Translate

Monday, 17 August 2015

AYO KERJA!!


Tahun ini, 70 tahun sudah berlalu sejak Bapak Soekarno, Presiden pertama kita memproklamirkan kemerdaan Indonesia dari para penjajah, dimana kala  itu Indonesia dijajah oleh Jepang. Sejarah mencatat bahwa tindakan Bapak Soekarno itu tidak akan terjadi, jikalau bukan para pemuda-pemudi  yang menjadi motornya, meyakinkan Bapak Soekarno bahwa kekalahan Jepang di perang dunia kedua, adalah momentum yang tepat untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda-pemudi dengan sangat gigih meyakinkan Bapak Soekarno, mempersiapkan hal-hal teknis dan mengatur strategi agar Bapak Soekarno bisa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia; bukan hanya ke suluruh pelosok negeri melainkan ke suluruh dunia, melalui media komunikasi yang sangat minim dan konvensional, yaitu radio tentunya.

Peran para pemuda-pemudi tidak berhenti hanya sampai di sana. Begitu banyak peran para pemuda-pemudi yang dicatat di dalam proses Indonesia menjadi sebuah negara yang berdaulat, berdasarkan Pancasila. Dari tahun ke tahun, pemuda-pemudi Indonesia telah menjadi agen perubahan di negara ini. Bahkan sampai hari ini, para pemuda-pumadi Indonesia masih tetap menjadi agen perubahan. Ironisnya, perubahan yang dibawa oleh para pemuda-pemudi saat ini, bukanlah semangat untuk maju dan mensejahterahkan rakyat, melainkan perubahan yang menjadikan bangsa Indonesia semakin kehilangan identitas yang menyebabkan Indonesia kembali dijajah oleh negara lain. Dan paling ironisnya, banyak para pemuda-pemudi tidak menyadari kalau saat ini, kita telah dijajah dan kalau pun ada yang menyadarinya, baik pemuda maupun pemudi sudah tidak mau tahu lagi dengan hal itu. Perjuangan melawan penjajah diterjemahkan secara harafiah, selama tidak harus mengangkat bambu runcing, maka tak ada satu hal pun yang bisa dilakukan untuk menjadi agen perubahan.

Tidak bisa dipungkiri, peran para pemuda-pemudi dari tahun ke tahun memang haruslah mengalami fleksibilitas sesuai dengan tuntutan keadaan. Tidak selamanya, peran pemuda-pemudi yang dibutuhkan adalah dengan membawa bambu runcing, mengusir para penjajah, dan menjadi volunter di mendan perang. Saat ini, para penjajah yang harus diperangi oleh para pemuda-pemudi adalah dirinya sendiri, yaitu dengan cara :
MENCINTAI NEGARA INDONESIA!
Mungkin ini terlalu klise untuk dibahas kembali. Akan tetapi dasar dari para pemuda-pemudi Indonesia saat ini kehilangan identitas yang mengakibatkan adanya celah untuk dijajah adalah tidak adanya rasa cinta terhadap Indonesia. Akan tetapi, hal ini tidak melulu menjadi kesalahan para pemuada-pemudi, karena sejak kecil para orang tua kita juga sudah mendoktrin kita bahwa tujuan utama kita ada di bumi pertiwi ini adalah untuk membahagiakan orang tua. Tidak ada yang salah dengan tujuan ini, yang salah ada penerapannya. Yang mana membahagiakan orang tua yang dimaksud dalam banyak prakteknya tidak selaras dan bahkan dilakukan dengan menjual bangsa ini, demi membahagiakan orang tua.

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Ketika orang tua mendoktrin anak-anak mereka yang kelak menjadi pemuda-pemudi (penerus dan agen perubahan bangsa), untuk membahagiakan orang tua, mereka secara langsung dan tak langsung mengatakan bahwa cara terbaik untuk membahagiakan mereka adalah dengan berhasil mengumpulkan uang. Akibatnya? Lahirlah para koruptor, premanisme, penipuan, dan tindakan kriminal lainnya. Anak menterjemahkan pesan para orang tua bahwa hanya dengan mendapatkan uanglah, maka anak akan mendapat pengakuan dari orang tua, yaitu anak yang berbakti.

