Translate

Friday, 14 November 2014

Selamat hari ayah

Dua hari yang lalu, media sosial diramaikan oleh berbagai pernyataan dari mereka yang mengagumi sosok ayah. Ada pula yang membuat hari itu menjadi moment mengenang sosok ayah yang telah lebih dahulu dipanggil oleh Tuhan. Bukan hanya sosial media, radio-radio di Jakarta juga ikut serta memeriahkan hari ayah tersebut dengan mengajak para pendengarnya untuk berbagi pengalaman dengan sosok ayah. Walau tidak semeriah ketika hari ibu tiba, akan tetapi antusiasme masyarakat Indonesia akan hari ayah cukup ramai juga. Semoga apa yang mereka ucapkan bukan hanya di media sosial saja, akan tetapi juga diucapkan langsung kepada yang bersangkutan.

Ketika media sosial diramaikan dengan pernyataan hari ayah ini, aku berusaha untuk membongkar memoriku, mencari bundelan kenangan antara aku dan ayahku. Sialnya, aku hanya menemukan kenangan yang menyedihkan dan aku pun tidak ingin membuka bundelan itu. Aku terus mencari di dalam memoriku, dengan keyakinan bahwa aku pasti meletakkannya sangat jauh di dalam memoriku sehingga sukar bagiku untuk menemukan bundelan kenangan itu. Ternyata, sampai hari ayah itu berlalu, aku tidak menemukan bundelan kenangan itu. Aku tidak tahu, di memoriku bagian mana aku telah menyimpan kenangan itu.

Di dalam keputusasaanku menemukan bundelan kenangan itu, aku menemukan sebuah file mini di memoriku tentang ayah. Aku pun membukanya dan masuk ke dalam memori itu. Kala itu aku masih kuliah. Aku berpapasan dengan salah satu teman kuliah di jalan menuju kampus. Aku lihat dia memakai tas yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya dan cantik. Lalu aku memuji tas tersebut. "Tasmu cantik dan elegan." Lalu dia menjawabnya, "Terima kasih. Ini hadiah dari papaku karena aku masuk UI. Hmm..kalau kamu, apa yang diberikan papamu ketika kamu masuk UI?" Tidak ada, papaku bukan orang seperti itu, jawabku." Saat itu, aku sangat menyesal memuji tas itu. Karena pernyataan temanku itu semakin menambahkan daftar kekecewaanku akan ayahku. masih di dalam file memoriku yang sama, kejadiannya di asrama mahasiswa UI. Kami dihebohkan dengan peristiwa, salah satu temanku meniduri laptopnya, yang menyebabkan laptop itu tidak bisa digunakan lagi. Aku hampir mencekik dia mengetahui hal itu. Bagaimana tidak, itu laptop harganya 10 juta rupiah dan belum dua bulan dibeli oleh ayahnya. Dua minggu kemudian, ayahnya datang mengunjunginya dan membawa laptop baru. Dia pun bercerita kalau papanya sangat baik kepadanya. Papanya nyaris tidak pernah menolak apapun yang dia minta, papanyalah satu-satunya orang di rumahnya yang akan selalu berdiri di sampingnya ketika mama dan saudara-saudara laki-lakinya menentangnya. Papanya tidak pernah marah padanya apalagi memukulnya.
Temanku yang lain pun menyelutuk, papaku juga menjadi partner in crime-ku di rumah. Tempatku mengadu ketika mamaku "jahat" padaku. Papaku mengajariku berenang, naik sepeda, naik motor, dan mengemudikan mobil. Yang lain menambahkan, papakulah yang paling telaten dan peduli ketika aku sakit. Jujur, aku sangat iri sekali melihat teman-temanku ketika papa mereka datang mengunjungi mereka ke asrama dan membiayai kehidupan mereka. Papaku? Jangankan mengunjungiku ke asrama mahasiswa, meneleponku dan menanyakan kabar pun tidak!

Kesimpulannya, semua teman-teman kuliahku sangat mengagumi ayah mereka. Selain menjadi pencari nafkah, mereka juga memiliki kenangan manis dengan ayah mereka. Banyak kegiatan yang mereka lakukan dengan ayah mereka. Sementara aku, di kala itu hanya menjadi sebagai pendengar saja karena aku tidak menemukan kenangan yang bisa kubagi mengenai sosok ayah di dalam hidupku. Satu-satunya kalimat yang akan kukeluarkan seandainya mereka menanyakanku mengenai arti ayah bagiku adalah  bahwa aku ingin sekali memiliki kenangan itu, kenangan dengan sosok ayah tepat seperti yang mereka punya. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi karena aku sudah dituliskan untuk tidak merasakan moment itu. Dan aku bersyukur untuk hal itu, setidaknya aku tidak perlu menangis karena merindukan ayah. Ketidaaan kenanganku dengan sosok ayah membuatku menjadi tegar dan tidak homesick apalagi meminta pulang ke rumah. Sebaliknya, aku menikmati jarak yang ada di antara aku dan ayahku.

