa aku. Aku memiliki identitas dan berusaha untuk tidak menjadi beban bagi siapapun. Itulah karakter orang Indonesia sesungguhnya, Tidak mau bergantung kepada siapapun. Jikalaupun sekarang kenyataannya bangsa Indonesia sangat bergantung kepada banyak negara di Eropa, Amerika, Australia dan negara lain, itu karena selama bertahun-tahun kita minder dengan identitas kita sebagai orang Indonesia.

Jikalau kita memang memiliki keahlihan, pengetahuan, dan identitas, mengapa harus merendahkan diri di hadapan warga negara asing? Mengapa harus bersikap ramah dengan tidak pada tempatnya? Mereka harus mengagung-agungkan warga negara asing di atas warga negara Indonesia?

Tidak ada seorang pun yang akan berani menganggap kita rendah jikalau kita memiliki keahlihan, pengetahuan, dan identitas. Dan untuk mendapatkan ketiga hal ini, mulailah untuk berdiri di atas kaki sendiri dan berkaryalah walau tidak harus cetar membahana. Karya-karya kecil jauh lebih berarti dibandingkan hanya menghabiskan waktu untuk mencemoh orang lain, pamer kekayaan orang tua, dan menjadi provokator di media sosial.

Thursday, 21 May 2015

ANAK ≠ INVESTASI

Menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dijalani oleh generasi muda di Indonesia saat ini. Tuntutan orang tua dan kontrol sosial adalah variabel yang menjadi hambatan utamanya. Ironisnya dengan alasan demi kebaikan, orang tua maupun lingkungan sosial membuat standar yang terlalu ideal dimana apabila ditanyakan secara jujur, standar itu tidak akan mungkin mampu untuk dicapai, bahkan oleh orang tua maupun masyarakat. Untuk menutupi kekurangan tersebut, orang tua dan masyarakat pun membela diri dengan pernyataan, “Setiap standar ataupun tuntutan yang diberlakukan oleh orang tua dan lingkungan sosial, semuanya itu untuk kebaikan dan karena  para orang tua gagal melakukannya maka dengan memberikan tuntutan kepada generasi selanjutnya menjadi solusi yang tepat, dengan harapan hal yang sama tidak terulang.” Hal lain yang dilakukan oleh orang tua di dalam menutupi kekurangannya adalah dengan memuji betapa luar biasanya mereka menjalani kehidupan mereka dulu dibandingkan dengan kehidupan anak-anak mereka sekarang (baca generasi muda). Apa yang dialami oleh generasi sekarang belum seberapa bila dibandingkan dengan apa yang telah mereka lalui, menurut mereka.
Sesuatu yang cukup membingungkan memang, dimana pada satu sisi, para generasi muda diminta untuk menjadi diri sendiri sementara di sisi yang lain, orang tua dan lingkungan sosial berusaha untuk membentuk pribadi setiap generasi muda tepat seperti yang mereka inginkan. Dimana  apa yang menjadi tuntutan dari orang tua tidak berbanding lurus dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial. Akhirnya terjadi kebingungan pada generasi muda. Terlalu banyak pihak yang harus disenangkan oleh generasi muda. Kondisi seperti inilah yang menjadikan banyak gerenasi muda di Indonesia berada pada kondisi kehilangan identitas. Dan tersesat di tengah-tengah perkembangan teknologi.
Keadaan semakin memburuk, ketika orang tua dan lingkungan sosial bukannya berusaha untuk memperbaiki kekurangan mereka sebagai suluh, melainkan menyalahkan dan merendahkan generasi muda. Tidak ada pengayoman apalagi keinginan untuk melakukan coaching kepada para generasi muda.

Sampai kapan kita para orang tua melulu menyalahkan dan merendahkan para generasi muda? Sampai kapan kita menutup mata, bahwa setiap perilaku dari generasi muda yang tidak berkenan di hadapan para generasi tua adalah karena kekurangan para orang tua, di dalam mencukupi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Apabila kita memang peduli dengan kondisi bangsa ini, mari selamatkan bangsa ini dengan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan menjadi anak-anak yang ada untuk memenuhi tuntutan orang tua dan juga lingkungan sosial.