Praktek korupsi semakin menjamur, tidak hanya terjadi di Pemerintahan saja, melainkan di seluruh lapisan masyarakat. Bagaimana tidak, hanya dengan memberikan usaha yang sedikit, menghasilkan uang yang banyak sekaligus bisa membahagiakan orang tua. Pemuda-pemudi mana yang tidak tergiur dengan hal ini? Dan peluang yang paling besar untuk mempraktekkan hal ini adalah di pemerintahan, maka para orang tua memaksakan anak-anaknya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Itulah pola pikir yang saat ini menjajah para pemuda-pemudi Indonesia. Mereka lupa, bahwa dengan usaha yang banyak pun belum tentu bisa menghasilkan uang yang banyak, lalu bagaimana mungkin dengan usaha yang sedikit, bisa menghasilkan banyak uang? Jawabannya bisa, yaitu dengan cara korupsi, menipu, memanipulasi, menyuap, premanisme, dan berbagai macam tindakan-tindakan kriminal lainnya.

Adalah pekerjaan yang medekati kesia-siaan untuk megharapkan para orang tua untuk berubah. Satu-satunya cara yang paling mungkin dilakukan adalah membangunkan kembali para pemuda-pemudi untuk “berperang’. Para pemuda-pemudilah yang harus didaur ulang kembali pola pikirnya dari doktrin yang salah dari para orang tua. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk bisa kembali ke peran kita semula, yaitu menjadi agen perubahan yanng membawa dampak positif bagi bangsa ini?

Caranya sangat mudah, yaitu :

KE LUARLAH DARI RUMAH ORANG TUAMU

Bukan rahasia umum, kalau fenomena yang terjadi di bangsa ini adalah para pemuda-pemudi dibentuk menjadi orang yang tidak mandiri, sangat bergantung kepada orang tua, bukan hanya secara materi melainkan juga di dalam pengambilan keputusan.  Akibatnya apa? Para pemuda-pemudi lama-lama kehilangan identitas karena selalu dimotori oleh orang tua.  

Saya sendiri telah ke luar dari rumah orang tua di usia saya yang ke-18 tahun. Saya bukan hanya ke luar dari rumah orang tua, saya juga memutusan untuk hidup mandiri, baik secara materi dan pengambilan keputusan. Sangat sulit sekali memang, dimana saya harus mencukupi kebutuhan saya dengan cara saya sendiri tanpa bantuan dari orang tua saya. Akan tetapi, dari pengalaman ini, saya mendapatkan banyak pengajaran. Pengalaman adalah guru yang paling baik, akhirnya saya pahami betul maknanya. Salah satu yang telah diajarkan oleh pengalaman adalah saya bisa menjadi diri saya sendiri. Saya bebas menentukan pilihan hidup saya dan saya merasa tidak berutang budi atau merasa bersalah jikalau saya tidak bisa mengumpulkan uang yang banyak kepada orang tua saya. Saya memiliki kebanggaan akan diri sendiri yang membuat saya menjadi semakin percaya diri dan siap menghadapi para penjajah yang merongrong identitas bangsa ini.