Tidak banyak yang bisa kubagi mengenai sosok ayah di dalam hidupku. Kami tidak terlalu dekat dan tidak banyak kegiatan atau bahkan tidak ada aktivitas yang pernah kami lakukan bersama-sama. Sepertinya sepanjang masa remajaku dan sampai sekarang, aku melewatinya tanpa sosok ayah padahal masa remaja aku habiskan dengan tinggal satu rumah dan selalu bertemu dengannya setiap saat. Akan tetapi kami menjalinya kehidupan kami masing-masing. Dia tidak pernah ada atau lebih tepatnya aku tidak pernah menyadari dan merasakan keberadaannya khususnya di dalam setiap kesulitan hidup yang kualami. Dia membiarkanku menjalaninya sendirian dan hanya olehku saja. Ketika mamaku memukulku dan menghinaku dia juga tidak ada minimal untuk menanyakan luka-luka fisikku. Atau mungkin dia ada tapi aku tidak menyadarinya, entahlah. Aku tidak memiliki figur ayah di dalam hidupku. Satu-satunya figur ayah yang kukenal adalah ketika aku belajar psikologi dan dari berbagai film Hollywood.

Ketika aku berbincang-bincang dengan mereka yang ayahnya telah dipanggil Tuhan, mereka mengatakan bahwa aku harus bersyukur ayahku masih hidup. Memiliki ayah itu sangat menyenangkan, karena dia adalah satu-satunya laki-laki yang akan memanjakanmu dan menganggap kau selalu menjadi putri kecilnya yang akan selalu dilindungi. Benarkah? Aku tidak pernah merasa dimanja dan dilindungi oleh ayahku. Bagaimana bisa merasa dimanja dan dilindungi, merasakan kehadirannya juga aku tidak. Ya, mungkin teman-temanku benar, bahwa aku harus bersyukur untuk papaku yang masih bisa menghirup oksigen dan sehat, setidaknya aku belum menjadi anak yatim yang harus dikasihani oleh orang-orang.

Aku membenci ayahku untuk segala sesuatu yang tidak dia lakukan kepadaku. Dia tidak pernah ada di dalam kesulitanku dan di dalam bahagiaku. Aku membenci ayahku karena dia terlalu membiarkanku. Aku membenci ayahku karena dia terlalu menuntutku untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak bisa. Aku membenci ayahku karena dia tidak memanjakanku dan melindungiku seperti ayah pada umumnya. Dan aku membenci ayahku karena dia tidak membuatku merasa dicintai.

Bersyukurlah karna di dalam sepuluh hukum taurat bagi pengikut Kristus disebutkan hormatilah ayah dan ibumu..Jadi, kalau aku tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan mereka, aku bukan anak durhaka. Aku akan tetap hormat kepada mereka karena demikianlah perintah Tuhan untukku. Kalau untuk lebih, biarkan waktu yang menjawabnya. Aku akui aku masih berharap sebelum aku bertemu dengan Tuhan dan anakku, aku bisa merasakan dicintai oleh ayahku. Hanya cinta tanpa syarat yang kuminta darinya, bukan materi apalagi untuk menjadi perisaiku. Karena moment itu sudah berlalu, Aku bukan putri kecil, dan gadis remaja yang membutuhkan perlindungan ayahku lagi. Aku telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang mandiri.

Walaupun tidak banyak kisah yang bisa aku kenang bersamamu ayahku, dengan penuh kerendahan hati aku menaikkan doa, semoga Tuhan besertaMu. Selamat hari ayah, lelaki pertama di dalam hidupku. Semoga sebelum aku bertemu dengan Tuhan aku bisa menemukan bundalan kenangan menyenangkan yang pernah kita lalui bersama. Aku yakin, kita pasti pernah memiliki moment itu, mungkin tidak seperti moment antara ayah dan anak perempuan pada umumnya. Tapi aku percaya, pasti ada hal baik yang pernah kau lakukan kepadaku. Walau kau tidak mengajariku bagaimana cara berenang, naik sepeda, naik motor yang sampai sekarang aku tidak bisa melakukannya, pasti ada kegiatan yang pernah kita lakukan bersama-sama. Semoga waktu bisa membantuku untuk menemukannya di dalam memoriku.