AKU DAN BUDAYAKU


Bagi masyarakat Indonesia, menikah dan memiliki anak telah menjadi bagian dari siklus kehidupan. Setelah menyelesaikan study, memiliki penghasilan, maka orang tua dan lingkungan pun akan mendesak untuk menikah dan memiliki anak. Kesimpulannya, memiliki penghasilan dan sudah melewati masa pubertas menjadi tiket masuk ke dunia pernikahan.  Bahkan di beberapa kelompok masyarakat tertentu di Indonesia, memiliki penghasilan tetap atau tidak, tidak menjadi masalah untuk memasuki dunia pernikahan. Lebih jauh lagi, apabila belum menikah maka lingkungan sosial akan menilai negatif, dikucilkan, akibatnya yang bersangkutan pun semakin tertekan yang pada akhirnya membawa mereka kepada keputusan untuk menikah walau sesungguhnya tidak ingin. Hanya untuk sebagai status saja.
Tidak bisa dipungkiri, negara Indonesia yang memiliki banyak budaya yang masih cukup kental, menjadi penentu dalam keputusan pernikahan. Disinilah akhirnya yang membawa para generasi muda sekarang menyalahkan budaya yang berujung pada tidak memiliki self belonging terhadap kebudayaan sendiri. Menjalani kehidupan yang begitu rumit dan sibuk sudah cukup menyita waktu bagi generasi muda, ditambah lagi dengan realita bahwa mereka harus aktif untuk melanjutkan warisan kebudayaan yang penerapannya sudah tidak masuk akal lagi menurut mereka.
Perlahan tapi pasti, generasi muda sudah enggan untuk melanjutkan warisan budaya. Budaya dan kebiasaan negara lain jauh lebih menarik bagi mereka karena pendekatan dan penerapannya cukup logis bagi pola pikir generasi muda sekarang. Bukan berarti setiap budaya di Indoensia tidak logis, hanya saja penerapannya yang tidak terlalu dipaksakan dan tidak meninggalkan kesan yang bermanfaat bagi mereka yang menjalaninya. Demikian halnya dengan pernikahan, para generasi muda yang menjalani dunia pernikahan bukan lagi karena keinginan mereka melainkan karena tuntutan sosial dan orang tua.
Hasilnya, banyak pernikahan yang gagal di usia muda. Anak-anak korban perceraian pun semakin bertambah setiap harinya. Setiap hari kita disungguhkan dengan perilaku-perilaku anak muda yang sudah melewati batas standar sosial.
Akankah kita tinggal diam dengan semua ini? Kehancuran moral dan pribadi generasi muda sudah semakin tidak terkontrol lagi. Mungkin salah satu langkah yang paling tepat adalah dengan berhenti saling menyalahkan dan mulai mengkritisi setiap kebiasaan yang ada. Apakah budaya dan kebiasaan yang diwariskan nenek moyang kita masih cukup relevan untuk diaplikasikan saat ini? Mari berpikir sejenak dan mencari solusi untuk tetap melestarikan budaya dan kebiasaan nenek moyang kita dengan tidak mengorbankan eksistensi kita sebagai manusia seutuhnya di dunia yang serba komputerisasi  ini.



Saturday, 16 May 2015

Haruskah aku iri hati karena Tuhan murah hati?

Matius 20:1-16
20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Setiap kali membaca dan mengingat ayat Alkitab ini, sampai detik ini aku masih belum bisa merasakan kedamaian, khususnya ketika aku memposisikan diriku menjadi salah satu pekerja yang datang pertama sekali. Sebagian dari diriku mengiyakan apa yang dipertanyakan di dalam cerita ini, "Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Matius 20:15).
Iya, aku iri hati kepada mereka yang Tuhan berikan berkat yang sama atau bahkan yang menurutku melebihi berkat yang kuterima dari Tuhan. Sementara aku telah melakukan hal-hal yang menurutku lebih banyak kepadaNya dibandingkan dengan mereka yang hanya bekerja satu jam, akan tetapi justru mereka mendapatkan berkat yang sama denganku, itu sungguh tidak adil.
Berulang kali aku mencoba memikirkan ayat ini. Sesungguhnya apakah yang ingin disampaikan oleh Tuhan melalui ayat ini. Akhirnya, dengan hikmat yang dari padaNya, aku mengerti apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui ayat ini.
Tuhan adalah pemilik kehidupan, pemilik segala sesuatunya, termasuk aku. Jadi, apa pun yang kumiliki di dunia ini, itu adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, aku tidak memiliki kuasa apapun atas apapun yang ada padaku, termasuk berkat yang akan kuterima. Kesimpulannya, setiap berkat yang kuterima, aku bisa bernafas, merasakan cuaca yang nyaman, sinar matahari yang cukup, memiliki suami yang begitu mencintaiku, pekerjaan yang mendukungku untuk bertumbuh,semuanya itu bukan karena kerja kerasku. Melainkan hanya karena kasih karunia Tuhan. Jikalau pun di beberapa moment aku memposisikan diriku menjadi pekerja yang datang pertama kali dan mendapatkan upah yang sama dengan pekerja yang datang terakhir, toh memang seperti itulah perjanjianku dengan Tuhan di awal.
Jadi, kalau saat ini aku hanya diberikan kesempatan untuk mengandung anak, merasakan proses persalinan, dan dampak dari proses persalinan itu (bentuk dan berat badan berubah), sementara yang lain diberikan kesempatan untuk merasakan lebih, haruskah aku iri hati karena Tuhan murah hati mereka?
Jikalau orang-orang di sekitarku bisa bermanja-manja dengan orang tua dan saudara-saudara mereka, sementara aku harus tegar dan mandiri, menyelesaikan segala perkara sendiri, haruskah aku iri hari karena Tuhan murah hati kepada mereka?