Kalau saya bisa, mengapa para rekan-rekan pemuda-pemudi tidak bisa? Hari ini, di 70 tahun negara kita menjadi sebuah bangsa yang besar, bangsa yang berdaulat, bangsa yang berdasarkan Pancasila, mari kita bersama-sama mewujudkanyatakan pesan dari Bapak Presiden ketujuh kita, Bapak Jokowi yaitu AYO KERJA. Bekerja ini hanya akan terasa sekali hanya dengan rekan-rekan pemuda-pemudi mulai memutuskan ketergantungan terhadap uang, kekuasaan, network, pengaruh dari orang tua kita. Kita bisa merasakan bagaimana para petani tomat hanya dihargai dengan Rp 200,- per kilo. Kita bisa prihatin dengan kemacetan Jakarta karena begitu banyaknya kendaraan pribadi, yang kebanyakan kepemilikannya bukan karena hasil usaha sendiri. Selama kita tinggal di rumah orang tua, kita tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana hal itu sungguh tidak adil. Saatnya kita berdiri di kaki kita sendiri, bangga makan tahu tempe yang merupakan hasil keringat sendiri, dibandingkan makan ayam goreng namun uang dari orang tua. Bangga tidur di tikar yang merupakan hasil keringat sendiri, dibandingkan dengan tidur di kasur akan tetapi pembelian dari orang tua. Percaya diri menggunakan gadget dan kendaraan pribadi, yang merupakan hasil usaha sendiri bukan hibah dari orang tua. Bangga mendapatkan pekerjaan karena kompetensi yang kita miliki, bukan karena pengaruh dari orang tua. Mendapat pengakuan dari orang lain, bukan karena kekuasaan orang tua, melainkan karena apa yang telah kita lakukan. Menjadi inspirasi bagi banyak orang, untuk Indonesia yang lebih baik, bukan menjadi penikmati harta orang tua dan terlena dengan kenyamanan itu.

Bagaimana kita bisa menjadi negara mandiri, kalau para pemuda-pemudinya masih bergantung dengan uang, kekuasan, network, dan pengaruh orang tua? Dengan semangat kemerdekaan, saatnya para pemuda-pemudi bangkit kembali, melawan para penjajah yang ada di dalam diri sendiri. Menjadi manusia yang mandiri, pengambil keputusan sendiri, dan bertanggung jawab akan pilihan itu. AYO KERJA! Dan menghasilkan duit sendiri, menghargai hasil usaha sendiri bukan hasil keringat dan usaha orang tua. Kalau kita peduli dengan bangsa ini, sekali lagi ke luarlah dari pengaruh, uang, kekuasaan, network orang tua. Jadilah pemuda-pemudi yang mandiri, pengambil keputusan sendiri, dan bertanggung jawab dengan pilihan itu.


MERDEKA, INDONESIAKU!!

Saturday, 25 July 2015

halak batak do ho (5)