Wednesday, 12 November 2014

Sendiri

Aku tidak ingat sejak kapan dan mengapa aku menjadi orang yang malu untuk minta tolong, sebelum kulakukan yang bisa kulakukan dan sebelum ada penawaran bantuan. Aku tidak seharusnya menjadi perempuan yang selalu tampil kuat dan tegar. Aku seharusnya menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan beban ini. Tidak seharusnya aku memaksakan diriku untuk memikulnya sendirian. Tapi, disinilah aku, memilih untuk menjalaninya sendiri dengan Tuhan. Aku menutup semua pertolongan yang aku yakin akan selalu ada untukku. Karna aku tahu, aku dikelilingi banyak cinta. Cinta yang hanya akan datang di saat aku memutuskan untuk memintanya. Dan aku memilih untuk menjalaninya sendiri.

Sesungghuhnya, aku tidak tahu hendak melakukan apa dengan hidupku. Aku merasa bersalah apabila tidak melakukan apapun di dalam 24 jam. Aku merasa bersalah menghirup oksigen gratis tanpa berkarya. Aku merasa bersalah karena aku tidak bisa menjadi ibu rumah tangga atau menjadi istri yang melakukan segala pekerjaan rumah tangga dengan sangat baik. Aku tidak terlahir untuk melakukan itu. Aku tidak memiliki semangat, bahkan untuk membersihkan rumahku sendiri. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku harus membuka mataku ketika jam enam pagi tiba. 

Apa yang terjadi pada diriku? Aku ingin sendirian tapi tidak mau menjalaninya tanpa ada seorang pun manusia di dekatku. Aku tidak mau bangun tidur tapi aku juga tidak mau tidur seharian. Aku tidak mau membersihkan rumahku tapi aku juga tidak mau meminta orang lain melakukannya dan aku tidak suka dengan hal yang kotor dan bau. Aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin bekerja tapi aku tidak yakin apakah aku sanggup untuk menghadapi kemacetan Jakarta? Aku bosan di rumah, yang kuanggap tidak ada yang bisa kukerjakan di rumah sementara ada begitu banyak pekerjaan.
Sesungguhnya, aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Aku sama sekali tidak memiliki rencana apapun di dalam hidupku. Sepertinya semuanya menguap entah kemana.

Aku bahagia karena aku memiliki rumah, aku masih bisa makan, aku memiliki tempat tidur yang nyaman. Aku bahagia karena aku memiliki suami yang menurutku sangat mencintaiku. Tapi, aku tidak bisa mengontrol air mataku. Aku tidak memiliki semangat untuk ke luar dari rumah bahkan hanya untuk merasakan sinar matahari. Sesungguhnya, aku bosan menghabiskan tiap detik di rumah saja, akan tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk melihat dunia luar. Dan disinilah aku, menikmati kesendirianku di dalam rumah, sendiri.

Tuesday, 11 November 2014

APTB Ciputat - Kota



Hari ini adalah hari yang cukup berat untukku secara mental dan psikologis. Untuk pertama kalinya, setelah aku melahirkan bayiku dan mengikhlaskan kepergiannya, aku kembali menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota. Oh iya, sebelum saya berbagi mengapa hari ini menjadi hari yang berat untukku, saya akan memperkenalkan bis ini terlebih dahulu. Bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin sudah tahu apa itu APTB.  APTB adalah Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta. Bis ini merupakan salah satu karya dari Jokowi ketika beliau masih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Seperti namanya, pengadaan bis ini bertujuan  mengajak masyarakat yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta (seperti Ciputat, Bekasi, Bogor, dsb) tapi bekerja di Jakarta, untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta, khususnya di jam-jam kantor dan untuk di daerah perkantoran (Jl. Sudirman, Jl. Rasuna Said lebih dikenal dengan Kuningan, dan Jl. Gatot Subroto) di Jakarta. Ada banyak bis APTB dengan berbagai tujuan daerah untuk kota pinggiran di Jakarta, salah satunya adalah bis APTB yang biasa aku pergunakan, APTB jurusan Ciputat - Kota dengan rute perjalanan Ciputat - Lebak bulus - Pondok Indah - Radio Dalam - Blok M - Sudirman - Sarinah - Harmoni - Glodok - Kota. Tarif untuk menggunakan bis ini sekali jalan adalah Rp 8.000,00 dimana transaksinya dilakukan di dalam bis. Akan tetapi apabila kita menggunakan bis APTB dari Jakarta khususnya di Jalan Sudirman, maka kita harus membayar sebesar Rp 3.500,00 terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam halte transjakarta dengan menggunakn e-ticket. Secara pribadi, aku sangat terberkati dengan adanya bis ini. Bis ini memudahkan kami yang tinggal di daerah pinggiran Jakarta dapat dengan mudah untuk berkunjung ke Jakarta. Walaupun pengadaan bis ini, ternyata belum memberikan hasil yang signifikan untuk mengajak masyarakat Jakarta dan sekitarnya beralih dari kendaraan pribadi ke bis massal seperti ini.

