Akhir tahun sering menjadi momen yang sunyi. Kita berhenti sejenak, melihat ke belakang, dan bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku sepanjang tahun ini? Tidak semua jawaban muncul dalam bentuk pencapaian. Banyak yang hadir sebagai perasaan—lelah, syukur, kecewa, harapan, dan doa yang terus dipanjatkan. Dalam psikologi, refleksi bukan sekadar mengingat peristiwa, tetapi memaknai pengalaman agar kita dapat melangkah dengan lebih sadar di tahun berikutnya. 1. Mengenali Emosi Tanpa Menghakimi Psikologi emosi menjelaskan bahwa emosi bukan musuh yang harus ditekan, melainkan sinyal yang membawa pesan. Menurut Emotion Regulation Theory (Gross, 1998), masalah psikologis sering muncul bukan karena emosi negatif itu sendiri, tetapi karena cara kita merespons emosi tersebut. Di akhir tahun, wajar jika muncul perasaan campur aduk. Alih-alih menilai diri sebagai “kurang bersyukur” atau “tidak cukup kuat”, psikologi mengajak kita untuk bertanya: emosi apa yang ...
Kerap sekali dalam kehidupan ini aku mendengar bahwa MEMBERI LEBIH BAIK DARIPADA MENERIMA. Semula aku berpikir, mulia sekali orang yang bisa mengaplikasikannya dalam kehidupannya. Dimana secara kasat mata, bahwa orang yang memberi adalah malaikat sementara orang yang menerima adalah pengemis, yang kebutuhannya selalu menerima dan menerima. Dengan kata lain kedudukan orang yang memberi jauh lebih bermoral daripada kedudukan orang yang menerima. Mereka yang memilih peran MEMBERI menjadi orang Samaria yang baik hati yang sudah dapat dipastikan akan masuk surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan aku tahu, semua agama di dunia ini pasti mengajarkan hal itu kepada jemaatnya, yakni beramai-ramai untuk memberi (baca. bersedekah). Dan itu tidak salah, aku tidak anti dengan hal itu. Tulisan ini bukan bertujuan untuk itu. Melalui tulisan ini, aku hanya ingin meluangkan pemahamanku mengenai sebuah pernyataan yang dulunya aku mengerti dari satu sisi saja. Sekarang aku mencoba untuk ...
Sebuah Kritik Humanistik terhadap Pendekatan yang Terlalu Rasional Di era digital sekarang, pencari kerja tidak hanya diminta untuk mengirim CV dan menunggu. Mereka diharapkan aktif , terus belajar, membangun jaringan, dan memahami strategi pasar kerja. Inilah konsep besar dari Knowledge Management (KM) : bagaimana seseorang menciptakan, menyimpan, berbagi, dan menerapkan pengetahuan untuk meraih peluang yang lebih baik. Secara teori, logikanya sederhana: “Semakin banyak pengetahuan, semakin besar peluang sukses.” Namun, apakah benar seperti itu? Saya berargumen: tidak selalu . Pengetahuan memang bisa memberdayakan pencari kerja— tapi hanya jika diolah dengan sehat secara emosional . Bila tidak, pengetahuan justru berubah menjadi tekanan baru: ❌ merasa harus selalu produktif ❌ membandingkan diri dengan orang lain di LinkedIn ❌ cemas karena “kurang kompeten” meskipun sudah belajar banyak ❌ burnout dalam proses mencari kerja Jadi masalahnya bukan pada pengetahuannya… tetapi pada baga...
Comments
Post a Comment