         Akhir-akhir ini ada begitu banyak pemuda/I Batak yang mulai mempertanyakan apakah menikah secara adat Batak penuh itu masih relevan untuk dilakukan saat ini? Selain biaya yang dibutuhkan sangat banyak, perbedaan-perbedaan pendapat yang berujung kepada konflik dan sakit hati menjadi alasan kuat yang membuat para generasi muda semakin tawar hati akan adat Batak. Acara pernikahan yang seharusnya menjadi momentum penting bagi pasangan pengantin, tidak sedikit berakhir dengan luka batin. Keluarga baru yang seyoginya dimulai dengan penuh suka cita, berakhir dengan pernyataan, nasi sudah jadi bubur. Para pengantin memulai kehidupan keluarga baru mereka dengan prasangka-prasangka negatif.
Di satu sisi, kerumitan di dalam pelaksanaan adat Batak, yang membutuhkan banyak uang dan dibumbui dengan konflik keluarga, membuat pernikahan Batak secara adat penuh menjadi sesuatu yang sakral. Setidaknya hal ini menjadi salah satu faktor penghambat para pemuda/i untuk menikah dengan gegabah. Tidak bisa dibayangkan apabila pernikahan Batak secara adat penuh dilaksanakan dengan sangat mudah, kemungkinan besar Indonesia hanya akan terdiri dari orang Batak dan orang baik saja. Akan tetapi hal ini, bukan menjadi alasan untuk meninggalkan adat Batak. Biar bagaimanapun, adat itu adalah warisan yang sangat tak ternilai harganya dari nenek moyang kita. Sekali pun kita tidak mendapatkan teladan yang baik dari para orang tua di sekitar kita mengenai pelaksanaan adat Batak, kita sebagai manusia yang dibekali akal sehat, seharusnya memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan itu bersama-sama. Kita memiliki pilihan untuk memutuskan mata rantai kesalahan yang telah disosialisasikan oleh para orang tua di sekitar kita.
Siapa bilang pernikahan adat Batak itu harus selalu membutuhkan biaya yang banyak? Siapa bilang pernikahan adat Batak itu harus selalu berakhir dengan konflik keluarga? STOP. Kita akhiri fenomena ini hanya sampai di kita. Adat Batak diwariskan oleh nenek moyang kita dengan tujuan agar kita menjadi manusia yang berbudaya.  Sudah saatnya kita menunjukkan kepada mereka yang bukan Batak, bahwa budaya kita tidak kalah menariknya dibandingkan dengan budaya dari negara lain. Jangan biarkan doktrin-doktrin penerapan yang salah dari para orang tua menjadi penghalang untuk kita mencintai adat Batak.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Sebelumnya mari kita berkenalan dengan adat Batak terlebih dahulu, khususnya dalam pernikahan Batak. Satu konsep yang paling banyak memakan korban dalam pelaksanaan pernikahan adat Batak adalah konsep sinamot.
Orang Batak memiliki motto hidup, “Anakhonhi do hamoraon di au” (Anak adalah kekayaan). Mengapa anak menjadi sumber kekayaan bagi orang Batak? Karena pada zaman dahulu, anak diperdayakan untuk membantu orang tua membajak tanah (bertani).  Jadi, semakin banyak anak, maka semakin banyak sumber tenaga yang bisa dipakai untuk membajak sawah. Oleh karena itu, ketika seorang anak perempuan dilamar, maka sumber tenaga akan berkurang karena setiap anak perempuan yang menikah akan meninggalkan orang tuanya dan tinggal dengan keluarga suaminya. Dengan demikian, orang tua perempuan pun meminta ganti si anak perempuan kepada pihak yang melamar anak perempuannya. Pada zaman dahulu, biasanya yang diberikan sebagai ganti adalah manusia juga, akan tetapi karena pihak pelamar tidak selalu bisa memberikan manusia yang memiliki kualitas yang sama untuk bekerja sebagai ganti anak perempuan yang dilamar, digantilah dengan beberapa ekor kerbau. Seiring dengan perkembangan zaman, dimana manusia akhirnya meninggalkan sistem barter dan beralih dengan menggunakan uang, maka penggantian anak perempuan yang dilamar dilakukan dengan memberikan uang, yang dikenal dengan SINAMOT.
Saat ini, sinamot menjadi momok yang paling menakutkan bagi para pangoli (pemuda yang berniat untuk menikah). Apalagi dengan mereka yang tidak memiliki orang tua yang kaya, dimana biaya nikah menjadi tanggungan pribadi. Tak jarang banyak pernikahan gagal hanya karena pihak perempuan tidak setuju menyerahkan anak perempuannya dengan nilai sinamot yang sedikit atau tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh parboru (orang tua calon pengantin perempuan). Atau tidak sedikit, pernikahan adat Batak meninggalkan konflik yang berkepanjangan dikarenakan jumlah sinamot ini.