Aku ulangi kembali, aku sangat terberkati dengan pengadaan bis ini. Akan tetapi, seperti public transportation pada umumnya di Jakarta, bis ini masih belum bisa memberikan kenyamanan kepada para penumpangnya, khususnya untuk ibu hamil. Aku yakin, inilah alasan utama mengapa masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke kantor belum mau beralih menggunakan public transportation di Jakarta, masih jauh dari nyaman! Jujur, aku sendiri yang dibesarkan dengan kekurangan tidak merasa nyaman menggunakan public transportation di Jakarta, apalagi mereka yang telah dibesarkan dengan kemewahan? Seandainya saya mempu membeli kendaraan pribadi, aku akan 100% lebih memilih untuk menghadapi kemacetan Jakarta di dalam mobil dengan duduk manis sambil membaca buku dilengkapi dengan AC dan musik favoritku dibandingkan dengan menggunakan public transportation yang penuh sesak, berdiri, dan menunggu untuk kedatangan bis yang cenderung  lama. Sungguh sangat wasting time dan stressfull)

Kembali ke APTB, tidak seperti bis transjakarta, di bis ini tidak disediakan kursi khusus untuk ibu hamil. Jadi, bagi ibu hamil yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta dan berkantor di Jakarta, menggunakan bis ini pada jam-jam sibuk di Jakarta, saya pribadi tidak menyarankannya. Adalah saya salah satu penumpang yang mengalami ketidakramahan selama menggunakan bis ini. Selama saya hamil, saya nyaris tidak pernah bisa mendapatkan tempat duduk  dari halte dimana saya menaiki bis ini. Saya akan dapat tempat duduk, apabila para penumpang ada yang sudah turun. Selama tidak ada penumpang yang turun, maka saya harus berpuas diri dengan berdiri di dalam kesesakan tentunya. Di samping itu, pengadaan bis ini tidak terlalu banyak sehingga harus menunggu 30 - 60 menit bahkan lebih di dalam halte transjakarta. Dan ketika bis datang, para penumpang yang memiliki tujuan ke Ciputat belum tentu bisa masuk ke dalam bis. Hal ini disebabkan, pada jam-jam sibuk di daerah perkantoran ada begitu banyak orang yang menggunakan bis ini walaupun tujuan mereka bukanlah ke Ciputat. Hasil dari pengamatan saya, mereka yang masuk ke dalam bis ini, tujuan utama adalah Blok M, Radio Dalam, dan Pondok Indah. Selama saya menjadi penumpang APTB jurusan Ciputat - Kota, bis akan kosong ketika telah melewati daerah ini. Dan biasanya, di daerah inilah saya akan mendapatkan tempat duduk, setelah banyak penumpang yang turun.  Alhasil, mereka yang rumahnya di Ciputat seperti saya akhirnya tidak memiliki ruang di bis itu dan harus menunggu bis APTB berikutnya dengan harapan bisa masuk ke dalam bis walaupun tidak mendapatkan tempat duduk.

Di usia 27 minggu kehamilanku, aku menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota untuk berangkat dan pulang kantor. Ketika akan berangkat ke kantor, aku tidak memiliki masalah dengan tempat duduk, karena aku naik dari perhentian pertama bis dengan kata lain aku selalu mendapatkan tempat duduk. Akan tetapi, ketika pulang kantor, aku harus berkompetisi dengan penumpang yang lain untuk bisa masuk ke dalam bis. Tak jarang aku kalah dalam kompetisi itu dan menunggu bis selanjutnya 30 - 60 menit bahkan lebih dengan berdiri, tentu saja. Kondisi seperti ini aku alami berhari-hari dalam keadaan hamil dan endingnya adalah tubuhku tidak kuat, aku mengalami pecah ketuban dini dan anakku tidak bisa diselamatkan. Bis APTB adalah bis yang terakhir aku gunakan ketika kejadiaan itu menyerangku. Di dalam bis ini pula, aku dan bayi di dalam kandunganku berkompetisi untuk mendapatkan kenyamanan. Dan di dalam bis inilah kenangan terakhirku dengan anakku yang membuatku terkoneksi dengan dunia luar.

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah anakku pergi, aku kembali menggunakan bis ini. Aku ingat, pertama kali menggunakan bis ini, aku belum menyadari keberadaan anakku yang telah hadir di dalam rahimku. Tapi dia sudah ada. Kami bersama-sama menggunakan bis ini untuk pertama kalinya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku menggunakan bis ini dengan sendirian. Itu sangat menyakitkan. Setiap inci dari bis ini mengingatkanku dengan perjuangan kami di dalam bis ini untuk bertahan sampai kami tiba di tujuan akhir kami, yaitu di Ciputat. Berdesakan dengan penumpang yang lain, kedinginan ketika hujan turun, kemacetan yang luar biasa, kami jalani bersama-s ama. Kenangan itu mungkin akan menjadi kenangan yang manis, seandainya anakku bisa bersama-sama denganku sekarang. Akan tetapi yang terjadi adalah aku harus mengikhlaskan anakku bersamaNya, sementara aku disini kembali melanjutkan kompetisi untuk mendapatkan kenyamanan di dalam bis ini. Inilah yang menjadikan hariku semakin berat. Bukan karena aku menjadi sendiri sekarang di dalam bis ini, akan tetapi karena bis ini mengingatkanku dengan anakku.

Seiring dengan terpilihnya Bapak Jokowi menjadi Presiden, aku sangat berharap banyak kepada beliau. Menjadikan Indonesia untuk lebih nyaman dihuni. Aku tahu, aku bukanlah satu-satunya orang yang berjuang di dalam public transportation pada jam-jam kantor. Dan aku yakin, di luar sana masih banyak yang memiliki pengalaman lebih menyedihkan terkait dengan public transportation di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta pada khususnya. Melalui tulisan ini, aku ingin membagi ide dengan harapan mampu menjadikan Indonesia untuk lebih baik lagi. 

Sebagai masyarakat yang belum mampu membeli kendaraan pribadi dan masih bergantung dengan public tranportation, aku memiliki saran agar masyarakat Jakarta tidak terlalu mencintai jalanan Jakarta.
  1. Public transportation yang nyaman. Tidak harus pakai AC. Pemerintah sebaiknya sudah harus memperketat kembali jumlah penumpang di dalam bis yang melebihi kapasitas. Memang, telah ada peraturan jumlah maksimal di dalam satu bis, akan tetapi sampai hari ini, saya belum pernah mendengar ada tindakan nyata yang diberikan oleh Pemerintah kepada bis yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Dengan menggalakkan kembali jumlah maksimal penumpang di dalam satu bis, hal ini akan mengurangi tindakan kriminal yang banyak terjadi di dalam public transportation yang menjadi sorotan utama bagi mereka yang masih menggunakan kendaraan pribadi.
  2. Meningkatkan jumlah armada bis pada jam-jam sibuk dan mengurangi kapasitas kendaraan pribadi dengan cara mengubah  3 in 1 menjadi 5 in 1.
  3. Kendaraan pribadi tidak diizinkan untuk menggunakan BBM bersubsidi.
  4. Khusus untuk APTB Ciputat - Kota, saya tidak setuju apabila petugasnnya menaikkan penumpang yang tujuan akhirnya adalah Blok M dari Sudirman pada jam sibuk. Hal ini memperkecil kesempatan penumpang yang tujuan akhirnya ke Ciputat untuk bisa masuk. Bagi mereka yang tujuan akhirnya Blok M, pemerintah telah menyediakan transjakarta. Seharusnya mereka lebih baik menggunkan tranjakarta saja.
Dan yang paling penting adalah bagi seluruh masyarakat Indonesia, kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan baik di dunia Internasional. Sebaiknya karakter ini bukan hanya kita tunjukkan kepada masyarakat luar negeri saja, akan tetapi juga terkhusus bagi kita sesama bangsa Indonesia. Sekeras apapun kehidupan yang telah kita jalani, seberat apapun beban yang ada di pundak kita, marilah dengan berempati untuk memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, orang tua, dan berkebutuhan khusus. Jakarta sesungguhnya adalah kota yang indah jikalau kita manusia yang tinggal di dalamnya bersikap ramah.