Mengenai nilai sinamot ini, kita para generasi muda bisa menyiasatinya dengan cara kembali ke sejarah lahirnya sinamot ini. Zaman dahulu, sinamot lahir ksebagai ganti rugi anak perempuan yang diambil dari keluarga si perempuan untuk selama-lamanya, yang berarti pihak yang ditinggalkan kehilangan sumber tenaga untuk membajak sawah yang nantinya akan mengurangi kekayaan orang tua perempuan tersebut. Saat ini, ketika akan melamar perempuan Batak, jika ingin menerapkan konsep sinamot ini, maka sangat penting diperhatikan bagaimana status si anak perempuan yang dilamar di tengah-tengah keluarganya.  Apakah si anak perempuan adalah sumber pendapatan utama di dalam keluarga tersebut, sehingga si pelamar perlu memberikan ganti rugi yang sepadan kepada keluarga si perempuan demi keberlangsungan hidup keluarga si perempuan ke depannya.
Dengan kata lain, penerapan konsep sinamot bukan berdasarkan seberapa banyak uang yang telah dikeluarkan oleh orang tua si perempuan untuk membesarkan si perempuan yang dilamar. Karena adalah kewajiban setiap orang tua untuk mencukupi kebutuhan setiap anak dan pangoli tidak bertanggung jawab untuk mengganti setiap rupiah yang telah dikeluarkan oleh orang tua si perempuan kepada anak perempuannya. Kesimpulannya, apabila ada orang tua yang menetapkan nilai sinamot berdasarkan tingkat pendidikan dan profesi anak perempuannya, itu adalah penerapan yang salah dari konsep sinamot.
Sekalipun, si perempuan yang dilamar adalah sumber pendapatan di keluarga tersebut, bukanlah kewajiban anak untuk membiayai orang tuanya. Orang tualah yang memiliki kewajiban untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya, bukan sebaliknya. Pada zaman dahulu kala, orang tua Batak pun demikian, mereka membiayai anak-anak mereka dengan menyuruh mereka mengelola sawah. Dengan kata lain, mereka sama-sama bekerja, orang tua dan anak, bersama-sama mengusahakan sawah. Jadi, bukan anak yang bekerja untuk orang tuanya, melainkan orang tua dan anak sama-sama bekerja untuk mendapatkan kekayaan. Apabila ada orang tua yang meminta nilai sinamot dengan mempertimbangkan hal ini, masih tidak tetap tepat juga. Sekali lagi melenceng dari konsep sinamot yang telah diwariskan oleh nenek moyang Batak.
Kembali ke konteks kehidupan kita saat ini. Apakah keberadaan sinamot masih seperti tujuan utama sinamot  itu dibuat? Tentu saja tidak. Saat ini, anak perempuan bukan lagi sumber tenaga di dalam kehidupan keluarga Batak. Bahkan, saat ini banyak anak perempuan Batak jangankan turun ke sawah, memasak pun tidak bisa. Apalagi dengan adanya UU Perempuan dan Anak, dimana apabila dianalisa secara hukum, konsep sinamot ini seolah-olah mensahkan perdagangan perempuan di  kalangan masyarakat Batak. Oleh karena itu, konsep sinamot sesungguhnya sudah tidak relevan lagi bila ingin diterapkan di dalam kehidupan kita saat ini. Akan tetapi, karena kita ingin melestarikan budaya Batak, maka para orang tua memodifikasi konsep sinamot ini dengan praktek-praktek yang meringankan posisi para orang tua dan membuat para generasi muda yang melek pengetahuan mulai muak dengan adat Batak.
Sinamot ada dengan tujuan pencitraan, untuk mendapatkan sanjungan dari orang-orang. Demi mendapatkan sanjungan, para orang tua mengesampingkan kondisi hati generasi muda yang akan menjalani pernikahan tersebut. Tak heran, para generasi muda yang telah didoktrin untuk membahagiakan orang tuanya menghalalkan segala cara untuk mewujudkan nilai sinamot yang sesuai dengan harapan para orang tua. Tidak sedikit pasangan yang akan menikah maupun yang telah menikah mengalami sakit hati di tahap ini. Para generasi muda akhirnya menyalahkan adat Batak yang sangat rumit dan berat untuk dijalankan. Padahal, sesungguhnya yang membuat semua itu rumit adalah ego para orang tua. Oleh karena itu, jikalau kita para generasi muda kecewa dengan penerapan adat yang dilakukan oleh para orang tua kita, biarlah kekecewaan itu berhenti di generasi kita. Kita putuskan konsep penerapan adat yang keliru ini. Mari kita lestarikan adat Batak dengan tidak meninggalkannya. Tidak mudah memang menjadi agen perubahan dan ke luar dari doktrin-doktrin orang tua kita, akan tetapi jikalau bukan kita, siapa lagi?
Suatu hari nanti, kitalah yang menggantikan posisi para orang tua kita.  Oleh karena itu, jangan marah dengan adat Batak, tapi mari kita perbaiki bersama kesalahan penerapan yang dilakukan oleh para orang tua kita. Saat ini, sinamot masih relevan untuk tetap dilakukan dimana pelaksanaanya tentu saja bukan untuk pencitraan, apalagi harus mengorbankan hubungan silahturami hanya untuk melakukan pencitraan ini.  Kalau dulu, konsep sinamot dibuat karena pengantin perempuan tidak akan kembali lagi ke keluarga perempuan setelah menikah, melainkan selamanya akan tetap tinggal bersama-sama dengan keluarga laki-laki.  Apabila si perempuan kembali ke keluarganya tentu saja itu haruslah seizin keluarga suaminya dimana izin itu tidaklah mudah didapatkan. Kalau ingin konsep sinamot diterapkan seperti itu, sebagai ganti rugi dari dibawanya anak perempuan untuk selama-lamanya, apakah masing-masing pihak setuju dengan hal itu? Tentu saja tidak, bukan? Biar bagaimana pun, menikah itu adalah menyatukan dua keluarga, bukan memisahkan pihak perempuan dengan keluarganya. Si perempuan bisa berkunjung ke keluarganya kapanpun dia mau. Bahkan saat ini, banyak orang tua perempuan yang tinggal satu rumah dengan anak perempuannya yang telah menikah.
Jadi, kalau ingin penerapan sinamot dilakukan persis sama seperti dahulu kala, jangan hanya menerapkan enaknya saja. Akan tetapi para orang tua juga harus bersedia dengan konsekuensi yang mengikuti. Apalagi harus mengorbankan kehidupan pernikahan anak-anak. Sekali lagi, adat Batak tidak serumit itu. Adat Batak sangat menyenangkan untuk dijalankan walaupun untuk saat ini dalam penerapannya kita para generasi muda harus tarik nafas dengan ego para orang tua kita. Akan tetapi, setidaknya dari mereka kita belajar untuk tidak menjadi seperti mereka ketika suatu hari nanti kita menjadi orang tua. Sekali lagi, melalui tulisan ini aku memohon kepada para generasi muda yang saat ini sudah muak dengana adat Batak, adat Batak tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Manusia yang memperkenalkannya kepada kitalah yang menerapkannya dengan tidak seharusnya. Dan tugas kita para generasi mudalah untuk menjadikan penerapan adat Batak itu menyenangkan untuk dijalankan.