Wednesday, 5 November 2014

Executive Search

     Bekerja adalah salah satu dan mungkin satu-satunya cara bagi manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan bekerja manusia akan mendapatkan upah, baik dalam bentuk uang maupun hal lainnya, misalnya kepuasan. Di dalam perkembangan dunia sekarang ini, bekerja di perkantoran adalah sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi dibandingkan dengan pekerjaan yang tidak dapat dikategorikan ke dalam jenis apapun. Mayoritas orang menghabiskan waku, tenaga, pikiran, dan mungkin materi juga untuk bisa menjadi pekerja kantoran. Pekerja kantoran yang saya maksud di sini bukan hanya mereka yang bekerja di perusahaan swasta tapi juga di kantor pemerintahan atau lebih dikenal dengan Pegawai Negeri Sipil.
     Sebuah keberan saya kurang lebih tiga tahun memiliki pengalaman bekerja sebagai Human Resource Development (HRD). Saya ingin berbagi informasi bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan karena saya yakin salah satu penyebab banyaknya pengangguran di Indonesia ini bukan hanya jumlah pekerjaan yang terbatas atau tidak sebanding dengan jumlah si pencari kerja, akan tetapi informasi mengenai pekerjaan tersebut tidak diketahui oleh si pencari kerja. Lebih jauh lagi, dalam tulisan ini saya akan memfokuskan dengan jenis pekerjaan yang bukan PNS atau yang kita kenal dengan pekerja swasta. Alasan utama saya karena jenis pekerjaan di swasta memiliki ruang yang lebih terbatas untuk diinformasikan kepada seluruh pencari kerja dengan alasan biaya, apalagi dengan perusahaan swasta yang memiliki budget terbatas. Berbeda halnya dengan pemerintah yang memiliki budget tidak terbatas sehingga informasi mengenai penerimaan calon PNS bisa diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia.
     Proses perekrutan di perusahaan swasta sebenarnya kurang lebih memiliki kesamaan dengan yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu melakukan pendaftaran terlebih dahulu, kalau beruntung akan mengikuti seleksi perekrutan, dan kalau jodoh akan bekerja di perusahaan tersebut. Itulah siklusnya secara kasar. Di zaman orang tua kita, untuk melakukan pendaftaran ke sebuah perusahaan mungkin prosesnya masih manual, yaitu dengan mendatangi setiap perusahaan dan meninggalkan CV di perusahaan tersebut. Atau mungkin di zaman kakak dan abang kita, harus mengirim berkas yang dibutuhkan lewat pos. Berbeda sekali dengan kondisi kita saat ini. Kita dipermudah dengan perkembangan teknologi, dimana berkas yang dibutuhkan di dalam pendaftaran untuk sebuah lowongan pekerjaan bisa dilakukan melalui email. Setiap orang di usia 20 - 30 tahun di tahun ini akan dianggap aneh bila tidak memiliki email.
Lebih detailnya lagi, proses pendaftaran ke perusahaan yang sedang mencari pekerjaan atau jenis perusahaan yang kita inginkan menjadi tempat kita bekerja bisa dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
  • Proses pendaftaran yang dilakukan oleh para calon karyawan melalui internet. yaitu melalui alamat web resmi dari perusahaan tersebut. Pihak perusahaan memberikan pengumuman dan cara untuk melakukan perndaftaran langsung tanpa adanya pihak ketiga di web mereka.
  • Masih berhubungan dengan internet, dengan kemajuan teknologi di zaman sekarang ini, banyak perusahaan perekrutan di dunia internet yang berkembang untuk mempertemukan pihak pemberi kerja dengan para pekerja di dunia internet. Mereka lebih dikenal dengan pihak ketiga. Contoh dari perusahaan yang bergerak di bidang ini adalah  JOBSTREET, JOB DB, CARIER.COM, LIONJOB, dsb. Cara kerja dari perusahaan pihak ketiga ini sangat membantu para calon pencari kerja. Cukup dengan mendaftarkan diri ke situs mereka dan mengisi data-data yang mereka minta, maka mereka akan mengirimkan jenis pekerjaan, nama perusahaan, requirement yang diharapkan, dan informasi yang terkait mengenai pekerjaan tersebut dimana informasi ini disesuaikan dengan data-data yang kita berikan kepada perusahaan pihak ketiga ketika kita melakukan pendaftaran. Setelah itu kita bisa melamar ke perusahaan tersebut secara langsung dengan alamat email kita atau bisa juga melamar ke pihak ketiga tersebut. Nantinya pihak ketiga yang akan meneruskan lamaran kita ke perusahaan yang kita lamar. Syarat utama dari proses ini adalah para calon pekerja diwajibkan untuk menjadi member di perusahaan ini. Dan data-data yang kita berikan adalah benar. Sebagai gantinya, mereka akan selalu mengirimkan  list perusahaan yang sedang mencari pekerja ke email si pencari kerja. Layanan ini gratis bagi para pencari kerja dan dikenakan tarif bagi perusahaan pencari kerja yang menggunakan layanan ini. Dari sudut pencari kerja, dengan adanya jenis perusahaan ketiga ini sangat menguntungkan dan membantu sekali. Para pencari kerja tinggal memilih jenis pekerjaan dan jenis perusahaan yang ingin dilamar sesuai dengan list perusahaan yang dikirimkan oleh pihak ketiga.