Friday, 17 July 2015

HEALER - drama korea

    Weekend terakhir sebelum lebaran tahun 2015 ini, aku habiskan dengan menonton film serial drama Korea, yang berjudul HEALER. Film ini menceritakan mengenai kehidupan lima sekawan yang memiliki hobby sebagai reporter ilegal. Dimana pada zaman mereka, kebebasan pers sangat dikontrol oleh pemerintah. Oleh karena itu, lima sekawan ini melakukan penyiaran secara sembunyi-sembunyi melalui radio dimana radio itupun hasil rekatan mereka sendiri. Karena nyali mereka yang begitu luar biasa di dalam memberitakan kebenaran, akhirnya mereka selalu menjadi "buronan" polisi. Akan tetapi mereka selalu berhasil dari kejaran polisi dikarenakan adanya team work yang sukup baik di antara mereka berlima. Adapun pembagian peran yang ada dalam lima sekawan ini (empat orang laki-laki dan satu orang perempuan) adalah satu orang menjadi supir yang akan membawa mereka ke perbukitan tempat dimana mereka menyiarkan berita, satu orang bertugas menjadi seksi keamanan yang akan mengecoh polisi atau siapapun yang akan "menggangu" mereka di dalam melakukan penyiaran. Sementara satu orang bertugas sebagai camera man sekaligus sebagai teknisi, dan sepasang lagi sebagai penyiar dimana sepasang penyiar ini pada akhirnya menikah dan punya anak. Hubungan persahabatan mereka pada akhirnya rusak dikarenakan satu-satunya perempuan yanga ada dalam lima sekawan ini, dicintai oleh dua orang. Sementara rutinitas mereka di dalam menyiarkan kebenaran secara ilegal berakhir, ketika salah satu dari mereka akhirnya tertangkap oleh polisi dan dipenjara selama 11 tahun karena dituduh menginformasikan berita tidak benar.

    Aku tidak akan menceritakan mengenai alur film ini secara mendetail. Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk kubahas mengenai film ini. 
  1. Keberanian yang dimiliki oleh lima sekawan ini dalam memberitakan kebenaran. Aku membandingkannya dengan yang terjadi di Indonesia, dimana menyuarakan kebenaran itu pun pernah terjadi. Dan tentu saja hasilnya adalah sama dengan yang di film tersebut, siapa yang memiliki uang dan berkuasa itulah yang menang. Walalupun saat ini, media denganSela begitu bebasnya memproklamirkan sebuah informasi, tapi keakuratan informasi tersebut telah dibumbui dengan berbagai kepentingan dari mereka yang memiliki uang dan para penguasa.
  2. Lima sekawan tersebut digambarkan sebagai anak yang biasa-biasa saja, bukan berasal dari orang tua yang kaya. Akan tetapi pada akhirnya mereka menjadi orang kaya. Menariknya mereka menjadi kaya bukan karena menjadi karyawan dari perusahaan multi nasional, melainkan mereka sendiri membuka perusahaan baru alias menjadi pemilik dari perusahaan tersebut. Hal ini cukup membuatku menarik karena di masyarakat kita yang sekarang ini, atau di sekitarku sekarang, generasiku banyak yang menjadi kaya, termasuk diriku sendiri adalah karena aku menjadi "budak" dari orang lain. Atau ada juga yang menjadi kaya karena warisan dari orang tuanya atau ada juga yang menjadi kaya karena korupsi. Sangat sedikit orang di Indonesia yang menjadi kaya dengan membuka perusahaan sendiri, walaupun orang-orang seperti itu memang ada.
  3. Kecintaan mereka akan budaya mereka. Misalnya mereka memperkenalkan makanan khas mereka melalui menu makanan yang mereka makan di adegan film itu. Mereka juga menikmati lagu-lagu berbahasa Korea yang sering didendangkan oleh para tokoh film tersebut. Untuk yang satu ini, aku memang sangat kagum kepada mereka di dalam memperkenalkan kebudayaan mereka. Aku sangat rindu, para generasiku pun melakukan hal yang sama, yaitu mencintai kebudayaan suku mereka. Tidak apa-apa mengenal budaya luar, asal jangan sampai melupakan bahkan tidak mau tahu dengan kebudayaan sendiri. Budaya kita pun memiliki keunikan yang bisa dieksplor oleh kita para generasi muda. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengekplornya? Masakan kita harus menunggu negara lain yang mengeksplor budaya kita? Sangat menyedihkan, bukan bila hal itu harus terjadi?
Selain ketiga hal tersebut, aku akui kalau aku memang orang yang suka menonton, dimana ketika aku menyukai sebuah film, aku cenderung untuk menganalisa setiap karakter yang ada di film itu. Dan tentu saja setiap karakter tokoh yang di dalam film itu menjadi refrensi bagiku untuk mengembangkan karakter yang aku miliki. Misalnya, aku suka menonton drama Korea karena karakter yang ditampilkan adalah karakter pekerja keras, mendapatkan sesuatu berdasarkan proses, kehangatan, dan juga perhatian yang mendetail secara emotional. Variabel-variabel ini menjadi ciri khas drama film Korea. Hampir seluruh drama film Korea menyuguhkan hal ini.

Berbeda dengan film-film Holywood yang menyuguhkan teknologi yang canggih, persaingan untuk berprestasi atau menonjol, dan dominansi untuk menguasai. Dimana ketiga hal ini pada umumnya memang selalu dibalut dengan pesan moral yang sangat menyentuh moral. Satu hal yang paling menggangguku ketika menonton film-film Holywood adalah minimnya pertahanan dan pengendalian para tokoh di film di dalam memenuhi kebutuhan akan seks. Bagiku secara pribadi ini adalah sebuah conoth kegagalan di dalam mengontrol hasrat diri.