  • Masih dengan menggunakan email, saat ini juga telah berkembang sebuah jejaring profesional yang disebut dengan LINKED IN. Situs ini hampir mirip dengan jejaring sosial lainnya seperti FACEBOOK atau FRIENDSTER di zaman kakak dan abang kita. Perbedaannya terletak di profile yang kita share. Apabila di jejaring sosial kita bebas untuk men-share apapun, di situs ini kita sebaiknya hanya men-share segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia kerja. Situs ini adalah situs dimana para pelaku market place berkumpul, baik itu pihak si pencari kerja, si pemberi pekerjaan, atau mereka yang sudah bertahun-tahun di market place  untuk saling sharing knowledge di bidang yang mereka tekuni. Cara untuk mendaftar ke situs ini juga gratis untuk level Business Service. Apabila kita ingin meng-upgrade level kita ke Premium level, maka akan dikenakan biaya. Akan tetapi untuk status sebagai seorang pencari kerja, level business service juga sudah cukup memadai. Ketika kita melakukan pendaftaran menjadi member di LINKED IN, para pencari kerja diwajibkan untuk mengisi profile dengan pengalaman bekerja dan informsai yang mendukung, misalnya latar belakang pendidikan (almamater dan jurusan), award yang pernah diraih, dan penilaian rekan-rekan yang pernah bekerja dengan kita. Yang paling penting jangan menampilkan hal-hal yang membuat orang lain menilai kita kekanak-kanakan, alay, dan tidak profesional. Sekali lagi, situs ini adalah network yang membantu kita di dalam market place bukan untuk tempat curhat atau tempat kita menunjukkan kelemahan kita, sebaliknya disini adalah tempat kita "menjual diri" secara profesional. Profile kita disitus ini memang akan terlihat seperti  resume (CV) dimana semua orang memiliki akses untuk membacanya, termasuk para pencari pekerja.
  • Dari pihak perusahaan mengadakan event di suatu tempat dan mengundang para calon karyawan untuk menghadiri event tersebut. Event ini lebih dikenal dengan JOB FAIR. Biasanya, event ini diadakan oleh pihak ketiga dengan mengundang berbagai jenis perusahaan-perusahaan untuk hadir di event itu dan bertemu langsung dengan  para pencari kerja. Perusahaan pihak ketiga yang paling sering mengadakan event seperti ini adalah JOBSTREET. Untuk mempermudah para pencari kerja memperoleh informasi seperti ini, sebaiknya para pencari kerja sudah memiliki account atau sudah menjadi member dari JOBSTREET. Hal ini juga akan membantu para pencari kerja ketika mengikuti JOB FAIR, dimana biasanya sebelum memasuki event JOBSTREET selain kita harus bayar sebesar Rp 30.000,00 untuk satu hari, kita diwajibkan untuk menjadi member JOBSTREET. Bagi yang belum menjadi member JOBSTREET, kita akan disuruh untuk mendaftarkan diri dulu dan antriannya pastinya panjang. Kalau tidak mau antri hanya untuk melakukan pendaftaran ketika JOB FAIR diadakan, sebaiknya sebelum menghadiri event, daftarkan diri dulu ke JOBSTREET.
  • Perekrutan dilakukan oleh pihak ketiga, hampir sama dengan yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di dunia maya (pada point dua) dimana tujuannya adalah mempertemukan pihak si pemberi kerja dengan si pencari kerja. Mereka ini dikenal dengan Recuritment consultant atau Executitive Research. Lalu apa bedanya dengan pihak ketiga yang telah saya sebutkan di point kedua di atas? Bedanya pada point kedua, ketika kita sudah menjadi member dari perusahaan pihak ketiga, kita akan dikirimkan list nama-nama perusahaan dan posisi yang sedang ada, tanpa bertemu dengan mereka secara langsung. Sementara dengan pihak ketiga yang selanjutnya akan saya sebut Executive Research, langsung berhubungan dengan kita, baik melalui telepon maupun bertemu. Biasanya mereka akan langsung melakukan interview dengan pihak pencari kerja dan memberikan hasil interview tersebut ke perusahaan yang membutuhkan. Jadi, ada kalanya data pencari kerja akan menjadi database mereka dan sewaktu-waktu mereka memiliki klien (perusahaan pemberi kerja) membutuhkan pencari kerja, mereka akan menggunakan database tersebut.
     Dalam tulisan saya kali ini, saya ingin memaparkan mengenai keberadaan Executive Search yang begitu sangat menjamur di Jakarta akan tetapi untuk para pencari kerja masih banyak yang tidak menyadari keberadaan mereka.

     Executive Search adalah pihak ketiga yang menghubungkan antara pencari kerja dan pemberi kerja. Di dunia market place perusahaan ini lebih dikenal dengan Head Hunter. Seperti namanya, perusahaan ini bertujuan untuk mencari para pencari kerja yang nantinya akan ditempatkan di perusahaan klien mereka. Akhir-akhir ini dan dalam banyak kesempatan, yang menjadi target utama dari perusahaan ini adalah bukan lagi para pengangguran, melainkan mereka yang masih aktif  menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Istilah kerennya adalah membajak karyawan perusahaan lain. Tidak jarang terjadi, bahkan dari perusahaan klien memberikan nama-nama kepada perusahaan Executive Search untuk dibajak. Nama-nama tersebut akan dihubungi oleh Executive Search dan ditawarkan benefit yang lebih baik apabila mereka bersedia meninggalkan perusahaan yang sekarang dan bergabung dengan perusahaan klien dari Executive Search. Untuk mencegah hal ini,beberapa perusahaan besar membuat semacam peraturan bahwa karyawan mereka tidak bisa pindah ke perusahaan kompetitor sesaat setelah mereka mengajukan permohonan diri dari perusahaan tersebut. Selain itu, ada juga beberapa perusahaan yang tidak mau menerima karyawan dari perusahaan kompetitornya dengan alasan dan memang bisa saja terjadi, seorang karyawan "direlakan" dibajak dengan tujuan untuk menjadi mata-mata di perusahaan kompetitor. Setelah si karyawan tersebut mengetahui strategi bisnis dari perusahaan kompetitior, maka dia diminta untuk kembali ke perusahaan sebelumnya. Itulah dunia bisnis.
     Menjadi karyawan yang akan diburu oleh Executive Search memang bukanlah hal mudah. Hal ini disebabkan standar yang cukup tinggi yang diperlakukan oleh para Head Hunter. Tentu saja, karena mereka dibayar mahal untuk itu oleh para kliennya. Berbeda dengan JOBSTREET, dimana mereka akan menerima semua resume dari para pencari kerja yang mendaftarkan diri ke mereka. Mereka hanya mengkatergorikan latar belakang pendidikan dan atau jenis pekerjaan yang diinginkan oleh si pencari kerja. Di samping itu, proses yang harus dilalui melalui JOBSTREET lebih lama dibandingkan dengan Executive Search. Tidak heran, bagi para pencari kerja yang sudah berpengalaman di bidangnya pada umumnya lebih mendekatkan diri ke Executive Research dibandingkan ke JOBSTREET. Walaupun, JOBSTREET masih tetap dibutuhkan, bahkan oleh Executive Search sendiri. Executive Search juga dalam banyak hal masih menggunakan jasa JOBSTREET untuk mendapatkan resume yang mungkin bisa diproses untuk kebutuhan klien mereka. Intinya, untuk mendapatkan orang yang terbaik, segala macam cara dilakukan oleh mereka yang bekerja di bagian perekrutan.
     Lalu, apa yang harus dilakukan oleh mereka si pencari kerja?
  1. Siapkan CV, tentunya CV yang menjual dan benar-benar menggambarkan Anda secara profesional. Dan rajinlah meng-updatenya serta simpanlah CV Anda di tempat yang mudah Anda jangkau, misalnya di handphone, email, tab, flash disk, dsb. Jangan menunda hari keberuntungan Anda lebih lama lagi.
  2. Tidak bisa dipungkiri saat ini memang ada begitu banyak penawaran-penawaran yang dilakukan melalui telepon, baik itu penawaran kartu kredit, asuransi, dan bahkan penipuan. Oleh karena itu, kita harus tetap konsentrasi ketika panggilan telepon itu datang. Biasanya para Executive Search akan menghubungi Anda di hari kerja dengan salam yang cukup menyenangkan. Apabila saat itu, Anda tidak berada dalam kondisi yang tepat untuk menerima panggilan, Anda bisa menundanya dan memberitahukan jadwal available Anda untuk dihubungi. Atau apabila, saat itu Anda masih nyaman dengan pekerjaan Anda yang sekarang, belum berniat untuk pindah, utarakan juga hal ini dengan sopan karena Anda tidak tahu mungkin saja suatu hari nanti Anda membutuhkan mereka. Ingat yang mereka tawarkan adalah pekerjaan dimana melalui pekerjaan itu Anda memiliki peluang untuk mendapatkan upah atau posisi yang lebih baik dari yang Anda dapatkan sekarang. Di samping itu, tidak ada ruginya untuk bersikap manis dan sopan kepada mereka yang menawarkan pekerjaan.
  3. Bersikaplah sopan di dalam setiap jejaring sosial, hubungan antar pribadi, dan di lingkungan dimana pun Anda. Apabila Anda ingin dilirik oleh para Head Hunter, penilaian orang-orang yang berada di sekitar Anda sangatlah penting. Banyak orang gagal meraih karir yang lebih tinggi disebabkan perilakunya yang tidak sopan dan sesuai dengan norma sosial. Dunia ini sebesar daun talas, kita tidak pernah tahu bahwa setiap orang yang kita temui setiap harinya saling terkoneksi.
     Memiliki pengalaman di bidang rekruitment, membuatku mampu menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya yang menyebabkan jumlah pengangguran di Indonesia teramat banyak bukan hanya karena minimnya lapangan pekerjaan. Akan tetapi, tingkah laku manusia-manusia di Indonesia yang tidak memiliki jiwa profesional dan keinginan belajar yang masih di bawah rata-rata. Padahal ada begitu banyak posisi di perkantoran yang masih kosong, yang membutuhkan banyak sumber daya manusia untuk bekerja di sana. Anehnya, dari sekian ratus juta manusia di Indonesia ini, sangat minim ditemukan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dimana, para pencari kerja tersebut banyak gagal bahkan ketika di seleksi pertama.