Tapi, terlepas dari semua itu, aku suka menonton. Dan aku sceangat mengaprisiasi para penulis naskah hingga cerita-cerita itu bisa divisualisasikan.

Tuesday, 7 July 2015

mutiara

Setelah hampir sepuluh tahun merantau ke Pulau Jawa, khususnya tinggal di Jakarta aku mengalami banyak sekali perubahan, baik secara fisik, psikologis, dan yang pasti aku semakin dewasa dari yang seharusnya. Kata mutiara yang dulu diperdengarkan kepadaku yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik, sangat aku pahami maknanya. Pengalamanku menjadi anak rantau, mulai dari cara beradaptasi, cara untuk berjuang, dan cara untuk bertahan hidup aku dapatkan dari pengalaman dan menjadi guru bagiku hingga aku bisa menjadi seperti sekarang ini.

Aku bersyukur, memiliki orang tua yang tidak terlalu peduli padaku sehingga memaksaku untuk bisa menyelesaikan sendiri seluruh permasalahan yang kuhadapi. Walau tak bisa kupingkiri bahwa ada begitu banyak moment yang dirampas dariku dan betapa aku harus membayar harga yang mahal untuk itu, saat ini aku hanya bisa menerimanya. Karena tidak ada pilihan lain yang kumiliki. Aku bukan seperti anak orang yang memiliki banyak pilihan di dalam hidup ini. Pilihan yang kumiliki kebanyakan pilihan di antara yang paling buruk atau pilihan esktrim, mati atau berjuang. Dan tentu saja aku memilih berjuang.

Satu hal yang diajarkan oleh pengalaman kepadaku dan yang menjadi guru bagiku adalah kegagalan, air mata, penolakan, dan duka cita. Hal-hal seperti inilah yang membuatku menjadi pribadi yang keras, dingin dan serius. Tentu saja karena aku nyaris tidak memiliki waktu untuk rileks, karena seperti yang sebutkan di atas, aku tidak memiliki pilihan itu.

Dan inilah yang ingin aku terapkan kepada anak-anakku kelak. Untuk merasakan kegagalan, air mata, penolakan, dan duka cita. Aku akan memperkenalkan hal ini kepada mereka dan menemani mereka dalam melewatinya. Karena aku tahu, dukunganku akan mmebuat dia merasa dicintai yang membuat hidupnya lebih bahagia. Ketika peristiwa negatif itu datang, dampaknya tidak akan berlangsung lama karena dia tahu bahwa ada aku, ibu mereka yang akan selalu menemani mereka.

Inilah salah satu pola asuh yang sudah tidak diberikan oleh orang tua zaman sekarang kepada anak-anak mereka.Hampir semua orang tua saat ini, tidak mengizinkan anak-anaknya menderita. Padahal mereka bisa menjadi orang tua yang mapan secara ekonomi, kebanyakan dikarenakan dulu mereka dididik di dalam penderitaan oleh orang tua mereka. Akan tetapi karena rasa cinta yang begitu besar kepada anak-anaknya, jangankan memperkenalkan anak-anaknya pada penderitaan, mereka mengambil alih setiap kali penderitaan itu datang menyapa. Alhasil, anak-anak generasi sekarang menjadi anak-anak yang manja dan sangat bergantung kepada orang tua. Mereka melupakan karena di dalam penderitaanlah kekuatan itu akan ada. Seperti mutiara di dasar laut, karena goresan-goresan batu karang dan berbagai hal di dalam lautanlah yang mengakibatkan adanya mutiara.

Mari lihat kembali anak-anak yang Tuhan titipkan kepada kita. Apakah kita sedang mempersiapkan mutiara atau hanya pasir yang apabila angin biasa datang, maka dia pun akan diterbangkan.